cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DAN LINGKUNGAN DENGAN DIARE PADA ANAK BALITA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TONDANO Soentpiet, Marlina G. O.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.10157

Abstract

Abstract: Diarrhea is still a health problem in the world which can be seen from the high rates of morbidity and mortality due to diarrhea in children worldwide. In patients with diarrhea, nutrients needed by the body are excreted along with the occurence of body dehydration. Therefore, when a child under five years has diarrhea oftenly, then his/her growth can not be optimal. This was an analytical observational study with a cross sectional approach, conducted in Tondano Watershed during November to December 2014. Subjects were 70 children under five years old. Data were collected by using questionnaires and then were analyzed with the chi-square test. The results showed that there was no correlation between sociodemographic factors (education, occupation, and ages of the mothers), sources of drinking water, and house floors with the occurence of diarhhea (P > 0.05). However, there was a correlation between excreta disposal sites and the occurence of diarrhea (P = 0.003). Conclusion: There was a correlation between excreta disposal site with diarrhea in Tondano watershed and there was no correlation between the level of education, parents’ occupation, maternal age, source of drinking water, and the type of floor house and diarrhea.Keywords: diarrhea, children under five years, sociodemographic factors, environmental factorsAbstrak: Diare masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Masalah tersebut terlihat dari tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat diare pada anak di seluruh dunia. Pada penderita diare, zat-zat makanan yang masih diperlukan tubuh terbuang bersamaan dengan dehidrasi. Oleh karena itu, bila anak balita sering mengalami diare, maka pertumbuhannya tidak akan berlangsung secara optimal. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang, dilakukan di Daerah Aliran Sungai Tondano selama bulan November-Desember 2014. Subyek penelitian sebanyak 70 orang anak. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan data dianalisis dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara faktor sosiodemografi yang meliputi tingkat pendidikan ibu (p=0,146), jenis pekerjaan ibu (p= 0,089), dan umur ibu (p=0,053). Untuk faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum (p=0,349) tidak berhubungan, jenis tempat pembuangan tinja (p= 0,003) berhubungan, dan jenis lantai rumah (p=0,264) tidak berhubungan. Simpulan: Terdapat hubungan antara tempat pembuangan tinja dengan diare di Daerah Aliran Sungai Tondano dan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan orang tua, usia ibu, sumber air minum dan jenis lantai rumah dengan diare.Kata kunci: diare, anak balita, faktor sosiodemografi, faktor lingkungan
Hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan keparahan infeksi virus dengue pada anak Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Watuna, Monica C.; Mantik, Max F.J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14483

Abstract

Abstract: The infection of dengue virus is transmitted through the vector bite of mosquito Stegomiya aegipty and Stegomiya albopictus, The most dominant in Indonesia is serotype DEN-3. There are several factors that cause the transmission of dengue virus infection, they are: agent factor, intermediary vector, host factor and environmental factor. Prevention is needed to avoid the occurrence of disease and severity of dengue virus infection. Prevention is related with host factor, that is knowledge, attitude, behavior and action taken and one of the factors that influence this is education level. The aim of this research is to find out the correlation between the education level of parents with the severity of dengue virus infection on children in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The method of this research is an analytic retrospective research with cross-sectional approach, the data was obtained by collecting data of medical records as secondary data. The data was analyzed by Gamma correlation test, obtained the value of p = 0.011 stating that there is a correlation between father's education level and severity of dengue virus infection. And also obtained the value of p = 0.002 stating that there is a correlation between mother's education level and severity of dengue virus infection.Keywords: education level, dengue virus infection, children. Abstrak: Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegipty dan Stegomiya albopictus, di Indonesia dengan serotype DEN-3 yang paling dominan. Terdapat beberapa faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue yaitu faktor agent, vektor perantara, faktor host dan faktor lingkungan. Pencegahan diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan keparahan infeksi virus dengue. Pencegahan berkaitan dengan faktor host yaitu pengetahuan, sikap, perilaku serta tindakan yang dilakukan dan salah satu faktor yang memengaruhi hal tersebut yaitu tingkat pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan keparahan infeksi virus dengue pada anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif dengan pendekatan potong lintang, data diperoleh dengan cara mengumpulkan data rekam medik sebagai data sekunder. Data dianalisis dengan uji korelasi Gamma, diperoleh nilai p = 0,011 yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah dan keparahan infeksi virus dengue. Dan diperoleh juga nilai p = 0,002 yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dan keparahan infeksi virus dengue. Kata kunci: tingkat pendidikan, infeksi virus dengue, anak
PROFIL PENDERITA LUKA BAKAR AKIBAT LISTRIK DI BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE AGUSTUS 2009  AGUSTUS 2012 Siahaan, Shinta D.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3747

