cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Angular Cheilitis pada Anak yang Mengalami Defisiensi Nutrisi Ekarisma, Verena M.; Mintjelungan, Christy N.; Supit, Aurelia S. R.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34871

Abstract

Abstract: Nutritional problems in Indonesia and developing countries in general are still dominated by the protein energy malnutrition (PEM) and other micronutrient problems such as iron deficiency and vitamin B complex deficiency. Nutritional deficiency is always accompanied by malnutrition in childhood. Children face the greatest risk of developing malnutrition. This can lead the children to become susceptible to infectious diseases. One of the most common oral infections in children with nutritional deficiencies is angular cheilitis. This study was aimed to review nutritional deficiencies in children with angular cheilitis. This was a literature review study. This study reviewed topics related to nutritional deficiencies in children from previous studies. There were 12 literature reviewed in this study consisting of 11 cross-sectional studies and one simple experimental study. The results showed that angular cheilitis was more common in children with malnutrition based on BMI for age measurement and moderate nutritional status based on MUAC measurements. Angular cheilitis type 1 were most commonly found in children with mild nutritional status, while types 2, 3 and 4 were most commonly found in children with moderate nutritional status. None of types 2, 3, and 4 were seen in children with good nutritional status. In conclusion, children with angular cheilitis are mostly deficient in vitamin B complex.Keywords: angular cheilitis, children, nutritional deficiencies Abstrak: Masalah nutrisi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah kurang energi dan protein (KEP) serta masalah nutrisi mikro lainnya seperti defisiensi zat besi dan defisiensi vitamin B kompleks. Defisiensi nutrisi selalu dihubungkan dengan kekurangan gizi pada masa anak-anak. Anak-anak menghadapi risiko paling besar untuk mengalami kurang gizi. Defisiensi nutrisi dapat menyebabkan anak rentan terhadap penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi rongga mulut yang sering terjadi pada anak dengan defisiensi nutrisi ialah angular cheilitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran defisiensi nutrisi pada anak dengan angular cheilitis. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Penelitian ini mempelajari topik terkait defisiensi nutrisi pada anak dengan angular cheilitis dari penelitian-penelitian sebelumnya. Pustaka yang diulas dan dipelajari dalam penelitian ini sebanyak 12 pustaka yang terdiri dari 11 studi potong lintang dan satu eksperimental sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lesi angular cheilitis lebih sering ditemukan pada anak dengan status gizi kurang berdasarkan pengukuran IMT/U dan status kurang nutrisi sedang berdasarkan pengukuran LLA. Lesi angular cheilitis tipe 1 paling banyak ditemukan pada anak dengan status kurang nutrisi ringan, sedangkan tipe 2, 3 dan 4 paling banyak ditemukan pada anak dengan status kurang nutrisi sedang dan tidak satu pun lesi tipe 2, 3, 4 terlihat pada anak dengan status nutrisi baik. Simpulan penelitian ini ialah anak dengan angular cheilitis paling banyak mengalami defisiensi nutrisi mikro vitamin B kompleks.Kata kunci: angular cheilitis, anak, defisiensi nutrisi
Perbandingan Efektivitas Z Spring dengan Coil dan Z Spring tanpa Coil terhadap Koreksi Malposisi Gigi Individual Pusung, Angel E.; Anindita, Pritartha S.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.35294

