cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Gambaran status karies dan status gizi pada murid TK Kartika XX-16 Manado Rengkuan, Raissa Y.E.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17369

Abstract

Abstract: Dental caries is a dental hard tissue disease with multifactorial causes. Consumption of food and beverages improperly and less of dental treatment affect dental caries status and nutritional status. This study was aimed to obtain the profile of dental caries status and nutritional status of kindergarten students of Kartika XX-16 Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were selected using nonprobability sampling method with consecutive sampling technique. There were 71 students as the total population; 48 students were selected as subjects. Deciduous dental examination was performed to assess the dental caries status using the dmf-t index. Body weight, height, and age were noted to assess the nutritional status using antrophometric indices based on z score to obtain the body mass index for age (BMI for age). The results showed that the dental caries status of the subjects was at high category (dmf-t index of 4.92). There were 37 subjects (77.1%) who had caries experience in primary teeth and 11 subjects (22.9%) with caries-free primary teeth. Of all subjects, 93.75% had normal nutrition status and 6.3% had nutritional problems. Conclusion: In general, the kindergarten students of Kartika XX–16 Manado had dental caries status of high category, however, their nutritional status was quite good.Keywords: dental caries status, nutritional status Abstrak: Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi dengan penyebab multifaktorial. Konsumsi makanan dan minuman dengan pola yang tidak tepat, serta kurangnya pemeliharaan kesehatan gigi berdampak pada status gizi dan status karies gigi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi dan status gizi pada murid TK Kartika XX-16 Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Jumlah populasi 70 orang murid dengan subyek 48 anak diperoleh menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan gigi-geligi sulung untuk menilai status karies gigi. Penilaian status karies gigi menggunakan indeks dmft. Pemeriksaan berat badan, tinggi badan, dan usia untuk menilai status gizi. Penilaian status gizi menggunakan indeks antropometri berdasarkan z-skor terhadap indikator indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Status karies gigi murid TK Kartika XX–16 Manado berada pada kategori tinggi dengan indeks dmf-t 4,92. Jumlah subyek dengan riwayat karies gigi sulung sebanyak 37 anak (77,1%) sedangkan yang bebas karies gigi sulung sebanyak 11 anak (22,9%). Status gizi murid TK Kartika XX–16 Manado terdiri dari 93,75% status gizi normal dan 6,3% bermasalah gizi. Simpulan: Murid TK Kartika XX–16 Manado umumnya mempunyai status karies gigi pada kategori tinggi sedangkan status gizi cukup baik.Kata kunci: status karies gigi, status gizi
GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO Loblobly, Monalisa; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10487

Abstract

Abstract: Malocclusion is a condition of abnormal occlusion. If it is not treated it will result in several diseases for the patients. Studies about malocclusion have been done in several cities in Indonesia which showed that many people with malocclusion did not seek for treatment. One of the ways to identify and assess the severity of malocclusion is using the Handicapping Malocclusion Index Assessment Record (Hmar). This study aimed to describe malocclusions in students of SMA N 9 Manado.This was a descriptive cross sectional design. The study was conducted in August 2015 with a total sample of 30 students in grade eleven, obtained by using consecutive sampling. Malocclusion assessment obtained using HMAR consisted of comprising the teeth in one jaw, abnormal tooth relationships of both jaws in occlusion, and dentofacial abnormality examinations. The results showed that based on HMAR most of the malocclusions were in the severe category which were in need of care. Irregular teeth in one jaw in the anterior and posterior regions was the highest form of tooth rotation and tooth crowding. Abnormality in the relationship of both jaws in the occluded jaw position in the anterior region was the highest in the case of excessive nip distance and the lowest cross bites meanwhile in the posterior region was the mesial position of caninus. Concerning dentofacial abnormalities, there was only one palatal bite abnormality. Conclusion: Based on HMAR the highest percentage of malocclusion in this study was severe malocclusion.Keywords: malocclusion, malocclusion handicapping index assessment recordAbstrak: Maloklusi merupakan bentuk oklusi menyimpang dari normal yang jika tidak dirawat akan mengakibatkan hambatan bagi penderita. Penelitian mengenai maloklusi sudah dilakukan pada beberapa kota di Indonesia yang menunjukan bahwa banyak orang yang mengalami maloklusi tetapi tidak melakukan perawatan. Salah satu cara mengidentifikasi dan menilai keparahan maloklusi yaitu menggunakan Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi berdasarkan Indeks HMAR pada siswa SMA N 9 Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2015 dengan jumlah sampel 30 siswa kelas sebelas, menggunakan consecutive sampling. Penilaian maloklusi diperoleh dengan pemeriksaan berdasarkan indeks HMAR pada model studi. Penilaian meliputi penyimpangan gigi dalam satu rahang, kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi, dan kelainan dentofasial. Hasil penelitian penyimpangan gigi dalam satu rahang menunjukan persentase tertinggi yaitu gigi rotasi pada rahang atas. Kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi menunjukkan di regio anterior presentase tertinggi yaitu berupa jarak gigit berlebih dan di regio posterior persentase tertinggi berupa kelainan anteroposterior yang menunjukkan gigi kaninus lebih ke mesial. Kelainan dentofasial hanya ditemukan satu kelainan berupa palatal bite. Simpulan: Gambaran maloklusi berdasarkan indeks HMAR dengan persentase tertinggi yaitu pada kategori maloklusi berat, sangat memerlukan perawatan.Kata kunci: maloklusi, indeks HMAR
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG HALITOSIS PADA BURUH DI PELABUHAN MANADO Irianti, Rizkia; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6401