Abstract

Abstract: Electrical burns are caused by direct contact electric with the body, and often wound more serious than what is visible on the surface. Electric current can cause injury in three ways: Cardiac arrest (cardiac arrest) due to electrical effects on the heart; damage to muscles, nerves, and tissues by electric current through the body; thermal burns due to contact with the power source. The purpose of this study was to determine the profile of patients with electrical burns on BLU RSU Prof. Dr. R. D. Manado Kandou for period August 2009-August 2012. Methods: This study used a retrospective descriptive study method by the medical record data on BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado August 2009-August 2012. Results: The total cases of electrical burns are 40 cases, with 15 cases on period of August 2009 to August 2010, 9 cases on period of August 2010 to August 2011, and on period August 2011 to August 2012 found are 16 cases. Most incidents occurred in the age of 25-44 years with more incident occurred to men. Seen from the work, most incidence is occupied by the employees construction workers. Based on the strength of electric current, the highest incidence in medium voltage (domestic installations), which indicates that the housekeeping installation is not good, using of low quality cable, no electrical installation checks on a regular basis, using of cable rollers with excessive load, and using incorrect electrical tools. All of those items increasing the incidence rate. Conclusion: The accident caused electricity easily happen to anyone. Most of those who work in place are susceptible to electrical currents. On illegal electricity usage may also increase the risk of electricity. In children which less supervision from their parents can also occur. These facts required tights attention from all parties to realize unsafe power consumption and attention to safety themselves.Keywords: Profiles, electrical burns, handling    Abstrak: Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan badan, dan sering lukanya lebih serius dari apa yang terlihat di permukaan. Arus listrik dapat menyebabkan cedera dalam tiga cara: Henti jantung (cardiac arrest) akibat  efek listrik pada jantung; kerusakan otot, saraf, dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh; luka bakar thermal akibat kontak dengan sumber listrik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penderita luka bakar akibat listrik di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2009–Agustus 2012. Metode: Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif melalui penelitian data rekam medik di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Agustus 2009–Agustus 2012. Hasil: Keseluruhan luka bakar listrik sebanyak 40 kasus, yaitu 15 kasus pada periode Agustus 2009 ‑ Agustus 2010, 9 kasus pada periode Agustus 2010 ‑ Agustus 2011, dan pada periode Agustus 2011 ‑ Agustus 2012 didapatkan sebanyak 16 kasus. Insiden terbanyak terjadi pada umur 25-44 tahun dengan insiden terjadi lebih banyak pada pria. Dilihat dari pekerjaan terbanyak, insiden terbanyak ditempati oleh para pekerja buruh bangunan. Berdasarkan kuat arus listrik, insiden terbanyak adalah voltase menengah (instalasi rumah tangga), yang menunjukkan bahwa instalasi rumah tangga yang tidak baik, penggunaan kabel kualitas rendah,  tidak adanya pengecekan instalasi listrik secara teratur, penggunaan kabel rol dengan beban berlebihan, serta penggunaan alat-alat listrik yang tidak benar, menyebabkan insiden meningkat. Kesimpulan: Kecelakaan akibat listrik mudah terjadi pada siapa saja. Kebanyakan bagi mereka yang bekerja ditempat yang rentan dengan arus listrik. Kemudian pada pemakaian listrik illegal juga dapat meningkatkan resiko terjadinya listrik.Pada anak-anak yang kurang pengawasan dari orang tuanya pun dapat terjadi. Meningkatnya angka kejadian ini mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk menyadari pemakaian listrik yang tidak aman dan memperhatikan keselamatan diri sendiri.Kata kunci: Profil, luka bakar listrik, penanganan.
Gambaran Pengetahuan Masyarakat yang Bekerja sebagai Nelayan tentang Pterigium di Desa Kapitu Kabupaten Minahasa Selatan Somba, Sary M.; Saerang, Josefien S. M.; Tongku, Yamin
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.21992

