Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Resistensi Berbasis Adat Studi Kasus Perlawanan Masyarakat Terhadap Pembangunan Geothermal Di Desa Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Adriana Itu; Boli Tonda Baso; Philips Y.N Ndoda
Journal on Pustaka Cendekia Informatika Vol. 3 No. 2 (2025): Journal on Pustaka Cendekia Informatika: Volume 3 Nomor 2 June-September Tahun
Publisher : PT Pustaka Cendekia Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pctif.v3i2.131

Abstract

Perlawanan masyarakat terhadap pembangunan geothermal di Desa Ulubelu merupakan fenomena sosial yang terorganisasi dan berakar pada kepentingan menjaga lingkungan, mata pencaharian, serta nilai-nilai adat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk perlawanan masyarakat adat terhadap pembangunan geothermal yang dipandang bertentangan dengan kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlawanan diwujudkan melalui musyawarah desa, penyampaian aspirasi, aksi damai, serta penolakan terhadap pemanfaatan sumber daya alam tertentu. Aksi tersebut didukung oleh koordinasi yang terstruktur, solidaritas sosial yang kuat, dan keterlibatan berbagai aktor, termasuk lembaga swadaya masyarakat. Perlawanan muncul karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, ancaman terhadap mata pencaharian, serta minimnya pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, masyarakat menuntut pengelolaan sumber daya alam yang partisipatif, menghormati hak masyarakat adat, dan menjamin keberlanjutan lingkungan.
Gerakan Sosial Masyarakat Atakore Terhadap Pembebasan Lahan Pembangunan Geothermal di Kabupaten Lembata Andreas Duli Manuk Witak; Frans B.R Humau; Philips Y.N Ndoda
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.232

Abstract

Pembangunan energi panas bumi (geothermal) merupakan bagian dari agenda strategis nasional dalam mendukung transisi energi dan ketahanan energi nasional. Namun, implementasi proyek geothermal di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, memunculkan resistensi dari masyarakat lokal, khususnya terkait proses pembebasan lahan yang berada di wilayah adat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk gerakan sosial masyarakat Atakore serta mengidentifikasi aktor-aktor yang terlibat dalam penolakan terhadap pembebasan lahan proyek geothermal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens untuk melihat relasi dialektis antara agensi masyarakat dan struktur kekuasaan negara maupun korporasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan sosial masyarakat Atakore merupakan bentuk tindakan kolektif yang terorganisir, melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, serta masyarakat secara luas. Gerakan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap hilangnya tanah ulayat, rusaknya nilai-nilai adat, serta minimnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Gerakan sosial tersebut tidak hanya bersifat penolakan, tetapi juga menjadi sarana negosiasi dan artikulasi kepentingan masyarakat adat terhadap kebijakan pembangunan. Penelitian ini menegaskan bahwa masyarakat adat bukanlah aktor pasif, melainkan subjek aktif yang memiliki kapasitas reflektif dalam merespons dan menantang struktur pembangunan yang dianggap tidak adil.
Mosalaki dalam Mobilisasi Pemilih pada Pilkada Ngada Tahun 2024: Studi di Desa Naruwolo II, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada Maria Anjelina Meo; Frans B.R Humau; Philips Y.N Ndoda
Doktrin: Jurnal Dunia Ilmu Hukum dan Politik Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Dunia Ilmu Hukum dan Politik
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/doktrin.v4i3.6496

Abstract

This study analyzes the position and role of Mosalaki in the social structure and their influence on political behavior in Naruwolo II Village, Ngada Regency. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving Mosalaki and community members. The analysis applies elite theory and political broker theory. The findings indicate that Mosalaki occupy a strategic position as local elites, deriving authority from customary legitimacy, lineage, and community recognition. They serve as guardians of customary values, mediators in social conflicts, and leaders in traditional decision-making. From the perspective of elite theory, Mosalaki possess significant authority in shaping social norms and collective decisions. Meanwhile, political broker theory explains their role as trusted intermediaries who influence community perceptions and political preferences through informal communication, customary symbols, and close social relationships. Their influence is generally indirect, embedded in cultural values and traditions respected by the community. The study concludes that Mosalaki continue to play a significant role as both local elites and political brokers, demonstrating that customary authority and community trust remain important factors in shaping local social and political dynamics.
Hybrid Governance: Peran Non-State Aktor dalam Resolusi Konflik Perbatasan Indonesia dan Timor Leste di Oepoli Sabaat, Yeftha Y; Jacob, Ananias R.P.; Ndoda, Philips Y.N.; Triadmaja, Stefanus
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 2 No. 3 (2025): September-Desember "Community Empowerment Through Digital Literacy Programs to
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/9gch2f43

