cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
KARAKTERISTIK PENDERITA STROKE ISKEMIK YANG DI RAWAT INAP DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2012-2013 Patricia, Heidy; Kembuan, Mieke A. H. N.; Tumboimbela, Melke J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7402

Abstract

Abstract: Stroke is rapidly developing clinical signs of focal or global disturbance of cerebral function, with symptoms lasting 24 hours or longer or leading to death, with no apparent cause other than of vascular origin. This study aimed to know characteristic of ischemic stroke patients hospitalized at Prof.Dr.R.D.Kandou hospital in 2012-2013. This research is descriptive retrospective research using secondary data, including the ischemic stroke patient’s medical record. The results showed the highest percentage ischemic stroke patients at 45-54 year age group (36%), male (52%), high school education (52%), who work as housewifes (40%). The highest of modifiable risk factors are hypertension (74,70%), followed by increases in total cholesterol (41,30%), who had Diabetes mellitus (17,30%), who had sodium imbalance (12%), who had potassium imbalance (16%), who had chloride imbalance (18,70%), alcoholic (28%), and smoking history (44%). Based on the results of this research concluded that the most risk factor is hypertensionKeywords: ischemic stroke, characteristic, risk factorsAbstrak: Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun global, yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan kematian, tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita stroke iskemik yang di rawat inap di RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado tahun 2012-2013. Metode yang digunakan bersifat deskriptif retrospektif yaitu dengan mengambil data sekunder penderita stroke iskemik tahun 2012-2013 di bagian rekam medik RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase terbanyak pasien stroke berumur 45-54 tahun (36%), jenis kelamin laki-laki (52%), pendidikan terakhir SMA (52%), yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (40%). Faktor risiko yang dapat diubah tertinggi adalah hipertensi (74,70%), diikuti oleh kolesterol total meningkat (41,30%), yang memiliki penyakit diabetes melitus (17,3%), yang memiliki ketidakseimbangan natrium (12%), ketidakseimbangan kalium (16%), ketidakseimbangan klorida (18,70%), yang memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol (28%), dan merokok (44%). Berdasarkan hasil penilitian ini disimpulkan bahwa faktor risiko terbanyak yang ditemui adalah hipertensi.Kata kunci: stroke, karakteristik, faktor risiko
Gambaran tingkat kecemasan dengan pengukuran TMAS dan prestasi belajar siswa perempuan dan laki-laki kelas 1 SMA Negeri 1 Kawangkoan Mamuaya, Miracle H.; Elim, Christofel; Kandou, Lisbeth F.J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.12797