Abstract

Abstract: Pterygium is a wing-shaped tissue growth containing blood vessels and tissues originated from conjunctiva that can spread to the cornea. Pterygium can cause astig-matism and other disorders such as chronic irritation, recurrent inflammation, double vision, impaired eye movement, and even blindness if it spreads the the central part of cornea. This study was aimed to obtain the knowledge about pterygium among fishermen in Kapitu village South Minahasa. This was a descriptive study. Respondents in this study were 50 fishermen; all were males. The results showed that 75.4% of the respondents had good knowledge about pterygium. Conclusion: Most fishermen in Kapitu village South Minahasa had good knowledge about pterygium.Keywords: knowledge about pterygium, fishermen Abstrak: Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan berbentuk sayap yang mengandung pembuluh darah dan jaringan yang berasal dari konjungtiva dan dapat menyebar ke kornea. Pterigium dapat menyebabkan terjadinya astigmatisme serta menimbulkan gangguan lain seperti iritasi kronik, inflamasi rekuren, penglihatan ganda, serta gangguan pergerakan bola mata bahkan kebutaan bila telah mencapai bagian sentral kornea. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan tentang pterigium di Desa Kapitu, Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian ialah deskriptif. Responden penelitian ialah masyarakat yang bekerja sebagai nelayan sebanyak 50 orang laki-laki. Hasil penelitian mendapatkan bahwa 75,4% responden memiliki pengetahuan baik mengenai pterigium. Simpulan: Sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai nelayan di Desa Kapitu Kabupaten Minahasa Selatan memiliki pengetahuan baik tentang pterigium.Kata kunci: pengetahuan mengenai pterigium, masyarakat nelayan
GAMBARAN CT SCAN PADA PENDERITA PERDARAHAN SUBDURAL DI RSUP PROF. Dr. R. D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011- OKTOBER 2014 Lonto, Aaron K. U.; Loho, Elvie; Mamesah, Yovana P. M.; Timban, Joan F. J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6836

Abstract

Abstract: Subdural hemorrhage (SDH) is the most common form of intracranial lesions, approximately one-third of the incidence of severe head injury. However, it has been reported that about one-fifth of patients suffering subdural hemorrhage and other intracranial hemorrhage died undiagnosed.3 Examination computed tomography (CT) scan is the primary modality of choice when there is a suspected post-traumatic lesions. The purpose of research to know and study the SDH CT scan image. This study was a retrospective study conducted in the month of September to December 2014. The data were obtained through medical records and found 30 cases included in the study criteria. Overall the results, SDH more in male patients 27 people (90%). The largest age group in children (<12 years) 11 people (37%). Location SDH highest in the temporal 9 cases (30%).Keywords: subdural hemorhage, computed tomography scanAbstrak: Perdarahan subdural (PSD) adalah bentuk yang paling sering terjadi pada lesi intrakranial, kira-kira sepertiga dari kejadian cedera kepala berat. Namun, telah dilaporkan bahwa sekitar satu perlima dari penderita-penderita perdarahan subdural dan perdarahan intrakranial lainnya meninggal tidak terdiagnosis.3 Pemeriksaan computed tomography (CT) scan adalah modalitas pilihan utama bila diduga terdapat suatu lesi pasca trauma. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mempelajari gambaran CT scan PSD. Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang dilakukan pada bulan September-Desember 2014. Data diperoleh melalui rekam medik dan didapatkan 30 kasus masuk dalam kriteria penelitian. Keseluruhan hasil penelitian didapatkan PSD lebih banyak pada penderita laki-laki 27 orang (90%). Golongan umur terbanyak pada anak-anak (<12 tahun) 11 orang (37%). Lokasi PSD terbanyak pada temporal 9 kasus (30%).Kata kunci: perdarahan subdural, computed tomography scan
Identifikasi tinggi badan melalui pengukuran panjang lengan bawah Korah, Tychara; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12114

