cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
INDIKASI VITREKTOMI PADA KELAINAN RETINA DI BALAI KESEHATAN MATA MASYARAKAT (BKMM) PROPINSI SULAWESI UTARA PERIODE JANUARI 2014-DESEMBER 2014 Sinaga, Rohamonangan Theresia; Rares, Laya; Sumual, Vera
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10983

Abstract

Abstract: The prevalence of retinal abnormality in Indonesia reached 0.13% and is the fourth leading cause of blindness after cataract, glaucoma. and refractive disorders. Vitrectomy is a type of surgery to treat retinal disorders that removes the vitreous, therefore, the operation can be performed and vision can be corrected. This study aimed to determine the indications to undergo vitrectomy in retinal disorders. This was a descriptive retrospective study using data of medical records of patients with retinal disorders who underwent vitrectomy at Community Eye Health Center (CEHC) of North Sulawesi Province. There were 27 patients in this study consisted of 17 male patients (63%) and 10 female patients (37%). The major indications of vitrectomy were retinal detachment in 16 patients (59%) and diabetic retinopathy in 11 patients (41%). In case of retinal detachment male patients were the most frequent to undergo vitrectomy (12 patients; 44.44%) than female patients (4 patients; 14.81%). In case of diabetic retinopathy there were no difference between males (18.52%) and females (22.22%)Keywords: retinal disorder, vitrectomy, retinal detachment, diabetic retinopathy  Abstrak: Prevalensi kelainan retina di Indonesia mencapai 0,13% dan merupakan penyebab kebutaan keempat setelah katarak, glaucoma, dan kelainan refraksi. Vitrektomi adalah salah satu jenis operasi untuk mengobati kelainan retina melalui pengangkatan vitreus sehingga retina dapat dioperasi dan penglihatan dapat diperbaiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indikasi dilakukannya vitrektomi pada kelainan retina. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif dengan menggunakan data dari rekam medis penderita dengan kelainan retina yang menjalani vitrektomi di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) Propinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini ditemukan 27 pasien dengan kelainan retina yang menjalani vitrektomi terdiri dari 17 pasien laki-laki (63%) dan 10 pasien perempuan (37%). Indikasi untuk vitrektomi terbanyak pada retinal detachment sebanyak 16 pasien (59%) dan retinopati diabetik sebanyak 11 pasien (41%). Pada indikasi retinal detachment didapatkan pasien laki-laki yang paling banyak menjalani vitrektomi yaitu 12 pasien (44,44%) sedangkan perempuan 4 pasien (14,81%). Pada indikasi retinopati diabetik tidak terdapat perbedaan antara laki-laki (18,52%) dan perempuan (22,22%)Kata kunci: kelainan retina, vitrektomi, retinal detachment, retinopati diabetik
Profil Tes Fungsi Hati pada Pasien Gagal Jantung Kongestif di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode Januari - Desember 2012 Parera, Ferdinand I.; Panda, Agnes L.; Kawengian, Ventje
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.15815

