cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Profil keganasan saluran cerna di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014-2015 Kabo, Def R.M.; Waleleng, Bradley J.; Haroen, Harlinda
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14492

Abstract

Abstract: Gastrointestinal cancer refers to malignant condition of the gastrointestinal tract and accessory organ of digestion including esophagus, stomach, biliary system, pancreas, small intestine, large intestine, rectum, and anus. In 2012, WHO reported that the incidence of colorectal cancer was 1.361, gastric cancer was 0.952, and esophageal cancer was 0.456 per 100,000 population. This study was aimed to identify the profile of gastrointestinal malignancy in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2014-2015. This was a retrospective descriptive study based on the data of the Installation of Medical Record of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado of gastrointestinal malignancy cases. There were 39 patients as samples. The majority of cases were male (25 patients; 64.1%), age group 60-69 years (17 patients; 43.6%), had colorectal cancer (35 patients; 89.7%), and adenocarcinoma as the most common type (23 patients; 58.9%). The most common treatment was chemotherapy (14 patients; 35. 9%). Conclusion: In this study, most cases were males aged 60-69 years.Keywords: malignancy, cancer, gastrointestinal. Abstrak: Kanker saluran cerna mengacu pada kondisi keganasan pada saluran pencernaan dan organ aksesori pencernaan, termasuk esofagus, lambung, sistem empedu, pankreas, usus kecil, usus besar, rektum dan anus. Studi oleh WHO tahun 2012 melaoprkan insiden terjadinya kanker kolorektal 1,361, kanker perut/gaster 0,952, dan kanker esofagus 0,456 per 100.000 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil keganasan saluran cerna di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2014-2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif berdasarkan data di Bagian Instalasi Rekam Medik RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2014-2015 yang menderita keganasan saluran cerna. Sampel penelitian berjumlah 39 kasus. Mayoritas kasus ialah jenis kelamin laki-laki yaitu 25 pasien (64,1%) dan kelompok usia 60-69 tahun yaitu 17 orang (43,6%), menderita kanker kolorektal yaitu 35 kasus (89,7%), adenokarsinoma merupakan jenis kanker tersering yaitu 23 pasien (58,9%). Tatalaksana yang sering dilakukan ialah kemoterapi sebanyak 14 pasien (35,9%). Simpulan: Pada penelitian ini terbanyak pada jenis kelamin laki-laki dan kelompok usia60-69 tahun. Kata kunci: keganasan, kaker, saluran cerna.
PROFIL GAMBARAN ENDOSKOPI DI PUSAT ENDOSKOPI KSM ILMU PENYAKIT DALAM RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE JANUARI 2016 – DESEMBER 2017 Dewantara, Fadil; Waleleng, Bradley J.; Umboh, Octavianus
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.22114

