Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pencegahan Penyakit Tidak Menular melalui Penyuluhan dan Skrining Kesehatan bagi Kader Posyandu dan Ibu PKK di Desa Gedung Harapan Yasinda Oktariza; Dirga Dirga; Rizky Hidayaturahmah; Juwana Janu; Dini Mardhiyani; Delladari Mayefis
Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat) Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat)
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakamitra.v6i1.1469

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ke-7 Program Studi Farmasi ITERA dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM). Kegiatan berfokus pada penyuluhan kesehatan serta pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, dan kadar asam urat pada ibu-ibu PKK dan kader Posyandu di Desa Gedung Harapan, Lampung Selatan. Metode yang dilakukan meliputi penyuluhan interaktif, pemeriksaan kesehatan, serta konseling personal berdasarkan hasil individu. Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan ini. Hasil skrining menunjukkan prevalensi risiko PTM yang cukup tinggi, yaitu 56,7% peserta memiliki tekanan darah pada kategori hipertensi, 46,7% memiliki kadar gula darah di atas normal, dan 53,3% mengalami hiperurisemia. Nilai tertinggi yang tercatat yaitu tekanan darah 173/93 mmHg, gula darah 200 mg/dL, dan kadar asam urat 11,7 mg/dL. Mayoritas peserta dengan hasil abnormal merupakan kelompok usia di atas 40 tahun, dan beberapa menunjukkan komorbid antara tekanan darah tinggi dan gula darah tinggi. Temuan ini menegaskan masih rendahnya kesadaran masyarakat terkait pemeriksaan kesehatan rutin serta perlunya edukasi berkelanjutan mengenai pencegahan PTM. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai kondisi kesehatannya dan mendorong tindakan preventif melalui perubahan pola hidup sehat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model kolaboratif antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam upaya pencegahan PTM di tingkat desa.
Edukasi Pencegahan Stunting Dengan Pangan Olahan Jamur Tiram Di Desa Banjar Agung, Lampung Selatan Untia Ramadhani; Juwana Janu; Mubarika Sekarsari Yusuf; Jatmiko Eko Witoyo; Noveliska Br Sembiring; Dila Tirta Julianty; Amalia Listiani; Eka Nur’azmi Yunira; Syaira Miranti; Aurelia Stephanie Lo; Anggi Cinta Tamania
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v5i3.332

Abstract

Stunting merupakan permasalahan kesehatan yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak akibat kekurangan asupan gizi dalam kurun waktu yang lama. Data Dinas Kesehatan Lampung Selatan (2022) melaporkan prevalensi stunting di Desa Banjar Agung, Lampung Selatan mencapai 21, 3%. Jamur tiram mengandung protein nabati yang cukup tinggi kaya vitamin B kompleks, serat, dan mineral seperti zat besi, kalsium, kalium, dan fosfor yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemanfaatan bahan pangan lokal bergizi tinggi seperti jamur tiram menjadi salah satu solusi berkelanjutan dalam pencegahan stunting. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu dan kader posyandu di Desa Banjar Agung, Lampung Selatan dalam rangka pencegahan stunting melalui edukasi dan pelatihan pengolahan jamur tiram tiram menjadi produk nutraseutika dalam bentuk pangan fungsional dari olahan jamur tiram yang dibuat menjadi nugget dan pepes jamur tiram. Kegiatan dilaksanakan dengan menggunakan metode pendekatan partisipatif yang meliputi edukasi terkait stunting dan pemanfaatan gizi jamur sebagai pangan fungsional yang berperan dalam pencegahan stunting, diskusi interaktif serta pelatihan praktek pembuatan nugget dan pepes jamur tiram. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan 30 orang ibu-ibu dan kader posyandu sebesar 20 % yang ditunjukkan dari hasil evaluasi pretest dan posttest peserta kegiatan yang mengikuti kegiatan edukasi dan pelatihan. Selain bertambahnya tingkat pengetahuan, ibu-ibu dan kader posyandu juga mendapatkan ketrampilan dalam mengolah pangan fungsional olahan berbasis jamur tiram yang dihasilkan. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemahaman jamur tiram tiram sebagai alternatif pangan yang mendukung upaya menurunkan angka stunting.
DETEKSI DINI ANEMIA LEWAT SKRINING DAN KONSELING SISWA SMA MUHAMMADIYAH 2 BANDAR LAMPUNG Juwana Janu; Dini Marhiyani; Dirga Dirga; Nurul Irna Windari; Rizky Hidayaturahmah; Gayatri Simanullang; Uswatun Hasanah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.47310