Abstract

Abstract: Halitosis is a general term used to describe bad breath odor emanating from the oral cavity that may occur in physiological and pathological. The cause of halitosis much comes from the mouth as much as 80%. People's knowledge of halitosis is needed because it can help to prevent and deal with the halitosis and may be the first step for further diagnosis of the systemic disease. This study aims to describe the knowledge of halitosis in labor at the port of Manado. This research is a descriptive study using cross-sectional approach. The sample size was obtained by using Slovin formula with a total sample obtained 77 samples and sampling techniques using simple random sampling by means of a lottery. Knowledge was measured using a questionnaire containing some questions about the causes and prevention of halitosis. The result is a total of 27 respondents who have a good knowledge, 39 respondents have sufficient knowledge and 11 respondents have less knowledge. Respondents aged 37-48 years is the most respondents had a good knowledge. Based on this study, suggested a good enough knowledge to be maintained and applied in order to maintain and improve the health of your teeth and mouth.Keywords: Halitosis, knowledge, stevedore.Abstrak: Halitosis adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan bau nafas tidak sedap yang berasal dari rongga mulut yang dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Penyebab halitosis paling banyak berasal dari dalam mulut sebanyak 80%. Pengetahuan masyarakat terhadap halitosis sangat dibutuhkan karena dapat membantu untuk mencegah dan menanggulangi halitosis serta dapat menjadi langkah awal untuk mendiagnosis lebih lanjut terhadap penyakit sistemik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang halitosis pada buruh di pelabuhan Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan potong lintang. Ukuran sampel diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin dengan total sampel yang didapatkan 77 sampel dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan cara lotre. Pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan tentang penyebab dan pencegahan halitosis. Hasilnya ialah sebanyak 27 responden yang mempunyai pengetahuan baik, 39 responden mempunyai pengetahuan cukup dan 11 responden mempunyai pengetahuan kurang. Responden berusia 37-48 tahun ialah responden paling banyak mempunyai pengetahuan baik. Berdasarkan penelitian ini, pengetahuan yang cukup baik disarankan untuk dapat dipertahankan dan diaplikasikan guna mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut.Kata Kunci : Halitosis, pengetahuan, buruh pelabuhan.
Hubungan perasaan takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat Manado ’Allo, Chinda B. Bunga; Lampus, Benecditus S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13768

