cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Analisis Kejadian Abrasi Kornea pada Pasien dengan Trikiasis Akibat Entropion Savitri, I Dewa Ayu P.; Supit, Wenny P.; Tumewu, Sigmund I. E.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26875

Abstract

Abstract: Trichiasis is a condition of abnormal growth of eyelashes that results in scraping of the eyelashes on the corneal surface; therefore, ulceration or abrasion of the corneal can occur. One of the causes of trichiasis is entropion that can occur involutionally due to aging process. This study was aimed to obtain the correlation between incidence of corneal abrasion and trichiasis due to entropion. This was a prospective and analytical study. Subjects were elderly people at Panti Werdha Senja Cerah (nursing home) and elderly patients who visited the North Sulawesi Province Eye Hospital during September to November 2019. The result showed that there were 30 subjects with involutional entropion that reached the peak at interval of 75-79 years old. Elderly females were predominant as many as 20 people (67%). Corneal abrasion was found in 4 subjects (13%) with trichiasis due to entropion. The chi-square test of the correlation between trichiasis due to entropion and corneal abrasion obtain a p-value of 0.030 (p<0.05). In conclusion, there was a significant relationship between trichiasis due to entropion and the incidence of corneal abrasion.Keywords: corneal abrasion, trichiasis, entropion Abstrak: Trikiasis merupakan pertumbuhan abnormal dari bulu mata yang mengakibatkan penggesekan bulu mata pada kornea yang dapat mengakibatkan terjadinya ulserasi maupun abrasi kornea. Salah satu penyebab trikiasis ialah entropion, yang dapat terjadi secara involusional (senilis) akibat proses penuaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian abrasi kornea dan trikiasis akibat entropion. Penelitian ini dilakukan pada orang lanjut usia di Panti Werdha Senja Cerah Paniki dan pasien yang berkunjung di UPTD Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara periode September-November 2019. Jenis penelitian ialah analitik prospektif. Hasil penelitian mendapatkan 30 orang lanjut usia dengan entropion involusional disertai trikiasis. Insidensi entropion involusional mencapai puncaknya pada interval 75-79 tahun (26,27%) dan lebih banyak pada jenis kelamin perempuan (67%).. Kejadian abrasi kornea pada pasien dengan trikiasis akibat entropion sebanyak 4 orang (13%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara trikiasis akibat entropion dan terjadinya abrasi kornea mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,030 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara trikiasis akibat entropion dan terjadinya abrasi kornea.Kata kunci: abrasi kornea, trikiasis, entropion
PROFIL PENDERITA STROKE DENGAN HIPERTENSI DI BAGIAN RAWAT INAP NEUROLOGI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2013 – JUNI 2014 Senaen, Caroline G.; Kembuan, Mieke A. H. N; Tumewah, Rizal
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7484

Abstract

Abstract: Stroke is a disease of acute neurological deficits caused by brain blood vessel disorder that occurs suddenly and causes symptoms and signs that correspond to the affected brain regions. High blood pressure, also known as hypertension, is one of the major risk factors of hemorrhagic stroke and ischemic stroke. Hypertension can lead to rupture or narrowing of blood vessels of the brain. This study aimed to identify the profile of stroke patients with hypertension in inpatients of Neurology Department Prof. Dr R. D. Kandou Hospital Manado from July 2013 to June 2014. This was a descriptive retrospective study. In this study, there were 162 patients with stroke who met the inclusion criteria. There were 74 male patients and 88 female patients. Most patients were 55-65 years, had high school education, and were housewives. Most systolic blood pressures were at grade 3 and diastolic hypertension at grade 2. Based on types of stroke, most patients had ischemic stroke.Keywords: gender, age, education, occupation, blood pressure, type of strokeAbstrak: Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Tekanan darah tinggi atau yang dikenal dengan hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama, baik untuk stroke hemoragik maupun stroke iskemik. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun penyempitan pembuluh darah otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita stroke dengan hipertensi di Bagian Rawat Inap Neurologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2013 – Juni 2014. Penelitian ini menggunakan metode retrospektik deskriptif dengan 162 pasien stroke yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien stroke berjenis kelamin laki – laki sebanyak 74 dan perempuan 88 orang. Sebagian besar pasien stroke berusia 55 – 65 tahun, pendidikan SMA dan pekerjaan terbanyak ialah ibu rumah tangga. Berdasarkan tekanan sistolik, sebagian besar dengan hipertensi derajat 3 sedangkan berdasarkan tekanan diastolik yaitu hipertensi derajat 2. Berdasarkan jenis stroke terbanyak ialah stroke iskemik.Kata kunci: jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, tekanan darah, jenis stroke
Gambaran kualitas hidup pasien defek kalvaria pasca bedah di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode September 2014 - September 2015 Senduk, Kidzya C.; Oley, Maximillian Ch.; Pontoh, Victor
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.13878

