cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
217 PROFIL PIODERMA PADA ANAK DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMINRSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012 Pangow, Caren C.a; Pandaleke, Herry E. J.; Kandou, Renate T.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6820

Abstract

Abstract: Pyoderma is a skin infection caused byeither or both of staphylococcus and streptococcus bacteria. This infectious skin diseases are still the main problem of high level morbidity cases in children, especially indeveloping countries with topical climate including Indonesia. This study’s goal to gain pyoderma patients profile in children at the dermatovenereology clinic of Prof. Dr R. D. Kandou General Hospital Manado during the period from January - December 2012. This is a retrospectivedescriptive study from the secondary data of pyoderma’spatient in children, based on the number of patients, sex, age, diagnose, nutritional status, and therapy. The results showed that of pyoderma’s cases in children during January - Decemberwas fifty three cases (16,51%). The distribution based on sex mostly on female (56,6%), based on age infected group mostly on 1-4 years old (43,4%). The majortypes of pyoderma isimpetigo (58,5%). The distributionbased on nutritional status mostly on well-nourished (64,7%). There were thirty fivepatients (66%) givensystemic antibiotic with topical therapy.The most systemic antibiotics therapy used was erythromycin (62,2%), and the most topical therapy used was fusidic acid (34 %).Keywords: pyoderma, childrenAbstrak: Pioderma adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman staphylococcus, streptococcus atau keduanya.Penyakit infeksi kulit masih merupakan masalah utama penyebab tingginya angka morbiditas pada anak-anak terutama di negara-negara berkembang dan wilayah beriklim tropis, termasuk di Indonesia.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil pasien pioderma pada anak di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2012 – Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dari data sekunder pasien pioderma anak (umur 0-14 tahun) berdasarkan jumlah pasien, umur, jenis kelamin, diagnosis, status gizi, dan terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pioderma pada anak periode januari – desember 2012 sebanyak 53 kasus (16,51%). Distribusi menurut jenis kelamin terbanyak pada perempuan (35,6 %) dan menurut umur terbanyak adalah kelompok umur 1-4 tahun (43,4%). Jenis pioderma terbanyak adalah impetigo (58,5%). Distribusi menurut status gizi terbanyak adalah bergizi baik (64,7%). Sebanyak 35 pasien (66%) diberikan terapi antibiotik sistemik dengan topikal. Terapi antibiotik sistemik terbanyak yang digunakan adalah eritromisin (62,2%), dan topikal yang paling sering digunakan adalah asam fusidat (34%).Kata kunci: pioderma, anak
Perbedaan kadar hemoglobin pada remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan dengan yang tinggal di tepi pantai Jacobus, Marianne C.; Mantik, Max F.J; Umboh, Adrian .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11696

