cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PROFIL CONTENT SCALE MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY-2 (MMPI-2) ADAPTASI INDONESIA PADA MAHASISWA SEMESTER 1 TAHUN AKADEMIK 2013/2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Galala, Ferdian R. D.; Kairupan, Barnabas H. R; Elim, Christofel; Ekawardani, Neni
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6513

Abstract

Abstract: Human being as an early adult often faces problems in his/her daily activities, especially as a new student entering the college environment. These problems arise because of the process of adjustment to the new environment. If the student is not able to overcome the problems it can cause negative effects in their daily life as the prosecution of science, so it can lead to emotional disorders such as anxiety and depression. This was a cross survey study that was designed to assess the mental status of the 1st year freshmen college students class 2013/2014 at Unsrat Medical Faculty by using clinical and subclinical scale MMPI-2 in Indonesian adaptation. A univarian analysis using Microsoft Excel software were used for the data analysis. The results showed that from 101 respondent there were 72.28% females. There were 64.36% came from North Sulawesi, but more students came from other areas outside North Sulawesi (53.47%), who had 2 siblings (33.67%). Their parents were working on a private sector (43.57%). Score’s distribution content scale MMPI-2 from the highest to lowest; SOD (35.64%), WRK (19.80%), ANX (17.82%), TRT (14.85%), ANG (11.88%), OBS (10.89%), LSE (9.90%), FRS (8.91%), DEP (8.91%), CYN (4.95%), BIZ (2.97%), ASP (2.97%), respectively. Dominant outcomes from the content component scale based on the content scale’s scores; SOD1 : 30 students, SOD2 : 19 students, respectively. Conclusion: The most dominant scale from the highest score is the social discomfort scale and work interference scale.Keywords: college student, profile, content scale, content component scale, MMPI-2.Abstrak: Manusia dalam kehidupannya sebagai orang dewasa awal, seringkali menghadapi masalah dalam aktifitasnya sehari-hari. Terlebih lagi seorang mahasiswa yang baru memasuki lingkungan perkuliahan. Permasalahan tersebut timbul oleh karena adanya proses penyesuaian diri dengan lingkungan barunya itu. Jika mahasiswa tidak mampu mengatasi permasalahan tersebut maka dapat menimbulkan efek negatif dalam kesehariannya sebagai penuntut ilmu, sehingga dapat berujung kepada gangguan emosional seperti cemas dan depresi.Penelitian ini merupakan penelitian survei potong lintang untuk mengetahui status mental mahasiswa semester 1 tahun akademik 2013/2014 FK UNSRAT dengan menggunakan skala content scale dan content component scale MMPI-2 adaptasi Indonesia. Analisa data berupa analisis univariat dengan menggunakan microsoft excel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa distribusi mahasiswa dari 101 responden yang memiliki hasil valid berdasarkan sosiodemografi terbanyak pada perempuan (72,28%), berasal dari daerah Sulawesi Utara (64,36%) namun lebih banyak berasal dari suku yang berada di luar Sulawesi Utara (53,47%), memiliki jumlah saudara 2 orang (33,67%) dan anak ke 1 dalam keluarga (40,59%) dan pekerjaan orang tua di bidang swasta (43,56%). Distribusi skor tinggi skala klinis MMPI-2 berturut turut dari yang paling tinggi ke rendah yaitu SOD (35.64%), WRK (19.80%), ANX (17.82%), TRT (14.85%), ANG (11.88%), OBS (10.89%), LSE (9.90%), FRS (8.91%), DEP (8.91%), CYN (4.95%), BIZ (2.97%), ASP (2.97%). Hasil yang menonjol pada skala content component scale berdasarkan skor tinggi content scale berturut-turut adalah; SOD1 : 30 orang, SOD2 : 19 orang. Simpulan: Skala yang paling menonjol dari skor tinggi ialah skala social discomfort dan skala work interferenceKata kunci: mahasiswa, profil, content scale, content component scale, MMPI-2.
Profil pasien preeklamsia berat dan eklamsia di ICU dan HCU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Patty, Vania Nita; Lalenoh, Diana Ch.; Wuisan, Debby D.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14461

