cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Perbedaan Indeks Kebersihan Mulut dan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Rongga Mulut pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dan Non Diabetes Melitus Putri, Farahdilla A.; Pramudo, Setyo G.; Kusuma, Ira A.; Nasia, Avina A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32632

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is associated with many complications, one of them is oral health problem. Its risk increases in individual with poor oral hygiene. Oral health problem can impair daily life functions such as biting or chewing, speaking, and social interaction. However, research evidences investigating oral hygiene and quality of life related to oral health are still contradictory, therefore, further studies are still required. This study was aimed to evaluate the difference in oral hygine index and quality of life (QoL) related to oral health index between T2DM and non DM patients. This was an observational study with a cross sectional design. Samples consisted of 21 T2DM patients and non DM patients at the Internal Medicine Outpatient Clinic of RSND hospital. Oral hygiene examination (OHI-S) was performed on all patients. Moreover, all patients had to fill the questionnaire which evaluated their QoL related to their oral health conditions (OHIP-14). Data were analyzed by using unpaired T-test and Mann-Whitney test. The results showed that the means of OHIS index were 3.17 in T2DM group and 1.43 in non DM group (p<0.001). Meanwhile the means of OHIP-14 index were 7.14 in T2DM group and 2.24 in non DM group (p<0.001). In conclusion, T2DM patients significantly have worse oral hygiene index and QoL related to oral health index than non DM patients.Keywords:  type 2 diabetes mellitus (T2DM), oral hygiene, quality of life related to oral health  Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) terkait dengan berbagai komplikasi, salah satunya masalah kesehatan rongga mulut yang risikonya semakin meningkat pada individu dengan kebersihan mulut yang buruk. Masalah kesehatan rongga mulut dapat membatasi fungsi sehari-hari seperti menggigit/mengunyah, berbicara, dan interaksi sosial. Namun, temuan beberapa penelitian mengenai kebersihan mulut dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut pada pasien DMT2 masih menunjukkan hasil yang bertentangan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan indeks kebersihan mulut dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut pada pasien DMT2 dan non DM. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian terdiri dari 21 pasien DMT2 dan 21 pasien non DM di Instalasi Rawat Jalan Penyakit Dalam RSND. Seluruh pasien menjalani pemeriksaan kebersihan mulut (OHI-S) dan juga diminta untuk mengisi kuesioner yang menilai kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut pasien (OHIP-14). Uji statistik menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan nilai rerata OHIS ialah 3,17 pada kelompok DMT2 dan 1,43 pada kelompok non DM (p<0,001). Nilai rerata OHIP-14 ialah 7,14 pada kelompok DMT2 dan 2,24 pada kelompok non DM (p<0,001). Simpulan penelitian ini ialah pasien DMT2 memiliki skor indeks kebersihan mulut dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut yang lebih buruk secara bermakna dibandingkan pasien non DM.Kata kunci:  diabetes melitus tipe 2 (DMT2), kebersihan mulut, kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut
Pengaruh Variasi Waktu Perendaman dalam Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) terhadap Stabilitas Dimensi Alginat Prabowo, Yoghi B.; Ibrahim, Natalia P.; Saraswati, Indah
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32307

