cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi" : 8 Documents clear
Perubahan Morfologik dan Kekasaran Permukaan Implan Gigi Ti-Alloy Dipengaruhi oleh Perbedaan Tekanan Sandblasting TiO2 Albert, Albert; Hamidjaja, Beverly C.; Suwandi, Trijani; Andayani, Lia H.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.60670

Abstract

Abstract: This study aimed to examine the morphological changes and surface roughness of titanium alloy dental implants affected by variations in TiO2 sandblasting pressure in the SA technique. A laboratory experimental study was conducted using 25 titanium alloy samples measured 10x10x2mm began with pre-treatment surface roughness testing. Sandblasting with TiO2 was then performed at different pressures: no sandblasting (negative control), 500 kPa, 600 kPa, 700 kPa, and 800 kPa for 20 seconds, 20 mm distance, and 90° angle. Acid etching with 98% H2SO4 was carried out at 60°C for 60 minutes. Post-treatment surface roughness was measured and morphological changes were observed. The normality test was carried out using the Shapiro-Wilk test, then One-Way ANOVA statistical test was performed to evaluate the significance of the difference in Ra between groups. The results showed that the no-sandblasting group had a significantly lower surface roughness value than the sandblasted groups. SEM results revealed uniform morphology in sandblasted groups, and the 500 kPa group resulted in the deepest and most homogeneous porosity. In conclusion, variations in TiO2 sandblasting pressure affect the morphology and surface roughness of titanium alloy, with 500 kPa providing the most optimal results for roughness and morphology. Keywords: surface roughness; surface morpholog; osseointegration; sandblasting pressure; TiO2    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan morfologi dan kekasaran permukaan implan gigi titanium alloy yang dipengaruhi oleh variasi tekanan sandblasting TiO2 dalam teknik SA. Studi eksperimental laboratorium dilakukan menggunakan 25 sampel titanium alloy berukuran 10x10x2 mm, diawali dengan pengujian kekasaran permukaan sebelum perlakuan. Sandblasting TiO2 dilakukan dengan tekanan berbeda-beda: tanpa sandblasting (kontrol negatif), 500 kPa, 600 kPa, 700 kPa, dan 800 kPa selama 20 detik, jarak 20 mm, dan sudut 90°. Acid etching dengan H2SO4 98% dilakukan pada 60°C selama 60 menit. Kekasaran permukaan setelah perlakuan diukur serta perubahan morfologik. Uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk, kemudian uji statistik One-Way ANOVA dilakukan untuk melihat signifikansi perbedaan Ra antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok tanpa sandblasting memiliki nilai kekasaran lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok dengan sandblasting. Hasil SEM menunjukkan morfologi seragam pada kelompok sandblasting, dengan kelompok 500 kPa menghasilkan porositas terdalam dan paling homogen. Simpulan penelitian ini ialah variasi tekanan sandblasting TiO2 memengaruhi morfologi dan kekasaran permukaan titanium alloy, dengan tekanan 500 kPa memberikan hasil paling optimal dalam hal kekasaran dan morfologi. Kata kunci: kekasaran permukaan; morfologi permukaan; osseointegrasi; tekanan sandblasting; TiO2
Perbandingan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Buah Papaya (Carica papaya L.) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Aldilawati, Sari; Abdi, Muhammad J.; Salim, Nurul A. E. P. A.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.62819

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid produced by the salivary glands and plays a very important role in maintaining the balance of the ecosystem in the oral cavity. Papaya fruit (Carica papaya L.) contains 0.7 grams of fiber per 100 grams, which can help increase saliva production, thereby providing a self-cleansing effect. Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is rich in nutrients such as vitamin C, phosphorus, calcium, and antioxidants, and contains antibacterial agents, betacyanin, and phenols. Consuming fruit is one way to maintain optimal saliva pH level and prevent tooth decay. Therefore, the effectiveness of these two types of fruits on saliva pH levels needs to be explored. This was a quasi-experimental study employing a two-group pretest-posttest design. The results showed that based on the Wilcoxon test results, there was a significant difference in the average saliva pH before and after consuming papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), however, the Mann Whitney test showed no difference between the two treatments. In conclusion, papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) have the same effectiveness in lowering saliva pH after consumption by chewing. Although significant Keywords: pH saliva; papaya fruit (Carica papaya L.); red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus)    Abstrak: Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dalam rongga mulut. Buah papaya (Carica papaya L.) mengandung serat sebanyak 0,7 gr dalam tiap 100 gr, yang dapat membantu pengeluaran saliva lebih banyak sehingga memberikan efek self cleansing. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki kandungan nutrisi kaya vitamin C, fosfor, dan kalsium, antioksidan, serta kandungan antibakteri, betacinin, dan fenol. Mengonsumsi buah merupakan salah satu cara menjaga pH saliva dalam kondisi optimum untuk mencegah terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mengonsumsi kedua jenis buah terhadap pH saliva. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental, dengan two group pretest postest design. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan temuan berbeda secara bermakna antara rerata pH saliva sebelum dan sesudah mengonsumsi buah papaya (Carica papaya L.) maupun buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), namun uji  Mann Whitney tidak mendapatkan perbedaan antara kedua perlakuan. Simpulan penelitian ini ialah buah pepaya (Carica papaya L) dan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan pH saliva setelah dikonsumsi dengan cara dikunyah. Meskipun perubahan bermakna terjadi dalam masing-masing kelompok, tidak ditemukan adanya perbedaan efektivitas yang bermakna antara keduanya. Kata kunci: pH saliva; pepaya; buah naga merah
Potensi Antibakteri Prebiotik Buah Naga dalam Regenerasi Periodontal Hari, Febria D. K.; Indrawati, Dwi W.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.63671