Abstract

Abstract: Haemoglobin is the main component of red blood cells that serves as a transporter of oxygen and carbon dioxide in the blood. The normal range of haemoglobin values can be used to determine the degree of anemia according to age and gender. Geographical condition such as altitude influences the haemoglobin value. This study aimed to obtain the difference of haemoglobin levels between teenagers with good nutrition status who live at the highland and those at the seaside. This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were students with good nutrition status of SMPN 3 Tomohon (living at the highland) and those of SMP Kristen Nazaret Tuminting (living at the seaside). There were 60 students who met the inclusion criteria as follows: adolescent, good nutrition status, healthy, aged 13-15 years, lived at the highland or at the seaside ≥ 6 month, and willing to be performed blood examinations, and had been approved by their parents. The Mann-Whitney test for the difference between haemoglobin levels of the two groups showed a p value < 0,001. Conclusion: There was a very significant difference between haemoglobin levels of good nutrition teenagers who lived at the highland and at the seaside. Keywords: haemoglobin levels, good nutrition, teenagers, highland, seaside  Abstrak: Hemoglobin merupakan komponen utama sel darah merah dan berfungsi sebagai transporter oksigen dan karbon dioksida dalam darah. Batas normal nilai hemoglobin dapat digunakan untuk menetapkan derajat anemia, dengan distribusi usia dan jenis kelamin spesifik didasarkan pada sampel referensi sehat. Kondisi geografis, seperti ketinggian tempat dari permukaan laut menjadi faktor pertimbangan dalam distribusi nilai normal hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbedaan kadar hemoglobin antara remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan dengan yang tinggal di tepi pantai. Jenis penelitian ini analitik-observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian yaitu remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan yaitu siswa SMPN 3 Tomohon dan yang di tepi pantai yaitu siswa SMP Kristen Nazaret Tuminting. Subjek penelitian berjumlah 60 remaja yang memenuhi kriteria inklusi yaitu gizi baik, sehat, berumur 13-15 tahun, berdomisili di pegunungan atau tepi pantai ≥6 bulan, bersedia dilakukan pemeriksaan darah, dan telah disetujui oleh orang tua. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dengan bantuan program SPSS. Hasil uji Mann-Whitney mengenai perbedaan kadar hemoglobin antara kedua kelompok menunjukkan nila p <0,001. Simpulan: Terdapat perbedaan yang sangat bermakna kadar hemoglobin remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan dengan di tepi pantai.Kata kunci: kadar hemoglobin, remaja gizi baik, pegunungan, tepi pantai
Petunjuk Penulis Penulis, Petunjuk
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1062

Abstract

Petunjuk bagi (Calon) Penulis Menurut tata cara Vancouver modifikasi Curtin University, 2009 Jurnal e-CliniC  
Hubungan ear lobe crease dengan penyakit jantung koroner Fuzairi, Jacqueline A.; Djafar, Dewi U.; Panda, Agnes L.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10833

Abstract

Abstract: Cardiovascular disease is a huge burden in terms of mortality, disability, and morbidity in this day. Prevention of cardiovascular disease is based on the physical signs. Waist circumference, Ankle Brachial Index (ABI) and Carotid Intima Media Thickness (CIMT) are useful to recognize occult atherosclerosis, so as ear lobe crease. However, medics have less attention about examination of ear lobe crease for detection of coronary artery disease. This study aimed to determine the relation of ear lobe crease and coronary artery disease. This was an analytical observational study with a case control design. The results showed that there were 45 samples for control group and 45 samples for case group. The statistical analysis showed the X2 = 21.78 with a p value <0,001 which indicated that there was a significant correlation between Ear Lobe Crease and Coronary Artery Disease. The OR = 8.9% (95% CI 3.4 -23.3) meant that if a person had ear lobe crease, the possibility of coronary artery disease was 8.9 times higher than a person without ELC. Conclusion: There was a significant correlation between Ear Lobe Crease and Coronary Artery Disease.Keywords: ear lobe crease, coronary artery diseaseAbstrak: Penyakit Kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian, kecacatan dan kesakitan saat ini. Deteksi penyakit kardiovaskular sebagai tindakan pencegahan dapat dilihat melalui pemeriksaan fisik. Pengukuran lingkar pinggang, Ankle Brachial Index (ABI), dan Carotid Intima Media Thickness (CIMT) sangat berguna untuk penanda aterosklerosis subklinis, begitu pula dengan Ear Lobe Crease. Namun sampai saat ini, pemeriksaan Ear Lobe Crease untuk menilai penyakit jantung koroner kurang mendapat perhatian petugas medis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Ear Lobe Crease (ELC) dengan Penyakit Jantung Koroner. Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan case control. Hasil penelitian: Sampel penelitian terdiri dari 45 orang untuk kelompok kontrol dan 45 orang untuk kelompok kasus. Berdasarkan uji X2 diperoleh X2 = 21,78 dengan p < 0,001. Hasil ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang sangat bermakna antara Ear Lobe Crease (ELC) dengan Penyakit Jantung Koroner (p < 0,001). Dalam uji ini, juga diperoleh OR = 8,9 (95% CI: 3,4 – 23,3). Odd Ratio (OR) ini menyatakan bahwa bila seseorang ditemukan adanya ELC, maka orang tersebut berisiko 8,9 kali mendapat Penyakit Jantung Koroner dibanding dengan orang tanpa ELC. Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara Ear Lobe Crease (ELC) dengan Penyakit Jantung Koroner.Kata kunci: ear lobe crease, penyakit jantung koroner.
Gambaran length of stay pada pasien stroke rawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2015-Juni 2016 Amiman, Reunita C.; Tumboimbela, Melke J.; Kembuan, Mieke A.H.N.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14500

