cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Pengaruh pH dan Suhu terhadap Aktivitas Pereduksi Merkuri Bakteri Resisten Merkuri Tinggi Bacillus cereus yang Diisolasi dari Urin Pasien dengan Amalgam Gigi Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi; Fatimawali, .
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.28291

Abstract

Abstract: Mercury is a very toxic compound to humans, therefore, a method to overcome its presence in the environment is required. Detoxification of mercury can be done by using mercury resistant bacteria. Mercury-resistant bacteria Bacillus cereus isolate FUA have been obtained from the urine of patients with dental mercury amalgam. This study was aimed to determine the mercury detoxification activity of Bacillus cereus isolate FUA at varying pH medium and incubation temperature. The study was carried out by growing Bacillus cereus isolate FUA on oblique media, then were planted in the growth media of LB broth containing mercury compounds of 10 ppm HgCl2 with varying pHs of 5, 7, and 9 and incubation temperatures of 15, 25 and 35oC. The amount of bacterial growth was analyzed by using spectrophotometer and mercury levels were analyzed by using CV-AAS method. The results showed that the growth and mercury reducing activity of Bacillus cereus isolate FUA were optimum at pH 7 and incubation temperature of 35oC. In conclusion, the growth of Bacillus cereus isolate FUA and its mercury reducing activity were optimum at pH 7 and temperature of 35oC. It is expected that the results of this study can be the basis for further research on the process of mercury detoxificationKeywords: Bacillus cereus, urine, mercury resistance, pH, temperature Abstrak: Merkuri adalah senyawa yang sangat beracun bagi manusia sehingga diperlukan metode untuk mengatasi keberadaannya di lingkungan. Detoksifikasi merkuri dapat dilakukan dengan menggunakan bakteri resisten merkuri. Bakteri yang resisten merkuri Bacillus cereus isolat FUA telah diperoleh dari urin pasien dengan amalgam gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas detoksifikasi merkuri Bacillus cereus isolat FUA pada berbagai variasi pH medium dan suhu inkubasi. Bakteri Bacillus cereus isolat FUA ditumbuhkan pada media miring, kemudian ditanam pada media pertumbuhan bakteri LB broth yang mengandung senyawa merkuri 10 ppm HgCl2 dengan berbagai pH 5, 7 dan 9 dan suhu inkubasi 15, 25 dan 35oC. Jumlah pertumbuhan bakteri dianalisis menggunakan spektrofotometer dan kadar merkuri dianalisis menggunakan metode CV-AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pertumbuhan dan aktivitas pereduksi merkuri Bacillus cereus isolat FUA optimum pada lingkungan pertumbuhan dengan pH 7 dan suhu inkubasi 35oC. Simpulan penelitian ini ialah aktivitas pertumbuhan dan pereduksi merkuri Bacillus cereus isolat FUA yang optimum pada pH 7 dan suhu 35oC. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang proses detoksifikasi merkuri.Kata kunci: Bacillus cereus, urin, resistensi merkuri, pH, suhu
Gambaran Kebiasaan Bernapas Melalui Mulut dan Gigi Berjejal Anterior pada Siswa SD Negeri 46 Manado Manalip, Pansy H.; Anindita, Pritartha S.; Tendean, Lydia E. N.
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.28689

Abstract

Abstract: Mouth breathing habit during growth and development can affect dentocraniofacial growth. Mouth breathing can cause stunted development of the lower and upper jaws which makes the jaws narrower resulting in crowding teeth. It is a condition of differences in the sizes of the teeth and the arch of the jaw causing teeth overlapping. This study was aimed to obtain the mouth breathing habit and crowding teeth among students of SD Negeri 46 (elementary school) Manado. It was a descriptive study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling. Examinations of mouth breathing and crowding teeth were performed on the students and data were analyzed by using percentages. The results showed that 17.2% of students had mouth breathing habit; 78.5% of them had crowding teeth. In conclusion, the majority of students of SD Negeri 46 Manado that had mouth breathing habit had crowded teeth.Keywords: mouth breathing, anterior teeth crowding Abstrak: Kebiasaan bernafas melalui mulut yang berlangsung selama masa tumbuh kembang dapat memengaruhi pertumbuhan dentokraniofasial. Bernapas melalui mulut dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan rahang bawah dan rahang atas sehingga rahang menjadi lebih sempit yang berakibat terjadinya gigi berjejal. Kondisi ini merupakan keadaan terdapatnya perbedaan ukuran gigi dan ukuran lengkung rahang, sehingga menyebabkan posisi gigi saling tumpang tindih Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan bernapas melalui mulut dan gigi berjejal anterior pada anak di SD Negeri 46 Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan bernapas melalui mulut dan pemeriksaan gigi berjejal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian mendapatkan 17,2% subjek penelitian bernapas melalui mulut; 78,5% di antaranya memiliki gigi berjejal anterior. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas anak di SD Negeri 46 Manado yang bernapas melalui mulut memiliki gigi berjejal anterior.Kata kunci: bernapas melalui mulut, gigi berjejal anterior
Evaluasi Ekstraksi Molar Ketiga Rahang Bawah Berdasarkan Angulasi Mesial pada Radiografi Panoramik Saputri, Rosalina I.; Boedi, Rizky M.
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.28743

