cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 602 Documents
Gambaran Status Karies Berdasarkan Indeks DMF-T dan Indeks PUFA pada Orang Papua di Asrama Cendrawasih Kota Manado Jotlely, Fernando B.; Wowor, Vonny N.S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17364

Abstract

Abstract: Caries is one of the dental and oral health problems in Indonesia. Caries is a multifactorial disease, mainly caused by the lack of awareness to keep and maintain dental health. Papuan people are more likely to use areca nuts to clean their teeth instead of brushing their teeth in correct order. This study was aimed to obtain the caries index among Papuan people who lived in Manado based on DMF-T index and PUFA index. This was a descriptive study with a cross-sectional design conducted at Asrama Cendrawasih in Manado. There were 114 Papuan people as the study population. Subjects were 54 Papuan people (males and females) obtained by using purposive sampling method. The results showed that the average DMF-T indexes were 5 in males and 5.9 in females. Based on the average index of DMF-T (5.3), the caries status was categorized as high. Additionally, the untreated caries status had PUFA index of 0.3; in both sexes the average index was 0.3. Conclusion: Based on DMF-T index and PUFA index, the caries status of Papuan people at Asrama Cendrawasih Manado was categorized as high.Keywords: caries, PUFA index, DMF-T index Abstrak: Karies merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Karies disebabkan oleh beberapa factor, antara lain kurangnya kesadaran tentang kebersihan gigi dan mulut. Masyarakat Papua lebih mengutamakan menggunakan pinang sebagai bagian dan rutinitas membersihkan rongga mulut dibanding menyikat gigi dengan baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat karies gigi pada orang Papua yang ada di kota Manado berdasarkan indeks DMF-T dan indeks PUFA. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian di Asrama Cendrawasih di Kota Manado berjumlah 114 orang Papua. Subyek penelitian sebanyak 54 orang Papua, diperoleh dengan menggunakan purposive sampling method. Hasil penelitian memperlihatkan rerata indeks DMF-T pada laki-laki sebesar 5 dan pada perempuan sebesar 5,9. Berdasarkan rerata indeks DMF-T sebesar 5,3 status karies subyek penelitian termasuk kategori tinggi. Status karies yang tidak dirawat pada subyek penelitian berdasarkan indeks PUFA sebesar 0,3 dengan rerata pada laki-laki dan perempuan masing-masing sebesar 0,3. Simpulan: Berdasarkan indeks DMF-T dan indeks PUFA, status karies pada orang Papua di Asrama Cendrawasih Kota Manado termasuk kategori tinggi.Kata kunci: karies, indeks PUFA, indeks DMF -T
JUMLAH ION KROMIUM (Cr) DAN NIKEL (Ni) KAWAT ORTODONTIK STAINLESS STEEL YANG TERLEPAS DALAM PERENDAMAN SALIVA Jura, Ciendy O.; Tendean, Lydia E. N.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10577

Abstract

Abstract: Orthodontic stainless steel wire is one of the instrument components oftenly used in orthodontic treatment and may persist in the oral cavity for a long period of time. Orthodontic stainless steelwire in the oral cavity can be corrosive in the presence of Cr and Ni ion release which can be harmful to the human body and the stainless steel wire itself. This study aimed to determine the amount of Cr and Ni ions released from the stainless steel orthodontic wire that was immersed in artificial saliva. This was an experimental laboratory study with a posttest only control group design. Samples were analyzed by using a UV-Vis spectrophotometry to determine the released Cr and Ni ions in the saliva. Samples consisted of 4 brands of orthodontic stainless steel wires immersed in artificial saliva for 30 days with a temperature of 370C. Data were analyzed by using a computer program. The results showed that the release of Cr ions in samples A, B, C, and D respectively were: 0.302 ppm, 0.331ppm, 0,311 ppm, and 0.483 ppm meanwhile of Ni ions were 1.930 ppm, 1.778 ppm, 1.654 ppm, and 1.391ppm. Conclusion: The release of Cr and Ni ions varied in each sample of orthodontic stainless steel wire .Keywords: orthodontic stainless steel, Cr, Ni, artificial saliva, UV-Vis spectrophotometryAbstrak: Kawat ortodontik stainless steel merupakan salah satu komponen alat yang sering digunakan dalam perawatan ortodontik dan dapat bertahan dalam rongga mulut untuk jangka waktu yang lama. Kawat ortodontik stainless steel yang berada di dalam rongga mulut dapat mengalami korosi dengan adanya pelepasan ion Cr dan Ni yang bersifat merugikan bagi tubuh manusia dan kawat ortodontik itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya jumlah pelepasan ion Cr dan Ni dari kawat ortodontik stainless steel yang direndam dalam saliva buatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan rancangan posttest only control group. Sampel diuji dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui pelepasan ion Cr dan Ni dalam saliva. Sampel terdiri dari 4 merek kawat ortodontik stainless steel direndam dalam saliva buatan selama 30 hari dengan suhu 370C. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program komputer. Hasil penelitian menunjukkan pelepasan ion Cr pada sampel A, B, C, dan D berturut-turut 0,302 ppm; 0,331 ppm; 0,311 ppm; dan 0,483 ppm sedangkan pelepasan ion Ni 1,930 ppm; 1,778 ppm; 1,654 ppm; dan 1,391 ppm. Simpulan: Pelepasan ion Cr dan Ni bervariasi dari masing-masing sampel kawat ortodontik stainless steel.Kata kunci : Kawat ortodontik stainless steel, Cr, Ni, saliva buatan, spektrofotometri UV-Vis
GAMBARAN PERILAKU DAN CARA MERAWAT GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN PADA LANSIA DI PANTI WREDHA MINAHASA INDUK Lengkong, Pingkan E.O.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6404