Abstract

Abstract: Alginate has an imbibition property if it comes in contact with water that will affect the dimensional stability. Green tea (Camellia sinensis) contains phenolic compounds which can minimize the imbibition process while it is used in disinfection of alginate impression. This study was aimed to analyze the differences in the dimensional stability of alginate impressions after immersion in green tea leaf extract based on time variation. This was an experimental post-test laboratory study only. The one way Anova test on the anteroposterior and mediolateral dimensions showed that variation of immersion time in 50% green tea leaf extract could affect the dimensional stability. Moreover, the post hoc Games Howell test on the anteroposterior dimension and the post hoc LSD test on the mediolateral dimension resulted that there were significant differences between the control group and the groups of 5 minutes, 15 minutes, 30 minutes, and 50 minutes of immersion. Among all alginate impressions, the one immersed for 15 minutes was still in accordance with the standard of the American Dental Association. In conclusion, 15-minute immersion of alginate impression in 50% green tea leaf extract was the best time variation.Keywords: alginate, dimensional stability, green tea leaf extract 50% Abstrak: Alginat memiliki sifat imbibisi bila berkontak dengan air yang akan memengaruhi stabilitas dimensi alginat. Teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa fenol yang mampu meminimalkan terjadinya proses imbibisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan stabilitas dimensi alginat setelah direndam berdasarkan variasi waktu dalam ekstrak daun teh hijau. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik post-test only. Stabilitas dimensi diketahui melalui selisih jarak anteroposterior (A’-B’) dan mediolateral (B’-C’) master die dengan die stone. Hasil uji one way Anova terhadap dimensi anteroposterior dan mediolateral mendapatkan adanya pengaruh variasi waktu perendaman dalam ekstrak daun teh hijau 50% terhadap stabilitas dimensi. Selanjutnya hasil uji post hoc Games Howell terhadap dimensi anteroposterior dan uji post hoc LSD terhadap dimensi mediolateral mendapatkan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perendaman 5 menit, 15 menit, 30 menit, dan 50 menit. Hasil perendaman cetakan alginat yang masih sesuai dengan standar American Dental Association ialah perendaman selama 15 menit. Simpulan penelitian ini ialah perendaman cetakan alginat dalam ekstrak daun teh hijau 50% yang terbaik ialah selama 15 menit.Kata kunci: alginat, stabilitas dimensi, ekstrak daun teh hijau 50%
Tata Laksana Perawatan Ulkus Traumatik pada Pasien Oklusi Traumatik: Laporan Kasus Violeta, Bayu V.; Hartomo, Bambang T.
e-GiGi Vol 8, No 2 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.2.2020.30633

Abstract

Abstract: Traumatic oral ulcer is commonly caused by mucosal injury due to mastication or speaking, warm food or drink, sharp restoration surface, as well as partial broken restored tooth.  We reported a case of traumatic oral ulcer in an 18-year-old female who was admitted to the RSGM Unsoed due to painfull sensation on the lesion. Objective examination revealed two lesions, as follows: tooth 47, painfull ulcer in buccal mucosa, solitary, whitish red, white border (punch-out), 4 mm in diameter; teeth 33 and 34, an irregular fissure, solitary, on the 2/3 posterior part of the tongue, 2 mm in depth, 1 cm in length, and not painfull. The diagnosis of this case was traumatic ulcer due to traumatic occlusion based on anamnesis, examination, and occlusion check using articulating paper on the nearest antagonistic tooth to the lesion. The treatment included Dental Health Education (DHE) concerning proper tooth brushing, topical triamci-nolone acetonide application for 5 days, dan selective grinding of teeth 17 and 47. After one-week follow-up, the ulcer had improved and no hyperemia, therefore, the patient could chew comfortably.Keywords: traumatic ulcer, traumatic occlusion, selective tooth grindingAbstrak: Ulkus traumatik biasanya disebabkan oleh tergigitnya dinding mukosa ketika makan atau berbicara, meminum dan memakan yang panas, permukaan restorasi gigi yang tajam, maupun adanya tumpatan yang pecah sebagian. Kami melaporkan kasus seorang perempuan berusia 18 tahun dengan kondisi ulkus traumatik datang ke RSGM Unsoed karena merasa terganggu dan perih pada bagian yang luka. Pada pemeriksaan objektif didapatkan pada gigi 47, lesi berupa ulkus pada area mukosa bukal, tunggal, berwarna merah keputihan, dengan peninggian pada tepi berwarna putih, nyeri, diameter 4 mm; dan pada gigi 33 dan 34, lesi berupa fisura memanjang, berbentuk iregular, tunggal, pada 2/3 dorsum lidah dengan kedalaman 2 mm, panjang 1 cm, tidak terasa nyeri. Diagnosis kasus ini ialah ulkus traumatik akibat oklusi traumatik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan, dan cek oklusi menggunakan articulating paper pada gigi antagonis terdekat dengan lesi. Penatalaksanaan meliputi Dental Health Education (DHE) yaitu cara sikat gigi yang baik dan benar, pemberian triamcinolone acetonide topical selama 5 hari, dan selective grinding pada gigi 17 dan 47. Setelah satu minggu pada pengecekan didapatkan perbaikan ulkus dan tidak ditemukan pembengkakan sehingga pasien sudah nyaman untuk makan pada area tersebut.Kata kunci: ulkus traumatik, oklusi traumatik, selective grinding, trauma mekanik
Cytotoxicity and Anti-Inflammatory Activity of Tamarillo (Solanum betaceum Cav.) Peel Extract in Lipopolysaccharide Stimulated RAW 264.7 Cells Li, Novelya; Li, Wilvia
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32847