Abstract

Abstract: Nowadays, traumatic brain injury is becoming a major global problem. Decompressive craniectomy can decrease the intracranial pressure, therefore, it can improve the patients’ life expectancy and quality of life. This study used questionnaires consisted of 33 questions related to life satisfaction, shapes of defects, and complaints were 8 patients with calvarial defect at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Respondents from September 2014 to Sepetember 2015. The results showed that most respondents were male (87.5%), aged 11-20 years (50%), and lived at Banjer (37.5%). Most patients (62%) had moderate GCS meanwhile the GOS of patients were well recovered (87.5%) and moderate disabilities (12.5%). The relationships between initial GCS and GOS of patients were as follows: mild GCS who recovered (37.5%), moderate GCS who recovered well (50%), and moderate disability (12.5%). Most patients (75%) had concave calvarial defects. Patients’ complaints were: tingling (12.5%), dizziness (25%), vertigo (12.5%), and did not feel comfortable with their apperance (25%); no complaints of mild or severe pain and seizures. Conclusion: In this study, the majority of patients with calvarial defects who underwent surgery at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado had good quality of life.Keywords: head injury, calvarial defect, quality of life Abstrak: Kerusakan otak traumatik merupakan masalah global utama. Kraniektomi dekompresi dapat digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial sehingga dapat meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini menggunakan kuesioner terdiri dari 33 pertanyaan yang berhubungan dengan kepuasan pasien mengenai kehidupan sehari-hari, dan juga beberapa pertanyaan tambahan untuk status lokalis seperti bentuk defek dan keluhan-keluhan yang dialami. Responden ialah 8 pasien dengan defek kalvaria di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode September 2014 sampai Sepetember 2015. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pasien dengan persentase tertinggi ialah jenis kelamin laki-laki (87,5%), usia 11-20 tahun (50%), dan alamat responden Banjer (37,5%), GCS sedang (62,5%), dan keadaan akhir pasien (GOS) pasien yang pulih dengan baik (87,5%). Hubungan antara skor awal GCS dan keadaan akhir pasien (GOS) pada pasien dengan GCS ringan yang pulih (37,5%), pasien dengan GCS sedang yang pulih dengan baik (50%) sedangkan dengan disabilitas sedang (12,5%). Menurut bentuk dari defek pasien yang terbanyak ialah defek cowong (75%). Keluhan yang ditemukan ialah: kesemutan (12,5%), pusing (25%), vertigo (12,5%), dan merasa malu dengan kondisi fisik sekarang (25%). Tidak ditemukan keluhan nyeri ringan atau berat, maupun kejang. Simpulan: Pada studi ini, sebagian besar pasien dengan defek kalvaria yang menjalani operasi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado memiliki kualitas hidup yang baik. Kata kunci: cedera kepala, defek kalvaria, kualitas hidup
HUBUNGAN SIRKUMSIS DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK SEKOLAH DASAR Batara, Algi Reafanny; Umboh, Adrian; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i3.3591