Abstract

This study examines the role of non-state actors in resolving the border conflict between Indonesia and Timor Leste. Non-state actors have significant influence in border communities, through social, political, and economic networks. They often act as mediators in conflict negotiations, bridging the interests of local communities and the governments of both countries. This study focuses on: first, what is the role of non-state actors in the process of resolving the Indonesia-Timor Leste border conflict? Second, what is the relationship between state and non-state actors in the context of conflict resolution? The theoretical framework used in this study is conflict resolution theory to examine the relationship between state and non-state actors in managing border conflicts, both in resolution efforts and efforts to maintain peace on the border. This study uses a qualitative method by utilizing a case study of the role of Non-State Actors in resolving the Indonesia-Timor Leste border conflict in Oepoli. This study found that conflict resolution efforts by non-state actors actually have a significant contribution and are more accepted by the conflicting communities/actors. Conflict resolution efforts by non-state actors also contribute to maintaining peace and represent a new approach to conflict resolution on the border.
Peran Tu'a Teno Desa Lungar dalam Proses Pengembangan PLTP Poco Leok di Kabupaten Manggarai: The Role of the Tu'a Teno of Lungar Village in the Development of the Poco Leok Geothermal Power Plant in Manggarai Regency Yuliani Citra Jenida; Yohanes Jimmy Nami; Philips Y.N. Ndoda
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11852

Abstract

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Poco Leok di Kabupaten Manggarai merupakan bagian dari kebijakan transisi energi nasional menuju pemanfaatan energi baru terbarukan. Implementasi proyek ini memunculkan dinamika sosial-politik di tingkat lokal, khususnya terkait peran lembaga adat dalam merespons pembangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Tu'a Teno Desa Lungar dalam proses pengembangan PLTP Poco Leok dengan memfokuskan perhatian pada Tu'a Teno dari gendang yang mendukung proyek sebagai representasi fenomena yang diteliti. Penelitian menggunakan teori Kuasa Mikro Michel Foucault untuk menganalisis bagaimana relasi kuasa, pengetahuan, dan wacana membentuk dukungan masyarakat terhadap pembangunan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dikembangkan melalui snowball sampling. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tu'a Teno memiliki peran strategis sebagai mediator sosial, pemberi legitimasi adat, serta penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan pihak pengembang. Melalui mekanisme adat seperti lonto leok dan tabe gendang, Tu'a Teno memfasilitasi musyawarah, membangun komunikasi, serta memperkuat legitimasi terhadap keputusan yang dihasilkan secara kolektif. Sosialisasi proyek menjadi proses produksi pengetahuan yang membentuk pemahaman masyarakat mengenai pembangunan, kebutuhan energi, dan kesejahteraan. Dalam perspektif teori Kuasa Mikro Michel Foucault, kuasa bekerja secara produktif dan tersebar melalui jaringan relasi sosial, produksi pengetahuan, serta wacana pembangunan. Dengan demikian, penerimaan masyarakat terhadap pengembangan PLTP Poco Leok tidak hanya ditentukan oleh kewenangan negara, tetapi juga oleh legitimasi yang dibangun melalui struktur dan otoritas adat. Penelitian ini menunjukkan bahwa Tu'a Teno tidak hanya berperan sebagai penjaga adat, tetapi juga sebagai aktor yang memediasi kepentingan dan membentuk penerimaan masyarakat terhadap pembangunan. ABSTRACT The development of the Poco Leok Geothermal Power Plant (PLTP) in Manggarai Regency is part of Indonesia's national energy transition policy toward the utilization of renewable energy. The implementation of this project has generated socio-political dynamics at the local level, particularly regarding the role of customary institutions in responding to development initiatives. This study aims to analyze the role of Tu'a Teno in Lungar Village in the development process of the Poco Leok Geothermal Power Plant, with a particular focus on Tu'a Teno from gendang (customary clans) that support the project as the representation of the phenomenon under study. The research employs Michel Foucault's Micro-Power Theory to examine how power relations, knowledge, and discourse shape community support for development. This study uses a qualitative case study approach, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Informants were selected using purposive sampling and further developed through snowball sampling. Data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that Tu'a Teno plays a strategic role as a social mediator, a source of customary legitimacy, and a bridge between the community, the government, and the project developer. Through customary mechanisms such as lonto leok and tabe gendang, Tu'a Teno facilitates deliberation, strengthens communication, and reinforces the legitimacy of collectively agreed decisions. Project socialization functions as a process of knowledge production that shapes community understanding of development, energy needs, and public welfare. From the perspective of Michel Foucault's Micro-Power Theory, power operates productively and is dispersed through networks of social relations, the production of knowledge, and development discourse. Consequently, community acceptance of the Poco Leok Geothermal Power Plant development is determined not only by state authority but also by the legitimacy constructed through customary structures and authorities. This study demonstrates that Tu'a Teno serves not only as the guardian of customary institutions but also as an actor who mediates interests and shapes community acceptance of development.