Abstract

Abstract: Malocclusion problem is often found in the community. Z spring, one of the springs of the active component of removable orthodontic appliances, is divided into two types, namely Z spring with coil and without coil. Both can move teeth in a labial direction, therefore, they can be used to correct simple cases of malocclusion such as malposition of individual tooth. The addition of coil can increase the resilience and effective length of the spring which further increases the force, hence the malposition of the tooth can be corrected more quickly. This study was aimed to analyze the differences between the effectiveness of Z spring with coil and of Z spring without coil in correction of individual tooth malposition. This was a pre-experimental study with a one-shot case study method. There were two treatment groups, namely Z spring with coil and without coil. Each sample was activated by 1 mm per activation to correct tooth with 5 mm linguoversion in typodonts. After that, the number of activations required and the average value of the measurements of both groups were compared. The independent sample T-Test test on the average value of the displacement distance of each tooth showed that there was a significant difference in effectiveness between the Z spring with coil and the Z spring without coil groups (p=0.000; p<0.05). The Mann Whitney test showed that there was also a significant difference in the value of the number of activations for each Z spring sample between the two groups (p=0.000; p<0.05). In conclusion, Z spring with coil is more effective in correction of malposition of individual tooth than Z spring without coil.Keywords: removable orthodontic appliance; Z spring with coil; Z spring without coil Abstrak: Maloklusi merupakan permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang banyak dijumpai dalam masyarakat. Z spring merupakan salah satu pegas dari komponen aktif alat ortodontik lepasan yang terbagi menjadi dua, yakni Z spring dengan coil dan Z spring tanpa coil. Keduanya dapat memindahkan gigi ke arah labial sehingga dapat digunakan untuk mengoreksi kasus maloklusi sederhana seperti malposisi gigi individual. Penambahan coil dapat meningkatkan kelentingan dan panjang efektif spring yang meningkatkan gaya sehingga malposisi gigi dapat terkoreksi lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas Z spring dengan coil dan tanpa coil dalam mengoreksi malposisi gigi individual. Jenis penelitian ini pre-experimental dengan metode one-shot case study. Terdapat dua kelompok perlakuan, yakni Z spring dengan coil dan tanpa coil. Masing-masing sampel penelitian diaktivasi sebesar 1 mm per aktivasi untuk mengoreksi gigi dengan linguoversi 5 mm pada typodont kemudian dibandingkan jumlah aktivasi yang dibutuhkan dan nilai rerata perpindahan gigi kedua kelompok. Hasil uji independent sample t-test pada nilai rerata jarak perpindahan masing-masing gigi menunjukkan terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna antara kelompok Z spring dengan coil dan tanpa coil (p=0,000; p<0,05). Hasil uji Mann Whitney terhadap nilai jumlah aktivasi tiap sampel menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pula antara kedua kelompok penelitian (p=0,000; p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah Z spring dengan coil lebih efektif dalam mengoreksi malposisi gigi individual dibandingkan Z spring tanpa coil.Kata kunci: alat ortodontik lepasan; Z spring dengan coil; Z spring tanpa coil
Penyakit Periodontal pada Masa Kehamilan dan Perawatannya Slat, Gabriela C.; Khoman, Johanna A.; Bernadus, Janno B. B.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34900

Abstract

Abstract: Hormonal changes occur during pregnancy and affect the response of periodontal tissue to local factors, therefore, the risk of periodontal disease increases. Dentists have to know the treatment options that can be given to pregnant patients with periodontal disease especially the current treatments. This study was aimed to summarize the triggering factors that could worsen and the current treatment of periodontal disease during pregnancy. This was a literature review study using databases of Google scholar, Pubmed, and Science direct. After selection, there were 10 literatures; seven literatures discussed about the worsening factors of periodontal disease during pregnancy and three literatures discussed about the current treatment. The results showed several factors that could worsen periodontal disease during pregnancy, as follows: plaque, gestational age, caries, maternal age, education level, knowledge, oral hygiene behavior, treatment costs, frequency and time of tooth brushing, socio-economic status, occupation, irregular arrangement of teeth, and tobacco use. Current treatments of periodontal disease during pregnancy included the consumption of Lactobacillus reuteri-containing lozenges for preg-nancy gingivitis, a water-cooled Nd: YAG (neodymium-doped yttrium aluminum garnet) pulsed laser, and transarterial embolisation for pregnancy pyogenic granuloma. In conclusion, periodontal treatment can improve periodontal status, therefore, pregnant woman with periodontal disease need to be treated.Keywords: pregnancy; periodontal disease; worsening factors; recent treatment  Abstrak: Selama kehamilan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi respons jaringan periodontal terhadap faktor lokal sehingga risiko terjadinya penyakit periodontal semakin besar. Dokter gigi perlu mengetahui pilihan perawatan yang dapat diberikan kepada pasien hamil dengan penyakit periodontal khususnya perawatan terkini. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum faktor-faktor yang dapat memperburuk dan perawatan terkini penyakit periodontal pada masa kehamilan. Jenis penelitian ini ialah suatu literature review menggunakan tiga database yaitu Google cendekia, Pubmed dan Science direct. Setelah melalui tahapan seleksi studi, didapatkan 10 literatur; tujuh literatur mengenai faktor-faktor yang dapat memperburuk penyakit periodontal pada masa kehamilan dan tiga literatur lainnya membahas perawatan terkini. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk penyakit periodontal pada masa kehamilan yakni: plak, usia kehamilan, karies, usia ibu hamil, tingkat pendidikan, pengetahuan, perilaku kebersihan gigi dan mulut, biaya perawatan, frekuensi dan waktu menyikat gigi, status sosial-ekonomi, pekerjaan, susunan gigi yang tidak beraturan, dan penggunaan tembakau. Perawatan terkini penyakit periodontal pada masa kehamilan dapat berupa konsumsi tablet hisap yang mengandung Lactobacillus reuteri untuk gingivitis kehamilan, laser berdenyut Nd: YAG (neodymium-doped yttrium aluminium garnet) berpendingin air, dan embolisasi transarterial untuk granuloma piogenik kehamilan. Simpulan penelitian ini ialah perawatan periodontal dapat memperbaiki status periodontal sehingga wanita hamil dengan penyakit periodontal perlu menerima perawatan.Kata kunci: penyakit periodontal; kehamilan; faktor yang memperburuk; perawatan terkini
Pengaruh Paparan Gas Ozon terhadap Jumlah Koloni Jamur Candida albicans Chusaeni, Amana F.; Wibisono, Gunawan; Skripsa, Tira H.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.32332