Abstract

Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan perkembangan bakteri) dalam saluran kemih yang meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuri bermakna yaitu ≥ 100.000 koloni / ml urin segar, infeksi ini sering di temukan pada anak dan merupakan penyebab kedua terbanyak mordibitas penyakit infeksi pada anak sesudah infeksi saluran napas. Sebelum usia 1 tahun, ISK lebih banyak terjadi pada anak laki-laki sedangkan setelahnya anak perempuan lebih dominan, rasio ini terus meningkat hingga di usia sekolah. Salah satu faktor penyebab ISK adalah  sirkumsisi, dimana anak laki-laki yang sudah disirkumsisi resiko ISK menurun dari 0,2 - 0,05% dari anak laki-laki yang tidak disirkumsisi. Anak laki-laki yang tidak di sirkumsisi, ISK terjadi karena daerah di bawah kulit prepusium sangat peka terhadap mikrolesi dan lingkungan yang lembab sehingga dapat memudahkan terjadinya infeksi. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini mengenai hubungan sirkumsisi dengan infeksi saluran kemih pada anak sekolah dasar Madrasah Ibtidayah yang menggunakan uji chi-square (x2) dan koefisien korelasi pada tingkat kemaknaan 95% (α0,05). Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara sirkumsisi dengan kejadian ISK pada anak sekolah dasar. Kata kunci: Sirkumsisi, Infeksi Saluran Kemih (ISK), Siswa     Abstract: Urinary Tract Infection (UTI) is an infection state (there is growth and development of bacteria) in the urinary tract which include in the kidney parenchyma to infection in the bladder with a significant amount of bacteria that is ≥ 105 colonies / ml of fresh urine, this infection is often found in children and is the second most common cause of infectious disease morbidity in children after respiratory infection. Before the age of 1 year, UTI is more common in boys, while girls are more dominant thereafter, this ratio continued to increase until at school age. One of the causes of UTI is circumcision, where the boys were already circumcised risk of  UTI decreased 0,2 to 0,05% of the boys who are not circumcised. The boys who are not circumcised, UTI occurs because the area under the foreskin is very sensitive to mikrolesi and humid environment so as to facilitate the infection. The type of study is observational analytic cross sectional design. The study about a circumcision relationship with Urinary Tract Infections (UTI) in primary school children Madrasah Ibtidayah with using chi-square test (x²) and the correlation coefficient at 95% significance level (α0,05). Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that there was no significant correlation between circumcisions with incidence of UTI in elementary school children. Keywords: Circumcision, Urinary Tract Infections (UTI), Students.
GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS XII SMA NEGERI 7 MANADO TERHADAP MIOPIA Lupa, Viany S. H.; Saerang, J. S. M.; Tongku, Yamin
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10979

Abstract

Abstract: Nearsightedness is a refractive disorder which is the rays enter the eye without accommodation and will be refrated in the front of retina. Nearsightedness is one of the causes of low vision in children. Eye health in school student is important in learning activities. Many students do not understand the importance of knowledge towards nearsightedness. Knowledge is a very important domain that will affect an action. This was a descriptive study. This study aimed to determine the description of student grade XII knowledges at SMA Negeri 7 Manado towards nearsightedness. The results showed that the level of knowledge of student grade XII of SMA Negeri 7 Manado towards nearsightedness was still considered enough with a percentage of 56%.Keywords: knowledge, student, nearsightedness Abstrak: Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar masuk ke bola mata tanpa akomodasi akan dibiaskan di depan retina. Miopia adalah salah satu penyebab penurunan ketajaman penglihatan pada anak-anak. Penglihatan yang baik sangat penting dalam proses belajar mengajar. Banyak pelajar yang belum memahami pentingnya pengetahuan tentang miopia. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Jenis penelitian ini deksriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa kelas XII SMA Negeri 7 Manado terhadap miopia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa kelas XII SMA Negeri 7 Manado terhahap miopia masih dianggap cukup dengan persentase sebesar 56%. Kata kunci: pengetahuan, siswa, miopia
Retinoblastoma Rares, Laya
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.12729

