cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 602 Documents
GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D KANDOU MANADO Tambunan, Ezra G. R.; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10399

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases with characteristic hyperglycemia that occurs due to insulin secretion, insulin action or both. This disease affects many societies and continuously growing in Indonesia. Periodontal disease is an oral health problem which has a relatively high prevalence in the community where periodontal disease in all age groups in Indonesia.The purpose of this study was to determine the periodontal disease in patients with diabetesmellitus in RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. This descriptive study has 68 sample taken with total sampling technique. The sample is examined using evaluation criteria gingival index and CPITN index. The result show that subjects with periodontitis with a score of 4 is the highest as many as 18 people (44%) and subject with a score of 2 is that at least as many as 8 people (19.5%). And subjects with bad gingivitis is the highest as many as 10 people (52.6%) and subject with the good gingivitis is the at least as many as 5 people (26.3%). Based on the result of this study, periodontal disease in patients with diabetes mellitus in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou most that periodontitis with the number of 41 people (68.3%) compared to gingivitis which is just as many as 19 people (31.7%)Keywords: diabetes mellitus, periodontitis, gingivitis, periodontalAbstrak:Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penyakit ini merupakan penyakit yang banyak diderita kalangan masyarakat dan terus berkembang di Indonesia. Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dimana penyakit periodontal pada semua kelompok umur di Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyakit periodontal pada penderita diabetes mellitus di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 60 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian indeks gingiva dan indeks CPITN. Hasil menunjukkan bahwa yang mengalami periodontitis dengan skor 4 adalah yang paling tinggi yaitu sebanyak 18 orang (44%), dan subjek yang mengalami skor 2 adalah yang yang paling sedikit yaitu sebanyak 8 orang (19.5%). Sedangkan yang mengalami gingivitis yang paling tinggi yaitu gingivitis buruk sebanyak 10 orang (52.6%) dan yang paling sedikit adalah yang mengalami gingivitis ringan yaitu sebanyak 5 orang (26.3%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit periodontal yang paling banyak ditemui pada penderita diabetes melitus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado adalah penyakit periodontitis yaitu sebanyak 41 orang (68.3%) dan yang paling sedikit adalah gingivitis yaitu sebanyak 19 orang (31.7%)Kata kunci: diabetes melitus, periodontitis, gingivitis, periodontal
Efektivitas Penggunaan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan terhadap Fungsi Pengunyahan pada Masyarakat Desa Pinasungkulan Kecamatan Modoinding Mangundap, Gledis C. M.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.24161

Abstract

Abstract: Removable partial denture is indicated to patients who lose some of their original teeth. The use of denture plays an important role in the recovery of masticatory system lost or disturbed due to tooth loss. This study was aimed to obtain the effectiveness of the use of removable partial dentures on the function of mastication. This was a quasi experimental study with one group pre and post test design. Population consisted of the community using removable dentures at Desa Pinasungkulan Modoinding, based on the prevalence of 879 denture users. There were 16 denture users as samples obtained by using purposive sampling method. We used questionnaire that had been tested for validity and reliability and the Wilcoxon test for data analysis. The results showed that the score of the effectiveness of mastication without using dentures was 207, categorized as 'less effective', meanwhile, the score of with using denture was 293, categorized as 'effective'. The Wilcoxon test resulted in a p-value of 0.004 which meant that there was a difference in masticatory function between using denture and without using denture. In conclusion, the use of removable partial denture was effective on the masticatory function of the community at Desa Pinasungkulan, Modoinding.Keywords: partial removable denture, effectiveness of mastication Abstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) diindikasikan pada pasien yang kehilangan sebagian gigi aslinya. Penggunaan gigi tiruan berperan penting dalam pemulihan sistem pengunyahan yang hilang atau terganggu akibat kehilangan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan GTSL terhadap fungsi pengunyahan. Jenis penelitian ialah quasi eksperimental dengan one group pre and post test design. Populasi penelitian yakni masyarakat pengguna GTSL di Desa Pinasungkulan Kecamatan Modoinding yang dihitung berdasarkan prevalensi pengguna gigi tiruan sebanyak 879, dengan besar sampel 16 pengguna GTSL diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Analisis hasil penelitian menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil penelitian mendapatkan skor pengukuran efektivitas pengunyahan tanpa memakai GTSL sebesar 207 (kategori ‘kurang efektif’) sedangkan setelah pemakaian GTSL perolehan skor sebesar 293 (kategori ’efektif’). Hasil uji Wilcoxon mendapatkan nilai p=0,004, yang berarti terdapat perbedaan fungsi pengunyahan tanpa menggunakan GTSL dan setelah menggunakan GTSL. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan GTSL efektif terhadap fungsi pengunyahan pada masyarakat Desa Pinasungkulan Kecamatan ModoindingKata kunci: gigi tiruan sebagian lepasan, efektivitas pengunyahan
PERILAKU MEMELIHARA KEBERSIHAN GIGI TIRUAN LEPASAN BERBASIS AKRILIK PADA MASYARAKAT DESA TREMAN KECAMATAN KAUDITAN Bagaray, David Adimulya; Mariat, Ni Wayan; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.6335