Abstract

Abstract: Gastrointestinal endoscopy in the upper gastrointestinal tract is performed to obtain the condition of gastrointestinal mucosa. This study was aimed to obtain the profile of UGIB among endoscopy patients at the Gastrointestinal Endoscopy Center of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2016 to December 2017. This was a descriptive retrospective study using medical records of patients who were registered at the Gastro-intestinal Endoscopy Center from January 2016 to December 2017. The result shows that from 420 cases, there were 7 diagnoses after endoscopy, as follows: esophagitis, gastritis, erosive gastritis, gastric ulcer, gastric polyp, duodenitis, and hiatal hernia. The most common diagnosis of UGIB was gastritis in 155 cases (37%), esophagitis in 124 cases (30%), duodenitis in 40 cases (10%), gastric polyp in 36 cases (9%), hiatal hernia in 22 cases (5%), erosive gastritis in 21 cases (4%), gastric ulcer in 17 cases (4%), and the other diagnoses (varices esophagus, esophagus ulcer, duodenum ulcer, achalasia) in 5 cases (1%). UGIB occured more common in males with 227 cases (54%) compared to female with 193 cases (46%). The most frequent age group was 56-65 years old with 86 cases, and the most rare case was >75 years old. Conclusion: Upper gastrointestinal bleeding occured more common among males, aged 56-65 years. Gastritis was the most common diagnosis in endoscopy.Keywords: endoscopy, upper gastrointestinal bleeding Abstrak: Pemeriksaan endoskopi pada saluran cerna bagian atas berfungsi untuk mengeva-luasi keadaan mukosa saluran cerna atas dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil gambaran endoskopi di Pusat Endoskopi KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2016 ? Desember 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retroskpektif menggunakan data rekam medik pasien perdarahan SCBA yang melakukan pemeriksaan endoskopi periode Januari 2016 ? Desember 2017. Hasil penelitian mendapatkan dari 420 kasus, ditemukan 7 diagnosis setelah tindakan endoskopi (EGD), yaitu esofagitis, gastritis, gastritis erosiva, gastric ulcer, polip gaster, duodenitis dan hernia hiatus. Diagnosis perdarahan SCBA terbanyak ialah gastritis 155 kasus (37%), esofagitis yaitu 124 kasus (30%), duodenitis 40 kasus (10%), polip gaster 36 kasus (9%), hiatus hernia 22 kasus (5%), gastritis erosiva 21 kasus (4%), gastric ulcer 17 kasus (4%), dan kasus dengan dignosis lainnya (varices esophagus, esophagus ulcer, duodenum ulcer, achalasia) sebanyak 5 kasus (1%). Perdarahan SCBA banyak terjadi pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 227 pasien (54%) dibandingkan dengan pasien perempuan berjumlah 193 pasien (46%). Berdasarkan usia, terbanyak pada kelompok usia 56-65 tahun sebanyak 139 kasus dan terendah pada kelompok usia >75 tahun. Simpulan: Perdarahan SCBA lebih sering terjadi pada laki-laki, kelompok usia 56-65 tahun, dengan gastritis sebagai diagnosis terbanyak pada pasien perdarahan SCBA yang melakukan pemeriksaan endoskopi.Kata kunci: endoskopi (EGD), perdarahan SCBA
SURVEI KESEHATAN HIDUNG MASYARAKAT DI DESA TINOOR 2 Ishak, Windy S.; Pelealu, Olivia; Tumbel, R. E. C.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6835

Abstract

Abstract: Physiologically, a nose has several functions, for instance as a filter that enables it to be the first-line defense and serves an important function for protecting the body against the disadvantageous condition from our surroundings. The main purpose of this research is to describe about how the health survey of nose on the locals in Tinoor 2 is. The method used on this research is descriptive survey with cross sectional approach. The subject of this research is the locals of Tinoor 2 who willingly participated in. The total of participants is 40 divided into 13 females and 27 males. Findings show that 62,5% and 60% are the result of normal right and left nasal cavity examination. Meanwhile, 32,5% and 35% are for the broad right and left kavum nasi examination, also both of the medium and narrow are 5%. 70% and 67,5% are the result of normal right and left concha examination, 15% and 17,5% are both for edema examination, hyperemia on both sides are 2,5%. 92,5% and 90% are the result of normal right and left mucous examination, while hyperemia with 7,5% and 10%. 97,5% is the result of normal right and left secretion examination, and serous on both sides are 2,5%. 82,5% is the result of normal right and left septum examination, and nasal septum deviation on both sides are 17,5%. There’s none post nasal drip within the examination. Conclusion: Of all examination that has been accomplished, most of them result to Normal.Keywords: health survey, physical examination of noseAbstrak: Hidung secara fisiologis mempunyai beberapa fungsi seperti sebagai penyaring dan pertahanan lini pertama dan pelindung tubuh terpenting terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana gambaran survei kesehatan hidung masyarakat desa Tinoor 2. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif survei dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian masyarakat desa Tinoor 2 yang bersedia mengikuti penelitian. Responden 40 orang, dengan jumlah laki-laki dan perempuan 13 dan 27 orang. Pemeriksaan kavum nasi kanan kiri normal 62,5% dan 60%, pada pemeriksaan kavum nasi kanan kiri lapang 32,5% dan 35%, sedang sempit keduanya 5%. Pemeriksaan konka kanan kiri normal 70% dan 67,5%, udim yaitu 15% dan 17,5%, hiperemis dikeduanya 7,5%, pucat dikeduanya 5%, konka dengan udim dan hiperemis keduanya 2,5%. Pemeriksaan mukosa kanan kiri normal 92,5% dan 90%, hiperemis 7,5% dan 10%. Pemeriksaan sekret kanan kiri normal keduanya 97,5%, serus keduanya 2,5%. Pemeriksaan septum kanan kiri normal keduanya 82,5%, deviasi dikeduanya 17,5%. Post nasal drip tidak ditemukan. Simpulan: Dari pemeriksaan hidung yang dilakukan pada responden, ditemukan hasil terbanyak adalah normal.Kata kunci: survei kesehatan, pemeriksaan fisik hidung
EVALUASI PENANGANAN KANKER SERVIKS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE 1 JANUARI 2013 – 31 DESEMBER 2014 Lala, Zefanya; Wagey, Freddy; Loho, Maria
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12113

