cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva Rawung, Feiby; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16538

Abstract

Abstract: Mouthwash is one of the accessible oral healthcare and practical for use by the community. Various commercial products contain more than one active ingredient; the most common one is alcohol with varied concentrations from 6% to 26%. Mouthwash with high concentration of alcohol can cause some effects to some users, like burning and dry sensation of the oral mucosa. Dry oral mucosa caused by reduced saliva production will be more susceptible to irritation. Reduced amount of saliva also causes lower oral pH which leads to increased growth of cariogenic bacteria. This study was aimed to investigate the influence of alcoholic mouthwash to salivary flow and salivary pH. This was a quasi-experiment study with before and after treatment groups. The population study was students of Dental Medical Education Program of Medical Faculty of University of Sam Ratulangi, Manado, batch 2012, with a total of 30 respondents obtained by using purposive sampling method. The T test showed that salivary flow rate before and after treatment had no significant difference (p >0.05) based on T test. Moreover, the Wilcoxon test showed that there was no significant difference of salivary pH between before and after treatment (p >0.05). Conclusion: There was no effect of rinsing with alcoholic mouthwash on salivary flow and salivary pH.Keywords: alcoholic mouthwash, salivary flow rate, salivary pH Abstrak: Obat kumur merupakan salah satu produk perawatan kesehatan gigi dan mulut yang mudah diperoleh dan praktis digunakan sendiri oleh masyarakat. Berbagai produk komersial mengandung lebih dari satu bahan aktif; salah satunya yaitu alkohol dengan konsentrasi bervariasi dari 6% hingga 26,9%. Kandungan alkohol yang tinggi dapat menimbulkan efek bagi sebagian pengguna, seperti sensasi terbakar dan kering di area mukosa mulut disebabkan berkurangnya saliva yang memudahkan terjadinya iritasi. Berkurangnya saliva juga menyebabkan pH mulut rendah sehingga pertumbuhan bakteri kariogenik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva. Jenis penelitian ialah eksperimen semu dengan kelompok sebelum dan sesudah perlakuan. Populasi penelitian yaitu mahasiswa Angkatan Tahun 2012 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 30 responden, diperoleh dengan purposive sampling. Hasil uji T berpasangan mennunjukkan data laju aliran saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Berdasarkan uji Wilcoxon, data pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Simpulan: Tidak terdapat pengaruh berkumur dengan obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva.Kata kunci: obat kumur beralkohol, laju aliran saliva, pH saliva
Gambaran Penggunaan Bahan Restorasi Resin Komposit di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Tahun 2011 - 2012 Sajow, Pingkan
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3231