Abstract

Abstract: Behavioral to maintain denture hygiene is an important factor in the success of denture care because they have a close relationship with the knowledge, attitudes, and actions of the user. A poormaintenance denture hygiene could cause problems for oral health such as caries, gingivitis, stomatitis, xerostomia, candidiasis and periodontal disease, especially in the removable denture based acrylic user with the low level of education and income.This study aims to determine the behavior of maintaining the hygiene of removable denture based acrylic on population at Treman village Kauditan district.This research was a descriptive study with cross sectional approach. The population in this study was that the Treman villagers that uses removable denture based acrylic a total of 75 people. This study used total population as research subjects and measured using a questionnaire.In maintaining hygiene of removable denture based acrylic, Treman villagers have knowledge which was classified in sufficient category with a score of 103, an attitude which was classified in good category with a score of 130, and act was classified in sufficient category with a score of 109.Behavior to maintain hygiene of removable denture based acrylic on population at Treman village Kauditan district was classified in sufficient category.Keywords: Behavior, denture user, removable denture based acrylic.Abstrak: Perilaku memelihara kebersihan gigi tiruan merupakan faktor penting dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan karena mempunyai hubungan erat dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan pengguna gigi tiruan.Pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang kurang baik dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut seperti karies, gingivitis, stomatitis, xerostomia, kandidiasis, dan penyakit periodontal, terutama pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku memelihara kebersihan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik pada masyrarakat desa Treman kecamatan Kauditan.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study.Populasi pada penelitian ini ialah seluruh masyarakat desa Treman yang menggunakan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang berjumlah 75 orang. Penelitian ini menggunakan total populasi sebagai subjek penelitian dan diukur menggunakan kuesioner.Dalam memelihara kebersihan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik, masyarakat desa Treman memiliki pengetahuan yang tergolong dalam kategori cukup dengan skor 103, sikap yang tergolong dalam kategori baik dengan skor 130, dan tindakan yang tergolong dalam kategori cukup dengan skor 109.Perilaku memelihara kebersihan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik pada masyarakat desa Treman kecamatan Kauditan tergolong dalam kategori cukup.Kata kunci: Perilaku, pengguna gigi tiruan, gigi tiruan lepasan berbasis akrilik.
Perbandingan efektivitas pemberian asam mefenamat dan natrium diklofenak sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi Pangalila, Kartika; Wowor, Pemsi M.; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13650

