cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Kebersihan Gigi Mulut dan Kejadian Gingivitis pada Anak Sekolah Dasar Pontoluli, Zefanya G.; Khoman, Johanna A.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32366

Abstract

Abstract: Poor oral hygiene could cause a variety of diseases in the oral cavity. Oral diseases can occur in various age groups, including children. World Health Organization survey showed that 90% of the world population suffer from gingivitis; 80% of them are children under 12 years of age. Gingivitis is an early stage of periodontal disease in the form of gingival inflammation due to poor oral dental hygiene. Therefore, biofilms are accumulated on the plaques along the gingival margins. This study was aimed to determine the oral dental hygiene and the incidence of gingivitis in elementary school children. This was a literature review study using three databases, namely: Google Scholar, PubMed, and Digital Reference Garba. The results obtained nine journals that were relevant to the topic of discussion. Moreover, oral dental hygiene was influenced by knowledge of oral dental health and oral dental hygiene maintenance behavior such as tooth brushing and diet. The incidence of gingivitis among elementary school children ranged from 74.4% to 91.94%. In conclusion, oral hygiene status of elementary school children was in the medium category and the incidence of gingivitis among them was high.Keywords: oral hygiene, incidence of gingivitis, elementary school children Abstrak: Kebersihan gigi mulut yang kurang dapat menyebabkan berbagai masalah dalam rongga mulut. Penyakit gigi mulut dapat dialami oleh semua kelompok usia, tidak terkecuali pada anak. Hasil survei World Health Organization menumjukkan 90% penduduk di dunia menderita penyakit gingivitis dan 80% di antaranya merupakan anak usia di bawah 12 tahun. Gingivitis merupakan tahap awal penyakit periodontal berupa peradangan pada gingiva yang disebabkan oleh kebersihan gigi mulut yang buruk sehingga terjadi akumulasi biofilm pada plak di sepanjang margin gingiva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebersihan gigi mulut dan kejadian gingivitis pada anak sekolah dasar. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Garba Rujukan Digital. Hasil penelitian mendapatkan sembilan jurnal yang relevan dengan topik bahasan. Kkebersihan gigi mulut dipengaruhi oleh pengetahuan kesehatan gigi mulut dan perilaku pemeliharaan kebersihan gigi mulut seperti menyikat gigi dan pola makan. Distribusi kejadian gingivitis pada anak sekolah dasar antara 74,4%-91,94%. Simpulan penelitian ini ialah status kebersihan gigi mulut anak sekolah dasar termasuk dalam kategori sedang dan angka kejadian gingivitis pada anak sekolah dasar tergolong tinggi.Kata kunci: kebersihan gigi mulut, kejadian gingivitis, anak sekolah dasar
Pengaruh Perendaman Kopi Robusta dan Arabika terhadap Kekerasan Resin Komposit Nanofiller Pardosi, Fransiska M.; Indraswari, Darmawati A.; Batubara, Lusiana; Hardini, Nadia
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32668

Abstract

Abstract: Nanofiller composite resin has small filler size which enhances its properties. However, these properties could decrease due to several factors. Acidic liquid such as coffee could reduce the hardness of composite resin. This study was aimed to analyze the effect of robusta and arabica coffee immersion on the hardness of nanofiller composite resin. A total of 27 composite resin samples were used and then were polished by using a soflex disc for 30 seconds on each roughness level. Samples were then divided into three groups, as follows: the control group with artificial saliva and the treatment groups with robusta coffee and arabica coffee. The composite resin molds were immersed in the three groups for 5 days. After five days of immersion, the hardness of the sample was tested by using a Vickers hardness tester. Artificial saliva as the control group had the highest mean hardness value of 112.98±8.67 VHN, followed by robusta coffee, and then by arabica coffee. The One Way Anova and post hoc LSD test showed that there were significant differences in all groups (p<0.05) except for the two treatment groups, namely robusta and arabica coffee groups which did not show any significant difference in the resin hardness (p>0.05). In conclusion, robusta and arabica coffee affect the hardness of the nanofiller composite resin, but there is no significant difference in the hardness between the robusta and arabica coffee groups.Keywords: composite resin hardness, nanofiller, robusta coffee, arabica coffee Abstrak: Resin komposit nanofiller memiliki ukuran filler kecil yang dapat meningkatkan fungsinya namun fungsi tersebut dapat menurun oleh beberapa hal. Cairan asam yang dikonsumsi seperti kopi dapat menurunkan kekerasan resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman kopi robusta dan arabika terhadap kekerasan resin komposit nanofiller. Sampel resin komposit yang digunakan sebanyak 27 buah dan dilanjutkan dengan pemolesan menggunakan soflex disc selama 30 detik setiap tingkat kekasarannya. Sampel kemudian dibagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol dengan saliva buatan dan dua kelompok perlakuan dengan kopi robusta dan arabika. Sebanyak 27 buah resin komposit direndam ke dalam tiga kelompok tersebut selama lima hari kemudian diuji kekerasannya dengan vickers hardness tester. Saliva buatan sebagai kelompok kontrol memiliki nilai rerata kekerasan tertinggi sebesar 112,98±8,67 VHN, diikuti kopi robusta, dan nilai terendah yaitu kopi arabika. Hasil uji One Way Anova dan post hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada semua kelompok (p<0,05) kecuali pada kedua kelompok perlakuan yaitu antara kopi robusta dan arabika tidak menunjukkan adanya perbedaan kekerasan yang bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah kopi robusta dan arabika memengaruhi kekerasan resin komposit nanofiller namun tidak terdapat perbedaan kekerasan antara keduanya.Kata kunci: kekerasan resin komposit, nanofiller, kopi robusta, kopi arabika
Penatalaksanaan Karies Rampan dengan Evaluasi Menggunakan Kariogram: Laporan Kasus pada Anak dengan Self-Mutilation Purbaningrum, Diah A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32606