Abstract

Abstract: Worldwide cervical cancer ranks as the second highest after breast malignancies. Up to now, cervical cancer has a high mortality in developed country including Indonesia. In Indonesia, cervical cancer and breast malignancy have a high prevalence among cancers in 2013. Most of the cancer cases were treated in advanced stage, therefore, the mortality rate is high. This study aimed to evaluate the treatment of cervical cancer in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study. The results showed that there were 102 cases of cervical cancer. Stage III B had the highest percentage and were found in 27 (26,47%) cases. Most of the treatment given was palliative care in 68 (66,7%) cases. Keywords: cervical cancer , stage and treatment Abstrak: Kanker serviks menempati urutan kedua terbanyak setelah keganasan payudara di seluruh dunia. Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyakit kanker pada wanita yang mengakibatkan kematian terbanyak terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit kanker serviks dan payudara merupakan penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013. Pada umumnya penyakit ini dirawat ketika sudah berada pada stadium lanjut dengan tingkat kematian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penanganan kanker serviks di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif retorspektif. Hasil penelitian memperlihatkan dari 102 kasus kanker serviks, persentase tertinggi ialah stadium III B dengan jumlah 27 pasien (26,47%) dan terapi terapi paliatif sebanyak 68 pasien (66,7 %).Kata kunci: kanker serviks, stadium, dan penanganan
HUBUNGAN PENGARUH ASAP ROKOK DENGAN TERJADINYA KELUHAN PADA MATA Tanjaya, Alvin Renaldo; Rares, Laya; Saerang, JSM
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3269

Abstract

Abstract:  Eye is one of the reflection of physical, mentality and spirituality. Survey by WHO revealed that  1/3 of world’s population especially adult is smoker (57% men and 43% women).  Most of smokers had no awareness of the danger of smoking. About 4000 types of chemicals substance and 60 carcinogenic compounds contain in a cigarette and addictive. This research aim to determine the relationship between smoke exposure with complaints that occur in eyes.  The study wasan  analytical method retrospectively that conducted from November to December 2012 at Terminal Malalayang using.  The data was collected using a questionnaire with 100 people responden (50 smoker and 50 non-smoker). The result showed that 32 responden is smoker with a moderate smokers (11-21 bars) and 29 responden is a passive smoker. Data was analyze with ANOVA test that indicate increasing complaint for smoker group than non smoker group that consist of red eye (0.000), eye irritation (0.000), gritty eyes (0.000), eye lacrimation (0.000), itchy eyes (0.000) and increased frequency blink (0.000). Keywords: Smokers, non-smokers, eye complaint    Abstrak : Mata merupakan cerminan dari kondisi fisik, mental dan spiritual. Menurut hasil survey dari WHO sepertiga dari penduduk di dunia terutama pada populasi dewasa adalah perokok (dimana 57% diantaranya adalah laki-laki dan 43% diantaranya adalah perempuan). Perokok kebanyakan kurang memiliki pengetahuan tentang bahaya merokok..Tercatat tidak kurang dari 4000 jenis zat kimia yang terkandung dalam sebatang rokok dan 60 zat di antaranya bersifat karsinogenik dan bersifat adiktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah hubungan antara paparan asap rokok terhadap keluhan yang ditimbulkan pada mata.  Penelitian ini dilakukan sejak bulan November hingga bulan Desember 2012 di Terminal malalayang dengan  menggunakan metode Analitik retrospektif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Kuisioner dengan jumlah responden 100 orang yang terdiri dari 50 perokok dan 50 bukan perokok. Dari hasil penelitian didapatkan Sebagian besar sampel perokok yang ada di terminal malalayang merupakan perokok sedang (11-21 batang) yang terdiri dari 32 orang dan sebanyak 29 orang yang dikategorikan sebagai perokok pasif. Berdasarkan uji Anova Terjadi peningkatan keluhan mata pada kelompok perokok di bandingkan dengan kelompok bukan  perokok  yang meliputi mata merah(0,000), mata perih (0,000),  mata berpasir (0,000), mata lakrimasi (0,000), mata gatal (0,000) dan peningkatan frekuensi kedip (0,000). Kata kunci : Perokok, bukan perokok, keluhan pada mata
HUBUNGAN KADAR HbA1c DENGAN KADAR PROFIL LIPID PADA PASIEN KAKI DIABETES DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Primadana, Dwi A.; Pandelaki, Karel; Wongkar, M. C. P.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10946

