cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC" : 32 Documents clear
Inguinal Hernia in Infant Matthew A Kumaat; Harsali Lampus; Nathaniel Pali
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37617

Abstract

Abstract: Inguinal hernia in infant is a condition of protrusion of the intestinal organs due to thepatency of processus vaginalis. The ratio of incidence between male and female infants isapproximately 8:1. The incidence of inguinal hernia ranges from 1-5% in children and full-terminfants, whereas in premature infants there is a significant increase in the number, which is around30%. Clinical manifestations that can occur in infants with inguinal hernias are the appearance ofa lump when straining, crying, coughing, or sneezing, patient could look restless because of thepain and discomfort. The diagnosis of inguinal hernia can be made by history taking, physicalexamination, and supporting examination. Management of inguinal hernia is by surgery, can bean open herniotomy or laparoscopy.Keywords: inguinal hernia; infant Abstrak: Hernia inguinalis pada bayi merupakan kondisi penonjolan organ intestinal akibatadanya patensi prosesus vaginalis. Perbandingan rasio kejadian antara anak laki-laki dan perempuankurang lebih sekitar 8:1. Insidensi hernia inguinalis berkisar 1-5% pada anak dan bayi cukupbulan, sedangkan pada bayi prematur terdapat kenaikan angka yang bermakna yaitu sekitar 30%.Manifestasi klinis yang dapat terjadi pada anak dengan hernia inguinalis adalah timbulnyabenjolan pada saat mengedan, menangis, batuk, atau bersin, anak terlihat gelisah karena nyeri danrasa tidak nyaman. Penegakan diagnosis hernia inguinalis dapat dilakukan dengan anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana hernia inguinalis ialah denganherniotomi terbuka atau laparoskopi.Kata kunci: hernia inguinalis; bayi
Management and Outcome of Pediatric Appendicitis in COVID-19 Era Novia D. Yantika; Harsali Lampus; Angelica M. J. Wagiu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37668

Abstract

Abstract: The COVID-19 pandemic has an impact on health services including the management of appendicitis in children both infected and infected with COVID-19. Change in the management of appendicitis in children during the COVID-19 pandemic is still controversial regarding the outcomes arising from this management. This study aimed to determine the management and outcome of appendicitis in children infected and uninfected with COVID-19 during the COVID-19 pandemic. This was a literature review study using databases of PubMed, ClinicalKey and Google Scholar and keywords, as follows: (Management paediatric appendicitis and COVID) AND (outcome paediatric appendicitis and COVID). The results obtained 19 articles. There was a modification in the management of pediatric patients with appendicitis during the COVID-19 pandemic, which was an increase in the use of open appendectomy procedures, especially in COVID-19 positive patients and non-operative management, however, some still maintain the laparoscopic procedure. Meanwhile, the outcome of the management showed that there was no significant difference related to the occurrence of complications, the length of stay in patients with surgery, and the high failure rate in patients with non-operative management, therefore, interval appendectomy was needed. In conclusion, there is a modification in the management of appendicitis in children during the COVID-19 pandemic with insignificant outcome in the operative action and failure related to the non-operative management.Keywords: management; outcome; pediatric appendicitis; COVID-19 Abstrak: Pandemi COVID-19 memberi dampak pada pelayanan kesehatan termasuk manajemen apendisitis pada anak baik yang terinfeksi maupun tidak terinfeksi COVID-19. Perubahan manajemen apendisitis pada anak selama pandemi COVID-19 masih menjadi kontroversial terkait dengan luaran yang terjadi akibat manajemen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen dan luaran apendisitis pada anak yang terinfeksi maupun tidak terinfeksi COVID-19 selama pandemi COVID-19. Penelitian ini berbentuk literature review menggunakan database dari PubMed, ClinicalKey dan Google Scholar dengan kata kunci (Management paediatric appendicitis and COVID) AND (outcome paediatric appendicitis and COVID). Hasil penelitian mendapatkan 19 artikel. Terjadi modifikasi dalam manajemen pasien anak dengan apendisitis selama pandemi COVID-19, yaitu peningkatan dalam penggunaan prosedur apendektomi terbuka terutama pada pasien positif COVID-19 dan manajemen non-operatif, namun beberapa diantaranya tetap memper-tahankan dilakukannya prosedur laparoskopi. Luaran dari manajemen yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan bermakna terkait terjadinya komplikasi, masa rawat inap pada pasien dengan tindakan operatif, dan tingginya tingkat kegagalan pada pasien dengan manajemen non-operatif; oleh karena itu apendektomi interval masih diperlukan. Simpulan penelitian ini ialah adanya modifikasi dalam manajemen apendisitis pada anak selama pandemi COVID-19 dengan luaran yang tidak berbeda bermakna dalam hal tindakan operatif dan kegagalan terkait manajemen non-operatif.Kata kunci: manajemen; luaran; apendisitis pada anak; COVID-19
Efficacy of Paracetamol Compared to Ibuprofen on Closure of Patent Ductus Arteriosus in Premature Infants Alviolita P. Rondonuwu; Johnny L. Rompis; David S. Waworuntu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37701