Abstract

Abstract: To date, rampant caries has still a high prevalence. Evaluation of caries can be carried out comprehensively in patients with rampant caries by using a cariogram which can describe the causes and risks of caries. We reported a case of a girl aged 4 years, complaining of swelling of the back part of her lower gum. The patient was diagnosed as self-mutilation by a pediatrician. There were some scars in her left forefinger and wrist. Moreover, her teeth 51, 61, 72, 71, and 81 were loose. Clinical examination revealed poor oral hygiene, abscesses in the teeth 74 and 75, and many dental caries as well as tooth radixes. The patients had bottle feeding until the age of 3 years. Cariogram was performed at the first visit, followed by dental health education (DHE) and topical application of fluoride. Cariogram evaluation was carried out at the first visit, the 3rd month, and the 6th month, resulting in 15%, 19%, and 35% in prediction of preventing new caries, respectively. The patient was treated with cariogram follow-up, total care with block system, DHE, and topical application of fluoride. In this case, there was an increased prediction of caries prevention, and a decreased caries risk factors including diet and bacteria.Keywords: rampant caries, cariogram, caries management  Abstrak: Sampai saat ini karies rampan masih memiliki prevalensi yang tinggi. Penilaian karies dilakukan secara komprehensif pada pasien dengan karies rampan dengan menggunakan kariogram yang dapat menggambarkan penyebab dan urutan risiko karies. Kami melaporkan kasus seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan keluhan gusi belakang kiri bawah bengkak. Pasien didiagnosis oleh dokter spesialis anak menderita self mutilation. Terdapat bekas luka pada jari telunjuk kiri, pergelangan tangan, dan gigi 51, 61, 72, 71, 81 sudah tanggal. Pemeriksaan klinis menunjukkan oral hygene buruk dengan abses pada gigi 74 dan 75, banyak terdapat karies dan radiks. Pasien memiliki kebiasaan minum susu botol dengan dot sampai usia 3 tahun. Kariogram dilakukan pada kunjungan awal, diikuti edukasi kesehatan gigi dan mulut (DHE) dan pemberian topikal aplikasi fluor (TAF). Evaluasi dengan menggunakan kariogram dilakukan pada awal kunjungan, bulan ketiga dan bulan keenam dengan hasil kemungkinan menghindari karies baru sebesar 15%, 19% dan 35% secara berturut. Penatalaksanaan kasus ini ialah dengan follow-up  kariogram, total care dengan sistem blok, DHE, dan TAF. Pada kasus ini terjadi peningkatan kemungkinan menghindari karies baru yang cukup tinggi dan terjadi penurunan besarnya faktor risiko karies pada faktor pola diet dan bakteri.Kata kunci: karies rampan, kariogram, penatalakasanaan
Perawatan Kuretase Gingiva pada Gigi Premolar Kiri Rahang Atas: Laporan Kasus Khoman, Johanna A.; Singal, Gabriella A.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.31464