Abstract

Abstract: Third molar development is a concern in dental care because of its influence on stomatognathic system. Due to third molar irregular pattern of eruption, different clinical and radiographic considerations on how to decide an extraction were studied. This study was aimed to evaluate the effect of mandibular third molar mesial angulation (MA) towards the extractions on panoramic radiographs. This was a retrospective study. A longitudinal study of mandibular third molars (n=192) of 102 individuals (50 Female and 52 Male) was conducted. Development of the mandibular third molar was staged according to modified Köhler et al. staging technique. Mesial angulation was measured from the intersection between axes of third molar and adjacent second molar of the most developed stage for extraction cases or before root completion for non-extraction cases. Of 102 subjects, 107 mandibular third molars were extracted. The increase of 1° of MA would increase the odds ratio (OR) of extraction by 1.113 (95% CI 1.070-1.158, p<0.01). The ROC curve showed the MA of 18.5o as the threshold of extraction with 76% of sensitivity and 68% of specificity. In conclusion, MA has the possibility as a predictive factor of mandibular third molar extraction. Future studies using bigger sample sizes and variations of third molar development are suggestedKeywords: third molar, angulation, extraction, predictive factor, panoramic radiographs Abstrak: Pertumbuhan molar ketiga menjadi perhatian pada perawatan dental karena pengaruh-nya pada sistem stomatognasi. Terdapat banyak penelitian tentang berbagai pertimbangan klinis dan radiografis untuk melakukan ekstraksi molar ketiga karena pola erupsinya yang tidak menentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek angulasi mesial (AM) dari molar ketiga rahang bawah terhadap tindakan ekstraksi pada radiografi panoramik. Jenis penelitian ialah retrospektif. Pengamatan molar ketiga rahang bawah (n=192) secara longitudinal dilakukan pada 102 individu (50 perempuan dan 52 laki-laki). Pertumbuhan molar ketiga diukur berdasarkan tahap pertumbuhan dari teknik modifikasi Köhler et al. AM diukur dari pertemuan aksis molar ketiga dan molar kedua di sebelahnya, pada tahap pertumbuhan paling akhir pada kasus ekstraksi, atau sebelum akar gigi terbentuk sempurna pada kasus non-ekstraksi. Pada sampel penelitian, ekstraksi dilakukan pada 104 molar ketiga rahang bawah. Peningkatan 1o dari AM akan meningkatkan rasio peluang dari ekstraksi sebesar 1,113 (95% CI 1,070-1,158, p<0,01). Pada kurva ROC, AM sebesar 18,5o menunjukan 76% sensitivitas dan 68% spesifisitas. Simpulan penelitian ini ialah AM dapat digunakan sebagai faktor prediksi terhadap ekstraksi molar ketiga rahang bawah. Perkembangan penelitian selajutnya dapat dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan dengan memperhatikan pertimbahan klinis serta parameter radiografik lainnya.Kata kunci: molar ketiga, angulasi, ekstraksi, faktor prediksi, radiografi panoramik
Pengendalian Bahaya Fisik pada Pekerjaan Dokter Gigi Juliatri, .
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.29097

