cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
GAMBARAN TINGKAT KARIES BERDASARKAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK USIA 12-13 TAHUN DI SMP KATOLIK SANTO YOHANIS PENGINJIL DESA LAIKIT MINAHASA UTARA Dengah, Putri R.; Mariati, Ni Wayan; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10013

Abstract

Abstract: Dental caries is a major problem in the oral cavity and can be found in all age groups. One of the causes of dental caries is poor oral hygiene. This study aimed to determine the level of caries and oral hygiene status in children aged 12-13 years in Junior High School St. Yohanis Laikit Village North Minahasa. Status caries and oral hygiene can be assessed using DMF-T index according to WHO and OHI-S is the score or the value of dental and oral examination according to Greene and Vermillion by summing Debris index (DI) and Calculus index (CI). This was a descriptive study conducted in Junior High School Santo Yohanis Laikit Village North Minahasa class 7 and 8. In general, the students belonged to the age group of 12-13 year olds. The total sample consisted of 57 students. The technique of sampling used total sampling. The results showed that the average DMF-T index was 2 (WHO categorized as low category), the average OHI-S index was 1.4 (WHO categorized as medium category. Conclusion: The status of caries and oral hygiene of Junior High School students of St. Yohanis Laikit village belonged to the medium category. Based on the dental and oral hygiene, the highest percentage of caries was in the medium category.Keywords: caries, oral hygiene, student junior high school.Abstrak: Karies gigi merupakan masalah utama pada rongga mulut dan dapat ditemukan pada semua golongan umur. Salah satu penyebab karies yaitu kebersihan gigi dan mulut yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat karies dan status kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 12-13 tahun di SMP Santo Yohanis Penginjil Desa Laikit Minahasa Utara. Status karies dan kebersihan gigi dan mulut dapat dinilai menggunakan indeks DMF-T menurut WHO dan OHI-S merupakan skor atau nilai pemeriksaan gigi dan mulut menurut Greene and Vermillion dengan menjumlahkan Debris index (DI) dan Calculus index (CI). Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan di SMP Santo Yohanis Penginjil Desa Laikit Minahasa Utara kelas 7 dan 8 yang pada umumnya merupakan kelompok remaja umur 12-13 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 57 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan indeks DMF-T rata-rata sebesar 2 (dalam kategori WHO termasuk kategori rendah) dan indeks OHI-S rata-rata sebesar 1,4 (dalam kategori WHO termasuk dalam kategori sedang). Simpulan: Status karies dan kebersihan gigi dan mulut siswa SMP Santo Yohanis Penginjil Desa Laikit termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan status kebersihan gigi dan mulut, presentase karies terbanyak terdapat pada kategori sedang.Kata kunci: karies, kebersihan gigi dan mulut, siswa smp.
Hubungan Kecemasan terhadap Perawatan Gigi dengan Indeks DMF-T pada Anak Usia 10–12 Tahun di SD Negeri 27 Manado Khasanah, Uswatun; Gunawan, Paulina; Munayang, Herdy
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20854