Abstract

Abstract: Periodontal disease has still a high prevalence in the community. It occurs due to the accumulation of plaque or calculus on the tooth surface. The plaque, a thin layer of biofilm, contains a collection of pathogenic microorganisms that cause periodontal tissue and bone disease. The initial treatment of periodontal disease is to eliminate the etiological factors, namely scaling, root planning, and curettage. Curettage is a mechanical cleaning action in periodontitis therapy to remove inflammatory tissue, calculus, and bacterial colonies. This study was aimed to discuss the management of gingival curettage treatment in a 26-year-old female patient who had gingivitis with a 4 mm deep periodontal pocket in her maxillar left premolar, treated with scaling and gingival curettage. Clinical further examination after treatment revealed that the gingiva looked normal without any swelling, and the pocket depth had decreased by about 2 mm.Keywords: periodontal disease, periodontal pocket, gingival curettage Abstrak: Prevalensi penyakit periodontal masih cukup tinggi di masyarakat. Penyakit periodontal diawali ketika plak atau kalkulus terakumulasi pada permukaan gigi. Plak merupakan lapisan tipis biofilm berisi kumpulan mikroorganisme patogen yang menyebabkan kerusakan jaringan periodontal dan tulang. Perawatan awal pada penyakit periodontal ialah dengan menghilangkan faktor etiologi yaitu dengan scalling, root planning, dan kuretase. Kuretase merupakan tindakan pembersihan secara mekanis dalam terapi periodontitis untuk menghilangkan jaringan inflamasi, kalkulus, dan koloni bakteri. Studi ini bertujuan untuk membahas tentang penatalaksanaan perawatan kuretase gingiva pada seorang pasien perempuan berusia 26 tahun yang mengalami gingivitis dengan poket periodontal sedalam 4 mm pada gigi premolar sebelah kiri rahang atas, yang kemudian dilakukan perawatan scalling dan kuretase gingiva. Hasil pemeriksaan klinis perawatan mendapatkan gingiva sudah tampak normal, tidak ada pembengkakan seperti kondisi sebelum kuretase dan kedalaman poket telah berkurang sekitar 2 mm.Kata kunci: penyakit periodontal, poket periodontal, kuretase gingiva
Aplikasi Metode Third Molar Maturity Index pada Kelompok Usia Remaja Prabowo, Yoghi B.; Ermanto, Haliza; Skripsa, Tira H.; Limijadi, Edward K. S.; Boedi, Rizky M.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.30541

Abstract

Abstract: Up to now, there are still residents of Indonesia who do not have legal documents supporting age information. Hence, proving the age of a person concerning some reasons becomes difficult. Third molar development could be used as an indicator to estimate the age in adolescents if legal documents are not available. This study was aimed to prove the difference in the development of third molars between individuals aged above and below 19 years using the third molar maturity index (I3M) method. Third molar development calculations were performed on 112 digital OPG photographs (71 females and 41 males) of patients aged 16- <24 years. Samples were divided into two age groups, namely <19 years and ≥19 years. We performed comparison tests to analyze the differences between groups and genders against I3M. The results showed significant differences between the development of third molars in individuals aged above and below 19 years according to I3M values. Meanwhile, there was no significant differences in I3M values between males and females. Males experienced faster third molar development than females in the age group <19 years. In conclusion, the I3M method can be used to differentiate the development of third molars in individuals aged above and below 19 years. Further research could be carried out by using a larger number of samples and setting a threshold of I3M for the age of 19 among Indonesian population.Keywords: dental age estimation, third molar, I3M method Abstrak: Pada saat ini, masih ada penduduk Indonesia yang tidak memiliki dokumen legal pendukung informasi usia sehingga terdapat kesulitan dalam membuktikan usia seseorang untuk berbagai kebutuhan. Pertumbuhan molar ketiga dapat digunakan sebagai indikator untuk melakukan estimasi usia pada remaja bila dokumen legal tidak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan perbedaan pertumbuhan molar ketiga pada individu berusia di atas dan di bawah 19 tahun dengan metode third molar maturity index (I3M). Perhitungan pertumbuhan molar ketiga dilakukan pada 112 foto OPG digital (71 wanita dan 41 pria) dari pasien berusia 16- <24 tahun. Sampel dibagi menjadi dua kelompok usia, yaitu <19 tahun dan ≥19 tahun. Uji beda dilakukan untuk menganalisis perbedaan antar kelompok dan jenis kelamin terhadap I3M. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan bermakna antara pertumbuhan molar ketiga pada individu berusia di atas dan di bawah 19 tahun. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada nilai I3M pada pria dan wanita. Pria ditemukan mengalami pertumbuhan molar ketiga yang lebih cepat dari wanita pada kelompok usia <19 tahun. Simpulan penelitian ini ialah metode I3M dapat digunakan untuk membedakan pertumbuhan molar ketiga pada individu berusia di atas dan di bawah 19 tahun. Disarankan penelitian lanjut dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan dilakukan penetapan batas ambang I3M untuk usia 19 tahun pada populasi Indonesia.Kata kunci: estimasi usia dental, molar ketiga, metode I3M
Hubungan Motivasi Perawatan Gigi Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Gigi (Oral Health Related Quality of Life - OHRQol) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Zuhriza, Ramadhika A.; Wulandari, Diah R.; Skripsa, Tira H.; Prabowo, Yoghi B.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.33890