Abstract

Abstract:  Candida albicans is one of the pathogenic fungal species which causes oral infections. One of the methods to minimize the risk of fungal infection is by application of asepsis procedure through gargling with antiseptics. Ozone has high oxidative properties, therefore, it is considered as an antiseptic agent. Plasma Study Center of Diponegoro University has developed an ozone generator machine which opens up an opportunity to identify ozone properties as an antiseptic in controlling the number of fungal colonies, especially Candida albicans. This study was aimed to identify the effects of ozone exposure on the number of fungal colonies of Candida albicans. This was a laboratory experimental study with one-group pretest-posttest design. A total of 32 samples of Candida albicans suspensions were divided into two groups (16 each). Group 1 was not treated with ozonation, while group 2 were ozonated. Then, the two groups were cultured in SDA media using the spread plate method and were incubated for 48 hours. The data were obtained by calculating the number of fungal colonies growing in SDA media. The Wilcoxon test obtained a p-value <0.05, meaning that there were differences in the colony number of Candida albicans before and after ozonation. In conclusion, ozone exposure has a significant effect on the number of fungal colonies of Candida albicans. Further studies are needed adding variables or parameters. Keywords: ozone; fungal colony; Candida albicans  Abstrak: Candida albicans merupakan salah satu spesies jamur patogen yang menyebabkan infeksi oral. Salah satu metode untuk meminimalkan risiko infeksi jamur ialah melalui penerapan prosedur asepsis dengan berkumur menggunakan antiseptik. Ozon memiliki kemampuan oksidasi tinggi sehingga dipertimbangkan untuk menjadi bahan antiseptik. Pusat Penelitian Plasma Universitas Diponegoro telah mengembangkan mesin generator ozon yang membuka peluang untuk mengetahui kemampuan ozon sebagai antiseptik dalam mengendalikan jumlah koloni jamur terutama Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh paparan gas ozon terhadap jumlah koloni jamur (Candida albicans). Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan one group pretest-posttest design. Sebanyak 32 sampel suspensi jamur Candida albicans dibagi menjadi dua kelompok (masing-masing 16 sampel). Kelompok 1 tidak dilakukan ozonasi dan kelompok 2 dilakukan ozonasi kemudian kedua kelompok dikultur dalam media SDA dengan metode spread plate dan diinkubasi 48 jam. Data diperoleh dengan menghitung jumlah koloni jamur yang tumbuh pada media SDA. Hasil uji statistik Wilcoxon mendapatkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan jumlah koloni jamur (Candida albicans) sebelum dan setelah pemberian gas ozon. Simpuolan penelitian ini ialah paparan gas ozon berpengaruh secara bermakna terhadap jumlah koloni jamur (Candida albicans). Penelitian lanjutan diperlukan dengan penambahan variabel atau parameter.Kata kunci: gas ozon; koloni jamur; Candida albicans
Hubungan Faktor Risiko Karies Gigi dengan Status Karies Gigi pada Anak Usia Dini (Studi pada TK Pelita Takwa, Pondok Betung, Tangerang Selatan) Mayasari, Yufitri
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.35013