Abstract

Abstract: Removable partial dentures (RPDs) is a denture that replaces one or more missing teeth in the maxilla or mandible and can be removed by the patient. Patients maintain hygiene habits removable partial dentures can be seen from the frequency, time, and method used to clean dentures varies between individuals and different communities. The purpose of this study is to describe the behavior and how to care RPDs for the elderly in Panti Wredha Minahasa.This type of research is a descriptive study with cross sectional study. The samples were all elderly who meet the inclusion criteria were age 60-80 years using RPDs in seven nursing homes in Minahasa.Based on the research that has been conducted, most respondents RPDs cleaning by brushing without toothpaste 1 (3.3%) and brushing with toothpaste totaled 29 respondents (96.67%). A total of 13 respondents (43.3%) did immersion RPDs. Most respondents simply did immersion by using water that are 17 respondents (56.67%), and no one do immersion using a chemical solution. Most respondents, 13 respondents (43.3%) RPDs cleaning once a day, as many as 28 respondents (93.33%) did not find any difficulty in cleaning RPDs, all respondents (100%) did not get instruction after assembling, as many as 22 respondents (73.3%) using RPDs at night when sleeping.Conclusion: from the study based on behavior, most respondents use RPDs at night when sleeping. Based on how to brush, most respondents RPDs cleaning by brushing use a toothbrush and toothpaste. Based on how to care for the soaking, most respondents did soaking with water.Keywords: removable partial dentures, elderlyAbstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dilepas oleh pasien. Kebiasaan pasien memelihara kebersihan gigi tiruan sebagian lepasan dapat dilihat dari frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan untuk membersihkan gigi tiruan bervariasi pada setiap individu dan masyarakat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku dan cara merawat GTSL pada lansia di Panti Wredha Minahasa Induk. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang berusia 60-80 tahun, menggunakan GTSL di tujuh Panti Wredha di Minahasa Induk. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat tanpa pasta gigi 1 orang (3,3%) dan menyikat gigi dengan pasta gigi berjumlah 29 responden (96,67%). Sebanyak 13 responden (43,3%) tidak melakukan perendaman GTSL. Responden terbanyak hanya melakukan perendaman dengan menggunakan air yaitu 17 responden (56,67%), dan tidak seorangpun yang melakukan perendaman dengan menggunakan larutan zat kimia. Sebagian besar responden yaitu 13 responden (43,3%) membersihkan GTSL sekali sehari, sebanyak 28 responden (93,33%) tidak menemukan kesulitan dalam membersihkan GTSL, semua responden (100%) tidak mendapatkan isntruksi setelah pemasangan, sebanyak 22 responden (73,3%) menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Simpulan: dari hasil penelitian berdasarkan perilaku, sebagian besar responden menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Berdasarkan cara menyikat, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat memakai sikat gigi dan pasta gigi. Berdasarkan cara merawat dengan merendam, sebagian besar responden melakukan perendaman dengan menggunakan air.Kata kunci : gigi tiruan sebagian lepasan, lansia
GAMBARAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT DAN STATUS GINGIVA PADA MAHASISWA DENGAN GIGI BERJEJAL Sasea, Altriany; Lampus, B. S.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1930

