Ketahanan pangan menjadi prioritas utama pembangunan nasional Indonesia sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya mengakhiri kelaparan dan mencapai ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi sosiokultural untuk memahami peran Uma Lengge dalam ketahanan pangan dan budaya masyarakat Desa Maria Utara. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap interaksi masyarakat dalam pengelolaan Uma Lengge di Desa Maria Utara, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uma Lengge bukan sekadar lumbung pangan tradisional, melainkan sistem holistik yang mendukung kedaulatan pangan, ketahanan budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Strukturnya yang terdiri dari tiga tingkatan (ro awa, ro woha, ro ese) serta norma adat menciptakan pengelolaan pangan mandiri sekaligus melestarikan kearifan lokal. Nilai kolektif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas memperkuat ketahanan pangan serta membentuk tata kelola masyarakat yang partisipatif dan adil. Selain itu, keselarasan Uma Lengge dengan prinsip Asta Cita menunjukkan potensinya sebagai model adaptif dalam pembangunan modern.
Copyrights © 2026