Abstract

Abstract: Child fear often becomes a barrier for dentists to provide optimal care. Therefore, it is important for the dentists to establish good relationship with patients, especially children. Children who have positive interaction with the dentists can handle their fears and will not be afraid to the dentists, so they are expected to have good oral hygiene. This study was aimed to analyze the relationship beetween children’s feeling of fear against dental treatment and their oral hygiene at Dental Hospital University of Sam Ratulangi. Samples were children aged 6-12 who had received dental treatment before. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and examination of OHIS. The results showed that of the 35 respondents, 23 children (65.7%) were not afraid of dental treatment (65,7%), meanwhile 12 children (34.3%) were afraid of dental treatment. There were 28 children (80%) that preferred female dentists to male dentists menawhile 7 children (20%) were the opposites. There were 23 children (65.7%) that liked dentists who used self protective equipment and 12 children (34.3%) did not. There were 21 children (60%) that had good OHI-S and 14 children (40%) that had moderate OHI-S. The Fisher alternative test showed a sinificancy of 1.000 for 2-sided (two tail) and 0.583 for 1-sided (one tail) (p˃0.05) Conclusion: There was no relationship between children’s feelings of fear against dental treatment and oral hygiene.Keywords: feelings of fear, dental treatment, oral hygieneAbstrak: Perasaan takut dan cemas pada anak sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, dokter gigi perlu menjalin hubungan baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhdap dokter gigi dapat mengatasi rasa takutnya sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rasa takut pada anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat. Sampel penelitian ialah anak berusia 6-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner dan pemeriksaan OHIS. Hasil penelitian menunjukkan dari 35 responden, yang tidak takut terhadap perawatan gigi 23 anak (65,7%) dan yang takut terhadap perawatan gigi 12 anak (34,3%). Yang memilih dirawat oleh dokter gigi perempuan 28 anak (80%) sedangkan yang memilih dirawat dokter gigi laki-laki 7 anak (20%). Yang menyukai dokter gigi menggunakan pelindung diri sebanyak 23 anak (65,7%) dan yang tidak menggunakan pelindung diri 12 anak (34,3%). Yang memiliki OHI-S baik 21 anak (60%) dan yang memiliki OHI-S sedang 14 anak (40%). Hasil uji alternatif Fisher mendapatkan nilai signifikansi 1,000 untuk 2-sided (two tail) dan 0,583 untuk 1-sided (one tail) (p ˃0,05) Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara rasa takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut.Kata kunci: perasaan takut, perawatan gigi, kebersihan gigi dan mulut
STATUS KARIES PADA GIGI BERJEJAL DI SD NEGERI 12 TUMINTING Malohing, Dewi; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2622

Abstract

Abstract: One of many dental problem has faced frequently by Indonesian people nowadays is dental caries, the other name for decay in teeth. The main factor leads into the caries is the setting of teeth (host) wich is out of the arch causing it hardly to be cleaned, tends to food and debris accumulated. These research aims to gain the image of the caries status for the crowding at tuminting 12th elementary school public. DMF-T index is used for this caries examination. The research is presented into descriptions from, take student who have been fom ten to twelve years old with crowding conditions as population, then uses the total sampling method to determine sixty seven of them as sample. The result for crowding of the caries distribution shows that the range of DMF-T number is 0.7. it belongs to the low category, based on category of DMF-T index by WHO. Keywords: caries, crowding.     Abstrak: Salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang dihadapi penduduk Indonesia adalah tingginya penyakit jaringan keras gigi atau karies. Karies gigi disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utama penyebab karies yaitu keadaan gigi (host), dimana posisi gigi dengan posisi keluar dari lengkung rahang, menyebabkan kesulitan pembersihan. Kondisi ini cenderung membuat makanan dan debris terakumulasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran status karies pada gigi berjejal di SD Negeri 12 Tuminting. Pemeriksaan karies menggunakan indeks DMF-T. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif. Populasi dari penelitian ini yaitu siswa usia 10-12 tahun dengan kondisi gigi berjejal. Sampel berjumlah 67 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian tentang distribusi karies pada gigi berjejal menunjukkan rata-rata jumlah DMF-T ialah 0,7 dan menurut kategori indeks DMF-T dari WHO termasuk pada kategori sangat rendah. Keyword: karies, gigi berjejal.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ERUPSI GIGI PERMANEN SISWA SD NEGERI 70 MANADO Lantu, Virginia A. R.; Kawengian, Shirley E. S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6849

