cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
HUBUNGAN GAGAL JANTUNG DAN GANGGUAN FUNGSI HATI Masola, Adhytia B. C. P.; Panda, Agnes L.; Kawengian, Ventje
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.13779

Abstract

Abstract: Heart failure is characterized by perfusion malfunction to fulfill the metabolism of the body caused by malfunction of heart pumps. It is oftenly associated with non-cardiac symptoms, such as liver dysfunction marked by increasing of liver function tests inter alia AST and ALT. This was a descriptive retrospective study using total sampling method. Subjects were medical records of heart failure patients who were hospitalized in Internal Medicine Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2013. Data included name, age, NYHA classification, as well as AST and ALT levels of heart failure patients. There were 36 subjects consisted of 23 males and 13 females. Based on NYHA classification, there were 24 patients with third class of NYHA and 12 patients with fourth class of NYHA. Most patients had increased AST and ALT levels over 100 U/L. The chi-square test analyzing the relationship between NYHA and AST-ALT showed a p-value of 0.058. Conclusion: There was a relationship between heart failure and liver dysfunction, however, it was not statistically significant.Keywords: heart failure, liver dysfunction, NYHA Class, AST, ALTAbstrak: Gagal jantung ditandai oleh ketidakmampuan perfusi sistemik memenuhi metabolisme tubuh yang disebabkan disfungsi pompa jantung. Gagal jantung dapat disertai gejala gangguan nonkardiak seperti gangguan fungsi hati ditandai dengan naiknya tes fungsi hati seperti AST dan ALT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gagal jantung dan gangguan fungsi hati. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan metode total sampling. Subjek penelitian ialah pasien gagal jantng di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado tahun 2013 yang diperoleh dengan metode total sampling. Data penderita gagal jantung berupa nama, jenis kelamin, usia, kelas NYHA, kadar AST, dan ALT diperoleh dari rekam medik. Jumlah subyek sebanyak 36 orang, terdiri dari 23 laki-laki dan 13 perempuan. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah pasien gagal jantung kelas III NYHA 24 orang dan kelas IV NYHA 12 orang. Kebanyakan penderita mengalami peningkatan AST dan ALT diatas 100 U/L. Analisis uji chi square terhadap kelas gagal jantung NYHA dengan AST dan ALT mendapatkan OR 3,6 dengan nilai p=0,058 (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara gagal jantung dan gangguan fungsi hati walau secara statistik tidak bermakna.Kata kunci: gagal jantung, gangguan fungsi hati, kelas NYHA, AST, ALT
PROFIL HEMATOLOGI PADA SINDROM KORONER AKUT Sirait, Albertus Benedictus
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3658

Abstract

Abstract: One of cardiovascular disease is syndrome coronary acute. Syndrome coronary acute divided into three groups, they are unstable angina pectoris (UAP), non-ST segment elevation myocardial infarction (NSTEMI), ST segment elevation myocardial infarction (STEMI). Besides the changes of cardiac biomarkers profile, the patient's hematologic profile will also experience changes. This study's aim to determine hematologic profile of syndrome coronary acute and included the profiles of hemoglobin, leukocyte, thrombocyte, hemaocrit, MCV, MCH, and MCHC. The method of this study was analytic with cross-sectional approach and using secondary data, medical report. The samples were all patients that take hospitalization care in BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado and diagnosed with syndrome coronary acute in January 2012 to December 2012. The result showed more patient likely to have lower hemoglobin, normal leukocyte, normal thrombocyte, lower hematocrit, normal MCV, MCH, and MCHC. Conclusion: There were changes on hematologic profile even though leukocyte and thrombocye profile more likely found normal. The changes of hematologic profile can be used as basic prognosis for the patients in the future. Keywords: Profile hematology, syndrome coronary acute.     Abstrak: Salah satu penyakit kardiovaskuler adalah sindrom koroner akut. Sindrom koroner akut dibagi menjadi tiga kelompok yaitu angina pektoris tidak stabil (UAP), infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI), dan infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI). Selain terjadinya perubahan pada biomarker cedera jantung, profil hematologi pasien juga akan mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil hematologi pada sindrom koroner akut dan meliputi profil hemoglobin, leukosit, trombosit, hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang dirawat inap dengan diagnosis sindrom koroner akut pada periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan pasien cenderung lebih banyak pasien yang memiliki profil hemoglobin yang rendah, nilai leukosit yang normal, nilai trombosit normal, nilai hematokrit yang rendah, nilai MCV, MCH, dan MCHC yang normal. Kesimpulan: Terdapat perubahan pada profil hematologi meskipun pada profil leukosit dan trombosit cenderung lebih banyak pasien yang memiliki profil yang normal. Perubahan nilai profil hematologi pada pasien bisa dijadikan dasar prognosis bagi pasien kedepannya. Kata kunci: profil hematologi, sindrom koroner akut.
HUBUNGAN TAPSE DENGAN GGT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO Patandean, Alvionita; Wantania, Frans E. N.; Rotty, Luciana
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10978