Abstract

Karies gigi merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh setiap individu. Perubahan tingkat ekonomi dan pola hidup menjadi beberapa penyebabnya. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut juga menjadi salah satu penyebab karies pada gigi. Gigi yang karies sebaiknya segera dilakukan perawatan menggunakan salah satu bahan restorasi yang sering digunakan saat ini yaitu resin komposit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan resin komposit sebagai bahan restorasi gigi di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (BP-RSGM) Universitas Sam Ratulangi pada tahun 2011-2012. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data berdasarkan rumus Slovin yang ditentukan dengan menggunakan teknik random sampling dari rekam medis pasien yang ditumpat dengan resin komposit di BP-RSGM pada tahun 2011-2012. Jumlah data penelitian yang diambil yaitu 85 pasien dengan 108 gigi yang direstorasi dan dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, pekerjaan pasien, tahun restorasi, umur pasien, regio gigi, jumlah gigi dan diagnosa penyakit.Hasil penelitian menunjukkan pada tahun 2012 telah terjadi peningkatan dalam penggunaan resin komposit dibandingkan pada tahun 2011. Perawatan dengan resin komposit lebih sering dilakukan oleh pasien yang berjenis kelamin perempuan dan sebagian besar telah berusia dewasa. Regio anterior merupakan regio gigi yang paling banyak mendapatkan restorasi dengan resin komposit dan penyakit gigi yang paling sering didiagnosa ialah pulpitis reversibel. Pada setiap pasien terdapat minimal 1 gigi yang ditumpat dengan resin komposit.Kata kunci: Resin komposit, karies gigiABSTRACTDental caries is one of the most common sickness suffered by every people. Alterations in the economy and lifestyle are some of the causes. Lack of public awareness towards oral health is also one of the causes of dental caries. Dental caries should be taken care and one materials of the filling that are often used today is composite resin.The purpose of this research is to know about the use of composite resin as restoration material in the Dental Clinic of Sam Ratulangi University in 2011-2012. This research is a descriptive retrospective research using the Slovin formulae and the random sampling technique approach by taking the medical records of patients at the Dental Clinic in 2011-2012 whom were given composite resin as the filling material. The amount of research data retrieved were of 85 patients with 108 teeth filled by composite resin and are categorized based of sex, patient activity,on the year of filling, age, region of filling, the number of teeth filled in each patient and diagnoses.The results show that in the year of 2012 the use of composite resin restorations has increased in comparison to the year of 2011. Treatment with a composite resin is more often performed on female patients and most of them being adults. The anterior region of the teeth is the region most filled by composite resin and is most commonly diagnosed with pulpitis reversible. In each patient there is at least one tooth that is filled by composite resin.Keywords: Composite resin, dental caries
POLA KEHILANGAN GIGI PADA MASYARAKAT DESA ROONG KECAMATAN TONDANO BARAT MINAHASA INDUK Mangkat, Yuriansya; Wowor, Vonny N. S.; Mayulu, Nelly
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10015

Abstract

Abstract: The use of denture aims to improve the function of mastication, restoring the aesthetic function, improve the function of phonetics, and maintain the remaining oral tissues to be healthy. This study aimed to obtain the pattern of tooth loss among people in Tondano District Roong Village West. The study population was the whole villagers of Roong who used removable partial dentures acrylic-based. There were 75 people obtained by a preliminary survey in October 2014. Sampling was conducted by using total sampling method. The results showed that tooth loss occured mostly of the lower jaw partly tooth loss (80.33%). The mostly used type was RPDs with a total of 50.43% (17.10% of the upper jaw, 33.33% of the lower jaw). The pattern of partly tooth loss was based on the Applegate-Kennedy clasification, and the most frequent was class VI 22.10% (32.14% of the upper jaw and lower jaw 16.33%). RPDs were use based on the pattern of tooth loss, the most frequent was class VI 22.10% (32.14% RPDs of the upper jaw and 16.33% of the lower jaw). Based on the pattern of tooth loss, the usage of GTC was most frequent of the class IV 27.27% (GTC maxilla 1 (5.55%).Keywords: pattern of tooth lossAbstrak: Penggunaan gigi tiruan bertujuan untuk memperbaiki fungsi pengunyahan, memulihkan fungsi estetik, meningkatkan fungsi fonetik, serta mempertahankan jaringan mulut yang masih ada agar tetap sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola kehilangan gigi pada masyarakat Desa Roong Kecamatan Tondano Barat. Populasi penelitian yaitu seluruh masyarakat desa Roong yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan berbasis akrilik yang berjumlah 75 orang, diperoleh berdasarkan survei awal pada bulan Oktober 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada kehilangan gigi kebanyakan terjadi pada rahang bawah kehilangan gigi sebagian sebanyak 80,33%. Penggunaan terbanyak jenis GTSL dengan jumlah 50,43% (rahang atas 17,10%, rahang bawah 33,33%). Pola kehilangan gigi sebagian berdasarkan klasifisikasi Applegate-Kennedy, terbesar kelas VI sebanyak 22,10% (rahang atas 32,14% dan rahang bawah 16,33%). Penggunaan GTSL berdasarkan pola kehilangan gigi, terbesar kelas VI sebanyak 22,10% (GTSL rahang atas 32,14% dan rahang bawah 16,33%). Penggunaan GTC berdasarkan pola kehilangan gigi, terbesar kelas IV sebanyak 27,27% (GTC rahang atas 1 orang yaitu 5,55%).Kata kunci: pola kehilangan gigi
Perbedaan Waktu Pembekuan Darah Pasca Pencabutan Gigi pada Pasien Menopause dan Non-menopause Turang, Veren K.; Tendean, Lydia; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20953