Abstract

Abstract: Heart failure is a clinical syndrome characterized by shortness of breath and fatique during activity or at rest, caused by structural abnormalities or heart dysfunction. Left and right heart failure that occur at the same time is called congestive heart failure, and it can also be associated with impaired liver function, such as elevated AST and ALT levels. This study was aimed to obtain the liver function among patients with congestive heart failure at Prof. Dr. R. D. Kandou by using total sampling method. Samples were patients with congestive heart failure at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in 2012. Data of congestive heart failure patients were divided into liver function, gender, age, congestive heart failure, and New York Heart Association (NYHA) functional category recorded in the outpatient medical records. The results showed that there were 54 patients with congestive heart failure (33 males and 21 females); only 32 of them had liver function test data. Of the 32 patients, 9 patients showed increased liver function test less than twice of normal value and 2 patients had more than twice of normal value of liver function tests. Conclusion: The majority of patients with congestive heart failure had normal liver function test.Keywords: congestive heart failure, liver function test, ALT, AST, NYHA functional classes Abstrak: Gagal jantung merupakan sindrom klinis ditandai dengan sesak napas dan kelambanan (saat aktivitas atau saat istirahat) yang disebabkan oleh kelainan struktur atau disfungsi jantung. Gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan yang terjadi bersamaan disebut gagal jantung kongestif yang bisa disertai gangguan fungsi hati (peningkatan kadar AST dan ALT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian penderita dengan gagal jantung kongestif disertai gangguan tes fungsi hati di poliklinik jantung. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Sampel ialah penderita dengan gagal jantung kongestif di Poliklinik Jantung RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou selama periode Januari-Desember 2012. yang diperoleh dengan metode total sampling. Data penderita gagal jantung kongestif dibagi atas tes fungsi hati, jenis kelamin, kelompok usia, faktor penyebab gagal jantung kongestif, dan klasifikasi fungsional NYHA (New York Heart Association) yang tercantum dalam buku register/rekam medis rawat jalan. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak subjek 54 penderita gagal jantung kongestif (33 laki-laki dan 21 perempuan), tetapi hanya 32 penderita diantaranya yang memiliki data tes fungsi hati. Dari 32 penderita tersebut, 9 penderita mengalami peningkatan kurang dari dua kali nilai normal tes fungsi hati dan 2 penderita lebih dari dua kali nilai normal tes fungsi hati. Simpulan: Sebagian besar penderita dengan gagal jantung kongestif mempunyai tes fungsi hati dalam batas normal.Kata kunci: gagal jantung kongestif, tes fungsi hati, kelas fungsional NYHA
HUBUNGAN ANTARA STRES DENGAN POLA MENSTRUASI PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO ANGKATAN 2010 Saerang, Anster; Suparman, Eddy; Lengkong, Rudy A.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.5759

Abstract

Abstract: Adolescence is a period that very sensitive and vulnerable to stress that caused by more rapid physical maturation process than the psychosocial maturation. Stress involves the neuroendocrinology system as a system that has a large role in the female reproduction and therefore contributes to menstrual pattern. Ongoing stress can lead to depression. The prevalence of stress on women is 2 times higher than man. This research aims to determine whether there is a correlation between stress and menstrual pattern on female college student in Medical Faculty 2010 of Sam Ratulangi University Manado. Methods: Design of this research is using analytical observational methods with cross sectional approach. The sampling technique that used is total sampling and 90 respondents that appropriate with the specified criteria and the collecting data technique is using DASS 42 questionnaires. Results: Data obtained most about stress level characteristics is at the normal group which is 54 respondents (60 %) and the fewest is at very severe stress group which is 2 respondents (2,2 %). Data on the characteristics of menstrual cycle, respondents that obtained in regular category is 69 respondents (76,7 %) and in negative category is 21 respondents (23,3,%). Conclusion: There is a correlation between stress level and menstrual cycle on the female college student in Medical Faculty 2010 of Sam Ratulangi University Manado. It is proved by the result of the research which is obtained that most of respondents had a normal stress level with the number of 54 respondents (60 %) and most of respondents had regular menstrual cycle with the number of 69 respondents (76,7 %). Keywords : Stress, menstrual cycle.     Abstrak: Masa remaja merupakan masa sangat sensitif dan rawan terhadap stres yang disebabkan proses pematangan fisiknya lebih cepat dari pematangan psikososial. Stres melibatkan sistem neuroendokrinologi sebagai sistem yang besar peranannya dalam reproduksi wanita sehingga berpengaruh terhadap pola menstruasi.Stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan depresi.Prevalensi depresi pada wanita 2 kali lebih tinggi dibanding pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara stres dengan pola menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Angkatan 2010. Metode: Desain penelitian menggunakan metode obsevasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dan 90 responden yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner DASS 42. Hasil: Data didapatkan paling banyak mengenai karakteristik tingkat stress yaitu pada kelompok normal sebanyak 54 responden (60%) dan paling sedikit pada kelompok stress sangat parah 2 responden (2,2%). Data mengenai karakteristik siklus haid, responden penelitian didapatkan pada kategori teratur dengan jumlah 69 responden (76,7%) dan pada ketegori negatif 21 responden (23,3%). Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus haid pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam ratulangi Manado.Dibuktikan dengan hasil penelitian dimana terdapat sebagian besar responden mengalami tingkat stres normal dengan jumlah 54 responden (60%) dan sebagian besar responden mengalami siklus haid teratur dengan jumlah 69 responden (76,7%). Kata kunci: Stres, pola menstruasi.
Kejadian perdarahan uterus abnormal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015 Tendean, Genuine G.E.; Mewengkang, Maya; Wantania, John J.E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14395