Abstract

Anemia merupakan permasalahan kesehatan global yang berdampak pada berbagai kelompok usia, termasuk remaja putri. Hemoglobin berperan penting dalam pengangkutan oksigen serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kegiatan skrining anemia dilakukan di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung, yang dipilih karena memiliki populasi siswa yang representatif dan belum pernah dilakukan skrining sebelumnya. Nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) diperoleh melalui pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer digital, dan kadar hemoglobin diperiksa dengan metode Point of Care Testing. Hasil pemeriksaan yang dilakukan pada peserta dengan rerata usia 16 tahun, menunjukkan bahwa 68,42% peserta memiliki kadar hemoglobin normal, sementara 21.05% mengalami anemia ringan, 10,53% anemia sedang. Tekanan darah normal ditemukan pada 57,90% peserta, 31,60% dalam kategori prehipertensi, dan 5,30% mengalami hipertensi tingkat 1 maupun 2. Hasil deteksi dini ini menegaskan perlunya edukasi lebih lanjut mengenai pola makan sehat dan pencegahan hipertensi sejak remaja. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kesehatan dan menjadi dasar untuk intervensi gizi yang berkelanjutan guna mencegah risiko anemia serta hipertensi di masa mendatang.
PENGENALAN DAN SIMULASI PENANGANAN LUKA RINGAN MENGGUNAKAN ISI KOTAK P3K PADA ANAK KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI 02 WAY HUWI Lia Anggreini br Tarigan; Restiana Sagala; Regita Lailie Armina; Nustia Sri Fahira; Marwa Amany Hidayah; Irma Dwi Damayanti; Danica Fitri Ardiyanti; Dela Natalia; Mutiara Alaisia; Vania Kahana Lie Hutapea; Juwana Janu; Rizky Hidayaturahmah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Inpress Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.53414

Abstract

Kesehatan anak usia sekolah dasar merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan karena anak berada pada fase aktif dan rentan mengalami cedera ringan akibat aktivitas fisik. Luka lecet, memar, dan gores merupakan cedera paling umum pada kelompok usia 5–14 tahun di Indonesia, sementara pengetahuan terkait pertolongan pertama (P3K) masih terbatas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa kelas VI SDN 2 Way Huwi mengenai penggunaan kotak P3K dan penanganan luka ringan. Kegiatan melibatkan 17 siswa dan dilakukan melalui ceramah interaktif, pretest–posttest, demonstrasi, serta simulasi praktik menggunakan peralatan kotak P3K. Evaluasi pemahaman dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan setelah intervensi (p < 0,05). Sebanyak 76,5% siswa berada pada kategori “sangat memahami” dan 23,5% pada kategori “memahami”. Hasil simulasi menunjukkan kemampuan siswa mengikuti langkah penanganan luka telah sesuai prosedur dasar P3K. Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam memberikan pertolongan pertama pada cedera ringan di lingkungan sekolah
Effectiveness and safety of oral versus intravenous iron therapy in iron deficiency anemia during pregnancy: A pharmacological review Reny Haryani; Juwana Janu
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 1 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i1.3058

Abstract

Background: Iron deficiency anemia is a global health problem commonly occurring during pregnancy. The World Health Organization reported a prevalence of 35.5% in 2023, which may lead to serious consequences for both mother and fetus. Management of this condition is generally carried out through oral or intravenous iron therapy, each having its own advantages and limitations. Purpose: to evaluate the effectiveness and safety of oral versus intravenous iron therapy in pregnant women with iron deficiency anemia. Method: A limited systematic review was conducted based on PRISMA guidelines. Literature searching was performed using the PubMed database for studies published between 2015 and 2025. A total of 75 articles were identified, of which 5 studies met the inclusion criteria and were analyzed descriptively. Results: The findings showed that intravenous iron therapy, particularly ferric carboxymaltose, was more effective in increasing hemoglobin and ferritin levels compared to oral therapy. In terms of safety, oral iron was more frequently associated with gastrointestinal side effects, whereas intravenous iron was generally well tolerated with mild adverse effects. Conclusion: Intravenous iron therapy demonstrates superior effectiveness in improving hematological parameters; however, oral iron remains the first-line therapy due to its accessibility and lower cost. Therefore, treatment selection should be individualized based on the patient’s clinical condition.
Shifting the paradigm to letrozole as first-line ovulation induction in pcos: a review of efficacy and safety Juwana Janu; Reny Haryani
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 1 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i1.3084

Abstract

Background: Polycystic ovary syndrome (PCOS) is a primary cause of anovulatory infertility. While clomiphene citrate (CC) has been the traditional treatment, letrozole (LE) has emerged as a superior alternative with better clinical outcomes. Purpose: to evaluate the clinical efficacy, safety, and biological mechanisms of LE compared with CC in ovulation induction for PCOS patients. Method: A comprehensive literature search was conducted on PubMed and Google Scholar for studies published between 2021 and 2026. Seven high-quality articles, including randomized controlled trials (RCTs) and meta-analyses, were selected for synthesis. Results: The synthesis of the literature indicates that LE significantly increases the live birth rate by 54% (RR 1.54) and improves ongoing pregnancy rates compared with CC. LE is more efficient, showing a shorter time to ovulation (17.2 vs 24.1 days) and higher success in obese patients (BMI > 30). Mechanistically, LE superiorly enhances endometrial receptivity by significantly increasing Integrin αvβ3 and VEGF expression, as well as the Endometrial Flow Index (FI). Furthermore, LE demonstrates a superior safety profile with a 58% lower risk of multiple pregnancies and minimal incidence of ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS). Conclusion: Letrozole is more effective and safer than CC, primarily due to its beneficial impact on the endometrial microenvironment. LE could be implemented as the universal first-line treatment for infertility in women with PCOS. Suggestion: For clinicians, LE can be considered as the universal first-line therapy for ovulation induction in patients with PCOS, replacing CC. From a health service policy perspective, standard protocols in fertility clinics need to be updated to integrate LE use in order to improve pregnancy success and reduce long-term costs due to complications of multiple pregnancy