Abstract

Abstract: Preeclampsia was defined as hypertension in pregnancy that occurs after 20th weeks of pregnancy meanwhile eclampsia is the new onset of a grand mal seizure activity and is one of the complications of preeclampsia. Preeclampsia and eclampsia are still the major causes of high maternal and infant mortality in Indonesia (1.5% -25%). Severe preeclampsia becomes an indication of obstetric patients to be admitted to ICU. This study was aimed to obtain the profile of patients with severe preeclampsia and eclampsia admitted to the ICU and HCU Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the medical records of patients admitted to the ICU and HCU from September 2014 to August 2016. There were 33 patients that met the inclusion criteria consisted of 11 patients (33%) with severe preeclampsia and 22 patients (67%) with eclampsia. Most patients were aged ≤ 25 years and the median length of stay in this study was 2 days. HELLP syndrome was found in 9 patients (27.3%) and DIC in 1 (3%) patient. There were five patients with ventilator and three patients died due to eclampsia. Conclusion: Most patients in this study were patients with eclampsia and the mortality rate was 9.1%.Keywords: severe preeclampsia, eclampsia, ICU, HCU Abstrak: Preeklamsia didefinisikan sebagai hipertensi dalam kehamilan yang terjadi setelah minggu ke- 20 kehamilan, sedangkan eklamsia adalah onset baru aktifitas kejang grand mal dan merupakan salah satu komplikasi dari preeklamsia. Preeklamsia dan eklamsia masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia (1,5%-25%). Preeklamsia berat menjadi indikasi pasien obstetri masuk ke ICU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien preeklamsia berat dan eklamsia yang dirawat di ICU dan HCU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Data diperoleh melalui data rekam medik pasien yang dirawat di ICU dan HCU periode September 2014 - Agustus 2016 dan didapatkan sebanyak 33 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Total pasien preeklamsia berat ialah 11 orang (33%) dan eklamsia sebanyak 22 orang (67%). Usia ≤25 tahun ialah usia terbanyak dan median lama rawat dalam penelitian ini ialah 2 hari. Kejadian HELLP syndrome pada kasus ini sebanyak 9 orang (27,3%) dan DIC sebanyak 1 orang (3%). Pasien dengan ventilator sebanyak 5 orang dan pasien yang meninggal akibat eklamsia sebanyak 3 orang. Simpulan: Dalam penelitian ini pasien terbanyak ialah pasien eklamsia dengan angka kematian 9,1%. Kata kunci: preeklamsia berat, eklamsia, ICU, HCU
Perbandingan Efektifitas Tramadol 1 mg/kgbb + Paracetamol 1 gr Intravena dan Tramadol 1 mg/kgbb + Ketorolak 30 mg Intravena pada Penanganan Nyeri Pasca Pembedahan Sesaria Watung, Julita Lidya
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3714

Abstract

Absract: Background: A process of pain management can not be separated with anesthesia practice. Pain after section caesaria is the main problem. Because if the pain cannot be managed, it will appearing negative effect and finally will influence the quality of baby treatment by his/her mother. Goal :To know the comparative effectivity of Tramadol 1mg/kg of weight + Paracetamol 1 gr Intravenous and Tramadol 1 mg/ kg of weight + Ketorolac 30 mg Intravenous on pain management after sectio caesaria. Methods : The research using prospective analytic study, with collecting primary data result from pain measurement and elaborating with SPSS Statistic 20 programme. The result being stated in rerate within result test of Mann-Whitney test. Result : Total of research subject is 20 people that devided in two groups, group I : Tramadol 1mg + Ketorolac 30 mg and group II : Tramadol 1mg + Paracetamol 1 mg iv. In a groups of Trmadol + Ketorolac the patient almost 40 years old and in a groups of Tramadol + Paracetamol the patient almost 30 years old. Severe pain in control, only in Tramadol + Ketorolac groups but did not has large different. In moderate pain,Tramadol + Ketorolac groups more than Tramadol + Paracetamol groups. And in lower pain, Tramadol + Paracetamol groups more than Tramadol + Ketorolac groups. Based on Man-Whitney test, conclude that this research totality has P value = 0.088 it is mean this research is different but not meaningful. Conclusions: Paracetamol has more good effectivity than Ketorolac for pain management after sectio caesaria.Key Word: Pain, Paracetamol, Ketorolac, Tramadol, Sectio Caesaria   Abstrak: Latar Belakang : Proses penanganan nyeri tidak dapat dipisahkan prosesnya dengan praktek anestesi. Nyeri pasca bedah sesar merupakan masalah utama. Karena apabila nyeri tidak diatasi akan menimbulkan dampak negative dan akhirnya akan mempengaruhi kualitas perawatan bayi oleh ibunya.Tujuan : mengetahui perbandingan efektifitas antara tramadol 1 mg/kgbb + paracetamol 1 gr Intravena dan tramadol 1 mg/kgbb + ketorolak 30 mg intravena pada penanganan nyeri pasca bedah sesar. Metode : Penelitian ini bersifat analitik prospektif, dengan mengumpulkan data primer hasil pengukuran nyeri dan diolah dengan program SPSS Statistic 20. Hasilnya dinyatakan dalam rerate (mean) disertai uji hasil menggunakan uji Mean-Whitney. Hasil : Jumlah subjek penelitian adalah 20 orang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok I : mendapat tramadol 1 mg + ketorolak 30 mg iv, kelompok II : mendapat tramadol 1 mg + parasetamol 1 gr iv. Pada kelompok tramadol + ketorolak pasien paling banyak berumur 40-an sedangkan pada kelompok tramadol + parasetamol, pasien yang paling banyak ada pada umur 30-an. Nyeri berat terkontrol hanya ada pada kelompok tramadol + ketorolak tapi tidak memiliki perbedaan yang besar. Pada nyeri sedang kelompok tramadol + ketorolak lebih tinggi daripada kelompok tramadol + parasetamol.Sedangkan pada nyeri ringan kelompok tramadol + parasetamol lebih tinggi dibandingkan tramadol + ketorolak. Berdasarakan uji statistic Mann – Whitney dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan penelitian ini memiliki nilai p = 0,088 yang berarti penelitian ini adalah berbeda tapi tidak bermakna. Kesimpulan : Parasetamol memiliki tingkat efektifitas yang lebih baik dibandingkan dengan ketorolak untuk mengatasi nyeri pasca bedah sesar. Kata kunci : Nyeri, Parasetamol, Ketorolak,Tramadol, Pembedahan Sesar.
Gambaran kanker endometrium yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 2013 – 2015 Tulumang, Jeinyver A.; Loho, Maria F.; Mamengko, Linda M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11261