Abstract

Abstract: Tooth eruption is defined as movements of the teeth to oral cavity or as a process appearance of the teeth which begins during teeth inside the jaws. It was a different variation to each childre’s. Nutritional status is one of important that play role during tooth eruption process. Related to another research that has found children with normal category of nutritional status have a normal process of tooth eruption. Instead, there was interference to children’s with a malnutrition status. This study aimed to analyze the relation between nutritional status and tooth eruption of children in SDN 70 Manado. Total population of this study was taken from 1st up to 6th grades within the age group 6-12 years old. Samples were 83 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Anthropomentric and visual checking was used for measurement of nutritional status and permanent tooth eruption status. The results showed that most respondents had normal height and weight as well as normal process of permanent tooth eruption. Children who had malnutrition status were also had failure in permanent tooth eruption. The chi-square test showed a significant relation between nutritional status and permanent tooth eruption in SDN 70 Manado.Keywords: nutritional status, permanent tooth eruptionAbstrak: Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar dan merupakan proses yang bervariasi pada setiap anak. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berperan penting pada pertumbuhan dan perkembangan gigi termasuk tahapan erupsi gigi. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu ditemukan bahwa anak-anak dengan status gizi baik, proses erupsi gigi permanen umumnya berjalan normal sedangkan anak-anak dengan status gizi kurang baik beresiko mengalami gangguan pada proses erupsi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado. Populasi pada penelitian ini yakni siswa kelas I hingga kelas VI yang berusia 6 – 12 tahun, Sampel penelitian ialah seluruh anggota populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 83 sampel dengan menggunakan metode total sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan visual pada rongga mulut. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan sebagian besar responden memiliki tinggi dan berat badan normal sesuai usianya, diikuti oleh yang berstatus gizi kurus, obesitas dan gemuk. Status erupsi gigi permanen sebagian besar menunjukkan telah erupsi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado.Kata kunci: status gizi, erupsi gigi permanen
Uji air perasan jeruk kesturi (Citrus microcarpa Bunge.) terhadap perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan kopi Sibilang, Annabelle A. G. C.; Wowor, Pemsi M.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14737

Abstract

Abstract: Color change or discoloration of the tooth surface is an aesthetic problem that is often complained because it reduces one’s confidence in terms of appearance. This problem can also occur on the surface of restorative materials inter alia composite resin. Composite resin is a tooth-colored restorative material that most people favor due to its aesthetic value. This discoloration can occur due to excessive intake of colored beverages like coffee. The treatment used for discoloration is bleaching, but these treatments have side effects. Calamondin (Citrus microcarpa Bunge.) can be an alternative bleaching agent because it contatins citric acid. This study was aimed to determine whether calamondin juice could affect the color change of composite resin soaked in coffee solution. This was a pre-experimental study with a one shot case study design. Samples were 10 composite resins with a diameter of 5 mm and 2 mm thick soaked in coffee solution for 7 days to obtain discoloration and then samples were soaked in calamondin juice for 5 days to whiten the samples. The discoloration was measured by using the CIEL*a*b* method at 60 minutes and 5 days after soaking in calamondin juice. The Friedman test showed significant changes (p<0.05). Conclusion: Calamondin juice affected the color change of composite resin that had been soaked in coffee solution.Keywords: composite resin, calamondin juice, color change Abstrak: Perubahan warna atau diskolorisasi pada permukaan gigi merupakan salah satu masalah estetika yang sering dikeluhkan karena mengurangi kepercayaan diri seseorang. Masalah ini juga dapat terjadi pada permukaan bahan tumpatan gigi, salah satunya adalah resin komposit. Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang sewarna dengan gigi yang banyak digemari orang karena nilai estetiknya. Salah satu penyebab perubahan warna yaitu mengonsumsi minuman berwarna secara berlebih seperti kopi. Perawatan yang digunakan untuk masalah diskolorisasi ialah bleaching, namun perawatan ini memiliki efek samping. Jeruk kesturi (Citrus microcarpa Bunge.) dapat menjadi bahan alternatif bleaching karena karena mengandung asam sitrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah air perasan jeruk kesturi berpengaruh terhadap perubahan warna resin komposit yang telah direndam dalam larutan kopi. Jenis penelitian ialah pre-eksperimental dengan one shot case study design. Penelitian ini menggunakan 10 sampel resin komposit dengan ukuran diameter 5 mm dan tebal 2 mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 7 hari agar terjadi diskolorisasi kemudian direndam dalam air perasan jeruk kesturi selama 5 hari dengan tujuan untuk memutihkan kembali sampel. Pengukuran perubahan warna menggunakan metode CIEL*a*b dilakukan setelah perendaman 60 menit dan 5 hari. Uji Friedman menunjukkan terdapat perubahan bermakna (p<0,05). Simpulan: Air perasan jeruk kesturi berpengaruh terhadap perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan kopi.Kata kunci: resin komposit, air perasan jeruk kesturi, perubahan warna
Persepsi Masyarakat Terhadap Pembuatan Gigi Tiruan oleh Tukang Gigi di Desa Treman Kecamatan Kauditan Angraeni, Ayu
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3201