Abstract

Abstract: Right ventricular dysfunction is associated with chronic heart failure prognosis. TAPSE is one of the right ventricular systolic function tests which is routinely performed and adds prognostic information in patients with chronic heart failure (CHF). Gamma-glutamyl transferase (GGT) is a liver enzyme used to assess hepatobiliary dysfunction with high sensitivity. GGT is related to the severity of CHF and right ventricular dysfunction. This study aimed to determine the relationship of TAPSE and GGT in patients with CHF. This was an observational analytical study with a cross sectional design, conducted to CHF patients at Internal Medicine Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed 25 samples, aged 30-79 years. There were more males than females. The bivariate analysis showed the value of r = -0.212 and P = 0.156. Conclusion: There was no association between TAPSE and GGT in patients with chronic heart failure. Keywords: CHF, TAPSE, GGT, right ventricular dysfunction Abstrak: Disfungsi ventrikel kanan berhubungan dengan prognosis jangka panjang gagal jantung. TAPSE merupakan salah satu pemeriksaan fungsi sistolik ventrikel kanan yang rutin dilakukan dan menambah informasi prognostik pada pasien gagal jantung kronik (CHF). Gamma-glutamyl transferase (GGT) merupakan enzim hati untuk menilai fungsi hepatobiliaris dengan sensitifitas tinggi. GGT berhubungan dengan beratnya CHF dan disfungsi ventrikel kanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan TAPSE dan GGT pada pasien gagal jantung kronik. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang terhadap pasien gagal jantung kronik di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 25 sampel, usia 30-79 tahun. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai r = -0,212 dan nilai P = 0,156 >0,05. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara TAPSE dan GGT pada pasien gagal jantung kronik.Kata kunci: gagal jantung kronik, TAPSE, GGT, disfungsi ventrikel kanan
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA WARGA YANG TINGGAL DI DAERAH RAWAN BANJIR KHUSUSNYA WARGA DI KELURAHAN TIKALA ARES KOTA MANADO Lamba, Chaflin T.; Munayang, Herdy; Kandou, Lisbeth F. J.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15526