Abstract

Abstract: Periodontal tissue regeneration remains a major challenge in dentistry due to damage caused by periodontal disease. Developing natural biomaterials with osteoconductive, anti-inflammatory, and antibacterial properties is essential to support the healing process. This study aimed to compare the antibacterial activity of dragon fruit (Hylocereus spp.) prebiotics with commercial bovine pericardium membrane using an in vitro approach. Antibacterial activity against Porphyromonas gingivalis was assessed using the disc diffusion method. Dragon fruit prebiotics, obtained through organic solvent extraction, were tested against sterilized bovine pericardium membranes as controls. The results showed that the dragon fruit prebiotics had a greater mean inhibition zone of 13.76 mm against P. gingivalis compared to of bovine pericardium membranes which was 10.14 mm. In conclusion, dragon fruit prebiotics are positioned as a promising, cost-effective, and biocompatible alternative compared to bovine pericardium membranes for periodontal regeneration. However, further in vivo studies are necessary to validate their safety and clinical efficacy. Keywords: dragon fruit prebiotics; periodontal regeneration; antibacterial activity; bovine pericardium membrane    Abstrak: Regenerasi jaringan periodontal tetap menjadi tantangan utama dalam kedokteran gigi, terutama terkait kerusakan akibat penyakit periodontal. Upaya pengembangan biomaterial alami dengan potensi osteokonduktif, anti-inflamasi, dan antibakteri menjadi penting untuk mendukung penyembuhan jaringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan in vitro untuk membandingkan efek antibakteri prebiotik buah naga (Hylocereus spp.) dengan bovine pericardium membrane komersial. Uji antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dilakukan dengan metode difusi cakram. Prebiotik diperoleh melalui ekstraksi pelarut organik, sedangkan bovine pericardium membrane disterilkan dan digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian memperlihatkan prebiotik buah naga menunjukkan rerata zona hambat 13,76 mm terhadap P. gingivalis, lebih besar dibandingkan bovine pericardium membrane (10,14 mm). Hal ini mendukung bahwa prebiotik buah naga memiliki aktivitas antibakteri yang dapat memperkuat perannya sebagai biomaterial alternatif. Simpulan penelitian ini ialah prebiotik buah naga merupakan kandidat potensial untuk terapi regeneratif periodontal dengan biaya lebih rendah dibandingkan bovine pericardium membrane. Penelitian in vivo lebih lanjut masih diperlukan untuk mengonfirmasi keamanan dan efektivitasnya dalam aplikasi klinis. Kata kunci: prebiotik buah naga; regenerasi periodontal; aktivitas antibakterial; bovine pericardium membrane
Penanganan Flare-Up Pasca Obturasi pada Perawatan Saluran Akar Jamak: Laporan Kasus Cahyani, Cahyani; Kirom, Fiqi F.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64340