Abstract

Abstract: Retinoblastoma is a malignant intraocular neuroblastic tumor that occurs at childhood, and has a hereditary property in around 40% of cases. The most common symptoms are leukocoria (50-62%), strabismus (20%), spontaneous hyphema, and amaurotic cat’ eye. Diagnosis is based on X ray examination, USG, CT Scan or MRI, and LDH, however, genetic counseling is also needed. The classification system commonly used for intraocular retinoblastoma is Reese-Ellsworth classification. Retinoblastoma therapy has to be performed at the time of confirmed diagnosis. However, there is a controversy whether surgey or chemotherapy will come first because both have their own advantages and disadvantages. The prognosis of children with localized intraocular retinoblastoma treated with modern therapy is good and the survival rate is more than 95%. Around 90% of children can survive more than 5 years after the diagnosis of retinoblastoma Keywords: retinoblastoma, leukocoria, strabismus, holistic management Abstrak: Retinoblastoma merupakan tumor neuroblastik intraokuler ganas, terjadi pada masa anak-anak, bersifat herditer (40%). Gejala yang paling sering adalah leukokoria (50-62%), strabismus (20%), hifema spontan, dan amaurotic cat’ eye. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan X foto, USG, CT Scan atau MRI, dan LDH. Konseling genetik juga diperlukan dalam pemeriksaan pasien retinoblastoma. Sistem klasifikasi yang sering digunakan pada retinoblastoma intraokular ialah klasifikasi Reese-Ellsworth. Terapi retinoblastoma harus dilakukan saat anak terdiagnosis. Yang menjadi kontroversi apakah dilakukan pembedahan atau kemoterapi terlebih dahulu karena masing-masing tindakan ini mempunyai efek menguntungkan dan merugikan. Anak-anak dengan retinoblastoma intraokular terlokalisasi yang mendapatkan terapi modern mempunyai prognosis yang baik untuk bertahan hidup dengan persentase melebihi 95%. Sekitar 90% anak-anak dapat bertahan lebih dari 5 tahun setelah terdiagnosis retinoblastoma.Kata kunci: retinoblastoma, leukokoria, strabismus, penanganan holistik
PENGARUH GAYA HIDUP MEROKOK TERHADAP KEJADIAN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) DI RSU BETHESDA TOMOHON Kalalo, Geiby F.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3294

Abstract

Abstrak : Kebiasaan dan rutinitas yang merugikan memiliki kekuatan untuk merusak kesehatan seseorang seperti kebiasaan merokok yang merupakan contoh kebiasaan untuk memudahkan seseorang terkena penyakit kardiovaskuler.2 Sekitar 1,5 juta kasus infark miokard terjadi setiap tahun di Amerika Serikat dengan tingkat kejadian tahunan adalah sekitar 600 kasus per 100.000 orang.3 Data di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menunjukkan IMA pada usia muda pada tahun 2008 adalah 108 kasus dari total 1065 kasus IMA.4 Menurut prediksi WHO, pada tahun 2020 penyakit jantung dan stroke yang saat ini menjadi penyebab kematian utama di negara maju nantinya menjadi penyebab kematian pertama di dunia.2 Tujuan : Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pengaruh gaya hidup merokok terhadap kejadian infark miokard akut di RSU Bethesda Tomohon. Metode : Metode penelitian yang dilakukan bersifat case control retrospektif. Hasil : Karakteristik responden berdasarkan umur didapatkan bahwa pada kelompok kasus sebagian responden dengan gaya hidup merokok berat pada umur ≥ 50 tahun sebesar 56%, sedangkan pada kelompok kasus sebagian responden dengan gaya hidup merokok berat pada umur 30-50 tahun sebesar 36%. Untuk karakteristik berdasarkan lamanya merokok didapatkan bahwa sebagian responden yang lamanya merokok ≥ 10 tahun memiliki persentase lebih besar dibandingkan dengan lamanya merokok 5-10 tahun dimana pada kalompok kasus sebesar 76% dan kelompok kontrol sebesar 84%. Gaya hidup merokok berat yang tidak terjadi IMA dan yang terjadi IMA memiliki persentase responden lebih besar dibandingkan dengan gaya hidup merokok sedang, dimana gaya hidup merokok berat yang tidak terjadi IMA sebesar 28% sebanyak 14 responden dan yang terjadi IMA sebesar 30% sebanyak 15 responden. Kesimpulan :. Kejadian IMA pada kelompok kasus dan kelompok kontrol sebagian besar terjadi pada gaya hidup merokok berat. Pengaruh gaya hidup merokok berat dengan kejadian IMA, memiliki signifikan pengaruh yang sangat kuat.Kata Kunci : Infark Miokard Akut, Gaya Hidup MerokokAbstract : Habits and routinity that gives bad effects have the potential to ruin a persons health, just like the smoking habit as the example that make someone has cardiovascular disease. There’s about 1,5 million myocardial infarction happened every year in USA with annual incidence of 600 cases for each 100.000 person. The database of Harapan Kita Heart Center shows that IMA cases of the young people on 2008 is 108 cases from the total 1065 IMA cases. According to who prediction on 2020, heart disease and stroke which was the main cause of deaths on developed countries will be the world’s main cause of deaths too. Objective: The purpose of this research is to identify the influence of smoking habits to IMA disease at Bethesda Hospital Tomohon. Methods: The methods on this research is case control retrospective. Result: The characteristic of the respondents according to their age, most of them has severe smoking habits at the age of ≥ 50, the percentage is 56%. While the others with severe smoking habits at the age of 30-50 is at 36%. For the characteristic according to how long they’ve been smoking, ≥ 10 years has more percentage than those who have been smoking for 5-10 years, where on the case group at 76% and the control group at 84%. Severe smoking habits who didn’t had IMA and those who had IMA, had higher respondents percentage than those with medium smoking habits, with those with severe smoking habits and don’t had IMA is 14 respondents at 28% and those who had IMA is 15 respondents at 30%. Conclusion: IMA cases on case group and control group mostly happened on those with severe smoking habits. Smoking habits has a very strong and significant influence to IMA cases.Key Words: Acute Myocardial Infarction, Smoking Habits
GAMBARAN FOTO TORAKS PADA EFUSI PLEURA DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI FK UNSRAT RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2014 – OKTOBER 2015 Lantu, Melinda G.; Loho, Elvie; Ali, Ramli Hadji
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10966