Abstract

Abstract: The high number of dental and oral health problems is caused by lack of individual motivation to perform routine dental care, as seen from the number of people who receive treatment from the dentist is only 8.7%. Serious oral health problems can lead to a decrease in the quality of life as well as work and study activities of an individual. This study was aimed to analyze the relationship between dental treatment motivation and Oral Health Related Quality of Life (OHRQoL) in students of the Faculty of Medicine, Diponegoro University. This was a descriptive and analytical study with a cross sectional design. Samples were choosen by using the cluster random sampling method. Data were analyzed by using the Spearman’s rank correlation test. The results showed that the students had high motivation for dental treatment. Moreover, the students had good OHRQoL conditions, with the worse score on the dimensions of psychological discomfort, physical disability, social disability, and physical pain. The Spearman’s rank correlation test obtained an r-value of 0.190 and a p-value of 0.020 for the relationship between dental treatment motivation and OHRQoL. In conclusion, there was a significant relationship between dental care motivation and OHRQoL in students of the Faculty of Medicine, Diponegoro University. The higher the dental treatment motivation, the better the quality of life is.Keywords: motivation; dental treatment; OHRQoL; quality of life; OHIP-14 Abstrak: Tingginya angka masalah kesehatan gigi dan mulut disebabkan oleh kurangnya motivasi individu untuk melakukan perawatan gigi secara rutin yang terlihat dari jumlah penduduk yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi hanya 8,7%. Masalah kesehatan yang ditemukan pada rongga mulut dan bersifat serius dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas hidup individu serta aktivitas kerja dan belajar menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara motivasi perawatan gigi terhadap kualitas hidup terkait kesehatan gigi (Oral Health Related Quality of Life - OHRQoL) mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian dipilih dengan metode cluster random sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s rank. Hasil penelitian menunjukkan para mahasiswa memiliki motivasi perawatan gigi yang tinggi. Mahasiswa memiliki kondisi OHRQoL baik, dengan skor buruk pada dimensi ketidaknyaman psikis, disabilitas fisik, disabilitas sosial, dan rasa sakit fisik. Hasil analisis uji korelasi Spearman’s rank memperoleh nilai r = 0,190 dan nilai p = 0,020 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara motivasi perawatan gigi dengan OHRQoL. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara motivasi perawatan gigi dengan OHRQoL pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semakin tinggi motivasi perawatan gigi maka semakin baik kualitas hidup.Kata kunci: motivasi; perawatan gigi; OHRQoL; kualitas hidup; OHIP-14
Perawatan Kuretase Gingiva Gigi Anterior pada Periodontitis: Laporan Kasus Khoman, Johanna A.; Minanga, Miranti A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32932