Abstract

Abstrak: Obat anti inflamasi sering diresepkan dalam bidang kedokteran gigi. Umumnya obat-obat ini memiliki efek samping beragam, dari yang ringan hingga parah seperti perdarahan lambung. Oleh karena itu, bahan anti inflamasi yang alami dan lebih aman diperlukan sebagai alternatif. Solanum betaceum Cav., dikenal sebagai terong Belanda, merupakan buah eksotik yang dapat juga dipergunakan sebagai bahan obat. Limbah buah seperti kulit dan biji biasanya tidak dikonsumsi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa limbah dari berbagai jenis buah mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sitotoksistas dan kemampuan anti-inflamasi dari ekstrak kulit terong Belanda terhadap makrofag lini RAW 264.7 yang diinduksi oleh lipopolisakarida (LPS). Sitotoksistas diuji untuk menentukan konsentrasi yang aman dengan menggunakan metode MTS. Aktivitas anti-inflamasi dinilai dengan membandingkan kadar PGE-2, TNF-α, dan IL-1β pada sel RAW 264.7 yang distimulasi LPS antara kelompok yang diberikan ekstrak dan yang tidak diberikan ekstrak menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian mendapatkan bahwa ekstrak kulit terong Belanda dapat menekan produksi PGE-2, TNF-α, dan IL-1β pada sel RAW 264.7 yang diinduksi dengan LPS. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak kulit Solanum betaceum Cav memiliki kemampuan antiinflamasi melalui penekanan produksi PGE-2, TNF-α, dan IL-1β pada sel RAW 264.7 yang diinduksi LPS.Kata kunci: ekstrak kulit Solanum betaceum Cav. (terong Belanda), sitotoksistas, antiinflamasi  Abstract: Anti-inflammatory agents are commonly prescribed in dentistry. Most of them have side effects varying from mild to severe such as gastric bleeding. Therefore, a safer and natural anti-inflammatory agent is needed as an alternative. Solanum betaceum Cav., known as tamarillo, is one of exotic fruits used in traditional medicines. The fruit wastes such as peels and seeds, are usually unconsumed. However, many investigators have reported that wastes from numerous fruits had potent bioactive compounds. This study was aimed to assess the cytotoxicity and anti-inflammatory activities of tamarillo peel extract (TPE) in lipopolysaccharide (LPS) stimulated RAW 264.7 macrophage cell line. The cytotoxicity of TPE was performed to determine the non-toxic concentration by using MTS method. The inflammatory markers measured in this study were PGE-2, TNF-α, and IL-1β. Their concentrations were measured by using ELISA based assay. The anti-inflammatory activity was determined by comparing the reduction of the inflammatory mediators between the LPS stimulated RAW 264.7 cells treated with TPE and the non-treated group. This study revealed that TPE could reduce the production of PGE-2, TNF-α, and IL-1β in LPS stimulated RAW 264.7 cells. In conclusion, tamarillo peel extract possess an anti-inflammatory effect by reducing the production of PGE-2, TNF-α, and IL-1β in LPS stimulated RAW 264.7 cells.Keywords: Solanum betaceum Cav. (tamarillo) peel extract, cytotoxicity, anti-inflammatory
Gambaran Estimasi Usia Biologis dengan Menggunakan Metode Blenkin-Taylor (Modifikasi Sistem Demirjian) di Kota Semarang Woroprobosari, Niluh R.; Wisaputri, Devina V.; Ni'am, Muhammad H.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32569

