cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
INDEKS DEBRIS SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PROMOSI KESEHATAN TENTANG MENYIKAT GIGI PADA MURID SD NEGERI POIGAR ., Hermawan
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10158

Abstract

Abstract: Health promotion are necessary in case to improve people’s behavior in order to avoid health problems, Success of an educator in conveying health promotion topics are determined by many things. one of which is the use of effective media and method, The purpose of this study is to find out child debris index in SD Negeri Poigar before and after the health promotion of toothbrushing, The research method used is pre-experimental with one group pre and posttest approaches that conducted to the 4th. 5th and 6th grade student of SD Negeri Poigar, South Minahasa, The number of samples are taken as much 34 students using total sampling technique, This researh used Wilcoxon statistical analysis test, The result showed that before the health promotion of toothbrushing the early debris index was bad category and after the health promotion of toothbrushing the final debris index is medium category, Wilcoxon analysis test showed value of significance p=0,00, This statistical analysis concluded that there was a significant difference between debris index before and after the health promotion of toothbrushing in SD Negeri Poigar students.Keywords: debris index, health promotion.Abstrak:Promosi kesehatan sangat diperlukan dalam meningkatkan perilaku masyarakat agar terbebas dari masalah-masalah kesehatan. Keberhasilan seorang penyuluh dalam menyampaikan materi promosi kesehatan ditentukan oleh banyak hal, salah satu diantaranya ialah adanya media dan metode promosi kesehatan yang efektif. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui indeks debris anak SD Negeri Poigar sebelum dan sesudah dilakukan promosi kesehatan tentang menyikat gigi. Metode penelitian yang digunakan ialah metode pra eksperimental dengan pendekatan one group pre and posttest design yang dilakukan pada siswa kelas 4, 5 dan 6 SD Negeri Poigar, Minahasa Selatan. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 34 siswa dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Penelitian ini menggunakan uji analisis statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum dilakukan promosi kesehatan tentang menyikat gigi indeks debris awal ialah kategori buruk dan setelah dilakukan promosi kesehatan tentang menyikat gigi indeks debris akhir ialah kategori sedang. Hasil uji analisis statistik Wilcoxon ini menunjukan p=0,00. Hasil analisis ini menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna antara indeks debris sebelum dan sesudah dilakukan promosi kesehatan tentang menyikat gigi pada murid SD Negeri Poigar.Kata kunci: indeks debris, promosi kesehatan.
Hubungan Pemakaian Alat Ortodontik Cekat dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa SMA Kristen 1 Tomohon Rambitan, Wulan K. D.; Anindita, Pritartha S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23309

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic devices are the most commonly used orthodontic appliances in the community especially adolescent because they have become an important part of lifestyle. Albeit, users of fixed orthodontic appliances do not realize that fixed orthodontic appliances could become a risk factor for poor dental and oral hygiene. This study was aimed to determine the relationship between the use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status of students at SMA Kristen 1 Tomohon (senior high school). This was an analytical observational study with a cross sectional design. Subjects were 43 students who used fixed orthodontics appliances obtained by using total sampling method. The results showed that most subjects used fixed orthodontic appliance for less than one year (58.1%). Moreover, the dental and oral hygiene status of most subjects were in the moderate category. The Chi-square showed a p-value of 0,060 for the relationship between the use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status. Conclusion: There was no significant relationship between the duration of use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status of students at SMA Kristen 1 TomohonKeywords: fixed orthodontic appliances, oral hygiene, adolescents Abstrak: Alat ortodontik cekat merupakan peralatan ortodontik yang paling sering dipakai oleh masyarakat khususnya remaja karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun pemakai alat ortodontik cekat tidak menyadari bahwa alat ortodontik cekat merupakan faktor risiko terganggunya kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Kristen 1 Tomohon. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian yaitu 43 siswa yang memakai alat ortodontik cekat yang diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pemakaian alat ortodontik cekat terbanyak yaitu di bawah satu tahun (58,1%) dan status kebersihan gigi dan mulut berada dalam kategori sedang. Hasil uji Chi-square terhadap hubungan antara pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut subyek penelitian mendapatkan nilai p=0,060. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Kristen 1 Tomohon.Kata kunci: alat ortodontik cekat, kebersihan gigi dan mulut, remaja
GAMBARAN MALOKLUSI DENGAN MENGGUNAKAN HMAR PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Laguhi, Vigni Astria; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5829