Abstract

Abstract: Pleural effusion is defined as excessive accumulation of fluid in the pleural cavity. This condition occurs worldwide and becomes a major problem in developing country including Indonesia. This was a retrospective descriptive study. Samples were the whole data of chest X-ray patients available in the medical record with a radiological diagnosis of pleural effusion. The results showed that there were 77 samples aged 45-59 years old. Males (65%) were more frequent than females (35%). Based on the location of effusion, 31 patients with right pleural effusion, 25 patients with left pleural effusion, and 21 patients with bilateral pleural effusion. Conclusion: Pleural effusion was mostly found among people aged above 20 years old. Chest X-ray was an important investigation t confirm the diagnosis of pleural effusion. Keywords: pleural effusion, chest x-ray Abstrak: Efusi pleura didefinisikan sebagai penimbunan cairan berlebihan dalam rongga pleura. Penyakit ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Jenis penelitian ini retrospekif deskriptif. Sampel penelitian ialah seluruh data rekam medik foto thoraks pada pasien dengan diagnosis radiologik efusi pleura. Hasil penelitian mendapatkan 77 sampel, terbanyak pada kelompok umur 45-59 tahun. Efusi pleura lebih banyak ditemukan pada laki-laki (65%) dibandingkan perempuan (35%). Berdasarkan lokasi efusi, 31 sampel dengan lokasi efusi pleura dekstra, 25 pasien dengan lokasi efusi pleura sinistra, dan 21 pasien dengan lokasi efusi pleura bilateral. Simpulan: Efusi pleura sering didapatkan pada pasien di atas 20 tahun. Pemeriksaan foto toraks merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura.Kata kunci: efusi pleura, foto toraks
Gambaran kelainan katup jantung pada pasien infark miokard di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015-31 Desember 2015 Tumbel, Mawarni I.S.; Panda, Agnes L.; Pangemanan, Janry
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14715