Abstract

Abstract: Stroke is a cardiovascular disease which is the second rank of worldwide disease leading to death. Hospitalization is a treatment process which including patient to stay at hospital and length of stay (LOS) is a calculated time periode when patient admitted until discharged. This studywas aimed to obtain the profile of hospitalized stroke patients’ LOS at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from July 2015 to Juni 2016. This was a descriptive retrospective study using secondary data of the medical records. Samples consisted of 293 patients.The results presented ischemic stroke in 58.02% with LOS 6.84 days and hemorrhagic stroke in 41.98% with LOS 10.84 days. Patients with the highest LOS were females with hemorrhagic stroke (11.04 days); age 45-54 years (9.47 days); hemorrhagic stroke with hypertension (11.26 days); hemorrhagic stroke without dyslipidemia (10.67 days); hemorrhagic stroke with DM type 2 (12.67 days); and hemorrhagic stroke with tuberculosis (23.50 days). Conclusion: In this study, hemorrhagic stroke patients had higher LOS.Keywords: stroke, length of stay. Abstrak: Stroke adalah penyakit kardiovaskular yang menempati peringkat kedua sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Pelayanan rawat inap merupakan proses perawatan pasien dengan menginap di rumah sakit dan length of stay (LOS) merupakan periode yang dihitung ketika pasien masuk hingga keluar dari rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran LOS pada pasien stroke rawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2015-Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien stroke periode Juli 2015-Juni 2016 dari bagian rekam medik. Sampel penelitian berjumlah 293 pasien. Hasil penelitian menunjukkan persentase jumlah pasien stroke iskemik 58,02% dengan LOS 6,84 hari dan persentase jumlah pasien stroke hemoragik 41,98% dengan LOS 10,64 hari. Pasien stroke dengan LOS tertinggi terdapat pada jenis kelamin perempuan dengan stroke hemoragik, 11,04 hari; usia 45-54 tahun, 9,47 hari; stroke hemoragik dengan hipertensi, 11,26 hari; stroke hemoragik tanpa dislipidemia, 10,67 hari; stroke hemoragik dengan DM tipe 2, 12,67 hari; stroke dengan komplikasi, 9,33 hari; stroke hemoragik dengan pneumonia, 10,65 hari; dan stroke hemoragik dengan tuberculosis, 23,50 hari. Simpulan: Pasien stroke hemoragik memiliki LOS yang lebih tinggi.Kata kunci: stroke, lama rawat
ANGKA KEJADIAN SUMBING BIBIR DI RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2011-2013 Supandi, Andriani
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.4557