Abstract

Abstract: Anxiety disorders, classified as psychiatric disorders, are usually resulting from a complex interaction of biological, psychological, and psychosocial elements. Anxiety warns the threat of injury to the body, fear, despair, the possibility of punishment, or the frustration of the need for enhanced social body, separation from loved ones, interference with the success or status of a person, and ultimately a threat to the unity or wholeness of a person. People living in areas prone to floods are assumed to suffer from anxiety of the coming floods. This study was aimed to assess the anxiety among people living in flood-prone areas by using sociodemofraphic data and questionnaire of Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). This was a descriptive qualitative study with a cross sectional design. There were 30 respondents that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that 2 (6.7%) respondents did not have any anxiety disorder; 10 (33.3%) people had mild anxiety disorders; 12 (40%) people had moderate anxiety disorders; and 6 (20.0%) people had severe anxiety disorders. Conclusion: The majority of people living in flood-prone areas suffered from anxiety and the most common type of anxiety was mild anxiety.Keywords: anxiety, flood prone areas, HARSAbstrak: Gangguan kecemasan digolongkan sebagai gangguan kejiwaan, umumnya diakibatkan oleh interaksi kompleks dari elemen biologis, psikologis, dan psikososial. Kecemasan memperingatkan ancaman cedera pada tubuh, rasa takut, keputusasaan, kemungkinan hukuman, atau frustrasi dari kebutuhan sosial tubuh, perpisahan dari orang yang dicintai, gangguan pada keberhasilan atau status seseorang, dan akhirnya ancaman pada kesatuan atau keutuhan seseorang. Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan akibat takut terkena dampak bencana banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai gangguan kecemasan pada warga yang berada di daerah rawan banjir dengan menggunakan data sosiodemografik dan kuesioner Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). Jenis penelitian ialah deskriptif-kualitatif dengan desain potong lintang. Terdapat 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian memperlihatkan responden yang tidak mengalami gangguan kecemasan sebanyak 2 orang (6,7%); gangguan kecemasan ringan sebanyak 10 orang (33,3%); gangguan kecemasan sedang sebanyak 12 orang (40%); dan gangguan kecemasan berat sebanyak 6 orang (20,0%). Simpulan: Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan dan terbanyak ialah kecemasan sedang.Kata kunci: kecemasan, daerah rawan banjir, HARS
PENGETAHUAN MASYARAKAT MENGENAI PENANGANAN REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA STROKE DI KELURAHAN PINAESAAN KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Sundah, Antony B. M.; Angliadi, Engeline; Sengkey, Lidwina
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.5743

Abstract

Abstract: Medical rehabilitation in patients with stroke is an action to improve motor function, speech, cognitive, and other function are impaired, as well as social and mental readaptation to restore interpersonal relationship and social activity, and train the patient in order to carry out activities of daily living. Stroke is a disease that is caused by blockages in the blood vessels of the brain or the rupture of blood vessels in the brain which leads to reduces oxygen supply to certain parts of the brain therefore the brain tissue is damaged or died. Stroke is more common made disability than dead. Permanent disability occurs because the patient is not get rehabilitation and frequently family indulged excessive helped patients with excessive and makes the patient lying passively waiting for conditions become better. Because that, medical rehabilitation in patient with stroke is very important to be able to restore the condition of stroke patients in order to indulge as normal person. The purpose of this study was to obtain data on the public knowledge of patient with stroke in the rehabilitation of sub-district Wenang district Pinaesaan. This study is a descriptive study with a quantitative approach using cross-sectional methods. Subjects were adult people living in sub-district Wenang district Pinaesaan. From the 89 respondent who are willing to study respondents, by sex obtained 34 respondents (38.2%) men, and 55 respondents (61.8%) women. Based on the level of knowledge, elemantary school education gained 2 respondents (2.2%), high school education 68 respondents (76.4%), and university education 19 respondents (21.3%). Based on public knowledge of medical rehabilitation in stroke patients, good knowledge obtained 34 respondents (38.2%), moderate knowledge obtained 48 respondents (53.9%), and lack of knowledge obtained 7 respondents (7.9%). Conclusion: Based on this study, the level of education affect the knowledge of medical rehabilitation in stroke patients. Keywords: knowledge, Medical Rehabilitation, Stroke.   Abstrak: Rehabilitasi medik pada penderita stroke merupakan tindakan untuk memperbaiki fungsi motorik, wicara, kognitif dan fungsi lain yang terganggu, serta readaptasi sosial dan mental untuk memulihkan hubungan interpersonal dan aktivitas sosisal, dan melatih penderita agar dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Stroke merupakan penyakit yang terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak sehingga jaringan otak tersebut rusak atau mati. Stroke lebih sering meninggalkan kecacatan dibandingkan kematian. Kecacatan menetap terjadi karena penderita tidak diberi rehabilitasi dengan baik dan keluarga seringkali memanjakan penderita dengan membantu secara berlebihan dan menjadikan penderita terbaring pasif menunggu kondisi menjadi lebih baik. Karena itu, rehabilitasi medik pada penderita stroke sangat penting untuk dapat mengembalikan kondisi penderita stroke agar dapat beraktivitas seperti orang normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data pengetahuan masyarakat tentang rehabilitasi pada penderita stroke di kelurahan Pinaesaan Kecamatan Wenang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian adalah masyarakat dewasa yang bermukim di kelurahan Pinaesaan kecamatan Wenang. Dari 89 responden yang bersedia menjadi responden penelitian, berdasarkan jenis kelamin didapatkan 34 responden (38,2%) pria, dan 55 responden (61,8%) wanita. Berdasarkan tingkat pengetahuan, didapatkan pendidikan dasar 2 responden (2,2%), pendidikan menengah 68 responden (76,4%), dan pendidikan tinggi 19 responden (21,3%). Berdasarkan pengetahuan masyarakat tentang rehabilitasi medik pada penderita stroke, didapatkan pengetahuan baik 34 responden (38,2%), pengetahuan sedang 48 responden (53,9%), dan pengetahuan kurang 7 responden (7,9%). Simpulan: Berdasarkan penelitian ini tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan rehabilitasi medik pada penderita stroke. Kata kunci: Pengetahuan, Rehabilitasi Medik, Stroke.
EFEKTIFITAS EKSHUMASI DALAM MEMPERKIRAKAN SAAT MATI DI BAGIAN ILMU FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FK UNSRAT BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Kojo, Nancy; Siwu, James; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8435