Abstract

Abstract: In general, periodontal disease is caused by bacterial plaque on the tooth surface.  Bacterial elimination by curettage will reduce periodontal inflammation. This case report was aimed to review the immune response to chronic periodontitis as well as case management with curettage. We reported a 22-year-old female patient came to the Dental and Oral Hospital of University of Sam Ratulangi (Unsrat) with complaints of swollen front gum, frequent gum bleeding, and gum bleeding during tooth brushing. The gum bleeding had occurred since 6 months ago. Tartar cleaning was performed on her three weeks ago. Based on anamnesis, the patient did not suffer from any systemic disease. Intraoral examination revealed that there were reddish gingiva, swelling in region I, II, III, and IV, and probing depth of teeth 21-25 with a mean of 4 mm. Oral Hygiene Index measurement obtained a value of 1.7 (medium category). This case was diagnosed as chronic periodontitis. The treatment consisted of scaling, irrigation with NaCl solution and aquadest, root planing, gingival curettage, and periodontal pack application. At the first control (one week after gingival curettage), the patient did not complain of any pain on the curettage area, periodontal pack was loose. The objective examination still revealed redness, debris, and calculus, OHI-S: 0,8+0,3=1,1 (good category). The prognosis was good since the patient was cooperative, did not have any systemic disease, and had high motivation to maintain oral hygiene.Keywords: curettage, chronic peridontitis  Abstrak: Secara umum penyakit periodontal disebabkan oleh bakteri plak pada permukaan gigi. Eliminasi bakteri dengan kuretase akan menurunkan peradangan periodontal. Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan respon imun terhadap penyakit periodontitis kronis serta penatalaksanaan kasus dengan kuretase. Kami melaporkan kasus seorang pasien perempuan berusia 22 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dengan keluhan gusi bagian depan bengkak, gusi sering berdarah, dan perdarahan gusi saat menyikat gigi. Gusi berdarah sejak sekitar 6 bulan lalu dan pasien melakukan pembersihan karang gigi sekitar 3 minggu lalu. Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik. Pada pemeriksaan intraoral terdapat gingiva berwarna kemerahan dan pembengkakan di region I, II, III, IV, probing depthgigi 21-25 dengan rerata sebesar 4 mm. Hasil pengukuran Oral Hygiene Index(OHI) ialah 1,7 (kategori sedang). Diagnosis klinis kasus ini ialah periodontitis kronis. Tindakan yang dilakukan ialah scaling, irigasi dengan NaCl dan akuades, root planing, kuretase gingiva, dan pemasangan periodontal pek. Kontrol pertama dilakukan satu minggu pasca kuretase gingiva, dan pada pemeriksaan subjektif pasien tidak mengeluhkan rasa nyeri di daerah yang telah dilakukan kuretase gingiva, pek periodontal sudah terbuka malam hari pasca kuretase gingiva. Pemeriksaan objektif gingiva masih kemerahan, terdapat debris dan kalkulus, OHI-S: 0,8+0,3=1,1 (kategori baik). Prognosis baik karena pasien kooperatif, tidak memiliki riwayat penyakit sistemik, dan memiliki motivasi yang tinggi untuk menjaga kebersihan rongga mulut.Kata kunci: kuretase; peridontitis kronis
Gambaran Perilaku Masyarakat dan Keputusan Tidak Menggunakan Gigi Tiruan Lepasan Kaida, Dita C.; Mintjelungan, Christy N.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32367

Abstract

Abstract: Teeth play an important role in chewing process, speech function, and as an aesthetics for the formation of facial profiles. Problems that often occur in dental and oral health, such as caries which causes tooth decay, therefore, extraction is needed. The solution to tooth loss is to use dentures, however, not everyone wants to do that.  There are factors that influence a person's condition in taking action, namely behavior. Health behavior is everything related to one's actions in maintaining and improving one's health. A person's decision to use or not use dentures is influenced by economic factors, knowledge, time, and experience.Thi study was aimed to obtain the community behavior related to the decision not to use removable dentures. This was a literature study using two databases, namely Google Scholar and Digital Reference Garba. Data were analyzed by using a cross sectional study design. The results showed that the community behavior was categorized as good. The community's decision not to use removable dentures was influenced by several factors, namely economy status, knowledge, time, and experience. In conclusion, although the community behavior was categorized as good, there were still many of them who lost their teeth but did not replace their missing teeth with artificial teeth due to a variety of factors.Keywords: behaviour, removable denture Abstrak: Gigi berperan penting dalam membantu proses pengunyahan, fungsi bicara, dan sebagai estetika pembentukan profil wajah. Masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies menyebabkan rusaknya gigi sehingga perlu pencabutan. Prevalensi penggunaan gigi tiruan tidak sebanding dengan prevalensi kehilangan gigi di masyarakat. Terdapat faktor yang memengaruhi keadaan seseorang dalam melakukan tindakan yaitu perilaku. Pengambilan keputusan seseorang untuk menggunakan atau tidak menggunakan gigi tiruan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi, pengetahuan, waktu, dan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan lepasan. Jenis penelitian ialah literatur reviewe, dengan sumber data diperoleh dari dua database yaitu Google Scholar dan Garba Rujukan Digital kemudian dianalisis dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masih banyak masyarakat yang kehilangan gigi tetapi tidak menggantikan gigi yang hilang dengan gigi tiruan. Gambaran perilaku masayarakat dikategorikan baik dan untuk keputusan masyarakat tidak menggunakan gigi tiruan lepasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi, pengetahuan, waktu dan pengalaman. Simpulan penelitian ini ialah walaupun gambaran perilaku masayarakat dikategorikan baik namun masih banyak masyarakat kehilangan gigi tetapi tidak menggantikan gigi yang hilang dengan gigi tiruan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.Kata kunci: perilaku, gigi tiruan lepasan
Leukoedema pada Perokok Mambu, Priska T.; Suling, Pieter L.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29904