Abstract

Abstract: Cleft lip is a gap defect in the upper lip tha tcan extend to the gums, jaw and palate that are formed in the first trimester of pregnancy because of the mesodermis is not formed in that area so the nasal and maxillary processes that have been fused into a broken back. Cleft lip is caused by genetic and environmental factors. This study aimed to obtain the incidence of cleft lip in Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado for period 2011-2013. This was a descriptive retrospective study by using data of the Surgery Department and the Medical Record. The results showed that during the period 2011-2013, the most frequent cases were cleftlip and alveolar with cleft soft palate and hard palate (65.5%). Unilateral cleft lip (66%) was more common than bilateral cleft lip (34%) and the localizations of defects were more common on the left (57%). The number of male patients (67%) were higher than the females (33%). Most patients underwent surgery at the ages of 1-6 years (39%). Most patients underwent Primary Lip Repair surgery (71%) and the most frequent performed techniques was Triangular Variant (33%).Keywords: cleft lip, incidenceAbstrak: Sumbing bibir merupakan cacat berupa celah pada bibir atas yang dapat meneruskan diri sampai ke gusi, rahang dan langitan yang terbentuk pada trimester pertama kehamilan karena tidak terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga prosesus nasalis dan maksilaris yang telah menyatu menjadi pecah kembali. Sumbing bibir disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian sumbing bibir di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2011-2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif melalui pengumpulan data di bagian Bedah dan bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2011-2013 kasus tertinggi yang ditemukan adalah kasus sumbing bibir dan alveolus yang disertai dengan sumbing palatum lunak dan palatum keras (65,5%). Sumbing bibir unilateral (66%) lebih banyak ditemukan daripada sumbing bibir bilateral (34%) dan lokalisasi defek lebih sering terjadi di sebelah kiri (57%). Jumlah pasien laki-laki (67%) lebih banyak ditemukan daripada perempuan (33%). Sebagian besar pasien dilakukan operasi pada usia 1-6 tahun (39%). Sebagian besar pasien dilakukan operasi Primary Lip Repair (71%) dan tehnik operasi yang tersering ialah Triangular Variant (33%).Kata kunci: Angka kejadian, sumbing bibir
Perbedaan Tingkat Kecemasan Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tindakan Penumpatan Gigi Paputungan, Fazriah F.; Gunawan, Paulina N.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Khoman, Johanna A.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23879

Abstract

Abstract: Oral and dental treatment is considered to be scary that can causes anxiety. Gender is one of the factors that influence the anxiety due to restorative treatment especially in dental caries. This study was aimed to determine the difference in anxiety level based on gender in restorative treatment at RSGM Unsrat. This was an analytical study using a cross sectional design. Samples were obtained by using purposive sampling method. Levels of anxiety in males and females were measured by using questionnaire that had been tested for validity. The results showed 32 patients aged 18-65 years who received dental restorative treatment in year 2019 at RSGM Unsrat. Males were as many as females. The levels of anxiety due to the restorative treatment were as follows: not anxious (31.2%), mild (40.7%), moderate (28.1%), severe (0.0%), and very severe (0.0%). The unpaired t-test showed a p-value 0.000. In conclusion, there were differences in male and female anxiety levels due to restorative treatment at RSGM Unsrat; females were more anxious than males.Keywords: anxiety level, gender, restorative treatmentAbstrak: Pengobatan penyakit gigi dan mulut masih kurang diminati masyarakat karena dianggap menakutkan sehingga dapat menimbulkan kecemasan. Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kecemasan pada penumpatan gigi yang digunakan terutama pada karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin pada tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang dan menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan pada laki-laki dan perempuan diukur berdasarkan kuesioner pengukuran tingkat kecemasan yang telah teruji validitasnya. Pasien yang menerima tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat berusia 18-65 tahun pada tahun 2019 berjumlah 32 orang dengan jumlah yang sama besar untuk kedua jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang mengalami kecemasan pada tindakan penumpatan gigi kategori tidak cemas (31,2%), ringan (40,7%), sedang (28,1%), berat (0,0%), dan sangat berat (0,0%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik uji t tidak berpasangan menunjukkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara laki-laki dan perempuan pada tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat. Kecemasan lebih banyak didapatkan pada perempuan.Kata kunci: tingkat kecemasan, jenis kelamin, penumpatan gigi
ANGKA KEJADIAN MEROKOK PADA PASIEN TB PARU YANG BEROBAT DI POLIKLINIK DOTS PADA BULAN NOVEMBER 2014 Silo, Widyanita K.; Wongkar, M. C. P.; Langi, Yuanita A.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7396