Abstract

Abstract: Endometrial cancer is a malignant tumor of primary endometrial epithelium, usually with glandular differentiation and potentially involves the myometrium and spreads widely. It is also a common gynecologic cancer. The cause is not known for certain, but there are several factors causing this endometrial cancer. This study aimed to describe endometrial cancer treated at Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study using data of endometrial cancer patient medical record. From the 36 cases of endometrial cancer, aged ≥51 was obtained as many as 24 people (66.67%), and this cancer increased in multiparous women and obesity; as many as 11 people (30.56%) had postmenopausal endometrial cancer. Most comorbidities were hypertension (13 cases, 36.11%) Most frequent type of endometrial cancers was endometrioid adenocarcinoma (19 cases, 52.78%). Treatments applied were medicamentous therapy, surgery and chemotherapy. The most frequent stage was stage II (8 cases, 22.23%).Keywords: endometrial cancerAbstrak: Kanker endometrium adalah tumor ganas epitel primer diendometrium, umumnya dengan diferensiasi glandular dan berpotensi mengenai miometrium dan menyebar jauh; juga merupakan kanker ginekologi yang sering terjadi. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kanker endometrium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kanker endometrium yang dirawat di RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado. Jenis penelitian deskriptif retrospektif, dengan cara mengumpulkan data rekam medik pasien kanker endometrium. Dari 36 kasus kanker endometrium, didapatkan usia ≥51tahun sebanyak 24 orang (66,67%), meningkat pada wanita multipara dan obesitas, sebanyak 11 orang (30,56%) mengalami kanker endometrium pascamenopause. Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi berjumlah 13 orang (36,11%). Jenis sel kanker terbanyak yaitu endometrioid adenokarsinoma berjumlah 19 orang (52,78%). Penanganan yang diberikan berupa terapi medikamentosa, operasi dan kemoterapi. Stadium terbanyak yaitu stadium II berjumlah 8 orang ( 22,23%).Kata kunci: kanker endometrium
Hubungan antara Status Gizi dan Sistem Imun Seluler pada Subyek Penyakit Ginjal Kronik Stadium V Hemodialisis di Instalasi Tindakan Hemodialisis RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Unawekla, Julyan V.; Moeis, Emma Sy.; Langi, Yuanita A.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i1.18682

