cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PROFIL ABSES SUBMANDIBULA DI BAGIAN BEDAH RS Prof. Dr. R. D. KANDO MANADO PERIODE JUNI 2009 SAMPAI JULI 2012 Hesly, Inggrid; Lumintang, Nico; Limpeleh, Hilman
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3603

Abstract

Abstract: Submandibular abscess is an inflammation with pus formation at submandibular region. submandibular abscess take the highest incidence rate of all types of neck abscesses. most of cases which caused by teeth infection at range 70-85 %, the rest are caused by sialadenitis, lymphadenitis, mouth wall laceration or fracture of the mandible. Aim of this study was to determine the profile of the submandibular abscess cases . This was descriptive retrospective observational research. Data were obtained from medical record from department of surgery BLU/RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado for last three years from June 2009 to July 2012. Based on 39 cases of submandibula abscess has found 21 male ( 53 % ) and 18 female patients ( 47 % ). In the age category over 50 years , there were 13 patient,  41-50 years there were 10 patients, 31-40 years age group by 2 patients, 21-30 years there were 7 patients , 11-20 years there were 4 patients , 0-1 years there were 3 patients. Result from this research is numbers male patient more than female patient, and the most patient is on over 50 years age category Keywords : Submandibular Abscess  Abstrak: Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah submandibula. Abses submandibula menempati urutan tertinggi dari seluruh abses leher dalam. 70-85 % kasus yang disebabkan oleh infeksi gigi merupakan kasus terbanyak, selebihnya disebabkan oleh sialadenitis, limfadenitis, laserasi dinding mulut atau fraktur mandibula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil kasus abses submandibula. Metode penelitian yang digunakan bersifat retrospektif deskriptif. Data diambil dari rekam medis semua pasien abses submandibula di bagian bedah BLU/RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado selama tiga tahun terakhir dari Juni 2009 sampai Juli 2013. Berdasarkan data dari 39 pasien abses submandibula ditemukan 21 (53%) pasien laki-laki dan 18 (47%) pasien perempuan. Pada kelompok umur di atas 50 tahun terdapat 13 pasien, kelompok umur 41-50 tahun sebanyak 10 pasien, 31-40 tahun sebanyak 2 pasien, 21-30 tahun sebanyak 7 pasien, 11-20 tahun sebanyak 4 pasien, 0-10 tahun sebanyak 3 pasien. Berdasarkan dari hasil penelitian didapakan data mengenai abses submandibula yaitu pasien laki-laki lebih banyak dari pasien perempuan. Kelompok umur di atas 50 tahun merupakan kelompok umur terbanyak.Kata Kunci: Abses Submandibula
ANGKA KEJADIAN PENDERITA LUKA BAKAR DI BAGIAN/SMF BEDAH RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2011 SAMPAI JUNI 2014 Kairupan, Gabriela; Monoarfa, Alwin; Hatibie, M.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.10988

Abstract

Abstract: Burns are injuries caused by touching the surface of the body with objects that generate heat or substances that are burned. Burns caused by the transfer of energy from a heat source to the body. Heat can be transferred through conduction or electromagnetic radiation. Globally, nearly 96,000 children under the age of 20 suffered injuries from burns in 2004. Most of the deaths occur in poorer regions of the world - Africa and Southeast Asia, and countries with low and middle income countries in the Eastern Mediterranean region. This was a descriptive retrospective study by using the medical record in the Department of Surgery, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado at period June 2011 to June 2014. The incidence of burns occurred in the 0-10 age range were 44 cases (29.2%), followed by the age range of 11-20 years as many as 33 cases (11.9%). The highest incidence was in men with a number of cases 114 (75.5%). Burns were most common among those who had not worked as many as 68 cases (45.0%). The most frequent cause of burns was electricity as many as 58 cases (38.4%). Conclusion: Patients with burns from June 2011 to June 2014 were 151 cases, the highest incidence was at age <10 years and between 11-20 years, males, and those who had not worked. Burns were mostly caused by electricity, followed by hot water.Keywords: burns, incidenceAbstrak: Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas atau zat-zat yang bersifat membakar. Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Secara global, hampir 96.000 anak-anak dibawah usia 20 tahun mengalami cedera akibat luka bakar di tahun 2004. Kebanyakan kematian terjadi di daerah miskin di dunia – Afrika dan Asia Tenggara, dan negara-negara pendapatan rendah dan menengah di daerah Mediterania Timur. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif melalui penelitian data rekam medik di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Juni 2011 sampai Juni 2014. insiden terbanyak terjadi pada rentang umur 0-10 sebanyak 44 kasus atau sebesar 29,2 %, diikuti oleh rentang umur 11-20 tahun sebanyak 33 kasus atau sebesar 11,9 %. Insiden terbanyak pada laki-laki dengan jumlah kasus 114 atau sebesar 75,5 %, bahwa insiden luka bakar paling banyak terjadi pada mereka yang belum bekerja yaitu sebesar 68 kasus (45,0 %), penyebab paling banyak adalah luka bakar listrik yaitu sebesar 58 kasus (38,4 %), Berdasarkan hasil penelitian kesimpulannya, Hasil penelitian menunjukkan, penderita luka bakar sejak Juni 2011 sampai Juni 2014 sebanyak 151 kasus, terbanyak pada umur <10 tahun dan antara 11-20 tahun, laki-laki dan mereka yang belum bekerja. Luka bakar paling banyak disebabkan oleh listrik setelah itu dengan air panas.Kata kunci: luka bakar, angka kejadian
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Tentang Penyakit Meningitis di Kelurahan Soataloara II Kecamatan Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe Pangandaheng, Eka A. S. S.; Mawuntu, Arthur H.P.; Karema, Winifred
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.17116