Abstract

Abstract: Post-obturation flare-up is an endodontic complication characterized by acute pain resulting from inflammatory responses in periapical tissues. Contributing factors include debris extrusion, inadequate obturation, and sealer toxicity. We reported an 18-year-old male presented with pain in the upper left maxillary premolar three days after root canal obturation. Radiographic and CBCT evaluation revealed underfilling of the palatal root canal. Retreatment was performed by removing gutta-percha with an H-file and orange oil, followed by re-preparation using the crown-down technique. Irrigation was carried out with 2.5% NaOCl and 2% chlorhexidine. Intracanal medication with a mixture of calcium hydroxide and 2% chlorhexidine paste was applied. After one week, the patient was asymptomatic, and re-obturation was completed using the lateral condensation technique with eugenol-based sealer. In the two-week follow-up, the patient remained symptom-free, and definitive restoration with a porcelain-fused-to-metal crown was placed. In conclusion, post-obturation flare-up may occur due to inadequate obturation. Root canal retreatment with intracanal medication combining Ca(OH)2 and 2% CHX is effective in relieving symptoms, eliminating persistent microorganisms, and preventing recurrent infection. Keywords: flare-up; root canal retreatment; calcium hydroxide; chlorhexidine   Abstrak: Flare-up pasca obturasi merupakan komplikasi endodontik yang ditandai dengan nyeri akut akibat respon inflamasi pada jaringan periapikal. Faktor penyebabnya meliputi ekstrusi debris, obturasi yang tidak adekuat, dan toksisitas bahan sealer. Kami melaporkan seorang pasien laki-laki berusia 18 tahun datang dengan keluhan nyeri pada premolar maksila kiri tiga hari setelah dilakukan obturasi saluran akar. Pemeriksaan radiografi dan CBCT menunjukkan obturasi akar palatal tidak mencapai panjang kerja penuh (underfilling). Dilakukan perawatan ulang berupa pembongkaran gutta-percha menggunakan H-file dan orange oil, dilanjutkan preparasi ulang dengan teknik crown-down. Irigasi intraoperatif menggunakan NaOCl 2,5% dan chlorhexidine 2%. Medikasi intrakanal diberikan berupa kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine 2%. Setelah satu minggu, pasien bebas gejala, dan dilakukan obturasi ulang dengan teknik kondensasi lateral menggunakan sealer berbasis eugenol. Pada kontrol dua minggu, pasien tetap asimtomatik dan restorasi akhir dilakukan dengan mahkota jaket PFM. Simpulan studi ini ialah flare-up pasca obturasi dapat dipicu oleh obturasi yang tidak adekuat. Retreatment saluran akar dengan kombinasi medikasi intrakanal Ca(OH)2–CHX 2% efektif dalam meredakan gejala, mengeliminasi mikroorganisme persisten, serta mencegah infeksi berulang. Kata kunci: flare-up; perawatan saluran akar ulang; kalsium hidroksida; chlorhexidine
Gnatoplasti tanpa Cangkok Tulang: Kasus Serial Yuliastuti, Eka; Mangoenprawira, Ocky P.; Ismunandar, Adhe
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64546

Abstract

Abstract: Alveolar clefts are a group of cleft lip and/or palate disorders that can interfere with tooth growth, aesthetics, and oral function. Treatment is gradual and multidisciplinary, with initial procedures such as labioplasty and palatoplasty. However, postoperative facial bone growth disorders often occur. Gnathoplasty is generally performed with bone grafting, but this procedure carries a risk of complications. Therefore, gnathoplasty without bone grafting is starting to be considered as an alternative, especially in children under 10 years of age with a cleft width of ≤4 mm. This study aimed to discuss the clinical and esthetic outcomes of several cases of gnathoplasty without the use of bone grafts, and to assess the safety and effectiveness of the procedure. In this case study, there were three pediatric patients with similar clinical conditions and complaints underwent gnathoplasty without bone grafting using the mucosal tissue closure method at Santa Theresia Hospital in Jambi. Evaluation was conducted through clinical examination and pre- and post-operative photo documentation. The results showed that gnathoplasty without bone graft provided significant improvement in facial profile and patient esthetic satisfaction without complications. No post-operative infection was found. Healing was progressing well and recovery time was shorter. Post-operative hypernasality improved gradually without the need for speech therapy in the short term. In conclusion, gnatoplasty without bone grafting can be an appropriate treatment option in children with specific indications, as it provides good outcomes with low risk of complications. Keywords: gnathoplasty; bone graft; gnathoschizis    Abstrak: Celah alveolar merupakan bagian dari kelainan celah bibir dan/atau langit-langit yang dapat mengganggu pertumbuhan gigi, estetika, dan fungsi rongga mulut. Penanganannya dilakukan secara bertahap dan multidisipliner melalui prosedur awal seperti labioplasti dan palatoplasti, namun gangguan pertumbuhan tulang wajah sering terjadi pascaoperasi. Gnatoplasti umumnya dilakukan dengan cangkok tulang, tetapi prosedur ini memiliki risiko komplikasi. Oleh karena itu, gnatoplasti tanpa cangkok tulang mulai dipertimbangkan sebagai alternatif, terutama pada anak di bawah usia 10 tahun dengan lebar celah ≤4 mm. Penulisan studi ini bertujuan untuk melaporkan hasil klinis dan estetika dari beberapa kasus gnatoplasti tanpa penggunaan cangkok tulang, serta menilai keamanan dan efektivitas prosedur tersebut. Dalam studi kasus ini, tiga pasien anak dengan kondisi klinis dan keluhan serupa menjalani gnatoplasti tanpa cangkok tulang menggunakan metode penutupan jaringan mukosa di Rumah Sakit SantaTheresia, Jambi. Evaluasi dilakukan melalui pemeriksaan klinis, dokumentasi foto pra dan pasca operasi. Hasil menunjukkan bahwa gnatoplasti tanpa cangkok tulang memberikan perbaikan bermakna pada profil wajah dan kepuasan estetika pasien tanpa komplikasi. Tidak ditemukan infeksi pasca operasi. Penyembuhan berjalan dengan baik dan waktu pemulihan lebih singkat. Hipernasalitas yang muncul pasca operasi membaik secara bertahap tanpa perlu terapi wicara dalam jangka pendek. Simpulan studi ini ialah gnatoplasti tanpa cangkok tulang pada anak dapat menjadi pilihan tindakan yang tepat sesuai indikasi dengan hasil yang baik dan berisiko rendah. Kata kunci: gnatoplasti; cangkok tulang: gnatoschizis
Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap Porphyromonas gingivalis Sari, Ernita; Firmantini, Herrina; Chasanah, Niswatun; Ningrum, Putri W. S.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.64734