Abstract

Abstract: Forensic identification is the effort aimed to determine a person's identity post mortem. Height is needed in the identification process. There are formulas that that can be used in determining the height by measuring the length of certain bones. This study aimed to determine whether there was a significant relationship between height and length of forearm which is still wrapped by muscles and skin. This was a quantitative analytical study. Respondents were 50 alive individuals consisted of males and females who lived in Manado. The Pearson Correlation test showed a significant relationship between height and length of the forearm with a value of r=0.897. The more the length of the forearm, the more the height. Keywords: height, forearm length Abstrak: Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik menentukan identitas seseorang untuk kepentingan visum et repertum (VeR). Tinggi badan merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam proses identifikasi. Terdapat formula/rumus yang dikemukakan beberapa ahli untuk menentukan tinggi badan melalui pengukuran panjang beberapa tulang tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara tinggi badan dengan panjang lengan bawah yang masih terbungkus oleh jaringan otot dan kulit dalam keadaan utuh. jenis penelitian ini kuantitatif analitik yang dilakukan terhadap laki-laki dan perempuan yang masih hidup khususnya yang ada di Manado. Jumlah keseluruhan responden sebanyak 50 orang. Hasil uji Pearson correlation memperlihatkan adanya hubungan bermakna antara tinggi badan dan panjang lengan bawah, dengan nilai r = 0,897. Semakin bertambahnya panjang lengan bawah, akan diikuti dengan semakin bertambahnya tinggi badan.Kata kunci: tinggi badan, panjang lengan bawah
HUBUNGAN APGAR SKOR DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN SEPSIS NEONATORUM Carolus, Winny; Rompis, Johnny; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3271

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is still a major problem in the field of neonatal care and services. The incidence of sepsis in developing countries is high at 1.8 to 18 per 1000 live births with a mortality rate of 12-68%. This happens because many risk factors for infection in the perinatal period that can not be prevented and addressed. Some of the risk factors associated with sepsis are Apgar scores and birth weight. The purpose of this study was to determine the relationship between Apgar scores and birth weight with sepsis. The research method used is analytic observational prospective study conducted in the department of Prof.Dr.RD Kandou Neonati Subdivision Manado during November 2012 to January 2013. Research subjects are babies with sepsis and not sepsis. The result showed 50 infants suspected sepsis. 40 infants with proven sepsis and 10 infant sepsis. By using the Fisher Exact test and multiple logistic regression analysis found (p = 0.999> α = 0.05 (R) = 0.377). The conclusion of this study is that the data obtained from infants with neonatal sepsis have low Apgar scores and low birth weight with the highest percentage. With a statistical test there was no correlation between Apgar scores and birth weight with neonatal sepsis. Keywords: neonatal sepsis, Apgar scores, birth weight   Abstrak: Sepsis neonatorum masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan dan perawatan neonatus. Angka kejadian sepsis di negara berkembang cukup tinggi yaitu 1,8-18 per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian sebesar 12-68%. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi. Beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan sepsis yaitu Apgar skor dan berat badan lahir. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan antara apgar skor dan berat badan lahir dengan sepsis. Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik observasional dengan studi prospektif yang dilakukan di Sub Bagian Neonati RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado selama bulan November 2012 sampai Januari 2013. Subjek penelitian ialah bayi dengan terbukti sepsis dan tidak sepsis. Hasil penelitian didapatkan 50 bayi tersangka sepsis. 40 bayi dengan terbukti  sepsis dan 10 bayi tidak sepsis. Dengan menggunakan uji Fisher Exact dan analisis regresi logistik multipel didapatkan  (p = 0,999 > α = 0,05  (R) = 0,377). Kesimpulan penelitian ini ialah dari data  diperoleh bayi dengan sepsis neonatorum memiliki apgar skor rendah dan berat badan lahir rendah dengan persentase terbanyak. Dengan uji statistik tidak terdapat hubungan antara Apgar skor dan berat badan lahir dengan sepsis neonatorum. Kata kunci : sepsis neonatorum, Apgar skor, berat badan lahir
GAMBARAN CT SCAN TUMOR PARU DI BAGIAN / SMF RADIOLOGI FK UNSRAT RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE OKTOBER 2014-SEPTEMBER 2015 Tandi, Meidianty; Tubagus, Vonny N.; Simanjuntak, Martin L.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10947