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease due to insufficient insulin production or ineffective usage. Diabetic foot is the most common complication found in DM patients with the rate of cases is still high. DM can be controlled favorably by reaching the expected value of HbA1c and lipid profile. This study aimed to determine the correlation between HbA1c value and lipid profile in diabetic foot patients.This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design using secondary data. Samples were 62 diabetic foot patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January 1 to September 30, 2015. The correlation between HbA1c value and lipid profile was tested by using the Pearson correlation test. The results showed the mean values as follows: HbA1c 8.5597%; total cholesterol 168.0484 mg/dL; HDL 37.3871 mg/dL; LDL 119.2419 mg/dL; and triglyceride 132.0645 mg/dL. The Pearson correlation test showed that the correlation between HbA1c and total cholesterol had an r=0.096 and a p=0.458; between HbA1c and HDL had an r=0.056 and a p=0.665; between HbA1c and LDL had an r=0.243 and a p=0.057; and between HbA1c and triglyceride had an r=0.014 and a p=0.913. Conclusion: There was a positive but not significant correlation between HbA1c and total cholesterol, HDL, LDL, and triglyceride levels. Keywords: HbA1c, lipid profile, diabetic foot  Abstrak:Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronik yang terjadi akibat terganggunya produksi insulin atau penggunaannya yang tidak efektif dan dapat berlanjut mengalami komplikasi. Kaki diabetes merupakan komplikasi tersering yang ditemukan pada penderita DM dengan angka kejadiannya masih tinggi sampai saat ini. Diabetes dapat terkendali dengan baik bila kadar lipid dan HbA1c mencapai target terapi yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kadar profil lipid pada pasien kaki diabetes. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang menggunakan data sekunder. Jumlah sampel sebanyak 62 pasien yang berobat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 01 Januari 2015 – 30 September 2015. Hubungan kadar HbA1c dengan kadar profil lipid diuji dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai-nilai mean sebagai berikut: HbA1c 8,5597%; kolesterol total 168,0484 mg/dL; HDL 37,3871 mg/dL; LDL 119,2419 mg/dL; dan trigliserida 132,0645 mg/dL. Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi antara kadar HbA1c dengan kolesterol total r=0,096 dan p=0,458; dengan kadar HDL r=0,056 dan p=0,665; dengan kadar LDL r=0,243 dan p=0,057; dan dengan kadar Trigliserida r=0,014 dan p=0,913. Simpulan: Terdapat hubungan positif antara kadar HbA1c dengan kadar kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida namun secara statistik tidak bermakna. Kata kunci: HbA1c,profil lipid, kaki diabetes  
PROFIL 10 BESAR KASUS DI INSTALASI GAWAT DARURAT BEDAH RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE JANUARI – DESEMBER 2015 Takaendengan, Dwika T.; Wowiling, P A.V.; Wagiu, Angelica M.J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14567

Abstract

Abstract: Emergency cases, especially in surgery field, are still a major problem globally, therefore, health centers have to provide a better preparation to face such cases. This was a retrospective descriptive study. This study was aimed to obtain the profile of the 10 major cases in emergency department of surgery from January to December 2015 at Prof Dr. R. D. Kandou General Hospital. The results showed that the case distribution was predominated by non-traumatic case (70.13%), males (64.45%), and age group of 45-64 years (33.05%). The major cases registered in Emergency Department of Surgery was 1) epidural haematome (3.55%), followed by 2) subarachnoid haemorhage (2.45%); 3) injuries of thorax and intrathoracal organs (1.95%); 4) appendicitis (1.89%); 5) fractures of the shoulder and upper arm (1.68%); 6) sepsis (1.51%); 7) fracture of femur (1.45%); 8) injury of abdomen and intraabdominal organs (1.43%); 9) hernia inguinalis (1.18%); and 10) paralytic ileus and intestinal obstruction (1.12%). Conclusion: The majority of cases were males, aged 45-65 years, and non-traumatic cases,.Keywords: Emergency Department, surgery, major case Abstrak: Kasus gawat darurat khususnya di bidang ilmu bedah, masih merupakan masalah global. Oleh karena itu di berbagai pusat kesehatan yang telah mengetahui tingkat kejadian kasus kegawatdaruratan spesifik harus melakukan persiapan lebih baik. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif untuk mendapatkan profil 10 besar kasus di Instalasi Gawat Darurat Bedah RSUP Prof Dr. R. D. Kandou periode Januari-Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan distribusi terbanyak ialah kasus non-trauma (70,13%), jenis kelamin laki-laki (64.45%) dan usia 45-64 tahun (33,05%). Penyakit terbesar tercatat di Instalasi Gawat Darurat Bedah ialah: 1) epidural hematom (3.55%); 2) perdarahan subaraknoid (2,45%); 3) cedera dada dan organ dalam dada (1,95%); 4) apendisitis (1,89%); 5) fraktur bahu dan lengan atas (1,68%); 6) sepsis (1,51%); 7) fraktur femur (1,45%); 8) cedera perut dan organ dalam perut (1,43%); 9) hernia inguinalis (1,18%); dan 10) ileus paralitik dan obstruksi intestinal (1,12%). Simpulan: Pada studi ini, mayoritas kasus ialah laki-laki, usia 45-64 tahu, dan kasus non trauma. Kata Kunci: Instalasi gawat darurat, bedah, kasus tersering
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN LINGKAR PINGGANG DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Sumayku, Irene Moudy; Pandelaki, Karel; Wongkar, M. C. P.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5022