Abstract

Kehilangan gigi dapat menimbulkan dampak emosional serta menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas pengunyahan dan berbicara. Melihat akibat yang ditimbulkan maka seharusnya gigi yang hilang diganti dengan gigi tiruan. Pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan pembuatan gigi tiruan, masyarakat lebih memilih mengunjungi tukang gigi daripada pergi ke dokter gigi. Salah satu alasan yang memengaruhi seseorang memakai gigi tiruan yaitu persepsi terhadap status kesehatan gigi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di desa Treman kecamatan Kauditan berlangsung selama bulan April-Oktober 2013. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan membagikan kuesioner pada sampel yang berjumlah 107 orang.Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat berdasarkan waktu memiliki skor tertinggi yaitu 398 termasuk kategori baik, persepsi masyarakat berdasarkan keterjangkauan memiliki skor sebanyak 395 termasuk kategori baik, persepsi masyarakat berdasarkan biaya jumlah skor yaitu 379 termasuk kategori baik, persepsi masyarakat berdasarkan kebutuhan memiliki skor sebanyak 366,6 termasuk kategori baik, dan persepsi masyarakat berdasarkan kompetensi memiliki skor terendah yaitu sebanyak 236,25 termasuk kategori cukup.Kata kunci : persepsi masyarakat, tukang gigi, pembuatan gigi tiruan ABSTRACTTooth loss can cause emotional effect and also reduce the ability to chew and speak. Based on these, missing teeth should be replaced with dentures. In general, to meet the needs of dentures, same people prefer visiting dental handyman rather than dentist. One of the reasons that affect a person to wear denture is the perception of dental health status. This research is a descriptive study. This study was conducted in Treman village, on april-oktober 2013. The sampling technique was done with purposive sampling by distributing questionnaires to the sample that consist of 107 people.The results of this research showed the public perception based on the time has the highest scores that is 398 including good categories, the public perception based on the affordability has 395 scores categorized as good, the public perception based on the cost has 379 scores including as good categories, the public perception based on the needs has 366,6 scores categorized as good, and the public perception based on the competence has the lowest scores as many as 236,25 including enough category. Keywords: public perception, dental handyman, manufacture denture
UJI MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATION (MIC) EKSTRAK RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Streptococcus mutans Soelama, Heryudi J. J.; Kepel, Billy J.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9630