Abstract

Abstract: One of the most chronic dental diseases suffered by children is caries. Child anxiety during dental care often becomes a hindrance for dentists in order to give the best or optimum care or treatment. Therefore, it is important for the dentists to have a good relationship with patients, especially children. Childern who have a positive interaction with their dentists could overcome their anxiety, so they will not be afraid to go to the dentist. This study was aimed to analyze the relationship between child anxiety during dental care and DMF-T index among children aged 10–12 years old at SDN 27 Manado (elementary school). Subjects were children aged 10–12 years old who had experienced tooth treatment. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Data were obtained by using Dental Anxiety Scale (DAS) questionnaire and DMF-T examination. The data were analyzed with the Pearson simple correlation test. The results showed that of 40 subjects, 7 children (17.5%) were not anxious for dental care, 24 children (60%) were slightly anxious, 7 children (17.5%) were anxious, and 2 children (5.0%) were very anxious. The DMF-T score 3-5 was the most common, each of 6 children (15%), meanwhile the most rare was the DMF-T scores of 10 and 15, each of 1 child (2.5%). The Pearson test of the correlation between anxiety during dental treatment and DMF-T index showed a P of 0.472. Conclusion: There was no significant correlation between child anxiety for dental care and DMF-T index.Keywords: feeling of anxiety, dental care, DMF-T index Abstrak: Salah satu penyakit kronis yang paling sering diderita anak ialah karies. Kecemasan anak saat menjalani perawatan gigi sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, penting bagi dokter gigi menjalin hubungan yang baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhadap dokter gigi dapat mengatasi rasa cemasnya, sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecemasan terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T pada anak usia 10–12 tahun di SDN 27 Manado. Subyek penelitian yaitu anak berusia 10-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner Dental Anxiety Scale (DAS) dan pemeriksaan DMF-T. Analisis data menggunakan uji korelasi sederhana Pearson. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 responden, 7 anak (17,5%) tidak cemas terhadap perawatan gigi, 24 anak (60%) cemas ringan terhadap perawatan gigi, 7 anak (17,5%) cemas sedang terhadap perawatan gigi, 2 anak (5,0%) cemas berat terhadap perawatan gigi. Skor DMF-T 3-5 merupakan jumlah terbanyak masing-masing 6 anak (15%), paling sedikit pada skor DMF-T 10 dan 15 masing-masing sebanyak 1 anak (2,5%). Uji Pearson terhadap hubungan antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T mendapatkan nilai P=0,472. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T.Kata kunci: perasaan cemas, perawatan gigi, indeks DMF-T
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PASIEN POLIKLINIK GIGI PUSKESMAS PANIKI BAWAH MANADO Tuhuteru, Daul R.; Lampus, B. S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5437

Abstract

Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut yang baik berdampak pada kesehatan mulut, sebaliknya kebersihan mulut yang kurang terjaga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada rongga mulut sebagai akibat akumulasi debris dan kalkulus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pasien Poliklinik Gigi Puskesmas Paniki Bawah Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan pendekatan cross sectional studydengan populasi terjangkau pasien pengunjung poliklinik gigi yang berusia 20-44 tahun dan jumlah sampel 55. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin indeks debris tererndah pada perempuan sebesar 1,1 dan indeks kalkulus terrendah juga pada perempuan sebesar 1,2; berdasarkan kelompok usia, indeks debris  terrendah pada kelompok usia 26-35 tahun  sebesar 1,1; indeks kalkulus terrendah pada kelompok usia 26-35 tahun dan 36-44 tahun sebesar 1,3; indeks kebersihan mulut (OHI-S) terrendah pada perempuan sebesar  2,3; berdasarkan kelompok usia, indeks kebersihan mulut (OHI-S) terrendah berada pada usia 26-35 tahun sebesar 2,4. Indeks kebersihan mulut rata-rata keseluruhan  adalah 2,5.  Sebagai kesimpulan bahwa indeks debris dan indeks kalkulus terbaik pada pasien berjenis kelamin perempuan sedangkan berdasarkan kelompok usia, indeks debris terbaik pada pada kelompok usia 26-35 tahun; dan indeks kalkulus terbaik pada pasien kelompok usia 26-35 tahun dan kelompok usia 36-44 tahun. Status kebersihan mulut (OHI-S) rata-rata pasien  baik laki-laki maupun perempuan termasuk dalam kategori sedang, sedangkan status kebersihan mulut (OHI-S) rata-rata berdasarkan kelompok usia semuanya juga termasuk kategori sedang. Saran penulis, pemerintah hendaknya lebih memerhatikan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat, melalui berbagai program peningkatan  pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas. Kata kunci: Status Kebersihan Mulut, Indeks Kebersihan Mulut, Indeks Debris, IndeksKalkulus
Pengaruh nilai intelligence quotient (IQ) terhadap status karies gigi siswa di SMA Binsus Manado Kukus, Jessica B. K.; Ticoalu, Shane H. R.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11061