Abstract

Abstract: Lung Tuberculosis is an infectious disease that remains as a public health problem. Several studies suggest a significant relationship between smoking and lung tuberculosis. This study aimed to determine the prevalence of smoking in patients of lung tuberculosis in DOTS Polyclinic Prof. Dr R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a descriptive cross - sectional study conducted in October 2014. Samples included 57 people. Total of lung tuberculosis patients who smoked were 33 people; 28 were males (84.8 %). In the age group of 56-65 years there were 9 people (27.3 %). The most frequent of jobs were self-employed (8 people; 24.2 %). The results showed that the incidence of smoking in patients of lung tuberculosis approximately 57.9 %. Keywords: lung tuberculosis, smoking.Abstrak: Penyakit TB paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat. Beberapa penelitian menyebutkan adanya hubungan yang signifikan antara merokok dengan TB paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian merokok pada pasien TB paru di Poliklinik DOTS RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Desain penelitian adalah cross-sectional terhadap pasien TB paru yang berobat di Poliklinik DOTS RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan November 2014. Sampel berjumlah 57 orang. Jumlah pasien TB paru yang merokok adalah 33 orang, dimana jenis kelamin terbanyak laki-laki yaitu 28 orang (84,8%). Kelompok umur 56-65 tahun adalah yang terbanyak yaitu 9 orang (27,3%), dan pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta 8 orang (24,2%). Hasil dari penelitian ini didapatkan angka kejadian merokok pada pasien TB paru sekitar 57,9% dari keseluruhan data.Kata kunci: TB paru, merokok
Deteksi dini dan interaksi anak gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas dengan orang tua dan saudara kandung pada 20 sekolah dasar Kota Manado Sulemba, Dwi S.; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.12661

Abstract

Abstract: Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is a behavioral and neurocognitive disorder characterized by inappropriate of development and ages, hyperactivity, inability to focus attention, and impulsive behavior. According to American Psychiatric Association’s (APA) & Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), children with ADHD often experience difficulty in interaction with parents and siblings due to their significant emotional problem. This study aimed to obtain the number of children with ADHD at 20 elementary schools in Manado and their interactions with their parents and siblings. This was a descriptive study with a cross sectional design. The quantitative method using data of questionnaire from teachers and parents was followed by qualitative method using interviews with 2 parents and 2 siblings. Total respondents of 20 elementary schools in Manado were 5725 meanwhile children with ADHD were 611. In one school it was detected that of 180 children there were 63 ADHD children. Of the 611 respondents,16 children (19%) were 6 years old, 91 children (14.9%) were 7 years old, 99 children (16.2%) were 8 years old, 82 children (13.4%) were 9 years old, 107 children (17.5%) were 10 years old, 92 children (15.1%) were 11 years old, and 24 children (3.9%) were 12 years old. There were 385 males (63%) and 226 females (37%). Good interaction can improve children with ADHD.Keywords: early detection, interaction, ADHD, parents, siblings.Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas (GPPH) merupakan suatu perilaku dan neurokognitif ditandai dengan tingkat perkembangan yang tidak sesuai dengan seusianya, hiperaktif, ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian dan impulsif. Menurut American Psychiatric Association’s (APA) & Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), anak GPPH sering mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang tua dan saudara kandung akibat adanya masalah emosional yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anak GPPH pada 20 sekolah dasar di Manado serta cara interaksi anak GPPH dengan orang tua dan saudara kandung. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pengambilan data secara potong lintang menggunakan kuesioner kepada guru dan orang tua, dilanjutkan dengan penelitian kualitatif melalui wawancara terhadap 2 orang tua dan 2 orang saudara kandung. Total responden dalam pengisian kuesioner mengenai anak GPPH sebanyak 5725 anak di 20 sekolah dasar di Manado dengan jumlah anak GPPH sebanyak 611 anak. Terdapat salah satu sekolah yang terdeteksi paling banyak anak GPPH sebanyak 63 anak dari 180 jumlah anak di sekolah tersebut. Dari 611 orang responden, 16 orang diantaranya berusia 6 tahun (19%), 91 orang (14,9%) berusia 7 tahun, 99 orang (16,2%) berusia 8 tahun, 82 orang (13,4%) berusia 9 tahun, 107 orang (17,5%) berusia 10 tahun, 92 orang (15,1%) berusia 11 tahun, dan ada 24 orang (3,9%) yang berusia 12 tahun, serta 385 orang diantaranya berjenis kelamin laki-laki (63%), dan 226 orang (37%) yang berjenis kelamin perempuan.Anak laki-laki lebih banyak mengalami GPPH dibandingkan perempuan. Interaksi yang baik dapat memengaruhi perkembangan anak GPPH.Kata kunci: deteksi dini, interaksi, GPPH, orang tua, saudara kandung.
PROFIL TUMOR JINAK KULIT DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO PERIODE 2009-2011 Gefilem, Grace Agustin
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3291