Abstract

Abstract: Meningitis is a disease that occurs due to inflammation or infection of the meniges of the brain. This disease has a high mortality rate, including in Indonesia. This study was aimed to obtain the description of the level of knowledge and behavior of people about meningitis in Soataloara II Tahuna. This was a descriptive study with a field survey method by using questionnairres. The results showed that there were 86 respondents who met the inclusion criteria, consisted of 45 females (52.32%) and 41 males (47.68%). The highest percentage was age group 21-40 years as many as 43 respondents (50.00%). According to 68 respondents (79.06%), meningitis was caused by infections due to viruses, bacteria, germs, and fungi that resulted in inflamation of the meninges. Respondents that did not agree with lumbar puncture were as many as 54 respondents (62.79%). Conclusion: Almost all respondents had not enough knowledge about meningitis and only occasionally maintained the sanitation of their environment.Keywords: meningitis, infection, meningen Abstrak: Meningitis merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh adanya peradangan atau infeksi pada selaput pelindung otak. Meningitis mempunyai angka mortalitas yang tinggi termasuk dinegara Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang penyakit meningitis di Kelurahan Soataloara II Kecamatan Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan metode survei lapangan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 86 responden yang memenuhi kriteria penelitian terdiri dari 45 orang perempuan (52,32%), dan 41 orang laki-laki (47,68%). Golongan usia responden terbanyak berusia 21-40 tahun 43 (50,00%). Terdapat 68 responden (79,06%) yang berpendapat bahwa penyakit meningitis diakibatkan oleh infeksi virus, bakteri, kuman, dan jamur yang meradang di dalam selaput otak. Responden yang tidak menyetujui jika dokter meminta untuk dilakukan pemeriksaan pungsi lumbal sebanyak 54 orang (62,79%). Simpulan: Sebagian besar responden belum mengetahui tentang penyakit meningitis, dan hanya kadang-kadang menjaga kebersihan lingkungannya.Kata kunci: meningitis, infeksi, selaput otak
TEMUAN OTOPSI PADA KEMATIAN MENDADAK AKIBAT PENYAKIT JANTUNG DI BLU RSU PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2007-2011 Rorora, Jessyca Destiana; Tomuka, Djemi; Siwu, James
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.6037