Abstract

Abstract: Basic health research of Indonesia in 2018 showed that early childhood caries affected 93% of children. Early dental caries risk assessment using a dental caries risk simulator could be used to determine the appropriate program to prevent dental caries. This study was aimed to analyze the relationship between risk factors and dental caries status in early childhood. This was an analytical study with a cross sectional design using total sampling method. There were 51 preschool children at Taman Kanak Kanak (kindergaten school) Pelita Takwa, Pondok Betung, South Tangerang as samples. Dental caries was assessed by using the def-t index and dental caries risks were assessed by using the Irene's donut program. Interactive interviews with parents were conducted to determine the risk factors for dental caries among the students. The results showed that the prevalence of dental caries was 84.3% and the mean def-t was 5.35. The chi-square test was carried out to determine the relationship between dental caries status and risk factors. The result was not significant for three questions related to the factors, as follows: the child's tooth surface had white spots, the acidity level of the child's teeth was below pH 6.5, and the mother's age was 36 years old. Albeit, twelve other risk factors were shown to be associated with dental caries status. In conclusion, the prevalence of dental caries in preschool children was still high. Risk factors related to the dental caries status among pre-school children can be used as educational materials targeting pre-school children and their parents.Keywords: caries risk; dental caries; preschool children Abstrak: Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa 93% anak usia dini mengalami karies gigi. Penilaian risiko karies gigi sejak dini menggunakan simulator risiko karies gigi dapat menjadi salah satu cara untuk menentukan program yang tepat dalam mencegah terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko dengan status karies gigi pada anak usia dini. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang menggunakan metode total sampling. Sampel yang diperoleh sebanyak 51 anak usia dini di sekolah Taman Kanak-Kanak Pelita Takwa, Pondok Betung, Tangerang Selatan. Karies gigi dinilai menggunakan indeks def-t dan risiko karies subjek dinilai menggunakan program Irene’s donut. Wawancara interaktif dengan orang tua dilakukan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya karies gigi pada pasien tersebut. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi karies gigi sebesar 84,3% dengan rerata def-t 5,35. Uji chi-square terhadap hubungan status karies gigi dengan faktor risiko mendapatkan hasil tidak bermakna pada tiga pertanyaan terkait faktor permukaan gigi anak ada bercak putih, tingkat keasaman kuman gigi anak di bawah pH 6,5, dan usia ibu 36 tahun ke atas. Dua belas faktor risiko lainnya terbukti memiliki hubungan dengan status karies gigi.  Simpulan penelitian ini ialah prevalensi karies gigi pada anak prasekolah masih tinggi. Faktor-faktor risiko yang terbukti memiliki hubungan dengan status karies gigi anak dapat dijadikan materi edukasi dengan sasaran anak pra sekolah serta orang tuanya.Kata kunci: risiko karies; karies gigi; anak usia pra sekolah
Uji Efektivitas Pasta Gigi Pemutih terhadap Perubahan Warna Gigi Ekstrinsik Bayahu, Cintia; Pengemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34872