Abstract

Abstract: Unexpected incident such as natural disaster and accident often occur in many countries including Indonesia which causes many victims with unknown identity. Tooth is one of the indicators to assess and determine a person's identity. Blenkin-Taylor method is used for age estimation of an individual by using teeth. This study was aimed to obtain the estimation of biological age by using Blenkin-Taylor method in Semarang. This was a descriptive study with a cross sectional design. Samples were panoramic digital radiograph data of patients aged 5-15 years, copied in the form of a soft file. The observation and measurement were performed on seven teeth of right lower jaw by using the DICOM RadiAnt application. Data of observations and measurements of maturation scores were calculated and converted into the Blenkin-Taylor formula to determine the biological age. The results showed that the difference between biological and chronological age was ±0.32 years. This value was lower than the Blenkin-Taylor previous study result which was ±0,6 years. In conclusion, by using the Blenkin-Taylor method, there was a difference between biological age and chronological age as many as ±0,32 years in individuals aged 5-15 years old in Semarang.Keywords: biological age, the Blenkin-Taylor method, panoramic radiography Abstrak: Kejadian tidak terduga seperti bencana alam dan kecelakaan sering terjadi di berbagai negara, salah satunya di Indonesia yang menimbulkan banyak korban jiwa yang tidak diketahui identitasnya. Gigi merupakan salah satu indikator untuk menilai dan menentukan identitas seseorang. Salah satu metode dalam menentukan estimasi usia dengan menggunakan gigi ialah metode Blenkin-Taylor. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran estimasi usia biologis dengan menggunakan metode Blenkin-Taylor di Kota Semarang. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah data file digital radiograf panoramik pasien berusia 5-15 tahun yang disalin ke dalam bentuk soft file, kemudian dilakukan pengamatan dan pengukuran pada 7 gigi  regio  kanan  rahang  bawah  dengan  menggunakan  aplikasi  RadiAnt DICOM. Hasil pengamatan dan pengukuran skor maturasi dihitung dan dikonversikan ke dalam rumus metode Blenkin-Taylor untuk menentukan usia biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih usia biologis dan usia kronologis sebesar 0,32 tahun. Hal ini lebih kecil dibandingkan penelitian Blenkin-Taylor terdahulu sebesar 0,6 tahun. Simpulan penelitian ini ialah dengan mengggunakan metode Blenkin-Taylor terdapat selisih rerata usia kronologis dan usia biologis sebesar ± 0,32 tahun pada individu usia 5-15 tahun di Kota Semarang.Kata kunci: usia biologis, metode Blenkin-Taylor, radiograf panoramik
Motivasi Penderita yang Kehilangan Gigi terhadap Penggunaan Gigi Tiruan Rumambi, Brigita B.; Wowor, Vonny N. S.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.32959