Abstract

Abstract: Dental caries is an oral cavity disease which becomes a health problem in Indonesia. Bacteria that play some important role in caries formation are Streptococcus mutans. One of the nature material that can be used to restrain Streptococcus mutans is seaweed Eucheuma cottonii. This study aimed to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of seaweed Eucheuma cottonii extract against Streptococcus mutans. This was an experimental laboratory study with a post test only control group design. MIC test was done by serial dilution, turbidimetry, and spectrophotometry methods, as well as bactericidal test using aa calibration method. Eucheuma cottonii were taken from the sea around Naen island and then were extracted with maceration method using ethanol 96%. The results showed that the MIC of Echeuma cottonii extract was in the concentration of 6.25% against Streptococcus mutans. Growth inhibition of Streptococcus mutans was significant in the concentration of 6.25%, 12.5%, 25%, 50%, and 100%. MIC of Eucheuma cottonii extract was 6.25% but the MBC or bactericidal effect was not found.The higher concentration of Eucheuma cottonii used, the greater ability to inhibit the growth of Streptococcus mutans. Conclusion: Seaweed Echeuma cottonii extract has bacteriostatic abilities but do not have bactericide abilities to against Streptococcus mutans.Keywords: streptococcus mutans, mic, eucheuma cottonii, alternative medicine, coastal communitiesAbstrak: Karies gigi merupakan penyakit rongga mulut yang paling banyak diderita masyarakat dan menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Bakteri yang paling berperan dalam pembentukan karies adalah Streptococcus mutans. Cara alternatif untuk menanggulangi Streptococcus mutans adalah dengan menggunakan bahan alami yaitu rumput laut (Eucheuma cottonii).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Minimum Inhibitory Concentration (MIC) rumput laut (Eucheuma cottonii) terhadap Streptococcus mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan desain post-test only control group design. Uji MIC dilakukan dengan metode serial dilusi, turbidimetri dan spektrofotometri, serta uji kalibrasi untuk uji sifat bakteriosid. Sampel diambil dari perairan pulau Naen kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MIC ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) pada konsentrasi 6.25% terhadap Streptococcus mutans. Hasil analisis dan pengolahan data menunjukkan daya hambat ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans yang paling signifikan ialah konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100%. MIC ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) 6,25% sedangkan MBC atau sifat bakteriosid tidak ditemukan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) yang digunakan, maka semakin besar kemampuan menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Simpulan: Ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) memiliki sifat bakteriostatik namun tidak memiliki sifat bakteriosid terhadap Streptococcus mutans.Kata kunci: streptococcus mutans, mic, eucheuma cottonii, pengobatan alternatif, masyarakat pesisir pantai
Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kebersihan dengan Status Gingiva pada Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Baba, Puspitasari; Wowor, Vonny N.S.; Tendean, Lydia
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19515

Abstract

Abstract: Denture hygiene behavior is an important factor in the success of denture treatment because it has a close relationship with attitude, knowledge, and action of denture wearers. Improper maintance of denture hygiene can cause problems to oral health, especially in removable denture wearers. Gingiva is often used as an indicator of periodontal diseases. This study was aimed to obtain the denture hygiene behavior, gingival status, and the relationship between these two conditions among partial removal acrylic-based denture wearers at Wawalintoan, West Tondano. This was a descriptive analytical study with a cross-sectional design performed on 68 respondents wearing partial removal acrylic-based dentures obtained by using purposive sampling technique. Data were collected through questionnaire of denture hygiene behavior and examination of gingival index. The results showed that the respondents had good knowledge, attitude, and action of dental hygiene with an average score of 453 (66.6%). The gingival status was categorized as mild in 39 people (57.4%). The relationship between hygiene maintance and gingival status of the respondents analyzed by using the chi-square test obtained a P-value of 0.000 <0.05. Conclusion: There was a significant relationship between denture hygiene behavior and gingival status of partial removable denture wearers.Keywords: hygiene maintance behavior, gingival status, partial removable denture Abstrak: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi tiruan merupakan faktor penting dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan karena berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan pengguna gigi tiruan. Pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang kurang baik dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut terutama pada pengguna gigi tiruan lepasan. Gingiva sering dijadikan sebagai indikator pada penyakit jaringan periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pemeliharaan kebersihan, status kesehatan gingiva pada pemakai gigi tiruan, dan hubungan perilaku pemeliharaan kebersihan dengan status gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) berbasis akrilik. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 68 responden pengguna GTSL berbasis akrilik di Kelurahan Wawalintoan, Kecamatan Tondano Barat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner perilaku pemeliharaan kebersihan dan pemeriksaan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari pemeliharaan kebersihan gigi, responden memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang tergolong baik dengan skor rerata 453 (66,6%). Status gingiva responden tergolong kategori ringan sebanyak 39 orang (57,4%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara pemeliharaan kebersihan dan status gingiva pengguna GTSL mendapatkan P=0,000 ≤0,05. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara perilaku pemeliharaan kebersihan dan status gingiva pada pengguna GTSL.Kata kunci: perilaku pemeliharaan kebersihan, status gingiva, GTSL