Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Durasi Duduk dengan Keluhan Low Back Pain pada Pegawai BNI KCU Metro Provinsi Lampung Fadhilla Azra Hamidah; Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani; Septia Eva Lusina
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2025): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v5i3.6390

Abstract

The purpose of this study was to identify the correlation between the duration of sitting and the intensity of lower back pain (Low Back Pain) complaints among employees of BNI KCU Metro, Lampung Province. Low Back Pain is one of the most common musculoskeletal conditions and can be triggered by prolonged sitting, which increases static load and pressure on the spine. This research employed an analytical observational method with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 51 employees selected using a total sampling technique. Data were collected using a sitting duration questionnaire and the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) to assess LBP complaints. The results showed that the majority of employees sat for more than 4 hours per day (86.3%) and experienced LBP complaints (94.3%). The Chi-Square test indicated a significant relationship between sitting duration and LBP complaints (p = 0.001). It can be concluded that the longer a person sits, the higher the likelihood of experiencing LBP, highlighting the need for ergonomic posture application and regular muscle stretching during work.
DIFFERENCES IN BURNOUT AMONG NURSES WORKING IN OUTPATIENT, INPATIENT, AND EMERGENCY DEPARTMENT UNITS AT IMANUEL WAY HALIM HOSPITAL Evryna Sipahutar; Bayu Anggileo Pramesona; Septia Eva Lusina; Rika Lisiswanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burnout among nurses varies across hospital units, with emotional exhaustion particularly higher in the emergency department due to acute workload. This study compared burnout rates among nurses in the outpatient, inpatient, and emergency departments of Imanuel Way Halim Hospital. Using a comparative cross-sectional design, 115 nurses were selected proportionally from a population of 161 through stratified random sampling. Burnout was measured using the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS; 22 items, three dimensions), analyzed using the Kruskal-Wallis test and post-hoc Bonferroni test after normality testing. Results showed a significant difference only in emotional exhaustion (H = 7.559, p = 0.023), with the highest score in ED nurses (mean = 41.00) versus inpatient (34.01) and outpatient (35.89); post-hoc analysis confirmed the inpatient-ER difference (p = 0.006). Depersonalization and personal accomplishment did not differ (p > 0.05). The conclusion emphasizes specific interventions for emotional exhaustion in the ED through staffing adjustments and psychosocial support, addressing unit-specific risks in Indonesian type B hospitals.
Peran Identitas Profesional dalam Adaptasi Mahasiswa Kedokteran di Kepaniteraan Klinik: Tinjauan Literatur Aina Wijdan Chairunisa; Rika Lisiswanti; Septia Eva Lusina; Oktadoni Saputra
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i2.9855

Abstract

Pendidikan kedokteran tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan klinis tetapi juga pada aspek profesionalisme, salah satunya adalah identitas profesional sebagai dasar dalam menjalankan peran sebagai dokter. Identitas profesional berperan penting dalam membantu mahasiswa kedokteran beradaptasi dengan lingkungan kepaniteraan klinik yang kompleks dan penuh tuntutan. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengkaji peran identitas profesional dalam mendukung adaptasi mahasiswa kedokteran di lingkungan klinik. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dengan menganalisis 20 artikel yang diperoleh melalui basis data Google Scholar dan PubMed dengan rentang publikasi tahun 2016–2025. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan identitas profesional serta keterkaitannya dengan kemampuan adaptasi mahasiswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa identitas profesional terbentuk melalui interaksi antara faktor individu, lingkungan pembelajaran klinik, pengalaman emosional, dan interaksi sosial. Identitas profesional yang berkembang secara optimal berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan adaptasi mahasiswa, termasuk dalam hal pengelolaan tekanan, kepercayaan diri, dan kemampuan berinteraksi dalam praktik klinik. Dengan demikian, pembentukan identitas profesional menjadi aspek penting dalam pendidikan kedokteran untuk mendukung kesiapan mahasiswa dalam menghadapi lingkungan klinik.
Penentuan Prakiraan Usia Luka Genital pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Perspektif Forensik Septia Eva Lusina; Auriva Renasha Suherman; Brigitta Shinta Dewi; Bryantdary Arrafif Nasution; Ridwan Hardiansyah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64182

Abstract

Kasus kekerasan seksual di Indonesia masih sering ditemukan, dan pemeriksaan forensik medikolegal berperan penting dalam menilai tanda kekerasan serta memperkirakan usia luka genital. Mukosa genital yang elastis, sangat vaskular, dan cepat mengalami epitelisasi tanpa jaringan parut membuat pembedaan luka akut dan non-akut menjadi sulit. Penelitian ini bertujuan meninjau karakteristik morfologis dan waktu penyembuhan luka hymenal serta non-hymenal pada kasus kekerasan seksual. Literature review dilakukan terhadap publikasi nasional dan internasional yang membahas proses penyembuhan luka genital pada korban kekerasan seksual. Analisis deskriptif dilakukan terhadap jenis lesi, lokasi anatomi, dan durasi penyembuhan. Luka baru (acute injury) terjadi <72 jam setelah kejadian, sedangkan luka lama (non-acute injury) >72 jam. Pada area non-hymenal seperti labia, vestibulum, fossa navicularis, posterior fourchette, dan perineum, abrasi dan kontusio umumnya menghilang dalam 2–5 hari, sedangkan robekan sembuh dalam 7–20 hari. Pada hymen, abrasi hilang dalam 4 hari, petekie dalam 48–72 jam, dan laserasi sembuh dalam 2–4 minggu tanpa jaringan parut. Lesi berupa blood blister dapat bertahan hingga minggu keempat dan menunjukkan cedera yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Luka hymenal mengalami penyembuhan sempurna dalam waktu ≤4 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut. Luka non-hymenal umumnya sembuh lebih cepat dibandingkan luka hymenal, bergantung pada jenis dan kedalamannya. Pemahaman proses dan waktu penyembuhan luka genital penting untuk menilai usia luka secara tepat dalam pemeriksaan medikolegal kasus kekerasan seksual.