Abstract

Abstract: Myocardial infarction is divided into STEMI (ST elevation myocardial infarction) and NSTEMI (Non ST elevation myocardial Infarction). According to location, infarction consists of inferior, lateral, and aortal. Inferior infarction often causes mitral valve and aortal abnormality due to papillary muscles rupture. This study was aimed to obtain the description of heart valve abnormality in myocardial infarction patients at Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado from January 2015 to December 2015. This was a retrospective study with a cross sectional design. The results showed that there were 20 cases (90.9%) of NSTEMI and 2 cases (9.1%) of STEMI. The most location of infarction was inferior accounted for 10 cases (45.5%). The most heart valve abnormalities were combination abnormality accounted for 16 cases (72.7%); most were mild MR (5 cases; 55.6%), mild PR (5 cases; 55.6%), and mild TR (3 cases; 33.3%) in NSTEMI cases dominated by male cases (54.5%) and age group 56-66 years (40.9%), and combination of 4 major risk factors (59.1%).Keywords: description, heart valve abnormality, myocardial infarction Abstrak: Infark miokard terbagi menjadi STEMI (ST elevation myocardial infarction) dan NSTEMI (Non ST elevation myocardial infarction). Infark berdasarkan lokasi terdiri atas inferior, lateral, anterior dan aorta. Infark inferior sering menyebabkan kelainan katup mitral dan aorta akibat ruptur muskulus papilaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelainan katup jantung pada pasien infark miokard di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015 - 31 Desember 2015. Jenis penelitian ialah retrospektif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 20 kasus (90,9%) NSTEMI dan 2 kasus (9,1%) STEMI. Lokasi infark terbanyak yaitu inferior sebanyak 10 kasus (45,5%), didapati kelainan katup terbanyak yaitu kombinasi sebanyak 16 kasus (72,7%), dengan derajat terbanyak yaitu MR mild 5 kasus (55,6%), PR mild 5 kasus (55,6%) dan TR mild sebanyak 3 kasus (33,3%) pada pasien NSTEMI, yang didominasi oleh pasien laki-laki (54,5%), usia 56 – 66 tahun (40,9%), yang memiliki 4 faktor resiko mayor (59,1%). Kata kunci: gambaran, kelainan katup, infark miokard.
GAMBARAN ENZIM HATI PADA DEWASA MUDA DENGAN OBESITAS SENTRAL Pondaag, Friedly; Moeis, Emma; Waleleng, Bradley
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5101

Abstract

Absract: Obesity can be defined as excess body fat. Obesity is most commonly caused by a combination of excessive food energy intake. Central obesity has been characterized by waist circumference using the Asia Pasific criteria in males ≥90 cm and ≥80 cm in females. This study aims to look the description of liver enzymes in central obesity in young adults age 18 to 21 years old. Samples were 30 persons with central obesity. Examination of samples taken in the levels of SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) and SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase) with normal values 5-40 IU/L for SGOT and 5-35 IU/L for SGPT. The results showed elevated levels of SGOT and SGPT in men, whereas in female respondents didn’t showed any elevation in SGOT and SGPT levels. Keywords: central obesity, SGOT, SGPT.   Abstrak: Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Obesitas disebabkan oleh pemasukan jumlah makanan yang lebih besar daripada pemakaiannya oleh tubuh sebagai energi. Obesitas sentral ditandai dengan lingkar perut (LP) berdasarkan kriteria Asia Pasifik pada laki-laki lingkar perut ≥90 cm dan perempuan lingkar perut ≥80 cm. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran enzim hati dengan obesitas sentral pada dewasa muda umur 18 sampai 21 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran enzim hati dengan obesitas sentral pada golongan umur 18 sampai 21 tahun. Sampel berjumlah 30 orang yang tergolong obesitas sentral. Pemeriksaan sampel yang dilakukan adalah kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Piruvic Transaminase) dengan nilai normal 5-40 IU/L untuk SGOT dan 5-35 IU/L untuk SGPT. Hasil yang didapat menunjukkan peningkatan kadar SGOT dan SGPT pada pria, sedangkan pada responden wanita tidak mengalami peningkatan kadar SGOT dan kadar SGPT Kata kunci: obesitas sentral, SGOT, SGPT.

Page 32 of 108 | Total Record : 1074