Abstract

Abstract: Determination of time of death is very important in criminal or civil cases. Exhumation is demolition of grave or autopsy which is conducted for justice by the authorities and stakeholders and the corpse is subsequently examined by a forensic expert. It is expected that there will be some clues to reveal the time and cause of death. This study aimed to determine the effectiveness of exhumation by using the time span ratio of deaths according to the autopsy report and deaths according to the results of the examination after exhumation. This was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design using secondary data in the Forensic Medicine and Medicolegal Department, Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 13 cases of exhumation from October untul December 2014, with a percentage of 46% effective and ineffective 54%. From the 7 ineffective cases, 3 cases with undetermined time of death because they were preserved. Four cases had the comparison between the letter of request and the results of the examination. The other 6 cases had accuracy of effective. Conclusion: Exhumation cases became ineffective due to the lack of cases found and preservation of the corpses.Keywords: time of death, exhumationAbstrak: Menentukan saat kematian penting dilakukan baik pada kasus kriminal atau sipil. Ekshumasi adalah penggalian mayat atau pembongkaran kubur yang dilakukan demi keadilan oleh yang berwenang dan berkepentingan dimana selanjutnya mayat tersebut diperiksa secara ilmu kedokteran forensik. Dari hasil ekshumasi dapat dilihat temuan pemeriksaan pada mayat yang dapat menentukan atau memperkirakan lama kematian dan penyebab kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektif atau tidaknya ekshumasi dilihat dari perbandingan rentang waktu lama kematian menurut permintaan visum dan lama kematian menurut hasil pemeriksaan setelah ekshumasi. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Data sekunder diperoleh di Bagian Forensik dan Medikolegal FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan Oktober ? Desember 2014. Kasus ekshumasi yang didapat sejumlah 13 kasus: 46% efektif dan 54% tidak efektif. Dari 7 kasus yang tidak efektif, 3 kasus tidak dapat ditentukan lama kematian menurut hasil pemeriksaan karena telah diawetkan terlebih dahulu dan 4 kasus mempunyai perbandingan hari antara surat permintaan dan hasil pemeriksaan. Enam kasus lainnya mempunyai ketepatan atau efektif. Simpulan: Pada penelitian ini, sebagian kasus ekshumasi tidak efektif karena minimnya kasus yang ditemukan dan sebagian kasus sudah dilakukan pengawetan.Kata kunci: saat kematian, ekshumasi
GAMBARAN KARAKTERISTIK PNEUMONIA PADA ANAK YANG DIRAWAT DI RUANG PERAWATAN INTENSIF ANAK RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2013 – 2015 Kaunang, Christian T.; Runtunuwu, Ari L.; Wahani, Audrey M.I
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14399