Abstract

Abstract: Malocclusions is a form of occlusions that deviates from the standard form which is accepted as a normal form and in Indonesia, the prevelence is still high enough. One of the ways to identify and assess the severity of malocclusions is using the Handicapping Malocclusion Assessment Record Index (HMAR). This study aims to describe the malocclusions patients of  RSGM Unsrat using the HMAR index. This is a descriptive study conducted at the RSGM Unsrat Manado. Research subjects which totaled 34 patient study models. Malocclusions assessment obtained by examination of the study sample according to HMAR index include the tooth defect in one jaw, the second jaw teeth abnormalities relationship in a state of occlusions, and dentofasial defect. Result of research on the teeth in one jaw irregularities showed the highest percentage of tooth loss. Abnormal jaw relations in a state of second gear in the region of the anterior occlusion showed the highest percentage in the form of excessive biting distance and in the posterior region of highest form of canines more distally. Dentofacial abnormalities showed the highest percentage in the form of palatal bite. Research malocclusions severity based on HMAR index showed the highest percentage of severe malocclusions are in need of care.Keywords: Malocclusions, Handicapping Malocclusion Assessment Record Index  Abstrak: Maloklusi adalah suatu bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk standar yang diterima sebagai bentuk normal dan di Indonesia prevalensinya masih cukup tinggi. Salah satu cara mengidentifikasi maloklusi dan menilai keparahan maloklusi  tersebut menggunakan Indeks Handiccaping Assessment Record (HMAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi pasien RSGM Unsrat menggunakan Indeks HMAR. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan di RSGM Unsrat Manado. Subjek penelitian berjumlah 34 model studi  pasien. Penilaian maloklusi diperoleh dengan pemeriksaan pada sampel penelitian berdasarkan indeks HMAR  meliputi penyimpangan gigi dalam satu rahang, kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi, dan kelainan dentofasial. Hasil penelitian pada penyimpangan gigi dalam satu rahang menunjukkan persentase tertinggi pada kehilangan gigi. Kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi menunjukkan di regio anterior persentase tertinggi berupa jarak gigit berlebih  dan diregio posterior tertinggi berupa gigi kaninus lebih ke distal. Kelainan dentofasial menunjukkan persentase tertinggi berupa palatal bite. Hasil penelitian tingkat keparahan maloklusi berdasarkan indeks HMAR menunjukkan persentase tertinggi pada maloklusi berat sangat memerlukan perawatan. Kata kunci: Maloklusi, Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record
GAMBARAN KEMAMPUAN MASTIKASI PADA PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN PENUH DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Panjaitan, Yuniar P.; Ticoalu, Shane H. R.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13334

Abstract

Abstract: Full dentures are made for people with missing teeth entirely. One of the objectives of full denture usage is to improve and enhance the function of mastication. Mastication is a process of pulverizing food to be swallowed and digested. This study aimed to assess the mastication ability of patients with full denture made at Dental Hospital of the University of Sam Ratulangi Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 56 respondents in this study obtained by using total sampling method. Respondents were patients with full dentures made at the Dental Hospital University of Sam Ratulangi during January 2014 - December 2015. The instrument consisted of questionnaires about mastication ability. Data were processed and analyzed descriptively then were presented in tables. The results showed that 60.71% of respondents had good ability of mastication. Conclusion: The mastication ability of patients with full denture at the Dental Hospital of the University of Sam Ratulangi was in good categoryKeywords: full denture, mastication, the ability of masticationAbstrak: Gigi tiruan penuh dibuat untuk penderita kehilangan gigi seluruhnya yang bertujuan antara lain untuk memperbaiki dan meningkatkan fungsi mastikasi. Mastikasi merupakan proses melumatkan makanan untuk ditelan dan dicerna. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan mastikasi pasien pengguna gigi tiruan penuh di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Terdapat 56 responden yang diperoleh dengan metode total sampling yaitu pasien yang membuat gigi tiruan penuh di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi periode Januari 2014-Desember 2015. Instrumen penelitian berupa kuesioner mengenai kemampuan mastikasi. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif kemudian disajikan berdasarkan distribusi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,71% responden memiliki kemampuan mastikasi yang baik. Simpulan: Kemampuan mastikasi pasien pengguna gigi tiruan penuh di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi dalam kategori baik.Kata kunci: gigi tiruan penuh, mastikasi, kemampuan mastikasi
Hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih pada masyarakat di Kecamatan Manganitu Hontong, Cheny; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14157