Abstract

Abstract: Denture wearing in society is influenced by several factors, one of which is motivation that can influences the mindset of individuals in decision making. This study was aimed to obtain the description of motivation among denture wearers. This was a literature review study using content analysis. There were four literatures on related topics obtained from the Google Scholar database, PubMed, and Garba Rujukan Digital. The results showed that in general, the external motivation of denture wearers was categorized as moderate, consisted of family support, environment, media, and health facilities. Meanwhile, the internal motivation was categorized as high, consisted of self-perception, interest, need, and expectation. In conclusion, motivations of patients with tooth loss to wear dentures consisted of extrinsic motivation which included the environment, information media, and health facilities, and the intrinsic motivation which included knowledge, self-perception, needs, interests, and expectation.Keywords: motivation; denture wearers  Abstrak: Penggunaan gigi tiruan pada masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya ialah motivasi yang dapat memengaruhi pola pikir individu dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran motivasi penggunaan gigi tiruan. Jenis penelitian ialah studi pustaka dengan menggunakan content analysis. Terdapat empat pustaka mengenai topik terkait, diperoleh dari database Google scholar, PubMed, dan Garba Rujukan Digital. Hasil penelitian mendapatkan motivasi ekstrinsik penderita yang kehilangan gigi dengan penggunaan gigi tiruan umumnya tergolong sedang meliputi dukungan keluarga, lingkungan, media, dan fasilitas kesehatan sedangkan motivasi internal tergolong tinggi meliputi persepsi diri, minat, kebutuhan, dan harapan. Simpulan penelitian ini ialah motivasi penderita yang kehilangan gigi terhadap penggunaan gigi tiruan terdiri dari motivasi motivasi ekstrinsik yang meliputi lingkungan, media informasi dan fasilitas kesehatan dan motivasi intrinsik yang meliputi pengetahuan, persepsi diri, kebutuhan, minat, dan harapan.Kata kunci: motivasi; pengguna gigi tiruan
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah terhadap Pertum-buhan Streptococcus mutans pada Sediaan Obat Kumur (Uji Invitro) Ariyani, Bitha; Armalina, Desy; Purbaningrum, Diah A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34572

Abstract

Abstract: Caries could be minimized by reducing plaque accumulation with an antiseptic mouthwash. However, chlorhexidine 0,2%, the gold standard mouthwash, is known to have side effects. This has led to the innovation of an alternative herbal-based mouthwash that has antibacterial properties; one of the possible natural material is red dragon fruit peels. This study was aimed to prove the effect of red dragon fruit peel extract as mouthwash prepared in several concentrations to inhibit the growth of Streptococcus mutans. This was a quasi-experimental study with the post test control group design. There were six sample groups, namely mouthwash with extract concentration of 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%, negative control (aquadest), and positive control (chlorhexidine 0.2%). The antibacterial assessment was done by using the well diffusion method calculating the inhibition zone formed around the wellbore. Data were analyzed by using the Kruskal Wallis test and the Mann Whitney Post Hoc test. The results showed that the average inhibition zones formed by extract mouthwash of 6.25%, 12.5%, 25%, 50% were 3.18 mm, 5.13 mm, 7.30 mm, and 11.01 mm respectively, and by positive control was 14.65 mm. There were significant differences between each treatment group. All concentrations of red dragon fruit peel extract in mouthwash could inhibit effectively the growth of Streptococcus mutans although not as effective as the positive control. In conclusion, red dragon fruit peel extract mouthwash could inihibit the growth of Streptococcus mutans.Keywords: mouthwash; red dragon fruit peel; Streptococcus mutans; antibacterial effect  Abstrak: Karies dapat diminimalisasi dengan mengurangi akumulasi plak menggunakan obat kumur antiseptik. Obat kumur chlorhexidine 0,2% merupakan obat kumur baku emas namun memiliki efek samping. Hal tersebut memunculkan inovasi untuk mencari alternatif obat kumur berbahan dasar herbal yang memiliki sifat antibakteri; salah satunya ialah kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan membuktikan pengaruh ekstrak kulit buah naga merah dalam obat kumur dengan beberapa konsentrasi untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans penyebab karies. Jenis penelitian ialah quasi experimental dengan desain post test only group control design. Terdapat enam kelompok sampel yaitu obat kumur konsentrasi ekstrak 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, kontrol (-) akuades, dan kontrol (+) chlorhexidine 0,2%. Uji antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan menghitung zona hambat yang terbentuk di sekitar lubang sumuran. Uji statistik menggunakan Kruskal Wallis  dan uji post hoc Mann Whitney. Hasil penelitian mendapatkan rerata zona hambat yang terbentuk dari obat kumur konsentrasi ekstrak 6,25%, 12,5%, 25%, 50% ialah 3,18 mm, 5,13 mm, 7,30 mm, 11,01mm, dan kelompok kontrol(+) ialah 14,56 mm. Perbedaan bermakna terdapat pada setiap kelompok perlakuan. Setiap konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah dalam obat kumur berpengaruh menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, namun belum sebaik kontrol (+). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak kulit buah naga merah dalam obat kumur berpengaruh menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.Kata kunci: obat kumur; kulit buah naga merah; Streptococcus mutans; efek antibakteri
Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Pembentukan Stain pada Gigi Dondokambey, Serena D. V.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34878