Abstract

Abstract: Patent ductus arteriosus (PDA) is a congenital heart disease caused by failure of the ductus arteriosus to close immediately after birth. PDA can cause hemodynamic disturbances in premature infants as well as increased morbidity and mortality. Therefore, it needs to be closed immediately. Closuring of the PDA can use ibuprofen as a cyclooxygenase (COX) inhibitor, however, there are potential side effects. Paracetamol can be used as an alternative that acts as a peroxidase (POX) inhibitor with few side effects. This study aimed to compare the efficacy of paracetamol and ibuprofen on PDA closure in premature infants. This was a literature review, using four databases, such as Pubmed, ClinicalKey, Cochrane and ScienceDirect. The keywords used were paracetamol AND ibuprofen AND patent ductus arteriosus AND preterm AND newborn. Selection with inclusion and exclusion criteria obtained 13 articles. Paracetamol was as effective as ibuprofen for PDA closure therapy in premature infants. Paracetamol was safer than ibuprofen due to ibuprofen’s side effects. In conclusion, paracetamol is as effective as ibuprofen and is safer to be used in PDA closure therapy in premature babies.Keywords: paracetamol; ibuprofen; patent ductus arteriosus; preterm; newborn Abstrak: Patent ductus arteriosus (PDA) adalah penyakit jantung kongenital akibat gagalnya ductus arteriosus untuk menutup segera setelah lahir. PDA dapat menyebabkan gangguan hemodinamika pada bayi prematur, serta meningkatkan morbiditas dan mortalitas sehingga perlu segera ditutup. Penutupan PDA dapat menggunakan ibuprofen sebagai penghambat cyclo oxygenase (COX), namun terdapat efek samping potensial yang ditimbulkan. Parasetamol dapat digunakan sebagai alternatif yang bekerja menghambat peroksidase (POX) dengan sedikit efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efikasi parasetamol dan ibuprofen untuk penutupan PDA pada bayi prematur. Penelitian ini berbentuk literature review, menggunakan empat database yaitu Pubmed, ClinicalKey, Cochrane dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan yaitu paracetamol AND ibuprofen AND patent ductus arteriosus AND preterm AND newborn. Hasil seleksi dengan kriteria inklusi dan eksklusi mendapatkan 13 literatur. Hasil penelitian mendapatkan bahwa parasetamol sama efektif dengan ibuprofen untuk terapi penutupan PDA pada bayi prematur. Parasetamol lebih aman dibandingkan ibuprofen akibat efek samping yang ditimbulkan. Simpulan penelitian ini ialah parasetamol sama efektif dengan ibuprofen serta lebih aman untuk digunakan sebagai terapi penutupan PDA pada bayi prematur.Kata kunci: parasetamol; ibuprofen; patent ductus arteriosus; prematur; bayi
Risk Factors Related to Hypertension in Children Shyella E. Ngantung; Adrian Umboh; Jeanette I. Ch. Manoppo
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37708