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of a minor operative surgery in dentistry that could cause uncomfortable sense of pain at its surrounding area. In order to reduce that feeling, some pain management could be performed, such as local anesthetic administration or analgesic medication. This study aimed to compare the effectiveness of mefenamic acid and diclofenac sodium given before the extraction procedure against the pain threshold duration after tooth extraction. This was a clinical study with a case-control design and was carried out in July 11th – August 12th 2016 at Department of Oral Surgery RSGM FK Unsrat. There were 30 samples obtained by using the purposive sampling method, divided into three groups, each of 10 samples, as follows: the control group without any analgesic treatment; the treated group with mefenamic acid; and another treated group with diclofenac sodium before the extraction. The results showed that the control group had a lower average of pain threshold duration than the treated groups with a difference of 2 hours and 42 minutes. The group treated with mefenamic acid before the extraction had the highest average of pain threshold duration compared to the group of diclofenac sodium with 4 hours and 11 minutes vs. 3 hours and 49 minutes. Conclusion: Mefenamic acid given before the tooth extraction procedure had greater effect and higher pain threshold duration than diclofenac sodium.Keywords: tooth extraction, mefenamic acid, diclofenac sodium, pain threshold duration.Abstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan dalam bidang kedokteran gigi yang dapat menimbulkan rasa nyeri akibat adanya trauma pada soket gigi yang dicabut. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien maka diberikan tindakan manajemen nyeri berupa anestesi lokal dan pemberian analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas pemberian asam mefenamat dan natrium diklofenak sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian klinis dengan rancangan case-control study. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi dengan total sampel 30 pasien: 10 pasien dalam kelompok kontrol tanpa perlakuan; 10 pasien dalam kelompok uji dengan asam mefenamat; dan 10 pasien dalam kelompok uji dengan natrium diklofenak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unsrat. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 sampel, 10 sampel yang tidak mengonsumsi analgesik apapun sebelum pencabutan memiliki rata-rata durasi ambang nyeri lebih rendah dibandingkan dengan sampel-sampel lain yang mengonsumsi analgesik sebelum pencabutan dengan selisih 2 jam 42 menit. Pasien dengan rata-rata durasi ambang nyeri terbesar ialah yang diberikan asam mefenamat yaitu 4 jam 11 menit dan yang diberikan natrium diklofenak memiliki rata-rata durasi ambang nyeri sebesar 3 jam 49 menit dengan selisih 22 menit. Simpulan: Pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi memiliki efektivitas dan rata-rata durasi ambang nyeri yang lebih tinggi dibandingkan pemberian natrium diklofenak dengan selisih durasi ambang nyeri 2 jam 42 menit jika dibandingkan dengan kelompok tanpa pemberian analgesik.Kata kunci: pencabutan gigi, asam mefenamat, natrium diklofenak, durasi ambang nyeri
GAMBARAN RONGGA MULUT PADA LANSIA PEMAKAI GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI PANTI WERDA KABUPATEN Watuna, Fransisca F.; Wowor, Mona P.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6562