Abstract

Abstract: Smoking is a bad habit that has become a necessity of life for some people. Moreover, smoking is found almost everywhere regardless of age, gender, and occupation. One of the consequences of smoking is the formation of stain on the teeth. This study was aimed to obtain the effect of smoking on the formation of stain on teeth. This was a literature review using various databases, such as Google Scholar, PubMed, and Wiley. The most frequent smoking frequency found was light smokers with the number of cigarettes smoked 1-4 cigarettes per day. All literatures showed that more stain formation occurred than no stain formation. Based on the frequency of smoking, the formation of stain on the teeth was most common in smokers with light category. In conclusion, smoking habits can affect the formation of stain on teeth. Based on the frequency of smoking the formation of stain on teeth is most commonly found in light-category smokers.Keywords: smoke; stain; discoloration  Abstrak: Merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebutuhan hidup oleh sebagian orang. Selain itu, merokok banyak ditemukan tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Salah satu akibat dari kebiasaan merokok yaitu terjadinya pembentukan stain pada gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap pembentukan stain pada gigi. Jenis penelitian ialah suatu literature review menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Wiley dengan topik terkait. Terdapat tujuh literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta telah melewati tahap penilaian jurnal menggunakan instrumen critical appraisal. Hasil penelitian mendapatkan frekuensi merokok yang paling banyak ditemukan ialah perokok kategori ringan dengan jumlah rokok yang dihisap 1-4 batang per hari. Pembentukan stain gigi secara keseluruhan pada semua literatur menunjukkan bahwa lebih banyak terjadinya pembentukan stain dibandingkan dengan yang tidak terjadi pembentukan stain. Berdasarkan frekuensi merokok, pembentukan stain pada gigi paling banyak terjadi pada perokok dengan kategori ringan. Simpulan penelitian ini ialah kebiasaan merokok dapat berpengaruh terhadap pembentukan stain pada gigi. Berdasarkan frekuensi merokok pembentukan stain pada gigi paling banyak ditemukan pada perokok dengan kategori ringan.Kata kunci: merokok; stain; pewarnaan gigi
Pengaruh Perendaman Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) terhadap Pertumbuhan Candida albicans pada Plat Resin Akrilik Syaula, Yuhi; Antari, Arlita L.; Purbaningrum, Diah A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.34104