Abstract

Abstract: Oral health is very important for every individual. Gingivitis is an inflammation of the gingiva caused by the interaction of microorganisms in plaques and bad habits inter alia the habit of chewing betel. This study was aimed to determine the relationship of gingival status and chewing habits based on the duration of betel chewing and chewing frequencies per day among Manganitu district community. This was a descriptive-analytical study with a cross-sectional design. Samples were taken by using purposive sampling. There were 39 respondents as samples. Clinical data of the gingival status was measured by using gingival index (GI) of Loe and Sillnes. The results of chi-square analysis showed a significant correlation between the gingival status and the betel chewing habit based on the duration of betel chewing habit (p = 0.000) and the frequency of betel chewing per day (p = 0.001). Conclusion: Gingival status of Manganitu district community who had betel chewing habit was classified in the severe category.Keywords: Status gingiva, chewing habits, Manganitu districts. Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut sangat penting bagi setiap individu. Gingivitis merupakan inflamasi pada gingiva yang disebabkan oleh interaksi mikroorganisme pada plak dan kebiasaan buruk, salah satunya ialah kebiasaan menyirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih dan frekuensi menyirih perhari pada masyarakat kecamatan Manganitu. Jenis penelitian ialah deskriptif-analitik dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling sebanyak 39 responden. Data klinis tentang status gingiva diukur menggunakan gingival index (GI) menurut Loe dan Sillnes. Berdasarkan hasil uji analisis chi-square terdapat hubungan bermakna antara status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih (p=0,000) dan frekuensi menyirih (p=0,001). Simpulan: Status gingiva masyarakat kecamatan Manganitu yang memiliki kebiasaan menyirih tergolong dalam kategori berat. Kata kunci: status gingiva, kebiasaan menyirih
GAMBARAN PENCABUTAN GIGI PERMANEN DI PUSKESMAS BITUNG BARAT KECAMATAN MAESA KOTA BITUNG TAHUN 2012 Panelewen, Wulan
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3123

Abstract

ABSTRAKPencabutan gigi adalah proses pengeluaran gigi dari alveolus. Ada berbagai indikasi pencabutan gigi khususnya gigi permanen, namun yang paling sering disebabkan karena penyakit periodontal dan karies. Etiologi penyakit periodontal ada 2 faktor, yakni faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer penyakit periodontal ialah iritasi bakteri sedangkan faktor sekunder dapat bersifat lokal atau sistemik.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pencabutan gigi permanen di Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif. Data diambil menggunakan metode total populasi dengan cara mendata rekam medik tindakan pencabutan gigi permanen di poli gigi Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung pada tahun 2012.Hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan memiliki frekuensi pencabutan gigi permanen yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki yakni perempuan sebesar 59,5%. Kelompok usia 35-44 tahun menunjukan pencabutan gigi yang paling tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yakni sebesar 25,9%. Gigi permanen yang paling banyak dicabut ialah gigi molar pertama rahang bawah sebesar 20,3%. Penyakit periodontal merupakan indikasi yang paling banyak melatarbelakangi sehingga gigi permanen dicabut, yakni sebesar 91,7%.Kata Kunci: Pencabutan Gigi, Pencabutan Gigi Permanen, Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung.ABSTRACKTooth extraction is the process of alveolar dental expenses. There are indications of a permanent tooth extraction, but most often caused by periodontal disease and caries. Etiology of periodontal disease there are two factors, the primary factors and secondary factors. The primary factors of periodontal disease is bacterial irritation while secondary factors may be local or systemic.Purpose of this study to describe the permanent tooth extraction in Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung. This study is a retrospective study. Sample retrieved using the method of total population by medical record card patient who did tooth extraction in Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung period 2012.The results showed that women had a permanent tooth extraction frequency higher than the men, that is women percentage of 59,5%. 35-44 age group showed the highest tooth extraction than any other age group, which is equal to 25,9%. Permanent teeth are the most deprived mandibular first molar teeth by 20,3%. Periodontal disease is an indication that the most cause permanent tooth extracted, which is equal to 91,7%.Keywords: Tooth extraction, Permanent tooth extraction, Puskesmas Bitung Barat Kecamatan Maesa Kota Bitung
GAMBARAN PENGETAHUAN PENCABUTAN GIGI SISWA SMA NEGERI 1 SANG TOMBOLANG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Dandel, Joandri P.; Mariati, Ni Wayan; Maryono, Jimmy
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8769