Abstract

Abstract: Entering the age of 40s in women, hormone levels and alveolar bone density begin to decrease which can cause wobbly teeth ended with tooth extraction. In menopausal patient, the tooth extraction has to be performed very carefully to avoid excessive bleeding. This study was aimed to compare the clotting time after tooth extraction of menopausal patients with of non-menopausal patients at RSGM Unsrat Manado. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design. Study population included all female patients aged 35-60 years who had tooth extraction performed on them at the Oral Surgery Department of RSGM Unsrat in June 2018. Samples were obtained by using the total sampling method. The results showed that there were 32 subjects consisted of 13 women (40.63%) aged 35-44 years (non-menopause) and 19 women (59.37%) aged 45-60 tahun (menopause). Most of the normal clotting timess of non-menopausal subjects were at minutes-6 and 7, each of 5 subjects (15.62%). Most of the abnormal clotting times in menopausal subjects was at minute-9 as many as 8 subjects (25.00%). The Shapiro-Wilk test showed that data were not distributed normally; therefore, the further analysis was performed with the Mann-Whitney test with a P value of 0.000 (P <0.05). Conclusion: There was a significant difference in clotting time after tooth extraction between menopausal and non-menopausal patients.Keywords: menopause, non menopause, clotting time, tooth extraction Abstrak: Memasuki usia 40-an kadar hormon pada perempuan mulai berkurang, demikian pula kepadatan tulang alveolar yang dapat menyebabkan kegoyangan gigi dan dilakukannya tindakan pencabutan gigi. Pada pasien menopause teknik pencabutan gigi harus dilakukan secara hati-hati untuk mengurangi risiko perdarahan berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pembekuan darah pasca pencabutan gigi antara pasien meno-pause dan non-menopause di RSGM Unsrat Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu semua pasien perempuan berusia 35-60 tahun yang dilakukan tindakan pencabutan gigi di Bagian Bedah Mulut RSGM Unsrat pada bulan Juni 2018. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian menda-patkan 32 orang subyek penelitian, terdiri dari 13 orang (40,63%) berusia 35-44 tahun (non-menopause) dan 19 orang (59,37%) berusia 45-60 tahun (menopause). Kategori waktu pembe-kuan normal pada subyek non-menopause terbanyak pada menit ke-6 dan ke-7, masing-masing sebanyak 5 orang (15,62%). Kategori tidak normal pada subyek menopause terbanyak pada menit ke-9 sebanyak 8 orang (25,00%). Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi tidak normal, dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney dengan perolehan signifikansi 0,000 (P <0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada waktu pembe-kuan darah pasca pencabutan gigi antara pasien menopause dan non menopause.Kata kunci: menopause, non menopause, waktu pembekuan darah, pencabutan gigi
GAMBARAN PENGGUNAAN MATERIAL RESTORASI SEMEN IONOMER KACA DI POLI GIGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MANADO Sarjono, Myrtle Irene; Wicaksono, Dinar A.; Pangemanan, Damayanti H. C.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5762