Abstract

Abstract: Hypertension is a serious health problem, not only because of its increasing incidence but also due to its morbidity and mortality. Although children often experience an increase in blood pressure, it is very difficult and even cannot be determined early. Therefore, the increase in blood pressure can persist into adulthood and results in hypertension and coronary heart disease. This is influenced by several risk factors that can support the occurrence of hypertension in children. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of hypertension. This was a literature review study using two databases namely Pubmed and Google Scholar and the keywords were risk factor AND hypertension AND children. The results obtained that there was a relationship between hypertension with nutritional status (obesity), excessive salt consumption, poor physical activity, smoking behavior, poor sleep quality, family history of hypertension, and male sex. In conclusion, there are a variety of risk factors related to hypertension, and obesity is the dominant one.Keywords: risk factor; hypertension; children Abstrak: Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius, bukan saja karena angka kejadian-nya yang meningkat melainkan karena morbiditas dan mortalitas yang diakibatkannya. Anak seringkali mengalami peningkatan tekanan darah akan tetapi sangat sulit bahkan tidak dapat ditentukan sejak dini sehingga peningkatan tekanan darah dapat menetap hingga dewasa dan mengakibatkan hipertensi dan penyakit jantung koroner. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dapat mendukung terjadinya hipertensi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. Jenis penelitian ini ialah suatu literature review dengan menggunakan dua database yaitu Pubmed and Google Scholar dengan kata kunci risk factor AND hypertension AND children. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat hubungan antara hipertensi dengan status gizi lebih (obesitas), konsumsi garam berlebih, aktivitas fisik kurang, perilaku merokok, kualitas tidur buruk, riwayat hipertensi keluarga, dan jenis kelamin laki-laki. Simpulan penelitian ini ialah terdapat berbagai factor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi dengan obesitas sebagai faktor risiko yang dominan.Kata kunci: faktor risiko; hipertensi; anak
Identification of Skull Base Fracture Complications Estie R.I. Putri; Eko Prasetyo; Angelica M. J. Wagiu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37717

Abstract

Abstract: Fracture of skull base often occurs in traumatic brain injury (TBI) cases and is one of the leading causes of high morbidity and mortality. It can extend beyond the base of the front, middle, or back cranial fossa and cause various complications according to the location of the fractures. This study aimed to identify the complications in cases of fractures of the skull base. This was a literature review study using three databases, as follows: Google Scholar, ClinicalKey and PubMed. The results obtained 30 articles that met the inclusion and exclusion criteria. Complications of vascular injury, intraorbital injury, cerebrospinal fluid (CSF) rhinorrhea could lead to further complications such as meningitis and anosmia in fractures of the front part of skull base; vascular injury, CSF otorrhoea, vertigo, sensorineural or conductive deafness, injuries of II-VIII nerves, and Horner's syndrome in fractures of the middle part of skull base; and vascular injury, nerve injury IX-XII, and cervical injury to coma in fractures of the back part of the skull base. In conclusion, there are a variety of complications that could occur in skull base fractures depending on the location of the fractures.Keywords: complications; skull base fractures; traumatic brain injury (TBI) Abstrak: Patah tulang dasar kepala sering terjadi pada penderita cedera otak akibat trauma (COT), dan merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak. Patah tulang dasar kepala yang terjadi dapat meluas melewati dasar fossa kranial bagian depan, tengah atau belakang dan menyebabkan berbagai komplikasi sesuai dengan lokasi terjadinya fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komplikasi yang dapat terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Literatur diperoleh melalui tiga database yaitu Google Scholar, ClinicalKey, dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan 30 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat komplikasi cedera vaskuler, cedera intraorbita, rhinorrhea cerebrospinal fluid (CSF) hingga menyebabkan komplikasi lanjutan seperti meningitis dan anosmia pada patah tulang dasar kepala bagian depan; cedera vaskuler, otorrhea CSF, vertigo, ketulian konduktif/sensorineural, cedera nervus II-VIII dan sindrom Horner pada patah tulang dasar kepala bagian tengah; dan cedera vaskuler, cedera nervus IX-XII, cedera servikal hingga koma pada patah tulang dasar kepala bagian belakang. Simpulan penelitian ini ialah komplikasi yang terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala berbeda-beda tergantung dengan lokasi terjadinya patah tulang.Kata kunci: komplikasi; patah tulang dasar kepala; cedera kepala akibat trauma
Relationship between Knowledge, Attitude, and Preventive Measures against Dengue Hemorrhagic Fever in Community Istiyarsih Sillia; Adrian Umboh; Novie H. Rampengan
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37741