Abstract

Abstract: Lung tumor has become one of the most common tumors in the world. Lung tumor is the growth of abnormal lumps on lung tissue that could be benign or malignant, derived from malignant tumors of primary epithelial tissue in respiratory tract especially bronchus that could invade nearby tissue structures, and potentially spread throughout the body by bloodstream and lymphatic system. Approximately 1.59 billion people worldwide died from lung malignancy resulting from the increasing of smoking habit which is one of the risk factors of lung tumor. CT scan is the chosen modality on diagnosing the suspicion of lung tumor and also to evaluate the tumor itself. The aim of this study is to identify the CT scan images on patients with lung tumor. Retrospective descriptive study was conducted on November 2015. The data was obtained from thorax CT scan examination request forms and eventually 41 cases of lung tumor were found eligible according to inclusion criteria. Based on radiologic diagnosis there were 41 cases (39,4%) of lung tumor. The patients were mostly male with 35 patients (85.4%), the largest age group is middle aged adults with 30 patients (73.2%), and the most common site of tumor was the right lung with 22 cases (53.7%), moreover the most complication of lung tumor is pleural effusion with 13 cases (31.7%). Conclusion: Lung tumor is one of malignancies that become risk factor of deaths worldwide.Keywords: lung tumor, computed tomography scan. Abstrak: Tumor paru menjadi salah satu tumor yang paling banyak ditemui di dunia. Tumor paru adalah tumbuhnya benjolan abnormal pada jaringan paru yang dapat bersifat jinak atau ganas, serta berasal dari tumor ganas epitel primer saluran nafas terutama bronkus yang dapat menginvasi struktur jaringan disekitarnya dan berpotensi menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan sistem limfatik. Terdapat sekitar 1,59 miliar orang di dunia meninggal dunia akibat keganasan pada paru-paru karena tingginya kebiasaan merokok yang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya tumor pada paru. CT scan menjadi modalitas terpilih untuk menegakkan diagnosis kecurigaan tumor paru dan untuk mengevaluasi tumor paru tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran CT scan pada penderita tumor paru dan menggunakan jenis penelitian deskriptif retropektif yang dilakukan pada bulan November 2015. Data diperoleh melalui lembaran permintaan pemeriksaan CT scan toraks dan didapatkan sebanyak 41 kasus tumor paru yang masuk dalam kriteria inklusi.Terdapat 41 kasus (39,4 %) tumor paru berdasarkan diagnosis radiologis. Penderita terbanyak adalah laki-laki 35 orang (85,4%), golongan umur terbanyak adalah umur 41-65 tahun yaitu 30 orang (73,2%), lokasi tumor paru terbanyak pada pulmo dextra yaitu 22 kasus (53,7%) dan komplikasi terbanyak adalah tumor paru dengan efusi pleura saja sebanyak 13 kasus (31,7%). Simpulan: Tumor paru merupakan salah satu penyakit keganasan yang menjadi faktor resiko kematian di seluruh dunia.Kata kunci: tumor paru, computed tomography scan.
Kesehatan hidung di Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado Lalita, Lyon; Palandeng, Ora I.; Pelealu, Olivia C.P.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14591