Abstract

Abstract: Abnormal uterine bleeding (AUB) is the most frequent gynecologic symptoms in women of reproductive age outpatients with a prevalence of 11 of 13 women and is increasing with aging reaching 25% among women of reproductive age. This study was aimed to describe cases of AUB at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2015. This was a retrospective descriptive study using secondary data of the medical records. The results showed that there were 62 cases of AUB. Most of them were at the age of 41-50 years (33.87%) meanwhile the minimum were <20 years and 21-30 years (9.68%). Based on BMI, the highest percentage was BMI 23.0-24.9 (30%). For AUB classification PALM-COEIN, the majority were PUA-L (40%). Histological examination was performed in 30.76%. The most common treatment was medicated therapy and D & C (34.62%). Conclusion: In this study, the majority of AUB cases were aged 41-50 years, BMI of 23.0 to 24.9, and PALM-COEIN classification of PUA-L, and medicated therapy plus D & C. Keywords: prevalence, abnormal uterine bleeding Abstrak: Perdarahan uterus abnormal (PUA) merupakan gejala ginekologik yang paling sering pada pasien rawat jalan wanita usia reproduksi dengan prevalensi 11 dari 13 wanita. Kejadian PUA meningkat dengan berjalannya usia, mencapai 25% pada wanita usia reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien PUA di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 62 data kasus PUA. Berdasarkan usia, terbanyak usia 41-50 tahun (33,87%) dan yang paling sedikit usia <20 tahun dan 21-30 tahun (9,68%). Berdasarkan IMT, IMT 23,0-24,9 yang paling tinggi (30%). Untuk klasifikasi PUA PALM-COEIN, terbanyak ialah PUA-L (40%). Pasien yang melakukan pemeriksaan histopatologik sebanyak 30,76% dan yang tidak melakukan pemeriksaan 69,24%. PUA dengan penanganan medikamentosa dan D&C memiliki persentase terttinggi (34,62%). Simpulan: Pada studi ini, kejadian PUA terbanyak pada usia 41-50 tahun, IMT 23,0-24,9, klasifikasi PUA-L, dengan pilihan penanganan terbanyak medikamentosa dan D&C.Kata kunci: kejadian, PUA
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA WANITA PEKERJA SEKSUAL USIA REMAJA DI KOTA MANADO (STUDI KUALITATIF TERHADAP 2 ORANG WANITA PEKERJA SEKSUAL USIA REMAJA) Pirade, Audi
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3657

Abstract

Abstract: Female sexual worker is someone who sells herself to have sex rewarded in the form of money or something, they sell their bodies for getting some material. Prostitute has many risk factors that can lead to anxiety, both internal and external factors. The study aimed to find out about anxiety degree of adolescent female sexual workers in Manado city. This research is a quantitative study using cross-sectional method for 30 respondents about anxiety degree using Hamilton Anxiety Rating Scale, followed by qualitative study through in-depth interviews on 2 respondents. Respondents in both studies were selected by purposive sampling. From 30 respondents found 53,33% experiencing severe anxiety, 30% had moderate anxiety and 16,7% respondents had mild anxiety. Conflicts that occur in female sexual worker can be caused by unpleasant experiences, job risk and self pressure because the profession are embarrassing and contradict to religious values, on the other hand they also need the job as a source of income. It becomes a dilemma and would cause anxiety. So, it can be concluded that majority of adolescent female sexual workers have severe anxiety degree, several factors that can induce anxiety are personal, family, job, environmental and religion factors. Keyword: anxiety degree, adolescent female sexual workers, manado city.   Abstrak: Wanita pekerja seksual adalah seseorang yang menjual diri dengan melakukan hubungan seks untuk memperoleh imbalan dalam bentuk uang maupun barang, mereka menjajakan tubuhnya demi mendapatkan sejumlah materi. WPS mempunyai banyak faktor resiko yang dapat menimbulkan kecemasan, baik faktor internal maupun eksternal. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan WPS remaja di kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pengambilan data secara cross sectional terhadap 30 orang responden mengenai tingkat kecemasan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale, dilanjutkan dengan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 2 orang responden. Reponden dalam kedua penelitian dipilih dengan purposive sampling. Hasil uji HARS didapatkan 53,3% responden mengalami kecemasan berat, 30% responden mengalami kecemasan sedang, dan 16,7 % responden mengalami kecemasan ringan. Konflik yang terjadi dalam diri WPS dapat disebabkan oleh pengalaman masa lalu, resiko pekerjaan serta tekanan dari dalam diri sendiri karena menganggap pekerjaan tersebut bertentangan dengan ajaran agama, disisi lain mereka juga membutuhkan pekerjaannya sebagai sumber penghasilan. Hal ini menjadi dilema dan menimbulkan kecemasan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar WPS remaja di kota Manado memiliki tingkat kecemasan berat, beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecemasan pada WPS remaja tersebut  antara lain faktor pribadi, keluarga, pekerjaan, masyarakat dan agama. Kata kunci: Tingkat kecemasan, WPS remaja, kota Manado
GAMBARAN SKALA NYERI PADA PASIEN PASCABEDAH CAESAR DENGAN PENGGUNAAN OBAT KETAMIN DOSIS RENDAH Posumah, Richi M.; Tambajong, Harold F.; Kumaat, Lucky T.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11018