Abstract

Abstract: Removable partial dentures can be an alternative treatment for tooth loss in the elderly. Users of removable partial dentures without good treatment can cause a variety of changes to the conditions of hard tissue and soft tissues of the oral cavity which is the first driveway for human digestive system. In addition, the use of removable partial dentures in the elderly are particularly susceptible to the occurrence of disorders of the oral cavity. The purpose of this study is to provide a picture of the oral cavity in elderly users of removable partial dentures in elderly nursing home in Minahasa. This is a descriptive cross sectional study. This study used a total sampling method, with respondents is a 30 elderly users of removable partial dentures in elderly nursing home in Minahasa. The results showed that the presence of ulcers as a result of artificial teeth in the upper jaw 66.67%, ulcers due to artificial teeth on the lower jaw 50%, 30% gingival redness, swelling of the gingiva 30%, 36.67% gingival bleeding, gingival recession at 46, 67%, 50% Denture stomatitis, angular celulitis 46.67%, Plaque 43.33%, 56.66% calculus, caries 93.33%. The research shows elderly users of removable partial dentures in elderly nursing home in Minahasa have a conditions change for hard and soft tissues of the oral cavity. Suggested the elderly to pay more attention to health and hygiene denture for more vigorous control the state of the denture and the state of the oral cavity in dentistry.Keywords: oral cavity condition, elderly, dental removable partial denturesAbstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan dapat menjadi salah satu alternatif perawatan terhadap kehilangan gigi pada lansia. Pengguna gigi tiruan sebagian lepasan tanpa perawatan yang baik dapat menyebabkan berbagai perubahan terhadap kondisi jaringan keras dan jaringan lunak pada rongga mulut yang merupakan jalan masuk pertama sistem pencernaan manusia. Disamping itu, pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan pada lansia sangat rentan terhadap kejadian kelainan ? kelainan pada rongga mulut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan gambaran keadaan rongga mulut pada lansia pemakai gigi tiruan sebagian lepasan di panti werda Kabupaten Minahasa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross sectional. Penelitian ini menggunakan metode total sampling, dengan responden sebanyak 30 orang lansia pemakai gigi tiruan sebagian lepasan yang ada di panti werdha Kabupaten Minahasa. hasil penelitian menunjukan bahwa adanya Ulser akibat gigi tiruan pada rahang atas 66,67%, Ulser akibat gigi tiruan pada rahang bawah 50%, Kemerahan gingiva 30%, pembengkakan gingiva 30%, pendarahan pada gingiva 36,67%, Resesi pada gingiva 46,67%, Denture stomatitis 50%, angular celulitis 46,67%, Plak 43,33%, Kalkulus 56,66%, karies 93.33%, Kegoyangan 23,33%. Hasil penelitian menunjukan lansia pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di panti werda Kabupaten Minahasa mengalami perubahan kondisi jaringan keras dan jaringan lunak pada rongga mulut. Disarankan para lansia untuk lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan gigi tiruan untuk lebih giat mengontrol keadaan gigi tiruan dan keadaan rongga mulut di dokter gigi.Kata Kunci: kondisi rongga mulut, lansia, gigi tiruan sebagian lepasan
Uji efektivitas ekstrak daun sendok (Plantago major L.) terhadap waktu perdarahan pada tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus) Kainde, Abedneju R.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Hutagalung, Bernart S.P.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14221

Abstract

Abstract: Herbal plant is often used to treat any kind of disease. There are many kinds of plants in Minahasa used as traditional medicine, inter alia daun sendok (Plantago major L.). Daun sendok is often used to treat bleeding. This study was aimed to obtain the effectiveness of daun sendok extract on bleeding time in male Wistar rats. This was a true experimental study with a posttest only group design. This study was conducted at the Laboratory of Pharmacology Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi. Total samples were 14 rats divided into 2 groups: control group and treatment group. Wounds of 2 mm depth were perfomed on the rat tails of the treatment group followed by application of daun sendok extract. The results showed that the average bleeding time of the control group was 51.87 seconds meanwhile of the treatment group was 29.67 seconds. The unpaired t-test between the two groups showed a p value of 0.000. Conclusion: Daun sendok (Plantago major L.) extract could reduce the bleeding time in male Wistar rats. Keywords: bleeding time, daun sendok, Wistar rat Abstrak: Tanaman obat seringkali digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit. Di wilayah Minahasa terdapat banyak jenis tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya ialah daun sendok (Plantago major L.) yang seringkali digunakan untuk mengobati perdarahan. Penelitian ini berrtujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun sendok terhadap waktu perdarahan tikus Wistar jantan. Jenis penelitian ialah true experimental dengan post test only control group design yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unsrat dengan total sampel berjumlah 14 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: kelompok kontrol dan kelompok perlakuan menggunakan ekstrak daun sendok. Pada kelompok uji diaplikasikan ekstrak daun sendok setelah dilakukan perlukaan di bagian ekor tikus sedalam 2 mm. Hasil penelitian memperlihatkan rerata waktu perdarahan pada kelompok kontrol ialah 51,87 detik sedangkan pada kelompok perlakuan 29,67 detik. hasil uji t tidak berpasangan antara kedua kelompok mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan: Ekstrak daun sendok (Plantago major L.) efektif dalam memperpendek waktu perdarahan pada tikus Wistar.Kata kunci: waktu perdarahan, daun sendok, tikus Wistar
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN USIA DEWASA PRA TINDAKAN PENCABUTAN GIGI DI BALAI PRNGOBATAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT MANADO. Mawa, Melissa A. C.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3149