Abstract

Abstract: Physical appearance has a major influence in determining the quality of individual social interaction, especially in terms of non-verbal interactions. Tooth color is one of the things that affect physical appearance. Various efforts to improve the aesthetics of tooth color should be studied further, including the use of whitening toothpaste. This study was aimed to determine the effectiveness of whitening toothpaste on extrinsic tooth discoloration. This was a true experimen-tal study in the  form of laboratory test. Coffee was used as a discoloring agent for teeth. Twenty-six premolar teeth were immersed in coffee solution for 14 days. Then the samples were divided into four groups based on the toothpaste used. Initial measurements used the CIEL *a*b* digital dental photo technique. Brushing was carried out for 14 days, after which the tooth color was measured again. The paired sample t-test and the Wilcoxon test showed a significant change in * L values in the group receiving 7% perlite, hydrated silica, and sodium bicarbonate (p=0.01; p=0.001; p=0.012). The Wilcoxon test showed no change in *a and *b values in all whitening toothpaste groups (p>0.05). There was no significant change in the *L *a *b toothpaste (p>0.05). In conclusion, whitening toothpaste is effective against extrinsic tooth discoloration.Keywords: extrinsic tooth discoloration; whitening toothpaste; tooth colorAbstrak: Penampilan fisik memiliki pengaruh besar dalam menentukan kualitas interaksi sosial individu, terutama dalam hal interaksi non-verbal. Salah satu hal yang memengaruhi penampilan fisik individu ialah warna gigi. Berbagai upaya untuk meningkatkan estetika warna gigi harus dikaji lebih lanjut, termasuk penggunaan pasta gigi pemutih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pasta gigi pemutih terhadap perubahan warna gigi ekstrinsik. Jenis penelitian ialah eksperimental murni (true experimental design) berupa uji laboratorik. Kopi digunakan sebagai bahan diskolorasi untuk gigi. Sebanyak 26 gigi premolar direndam dalam larutan kopi selama 14 hari. Sampel dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan pasta gigi yang digunakan. Pengukuran awal menggunakan teknik digital dental photo CIEL*a*b*. Penyikatan dilakukan selama 14 hari, setelah itu warna gigi diukur kembali. Hasil  uji paired sample t-test dan Wilcoxon menunjukkan terdapat perubahan nilai *L yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan perlite 7%, silica hydrated, dan sodium bicarbonate (p=0,01; p=0,001; p=0,012). Uji Wilcoxon menunjukkan tidak terdapat perubahan nilai *a dan nilai *b pada semua kelompok pasta gigi pemutih (p>0,05). Pada pasta gigi tanpa pemutih tidak didapatkan perubahan nilai *L*a*b yang bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah pasta gigi pemutih efektif terhadap perubahan warna gigi ekstrinsik.Kata kunci: perubahan warna gigi ekstrinsik; pasta gigi pemutih; warna gigi
Pengaruh Pengetahuan dan Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Persepsi Permasalahan Gingiva Lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Kota Semarang Asri, Milenda E. K.; Utomo, Astika W.; Kusuma, Ira A.; Nosartika, Isniya
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34531

Abstract

Abstract: Decrease of physical and cognitive conditions in the elderly makes them become risky for periodontal disease. Lack of knowledge and poor behavior of oral health are the main causes of periodontal disease. Gingival health problems can be detected in the elderly by observing the signs and symptoms of gingivitis. This study was aimed to analyze the influence of knowledge and behaviour of oral health on perception of gingival health problems in the elderly living at Unit Rehabilitasi Sosial (nursery home) Pucang Gading Semarang. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Samples were 74 elderlies at Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang, obtained by using the purposive sampling method. Data were collected by using questionnaire and were analyzed by using the Gamma and Somers’d test followed by multinomial logistic regression test. The results showed that most of the elderly at Pucang Gading Social Rehabilitation Unit had poor oral health knowledge and oral health behavior. Most elderlies had moderate perception of gingival problems. Multinomial logistic regression about the influence of knowledge and behaviour of oral health on perception of gingival health resulted in a p-value of 0.000 (p<0.05). In conclusion, there was a significant influence of knowledge and behavior of oral health on the perception of gingival problems in the elderly.Keywords: oral health knowledge; oral health behaviour; perception of gingival problem; elderly  Abstrak: Penurunan kondisi fisik dan kognitif pada lanjut usia (lansia) menyebabkan mereka lebih berisiko terkena penyakit periodontal. Kurangnya pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit jaringan periodontal. Permasalahan kesehatan gingiva dapat dideteksi pada lansia dengan mengetahui tanda dan gejala gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut terhadap persepsi permasalahan gingiva lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Kota Semarang. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Responden penelitian ini ialah 74 lansia yang tinggal di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Kota Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh dengan metode purposive sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Gamma & Somers’d dilanjutkan dengan uji regresi logistik multinomial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa lansia paling banyak memiliki pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut yang buruk serta persepsi permasalahan gingiva sedang. Hasil analisis uji regresi logistik multinomial mengenai pengaruh pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut terhadap persepsi permasalahan gingiva mendapatkan nilai p=0,000 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat pengaruh bermakna dari pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dan mulut terhadap persepsi permasalahan gingiva pada lanjut usia.Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut; perilaku kesehatan gigi dan mulut; persepsi permasalahan gingiva; lanjut usia (lansia)
Uji Daya Hambat Ekstrak Ikan Nike (Awous melanocephalus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Fusobacterium nucleatum Nonutu, Stevia E.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34982