Abstract

Abstract: Health is the most important thing for human, as well as the oral health. Intelligence Quotient (IQ) is the ability to think in an abstract way, solving problems using verbal symbols and the ability to learn and adjust oneself with daily experience. Knowledge is so related to education where is expected that a person with high education where it is expected that a person with high education has wide scope of knowledge. This research was a descriptive research with cross sectional observational study. Sample were collected using purposive random sampling method with 82 from 455 students as samples. The results showed the average of DMF-T on students at SMA Binsus Manado was 2,91 and in the middle category according to WHO criteria. From this, the result of the Spearmen analysis shows that the relationship between IQ score and caries has a p value of 0,141. Hence, there is no relationship or influence of IQ score to the caries status in SMA Binsus Manado.Keywords: intelligence quotient, status cariesAbstrak: Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Demikian juga halnya dengan kesehatan gigi dan mulut. Intelligence Quotient (IQ) merupakan kemampuan berpikir secara abstrak, memecahkan masalah dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan kemampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling dengan jumlah subyek penelitian 82 dari 455 siswa. Hasil penelitian ini menujukkan rerata indeks DMF-T siswa SMA Binsus Manado sebesar 2,91 dan berdasarkan kriteria WHO berada pada kategori sedang. Dari hasil penelitian menunjukkan hasil analisis Spearmen tentang pengaruh nilai Intellegence Quotient (IQ) dengan status karies didapatkan p value 0, 141 (p<0,05). Jadi, tidak terdapat pengaruh nilai IQ terhadap status karies di SMA Binsus Manado.Kata kunci: intelligence quotient, status karies
GAMBARAN KERUSAKAN GIGI PENYANGGA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGAI LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Fernatubun, Cicilia A.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6452

Abstract

Abstract: Removable partial denture is inserted in the mouth after remained generally require maintenance. Most people who think that the problem of missing teeth in the oral cavity has been overcome with the use of dentures, but in fact the use of denture without maintenance of good oral health can lead to disrupted. Oral hygiene that is not maintained properly can result in an increase in plaque and caries and periodontal disease more. The aim of this study was to assess the damage abutment on the user partial dentures in Kota Batu village. This study is a descriptive study with cross sectional study. The sampling technique used purposive sampling with a sample size in this study of 81 patients. The data were collected with intra oral examinatio. The results of this study indicate damage to the gear elements that serve as a buffer in the form of caries and fractures by 59 damage and damage to the tissues supporting the teeth in the form of mobility of teeth, gingivitis, bleeding and periodontitis by 72 damage. In this study found the majority of respondents suffered damages in abutment with the most damage occurred on the elements of the teeth that serve as the backbone is in the form of caries damage and damage most of the tissues supporting the abutment is damage in the form of gingivitis. Keywords: removable partial dentures, tooth decay bufferAbstrak: Gigi Tiruan Sebagian Lepasan setelah dipasang dalam mulut pada umumnya tetap memerlukan pemeliharaan. Kebanyakan individu yang kehilangan gigi berpikir bahwa masalah pada rongga mulut sudah teratasi dengan pemakaian gigi tiruan, namun kenyataannya penggunaan gigi tiruan tanpa pemeliharaan yang baik dapat mengakibatkan kesehatan rongga mulut terganggu. Kebersihan mulut yang tidak dijaga dengan baik dapat mengakibatkan meningkatnya plak dan terjadi peningkatan karies dan penyakit periodontal lainnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran kerusakan gigi penyangga pada pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan di Kelurahan Batu Kota. Penelitian ini merupakan penelian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan sampel yang menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 81 orang. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan intra oral. Hasil penelitian ini menunjukkan kerusakan pada elemen gigi yang dijadikan sebagai penyangga berupa karies dan fraktur sebesar 59 kerusakan dan kerusakan pada jaringan pendukung gigi berupa mobilitas gigi, gingivitis, perdarahan dan periodontitis sebesar 72 kerusakan. Pada penelitian ini ditemukan sebagian besar responden mengalami kerusakan pada gigi penyangga kerusakan yang paling banyak terjadi pada elemen gigi geligi yang dijadikan sebagai penyangga ialah kerusakan berupa karies dan kerusakan terbanyak pada jaringan penunjang gigi penyangga ialah kerusakan berupa gingivitis. Kata kunci: gigi tiruan sebagian lepasan, kerusakan gigi penyangga
GAMBARAN KELUHAN DI RONGGA MULUT PADA PENGGUNA OBAT ANTIHIPERTENSI DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT TINGKAT III ROBERT WOLTER MONGISIDI MANADO Tambuwun, Priscilia G. J.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8761