Abstract

Kecemasan adalah hal yang wajar dialami semua orang yang dapat memberi pengaruh besar dalam perubahan perilaku. Rasa cemas merupakan respon normal terhadap peristiwa yang dianggap mengancam. Rasa cemas saat perawatan gigi telah menempati urutan ke-5 dalam situasi yang dianggap menakutkan. Fokus permasalahan adalah tingkat kecemasan pasien usia dewasa pratindakan pencabutan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pra pencabutan gigi berdasarkan usia, jenis kelamin, pernah atau tidak pernah mencabut gigi, pra tindakan anestesi dan pasca tindakan anestesi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan pada tanggal 22 Juli sampai 9 Agustus 2013. Populasi dan sampel adalah pasien yang melakukan pencabutan gigi dengan usia 18-65 tahun dan bersedia menjadi responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner Dental Fear Survey yang dimodifikasi menjadi 10 pertanyaan kemudian diberikan sebelum dan sesudah pasien dianestesi. Penilaian total skor tingkat kecemasan terbagi menjadi 3 kelompok yaitu rendah, sedang, tinggi. Hasil wawancara secara langsung yang diperoleh dari 47 pasien sebanyak 31 pasien merasa tidak cemas sebelum tindakan pencabutan gigi. Kesimpulannya pasien usia dewasa muda dan pasien yang tidak pernah menjalani tindakan pencabutan gigi memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi, tingkat kecemasan pasien dewasa pra tindakan pencabutan pra anestesi adalah rendah dan tingkat kecemasan pasca anestesi adalah tinggi.Kata kunci : Tingkat Kecemasan, Pencabutan gigi, Dewasa.ABSTRACTAnxiety is common thing can happen to every body which can give big influence in behavior change. Dental anxiety has been ranked fifth among commonly feared situation. The focus of the problem is anxiety level in adult patients pre tooth extraction. The goals of this study are to know the dental anxiety level based on age, sex, have or haven?t got tooth extraction, before anesthesia and after anesthesia This research used descriptive method done on 22 July until 9 August 2013. Populations and samples are patients undergo tooth extraction age between 18-65 and willing to be respondent. Data collected through Dental Fear Survey questionnaires that had been modified into 10 questions given to patients before and after anesthesia. Total score assessment of dental anxiety level have been divided into 3 groups which are low, moderate and high.The direct interview research resulted that among 47 patients there are 31 patients were not anxious pre tooth extraction. The conclusion was Young adults and patient who never went through tooth extraction have higher anxiety level, adult patients pre tooth extraction showed low level of anxiety before anesthesia and higher level of anxiety after anesthesia. Keywords: Level of Anxiety, Tooth Extraction, Adult.
UJI EFEKTIVITAS JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava) TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA PADA PENDERITA XEROSTOMIA YANG MENGONSUMSI TELMISARTAN Waworuntu, Jemima L.; Wuisan, Jane; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9602