Abstract

Abstract: Anxiety arises as a result of the response to stress or conflicts. This is commonly occurs when a person experiences any changes in his/her life and is required to be able to adapt. Anxiety is the most common mental disorders. Around 20% of the world population suffers from anxiety and as many as 47.7% of teenagers often feel anxious. High school students are prone to anxiety. Psychosocial stressor is any situation that causes a change in one's life so that he/she is forced to adapt or cope with stressors that arise. Changes in the learning environment has also become one of the trigger factors of anxiety and depression in high school students. This study aimed to obtain the difference of the degrees of anxiety and depression between high school male students and female students. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. All respondents’ achievement and levels of anxiety obtained from TMAS questionnaires were noted. In this study there were 144 selected respondents consisted of 74 female students and 70 male students; all were grade 1 students. The results showed that most male students did not experience anxiety (43 students; 61.42%). On the contrary, most female students experienced anxiety (57 students; 77.02%). Among the male students, most of them who did not experience anxiety had an average value between 80-90 meanwhile among the female students most of them who experienced anxiety had a value achievement of 80-90. Conclusion: There was no relationship between the level of anxiety and value of achievement among high school students in Kawangkoan. Keywords: homeostasis, psychosocial stressors, distorted perception. Abstrak: Kecemasan timbul akibat adanya respon terhadap kondisi stres atau konflik. Hal ini biasa terjadi bila seseorang mengalami perubahan situasi dalam hidupnya dan dituntut untuk mampu beradaptasi. Kecemasan merupakan gangguan mental terbesar. Diperkirakan 20% dari populasi dunia menderita kecemasan dan sebanyak 47,7% remaja sering merasa cemas. Siswa SMU rentan terhadap kecemasan. Stresor psikososial adalah setiap keadaan yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa beradaptasi atau menanggulangi stresor yang timbul. Perubahan lingkungan belajar juga menjadi salah satu faktor pencetus kecemasan dan depresi pada siswa SMU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan derajat kecemasan dan depresi antara siswa SMU laki-laki dan perempuan kelas 1 SMA Negeri 1 Kawangkoan. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Dari keseluruhan responden gambaran yang diamati meliputi nilai capaian siswa dan tingkat kecemasan yang diperoleh dari kuesioner TMAS. Dari hasil penelitian diperoleh 144 responden yang terdiri dari 74 siswa perempuan dan 70 siswa laki-laki dari siswa kelas 1. Sebagian besar remaja laki-laki tidak mengalami kecemasan yakni sebanyak 43 siswa (61,42%) sedangkan pada siswa perempuan sebagian besar mengalami kecemasan yakni sebanyak 57 siswa (77,02%). Pada remaja laki-laki jumlah terbanyak siswa Mamuaya, Elim, Kandouw: Gambaran antara tingkat... yang tidak mengalami kecemasan memiliki nilai rata-rata antara 80-90. sedangkan pada remaja perempuan yang memiliki jumlah kecemasan tertinggi berada pada nilai capaian 8 . Simpulan: Tidak ditemukan hubungan antara tingkat kecemasan dan nilai capaian studi pada siswa SMU kelas 1 SMA Negeri 1 Kawangkoan. Kata kunci: homeostasis, stresorpsikososial, distorsipersepsi
PROFIL PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI YAYASAN-YAYASAN MANULA DI KECAMATAN KAWANGKOAN Mongisidi, Rachel; Tumewah, Rizal; Kembuan, Mieke A. H. N.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3297