Abstract

Abstrak: Kesehatan gigi dapat terganggu oleh adanya karies. Gigi yang karies dapat dikembalikan fungsinya dengan cara membuang jaringan karies dan merestorasinya dengan material restorasi. Salah satu material restorasi yang digunakan di Poli Gigi RS Bhayangkara Manado ialah Semen ionomer kaca (SIK). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan material restorasi SIK di Poli Gigi RS Bhayangkara Manado tahun 2011 – 2013 berdasarkan waktu penumpatan, usia pasien, regio gigi dan jenis kelamin. Desain penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 55 rekam medik dan 67 tindakan. Berdasarkan waktu penumpatan, pada tahun 2011 terdapat 11 penumpatan dan mengalami peningkatan pada tahun 2012 menjadi 17 penumpatan dan tahun 2013 menjadi 39 penumpatan. Distribusi frekuensi usia berdasarkan waktu penumpatan, pasien usia dewasa lebih banyak terdapat penumpatan dibanding kelompok umur lainnya. Frekuensi regio gigi berdasarkan tahun restorasi didapatkan hasil penumpatan paling banyak pada posterior. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penumpatan paling banyak pada jenis kelamin perempuan dibanding laki-laki. Kata kunci: Semen ionomer kaca, material restorasi, RS Bhayangkara Manado   Abstract: Dental health can be damage by the caries. Dental caries can be restored by removing carious tissue and restore it with restoration materials.One of the restorative material that used in Poly Dental of Manado Bhayangkara Hospital is Glass ionomer cement (GIC). The purpose of this research is to describe the use of restorative material GIC at Poly Dental of Manado Bhayangkara Hospital years 2011 – 2013, based on years of restoration, age, dental regions and gender.This research is a descriptive research that used cross sectional approach. The study sample number is 55 medical record and 67 action. Based on the time of fillings, in 2011 there were 11 fillings. It increased in 2012 to 17 fillings and in 2013 to 39 dental fillings. The frequency distribution of age base on years of restoration, adult patients get more fillings than other age groups. The frequency of dental regions based on years restoration show that teeth fillings most occur in posterior. By gender, the number of teeth fillings most occur in the female than male. Keywords: Glass ionomer cement, restorative materials, Manado Bhayangkara Hospital
Gambaran tindakan perawatan gigi anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi pada tahun 2011 Cambu, Dominikus W.; Gunawan, Paulina N.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11063

Abstract

Abstract: Dental caries are often found in children around the world, especially in developing countries, including Indonesia. According to Riskesdas of North Sulawesi province in 2013, the prevalence of active dental caries in children aged 12 years in Manado was 46.3% with DMF-T index 2.9%. Some efforts should be made to prevent and reduce the high prevalence of dental and oral diseases through promotion, prevention, treatment, and rehabilitation.This study aimed to obtain a profile of the child dental care actions at the Hospital of Sam Ratulangi University in 2011. This was a retrospective descriptive study. The results showed that most dental care actions were among children aged 8 years (58 cases; 20%) compared to the other children’ ages; and tooth extraction in 125 cases (43.2%), dental care actions among boys as many as 163 cases (56.3%) meanwhile among girls 127 cases (43.6%); and extractions in 125 cases (43.2%). Most dental care actions were performed in the lower jaw region (187 cases; 65.5%), tooth extraction in 125 cases (43.2%); dental care actions in the posterior region in 196 cases (67.5%) which was more frequent than in the anterior region 94 cases(32.5%) and tooth extraction was as many as 125 cases (42.3%).Keywords: dental care, childrenAbstrak: Karies gigi banyak dijumpai pada anak-anak di seluruh dunia terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) provinsi Sulawesi Utara tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi aktif pada anak usia 12 tahun di kota manado sebesar 46,3% dengan indeks DMF-T 2,9%. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah dan menurunkan tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut ini, yaitu melalui usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tindakan perawatan gigi anak di RSGM Universitas Sam Ratulangi tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan tindakan perawatan gigi paling banyak pada anak usia 8 tahun bila dibandingkan usia anak yang lain yaitu sebanyak 58 kasus (20%) dan tindakan pencabutan gigi sejumlah 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi pada anak laki-laki sebanyak 163 kasus (56,3%) lebih banyak dari perempuan 127 kasus (43,6%); tindakan pencabutan gigi sebanyak 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi paling banyak pada regio rahang bawah sebanyak 187 kasus (65,5%) dan juga tindakan pencabutan gigi sebesar 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi pada regio posterior sebanyak 196 kasus (67,5%), lebih banyak dari regio anterior 94 kasus (32,5%) dan tindakan pencabutan gigi sebanyak 125 kasus (42,3%).Kata kunci: perawatan gigi, anak
GAMBARAN STATUS PERIODONTAL PADA PEROKOK DI DESA WATUTUMOU 3 JAGA 8 KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Priskila, Felicia; Pangemanan, D. H.C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6403