Abstract

Abstract: Periodontal disease often begins with inflammation caused by bacteria in the oral cavity, such as Porphyromonas gingivalis. One of the herbal ingredients known for its antibacterial properties is shallot (Allium cepa L.). Shallots contain various secondary metabolites, including saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, and tannin. This study aimed to obtain the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) of shallot extract. This was an experimental laboratory design using a post-test only control group approach. The test organism used was Porphyromonas gingivalis. Shallots were extracted using the maceration method, followed by serial dilution to obtain concentrations of 100%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.56%, 0.78%, and a negative control. The results showed that at concentrations of 100%, 50%, 25%, and 12.5%, there was no growth of Porphyromonas gingivalis was observed. However, bacterial growth was present at concentrations of 6.25%, 3.125%, 1.56%, 0.78%, and in the negative control group. In conclusion, the minimum inhibitory concentration was found to be 0.78%, while the minimum bactericidal concentration was 12.5%. Keywords: Porphyromonas gingivalis; shallots (Allium cepa L.)    Abstrak: Penyakit periodontal biasanya diawali dengan inflamasi yang disebabkan bakteri di rongga mulut seperti Porphyromonas gingivalis. Bakteri ini merupakan kelompok bakteri yang berperan dalam inisiasi terjadinya penyakit periodontal kronis. Salah satu bahan herbal yang diketahui memiliki daya antibakteri ialah bawang merah dengan kandungan metabolit sekunder yaitu saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak bawang merah terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratoris dengan post test only control group desain. Sampel penelitian yaitu Porphyromonas gingivalis. Bawang Merah diekstraksi menggunakan metode maserasi kemudian dilakukan penipisan seri atau metode dilusi dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78%, serta kontrol negatif. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pada konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12,5% tidak ada pertumbuhan P. gingivalis. Pada konsentrasi 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78%, kontrol negatif tampak pertumbuhan P. gingivalis. Simpulan penelitian ini ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) memiliki Konsentrasi Hambat Minimum pada konsentrasi 0,78%, dan Konsentrasi Bunuh Minimum pada konsentrasi 12,5% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: Porphyromonas gingivalis; bawang merah (Allium cepa L.)
Gambaran Pola Sidik Bibir Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi di Kelurahan Sindulang Dua, Manado Huwae, Immanuel K.; Kristanto, Erwin G.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.65756