Abstract

Abstract: Weight gain is very influential on the mechanism of the onset oh hypertension in people who are obese. However, this mechanism is not clearly understood but is suspected in people who are obese increased plasma volume and cardiac output will increase blood pressure. The purpose of this study was to determine the relation of body mass index, waist circumference and blood pressure of student in medical faculty of sam ratulangi university. Methods: This study is an analytical type with cross-section. Survey respondents as many as 127 students of the faculty of medicine UNSRAT that met the inclusion criteria. Respondents measured height, weight, waist circumference and blood pressure before the spearmen test. Result: There was a significant correlation between body mass index with systolic and diastolic blood pressure with p value of 0.001 and 0.004 (p<0.01). There was a significant correlation between waist circumference and systolic blood pressure and diastolic pressure with p values of 0.000 and 0.002 (p<0,01). And there also significant correlation between body mass index with waist circumference with a p value of 0.000 (p<0.01). Conclusion: The increase in body mass index and waist circumference may affect the blood pressure. Keywords: Body Mass Index,Waist Circumference, Blood Pressure.   Abstrak: Kenaikan berat badan (BB) sangat berpengaruh pada mekanisme timbulnya kejadian hipertensi pada orang yang obes akan tetapi mekanisme terjadinya hal tersebut belum dipahami secara jelas namun diduga pada orang yang obes terjadi peningkatan volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT. Metode: Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross-section.Responden penelitian sebanyak 127 mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT yang memenuhi kriteri inklusi. Responden di ukur tinggi badan,berat badan, lingkar pinggang dan tekanan darah. Selanjutnya dilakukan uji Spearmen. Hasil penelitian: Terdapat korelasi yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh dengan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan nilai p sebesar 0,001 dan 0,004 (p<0,01). Ada hubungan yang signifikan antara lingkar pinggang dengan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dengan nilai p sebesar 0,000 dan 0,002 (p<0,01). Dan terdapat juga hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan lingkar pinggang dengan nilai p sebesar 0,000 (p<0,01). Simpulan: Peningkatan Indeks Massa Tubuh dan lingkar pinggang dapat berpengaruh kepada tekanan darah.Kata kunci: IMT,Lingkar Pinggang, Tekanan darah.
Profil pasien endoskopi gastrointestinal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari 2018 - Agustus 2019 Gunawan, Deborah F.; Waleleng, Bradley J.; Polii, Efata B. I.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.26834