Abstract

Abstract: A study done by National Center for Biotechnologi Information (NCBI) to the user of antihypertension drugs, 50% of the individuals are suffering xerosomia or dry mouth. The reduction of saliva because of xerostomia may increase the risk of tooth damage. Vitamin C contained in red guava (Psidium Guajava) is expected to induce salivary flow rate in Xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.The purpose of this study is to acknowledge the effect of red guava in increasing salivary flow rate in Xerosotmia patients who consume antihypertensive Telmisartan. This is a clinical trial study with nonequivalent control group experimental design. Each group has 15 samples from the population of hypertensive patients who consume antihypertensive Telmisartan and are suffering Xerostomia in Pancaran Kasih Hospital and Prof. Dr. RD. Kandou Hospital. The treatment group is given red guava fruit that is already served as pure juice while the control group is only given mineral water. Saliva is collected twice, that is before treatment and after treatment. Saliva is collected by spitting method and the salivary flow rate is measured by using disposable syringe with the measurement of ml/minute.The result of this study shows that the average of salivary flow rate before of control group is 0.23 ml/minute and the average of salivary flow rate after is 0.28 ml/minute. While the average of salivary flow rate before treatmen in treatment group is 0.24 ml/minute and the average of salivary flow rate after treatment is 0.83 ml/minute. It can be concluded that red guava has been proved to be effectively increase salivary flowrate of xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.Keywords: xerostomia, red guava, salivary flow rateAbstrak: Sebuah studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI) yang melakukan penelitian terhadap pengguna obat antihipertensi, sebanyak 50% menderita Xerostomia atau mulut kering. Laju aliran saliva yang menurun akibat Xerostomia dapat menyebabkan meningkatnya resiko kerusakan gigi. Kandungan vitamin C pada buah jambu biji merah (Psidium guajava) diharapkan dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita xerostomia yang mengonsumsi obat antihipertensi golongan Telmisartan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek jambu biji merah dalam meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan. Penelitian ini adalah penelitian uji klinis dengan rancangan eksperimental nonequivalent control group design. Setiap kelompok beranggotakan 15 orang dari populasi pasien pengguna obat antihipertensi golongan Telmisartan yang menderita Xerostomia di RSU Pancaran Kasih dan RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Malalayang. Kelompok perlakuan mengonsumsi buah jambu biji merah yang disajikan dalam bentuk jus murni sedangkan kelompok kontrol hanya mengonsumsi air mineral. Saliva dikumpulkan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah mengonsumsi buah jambu biji merah. Saliva dikumpulkan dengan metode spitting dan laju aliran saliva diukur menggunakan disposable syringe dengan satuan ml/ menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata laju aliran saliva awal pada kelompok kontrol yaitu 0,23 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok kontrol yaitu 0,28 ml/menit. Sedangkan rerata laju aliran saliva awal pada kelompok perlakuan yaitu 0,24 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok perlakuan yaitu 0,83 ml/menit. Dapat disimpulkan bahwa buah jambu biji merah dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan.Kata kunci: xerostomia, jambu biji merah, laju aliran saliva.
mbaran Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengguna Alat Ortodontik Cekat di SMA Negeri 7 Manado Mararu, Wahyu P.; Zuliari, Kustina; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17128

Abstract

Abstract: Oral and dental health is a part of the body health that can not be separated from each other because it can affect the whole body. Fixed orthodontic appliance has a more complex design that makes it more difficult to be cleaned compared to the removable orthodontic appliance. Therefore, people who use fixed orthodontic appliance are more difficult to maintain their oral hygiene. This study was aimed to obtain the oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado (senior high school) that used fixed orthodontic appliance. This was a descriptive study with a cross-sectional design. This study was conducted at SMA Negeri 7 Manado with a total of 43 respondents obtained by using total sampling method. The results showed that the mean OHI-S of the respondents was 1.73 classified as moderate category. Conclusion: Oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado that used fixed orthodontic appliance was categorized as moderate.Keywords: OHI-S, fixed orthondontics appliance, high school students Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Alat ortodontik cekat memiliki desain yang lebih sulit untuk dibersihkan dibandingkan dengan alat ortodontik lepasan, sehingga pasien pengguna ortodontik cekat lebih sulit untuk memelihara kebersihan mulut selama perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada siswa SMA Negeri 7 Manado yang menggunakan alat ortodontik cekat. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMA Negeri 7 Manado dengan reponden sebanyak 43 siswa diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata indeks OHI-S dari 43 responden yang menggunakan alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado sebesar 1,73 yang berada dalam kategori sedang. Simpulan: Status kebersihan gigi dan mulut siswa/i pengguna alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado tergolong pada kriteria sedang.Kata kunci: OHI-S, ortondotik cekat, siswa SMA
GAMBARAN STATUS KARIES GIGI ANAK USIA 11-12 TAHUN PADA KELUARGA PEMEGANG JAMKESMAS DI KELURAHAN TUMATANGTANG I KECAMATAN TOMOHON SELATAN Wala, Hansen Ch.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4013