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a pathophysiological process with a diverse etiology that causes progressive decrease of renal function and is generally ended with renal failure. Patients with CKD are given low-protein and low-water diets that can affect their nutritional status and immune system. This study was aimed to determine the relationship between nutritional status and cellular immune system in patients with stage V CKD that had hemodialysis perfomed on them at the Installation of Hemodialysis of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Variables were age, gender, lymphocyte count, body mass index (BMI), and upper arm circumference. There were 30 samples in this study; males (56.7%) were more dominant. The age range was 36-76 years; lymphocyte count range was 1000-4131; IMT range was 16-28.1; and upper arm circumference range was 17-28.50. The Spearman parametric test of the relationship between nutritional status and cellular immune system based on BMI and lymphocyte count obtained a P-value of 0.111 meanwhile the relationship between nutritional status based on upper arm circumference and lymphocytes obtained a P-value of 0.309. Conclusion: There was no relationship between nutritional status (BMI and arm circumference) and cellular immune system (lymphocyte count) in stage V CKD patients that had hemodialysis perfomed on them. Keywords: CKD V-HD, nutritional status, cellular immune systemAbstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi beragam yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara progesif dan umumnya berahir dengan gagal ginjal. Pasien PGK diberikan terapi rendah protein dan air sehingga dapat berdampak pada status gizi dan sistem imun pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan sistem imun seluler pada subyek PGK stadium V hemodialisis di Instalasi Tindakan Hemodialisis RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Variabel penelitian ialah usia, jenis kelamin, hasil hitung limfosit, hitung IMT, dan ukuran lingkar lengan atas (LILA). Hasil penelitian mendapatkan 30 sampel dengan jumlah terbanyak ialah laki-laki 17 orang (56,7%), cengan rentang usia 36-76 tahun. Kisaran nilai untuk limfosit ialah 1000-4131; IMT 16-28,1; dan LILA 17-28,50. Uji parametrik Spearman terhadap hubungan antara status gizi berdasarkan IMT dan limfosit mendapatkan P=0,111 sedangkan antara status gizi berdasarkan LILA dan limfosit mendapatkan P=0,309. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara status gizi (IMT dan LILA) dengan limfosit (sistem imun) pada pasien PGK V yang menjalani hemodialisis.Kata kunci: PGK V-HD, status gizi, sistem imun seluler
PROFIL PITIRIASIS VERSIKOLOR DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R.D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Nathalia, Silvia; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6761

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a superficial fungal infection of the epidermal layer caused by Malassezia furfur or Pityrosporum orbiculare. This infection is chronic, mild, and usually without inflammation. Pityriasis versicolor infects the face, neck, torso, upper arms, underarms, thighs, andgroin. Skin disorders are very superficial and pityriasis versicolor is most commonly found in the body. The disorder is seen a spatches of colorful irregular shape to a regular, well defined to diffuse. The disorder is usually asymptomatic so that sometimes people do not know they have been infected. This study aims to determine profil of pityriasis versicolor at dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado periods January- December 2012. This retrospective descriptivestudy is based on the number of cases, gender, age, occupation, color of lesion, location of lesion, and the type of treatment. The results of this study showed that out of the 50 pityriasis versicolor cases (1.24%), male as the most infected gender (74%), along with the age group 25-44years (28%), the most job is civil servant (24%), and with hypopigmented lesions as the most types found (78%). The most frequent location of lesion is a combination of several places such as the face, body and extremities (60%), and the most used treatment is a combination therapy of oral and topical anti fungal (72%).Keywords: pityriasis versicolorAbstrak: Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. Infeksi ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan. Pitiriasis versikolor mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha, dan lipat paha. Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, jenis kelamin, umur, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, dan jenis pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 50 kasus pitiriasis versikolor ( 1,24% ) terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki (74%), kelompok umur 25-44 tahun (28%), pekerjaan yang terbanyak adalah PNS (24%), jenis lesi paling banyak lesi hipopigmentasi (78%), lokasi lesi paling sering yaitu kombinasi yang terdapat dibeberapa tempat seperti wajah, badan dan ekstremitas ( 60%), dan pengobatan yang paling banyak adalah terapi kombinasi antijamur oral dan antijamur topikal (72%).Kata kunci: pitiriasis versikolor
Hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis di Unit Hemodialisis RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Rahman, Moch. T. S. A.; Kaunang, Theresia M. D.; Elim, Christofel
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10829