Abstract

Abstract: North Sulawesi Province is included in the category with the highest cases of dengue hemorrhagic fever (DHF) in Indonesia. This study aimed to evaluate the relationship between know-ledge, attitude, and preventive measures against DHF in the community. Thia was an analytical and descriptive study with a cross sectional design. Respondents were people who lived in Puskesmas (primary health center) Kelurahan Sario Kotabaru Kota Manado area. There were 89 respondents in this study obtained by using incidental sampling technique. The results showed that DHF occurred in 5 respondents (5.6%). The majority of respondents had moderate knowledge (52.8%), agreeable attitude (70.8%), and moderate preventive measures (55.1%). Bivariate analysis resulted in significant relationship between knowledge and the occurrence of DHF (p=0.020); attitude and the occurrence of DHF (p=0.001); and preventive measures and the occurrence of DHF (p=0.016). Multivariate analysis using linear regression showed that attitude was the most related factor to DHF occurrence (Exp B=-0.034, regression coefficient =-0.140, p= 0.002). In conclusion, there is a relationship between knowledge, attitude, and preventive measures with DHF occurrence. Attitude is the most related factor to the occurrence of DHF in the community at Puskesmas Kotabaru area. Keywords: dengue hemorrhagic fever (DHF); knowledge; attitude; preventive measures Abstrak: Sulawesi Utara termasuk dalam salah satu provinsi di Indonesia dengan kategori kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan masyarakat terhadap DBD. Jenis penelitian ialah analitik deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah masyarakat di wilayah Puskesmas Kelurahan Sario Kotabaru Kota Manado sebanyak 89 orang diperoleh dengan menggunakan teknik sampling insidental. Hasil penelitian menunjukkan kejadian DBD terdapat pada 5 responden (5,6%). Responden paling banyak terdistribusi pada pengetahuan cukup (52,8%), sikap setuju (70,8%), tindakan pencegahan cukup (55,1%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p=0,020), sikap dengan kejadian DBD (p=0,001), dan tindakan pencegahan dengan kejadian DBD (p=0,016). Analisis multivariat menggunakan regresi liniear mendapatkan bahwa sikap merupakan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian DBD (Exp B=-0,034, koefisien regresi=-0,140, dan nilai p=0,002). Simpulan penelitian ini ialah pada masyarakat di wilayah Puskesmas Kelurahan Sario Kotabaru terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan dengan kejadian DBD. Sikap merupakan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian DBD.Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD); pengetahuan; sikap; tindakan pencegahan
Relationship between Hyperglycemia and Outcome of COVID-19 Patients Anna Andriana; Karel Pandelaki; Linda W. A. Rotty
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37813