Abstract

Abstract: Smoking is a habit which until now often seen in the community. Smoking can cause systemic effects and cause pathological conditions in the oral cavity such as gingival changes and destruction periodontal light. Purpose of this study is to describe the periodontal status in smokers in rural districts Watutumou 3 guard 8 districts Kalawat Minahasa North. This is a descriptive study with cross sectional research design. Research subjects have been selected by purposive sampling method with a sample of 53 respondents. This examination is done using a mouth mirror and a WHO periodontal probe examining. The condition of the periodontal tissues and evaluated the frequency distribution with periodontal index by Russel. This research shows an overview of periodontal status in smokers in the village 3 guard Watutumou 8 Kalawat districts Minahasa district is the northen destructive periodontal status had advanced stage with loss of function of mastication total of 33 respondents (62,3%). Conclusion: Periodontal status occurs most advanced stage of disease destruction.Keywords: smokers, periodontal index, periodontal status.Abstrak: Merokok merupakan kebiasaan yang sampai saat ini sering dijumpai pada kalangan masyarakat. Merokok dapat menimbulkan efek sistemik dan menyebabkan timbulnya kondisi patologis di rongga mulut misalnya mengalami perubahan gingiva dan destruksi jaringan periodontal. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status periodontal pada perokok di desa Watutumou 3 jaga 8 kecamatan Kalawat kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional study. Subjek penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 53 responden. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan kaca mulut dan WHO Periodontal Examining Probe. Kondisi jaringan periodontal dan distribusi frekuensinya dievaluasi dengan indeks periodontal oleh Russel (IP). Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran status periodontal pada perokok di desa Watutumou 3 jaga 8 kecamatan Kalawat kabupaten Minahasa Utara yang paling banyak yaitu status periodontal destruksi tahap lanjut disertai kehilangan fungsi pengunyahan sebanyak 33 responden (62,2%). Simpulan: Status periodontal terjadi paling banyak mengalami penyakit destruksi tahap lanjut.Kata kunci: Perokok, Indeks Periodontal, Status Periodontal
Hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies gigi pada penyandang tunanetra Marimbun, Betrix E.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13924

Abstract

Abstract: Blind people have limited ability to receive any knowledge through their sight. A false perception can lead to wrong actions including the act of oral health maintenance, therefore, the risk of oral diseases such as caries, is higher in blind people than in normal ones. This study was aimed to determine the relationship between the level of oral health knowledge and caries status. Respondents were selected by using total sampling technique. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and caries status examination, the DMF-T (Decay, Missing, Filling - Teeth), and were presented in frequency distribution tables. The results showed that of 31 respondents aged 18-45 years old, there were 18 (58.1%) with poor knowledge and 13 (41.9%) with good knowledge. There were also 25 respondents (80.6%) with high caries status and 6 (19.4%) with low caries status. The Chi-Square showed a significant relationship between the level of oral health knowledge and caries status (p=0,022). Conclusion: There was a significant relationship between the oral health knowledge and caries status among blind people.Keywords: oral heath knowledge, caries status, blind people Abstrak: Penyandang tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan yang memengaruhi kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut. Persepsi yang salah dapat menghasilkan tindakan yang keliru dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sehingga resiko penyakit mulut antara lain karies diprediksikan lebih tinggi pada tunanetra. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies penyandang tunanetra. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan pemeriksaan status karies menggunakan DMF-T (Decayed, Missing, Filled - Teeth) dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Responden penelitian diperoleh menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 31 responden pada kelompok usia 18-45 tahun. Sejumlah 18 responden (58,1%) dengan tingkat pengetahuan kurang dan 13 responden (41,9%) dengan tingkat pengetahuan baik. Terdapat 25 responden (80,6%) dengan status karies tinggi dan 6 responden (19,4%) dengan status karies rendah. Hasil uji Chi Square mendapatkan hubungan bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies (p = 0,022). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan status karies pada penyandang tunanetra. Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status karies, tunanetra.
GAMBARAN PENGGUNAAN BAHAN ANESTESI LOKAL UNTUK PENCABUTAN GIGI TETAP OLEH DOKTER GIGI DI KOTA MANADO Ikhsan, Muhammad; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2624