Abstract

Abstract: Hypertension is a condition with an increased blood pressure above normal. Treatment of hypertension is proved to be very effective and widely available but some side effects inter alia in the oral cavity cannot be avoided. This study aimed to obtain the oral complaints of hypertensive outpatients at the Internal Department of Robert Wolter Mongisidi Hospital Manado. This was a descriptive cross sectional study. The results showed that of the 30 respondents there were more females (60%) than males (40%). The most frequent age group was 56-60 years (20% males and 26,6% females), and the most frequent antihypertensive agent was amlodipine (80%). The oral complaints were as follows: xerostomia (80%), swollen gums (16,67%), and stomatitis aphtous recurrent (3,33%).Keywords: hypertension, antihypertensive agents, oral complaints.Abstrak: Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah di atas normal. Pengobatan hipertensi terbukti sangat efektif dan tersedia luas, namun beberapa efek samping akibat penggunaan obat hipertensi antara lain pada rongga mulut tidak dapat dihindari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan di rongga mulut pengguna obat antihipertensi rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan dessain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 30 orang. Hasil penelitian memperlihatkan jenis kelamin perempuan (60%) lebih banyak dari laki-laki (40%); usia responden terbanyak 56-60 tahun (46,67%); dan obat antihipertensi yang tersering digunakan ialah amlodipine (80%). Keluhan rongga mulut yang dialami responden ialah xerostomia (80%), gingiva bengkak (16,7%), dan sariawan (3,3%).Kata kunci: hipertensi, obat antihipertensi, keluhan rongga mulut
Perbandingan efektivitas dental health education metode ceramah dan metode permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak Puspitaningtiyas, Retno; Leman, Michael A.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15523

Abstract

Abstract: Indonesia has a prevalence of oral health problems which is continuously increasing, mostly among children. The two dominating diseases namely dental caries and periodontal disease. Factor that influences both diseases is behavior. Intervention through education with the use of appropriate methods and media can improve children’s knowledge. This study was aimed to compare the effectiveness of dental health education (DHE) using lecture method and simulation game in increasing the knowledge of oral health of children. This was a quasi experimental study with a non-equivalent control group design. Respondents were students of SDN Mantelagheng aged 10-12 years old as many as 56 students obtained by using total sampling method. Respondents were divided into two groups: lecture and simulation game, each of 27 students. The results showed that the DHE in lecture and simulation game groups could significantly increase the children’s knowledge about oral health (p=0.000). The Mann-Whitney test showed a significant difference in effectiveness between the two groups (p=0.000). The average value of the lecture group was 16.52 meanwhile of the simulation group 38.48. Conclusion: Simulation game method was more effective to improve the oral health knowledge of children than the lecture method.Keywords: dental health education, knowledgeAbstrak: Indonesia memiliki prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut yang terus meningkat, dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Dua penyakit yang mendominasi, yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Faktor yang berpengaruh pada kedua penyakit ini yaitu perilaku. Intervensi melalui pendidikan dengan penggunaan metode dan media yang tepat, dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas dental health education (DHE) metode ceramah dan permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak. Jenis penelitian ialah quasi experimental dengan rancangan non equivalent control group. populasi penelitian yaitu siswa SDN Mantelagheng yang berusia 10-12 tahun. Terdapat 56 siswa sebagai responden, diperoleh dengan metode total sampling,dibagi dalam dua kelompok yakni ceramah dan permainan simulasi masing-masing 27 responden. Hasil penelitian menunjukkan DHE pada kelompok ceramah dan permainan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut masing-masing mendapatkan p=0,000. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbandingan bermakna antara efektivitas kedua kelompok (p=0,000), dengan nilai rerata kelompok ceramah 16,52 dan kelompok permainan simulasi 38,48. Simpulan: Metode permainan simulasi lebih efektif terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak dibandingkan dengan metode ceramah.Kata kunci: dental health education, pengetahuan
Uji efek antibakteri tinta cumi-cumi (Loligo sp.) terhadap bakteri saluran akar gigi Tairas, Jean
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3220