Abstract

Abstract: Diabetes is one of the most common diseases found in COVID-19 patients. People with diabetes have a higher risk of developing a more severe form when infected with the SARS-CoV2 virus. This study aimed to determine the relationship of hyperglycemia and the outcome of COVID-19 patients. This was a literature review study using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey, and Google Scholar. The outcomes studied were the degree of COVID-19 disease and the mortality rate of COVID-19 patients. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. COVID-19 patients suffering from hyperglycemia, both those with and without a history of diabetes, experienced more severe degree of illness and higher mortality rate compared to patients without hyperglycemia. In conclusion, there is a relationship between hyperglycemia and the severity of illness and mortality in COVID-19 patients.Keywords: hyperglycemia; COVID-19 Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada pasien COVID-19. Penyandang DM berisiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih parah ketika terinfeksi virus SARS-CoV2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hiperglikemia dengan luaran pasien COVID-19. Jenis penelitian berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey,dan Google Scholar. Luaran yang diteliti yaitu derajat penyakit dan angka kematian pasien COVID-19 dengan DM. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien COVID-19 dengan hiperglikemia baik yang penyandang DM maupun tanpa riwayat DM mengalami keparahan penyakit yang lebih berat dengan angka kematian yang lebih tinggi dibanding pasien tanpa hiperglikemia. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara hiperglikemia dengan keparahan penyakit dan angka kematian pasien COVID-19.Kata kunci: hiperglikemia; COVID-19
Risk Factors of Non-Alcoholic Fatty Liver Disease in Adults Daniel D. Setiono; Frans E. N. Wantania; Efata B. I. Polii
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37814

Abstract

Abstract: The concern of NAFLD is its complications which can progress to cirrhosis and liver failure. Therefore, it is necessary to understand the risk factors for NAFLD which could facilitate any efforts to reduce its prevalence. This study aimed to determine the risk factors for NAFLD, especially in adulthood. This was a literature review study using three databases, namely Clinical Key, Pubmed, and ScienceDirect. The keywords used were Risk Factors of NAFLD in adult. The results obtained 13 articles to be reviewed. Many risk factors for NAFLD in adulthood inter alia: increased score HOMA-IR, PNPLA3 GG gene, presence of serum antibodies, villagers with a family history of metabolism disorder, serum selenium level ≥130 g/L, sleep duration of more than 8 hours, high pre-pregnancy maternal body mass index, various types of gene including PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM and LPIN1, consumption of sugar-rich drinks, increased SUA levels, obesity, pre-diabetes, and excessive food intake during lactation. In conclusion, there is a wide variety of risk factors for NAFLD in adults.Keywords: non-alcoholic fatty liver disease; risk factors; adulthood Abstrak: Hal yang dikhawatirkan dari NAFLD ialah bila terjadi komplikasi yang dapat berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Pemahaman terhadap faktor-faktor risiko NAFLD akan memudahkan usaha menurunkan prevalensi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor risiko NAFLD, khususnya pada usia dewasa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu ClinicalKey, Pubmed, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan ialah Risk Factors of NAFLD in adult. Hasil penelitian mendapatkan 13 artikel untuk di review setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Faktor-faktor risiko dari NAFLD pada usia dewasa, yaitu peningkatan skor  HOMA-IR, gen PNPLA3 GG, adanya serum antibodies, penduduk desa dengan riwayat keluarga gangguan metabolik, kadar serum selenium ≥130 μg/L, tidur dengan durasi lebih dari 8 jam, BMI ibu pra-kehamilan yang tinggi, berbagai macam gen seperti PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM dan LPIN1, mengonsumsi minuman kaya gula, peningkatan kadar SUA, obesitas, pre-diabetes dan pemberian asupan makanan yang berlebihan selama masa menyusui. Simpulan penelitian ini ialah terdapat berbagai faktor risiko NAFLD yang sangat bervariasi pada usia dewasa.Kata kunci: non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD); faktor risiko; usia dewasa
Association between Serum Uric Acid Level and Chronic Kidney Disease Maria C. Wariki; Bradley J. Waleleng; Karel Pandelaki
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37815