Abstract

Abstract : Pain is an uncomfortable sensorical feeling and emotional experience that relate to the destruction of tissue actually or potentially. Pain management is an important thing for the postoperative patients. Postoperative pain causing the change of body hormones that eventually lead to pain, nausea and vomitting. Postoperative pain management is an important aspect and therefore the analgetic drugs will be administered to overcome the pain. Not only function as an anaesthetic agent, low dose ketamine also has an analgetic effect. This study was aimed to determine the pain scale of the caesarean section patients using low – dose ketamine. This is an descriptive prospective study and the samples were the postoperative caesarean section patients from Prof. DR. R.D Kandou Hospital, Bhayangkara Hospital and GMIM Pancaran Kasih Hospital in Manado from December 2015 – January 2016. Patient that has been finished the operation were administered low dose ketamine as bolus 0,1 mg/kg and continuous IV 0,1 mg/kg/hour for 6 hours then the pain were assessed by using the Numerical Rating Scale (NRS) and FACES Pain Scale (FPS) starts from two hours, four hours and six hours after the ketamine was administered. Conclusion : Low dose ketamine was able to lower postoperative pain on caesarean section patients.Keywords : Postoperative Pain, Pain Scale, Caesarean Section, Low – Dose KetamineAbstrak : Nyeri merupakan perasaan sensorik dan pengalaman emosional yang tidak nyaman dan berhubungan dengan kerusakan jaringan secara actual maupun potensial. Manajemen nyeri merupakan hal yang penting dalam penganganan pasien pascabedah. Nyeri yang disebabkan oleh pembedahan terjadi karena perubahan hormon – hormon dalam tubuh dan hasilnya berupa rasa nyeri, mual dan muntah. Manajemen nyeri pascabedah merupakan aspek penting maka diberikan obat analgetik untuk mengatasinya. Selain sebagai obat anestetik, obat ketamin dengan dosis rendah memiliki fungsi analgetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran skala nyeri pada pasien pascabedah caesar dengan menggunakan obat ketamin dosis rendah. Penelitian ini bersifat deskriptif prospektif dan sampel merupakan pasien pascabedah caesar diambil di RSUP. Prof. DR. R. D. Kandou Manado, RS Bhayangkara Mando dan RSU GMIM Pancaran Kasih Manado yang dilaksanakan pada bulan Desember 2015 – Januari 2016. Pasien setelah selesai operasi diberikan ketamin dosis rendah dengan dosis bolus 0,1 mg/kg dan infus kontinyu IV 0,1 mg/kg/jam selama 6 jam kemudian penilaian nyeri pasien menggunakan skala nyeri Numerical Rating Scale (NRS) dan FACES Pain Scale (FPS) pada jam II, jam IV dan jam VI setelah pemberian obat ketamin. Simpulan : Ketamin dengan dosis rendah mampu menurunkan nyeri pascabedah pada pasien bedah caesar.Kata Kunci : Nyeri Pascabedah, Skala Nyeri, Bedah Caesar, Ketamin Dosis Rendah
Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Reproduksi tentang Kanker Leher Rahim di Kota Manado Prayogo, Ulung; Wantania, John J.E.; Wagey, Frank M.M.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18525