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the actions that are often done in the field of dentistry. Tooth extraction is done with an indication of severely damaged teeth and can not be manage.The most people visiting the dentist after the tooth is badly damaged, and eventually had to be taken tooth extraction. That is caused by a lack of public knowledge about the importance of maintaining healthy teeth and mouth. This study aims to reveal the students' knowledge of tooth extraction SMA 1 The Tombolang Bolaang Mongondow. This type of research used in this research is descriptive research with cross sectional study design. The total sample of 51 samples, obtained using Slovin formula. Results of the study are presented in the form of a frequency distribution table. The results showed the level of students' knowledge of tooth extractions in SMA Negeri 1 The Tombolang most have a moderate knowledge (52.9%).Keywords: Tooth Extraction, KnowledgeAbstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan yang sering dilakukan di bidang kedokteran gigi. Pencabutan gigi dilakukan dengan indikasi gigi yang rusak parah dan tidak bisa dirawat.Sebagian besar masyarakat berkunjung ke dokter gigi setelah gigi rusak parah, dan akhirnya harus dilakukan tindakan pencabutan gigi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pencabutan gigi siswa SMA Negeri 1 Sang Tombolang Kabupaten Bolaang Mongondow. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 51 sampel, diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMA Negeri 1 Sang Tombolang sebagian besar memiliki pengetahuan sedang (52,9%).Kata kunci: Pencabutan gigi, Pengetahuan
Gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado Motto, Christavia J.; Mintjelungan, Christy N.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15632

Abstract

Abstract: Oral health is an important part of the overall body health. Children with special needs are at risk or have chronic physical, developmental, behavioral, or emotional condition, therefore, they commonly require some assistance in maintaining their cleanliness, especially the oral hygiene. The indicator degree of oral hygiene in Indonesia is the status of oral hygiene degree with an average of Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) <1.2 obtained from summing the number debris index and calculus index. This study was aimed to describe the dental and oral hygiene in students with special needs at SLB YPAC Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were 36 students, aged 10-28 years, cooperative, and had letters of consent signed by their parents or proxy parents, obtained by using total sampling method. Data were analyzed manually and presented in tables, figures, and percentages, grouped based on their characteristics. The results showed that the students with special needs in SLB YPAC Manado had an average score of OHI-S of 1.3 with a total scores of Simplified Debris Index (DI-S) 0.9 and Simplified Calculus Index (CI-S) 0.4 which belonged to the moderate category.Keywords: oral hygiene, students with special needs Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Anak berkebutuhan khusus (ABK) berisiko tinggi atau mempunyai kondisi kronis secara fisik, perkembangan, perilaku atau emosi sehingga memerlukan bantuan dalam menjaga kebersihan diri sendiri khususnya kebersihan gigi dan mulut. Indikator derajat kebersihan gigi dan mulut di Indonesia ialah status derajat kebersihan gigi dan mulut dengan rerata Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) <1,2 yang didapatkan dari menjumlahkan angka debris indeks dan kalkulus indeks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian sebanyak 36 siswa berusia 10-28 tahun, kooperatif, serta bersedia menjadi responden berdasarkan surat persetujuan yang ditandatangani oleh orang tua atau wali, diperoleh dengan metode total sampling. Data diolah secara manual dan ditampilkan dalam bentuk tabel, gambar, dan persentase yang dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya. Hasil penelitian menunjukkan dari 36 siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado didapatkan rerata skor OHI-S 1,3 dengan jumlah skor Debris Index Simplified (DI-S) 0,9 dan skor Calculus Index Simplified (CI-S) 0,4 yang tergolong pada status kebersihan gigi dan mulut sedang.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, siswa berkebutuhan khusus
FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP TERJADINYA KANDIDIASIS ERITEMATOSA PADA PENGGUNA GIGITIRUAN LENGKAP Gaib, Zulfikar
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3228