Abstract

Abstract: As already known, chronic kidney disease (CKD) could result in a change of serum uric acid (SUA) level which leads to hyperuricemia. However, many studies suggest that SUA level has an important role in CKD progression and independently associated with a new onset of CKD. This study aimed to find out the independent association between SUA level and CKD. This was a literature review study using databases of Google Scholar and Pubmed. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. All studies proved that there was an association between SUA level and CKD. An elevated SUA level, known as hyperuricemia, was a risk factor in renal impairment and CKD progression. In conclusion, there is an independent association between SUA level and CKD.Keywords: serum uric acid; chronic kidney disease Abstrak: Telah diketahui bahwa penyakit ginjal kronis (PGK) dapat memengaruhi kadar asam urat dan mengakibatkan hiperurisemia. Banyak penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa kadar asam urat secara independen memengaruhi terjadinya PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat serum dengan PGK. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan database Google Scholar dan Pubmed. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kesepuluh artikel menun-jukkan adanya hubungan independen antara kadar asam urat serum dengan PGK. Peningkatan kadar asam urat serum yang dikenal dengan hiperurisemia dianggap sebagai salah satu faktor dalam progresifitas gangguan ginjal dan PGK. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara kadar asam urat serum dengan PGK.Kata kunci: asam urat serum; penyakit ginjal kronis
Relationship between Nutritional Status and Urinary Tract Infection in Children Siti F. Hidayati; Valentine Umboh; Shekina H. E. Rondonuwu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37830

Abstract

Abstract: Urinary tract infection (UTI) is one of the most common urinary tract diseases in children of all ages. Risk factors for UTI include age, sex, poor nutrition/nutritional status, uncircumcised boys, personal hygiene, urinary emptying dysfunction, and genitourinary tract abnormalities. It is already known that infection can worsen the nutritional status. This study aimed to evaluate the relationship between nutritional status and UTI in children, the incidence of UTI in children with under nutrition, poor nutrition, and over nutrition, and to compare the incidence of UTI in children with normal nutrition, undernutrition, poor nutrition, and over nutrition. This was a literature review study. The results showed that nutritional status and UTI had a significant relationship. Malnutrition or over nutrition could increase the incidence of UTI. Differences in the incidence of UTI in 12 articles were caused by a variety of factors, such as numbers of boys and girls in the studies, age, environment, and the ways to collect urine samples. In conclusion, there is a significant relationship between nutritional status and the incidence of UTI. Poor nutritional status especially malnutrition and over nutrition could increase the incidence of UTI.Keywords: urinary tract infection (UTI); nutritional status; malnutrition; obesity Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit saluran kemih yang sering terjadi pada anak dalam semua usia. Faktor risiko ISK antara lain usia, jenis kelamin, gizi buruk/status gizi, anak laki-laki yang belum disirkumsisi, kebersihan diri, disfungsi pengosongan urin, dan abnormalitas saluran genitourinaria. Telah diketahui bahwa infeksi dapat memperburuk status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara status gizi dan ISK pada anak, angka kejadian ISK pada anak dengan gizi kurang, gizi buruk, dan gizi lebih, serta mengetahui perbandingan kejadian ISK pada anak dengan gizi normal, gizi kurang, gizi buruk, dan gizi lebih. Penelitian ini merupakan suatu literature review. Hasil penelitian mendapatkan adanya hubungan bermakna antara status gizi dan ISK. Malnutrisi maupun gizi lebih dapat meningkatkan angka kejadian ISK. Perbedaan kejadian ISK pada 12 literatur yang diteliti disebabkan karena berbagai faktor, seperti rasio jumlah anak laki-laki dan perempuan dalam penelitian, umur, lingkungan tempat tinggal, dan cara pengambilan sampel urin. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan kejadian ISK. Status gizi kurang terutama malnutrisi maupun gizi lebih dapat meningkatkan angka kejadian ISK.Kata kunci: infeksi saluran kemih (ISK); status gizi; malnutrisi; obesitas 

Page 1 of 4 | Total Record : 32