Abstract

Abstract: Dentists are at risk of experiencing a number of occupational hazards including physical hazards. Potential physical hazards include noise, lighting, ionizing and non-ionizing radiation, percutaneous exposure incident (PEI), and extreme temperatures. Efforts to control physical hazards based on the hierarchy of hazard control in the work of dentists are substitution, engineering, administration, and the use of personal protective equipment (PPE).Keywords: physical hazards, hazard control hierarchy Abstrak: Dokter gigi merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami sejumlah bahaya akibat pekerjaan, termasuk bahaya fisik. Potensi bahaya fisik antara lain kebisingan, pencahayaan, radiasi ionisasi dan nonionisasi, percutaneous exposure incident (PEI), dan suhu ekstrim. Upaya pengendalian bahaya fisik berdasarkan hierarki pengendalian bahaya pada pekerjaan dokter gigi yaitu substitusi, rekayasa engineering, administrasi, dan penggunaan alat pelindung diri (APD).Kata kunci: bahaya fisik, hierarki pengendalian bahaya
Kebiasaan Merokok dan Terjadinya Smoker’s Melanosis Revien, Iin; Supit, Aurelia S. R.; Anindita, Pritartha S.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29903

Abstract

Abstract: Smoking can lead to a variety of systemic diseases as well as abnormal signs in the oral cavity inter alia smoker’s melanosis. This study was aimed to obtain the description of smoking habit and the occurrence of smoker’s melanosis in general viewed from three smoking indicators, as follows: frequency of smoking, duration of smoking, and types of cigarettes. This was a literature review study. There were 22 literatures consisting of 20 cross sectional studies dan 2 case control studies. The results showed that smoker’s melanosis was more frequent in smokers than in non smokers. Based on the frequency of smoking, smoker’s melanosis was most frequent in heavy smokers, followed by moderate smokers, and light smokers. Based on the duration of smoking, smoker’s melanosis was most frequent in 10-year smokers, followed by 5-to-10-year smokers, and less-than-five-year smokers. Based on the types of cigarettes, smoker’s melanosis was most frequent in smokers of clove/non filter cigarette, followed by smokers of white/filter cigarette, and smokers of both types of cigarette. In conclusion, smoker’s melanosis was more frequent in smokers than in non smokers. The majority of cases were heavy smokers, had duration of smoking more than 10 years, and the type of cigarette consumed was clove/non filter cigarette.Keywords: cigarettes, smoker’s melanosis. Abstrak: Merokok dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Berbagai penyakit sistemik di dalam tubuh dan tanda abnormal di rongga mulut dapat diakibatkan kebiasaan merokok, salah satunya smoker’s melanosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok dan terjadinya smoker’s melanosis secara umum dilihat dari tiga indikator merokok, yaitu frekuensi merokok, durasi merokok, dan jenis rokok. Jenis penelitian ini ialah studi pustaka. Pustaka yang digunakan berjumlah 22 buah, terdiri dari 20 cross sectional study dan 2 case control study. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa smoker’s melanosis lebih banyak ditemukan pada individu yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Berdasarkan frekuensi merokok, smoker’s melanosis paling banyak ditemukan pada perokok berat, diikuti perokok sedang, dan perokok ringan. Berdasarkan durasi merokok, smoker’s melanosis paling banyak ditemukan pada perokok dengan durasi >10 tahun, diikuti durasi 5-10 tahun, dan durasi <5 tahun. Berdasarkan jenis rokok, smoker’s melanosis paling banyak ditemukan pada perokok dengan jenis rokok kretek/non filter/sigaret kretek, diikuti perokok dengan jenis rokok putih/filter, dan perokok dengan jenis keduanya. Simpulan penelitian ini ialah smoker’s melanosis lebih banyak ditemukan pada perokok dibandingkan dengan yang bukan perokok, Mayoritas kasus ialah perokok berat, durasi merokok >10 tahun, dan mengonsumsi jenis rokok kretek/non filter/sigaret kretek.Kata kunci: kebiasaan merokok, smoker’s melanosis
Kualitas Hidup Lansia Pengguna dan Bukan Pengguna Gigi Tiruan Korah, Sanny C.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29906