Abstract

Background: The cognitive impairment in elderly people is the major cause of the inability to execute the daily activity and of the major reason of the happening of care-dependence. There has not been any research about the profile of cognitive functions impairment in the District of Kawangkoan. Thus, the purpose of this research was to obtain the profile of cognitive functions impairment in the District of Kawangkoan. Methods: This was a descriptive survey with the design of cross-sectional study, which rolls out, the results of MMSE, TMT A, TMT B and CDT; the age, sex, education, occupations, family history of cognitive decline, marital status, the number of children, and the history of stroke and DM, and also the smoking profile of the participants. The subjects of this research were the elderly people that were the members of the old people foundations in the District of Kawangkoan. Results: There were 61 participants of this research, consisting of four males (6.6%) and 57 (94.4%) females participants. The result of this research shows that the MMSE scores were mostly normal (72.1%), the TMT A and the TMT B scores were both mostly abnormal (95.1% and the latter 72.1%), the CDT scores mostly normal (67.2%). In all these three instruments have the absolute result that was, the elderly people with older age has more numbers of participants with cognitive functions impairment than the younger age. The result also shows that the group of subjects with higher education has less numbers of cognitive decline subjects than the group of subjects with lower education. The subjects that had a former occupation as a teacher have the normal cognitive functions as the results of all the tests. Subjects that were married and have children, and do not have a history of stroke, DM and smoking got the score of normal cognitive functions. Conclusions: The cognitive functions of elderly people based on the MMSE and CDT scores, show that most of them have a normal cognitive functions where as the result of the TMT part A and the TMT part B show the opposite result that is most of the participants have an abnormal score. Key words: Cognitive functions impairment – Elderly peopleLatar Belakang: Penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan penyebab terbesar terjadinya ketidakmampuan dalam melakukan aktifitas normal sehari-hari, dan juga merupakan alasan tersering yang menyebabkan terjadinya ketergantungan terhadap orang lain untuk merawat diri sendiri. Belum pernah ada penelitian tentang profil penurunan fungsi kogntif di Kec. Kawangkoan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui profil penurunan fungsi kognitif pada lansia di Kecamatan Kawangkoan. Metode: Penelitian survey deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang, yang memaparkan data hasil pemeriksaan MMSE, TMT A, TMT B, CDT, umur, jenis kelamin; riwayat pendidikan, pekerjaan, keluarga dengan penurunan fungsi kognitif, status pernikahan dan jumlah anak, riwayat penyakit stroke, diabetes mellitus dan merokok. Subjek penelitian adalah para lansia yang menjadi anggota dari yayasan-yayasan manula yang ada di Kec. Kawangkoan. Hasil: Terdapat 61 sampel dari total 65 subjek penelitian. Sampel terdiri dari 4 orang berjenis kelamin laki-laki (6.6%) dan 57 perempuan (94.4%). Penelitian menunjukkan hasil pemeriksaan MMSE menunjukkan 72.1% normal, TMT A 95.1% tidak normal, pemeriksaan TMT B 72.1% tidak normal dan CDT67.2% normal. Pada hasil pemeriksaan ditemukan hasil absolut pada ketiga jenis pemeriksaan ini yaitu lebih banyak terdapat penurunan fungsi kognitif pada lansia dengan umur yang lebih tua. Profil fungsi kognitif berdasarkan riwayat pendidikan menunjukkan bahwa sampel dengan pendidikan kurang dari sembilan tahun sebagian besar mengalami penurunan fungsi kogntif. Riwayat pekerjaan guru seluruhnya memiliki hasil fungsi kognitif yang normal sedangkan sampel yang riwayat pekerjaannya petani lebih banyak mengalami penurunan fungsi kognitif. Sampel yang tidak menikah dan tidak memiliki anak memiliki hasil penurunan fungsi kognitif yang dominan daripada yang menikah dan memiliki anak. Pada hasil ditemukan bahwa sampel yang memiliki riwayat stroke, DM dan merokok positif memiliki hasil penurunan fungsi kognitif yang dominan disbanding yang tidak memiliki riwayat stroke, DM dan merokok. Kesimpulan: Hasil pemeriksaan fungsi kognitif berdasarkan pemeriksaan MMSE dan CDT menunjukkan bahwa sebagian besar lansia masih memiliki fungsi kogntif yang normal sedangkan pada TMT A dan TMT B ditemukan hasil sebaliknya di mana ditemukan hasil sebagian besar mengalami penurunan fungsi kognitif. Kata Kunci: Penurunan fungsi kognitif – Lansia
PENCAPAIAN TEKANAN INTRAOKULAR PASCA PEMBERIAN TIMOLOL MALEAT 0,5% PADA GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER DI POLIKLINIK MATA RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2012-2014 Lalita, Andrea; Tongku, Yamin; Saerang, J. S. M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10969