Abstract

Abstract: One of the treatment options of periodontal abscess caused by Fusobacterium nucleatum is administration of antibiotics. However, long-term antibiotics consumption can cause negative side effects. Therefore, alternative treatments that have low side effects and easy to be obtained are needed. Nike fish (Awaous melanocephalus) is one of the endemic fish of North Sulawesi province which has antibacterial properties. This study was aimed to evaluate the inhibition effect of nike fish extract on the growth of Fusobacterium nucleatum. This was a true experimental study with a posttest only control group design. We used modified Kirby-Bauer method with filter papers. Ciprofloxacin was used as the positive control and aquadest as the negative control. Extract of nike fish and stock of pure bacteria Fusobacterium nucleatum were prepared. The results showed that the average diameters of the inhibition zones formed in the nike fish extract after three repetitions, were as follows: for extract concentration of 12.5% was 2.91 mm; 25% was 4.16 mm; 50% was 8.41 mm; and 100% was 9.58 mm. In conclusion, nike fish extract (Awaous melanocephalus) at concentrations of 50% and 100% had a weak inhibitory effect (Himedia category) on the growth of Fusobacterium nucleatum meanwhile at concentrations of 12.5% and 25% there was no activity of zone of inhibition.Keywords: extract of nike fish (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; inhibitory effect Abstrak: Salah satu opsi pengobatan abses periodontal yang disebabkan oleh bakteri Fusobacterium nucleatum yaitu dengan penggunaan antibiotik namun mengonsumsi antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping negatif. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan alternatif yang memiliki efek samping rendah serta mudah didapat. Ikan nike merupakan salah satu ikan endemik Provinsi Sulawesi Utara yang berkhasiat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu metode modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan paper disk. Kontrol positif menggunakan antibakteri ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Pada penelitian ini digunakan ekstrak ikan nike dan stok bakteri murni Fusobacterium nucleatum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata diameter zona hambat yang terbentuk pada ekstrak ikan nike setelah tiga kali pengulangan yaitu untuk konsentrasi 12,5% sebesar 2,91 mm; 25% sebesar 4,16 mm; 50% sebesar 8,41 mm; dan 100% sebesar 9,58 mm. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya hambat kategori lemah (Himedia) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum sedangkan pada konsentrasi 12,5% dan 25% dikategorikan tidak terdapat aktivitas zona hambat. Kata kunci: ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; daya hambat
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn) dalam Mencegah Displasia Dorsum Lingue Tikus Galur Sprague Dawley yang Diinduksi 7,12 Dimetilbenz(Α)Antrasena Prihatiningsih, Tyas; Haniastuti, Tetiana; Agustina, Dewi
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.34055