Abstract

Abstract: Cervical cancer is a malignant disease on the area of cervix and its common symptom is abnormal vaginal bleeding. Women of low economics level have higher risk to suffer from cervical cancer because they do not have professional health service, less education of cervical cancer and its prevention; therefore, cervical cancer cases can not be early detected. This study was aimed to identify the knowledge level of reproductive women about cervical cancer in Manado. This was a quantitative descriptive study with a cross sectional design. This study used questionnaire which had be validated on 50 reproductive women and data were processed by using SPSS. The results showed 288 respondents that fulfilled the inclusion criteria. Of the total 288 respomdemts, 141 (49%) had high level of knowledge about cervical cancer; 132 people (45,8%) had moderate level of knowledge; and 15 people (5,2%) had low level of knowledge. Conclusion: In this study, most reproductive women had high level of knowledge about cervical cancer.Keywords: knowledge, reprodutive women, cervical cancer Abstrak: Kanker leher rahim adalah keganasan di daerah leher rahim, yang umumnya memberikan gejala perdarahan per vagina yang abnormal. Wanita dengan tingkat ekonomi rendah berisiko tinggi terkena kanker leher rahim karena tidak adanya akses pada pelayanan kesehatan yang memadai, ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan mengenai kanker leher rahim dan pencegahannya yang menyebabkan kanker leher rahim tidak terdeteksi secara dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan wanita usia reproduksi tentang kanker leher rahim di Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang dan dilakukan di Puskesmas Bahu, Puskesmas Tuminting, dan Puskesmas Wenang Kota Manado. Penelitian ini menggunakan kuisioner yang telah divalidasi pada 50 wanita usia reproduksi dan diolah menggunakan SPSS. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 288 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik tentang kanker leher rahim sebesar 141 orang (49%), berpengetahuan cukup 132 orang (45,8%), dan berpengetahuan kurang 15 orang (5,2%).Simpulan: Dalam studi ini, sebagian besar wanita usia reproduksi memiliki tingkat pengetahuan baik tentang kanker leher rahim.Kata kunci: pengetahuan, wanita usia reproduksi, kanker leher rahim
KARAKTERISTIK PENDERITA KANKER SERVIKS DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Lasut, Edwin; Rarung, Max; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6519

Abstract

Abstract: Cervical cancer is still the most frequent type of cancer among women in Indonesia. For ASEAN region, the incidences of cervical cancer in Singapore are: around 25.0% among the Chinese and 17.8% among the Malayan. In Thailand the incidence is around 23.7 per 100.000 civilians. In Indonesia, it is estimated that there are 40.000 new cases of cervical cancer in every year. This study aimed to obtain the characteristics of mothers with cervical cancer in the Department of Obsterics and Gynaecology in the Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital, Manado from January 1 to December 31,2013.Keywords: cervical cancer, age, pap smear history, parity, age of first maritalAbstrak: Kanker serviks masih menjadi penyakit yang terbanyak pada wanita di Indonesia. Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapura sebesar 25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan di Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40.000 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu dengan kanker serviks di Bagian Obstetri dan Ginekologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013 sampai dengan 31 desember 2013.Kata kunci: Kanker serviks, usia, paritas, riwayat pap smear, usia kawin pertama kali
PERBEDAAN STATUS GIZI PADA ANAK DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK DAN NON SIANOTIK Sondakh, Meyrina E.; Kaunang, Erling D.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.9519