Abstract

Abstract: Primary Open Angle Glaucoma (POAG) is the most often type of glaucoma. Glaucoma is one of the most common cause of irreversible blindness worldwide, whereas POAG has nearly 90% of all types of glaucoma. Timolol maleate 0.5% is a non-selective beta adrenergic receptor inhibitor commonly used in the POAG treatment. Mechanism of action of this drug is lowering or suppressing the aquous humor production. The level of intraocular pressure (IOP) reduction in patients with timolol can reach a percentage of 20-30%. This was a retrospective descriptive study. Respondents were POAG patients with timolol maleate 0.5% therapy in the Department of Ophtalmology Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This study was conducted in November 2015. The results showed that there were 15 respondents who fulfilled the criterias. Of the 15 patients, 8 patients (54%) came for the first control (a week/a month). There were 9 female patients (60%) and 6 male patients (40%). By group of age, the highest percentage was elderly aged 51-60 years (40%). There were 11 patients (74%) with bilateral POAG and only 4 patients (26%) with unilateral POAG. The average percentage of IOP reduction among POAG patients with timolol maleate 0.5% therapy was 16.52%. Conclusion: Among POAG patients with timolol maleate 0.5% therapy there was a 16.52% decrease of the average intraocular pressure in the first control. Keywords: primary open-angle glaucoma, timolol, intraocular pressure Abstrak: Glaukoma Sudut Terbuka Primer (GSTaP) adalah tipe yang paling sering timbul dari penyakit glaukoma. Glaukoma merupakan salah satu penyebab tersering dari kebutaan yang ireversibel di seluruh dunia, dan GSTaP terdapat hampir 90% dari semua tipe penyakit glaukoma. Timolol maleat 0,5% yaitu penghambat reseptor beta adrenergik non selektif merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan untuk pengobatan GSTaP. Mekanisme kerja obat ini ialah menurunkan atau supresi produksi humor akuous. Tingkat penurunan TIO (tekanan intraokular) pada pengguna timolol mencapai 20-30%. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Sampel penelitian ialah pasien GSTaP dengan terapi timolol maleat 0,5% di Poliklinik Mata RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini dilakukan selama bulan November 2015 dengan jumlah sampel 15 orang yang telah memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan dari 15 pasien tersebut, 8 pasien (54%) datang kembali untuk kontrol (1 minggu/1 bulan pertama). Yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 9 pasien (60%) sedangkan laki-laki hanya 6 pasien (40%). Berdasarkan kelompok umur, rata-rata umur lansia paling banyak; yang terbanyak yaitu umur 51-60 tahun (40%). Dilihat dari sisi mata, kasus bilateral lebih banyak berjumlah 11 pasien (74%) dibandingkan unilateral hanya 4 pasien (26%). Rerata persentase penurunan TIO pada pasien GSTaP dengan menggunakan terapi timolol maleat 0,5% ialah 16,52%. Simpulan: Pada pasien GSTaP yang diberikan timolol maleat 0,5% terdapat rerata penurunan TIO sebesar 16,52% pada kontrol pertama.Kata kunci: glaukoma sudut terbuka primer, timolol, tekanan intraokular
Hubungan Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Perubahan Status Gizi Anak Balita Gizi Kurang di Kota Manado Hosang, Kevin H.; Umboh, Adrian; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14760

Abstract

Abstract: Toddler is one of the nutritional vulnerable population groups that easily suffer from health problems and malnutrition. In this age group, children are in growth and development cycle that requires nutrients in larger amounts than any other age groups. To overcome the problem of malnutrition in this age group, they should be supported with supplementary food. Pemberian makanan tambahan (PMT) is a program of intervention to infants suffering from malnutrition with a goal to improve the nutritional status as well as the nutritional needs of children to achieve the nutritional status and condition of good nutrition in accordance with the children's age. PMT for children aged 0-59 months is as an addition and not as a substitute of main daily meals. This study was aimed to determine the relationship of supplementary feeding to changes in the nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado. This was an analytical retrospective study. Subjects were 70 children under 5 years with malnutrition fed with rice, biscuits, green beans, and milk for 90 days. The results showed that there was a very significant relationship between PMT and the changes in nutritional status of children under 5 years with malnutrition at health centers in Manado.Keywords: feeding (PMT), toddler, child nutritional status Abstrak: Balita merupakan salah satu golongan penduduk rentan gizi yang paling mudah menderita gangguan kesehatan dan kekurangan gizi. Kelompok usia tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Untuk mengatasi masalah gizi pada kelompok usia tersebut perlu diselenggarakan pemberian makanan tambahan (PMT). PMT merupakan program intervensi terhadap balita yang menderita kurang gizi yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak dan mencukupi kebutuhan zat gizi anak sehingga tercapainya status gizi dan kondisi gizi yang baik sesuai dengan usia anak tersebut. PMT bagi anak usia 0-59 bulan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di Puskesmas-puskesmas di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif. Subjek penelitian ialah 70 anak balita gizi kurang yang mendapatkan PMT berupa beras, biskuit, kacang hijau, dan susu selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMT berpengaruh sangat bermakna terhadap perubahan status gizi anak balita gizi kurang di puskesmas-puskesmas Kota Manado.Kata kunci: PM), balita, status gizi, balita gizi kurang
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN CD4 PADA PASIEN TB PARU Patiung, Feby; Wongkar, M. C. P.; Mandang, Veny
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5133