Abstract

Abstract: Every sudden death has to be treated as an uncommon death before it can be proved scientifically that there is no evidence supporting the case. Heart disease is the most common cause of sudden death. This research is aimed to know how autopsy findings of sudden death cause by heart disease in BLU RSU Prof Dr. R.D. Kandou Manado period 2007-2011. Research design is descriptive observational using secondary data. Between 2007 to 2011 period, there is a total of 873 cases that come in to forensic department of BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou. From all those cases, of which there are 62 cases discovery of bodies then proved by autopsy with the result that 10 of them is a sudden death caused by heart disease, with the most caused by coronary artery disease (50%) followed by miocard lesion disease (40%). Further research needs to be done to determine which heart disease the most is found to be the death cause in forensic department of BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou more clearly. Keywords: autopsy, heart disease, sudden death.   Abstrak: Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar, sebelum dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Penyakit jantung merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana temuan otopsi pada kasus kematian mendadak akibat penyakit jantung di BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 2007-2011. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional menggunakan data sekunder yang telah ada. Selama periode 2007 sampai dengan 2011, total jumlah kasus forensik yang masuk di bagian ilmu kedokteran Forensik BLU RSU Prof. dr. R.D. Kandou Manado berjumlah total 873 kasus. Dari sejumlah kasus tersebut, diantaranya terdapat 62 kasus penemuan mayat yang kemudian dibuktikan dengan otopsi sehingga didapatkan 10 mayat yang telah terbukti merupakan kasus kematian mendadak akibat penyakit jantung dengan penyebab terbanyak adalah penyakit arteri koroner (50%) diikuti dengan penyakit lesi miokard (40%). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat lebih menggambarkan penyakit jantung penyebab kematian terbanyak di bagian Ilmu Forensik BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dengan jelas. Kata kunci: kematian mendadak, penyakit jantung, otopsi.
PERBANDINGAN KADAR ASAM URAT PADA SUBYEK OBES DAN NON-OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Rau, Elim; Ongkowijaya, Jeffrey; Kawengian, Ventje
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8436

Abstract

Abstract: Uric acid is the end product of purine metabolism. Circulating uric acid in the human body is produced by the body (endogenous uric acid) as well as derived from food (exogenous uric acid). Normal serum uric acid level is <7.0 mg / dL in men and <6.0 in women. Obesity can be defined as excess body fat. One of the markers used for body fat content is body mass index (BMI). This study aimed to compare the levels of uric acid in obese and non-obese subjects. This was an analytical study with a cross sectional design. The population is students of Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi Manado. Samples were male students of batch 2013. There were 42 male students, consisted of 21 obese and 21 non-obese students. The results showed that the average of uric acid levels in obese group was 8.05 mg/dL and in non-obese group 6.63 mg/dL. In the obese group, 67% had an increase in uric acid level meanwhile in the non-obese group only 38%. The statistical test showed a sig 0,009. Conclusion: In this study, the average of uric acid level in obese group was significantly higher than in the non-obese group. However, there were students with either normal or high uric acid levels in both groups.Keywords: uric acid, obeseAbstrak: Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin. Asam urat yang beredar di dalam tubuh manusia di produksi sendiri oleh tubuh (asam urat endogen) dan berasal dari makanan (asam urat eksogen). Normalnya kadar asam urat serum <7,0 mg/dL pada pria dan <6,0 mg/dL pada wanita. Obesitas dapat di definisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Penanda kandungan lemak tubuh yang digunakan ialah indeks masa tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar asam urat pada subyek obes dan non obes. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Sampel idalah mahasiswa pria angkatan 2013 dan didapatkan 42 orang yang terbagi atas 21 obes dan 21 non obes. Hasil penelitian memperlihatkan rerata kadar asam urat pada obes 8,05 mg/dL dan pada non-obes 6,63 mg/dL. Peningkatan kadar asam urat ditemukan 67% pada kelompok obes dan 38% pada kelompok non-obes. Uji statistik menunjukkan nilai sig 0,009. Simpulan: Pada penelitian ini rerata kadar asam urat pada kelompok obes lebih tinggi secara bermakna daripada kelompok non-obes. Walaupun demikian, pada kedua kelompok ditemukan mahasiswa dengan kadar asam urat normal maupun meningkat.Kata kunci: asam urat, obesitas
Hubungan antara bayi berat lahir rendah dengan kejadian refluks gastroesofagus di puskesmas Kecamatan Malalayang Yuliantari, Kadek Rani; Manoppo, Jeanette I.Ch.; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14401