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) results in a decrease in kidney function that is irreversible and requires treatment in the form of a kidney transplant or hemodialysis. The main goal of hemodialysis is to prevent and control uremia, fluid overload, and electrolyte imbalance. Problems that commonly associate hemodialysis patients are physical and psycological stress that affect the quality of life. This study aimed to obtain the relationship between the duration of hemodialyis and the quality of life. This was an observational analytical study with a cross sectional design. The study included all hemodialysis patients in Dahlia and Melati Hemodialysis Unit Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 34 patients that met the inclusion criteria. The results showed that the correlation between the duration of hemodialyis and the quality of life had a p value of 0.579. Conclusion: The duration of hemodialysis did not correlate significantly with the quality of life of hemodialysis patients.Keywords: The duration of hemodialysis, quality of life.Abstrak: Gagal ginjal kronik (PJK) mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, yang memerlukan terapi berupa transplantasi ginjal atau hemodialisis. Tujuan utama hemodialisis yaitu mengendalikan uremia, kelebihan cairan dan ketidakseimbangan elektrolit. Permasalahan yang muncul pada pasien hemodialisis ialah masalah fisik, psikologi, perubahan sosial, dan gaya hidup; hal tersebut memengaruhi kualitas hidup pasien. Peneltian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup. Metode penelitian yang digunakan ialah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang Penelitian ini melibatkan semua pasien hemodialisis di Unit Hemodialisis Dahlia dan Melati RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 34 orang. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup dengan nilai P=0,579. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pada pasien hemodialisis.Kata kunci: lama menjalani hemodialisis, kualitas hidup.
Profil persalinan pada era JKN-BPJS di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari – 30 Juni 2016 Astoguno, Arya P.; Kaeng, Joice J.; Mewengkang, Maya
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14496

Abstract

Abstract: JKN-BPJS stand for financing health service include childbirth is covering to examine the pregnancy, birth aid, the parturition, including family planning service post delivery and newborn service performed by health professional in health facilities. The purpose of this study was to know description of childbirth in JKN-BPJS program at Prof. Dr. R. D. Kandou. This was a retrospective descriptive study. Samples in this study were all of the mothers who used JKN-BPJS at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 1st to June 30th 2016. The results showed that of 570 total labours, there were 422 delivery cases using JKN-BPJS program. Most mothers that used JKN-BPJS program were multigravida (58%) at the age of 20 to 35 years (68.25%). Most of them came directly to the hospital (44.5%) and treated in the hospital for 4-6 days (55.7%). Most labours handled by the JKN-BPJS program were caesarean section (50.2%). Conclusion: Related to labours handled by the JKN-BPJS program at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, most motherswere multigravida, at the age 20-35 years, came directly to the hospital, stayed in the hospital for 4-6 days, and treated with caesarean section.Keywords: JKN-BPJS, Childbirth Abstrak: JKN-BPJS merupakan jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan termasuk biaya persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayan nifas termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil persalinan pada era JKN-BPJS di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah retrospektif deskriptif. Sampel penelitian yaitu semua ibu bersalin dengan program JKN-BPJS di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou periode 1 Januari – 30 Juni 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 422 kasus persalinan menggunakan program JKN-BPJS dari total 570 persalinan. Kebanyakan persalinan dengan program JKN-BPJS diikuti oleh ibu yang multigravida (58%) dengan usia 20-35 tahun (68,2%). Ibu yang bersalin paling banyak langsung datang sendiri ke rumah sakit (44,5%) dan kebanyakan dirawat di rumah sakit selama 4-6 hari (55,7%). Persalinan dengan program JKN-BPJS paling banyak ditolong dengan cara seksio sesarea (50,2%). Simpulan: Profil Persalinan pada era JKN-BPJS di Rsup Prof Dr. R. D. Kandou kebanyakan diikuti oleh ibu multigravida, usia 20-35 tahun, langsung datang sendiri ke rumah sakit, dirawat selama 4-6 hari, dan ditolong dengan cara seksio sesarea. Kata kunci: JKN-BPJS, persalinan.
HUBUNGAN ANTARA USIA WAKTU MENIKAH DENGAN KEJADIAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI MANADO PERIODE SEPTEMBER 2012 – AGUSTUS 2013 Mantiri, Stefanie Indrie E.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.4398