Abstract

Abstract: Loss of natural teeth, whether it is replaced with artificial teeth or not, can affect the quality of life (QoL), especially in relation to oral health. This study was aimed to determine the differences in the QoL of elderly between denture wearers and non denture wearers. This was a literature review study. There were five literatures in this study; three literatures used the GOHAI questionnaire as a research instrument meanwhile the others used the OHIP-14 questionnaire. The results showed that the measuring instrument most widely used was GOHAI. Based on age, the QoL of denture wearers and non denture wearers became worse as they became older. Based on sex, the QoL of the non denture wearers was better in males than in females, albeit, there was no difference between sex among the denture wearers. In conclusion, the QoL of denture wearers was better than of non denture wearers. Moreover, the QoL of denture wearers was relatively good, meanwhile the QoL of non denture wearers was poor.Keywords: quality of life, elders, denture, tooth loss Abstrak: Kehilangan gigi asli yang digantikan dengan gigi tiruan maupun tidak, dapat meme-ngaruhi kualitas hidup, khususnya kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia pengguna dan bukan pengguna gigi tiruan. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Total pustaka yang diteliti berjumlah lima buah. Terdapat tiga pustaka yang menggunakan kuesioner GOHAI sebagai instrumen penelitian, sedangkan dua lainnya menggunakan kuesioner OHIP-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang paling banyak digunakan yaitu GOHAI. Berdasarkan usia, semakin bertambahnya usia, kualitas hidup lansia pengguna dan bukan pengguna gigi tiruan semakin buruk. Berdasarkan jenis kelamin, kualitas hidup lansia bukan pengguna gigi tiruan lebih baik pada laki-laki daripada perempuan, sedangkan pada lansia pengguna gigi tiruan, hasilnya seimbang. Simpulan penelitian ini ialah kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan lebih baik daripada bukan pengguna gigi tiruan. Kualitas hidup lansia pengguna gigi tiruan tergolong baik sedangkan kualitas hidup lansia bukan pengguna gigi tiruan tergolong buruk.Kata kunci: kualitas hidup, lansia, gigi tiruan, kehilangan gigi
Gambaran Kebiasaan Menyikat Gigi dan Status Kesehatan Gingiva pada Anak Sekolah Dasar Rasni, Novia D. P.; Khoman, Johanna A.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.29905

Abstract

Abstract: Besides caries, tooth and mouth disease commonly found in children is gingival inflammation (gingivitis). The high prevalence of gingivitis in Indonesia is due to the fact that most people have not adopted good and effective habits in tooth brushing. Indicators determining the effectiveness of tooth brushing consist of tooth brushing time, frequency, duration, and method. This study was aimed to determine the overview of tooth brushing habit and gingival health status among elementary school students. This was a literature review study using the Google Scholar database. The keywords used were brushing habits, gingival health status, and elementary school children. Based on the inclusion and exclusion criteria, a critical appraisal was carried out that obtained 4 literatures consisting of 2 cross-sectional studies and 2 descriptive surveys. The results showed that most children had good habit of tooth brushing, however there were some children who had poor habit tooth brushing due to lack of understanding about the time, method, duration, and frequency of tooth brushing. The most common gingival disease was categorized as mild inflammation, followed by moderate inflammation; no severe inflammation criteria was reported. In conclusion, most elementary school students had good habit of tooth brushing and the most common gingival disease was in mild inflammation.Keywords: habit of brushing teeth, gingival health status, and elementary school children. Abstrak: Penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan pada anak selain karies ialah peradangan gingiva (gingivitis). Tingginya prevalensi gingivitis di Indonesia disebabkan karena masyarakat belum menerapkan kebiasaan yang baik dan efektif dalam menyikat gigi. Indikator penentu efektivitas menyikat gigi terdiri dari waktu menyikat gigi, frekuensi, durasi, dan metode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada anak Sekolah Dasar. Jenis penelitian ialah studi pustaka. Pencarian data mengguna-kan database Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu kebiasaan menyikat gigi, status kesehatan gingiva, dan anak sekolah dasar. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dilakukan critical appraisal dan didapatkan 4 pustaka terdiri dari 2 studi potong lintang dan 2 survei deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan sebagian besar anak melakukan kebiasaan menyikat gigi dengan baik namun masih terdapat anak dengan kebiasaan menyikat gigi yang buruk akibat kurangnya pengertian mengenai waktu menyikat gigi, frekuensi, durasi, dan metode. Penyakit gingiva yang paling banyak didapatkan yaitu pada kriteria inflamasi ringan, diikuti kriteria inflamasi sedang; kriteria inflamasi berat tidak dilaporkan. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar anak Sekolah Dasar telah melakukan kebiasaan menyikat gigi yang baik dan penyakit gingiva yang tersering ditemukan pada kriteria inflamasi ringan.Kata kunci: kebiasaan menyikat gigi, status kesehatan gingiva, dan anak sekolah dasar
Gambaran Temporomandibular Disorder pada Lanjut Usia melalui Fonseca’s Questionnaire Impiani, Yosi; Ngestiningsih, Dwi; Kusuma, Ira A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32633