Abstract

Nekrosis pulpa merupakan kematian pulpa, dapat sebagian atau seluruhnya, yang disebabkan oleh proses lanjutan dari radang pulpa ataupun akibat trauma. Salah satu penanganan nekrosis pulpa yakni perawatan endodontik. Mikroorganisme yang tersisa setelah preparasi maupun setelah pengisian saluran akar merupakan penyebab utama kegagalan perawatan endodontik. Tinta cumi-cumi (Loligo sp.) berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya efek antibakteri tinta cumi-cumi terhadap bakteri saluran akar gigi. Penelitian ini ialah penelitian eksperimental laboratoris yang menggunakan modifikasi metode Kirby-Bauer, difusi sumur. Isolat bakteri diisolasi dari spesimen saluran akar gigi nekrosis pulpa, ditanam dalam BHA untuk mendapatkan koloni. Tiga koloni yang ditemukan diuji dengan tinta cumi-cumi fraksi etil asetat dan fraksi larut air. Hasil penelitian menunjukkan adanya daerah hambat bakteri uji pada fraksi etil asetat tinta cumi-cumi. Di lain pihak, tidak adanya daerah hambat bakteri pada fraksi larut air, menginformasikan keberadaan senyawa antibakteri merupakan senyawa non-polar. Pada pengujian laboratorium menunjukkan kedua isolat teridentifikasi sebagai Streptococcus pyogenes. Dari penelitian ini dapat disimpulkan fraksi etil asetat tinta cumi-cumi (Loligo sp.) memiliki efek antibakteri terhadap bakteri saluran akar gigi. Kata kunci : bakteri saluran akar gigi, Streptococcus sp., tinta cumi-cumi, Loligo sp., efek antibakteriABSTRACTPulp necrosis is the death of the dental pulp, partially or completely, which is caused by the continued process of pulp inflammation or trauma. The treatment of pulp necrosis is endodontic therapy. Microorganisms that is remaining after preparation and after root canal filling is a major cause of endodontic treatment failure. Squid ink (Loligo sp.) has efficacy as an antibacterial. The purpose of this study was to determine the antibacterial effect of squid ink against the bacteria in dental root canal. This study was an experimental laboratory research using Kirby-Bauer agar well diffusion method with modification. The squid ink was separated using solvent into ethyl acetate phase and aqueous phase by separatory funnel. Bacterias were isolated from pulp necrosis specimens, planted in BHA medium to obtained the bacteria colonies. Three isolates that were found, was tested with squid ink from ethyl acetate phase and water dissolved squid ink.The result of this study showed the inhibition zone exist in squid ink from ethyl acetate phase against the three isolates. On the other hand, the absence of inhibition zone in water dissolved squid ink was informed that the antibacterial compound are non-polar compound. Laboratory test showed the two isolates were identified as Streptococcus pyogenes. This study concluded that the ethyl acetate phase of squid ink (Loligo sp.) has an antibacterial effect against dental root canal bacteria. Keywords : dental root canal bacteria, Streptococcus sp., squid ink, Loligo sp., antibacterial effect
EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK L., Shinta Sartika; Kawengian, Shirley E. S.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9834