Abstract

Abstract: Smokers can be found in almost all groups of people worldwide since cigarettes can be obtained easily anywhere and have been addicted by adult smokers. Leukoedema is one of the lesions in oral cavity that most often appears in smokers. This study was aimed to obtain the description of leukoedema cases among smokers. This was a literature review study. This study used previous studies or reports related to leukoedema in smokers. There were 13 literatures in this study consisting of 9 cross-sectional studies, 3 cohort studies, and 1 case control study. The results showed that leukoedema lesions were more common in smokers than in those who consumed tobacco. Leukoedema was closely related to the duration of smoking and the frequency of smoking in a day. Leukoedema was also more common in men than in women, and was often found bilaterally on the buccal mucosa. In conclusion, leucoedema was most common in cigarette smokers and was related to duration of smoking, frequency of smoking per day, and sex. It was often found bilaterally on the buccal mucosa.Keywords: smokers, leukoedema Abstrak: Perokok ditemukan pada hampir semua kelompok masyarakat di dunia. Leukoedema merupakan salah satu lesi dalam rongga mulut yang paling sering muncul pada perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran leukoedema pada perokok. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Penelitian ini menggunakan topik terkait leukoedema pada perokok dari penelitian-penelitian sebelumnya. Pustaka yang diulas dan dipelajari dalam penelitian ini sebanyak 13 pustaka, terdiri dari 9 cross-sectional study, 3 cohort study, dan 1 case control study. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa lesi leukoedema lebih sering ditemukan pada perokok dibandingkan yang tidak merokok meskipun mengonsumsi tembakau. Leukoedema erat hubungannya dengan lama kebiasaan merokok dan frekuensi merokok yang dilakukan dalam sehari. Leukoedema juga lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, dan sering ditemukan pada mukosa bukal secara bilateral. Simpulan penelitian ini ialah leukoedema sering didapatkan pada perokok dan berhubungan erat dengan kebiasaan merokok, frekuensi merokok, jenis kelamin, dengan lokasi mukosa bukal bilateral.Kata kunci: perokok, leukoedema
Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi Mulut Siswa SD Dengan dan Tanpa Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Gerung, Ayumi Y.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.32958

Abstract

Abstract: Behavior is the second major factor that affects the health status of an individual or society. Good behavior in maintaining oral hygiene will have a positive impact on the status of children’s oral health. One of the efforts to reduce the number of caries is through the Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) program. This study was aimed to obtain the oral health care behavior of elementary school students with UKGS and without UKGS. This was a literature review study. There were four relevant literatures with related topics obtained from different databases, as follows: Google Scholar, PubMed, and Garba Rujukan Digital. The results showed that the UKGS program was effective in increasing the status of students’ oral health. Besides education about oral health at schools, parents and the media played some important roles in providing information of oral care. In conclusion, oral health care behavior of elementary school students with and without UKGS were in good category as long as teachers, parents, and internet media as well as print media were involved.Keywords: behavior; oral health; Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)  Abstrak: Perilaku merupakan faktor kedua terbesar yang berpengaruh terhadap status kese-hatan individu atau masyarakat. Perilaku yang baik dalam pemeliharaan kebersihan mulut akan berdampak positif pada derajat kesehatan gigi mulut anak. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka karies yaitu melalui program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kesehatan gigi mulut siswa SD dengan UKGS dan tanpa UKGS. Jenis penelitian ialah literature review. Terdapat empat pustaka yang relevan dengan topik terkait. Pustaka dalam penelitian didapat dari database Google Scholar, PubMed, dan Garba Rujukan Digital. Hasil penelitian menunjukkan program UKGS efektif dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi mulut siswa. Pendidikan tentang kesehatan gigi mulut tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi orang tua dan media berperan penting dalam memberikan informasi tentang pemeliharaan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah perilaku pemeliharaan kesehatan gigi mulut siswa SD dengan UKGS dan tanpa UKGS keduanya dalam kategori baik sepanjang adanya keterlibatan guru, orang tua, dan media internet maupun cetak.Kata kunci: perilaku; kesehatan gigi mulut; Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)