Abstract

Abstract: Along with the development of medical technology, endoscopy is mostly used in determination of the diagnosis and examination of gastrointestinal diseases. This study was aimed to determine the indications of gastrointestinal endoscopy, diagnoses of pre and post endoscopy, sex and age of patients undergoing endoscopy, and the prevalence of endoscopic patients from January 2018 to August 2019 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive and retrospective study using data of Medical Record Installation at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. The results obtained 495 patients who were endoscopy performed on them. Males were predominant (59.8%) as well as age group of 50-59 years old (22.8%). The most frequent indication of endoscopy was dyspepsia/epigastric pain (68.5%). Moreover, EGD plus colonoscopy was the most common endoscopy performed. GERD (20.45%) had the highest percentage of pre endoscopy diagnosis meanwhile esophagitis Los Angeles Classification Grade A (28.8%) had the highest percentage of post endoscopy diagnosis. In conclusion, gastrointestinal endoscopy was performed more common on males, age group of 50-59 years, with indication of dyspepsia (epigastric pain), and in EGD plus colonoscopy. The most common diagnosis of pre endoscopy was GERD and of post endoscopy was esophagitis Los Angeles Classification Grade A.Keywords: gastrointestinal endoscopy Abstrak: Seiring dengan berkembangnya teknologi dibidang kesehatan, endoskopi yang merupakan salah satu cara penetapan diagnosis dan pemeriksaan gastrointestinal yang banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indikasi endoskopi gastrointestinal, diagnosis yang banyak ditemukan sebelum dan sesudah endoskopi, jenis kelamin, usia pasien yang dilakukan endoskopi, dan prevalensi jumlah pasien endoskopi periode Januari 2018 - Agustus 2019 di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien di Instalasi Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 495 pasien yang dilakukan pemeriksaan endoskopi selama periode tersebut, dengan 296 pasien (59,8%) yang berjenis kelamin laki-laki. usia terbanyak ialah 50-59 tahun (22,8%), indikasi endoskopi terbanyak ialah dispepsia (nyeri epigastrium) (68,5%), tindakan endoskopi terbanyak dilakukan ialah EGD + kolonoskopi (48,7%). Diagnosis sebelum tindakan terbanyak ialah GERD (20,45%), dan setelah dilakukan endoskopi ialah esofagitis klasifikasi Los Angeles Grade A (28,8%). Simpulan penelitian ini ialah pasien yang melakukan pemeriksaan endoskopi terbanyak berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 50-59 tahun, dengan indikasi dispepsia (nyeri epigastrium). EGD + kolonoskopi merupakan tindakan tersering diterima oleh pasien, diagnosis sebelum tindakan endoskopi ialah GERD, dan setelah dilakukan endoskopi ialah esofagitis klasifikasi Los Angeles Grade A.Kata kunci: endoskopi gastrointestinal
GAMBARAN GEJALA DAN TANDA KLINIS DIARE AKUT PADA ANAK KARENA BLASTOCYSTIS HOMINIS Aman, Mona C. U.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7483

Abstract

Abstract: This study aimed to obtain the description of symptoms and clinical signs of acute diarrhea in children because of Blastocystis hominis. This was a descriptive study with a cross-sectional retrospective design. Data were obtained from medical records of pediatric patients diagnosed as acute diarrhea due to Blastocystis hominis infection from January 2010 - September 2014 in Gastroenterology Children ward Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Data were clinical symptoms, vital signs, and nutritional status. There were 31 samples, 24 (77.4 %) males and 7 (22.6 %) females. Most children who suffered were in the age group 1-3 years as many as 18 (58.1 %) children. The most frequent clinical symptoms were diarrhea 29 (93.5 %) patients, fever 27 (87.1 %) patients, and vomiting 21 (67.7 %) patients. Conclusion: Children of acute diarrhea due to Blastocystishominis infection were most frequent in the age group 1-3 years, males, with clinical symptoms acute diarrhea, fever, and vomiting.Keywords: acute diarrhea, blastocystishominis, childrenAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gejala dan tanda klinis diare akut pada anak karena Blastocystis hominis. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medik pasien anak dengan diagnosis diare akut karena infeksi Blastocystis hominis periode Januari 2010-September 2014 di Bangsal Gastroenterologi Anak Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data berisi gejala klinis dan tanda vital serta status gizi. Sampel penelitian berjumlah 31 anak, 24 (77,4%) anak laki-laki dan 7 (22,6%) anak perempuan. Umur yang paling banyak menderita diare akut karena Blastocystis hominis yaitu 1 – 3 tahun sebanyak 18 (58,1%) anak. Gejala klinis yang paling sering muncul yaitu buang air besar cair sebanyak 29 (93,5%) pasien, demam sebanyak 27 (87,1%) pasien,dan muntah sebanyak 21 (67,7%) pasien. Tanda vital menunjukkan nilai normal. Simpulan: Anak diare akut karena infeksi Blastocystis hominis terbanyak pada kelompok umur 1 – 3 tahun. Anak diare akut karena infeksi Blastocystis hominis terbanyak pada jenis kelamin laki-laki. Gejala klinis yang ditemukan pada pasien diare akut karena infeksi Blastocystis hominis ialah buang air besar cair, demam dan muntah dengan tanda vital normal.Kata kunci: anak, blastocystishominis,diare, akut

Page 27 of 108 | Total Record : 1074