Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGARUH WORK LIFE BALANCE DAN SOCIAL SUPPORT TERHADAP EMPLOYEE ENGAGEMENT PADA KARYAWAN GENERASI Z DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR KOTA BANDUNG Defi Dea Apriyanti; Benny Bernadus; Kartika Nuradina; Pras Rendy
Jurnal Cinta Nusantara Vol. 4 No. 2 (2026): April-Juni, Assessment and Learning Evaluation
Publisher : CV. Bunda Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63754/jcn.v4i2.180

Abstract

Generasi Z merupakan kelompok usia yang mendominasi angkatan kerja saat ini, namun memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, terutama dalam memandang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta pentingnya dukungan sosial di lingkungan kerja. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan manufaktur dalam meningkatkan employee engagement, mengingat keterlibatan karyawan berperan penting dalam mendukung produktivitas dan pencapaian tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work-life balance dan social support terhadap employee engagement pada karyawan Generasi Z di perusahaan manufaktur Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 100 karyawan. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance secara parsial tidak berpengaruh terhadap employee engangement dan social support berpengaruh positif dan signifikan. Namun secara simultan, keduanya berpengaruh terhadap employee engagement. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,217 menunjukkan bahwa kedua variabel independen secara bersama-sama mampu menjelaskan 21,7% variasi employee engagement, sedangkan 78,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Temuan ini menjelaskan bahwa dukungan sosial dari atasan dan rekan kerja berperan lebih dominan dalam membentuk employee engagement dibandingkan kemampuan individu mengelola keseimbangan kehidupan kerja, meskipun keduanya tetap berkontribusi secara bersama-sama.
PERAN WORK-LIFE BALANCE DAN STRES KERJA TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA KARYAWAN DI PT X BANDUNG Annisa Nabila Guluda; Kartika Nuradina; Benny Bernadus; Pras Rendy
Jurnal Cinta Nusantara Vol. 4 No. 2 (2026): April-Juni, Assessment and Learning Evaluation
Publisher : CV. Bunda Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63754/jcn.v4i2.199

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Work-Life Balance dan Stres Kerja terhadap Psychological Well-Being pada karyawan PT X Bandung, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal (explanatory research). Populasi penelitian berjumlah 23 karyawan PT X Bandung dan seluruhnya digunakan sebagai sampel melalui teknik sampling jenuh (total sampling). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Likert empat poin. Work-Life Balance diukur menggunakan Work/Nonwork Interference and Enhancement Scale, Stres Kerja diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-14), sedangkan Psychological Well-Being diukur menggunakan Psychological Well-Being Short Scale. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh item instrumen valid dan reliabel. Hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa Work-Life Balance tidak berpengaruh signifikan terhadap Psychological Well-Being (β = -0,029; t = -0,129; p = 0,899 > 0,05). Stres Kerja juga tidak berpengaruh signifikan terhadap Psychological Well-Being (β = 0,054; t = 0,244; p = 0,810 > 0,05). Secara simultan, Work-Life Balance dan Stres Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Psychological Well-Being (F = 0,037; p = 0,964 > 0,05). Nilai R² sebesar 0,004 menunjukkan bahwa Work-Life Balance dan Stres Kerja hanya menjelaskan 0,4% variasi Psychological Well-Being, sedangkan 99,6% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Dengan demikian, hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa Work-Life Balance dan Stres Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Psychological Well-Being. Secara simultan, kedua variabel tersebut juga tidak berpengaruh signifikan terhadap Psychological Well-Being.