Abstract

Kehilangan gigi pada seseorang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan anatomis, fisiologis maupun fungsional, bahkan tidak jarang pula menyebabkantraumapsikologis. Kehilangan gigi yang terjadidapat ditanggulangi dengan pembuatan restorasi berupa gigitiruan lepasan dan gigitiruan cekat.Pemakaian gigitiruan seringkali dapat menimbulkan masalah yang lain apabila tidak diperhatikan kebersihan dan perawatan. Halini dapat dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa makanan yang merupakan predisposisi terbentuknya plak, sehingga meningkat prevalensi mikroorganisme Kandida albikan dan menyebabkan terjadinya kandidiasis. Terjadinya kandidiasis pada rongga mulut diawali dengan adanya kemampuan perlekatan kandida pada mukosa mulut sehingga mengakibatkan proliferasi, kolonisasi tanpa gejala atau disertai dengan gejala infeksi.Kandidiasis di rongga mulut dapat dibedakan atas Kandidiasis Pseudomembrane (oral trush), Kandidiasis Anglular Cheilitis, Kandidiasis Hiperplastik Kronik, dan Kandidiasis eritematosa. Pada pasien pengguna gigitiruan, kandidiasis yang paling banyak ditemukan yakni Kandidiasis eritematosa.Kata kunci : Gigitiruan lengkap, kandida albikan, kandidiasis eritematosa
GAMBARAN FAKTOR RISIKO DAN KOMPLIKASI PENCABUTAN GIGI DI RSGM PSPDG-FK UNSRAT Lande, Randy; Kepel, Billy J.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10012

Abstract

Abstract: Tooth extraction is the process of pulling a tooth out from the alveolus since the tooth can not be treated anymore. The risk factors for complicated tooth extraction are systematic diseases, local state of oral cavity, and age of the patient. The complications that might occur in tooth extraction are bleeding, fracture (crown, root, and mandibula), dry socket, swelling, mandibula dislocation, and shock. This study aimed to obtain the risk factors and complications of tooth extraction at RSGM PSPDG-FK Unsrat. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. The total population was 76 patients. There were 44 samples obtained by using a consecutive sampling technique. The results showed that the risk factors oftenly found were hypertension 20.45%, age >60 years 20.45%, and temporomandibular disorders 6.82%. The highest percentage of tooth extraction complications was fractures 31.82% meanwhile the lowest percentage was swelling 2.27%. Conclusion: The risk factors that most often found in tooth extraction patients at RSGM PSPDG-FK Unsrat were hypertension and age >60 years and the complications that frequently occured was fractures. Keywords: tooth extraction, risk factor, complications of tooth extraction.Abstrak: Pencabutan gigi adalah proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Faktor risiko terjadinya komplikasi pada pencabutan gigi antara lain: penyakit sistemik, keadaan lokal rongga mulut, dan umur pasien. Komplikasi yang mungkin terjadi selama tindakan pencabutan gigi ialah perdarahan, fraktur (mahkota, akar, mandibula), dry socket, pembengkakan, dislokasi mandibula, syok, dan beberapa komplikasi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko dan komplikasi yang terjadi akibat pencabutan gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Jumlah populasi sebanyak 76 pasien, dan berdasarkan rumus teknik pengambilan sampel tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 44 pasien. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang dijumpai selama penelitian yaitu berturut-turut hipertensi 20,45%, umur >60 tahun 20,45%, dan gangguan pada temporomandibular joint 6,82%. Komplikasi pencabutan gigi yang tertinggi yaitu fraktur 31,82% sedangkan komplikasi terendah ialah pembengkakan 2,27%. Simpulan: Faktor risiko yang paling banyak dijumpai pada pasien pencabutan gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat ialah hipertensi dan umur >60 tahun sedangkan komplikasi yang banyak terjadi ialah fraktur.Kata kunci: pencabutan gigi, faktor resiko, komplikasi pencabutan gigi

Page 10 of 60 | Total Record : 593