Abstract

Abstract: The background of TBC disease is well know as the main health problem for people in the world. In 1992 WHO iconed TBC as global emergency. WHO reported that 8,8 million new cases of TBC in 2002 and the rest 3,9 trilliun recorded as HIV case. Patient having TBC disease usually experience a drop in the health nutrition status or they could be categorized as having bad nutrition status. Few factors related to health nutrition of TBC patient is unefficient energy level and protein, patient’s attitude towards food and health, experiencing TBC for quite a long time and the income of the patient itself. Few variables are needed to evaluate health nutrition of a TBC chronic. They are antropometrik including hematologik which are body mass index, total protein, albumin, total white blood cell, etc. The result show that there is no relation between body mass index and CD4, there is no relation between total protein and CD4, there is correlation between albumin and CD4, there is correlation between total white blood cell and CD4, and it can be concluded that health nutrition status have a high effect towards CD4. Keywords: CD4.     Abstrak: Latar belakang: Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia. Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai global emergency. Laporan WHO menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002 dan 3,9 juta adalah kasusHIV. Pasien TB paru seringkali mengalami penurunan status gizi, bahkan dapat menjadi status gizi buruk. Beberapa faktor yang berhubugan dengan status gizi pada pasien TB paru adalah tingkat kecukupan energi dan protein, perilaku pasien terhadap makanan dan kesehatan, lama menderita TB paru serta pendapatan perkapita pasien. Untuk menilai status gizi seseorang pasien termasuk pasien TB paru diperlukan penilaian beberapa variabel baik antropometrik maupun hematologik diantaranya : indeks masa tubuh (IMT), protein total, albumin, limfosit total dan lain-lain. Hasil: Tidak terdapat hubungan antara IMT dengan CD4, tidak terdapat hubungan antara protein total dengan CD4, terdapat hubungan antara albumin dengan CD4, terdapat hubungan yang kuat antara limfosit totaldengan CD4, dan secara garis besar status gizi berpengaruh terhadap hasil CD4.Kata Kunci: CD4.
Karakteristik dan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Parkinson dengan Probabel Gangguan Perilaku Tidur Fase Gerak Mata Cepat di Manado Koleangan, Grisheila M.; Mawuntu, Arthur H. P.; Kembuan, Mieke A. H. M.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27191

Abstract

Abstract: Rapid eye movement sleep behavior disorder (RBD) often occurs in patients with Parkinson's disease (PD) and it could reduce their quality of life (QoL). This study was aimed to obtain the characteristics and QoL of PD patients with pRBD in Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Subjects were PD patients with pRBD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from October to November 2019. The QoL was measured by using the SF-36 QoL questionnaire. The results obtained 48 eligible subjects. Male patients were more common than females (52.1% vs 47.9%). Most of the subjects were 60-69 years (54.1%), had senior high school and junior high school education (each of 29.1%), and unemployed (41.7%). Moreover, 62.5% of patients had been diagnosed as PD since 1-5 years ago. The mean score of the physical and mental component of the subjects were 46.5 and 60.8 subsequently. In conclusion, the majority of patients with Parkinson's disease and pRBD were 60-69 years, senior or junior high school educated, unemployed, and had been diagnosed as PD since 1-5 years ago. Their quality of life in physical component was below norm-based score but in mental component was still good.Keywords: Parkinson's disease, probable RBD, quality of life, SF-36 Abstrak: Gangguan perilaku tidur fase gerak mata cepat (rapid eye movement sleep behaviour disorder/RBD) sering terjadi pada pasien penyakit Parkinson (PD) yang mungkin menurunkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kualitas hidup pasien PD dengan probabel RBD (pRBD) di Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang terhadap pasien PD dengan pRBD yang datang ke RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan Oktober-November 2019. Kualitas hidup diukur menggu-nakan kuesioner kualitas hidup SF-36. Hasil penelitian mendapatkan 48 pasien yang meme-nuhi kriteria penelitian. Pasien berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (52,1% vs 47,9%). Sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 60-69 tahun (54,1%), tingkat pendidikan terakhir SMA/Sederajat dan SMP sama banyak (29,1%), dan tidak bekerja (41,7%). Sebanyak 62,5% subjek telah terdiagnosis PD sejak 1-5 tahun sebelumnya. Skor rerata komponen fisik dan komponen mental kualitas hidup SF-36 ialah 46,5 dan 60,8. Sim-pulan penelitian ini ialah mayoritas pasien penyakit Parkinson dengan pRBD berusia 60-69 tahun, pendidikan SMA/sederajat atau SMP, tidak bekerja, dan telah terdiagnosis PD sejak 1-5 tahun sebelumnya. Kualitas hidup pasien penyakit Parkinson dengan pRBD pada komponen fisik secara umum berada di bawah skor normatif tetapi komponen mental masih baik.Kata kunci: penyakit Parkinson, probabel RBD, kualitas hidup, SF-36
PERSALINAN DISTOSIA PADA REMAJA DI BAGIAN OBSTETRI-GINEKOLOGI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Paat, Judita; Suparman, Eddy; Tendean, Hermie
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8145