Abstract

Abstract: Dental crowding is a condition which the position of the teeth are outside the normal  tooth arrangement. This condition occasionally become problem for patient. Based from function, dental crowding is very hard to clean with tooth brush, it can accumulated plaque, which is one of the risk factor of bad oral hygiene, calculus and gingivitis. This study objectives was the find out overview of oral hygiene and gingival status of college student who had crowding teeth in Dentistry Courses Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. This is a descriptive study. Population study was all college student who had crowding teeth in Dentistry Courses Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. Samples were 40 person ad sampling method was total sampling. The results oral hygiene using Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) in the crowding of both jaws showed that the majority of 66.67% of the study have good oral hygiene and gingival status of research results by using the gingival index in both jaws partial crowding 65.22% of the study subjects had mild inflammation of gingival status. Keywords: Dental crowding, Oral hygiene, gingival status.    Abstrak: Gigi berjejal merupakan keadaan berjejalnya gigi di luar susunan gigi yang normal. Kondisi gigi berjejal terkadang menjadi masalah bagi penderitanya. Gigi berjejal sangat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan plak yang juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kalkulus dan gingivitis. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status kebersihan rongga mulut dan status gingiva pada mahasiswa dengan gigi berjejal di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa yang memiliki kondisi gigi berjejal di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Sampel berjumlah 40 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian kebersihan rongga mulut dengan menggunakan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) pada gigi berjejal kedua rahang menunjukkan bahwa sebagian besar 66,67% subjek penelitian memiliki kebersihan mulut baik dan hasil penelitian status gingiva dengan menggunakan indeks gingiva pada gigi berjejal kedua rahang sebagian besar 65,22% subjek penelitian memiliki status gingiva inflamasi ringan. Kata kunci: Gigi berjejal, status kebersihan rongga mulut, status gingiva.
GAMBARAN KECEMASAN TERHADAP PENAMBALAN GIGI PADA ANAK UMUR 6 – 12 TAHUN DI POLI GIGI DAN MULUT PUSKESMAS TUMINTING MANADO Wuisang, Melisa; Gunawan, Paulina; Kandou, Joyce
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.7663

Abstract

Abstract: Dental anxiety is the cause of psychological disorders such as depression, anxiety, and discomfort for dental care, especially in dental fillings. Dental anxiety in dental fillings is an obstacle that can lead to negative effects on patients, especially in pediatric patients. This study was conducted to obtain patients’ anxiety before dental fillings. This was a descriptive study with a total sampling method. Total sample of 50 pediatric patients aged 6-12 years consisted of 28 girls and 22 boys. Data were collected by using questionnaires Dental Anxiety Scale (DAS) before performing the dental fillings. The results showed that there were 17 girls (60.69%) and 6 males (27.27%) that experienced severe anxiety. Most severe anxiety was experienced by youngest aged children - the youngest age was 6 years.Keywords: children anxiety, dental fillingsAbstrak: Kecemasan dental adalah penyebab dari gejala gangguan psikologis seperti depresi, ketakutan, dan perasaan tidak nyaman terhadap perawatan gigi terutama dalam penambalan gigi. Kecemasan dental dalam penambalan gigi merupakan halangan yang dapat mengakibatkan efek negatif pada pasien terutama pada pasien anak. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran kecemasan pasien anak yang berusia 6-12 tahun sebelum melakukan proses penambalan gigi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode total sampling. Jumlah sampel 50 pasien anak berusia 6-12 tahun yang terdiri dari 28 anak perempuan dan 22 anak laki – laki. Data diambil menggunakan kuisioner Dental Anxiety Scale (DAS) sebelum dilakukan prosedur penambalan gigi. Hasil penelitian memperlihatkan pada kelompok anak perempuan yang mengalami cemas berat sebesar 17 sampel (60,69%) dan pada kelompok anak laki-laki sebesar 6 sampel (27,27%). Kecemasan berat paling banyak dialami oleh anak-anak yang umurnya paling muda yaitu 6 tahun dengan 6 sampel mengalami cemas berat dari total 8 sampel.Kata kunci: kecemasan anak, penambalan gigi
Uji kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam larutan cuka aren Sormin, Learny T.M.; Rumampuk, Jimmy F.; Wowor, Vonny N.S.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14771