Abstract

Abstract: Denture plate materials such as acrylic resin can induce adhesion of Candida albicans. Therefore, acrylic resin needs to be immersed in disinfectant. However, disinfectant can change its physical and mechanical properties, hence an alternative material is needed, such as hibiscus flower (Hibiscus rosa sinensis L.) due to its antifungal activity. This study was aimed to identify the effects of hibiscus flower extract and its concentrations towards the growth of C. albicans on acrylic resin plates. This was an experimental and laboratory study using the post-test only with control group design.  Acrylic resins were immersed in suspension of C. albicans, then were divided into four groups, as follows: 62.5% and 75% hibiscus flower extract (group I and II), positive control (sodium hypochlorite), and negative control (sterile aquadest). Acrylic resins were cultured and incubated on SDA media for 24 hours then the number of colonies were calculated. The results showed that C. albicans colonies in the treatment groups I, II, negative control, and positive control were 495 CFU/ml, 571.25 CFU/mL, 1175 CFU/mL, 23.125 CFU/mL respective-ly. The Kruskal-Wallis test showed significant differences in number of colonies of C. albicans (p<0.05) among all groups The post hoc Mann-Whitney test showed that all groups were significantly different, except for treatment groups I towards II. In conclusion, extract of hibiscus flower (H. rosa sinensis L.) affected the growth of C. albicans on acrylic resin plates.Keywords: hibiscus flower; Hibiscus rosa sinensis L.; Candida albicans; acrylic resin  Abstrak: Adanya bahan plat basis gigi tiruan seperti resin akrilik dapat memicu perlekatan C. albicans; oleh karena itu, resin akrilik perlu direndam dalam larutan desinfektan. Namun, larutan desinfektan dapat mengubah sifat fisik dan mekanik dari akrilik sehingga diperlukan adanya bahan alternatif, antara lain bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.) yang memiliki aktivitas antifungal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak dan konsentrasi bunga sepatu terhadap pertumbuhan C. albicans pada plat resin akrilik. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan post-test only with control group design. Resin akrilik direndam dalam suspensi C. albicans, Terdapat empat kelompok perlakuan yaitu ekstrak bunga sepatu 62,5% dan 75%, kontrol positif (sodium hipoklorit), dan kontrol negatif (akuades steril). Resin akrilik dikultur dan diinkubasi pada media SDA selama 24 jam, kemudian jumlah koloni C. albicans dihitung. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah koloni C. albicans kelompok perlakuan I, II, kontrol negatif, dan positif sebanyak 495 CFU/ml, 571.25 CFU/mL, 1175 CFU/mL, 23.125 CFU/mL secara berurut. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan jumlah koloni C. albicans yang bermakna (p<0.05) antar semua kelompok. Uji post hoc Mann-Whitney menunjukkan semua kelompok berbeda bermakna, kecuali kelompok perlakuan I dengan II. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak bunga sepatu (H. rosa sinensis L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan C. albicans pada plat resin akrilik.Kata kunci: bunga sepatu; Hibiscus rosa sinensis L.; Candida albicans; resin akrilik
Status Karies Gigi pada Pengidap HIV/AIDS Sundah, Michael J.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34985

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, especially white blood cells called CD4 cells. Meanwhile, acquired immune deficiency syndrome (AIDS) is a syndrome that arises due to the decline in the human immune system caused by HIV infection. Several studies showed that people living with HIV/AIDS had a higher risk of developing dental caries compared to those without HIV/AIDS. Maintenance of oral hygiene, consumption of antiretroviral (ARV) drugs, and low salivary flow play a role in increasing the risk of caries in people living with HIV/AIDS. This study was aimed to determine the status of dental caries in people living with HIV/AIDS. This was a literature review using the databases of Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The results obtained five journals that were relevant to the topic of discussion. There was a high prevalence of caries in people with HIV/AIDS (56.78%-78.7%) and a higher average caries status (12.83±9.6, 15.14±6.09, and 11.87±8.08) compared to those without HIV/AIDS. The high prevalence of caries in people with HIV/AIDS was influenced by decreased salivary flow, use of ARVs, consumption of sweet foods, and lack of oral hygiene. In conclusion, the prevalence of caries in people living with HIV/AIDS was high.Keywords: dental caries, HIV/AIDS  Abstrak: Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia kususnya sel darah putih yang disebut sel CD4 sedangkan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan sindrom yang muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan infeksi HIV. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengidap HIV/AIDS berisiko lebih tinggi mengalami karies gigi dibandingkan dengan orang tanpa HIV/AIDS. Pemeliharaan kebersihan gigi mulut, konsumsi obat antiretroviral (ARV), dan aliran saliva yang rendah berperan dalam peningkatan risiko karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Database yang digunakan untuk pencarian literatur ialah Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi karies yang tinggi pada pengidap HIV/AIDS (56,78%-78,7%) dan rerata status karies lebih tinggi (12,83±9,6, 15,14±6,09, dan 11,87±8,08) dibandingkan dengan yang tanpa HIV/AIDS. Tingginya prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS dipengaruhi oleh penurunan laju aliran saliva, penggunaan ARV, konsumsi makanan manis, dan kurangnya menjaga kebersihan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS tergolong tinggi.Kata kunci: karies gigi, HIV/AIDS