Abstract

Abstract: Decrease of stomatognathic organ function could result in decrease of quality of life (QoL) in geriatric patients. Temporomandibular disorder (TMD) creates a limitation in mouth opening, crepitation, and headache. This study was aimed to obtain the signs and symptoms of TMD through Fonseca’s Questionnaire in Semarang nursing home for elderly. This was a descriptive and observational study with a cross sectional design. Fonseca’s questionnaire and other questionnaires about medical history as well as dental and oral treatment history were used in this study. Fonseca anamnestic index was used to classify the TMD severity based on the total score of the answers. The chi-square was used to determine the differences between variables related to the TMD severity. The results obtained 57 respondents who were grouped based on age, sex, medical history, and dental and oral treatment history. There were 17 respondents without TMD, 18 had mild TMD, 12 had moderate TMD, and 10 had severe TMD. Besides age, emotional stress and tooth extraction were the most common causes and had significant effect on TMD severity (p<0.05). In conclusion, TMD severity will increase along with age, meanwhile, optimal dental and medical care can help to reduce the TMD severity in geriatric patients.Keywords: elderly, temporomandibular disorder, Fonseca's questionnaire  Abstrak: Penurunan fungsi stomatognatik dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup pada lansia. Penurunan fungsi tersebut pada temporomandibular disease (TMD) menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam membuka mulut, krepitasi pada saat membuka atau menutup mulut, dan sakit kepala. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran deteksi tanda dan gejala TMD melalui Fonseca’s Questionnaire di panti wreda Kota Semarang. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang menggunakan Fonseca’s questionnaire serta kuesioner tentang riwayat medis, dan riwayat perawatan gigi dan mulut. Fonseca anamnestic index digunakan untuk menglasifikasikan tingkat keparahan TMD berdasarkan total skor jawaban kuesioner. Uji chi-square digunakan untuk mengetahui perbedaan antara variabel dengan tingkat keparahan TMD.  Hasil penelitian mendapatkan 57 responden yang dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, serta riwayat medis dan riwayat perawatan gigi dan mulut. Terdapat 17 responden tanpa TMD, 18 dengan TMD ringan, 12 dengan TMD sedang, dan 10 dengan TMD berat. Stres emosional dan pencabutan gigi merupakan penyebab tersering serta memiliki perbedaan bermakna pada tingkat keparahan TMD disamping usia (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah tingkat keparahan TMD akan meningkat seiring bertambahnya usia, namun perawatan medis serta gigi, dan mulut yang optimal dapat mengurangi keparahan TMD pada lansia.Kata kunci: lanjut usia (lansia), temporomandibular disorder (TMD), Fonseca’s questionnaire
Hubungan antara Gigi Berjejal dan Status Gizi pada Remaja Andries, Agnes M.; Anindita, Pritartha S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32308