Abstract

Abstract: Pneumonia is an acute respiratory tract infection that became a public health problem in the world due to the high mortality in infants and toddlers. This study was aimed to describe the characteristics of pneumonia in children treated at the pediatric intensive care unit Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2013 - 2015. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. Subjects were all children suffering from pneumonia hospitalized at the pediatric intensive care unit Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2013 ? 2015. There were 158 cases consisted of 62 patients in 2013, 74 patients in 2014, and 22 patients in 2015. Most of them were males (88 patients) and at the age group <1 year (108 patients). The average pulse was 194.75 beats/minute, the average breathing rate was 60.4 breaths/minute, and the average body temperature was 37.8 ° C. The majority showed retraction at the subcostal area (148 patients), crackles (142 patients), inaudible wheezing (147 patients), clinical symptom as shortness of breath (148 patients), chest X-ray as infiltrate (151 patients), laboratory tests as the average value of hemoglobin was 11.3 g / dL, the average hematocrit was 33.3%, the average of leukocyte count was 45,293/mm3, and the average of platelet count was 364.437/mm3. Keywords: pneumonia, children, characteristic features Abstrak: Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang menjadi masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya sangat tinggi pada bayi dan balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pneumonia pada anak yang dirawat di ruang perawatan intensif RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2013-2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah semua anak yang menderita pneumonia dirawat di ruang perawatan intensif anak di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selang Januari 2013 ? Desember 2015. Terdapat 158 kasus dengan rincian 62 pasien pada tahun 2013, 74 pasien pada tahun 2014, dan 22 pasien pada tahun 2015. Didapatkan anak yang menderita pneumonia paling banyak pada jenis kelamin laki-laki (88 pasien) dan kelompok usia <1 tahun (108 pasien). Nilai rerata denyut nadi didapatkan 194,75 kali/menit, laju pernapasan 60,4/menit, dan suhu badan 37,8 ºC. Sebagian besar kasus memperlihatkan retraksi di bagian subkostal (148 pasien), ronki (142 pasien), tanpa wheezing (147 pasien), gejala klinis sesak nafas (148 pasien), gambaran foto toraks adanya infiltrat (151 pasien). Pemeriksaan laboratorium mendapatkan rerata nilai hemoglobin 11,3 g/dL, hematokrit 33,3%, hitung leukosit 45.293/mm3, dan hitung trombosit 364.437/mm3.Kata kunci: pneumonia, anak, gambaran karakteristik
HUBUNGAN JENIS PERSALINAN DENGAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Lihawa, Maria Y.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3663