Abstract

Abstract: Low birth weight (LBW) is one of the causes of infant mortality in Indonesia. One of the problems related to the maturity of digestive tract function in LBW infants is gastroesophageal reflux (GER) due to dysfunction of lower esophageal sphincter (LES). Gastroesophageal reflux is a physiological condition among infants under the age of 12 months. Albeit, it requires a special attention for LBW infants in order not to suffer from gastroesophageal reflux disease (GERD) which will affect growth and development. This study was aimed to determine the correlation between LBW and GER. This was an analytical observational study with a case-control design; each group consisted of 30 respondents. Respondents were mothers of children aged 0-2 years obtained by using purposive sampling at three primary health cares at Malalayang from September until November 2016. Infant gastroesophageal reflux questionnaire (I-GERQ) was used as instrument in this study. The result showed a significant correlation between LBW and GER groups (p=0.034) and OR 2.615. Conclusion: There was a significant correlation between LBW and GER. Low Birth Weight had a higher risk to suffer from GER. Woman are expected to give more attention for their health and nutrition during pregnancy to prevent LBW births.Keywords: BBLR, RGE, SEB, children Abstrak: Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia karena kondisi tubuh yang belum stabil sehingga menimbulkan masalah pada sistem atau organ tubuh. Salah satu masalah terkait kematangan fungsi saluran cerna ialah refluks gastroesofagus (RGE) dimana terjadi disfungsi sfingter esofagus bawah (SEB). RGE merupakan kondisi fisiologik pada usia <12 bulan. Pada BBLR dibutuhkan perhatian khusus agar tidak berlanjut menjadi penyakit refluks gastroesofagus (PRGE) yang akan memengaruhi tumbuh kembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara BBLR dan kejadian RGE. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan studi kasus control, masing-masing terdiri dari 30 responden. Responden ialah ibu yang memiliki anak berusia 0-2 tahun diperoleh dengan metode purposive sampling pada tiga puskesmas di Kecamatan Malalayang bulan September hingga November 2016. Instrumen penelitian berdasarkan Infant-Gastroesophageal Reflux Questionnaire (I-GERQ). Hasil penelitian dari kelompok kasus dan kontrol menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara BBLR dan kejadian RGE (p=0,034) dengan Odds Ratio 2,615. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara BBLR dan kejadian RGE. BBLR memiliki risiko 2,6 kali mengalami RGE. Ibu hamil diharapkan lebih memperhatikan kesehatan dan asupan gizi untuk mencegah kelahiran BBLR. Kata kunci: BBLR, RGE, SEB, anak
HUBUNGAN GAMBARAN FOTO TORAKS DAN UJI TUBERKULIN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2012 – DESEMBER 2012 Poluan, Alfa G. A.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3664

Abstract

Abstrak: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan dunia yang utama sampai sekarang. Menurut WHO, Indonesia masih menjadi negara dengan peringkat keempat sebagai penyumbang TB terbesar dengan 400-500 ribu kasus. WHO melaporkan bahwa ada sekitar 327.000 kasus baru TB pada anak dengan usia <15 tahun di seluruh dunia, dan sekitar 65.000 anak meninggal karena TB setiap tahun. Dalam mendiagnosis TB anak perlu dilakukan pemeriksaan uji tuberkulin dan foto toraks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gambaran foto toraks dan uji tuberkulin pada anak dengan diagnosis tuberkulosis paru.  Penelitian ini dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2012 – Desember 2012. Penelitian ini bersifat analitik observasional menggunakan desain cross sectional dengan data retrospektif. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan uji korelasi Kendall’s tau-b. Dari hasil analisa data didapatkan nilai r= -0,408 dengan p= 0,046 (p<0,05). Nilai ini berarti bahwa ada hubungan negatif sedang antara gambaran foto toraks dan uji tuberkulin. Dengan demikian, pemeriksaan foto toraks dan uji tuberkulin harus dilakukan dalam membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis paru pada anak. Kata kunci: Foto toraks, uji tuberkulin, tuberkulosis paru, anak    Abstract: Tuberculosis (TB) remains a major global health problem until now. According to WHO, Indonesia has ranked as the fourth largest contributor TB with 400-500 cases. WHO reports that there are approximately 327,000 new cases of TB in children aged <15 years old all over the world, and about 65,000 children die from TB every year. In diagnosing TB in children, tuberculin test and chest x-ray are necessary. The purpose of this research is to determine the relationship between a chest x-ray picture and tuberculin test in children diagnosed with pulmonary tuberculosis. This research was conducted in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in the period of January 2012 – December 2012. This was an observational analytic research using cross-sectional design with retrospective data. There were 25 children observed in this research. Analysis shows a negative correlation between radiographic picture and tuberculin test (r= -0.408; p= 0.046). Accordingly, chest x-ray examination and tuberculin test should be performed to help justify the diagnosis of pulmonary tuberculosis in children. Key Words: Chest X-ray, Tuberculin test, Pulmonary Tuberculosis, Children
GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN DAN TROMBOSIT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2014 –DESEMBER 2014 Lasut, Nathalin M.; Rotty, Linda W. A.; Polii, Efata B. I.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11025