Abstract

Abstract: Malocclusion is one of the most common dental and oral health problems after caries and periodontal disease. Most of the malocclusions occur in adolescence and manifest as crowding teeth. Malnutrition can inhibit the growth and development of the skull and jaw bones, therefore, the permanent teeth have lack space to erupt resulting in crowding teeth. This study was aimed to determine the relationship between crowding teeth and nutritional status among adolescents in Indonesia. This was a literature review study using three databases, Google Scholar, GARUDA, and Pubmed. Keywords used were crowding, malocclusion, malnutrition, adolescent, Height for Index, BMI, nutritional status, adolescents. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, a critical appraisal was carried out and obtained 8 cross-sectional study literatures. The review showed that there were more literatures stating that there was no relationship between crowding teeth and nutritional status among adolescents. Apart from nutritional status, there were several other factors that could affect crowding teeth in adolescents such as bad habits, history of crowding deciduous teeth, heredity, and socioeconomic status. In conclusion, crowding teeth in adolescents is influenced by nutritional status as well as other factorsKeywords: crowding, nutritional status, adolescents. Abstrak: Maloklusi telah menjadi salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai setelah karies dan penyakit periodontal. Sebagian besar maloklusi terjadi pada usia remaja dalam bentuk gigi berjejal. Status gizi yang kurang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tulang tengkorak maupun rahang yang menyebabkan gigi permanen kekurangan ruang untuk erupsi dan terjadi gigi berjejal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gigi berjejal dan status gizi pada remaja di Indonesia. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Google Scholar, GARUDA, dan Pubmed. Kata kunci yang digunakan yaitu crowding, malocclusion, malnutrition, BMI, adolescent, maloklusi, TB/U, IMT, Status Gizi, Remaja. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi, dilakukan critical appraisal dan didapatkan 8 literatur cross-sectional study. Hasil kajian menunjukkan terdapat lebih banyak literatur yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara gigi berjejal dan status gizi pada remaja. Selain status gizi, faktor lainnya yang dapat memengaruhi terjadinya gigi berjejal pada remaja ialah kebiasaan buruk, riwayat gigi desidui berjejal, keturunan, dan status sosial ekonomi orang tua.. Simpulan penelitian ini ialah gigi berjejal pada remaja tidak hanya dipengaruhi oleh status gizi saja namun dapat disebabkan oleh faktor lain juga.Kata kunci: gigi berjejal, status gizi, remaja
Pembentukan Mikronukleus di Mukosa Bukal akibat Paparan Senyawa Kimia pada Berbagai Macam Pekerjaan Setiabudi, Deny; Amalina, Rizki; Feranisa, Anggun
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32711

Abstract

Abstract: In general, an occupation could have hazzard and risk of exposure to genotoxic chemical compounds. These compounds could lead to micronucleus formation on buccal mucosa. This study was aimed to obtain the impact of chemical exposure on micronucleus formation in buccal mucosa at various occupations. This was a literature review study using databases of PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar based on the keywords. The criteria of literatures were articles published in 2016-2021 using Indonesian or English language. The results showed that  group compounds of polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), metals, carbamate, and organophospate, also compunds of silica, bezene, toluene, xylene (BTX), sevoflurane, desflurane, isoflurane, nitrous oxide, gemcitabin, and 5-fluoro uracil were genotoxic chemical compunds and could cause micronucleus formation in buccal mucosa of mechanics, grillers, miners, e-waste recyclers, construction workers, road markers, car painters, gasoline station workers, farmers, and healthcare workers. Genotoxic chemical compounds could be found excessively in occupational environment. These compounds could damage cells’ DNA and caused micronucleus formation on buccal mucosa of workers. It is suggested to study further about cell damage biomarkers caused by genotoxic chemical compound exposure.Keywords: micronucleus formation in buccal mucosa, chemical exposure of genotoxic compounds, occupational riskAbstrak: Suatu pekerjaan dapat memiliki risiko dan bahaya terpapar senyawa kimia yang bersifat genotoksik. Senyawa kimia tersebut dapat menyebabkan terbentuknya mikronukleus di mukosa pipi rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas pengaruh paparan senyawa kimia pada berbagai macam pekerjaan terhadap pembentukan mikronukleus di mukosa bukal. Jenis penelitian ialah literature review. Penelusuran literatur melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar berdasarkan kata kunci yang sesuai. Kriteria literatur ialah terbitan tahun 2016-2021 dengan Bahasa Indonesia atau Inggris. Hasil penelitian mendapatkan senyawa kelompok polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), logam, carbamate, dan organophospate, serta senyawa silica, benzene, toluene, xylene (BTX), sevoflurane, desflurane, isoflurane, nitrous oksida, gemcitabin, dan 5-fluoro uracil merupakan senyawa kimia yang bersifat genotoksik dan dapat memicu pembentukan mikronukleus di mukosa bukal mekanik, pemanggang daging, penambang, pendaur ulang sampah elektronik, pekerja konstruksi, pekerja marka jalan, pengecat mobil, petugas SPBU, petani dan tenaga kesehatan. Senyawa kimia yang bersifat genotoksik banyak ditemukan di lingkungan pekerjaan. Senyawa tersebut dapat merusak DNA sel sehingga terbentuk mikronukleus di mukosa bukal pekerja. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjut mengenai biomarker kerusakan sel akibat paparan senyawa kimia yang genotoksik.Kata kunci: pembentukan mikronukleus di mukosa pipi, paparan senyawa kimia genotoksik, risiko pekerjaan