Abstract

Abstract: Labour process depends on 3 factors as follows: power, passanger, and passage. Power consists of contraction of the uterus, abdominal wall muscles, and diaphragm, as well as action of the ligaments. Passanger is the fetus itself and passage is the anatomical structures involved in expulsion of fetus during labour. Adolescent is a transition period with physical, emotional, and psyhological changes. In pregnant women aged less than 20 years, the uterus and pelvis have not fully developed with a consequence of dystocia. This study aimed to obtain the profile of dystocia among adolescent in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from Januari 2012 to December 2013. This was a descriptive retrospective study. The results showed that most dystocia among adolescent occured in age group >16 years, and the most frequent causes were the position of fetus in utero, the fetus itself, and the anatomical passage. The most frequent treatment was sectio caesaria. Dystocia rarely causes severe complications.Kata kunci: persalinan distosia, remajaAbstrak: Proses persalinan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: kekuatan mendorong janin keluar (power) yang meliputi his (kekuatan uterus), kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma dan ligamentum action. Faktor lainnya ialah faktor janin (passanger) dan faktor jalan lahir (passage). Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai oleh perubahan fisik, emosi, dan psikis. Pada ibu berumur kurang dari 20 tahun rahim dan panggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa yang berakibat kemungkinan terjadinya distosia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran persalinan distosia pada remaja di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2012 - Desember 2013 ditinjau dari umur ibu, paritas, etiologi, tindakan dan komplikasi. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persalinan distosia pada remaja umumnya terjadi pada usia >16 tahun dengan penyebab yang tersering ialah faktor letak, bentuk janin, dan faktor jalan lahir. Tindakan utama yang paling banyak dilakukan yaitu operasi seksio. Distosia jarang menimbulkan komplikasi yang berarti.Kata kunci: persalinan distosia, remaja
Gambaran status besi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dengan anemia yang menjalani hemodialisis reguler Silaban, Bryan J.; Sugeng, Cerelia; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14372