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a bacterial infection that occurs in neonates which happens during the first months of life. WHO estimated that sepsis neonatorum cause 1 billion death every year, which accounts for 10% of all death below age 5. In developing countries, death because of sepsis is about 34 per 1000 birth and for developed countries it is only 5 per 1000 birth. There are some factors triggering neonatal sepsis that come from the mother, these factors include: preterm labor and birth, premature rupture membrane more than 18-24 hours, chorioamnionitis, usage of device during labor, maternal fever (>38oC), maternal UTI, and mother?s nutrition. There are also factors that come from the baby itself, include: perinatal asphyxia, low birth weight, preterm birth, invasive procedure, and congenital abnormality. The aim of this study is to find out the correlation between types of delivery and the incident of neonatal sepsis. This study was conducted in RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado from August 2012 ? August 2013. This is a retrospective analytic study, using total sampling method. Data were obtained from the medical records. Analysis using chi square shows a significant correlation between types of delivery and incident of neonatal sepsis (P = 0.001). Key word: sepsis neonatal, neonatal infection, risk factor of sepsis.    Abstrak: Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada neonatus yang terjadi selama bulan pertama kehidupan. WHO memperkirakan 1 juta kematian per tahun (10% dari jumlah kematian berusia dibawah lima tahun) karena sepsis neonatal. Di negara berkembang, kematian neonatus dari seluruh penyebab sepsis kira-kira 34/1000 kelahiran dan di negara maju, hanya sekitar 5/1000 kelahiran.Ada beberapa faktor pencetus sepsis neonatorum yaitu faktor dari ibu (persalinan dan kelahiran kurang bulan, ketuban pecah lebih dari 18-24 jam, korioamnionitis, persalinan dengan tindakan, demam pada ibu (>38,4oC), ISK pada ibu, dan gizi ibu).Dan faktor dari bayi (asfiksia perinatal, berat lahir rendah, bayi kurang bulan, prosedur invasif dan kelainan bawaan).Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan jenis persalinan dengan kejadian sepsis neonatorum.Penelitian ini dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2012- Agustus 2013. Penelitian ini bersifat analitik retrospektif yang diambil dalam bentuk data rekam medik dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan uji Chi-square. Dari hasil analisa data didapatkan nilai P = 0,001 (P<0,05). Nilai ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persalinan dengan kejadian sepsis neonatorum. Kata kunci: sepsis neonatorum, infeksi neonatus, faktor risiko sepsis.
PREVALENSI RETINOPATI DIABETIK PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT (BKMM) PROPINSI SULAWESI UTARA PERIODE JANUARI – JULI 2014 Manullang, Yellien R.; Rares, Laya; Sumual, Vera
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11024

Abstract

Abstrak: Penyakit mata merupakan kelainan pada mata yang dapat mempengaruhi penglihatan sehingga menyebabkan ketajaman penglihatan menurun dan penglihatan menjadi kabur atau dapat menyebabkan kebutaan. Salah satu penyebab paling sering kasus kebutaan yaitu retinopati diabetik. Retinopati diabetik merupakan kelainan retina (retinopati) yang ditemukan pada penderita diabetes melitus. Salah satu komplikasi dari DM adalah komplikasi mikrovaskular pada mata yaitu retinopati yang jika terus berlanjut akan menjadi penyebab kebutaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi retinopati diabetik pada penderita diabetes melitus di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) periode Januari - Juli 2014. Metode penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa catatan rekam medik yang terdapat di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). Dalam penelitian ini didapatkan bahwa jumlah penderita pasien retinopati diabetik pada Januari ? Juli 2014 sebanyak 64 orang. Jumlah penderita retinopati diabetik lebih banyak pada perempuan dengan jumlah 42 orang (66%) sedangkan pada laki-laki hanya berjumlah 22 orang (34%) dengan perbedaan jumlah antara perempuan dan laki-laki sebanyak 32%. Sedangkan untuk kelompok umur didapatkan hasil jumlah pasien retinopati terbanyak adalah pada kelompok umur 45-64 tahun dengan jumlah sebanyak 43 orang (67%). Berdasarkan tipe retinopati diabetik, diperoleh hasil presentase terbesar adalah pasien dengan PDR (Proliferatif Diabetik Retinopathy) dengan jumlah sebanyak 40 orang (62,50%), dan dari hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat pasien yang mengalami PDR + NPDR sebanyak 8 orang (12,50%).Kata Kunci : Prevalensi, retinopati diabetik, diabetes mellitusAbstract: Eye disease is a disorder of the eye that can affect vision, causing decreased visual acuity and vision becomes blurred or can cause blindness.One of the most common causes of blindness is diabetic retinopathy.Diabetic retinopathy is a retinal disorders (retinopathy) were found in patients with diabetes mellitus.One of the complications of DM is microvascular complications in the eye, namely retinopathy which if continued would be a cause of blindness. The purpose of this study was to determine the prevalence of diabetic retinopathy in patients with diabetes mellitus in Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) the period January - July 2014. The research method is descriptive retrospective by making use of secondary data from medical record contained in Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). It was found that the number of patients with diabetic retinopathy patients in January - July 2014 as many as 64 people.Number of patients with diabetic retinopathy more in women with a number of 42 people (66%), while in males numbered only 22 people (34%) the difference between the number of women and men as much as 32%.As for the age group showed the highest number of patients with retinopathy is the age group 45-64 years with a total of 43 people (67%).Based on the type of diabetic retinopathy, the result is the largest percentage of patients with PDR (Proliferative Diabetic Retinopathy) with a total of 40 people (62.50%), and the result showed that there are patients with NPDR PDR + 8 people (12.50 %).Keywords: Prevalence, diabetic retinopathy, diabetic mellitus
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI INSTALASI REHABILITASI MEDIK RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI –JUNI 2017 Soeryadi, Ayling; Gesal, Joudy; Sengkey, Lidwina S.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18540