Abstract

Abstract: Forensic identification is a crucial method for recognizing an individual's identity by comparing antemortem and postmortem data. Generally, identification methods are categorized into two groups: primary and secondary. One of the secondary methods that has gained increasing attention is cheiloscopy, or lip print identification, which is known for its uniqueness, permanence, and practicality. However, it is not yet established as a standard identification method in Indonesia. Limitations in applying primary methods highlight the potential of cheiloscopy as an alternative that can accelerate the identification process, particularly in coastal areas such as Sindulang Dua Subdistrict, Manado. This study aimed to obtain the lip print pattern of Sindulang Dua community based on the Suzuki-Tsuchihashi classification. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design, using purposive stratified sampling. The results obtained 83 respondents aged 21–40 years, consisting of 40 males and 43 females. The most frequent lip patterns were type I (36.14%) and type IV (31.33%). Among males, the most frequent type was type IV (40.00%), meanwhile, among females was type I (46.51%). The most dominant ethnic group among the respondents was Sangir (36.14%). In conclusion, the majority of people at Sindulang Dua Subdistrict have Sangir ethnic group yang mayoritas berasal dari suku Sangir. The dominant lip print pattern found in males was type IV, while in females it was type I. Keywords: lip print patterns; forensic identification; Suzuki Tsuchihashi classification   Abstrak: Identifikasi forensik merupakan metode penting untuk mengenali identitas individu melalui perbandingan data antemortem dan postmortem. Metode ini terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Cheiloscopy atau identifikasi pola sidik bibir adalah salah satu metode sekunder yang memiliki keunggulan dalam hal keunikan, kekekalan, dan kepraktisan, namun belum menjadi standar identifikasi di Indonesia. Kendala pada metode primer menjadikan cheiloscopy sebagai alternatif dalam percepatan identifikasi, khususnya di wilayah pesisir seperti Kelurahan Sindulang Dua. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola sidik bibir masyarakat Kelurahan Sindulang Dua Manado berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. menggunakan teknik purposive stratified sampling. Hasil penelitian mendapatkan 83 orang usia 21–40 tahun sebagai responden, terdiri dari 40 laki-laki dan 43 perempuan. Pola yang paling sering muncul yaitu tipe I (36,14%) dan tipe IV (31,33%). Pada laki-laki pola yang paling sering muncul ialah tipe IV (40,00%) dan pada perempuan tipe I (46,51%). Suku yang dominan pada responden ialah suku Sangir (36,14%). Simpulan penelitian ini ialah pada masyarakat Kelurahan Sindulang Dua yang mayoritas berasal dari suku Sangir, ditemukan bahwa tipe pola sidik bibir yang paling sering muncul pada laki-laki ialah tipe IV, sementara pada perempuan yang paling dominan ialah tipe I. Kata kunci: pola sidik bibir; identifikasi forensik; klasifikasi Suzuki Tsuchihashi
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Status Kebersihan Gigi dan Mulut Masyarakat Pesisir Utomo, Hestia E.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.65759

Abstract

Abstract: Low knowledge, awareness, and behavior in maintaining dental and oral hygiene are influenced by various things such as environmental condition, education level, knowledge, economic condition, prevailing habits or culture, and access to health services. This study aimed to determine whether there was an influence of education level on dental and oral hygiene status of the coastal community of Maen Village, East Likupang. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data were analyzed using univariate analysis with percentages and bivariate analysis with ordinal regression. The results obtained 56 people of coastal communities of Maen Village as respondents. The majority had a high level of education (n=25; 44.6%), and moderate dental and oral hygiene status (OHI-S) (n​​=27; 48,2%). The subjects were dominated by those who had high level of education with moderate dental and oral hygiene status (n=17; 68.0%). Bivariate analysis using the ordinal regression test obtained a significant effect. In conclusion, level of education has a significant effect on dental and oral hygiene status of the coastal community of Maen Village, East Likupang District. Keywords: education level; dental and oral hygiene status; coastal community    Abstrak: Rendahnya pengetahuan, kesadaran, dan perilaku dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut dipengaruhi berbagai hal seperti kondisi lingkungan, tingkat pendidikan, pengetahuan, kondisi ekonomi, kebiasaan atau budaya yang berlaku, serta akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat pendidikan terhadap status kebersihan gigi dan mulut masyarakat pesisir Desa Maen, Kecamatan Likupang Timur. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dianalisis menggunakan secara univariat untuk melihat distribusi data berdasarkan persentase serta analisis bivariat untuk melihat pengaruh menggunakan regresi ordinal. Hasil pnelitian mendapatkan 56 orang masyarakat pesisir Desa Maen sebagai responden penelitian. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan terakhir menengah (n=25; 44,6%), dan status kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) kondisi sedang (n=27; 48,2%). Responden penelitian didominasi memiliki tingkat pendidikan terakhir menengah dengan status kebersihan gigi dan mulut sedang (n=17; 68,0%). Analisis bivariat menggunakan uji regresi ordinal menunjukkan pengaruh bermakna. Simpulan penelitian ini ialah tingkat pendidikan berpengaruh bermakna terhadap status kebersihan gigi dan mulut masyarakat pesisir Desa Maen Kecamatan Likupang Timur. Kata kunci: tingkat pendidikan; status kebersihan gigi dan mulut; masyarakat pesisir

Page 1 of 1 | Total Record : 8