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global dan penyebab kematian tersering oleh infeksi setelah HIV. Penurunan kadar Hb dibawah nilai normal didefinisikan sebagai anemia, anemia sendiri adalah fitur utama pada pasien dengan infeksi bakteri. Trombositosis reaktif dapat ditemukan dalam sejumlah situasi klinis termasuk penyakit menular.Tujuan: Untuk mengetahui kadar hemoglobin dan jumlah trombosit pada pasien tuberculosis paru di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014 – Desember 2014Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif retrospektif.Hasil: Dari 67 pasien, jumlah pasien dengan kadar hemoglobin dibawah nilai normal atau anemia sebanyak 44 pasien (65,67%) dansebanyak 23 pasien (34,33%) tidak mengalami anemia. Jumlah pasien yang mengalami trombositopenia sebanyak 4 pasien (5,97%), pasien dengan kadar trombosit normal sebanyak 50 pasien (74,62%), dan yang mengalami trombositosis sebanyak 13 pasien (19,40%).Kesimpulan: Kadar hemoglobin pada penderita TB paru ditemukan terbanyak dengan kadar Hb yang rendah atau anemia, sedangkan jumlah trombosit pada penderita TB paru ditemukan terbanyak dengan jumlah trombosit normal.Kata kunci: Tuberkulosis paru, Hemoglobin, TrombositBackground: Tuberculosis remain a major health problem and second most common cause of death by infection after HIV. The decrease of Hb levels below normal value is defined as anemia, anemia itself is a major feature in patients with bacterial infection. Reactive thrombocytosis can be found in a number of clinical situations including infectious diseases.Objective: To determine hemoglobin levels and platelet counts in patients with pulmonary tuberculosis at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado general hospital periods January 2014 – December 2014.Method: This research uses descriptive retrospective study design.Results: Among 67 patients, number of patients with hemoglobin levels below the normal value or anemia are 45 patients (65,67%) and 23 patients (34,33%) are not anemic. Number of patients with thrombocytopenia are 4 patients (5,97%), patients with normal number of platelets are 50 patients (74,62%) and number of patients with thrombocytosis are 13 patients (19,40%).Conclusion: Hemoglobin levels in patients with pulmonary TB are found most below the normal value or anemia while the number of platelets in patients with pulmonary TB are found most normal platelet counts.Keyword: Pulmonary tuberculosis, Hemoglobin, Platelets
Profil Pasien Pasca Kraniotomi di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Juli 2016 - Juni 2017 Tanriono, Celine; Laleno, Diana C.; Laihad, Mordekhai L.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18541