Abstract

Abstract: Acrylic resin is a material used for denture base frequently used in field dentistry. One characteristic of an acrylic resin is its strength against pressure. Strength is needed in a denture withstand the force from chewing received by the denture. The strength of a denture base material can be affected by the user’s habit of eating acidic food and beverages. Palm vinegar is an acidic kitchen ingredient obtained from the fermentation of palm sap and is usually used in North Sulawesi’s snack called gohu which is widely consumed by the population. This study was aimed to determine the transverse strength of an acrylic resin plate after being soaked in a palm vinegar solution. This was a laboratory study with a post-test control group design. There were 24 samples distributed in one control group and three treament groups. The samples were immersed for 5 and 10 days in the palm vinegar solution. The transverse test used a Universal Testing Machine. The results showed that after 5 days, the average transverse strength of acrylic resin plate was 94 N/mm2 in the less acidic palm vinegar solution; 88.3 N/mm2 in the acidic solution; and 80 N/mm2 in the highly acidic solution. After 10 days the average transverse of acrylic resin plate was 89.3 N/mm2 in the less acidic palm vinegar solution; 87.7 N/mm2 in the acidic solution, 46,3 N/mm2 in the high acidic solution. Conclusions: The higher the concentration levels of palm vinegar in the solution, the lower the transverse strength of acrylic resin.Keywords: acrylic resin, palm vinegar solution, transverse strength  Abstrak: Resin akrilik merupakan bahan basis gigi tiruan yang sudah sering dipakai di bidang kedokteran gigi. Salah satu sifat resin akrilik ialah kuat terhadap tekanan. Kekuatan basis dibutuhkan antara lain untuk menahan kekuatan daya kunyah yang diterima oleh gigi tiruan. Kekuatan bahan basis gigi tiruan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna gigi tiruan dalam mengonsumsi makanan dan minuman bersifat asam. Cuka aren ialah salah satu bahan dapur yang bersifat asam yang didapat dari hasil fermentasi nira aren dan biasanya dipakai dalam jajanan tradisional khas Sulawesi Utara yakni gohu. Jajanan tersebut banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan transversal plat resin akrilik setelah direndam dalam larutan cuka aren. Jenis penelitian ialah laboratorik dengan post-test control group design. Sampel penelitian sebanyak 24 buah plat resin akrilik yang didistribusikan dalam 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Perendaman plat tersebut dilakukan selama 5 dan 10 hari. Uji kekuatan transversal dilakukan menggunakan alat Universal Testing Machine. Hasil penelitian mendapatkan setelah 5 hari perendaman dalam larutan cuka aren kurang asam rerata kekuatan transversal plat resin akrilik sebesar 94 N/mm2; sebesar 88,3 N/mm2 dalam larutan asam; dan sebesar 80 N/mm2 dalam larutan sangat asam. Setelah 10 hari perendaman dalam larutan cuka aren kurang asam rerata kekuatan transversal plat resin akrilik sebesar 89,3 N/mm2 sebesar 87,7 N/mm2 dalam larutan asam dan sebesar 46,3 N/mm2 dalam larutan sangat asam. Simpulan: Semakin tinggi kadar konsentrasi keasaman larutan cuka aren, semakin rendah kekuatan transversal resin akrilik.Kata kunci: resin akrilik, larutan cuka aren, kekuatan transversal
Identifikasi Faktor Penghambat Seseorang Menggunakan Gigi Tiruan Situni, Jessica L.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3212