Abstract

Abstract: Dental caries is one of the gum diseases which is commonly found in the community (adults and children). The infection process is progressive and accumulated on dental hard tissues characterized by tissue damage which begins from the tooth surface and extends into the pulp. This study aimed to describe the caries status in children aged 11 to 12 years old that belonged to the members of Jamkesmas in Tumatangtang 1 village, Tomohon Selatan. As subjects, there were 54 childrens aged 11 to 12 years old obtained by using total sampling method. This was a descriptive observational study. Measurement of dental caries status was conducted by using an index score of caries. Caries index is a number that indicates the number of dental caries in a person or group of people. The measurement includes the number of decayed teeth (Decay), number of extracted teeth due to caries (Missing) and the number of patched teeth (Filling). DMF - T Index is the simplest and most commonly used in epidemiological surveys of dental caries. The results showed that from the DMF ? T index of all samples, the total index D (Decay) 159, M (Missing) 45, and F (Filling) 0. Based on WHO criteria, the average 3.8 belonged to the category of fair caries status. The average of DMF-T index of boys was categorized as fair caries status, meanwhile of girls was categorized as high caries status. Conclusion: Caries status of children aged 11-12 years old that belonged to the members of Jamkesmas in Tumatangtang 1 village, Tomohon Selatan was categorized as fair status.Keywords: caries status, children, DMF-T indexAbstrak: Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan di masyarakat baik dewasa maupun anak. Infeksi yang terjadi bersifat progresif dan terakumulasi pada jaringan keras gigi yang ditandai kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi hingga meluas ke arah pulpa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi anak berusia 11-12 tahun pada keluarga pemegang Jamkesmas di kelurahan Tumatangtang I kecamatanTomohon Selatan. Subjek penelitian sebanyak 54 anak yang diperoleh dengan metode total sampling. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional. Pengukuran status karies gigi dari 54 anak ini dilakukan dengan menggunakan skor indeks karies yaitu angka yang menunjukkan jumlah gigi karies seseorang atau sekelompok orang. Pengukurannya meliputi jumlah gigi yang rusak (Decay), jumlah gigi yang telah dicabut karena karies (Missing), dan jumlah gigi yang ditambal (Filling). Indeks DMF-T merupakan indeks yang paling sederhana dan paling umum digunakan dalam survei epidemiologi karies gigi. Hasil penelitian memperlihatkan dari pemeriksaan DMF-T pada 54 anak didapatkan total indeks D (Decay) berjumlah 159, M (Missing) berjumlah 45, dan F (Filling) tidak ada, dengan indeks DMF-T rata-rata 3,8 (kategoristatus karies sedang berdasarkan kriteria WHO). Indeks DMF-T rata-rata pada anak laki-laki tergolong kategori status karies sedang, sedangkan pada anak perempuan tergolong kategori status karies tinggi. Simpulan: Status karies anak umur 11-12 tahun pada keluarga pemegang Jamkesmas di Kelurahan Tumatangtang 1 Kecamatan Tomohon Selatan berada pada kategori status karies sedang.Kata kunci: status karies, anak, indeks DMF-T

Page 9 of 61 | Total Record : 602