Abstract

Abstract: Craniotomy is a surgical action by opening the skull bone to provide direct access to the brain. Craniotomy can be performed in patients suffering from brain tumors, cerebral hemorrhage, cerebral aneurysms, cerebral infection, and brain trauma. This study was aimed to obtain the profile of post craniotomy patients at ICU Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from July 2016 to June 2017. This was a descriptive retrospective study using medical record data of post craniotomy patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. There were 30 post craniotomy patients at the ICU. The majority of them had traumatic brain injury as the underlying disease (77%), males (90%), and aged 15-24 years old (37%). Many post craniotomy patients used mechanical ventilators (80%) with prolonged use >72 hours (46%). The average lengh of post craniotomy care in ICU was 2 days (27%). Eleven patients (36%) died at >72 hours treated in ICU and caused by sepsis (55%). The average Glasgow coma scale preoperative was 8-12 (57%) and the physical status according to the American society of Anesthesiologist (ASA) was III E (67%). Conclusion: Most post craniotomy patients were 15-24 years old, male, traumatic brain injury as the underlying disease of craniotomy, duration in ICU 2 days. A part of the patients died due to sepsis. Many post craniotomy patients used mechanical ventilators > 72 hours. The majority had preoperative Glasgow coma scale of 8-12 and the highest ASA physical status were III E.Keywords: craniotomy, ventilator, traumatic brain injury, mortality Abstrak: Kraniotomi adalah tindakan pembedahan dengan membuka tulang tengkorak untuk memberikan akses secara langsung ke otak. Kraniotomi dapat dilakukan pada pasien yang menderita tumor otak, perdarahan otak, aneurisma serebri, infeksi otak, serta trauma otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien pasca kraniotomi di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2016 – Juni 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data rekam medik pasien pasca kraniotomi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil mendapatkan 30 orang pasca kraniotomi di ICU dengan penyakit yang mendasari terbanyak ialah cedera kepala (77%), jenis kelamin laki-laki (90%), dan usia 15-24 tahun (37%). Pasien pasca kraniotomi banyak yang menggunakan ventilator mekanik (80%) dengan lama penggunaan >72 jam (46%). Lama perawatan pasca kraniotomi di ICU rata-rata 2 hari (27%), 11 orang meninggal dunia (36%) pada >72 jam di rawat di ICU yang disebabkan oleh sepsis (55%). Rerata Glasgow Coma Scale preoperatif 8-12 (57 %) dan status fisik menurut American Society of Anesthesiologist (ASA) terbanyak III E (67%). Simpulan: Pasien pasca kraniotomi terbanyak pada usia 15-24 tahun, jenis kelamin laki-laki, penyakit mendasari kraniotomi ialah cedera kepala, dan lama rawat ICU 2 hari. Sebagian meninggal dengan penyebab utama sepsis. Pasien pasca kraniotomi banyak yang menggunakan ventilator mekanik dengan lama penggunaan > 72 jam. Glasgow Coma Scale preoperatif terbanyak pada 8-12 dan status fisik ASA terbanyak yaitu III E.Kata kunci: kraniotomi, ventilator, cedera kepala, mortalitas
PREVALENSI ANEMIA PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2013 Rambi, Aaron Ch.; Rotty, Linda W. A.; Panda, Agnes L.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6748

Abstract

Abstract: Anemia is common in heart failure patients, especially in patients with old age, female, chronic kidney disease, ACE inhibitors (angiotensin-converting-enzyme inhibitors) users and in patients with severe congestive heart failure. Anemia is an independent prognostic factor for mortality. Anemia is characterized by the value of hemoglobin less than 13 g / dl in men and less than 12 g / dl in women. The purpose of this study was to determine the prevalence of anemia in patients with heart failure. This was a descriptive retrospective study. The samples of this study were 834 medical records of hospitalization and ambulatory patients in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado which had hematology examination results in 2013. The results showed that the prevalence of anemia in heart failure patients was 33.6% and mostly were mild anemia (57%). Although not so significant, the proportion of female patients with anemia were higher (33,57%) than male (33,54%). The over 64 years group has the highest proportion of all age groups. Conclusion: Anemia is common in heart failure patients, especially those aged over 64 years. There was no significant difference between the proportion of women and men who were anemic. Most patients suffered from mild anemia.Keywords: anemia, heart failure, prevalenceAbstrak: Anemia sering ditemukan pada gagal jantung terutama pada pasien yang berusia tua, dengan jenis kelamin perempuan, menderita kelainan ginjal kronik, pengguna ACE inhibitor (angiotensin-converting-enzyme inhibitor) dan pada pasien dengan gagal jantung kongestif yang parah. Anemia merupakan faktor prognostik independen terhadap kematian. Anemia ditandai dengan nilai hemoglobin kurang dari 13 g/dl pada laki-laki dan kurang dari 12 g/dl pada perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi anemia pada pasien gagal jantung. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ini adalah 834 rekam medis pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang memiliki hasil pemeriksaan hematologi. Hasail penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada pasien gagal jantung adalah 33,6% dan sebagian besar menderita anemia ringan (57%). Walaupun tidak begitu signifikan, proporsi dari pasien perempuan dengan anemia lebih tinggi (33,57%) dibandingkan pria (33,54%). Kelompok umur lebih dari 64 thun memiliki proporsi tertinggi dibadingkan semua kelompok umur. Simpulan: Anemia sering ditemukan pada pasien gagal jantung, terutama yang berusia lebih dari 64 tahun. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara proporsi dari peremuan dan laki-laki yang menderita anemia. Kebanyakan pasien menderita anemia ringan.Kata kunci: anemia, gagal jantung, prevalensi

Page 10 of 108 | Total Record : 1074