Abstract

Abstract: Congenital Heart Disease (CHD) is a disorder that is commonly found. The incidence of CHD in the world is 8-10 among 1,000 births. Although children with mild or moderate CHD usually have normal growth and development, the presence of CHD can result in physical growth retardation. This study aimed to obtain the difference of nutritional status among children with cyanotic and non-cyanotic CHD. This study was a retrospective analytical study with a cross sectional design. This study was conducted at the Child Health Department Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data of children treated with CHD from 2009-2014 included age, gender, weight, height, and nutritional status. Data were analyzed with Chi-Square test. Of 55 samples, there were 34 boys and 21 girls. The results showed that the most suffered CHD was ventricular septal defect. There were 54.5% of patients with good enough nutrition, 25.5% with malnutrition, and 16.4% with severe malnutrition. The Chi-Square test obtained a P-value of 0.464 (> 0.050) which indicated that there was no difference in nutritional status among children with cyanotic and non-cyanotic CHD. Conclusion: According to the study there was no difference in nutritional status between cyanotic and non-cyanotic congenital heart disease.Keywords:nutritional status, congenital heart disease, cyanotic, non-cyanoticAbstrak: Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan yang cukup banyak ditemukan. Insidensi PJB di dunia 8-10 di antara 1.000 kelahiran. Anak dengan PJB yang tidak begitu parah biasanya memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang normal, tetapi adanya PJB dapat mengakibatkan hambatan pertumbuhan jasmani penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi pada anak dengan PJB sianotik dan non sianotik. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif analitik dengan desain potong lintang dan dilaksanakan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data diambil dari semua anak yang dirawat dengan PJB tahun 2009-2014 meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, dan status gizi anak. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Jumlah sampel 55 anak terdiri dari 34 lelaki dan 21 perempuan. Jenis PJB terbanyak yang diderita ialah ventricular septal defect. Penderita dengan gizi cukup 54,5%; gizi kurang 25,5%; dan gizi buruk 16,4%. Dengan uji Chi-Square, didapatkan nilai P 0,464 (< 0,050) yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan status gizi antara anak dengan PJB sianotik dan non sianotik. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan status gizi antara penyakit jantung bawaan sianotik dan non sianotik.Kata kunci: status gizi, penyakit jantung bawaan, sianotik, nonsianotik
Profil trikomoniasis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2011 – 31 Desember 2015 Alfari, Nurrahmi; Kapantow, Marlyn G.; Pandaleke, Thigita
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14478

Abstract

Abstract: According to WHO in 2008, prevalence of Trichomoniasis is number one of the total number of new cases of sexually transmitted diseases, reaching 276.4 million (Chlamydia trachomatis 105.7 million, 106.1 million Neisseria gonorrhea, syphilis 10.6 million). Trichomoniasis is a protozoal disease that attacks the lower urogenital tract in both men and women and is caused by Trichomonas vaginalis, this disease is usually transmitted through sexual intercourse. In women this parasitic infection mainly causes vaginitis, whereas in men can lead to urethritis but often asymptomatic so men rarely to do the check. This study’s goal to gain trichomoniasis patients profile at the dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado during the period from January 2011 – December 2015. This is a retrospective descriptive study from the secondary data of trichomoniasis patients based on age, type of job, complaints and clinical findings, and co-infection with other STDs. The results showed of 22 cases with trichomoniasis, found most often in the age group 25-44 years as many as 15 cases (68.18%), with the youngest 16 and the oldest 41 years of age, most of the patients are housewife (45.45%), complaints vary but all come with complaints vaginal discharge, co-infected with other STDs, 7 cases (31.82%).Keywords: trichomoniasis, trichomonas vaginalis, STD Abstrak: Trikomoniasis menempati nomor urut pertama prevalensinya menurut World health Organization pada tahun 2008 yakni mencapai 276,4 juta dari jumlah total kasus baru penyakit menular seksual(105.7 juta Klamidia trakomatis, 106.1 juta Neisseria gonore, 10.6 juta sifilis). Trikomoniasis merupakan suatu penyakit infeksi protozoa yang menyerang traktus urogenitalis bagian bawah baik pada pria maupun wanita dan disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Pada wanita infeksi parasit ini terutama menyebabkan vaginitis, sedangkan pada laki-laki menyebabkan uretritis namun sering asimptomatik sehingga pria jarang memeriksakan diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil pasien trikomoniasis di poliklinik kulit dan kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2011 – Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dari data sekuduer pasien trikomoniasis berdasarkan umur, jenis Pekerjaan, keluhan dan temuan klinis dan ko-infeksi dengan IMS lainnya. Hasil penelitian menunjukkan dari 22 kasus dengan trikomoniasis, didapatkan paling sering pada kelompok usia 25-44 tahun sebesar 15 kasus (68,18%), dengan usia termuda 16 tahun dan usia tertua 41 tahun., pekerjaan terbanyak Ibu Rumah Tangga (45,45%), keluhan beragam namun seluruhnya datang dengan keluhan duh tubuh, ko-infeksi IMS lainnya 7 kasus (31,82%). Kata kunci: trikomoniasis, trikomonas vaginalis, IMS

Page 3 of 108 | Total Record : 1074