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a pathological condition with a variety of etiology, resulting in progressively decreased renal function which is often ended with kidney failure. Chronic kidney disease has a global prevalence of 800 per million of population and the incidence of end-stage renal disease ranges from 150 to 200 per million of population. Complications often occur at the end-stage renal disease inter alia anemia with a rate of 80-90%. This study was aimed to obtain the profile of stage-5 CKD patients with anemia and regular hemodialysis was performed on them. This was a descriptive-retrospective study using data of medical records at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital from January 2015 to October 2016. There were six observed variables as follows: age, gender, serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC), transferrin saturation, and ferritin. The results showed that of the 48 CKD patients with anemia, there were 24 males and 24 females. The majority were aged 60-69 years (33%) and had normal SI level in 30 patients (67%); decreased TIBC in 35 patients (75%); normal transferrin saturation in 26 patients (54%); and increased ferritin level in 38 patients (81%). Conclusion: Majority of the patients were 60-69 years old and had normal level of SI, decreased TIBC, normal transferrin saturation, and increased levels of ferritin. There was no difference in case number of both sexes.Keywords: serum iron, total iron binding capacity, transferrin saturation, ferritin Abstrak: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah suatu keadaan patologis dengan etiologi yang beragam, terjadi penurunan fungsi ginjal secara progresif, dan biasanya berakhir dengan gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia dengan prevalensi 800 per juta populasi dan insidensi end-stage renal disease (ESRD) 150-200 per juta populasi di dunia. Komplikasi sering terjadi pada PGK stadium akhir antara lain anemia dengan persentase mencapai 80-90%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil pasien PGK stadium 5 dengan anemia dan menjalani hemodialisis reglular. Jenis penelitian ialah deskriptif-retrospektif menggunakan data sekunder dari catatan rekam medik periode Januari 2015 – Oktober 2016 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan enam variabel penelitian, yaitu usia, jenis kelamin, serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC), saturasi transferin, dan feritin. Dari 48 data rekam medik pasien yang memenuhi kriteria inklusi ditemukan bahwa mayoritas pasien berumur 60-69 tahun (33%), laki-laki maupun perempuan berjumlah sama, mayoritas pasien memiliki kadar SI normal berjumlah 30 pasien (67%), kadar TIBC menurun berjumlah 35 pasien (75%), saturasi transferin normal berjumlah 26 pasien (54%), dan kadar feritin meningkat berjumlah 38 pasien (81%). Simpulan: Mayoritas pasien PGK stadium 5 yang menjalani hemodialisis reguler berusia 60-69 tahun, laki-laki dan perempuan berjumlah sama, serta memiliki kadar SI normal, penurunan TIBC, saturasi transferin normal, dan peningkatan kadar feritin. Kata kunci: serum iron, total iron binding capacity, saturasi transferin, feritin
PREVALENSI GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DAN DEPRESI PADA PASIEN STROKE DI IRINA F BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Hasra, Indha Wardhani P. L.; Munayang, Herdy; Kandou, Joice
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3616

Abstract

Abstrak: Stroke is a clinical syndrome caused by blood circulatory disorders from one part of the brain that creates a functional disorder of the brain like neurological deficits and nerve paralysis. Depression and cognitive impairment is a results of the occurence of stroke. This study aimed to reveal the prevalence of cognitive impairment and depression in stroke patients in the neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The sample is all stroke patient in neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado who fulfilled the inclusion criteria. The results showed that 32.4 % respondents are without cognitive impairment and 67.5 % with cognitive impairment. Of the cognitive impairment group there were 27% mild cognitive impairment, 40.5% moderate cognitive impairment and there was no patient with severe cognitive impairment. The results of depression status examination showed  24.3 %  without depression and 75.7 % with depression. Of the depression group there were 59.5% mild depression, 10.8% moderate depression, and  5.4 % severe depression. The study showed that 18 participants had cognitive impairment and depression. Conclusion: From 37 respondents, there were 7 respondents (19%) had only cognitive impaiment, 10 respondents (27%) had only depression and 18 respondents (49%)  with cognitive impaiment and depression.Keywords: cognitive impairment, depression, stroke   Abstrak: Stroke adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh adanya gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak yang menimbulkan gangguan fungsional otak berupa defisit neurologik atau kelumpuhan saraf. Depresi dan gangguan kognitif adalah salah satu akibat dari terjadinya stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan fungsi kognitif dan depresi pada pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado Penelitian ini menggunakan jenis penelitian “observasional” dengan desain “studi cross sectional”. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil pemeriksaan fungsi kognitif didapatkan 32,4 % normal, sedangkan yang mengalami gangguan fungsi kognitif 67,5 % dimana gangguan kognitif ringan 27 %, gangguan kognitif sedang 40,5 % dan tidak ada gangguan kognitif berat. Hasil pemeriksaan status depresi didapatkan 24,3 % normal, sedangkan yang mengalami depresi 75,7 % dimana depresi ringan 59,5 %, depresi sedang 10,8 %, dan depresi berat 5,4 %. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 18 orang dengan gangguan fungsi kognitif yang disertai dengan depresi. Kesimpulan: Dari 37 responden, didapatkan 7 orang (19%) yang hanya mengalami gangguan fungsi kognitif, 10 orang (27%) yang hanya mengalami depresi dan 18 orang (49%) dengan gangguan fungsi kognitif dan depresi.Kata kunci: gangguan fungsi kognitif, depresi, stroke

Page 30 of 108 | Total Record : 1074