Abstract

Abstract: Introduction: Benign skin tumor manifestation of chaos skin growths that are congenital or akuisita, without the invasive and metastatic tendency, can be derived from vascular and non-vascular. Benign tumors was often said to be dangerouly because it is not develop into malignant tumors, howver skin tumor needs to be understood because causing disability (ruin the appearance) and also at an advanced stage can be fatal in body health.Objective: To know the profile of patients benign skin tumor, age, gender and employment in the Dermatology Clinic Dr Prof Dr. R. D. Kandou Manado for 3 years (January 2009 - December 2011). Subjects and Methods: A retrospective study of benign skin tumor of the medical records of new patients based on tumor type, age, sex, and occupation.Results: There were 478 (15.65%) patients of benign skin tumor among 3055 new patients. Verruca vulgaris (28.03%) and seborrheic keratosis (24.69%) most frequently encountered. Highest age group is 15-44 years is 49.16%. The ratio of men and women for benign skin tumor is 1:1,12. Most jobs are housewives (26.36%). Conclusion: verruca vulgaris is the most benign skin tumor. Benign skin tumor was more common in women. Highest age group is 15-44 years. Most jobs are housewives.Keywords: skin tumors, benignAbstrakPendahuluan: Tumor jinak kulit merupakan manifestasi dari kekacauan pertumbuhan kulit yang bersifat kongenital atau akuisita, tanpa tendensi invasif dan metastasis, dapat berasal dari vaskuler dan non vaskuler. Tumor jinak sering dikatakan tidak berbahaya karena tidak sampai berkembang menjadi keganasan namun demikian, tumor kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal kesehatan tubuh.Tujuan: Mengetahui profil pasien tumor jinak kulit berdasarkan jenis tumor, umur, jenis kelamin dan pekerjaan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado selama 3 tahun (Januari 2009- Desember 2011).Subyek dan Metode: Penelitian retrospektif tumor jinak kulit terhadap catatan medis kasus baru berdasarkan jenis tumor, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan.Hasil: Terdapat 478 (15,65 %) pasien tumor jinak kulit di antara 3055 pasien baru. Veruka vulgaris (28,03%) dan keratosis seboroik (24,69%) paling sering dijumpai. Kelompok usia terbanyak adalah 15–44 tahun sejumlah 49,16%. Rasio laki-laki dan perempuan untuk tumor jinak kulit ialah 1:1,12. Pekerjaan terbanyak ialah ibu rumah tangga (26,36%).Kesimpulan: Veruka vulgaris merupakan tumor kulit jinak terbanyak. Tumor kulit jinak lebih sering terjadi pada perempuan. Kelompok usia tertinggi adalah 15–44 tahun. Pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga.Kata kunci: tumor kulit, jinak

Page 11 of 108 | Total Record : 1074