Abstract

Abstract: Domestic violence is every action against a person, especially women, resulting in misery or suffering physical, sexual, psychological, and negligence of household including threat to acts, coercion, or unlawful deprivation of liberty within the household. Marriage at a young age are possibly failed or divorced.This study aims to determine the relationship between the age when married with domestic violence in Manado. This study used a retrospective cross-sectional study design with observational studies method and interviews with secondary data obtained Manado period September 2012- August 2013. These results indicate domestic violence cases occurred at the vulnerable age of 15-20 years is the percentage amounted to 37 cases (68.52%), followed by 21-25 years of age are susceptible totaled 13 respondents with the percentage (24.07%), vulnerable age 26-30 years were 3 respondents with the percentage (5.55%) and vulnerable age greater than or equal to 30 years numbered 1 with the percentage of respondents (1.86%). The results of this study indicate that many cases of domestic violence occur at young age of married than married in adult age. Conclusion this study suggests that many cases of domestic violence occurs at an early age when married compared with married adults age time. Keywords: Age Married, Domestic Violence.   Abstrak: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Pernikahan diusia muda memiliki kemungkinan besar gagal atau bercerai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia waktu menikah dengan KDRT di Manado. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional Retrospektif dengan metode studi observasional dan melakukan wawancara dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh Manado periode September 2012– Agustus 2013. Hasil penelitian ini menunjukan kasus KDRT banyak terjadi pada rentan usia 15-20 tahun yaitu berjumlah 37 kasus dengan persentase (68,52%), diikuti oleh rentan usia 21-25 tahun yaitu berjumlah 13 responden dengan persentase (24,07%), rentan usia 26-30 tahun berjumlah 3 responden dengan persentase (5,55%) dan rentan usia lebih atau sama dengan 30 tahun berjumlah 1 responden dengan persentase (1,86%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak kasus KDRT terjadi pada usia waktu menikah dini di bandingkan dengan usia waktu menikah dewasa.  Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian responden yang menikah pada usia dini mengalami kasus KDRT lebih banyak di bandingkan wanita yang menikah di usia dewasa (68,52%) berbading (31,48%). Kata Kunci: Usia Menikah, KDRT
Hubungan Penggunaan Hair Styling terhadap Kejadian Dermatitis Seboroik pada Mahasiswa Laki-laki di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Kalalo, Jonathan V. D.; Pandeleke, Herry E. J.; Gaspersz, Shienty
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.22451

Abstract

Abstract: Seborrheic dermatitis is a type of papulosquamous dermatitis with predilection in areas with many sebaceous glands, scalp, face, and body. This disease is associated with immunological disorders, but ieven more with Malassezia. Seborrheic dermatitis can occur in all age groups, but is usually separated into two age groups: infants and adults. Seborrheic dermatitis has many precipitating factors, especially high oil levels and humidity. One of the trigger factors is the use of hair styling which triggers the oil production on the surface of scalp as well as hair. The occurence of excessive oil on the scalp and hair long time can cause dandruff and irritation. This study was aimed to determine the relationship between hair styling and the incidence of seborrheic dermatitis in male students at Sam Ratulangi University in Manado. This was an analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and anamnesis. The results showed that of the 25 respondents, 9 students had dandruff and 16 students did not. The chi-square test analyzing the relationship between hair styling and the incidence of seborrhoic dermatitis obtained a P value of 0.332. Conclusion: There is no significant relationship between hair styling use and the incidence of seborrheic dermatitisKeywords: hair styling, seborrheic dermatitis, male college students Abstrak: Dermatitis seboroik adalah salah satu jenis dermatitis papuloskuamosa dengan predileksi di daerah yang banyak kelenjar sebasea, skalp, wajah dan badan. Penyakit ini sering dihubungkan dengan kelainan imunologi, namun lebih sering dihubungkan dengan jamur Malassezia. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua kelompok usia, namun biasanya terpisah menjadi dua golongan usia yaitu bayi dan dewasa. Dermatitis seboroik memiliki banyak faktor pencetus, terutama kadar minyak yang tinggi dan kelembaban. Salah satu faktor pencetusnya ialah penggunaan hair styling berlebih yang memicu timbulnya minyak pada rambut. Munculnya minyak pada rambut yang terlampau lama dapat menimbulkan ketombe dan juga iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemakaian hair styling dengan kejadian dermatitis seboroik pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh berdasarkan kuesioner yang dibagikan dan anamnesis. Hasil penelitian mendapatkan total 25 responden terdiri dari 9 orang berketombe dan 16 orang tidak berketombe. Hasil uji korelasi chi-square terhadap hubungan antara penggunaan hair styling dengan kejadian dermatitis seboroik menunjukkan nilai P=0,332. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara penggunaan hair styling dengan kejadian dermatitis seboroikKata kunci: hair styling, dermatitis seboroik, mahasiswa laki-laki

Page 20 of 108 | Total Record : 1074