Abstract

Abstract: Local anesthetic agent is one of the materials most commonly used in dentistry. Local anesthetic agent used for relieving pain arising from dental procedures. Local anesthetic agent is divided into two groups, namely esters and amides. This study provides information on the availability of local anesthetic agent in Manado. The purpose of this study to describe the use of local anesthesia by a dentist in the city of Manado. This type of research is a descriptive study and sampling was performed with a total sampling method. Retrieval of data by means of questionnaires by a dentist who practiced in the city of Manado. The number of samples in this study were 31 dentists. The results found that 22 dentists (70.96%) using the amide groups lidocaine HCl 2% and 2 dentists (6,45%) procaine and benzocaine is an ester group. The effectiveness of the local anesthetic agent is a major reason in the selection of a local anesthetic agent that is 90.32% or 28 dentists. Keywords: local anesthetic agents.     Abstrak: Bahan anestesi lokal merupakan salah satu bahan yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi. Bahan anestesi lokal digunakan untuk menghilangkan rasa sakit yang timbul akibat prosedur kedokteran gigi. Bahan anestesi lokal terbagi dua golongan yaitu ester dan amida. Penelitian ini memberikan informasi ketersediaan bahan anestesi lokal di Manado. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan bahan anestesi lokal oleh dokter gigi di kota Manado. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Pengambilan data dengan cara pengisian kuesioner oleh dokter gigi yang berpraktik di kota Manado. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 31 dokter gigi. Hasil penelitian mendapati bahwa 22 dokter gigi (70,96%) menggunakan golongan amida yaitu lidokain HCl 2% dan 2 dokter gigi (6,45%) golongan ester yaitu prokain dan benzokain. Keefektifan bahan anestesi lokal merupakan alasan utama dalam pemilihan bahan anestesi lokal yaitu 90,32% atau 28 orang dokter gigi. Kata kunci: bahan anestesi lokal.
GAMBARAN STATUS KEBERSIHAN MULUT SISWA SD KATOLIK ST. AGUSTINUS KAWANGKOAN Mawuntu, Maureen M.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8763

Abstract

Abstract: Oral health problems are influenced by many factors, one of them is personal attitude. School aged children need special attention since they are still in growth and development process, and still depend on adult people to maintain their oral hygiene. Caries of deciduous teeth will make bad impacts on the growth of their permanent teeth. This study aimed to obtain the oral hygiene status of students in Catholic Elementary School St. Agustinus, Kawangkoan. Total respondents were 65 student. Data of oral hygiene were obtained by using OHI-S index. The results showed that there were 37% of students belonged to good category; 60% of students to fair category; and 3% to poor category. Conclusion: Most of the students in Catholic Elementary School St. Agustinus, Kawangkoan belonged to fair category of oral hygiene.Keywords: oral hygiene status, elemetary studentAbstract: Masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya ialah perilaku. Anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang, dan masih sangat bergantung kepada orang dewasa dalam hal menjaga kesehatan dan kebersihan mulut. Gigi susu yang terkena karies akan memengaruhi pertumbuhan gigi permanen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran status kebersihan misturb the development of permanent teeth.ulut siswa SD Katolik St. Agustinus Kawangkoan. Responden penelitian ialah seluruh siswa berjumlah 65 anak. Data status kebersihan mulut siswa diperoleh melalui pemeriksaan status kebersihan menggunakan indeks OHI-S. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 37% responden termasuk kategori baik; 60% kategori sedang; dan 3% kategori buruk. Simpulan: Gambaran status kebersihan mulut sebagian besar siswa SD Katolik St. Agustinus Kawangkoan termasuk dalam kategori sedang.Kata kunci: status kebersihan mulut, anak SD