Abstract

Abstract: Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) is one of the largest group of carcinogen in the environment.  An agent that has antigenotoxic and anticarcinogen potency is needed to prevent DNA damage and carcinogenesis. Soursop leaves have a chemopreventive action. This study was aimed to assess the effectiveness of ethanolic extract of soursop leaves in prevention of dysplasia of upper surface of tongue in rats. This was a true laboratory experimental study with the post test-only control group design, using 24 male Sprague Dawley rats divided into six groups. The upper surfaces of tongues of group I-III were induced by DMBA topically three times a week for 16 weeks; group II and III were induced by DMBA added soursop leaves ethanolic extract of 100 and 200 mg/kg body weight daily for 18 weeks; group IV was given soursop leaves ethanolic extract 200 mg/kg body weight; group V was given DMSO 1%; and group VI was untreated. After 18th week, rats were terminated and tongue necropsies in longitudinal anteroposterior direction were conducted. The clinical changes of the upper surfaces of the tongues were observed and the histological changes were observed by using HE staining to confirm signs of dysplasia. The Kruskal Wallis test showed differences between groups, and the Mann-Withney test showed not significantly decrease of mild dysplasia of group II and group III compared to group I (p>0.05). In conclusion, ethanolic extract of soursop leaves was not effective in prevention of dysplasia of the upper surface of rat’s tongue.Keywords: dysplasia; soursop leave extract; dorsal part of tongue; DMBA  Abstrak: Senyawa golongan PAH merupakan salah satu kelompok karsinogen terbesar di lingkungan. Sebagai upaya untuk mencegah kerusakan DNA serta karsinogenesis, diperlukan suatu agen yang berpotensi antigenotoksik sekaligus antikarsinogenik. Daun sirsak terbukti mempunyai aksi kemopreventif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas ekstrak etanol daun sirsak dalam mencegah displasia pada dorsum lingue tikus. Jenis penelitian ialah true experimental laboratory dengan the post test-only control group design yang menggunakan 24 ekor tikus galur Sprague Dawley jantan, dibagi dalam enam kelompok. Dorsum lingue tikus kelompok I - III diinduksi DMBA secara topikal tiga kali seminggu selama 16 minggu; kelompok II dan III selain diinduksi DMBA, juga diberi ekstrak etanol daun sirsak 100 dan 200 mg/kg berat badan setiap hari selama 18 minggu; kelompok IV diberi ekstrak etanol 200 mg/kg BB; kelompok V diberi DMSO 1%; dan kelompok VI tidak diberi perlakuan. Terminasi dan nekropsi lidah tikus longitudinal anteroposterior dilaksanakan setelah minggu ke 18. Perubahan pada dorsum lingue diamati secara klinis dan perubahan histologik dilihat dengan pewarnaan HE untuk mengonfirmasi tanda displasia. Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan antar kelompok, sedangkan uji Mann Whitney menunjukkan penurunan tidak bermakna displasia ringan pada kelompok II dan III dibanding kelompok I. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak etanol daun sirsak tidak efektif dalam mencegah displasia epitel dorsum lingue tikus.Kata kunci: displasia; ekstrak daun sirsak; dorsum lingue; DMBA
Efektivitas Dental Health Education Menggunakan Media Audio Visual dalam Meningkatkan Pengetahuan Siswa Sekolah Dasar Pitoy, Anastasia D.; Wowor, Vonny N. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34903

Abstract

Abstract: Basic Health Research of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia showed that 93% of Indonesian children experience dental caries. Dental health education (DHE) is the provision of information in the form of a comprehensive understanding of dental and oral health and the determinants that affect individuals and communities. Giving DHE to children must be done in an appropriate and effective way. This study was aimed to to determine the effectiveness of DHE using audio-visual media to elementary school students. This was a literature review study using the PubMed, Google Scholar, Science Direct, and Clinical Key databases. Then the literatures were selected according to the inclusion and exclusion criteria and a critical appraisal was carried out to obtain relevant and worthy literatures. After going through the study selection, nine literatures were accepted. All literatures showed an increase in students' knowledge about dental and oral health after the DHE using audio-visual media. In conclusion, elementary school students' knowledge about dental and oral health increased significantly after DHE using audio-visual media.Keywords: dental health education (DHE); audio visual media; elementary school’s students Abstrak: Hasil Riskesdas Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 93% anak Indonesia mengalami karies gigi. Dental health education (DHE) adalah pemberian informasi berupa pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan gigi dan mulut serta faktor penentu yang memengaruhi individu dan komunitas. Pemberian DHE pada anak harus dilakukan dengan cara yang tepat dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dental health education menggunakan media audio visual pada siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah suatu literature review mengguanakan database PubMed, Google Scholar, Science Direct, dan Clinical Key. Literatur yang diperoleh kemudian diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi serta dilakukan critical appraisal untuk mendapat literatur yang relevan dan layak diteliti. Setelah melalui seleksi studi, didapatkan sembilan literatur untuk diulas. Semua literatur menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut setelah DHE menggunakan media audio visual. Simpulan penelitian ini ialah pengetahuan siswa sekolah dasar tentang kesehatan gigi dan mulut meningkat secara bermakna setelah pemberian DHE menggunakan media audio visual.Kata kunci: dental health education (DHE); media audio visual; siswa sekolah dasar