Abstract

Abstract: Tea is a kind of beverage which is consumed by many people. Tea has a wide range of beneficial properties to our health. Green tea catechins has an active component that can reduce the formation of Streptococcus mutans as a component of the formation of dental plaque. This study aimed to determine the effectiveness of rinsing with water steeping green tea in reducing plaque accumulation. This was an experimental study using pretest and posttest design. This study was conducted in Dental Study Program Sam Ratulangi University. There were a total of 50 samples. The results showed that the average value of the initial index plaque of the samples was 4.829; of day 1 was 4.140; of day 2 was 3.674; of day 3 was 3.200; of day 4 was 2.524; of day 5 was 1.895; of day 6 was 1.477; and of day 7 was 1.078. The Wilcoxon test showed a p value <0.05, which meant that there was a significant difference between plaque index before rinsing water steeping with green tea and plaque index after the rinse water steeping green tea. Conclusion: Rinsing with green tea was effective in decreasing dental plaque index.Keywords: green tea, dental plaque indexAbstrak: Teh merupakan minuman yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat. Teh memiliki berbagai macam khasiat bagi kesehatan. Teh hijau memiliki komponen aktif yaitu katekin yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai salah satu komponen pembentukan plak gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas berkumur dengan air seduhan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak. Metode penelitian yang digunakan ialah rancangan eksperimental dengan pretest dan posttest design. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Manado dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks awal plak pada sampel mempunyai nilai rerata 4,829; hari 1 sebesar 4,140; hari 2 sebesar 3,674; hari 3 sebesar 3,200; hari 4 sebesar 2,524; hari 5 sebesar 1,895; hari 6 sebesar 1,477; dan hari 7 sebesar 1,078. Hasil uji analisis statistik Wilcoxon menunjukkan p<0,05, yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara indeks plak sebelum dan setelah berkumur air seduhan teh hijau. Simpulan: Berkumur air seduhan teh hijau efektif terhadap penurunan indeks plak gigi.Kata kunci: teh hijau, indeks plak gigi
Perubahan Warna Resin Komposit pada Perendaman Larutan Cuka (Asam Asetat) dan Jeruk Nipis (Citrus arantifolia) Makasenda, Evica F.L; Wicaksono, Dinar A.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20149

Abstract

Abstract: In this globalization era, Indonesian people especially in Sulawesi Utara are aware of oral health. Their awareness is related to oral diseases as well as aesthetics. Good aesthetics can be achieved by using several methods inter alia composite resin restoration. However, this composite resin undergoes discoloration in the mouth. To overcome the discoloration of the composite resin, alternative materials like acetic acid and lime that can remove the colored substances adhered on the composite resin are introduced. This study was aimed to determine the discoloration of composite resin immersed in acetic solution and in fresh lime juice. This was a true experimental study with a pretest and posttest group design. This study was conducted in 5 days. Daily observation at the same time was perormed by using spectrophotometer to all samples. Data were processed with Microsoft excel and presented in tables. The results showed that based on the spectrophotometer measurement, the composite resins’ color immersed in carbonate solution changed (became brighter) after immersion in acetic solution (from 0.72 to 1.52) and in lime juice (from 0.68 to 1.48). Conclusion: The color of discolored composite resins immersed in acetic acid solution and fresh lime juice became brighter.Keywords: composite resin, discoloration, acetic solution, lime. Abstrak: Pada era globalisasi saat ini, masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi Utara mulai sadar akan kesehatan gigi dan mulut. Kesadaran masyarakat tersebut tidak hanya mengenai penyakit gigi dan mulut, melainkan juga masalah estetik gigi. Estetik yang baik dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya tindakan penumpatan dengan menggunakan resin komposit. Resin komposit memiliki kecenderungan berubah warna pada saat digunakan di rongga mulut. Perubahan warna menjadi penyebab diperlukannya penggantian bahan tumpatan (resin komposit). Untuk menghemat biaya terdapat alternatif lain seperti asam cuka (asam asetat) dan jeruk nipis yang dapat mengangkat zat-zat warna yang menempel pada resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan cuka dan perasan jeruk nipis. Jenis penelitian ialah eksperimental semu dengan pretest and posttest group design. Penelitian dilakukan selama 5 hari dan dilakukan pengamatan setiap harinya pada jam yang sama dengan menggunakan alat spektrofotometer untuk sampel larutan cuka dan sampel jeruk nipis. Data hasil penelitian diolah menggunakan program komputer microsoft excel dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan warna resin komposit yang direndam dalam larutan karbonasi selanjutnya direndam dalam larutan cuka dari 0,72 menjadi 1,52 dan dalam jeruk nipis dari 0,68 menjadi 1,48. Simpulan: Terdapat perubahan warna lebih cerah pada resin komposit yang direndam pada larutan cuka dan jeruk nipis.Kata kunci: Resin komposit, perubahan warna, larutan cuka, jeruk nipis