Abstract

Karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyebab utama kehilangan gigi. Sumber dari kedua penyakit tersebut akibat terabaikannya kebersihan gigi dan mulut sehingga terjadi akumulasi plak. Kehilangan gigi yang tidak diganti dengan gigi tiruan dapat berdampak pada fisik maupun psikis seseorang, namun pada umumnya masyarakat tidak mengganti gigi yang hilang dengan gigi tiruan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor penghambat seseorang menggunakan gigi tiruan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan di kelurahan Maasing kecamatan Tuminting. Besar sampel 108 orang, ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposif. Hasil penelitian menunjukkan faktor ekonomi memiliki persentase tertinggi sebagai faktor penghambat seseorang menggunakan gigi tiruan, yaitu sebanyak 76 responden (70,37%), faktor pengetahuan sebanyak 48 responden (44,44%), faktor waktu sebanyak 33 responden (30,56%), faktor jarak sebanyak 21 responden (19,44%), faktor pengalaman sebanyak 20 responden (18,52%), faktor sumber daya manusia sebanyak 19 responden (17,59%), faktor sarana pelayanan kesehatan sebanyak 16 responden (14,81%) dan yang terendah yaitu alasan lainnya sebanyak 4 responden (3,7%). Faktor ekonomi, pengetahuan dan waktu merupakan 3 faktor terbesar yang paling menghambat masyarakat sehingga tidak menggunakan gigi tiruan.Kata kunci : faktor penghambat, kehilangan gigi, penggunaan gigi tiruanABSTRACTDental caries and periodontal disease are some of the main causes of tooth loss. These two conditions are caused by a built-up of plak due to poor dental hygiene practice. Tooth loss may affect someone physically and mentally if the loss tooth is not replaced by denture. However it is uncommon for people to replace their loss tooth with denture. The purpose of this research is to find out which factor reduce the chance of someone from getting denture. This research is a descriptive study conducted at Maasing in Tuminting. The samples are 108 respondents, by using the Slovin formula. The technique using purposive sampling method. Below are the factors which are listed in the survey: Economic 76 respondent (70.37%), Education 48 respondent (44.44%), Time 33 respondent (30.56%), Distance 21 respondent (19.44%), Experience 20 respondent (18.52%), Human Resource 19 respondent (17.59%), Quality of Healthcare 16 respondent (14.81%), Others 4 respondent (3.7%). Economic, knowledge and time factors are the 3 largest so that people do not use denture.Keywords: inhibiting factors, tooth loss, use of dentures
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN EKSTRAKSI GIGI SEBELUM DAN SESUDAH MENGHIRUP AROMATERAPI LAVENDER ., Merinchiana; Opod, Hendri; Maryono, Jimmy
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9633

Abstract

Abstract: Anxiety due tooth extraction can causes obstacles for the operators and it delivers several problems. To overcome this anxiety, a consideration treatment is required, to settle anxiety experienced by patients. One of the solutions is to inhale lavender aromatherapy. Essensial oil of lavender can affect the brain activity through nerve system related to sense of smell and it connects with psychology condition such as emotional. This study aimed to describe the anxiety of patients with tooth extraction before and after inhaling lavender aromatherapy. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 30 respondents who are going to be undergone tooth extraction. Physical evaluation such as blood pressure, pulse, and respiration, and Visual analogue scale (VAS) for measureing anxiety were used. The results showed that patients had lower blood pressure, pulse, respiration as well as VAS after they inhaled lavender aromatherapy. Conclusion: Patients who were going to undergo tooth extraction had declined anxiety after inhalation of Lavender aromatherapy.Keywords: tooth extraction, anxiety, visual analogue scale, lavender aromatherapyAbstrak: Kecemasan karena ekstraksi gigi dapat menjadi penghambat bagi operator dan menimbulkan banyak masalah. Untuk mengatasi masalah kecemasan diperlukan pertimbangan perawatan yang dapat menanggulangi kecemasan yang dialami pasien salah satu diantaranya dengan menghirup aromaterapi lavender. Minyak esensial lavender dapat memengaruhi aktivitas fungsi kerja otak melalui saraf yang berhubungan dengan indera penciuman dan berkaitan dengan kondisi psikologis seperti emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan pasien ekstraksi gigi sebelum dan sesudah menghirup aromaterapi lavender. Jenis penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang dilakukan pada 30 responden yang akan menjalani prosedur ekstraksi gigi dengan menggunakan evalusi fisik berupa tekanan darah, nadi, dan respirasi, serta visual analogue scale (VAS) untuk mengukur kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah, nadi, dan respirasi serta VAS pasien yang cemas mengalami penurunan setelah menghirup aromaterapi lavender. Simpulan: Kecemasan pasien ekstraksi gigi mengalami penurunan setelah menghirup aromaterapi lavender.Kata kunci: ekstraksi gigi, kecemasan, visual analogue scale, aromaterapi lavender
Hubungan antara Status Gizi dengan Gingivitis pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Hanifah, Fenti; Kawengian, Shirley E.S.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19652