Abstract

Abstract: Osteoarthritis (OA) is a chronically progressive degenerative joint disease associated with joint cartilage damage. It is usually affected the joints of the hands, vertebrae, hips, and knee which is reported as the most common affected location. Risk factors of OA are divided into non-modifiable factors and modifiable factors. The non-modifiable risk factors are age, gender, race, and genetic factors, while the modifiable factors are body mass index, occupation, knee injury, blood pressure, blood sugar level, and cholesterol level. This study was aimed to determine the non-modifiable risk factors and modifiable risk factors in patients with knee OA at the Medical Rehabillitation Unit of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a quantitative descriptive study using medical record data in the Medical Rehabilitation Unit. There were 36 cases of knee OA during the period of January-June 2017; 27 cases had complete medical record data. The highest distribution of knee OA were patients in the 70-79 age group (33.3%), females (70.4), Minahasa ethnic (59.3%), no family history of OA (70.4%), BMI ?23 (66.7%), retired (51.9%), history of knee injury (77.8%), prehypertension (51.9%), no history of DM (70.4%) and of hypercholesterolemia (66.7%). Conclusion: Based on the non-modifiable risk factors, females were more at risk of developing knee OA and based on modifiable risk factors, knee injury was the most common factor in the occurrence of knee OA.Keywords: knee osteoarthritis, risk factors Abstrak: Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi dan bersifat kronik-progresif. Lokasi yang biasanya terkena adalah sendi pada tangan, vertebra, panggul dan lutut, dimana lutut dilaporkan sebagai lokasi yang paling sering terkena. Faktor risiko OA terbagi atas faktor yang dapat di modifikasi dan faktor yang tidak dapat di modifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi ialah antara lain umur, jenis kelamin, suku/ras dan genetik. Faktor risiko yang dapat dimodifkasi berupa indeks massa tubuh, pekerjaan, cedera/trauma, tekanan darah, gua darah, dan kadar kolesterol dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi maupun dapat dimodifikasi pada penderita OA lutut di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr.R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif menggunakan data rekam medik di Instalasi Rehabilitasi Medik. Terdapat 36 kasus OA lutut selama periode Januari-Juni 2017; hanya 27 kasus yang memiliki data rekan medik lengkap. Pada penelitian didapatkan distribusi OA lutut terbanyak pada kelompok usia 70-79 tahun (33,3%), jenis kelaimin perempuan (70,4%), suku Minahasa (59,3%), tidak memiliki riwayat OA dalam keluarga (70,4%), IMT ?23 (66,7%), pensiunan (51,9%), riwayat cedera lutut (77,8%), tekanan darah pre-hipertensi (51,9%), tanpa riwayat DM (70,4%) dan riwayat hiperkolesterolemia (66,7%). Simpulan : Berdasarkan distribusi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, jenis kelamin perempuan paling rentan terhadap OA lutut dan berdasarkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, cedera/trauma lutut merupakan faktor yang paling sering.Kata kunci: osteoatritis lutut, faktor risiko

Page 28 of 108 | Total Record : 1074