Abstract

Abstract: Gingivitis is an inflammation process of gingiva caused by accumulation of biofilm on plaques around the margin of gingiva as well as an inflammation response against bacteria. Nutritional status is affected by macro and micronutrient intake. Poor nutritional status can cause abnormality of function and structure of oral soft tissue resulting in increased plaque forming which leads to the occurence of gingivitis. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and the occurence of gingivitis. This was an analytical study using a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. There were 77 students as samples. The nutritional status was measured by using body mass index (BMI), and examination of oral cavity was performed to check the occurence of gingivitis. The result showed that 46.8% of students had gingivitis. The nutritional status of the students based on IMT were as follows: 19.5% were categorized as underweight, 65% as normal weight, 9% as overweight, and 6.5% as obese. The bivariate analysis using the Chi-square test showed a P value of 0.000 (<0.05). Conclusion: There was a significant relationship between the nutritional status and gingivitis in students of Dentistry Program, Sam Ratulangi University.Keywords: nutritional status, gingivitis Abstrak: Gingivitis merupakan reaksi inflamasi dari gingiva yang disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak di sekitar margin gingiva dan respon peradangan terhadap bakteri. Status gizi dipengaruhi oleh asupan gizi makronutrien dan mikronutrien yang seimbang. Gizi kurang dapat menyebabkan gangguan fungsi dan struktur jaringan lunak mulut sehingga pembentukan plak meningkat yang menjadi penyebab awal gingivitis. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan gingivitis. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total populasi sebanyak 77 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Status gizi diukur menggunakan rumus perhitungan IMT dan pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat ada tidaknya gingivitis. Hasil penelitian menunjukkan 46,8% mahasiswa mengalami gingivitis. Penentuan status gizi berdasarkan IMT mendapatkan sampel kategori kurus (19,5%), normal (65%), berat badan lebih (9%), dan obesitas (6,5%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukkan nilai P = 0,000 (0,000 <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan gingivitis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: status gizi, gingivitis
GAMBARAN PEMELIHARAAN KEBERSIHAN GTL AKRILIK PADA MASYARAKAT KELUHARAN BATU PUTIH BAWAH Mapanawang, Britzman Nikanor
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4684

Abstract

Abstract: Removable acrylic denture is a prosthesis that replaces the natural teeth that is useful to fill the empty space and restore jaw occlusion, phonetics and retain the remaining oral tissues to stay healthy, and can be removed by the patient. This study aimed to describe the maintenance of the removable denture hygiene in communities with 1611 inhabitants in Batu Putih Bawah. This was a descriptive study with 60 samples obtained by using total sampling method. The results showed that there were 19 respondents (31.6%) had dirty dentures, while 21 respondents (35%) had very dirty dentures. About 66.6% of respondents had poor denture hygiene. There were 73.3% respondents that had never received verbal instructions, and 95% respondents had never received written instruction about hygiene maintenance after installation. Based on the frequency of cleaning, 95% respondents mentioned that they cleaned their dentures every day, and as much as 65% respondents cleaned theirs twice a day. Based on the times of cleaning, 38.3% respondents cleaned their dentures in the morning and in the afternoon while they took baths and 6.7% before sleeping at night. All respondents cleaned their dentures with toothpaste or soap. Conclusion: Based on the clinical condition, most of the respondents in Batu Putih Bawah had dirty removable acrylic dentures. Keywords: maintenance of denture hygiene, removable acrylic denture     Abstrak: GTL akrilik adalah alat bantu yang menggantikan gigi asli yang berguna untuk mengisi daerah rahang yang kosong, mengembalikan oklusi dan fonetik, mempertahankan jaringan mulut yang masih ada agar tetap sehat, serta dapat dilepas oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemeliharaan kebersihan GTL akrilik pada masyarakat kelurahan Batu Putih Bawah dengan populasi 1611 jiwa. Penelitian bersifat deskriptif dan pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Sampel berjumlah 60 responden. Instrumen penelitian yang digunakan yakni kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 responden (31,6%) memiliki gigi tiruan kotor dan 21 responden (35%) dengan gigi tiruan sangat kotor. Jadi sekitar 66,6% responden memiliki kebersihan gigi tiruan yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan 73,3% responden pengguna GTL akrilik tidak pernah menerima instruksi secara lisan, dan 95%  responden tidak pernah menerima instruksi dalam bentuk tulisan tentang cara pemeliharaan kebersihan pasca pemasangan. Berdasarkan frekuensi pembersihan 95% responden mengaku membersihkan GTL akrilik setiap hari, dan 65% membersihkan GTL akrilik dua kali sehari. Pemeliharaan kebersihan berdasarkan waktu menunjukkan 38,3% responden membersihkan GTL akrilik sewaktu mandi pagi dan sore hari dan 6,7% sewaktu sebelum tidur. Berdasarkan cara pembersihan semua responden (100%) menjawab bahwa mereka membersihkan GTL akrilik menggunakan pasta gigi atau sabun. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian diperoleh umumnya responden di Batu Putih Bawah mempunyai kondisi klinis GTL akrilik yang kotor. Kata kunci: pemeliharaan kebersihan, GTL akrilik

Page 8 of 61 | Total Record : 602