Abstract

Abstract: Physiologically, nose has several functions such as a filter and the first-line defence as well as protectve organ against the negative impacts of the environment. The nose is also useful to clean the air from dust, bacteria, and viruses through a mucociliary transport mechanism. Generally, the important role of smell has lack of public attention until eventually disorders or injuries that can disturb the ability and physiological function of the nose occur. This was an observational descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 30 students in Sekolah Polisi Negara (State police school) Karombasan Manado; all were males. Nose health status of every respondent was determined by examination of the nasal cavity, conchae, mucous layer, secretion, septum, and post nasal drips. The results showed that from the 30 respondents, there was edema at the right conchae and left conchae each as many as 6.7%. Examination of septum showed that septum deviation of the right nose. Examination of nasal cavity, mucosa layer, secretion and post nasal drips overall resulted in normal category. Conclusion: Nose health status at Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado was categorized as good.Keywords: nose health, physical examination of nose Abstrak: Secara fisiologis hidung mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai penyaring dan pertahanan lini pertama serta pelindung tubuh terpenting terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Hidung juga berguna membersihkan udara inspirasi dari debu, bakteri dan virus melalui mekanisme transpor mukosiliar. Umumnya, peran penting dari indera penghiduan kurang mendapat perhatian khusus dari masyarakat sendiri hingga terjadi gangguan atau cidera yang dapat menghilangkan kemampuan dan fungsi fisiologis dari organ hidung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkangambaran kesehatan hidung di Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah 30 orang mahasiswa Sekolah Polisi Negara Karombasan Manado, seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Status kesehatan hidung setiap responden dinilai dengan memeriksa kavum nasi, konka, mukosa, sekret, septum, dan post nasal drip. Hasil pemeriksaan menunjukkan dari 30 mahasiswa, terdapat edema pada konka sebelah kanan dan kiri masing-masing sebesar 6,7%. Hasil pemeriksaan septum, ditemukan deviasi septum pada hidung kanan sebesar 3,3%. Pada pemeriksaan kavum nasi, mukosa, sekret, dan post nasal drips didapatkan hasil yang normal. Simpulan: Secara keseluruhan kesehatan hidung di Sekolah Polisi Negara Karombasan tergolong baik. Kata kunci: kesehatan hidung, pemeriksaan fisik hidung
PERSALINAN DENGAN LUARAN MAKROSOMIA DI BLU RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU Kusumawati, Lidya; Tendean, Hermie M. M.; Suparman, Eddy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5023

Abstract

Abstrak: Berdasarkan penelitian WHO tahun 2007, di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa per tahun dan bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Angka kematian maternal dan neonatal di Indonesia Tahun 2009 masih tinggi yaitu 226/100.000 kelahiran hidup dan 26/1000 kelahiran hidup. Faktor langsung penyebab tingginya AKI adalah perdarahan, terutama perdarahan post partum. Selain itu adalah keracunan kehamilan, infeksi dan partus lama/macet. Makrosomia adalah berat badan lahir ≥ 4000 gram. Terdapat resiko komplikasi dari bayi berat lahir berlebih atau makrosomia, baik dialami oleh ibu atau bayi itu sendiri. Resiko komplikasi ibu saat melahirkan antara lain perdarahan, infeksi, sectio sesarea dan preklamsi. Sendangkan resiko yang mengancam bayi sewaktu dilahirkan adalah mengalami distosia dan kematian perinatal. Tujuan: Melihat insiden bayi lahir dengan makrosomia mempunyai resiko cukup tinggi yang mungkin terjadi pada ibu maupun janin, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi persalinan dengan makrosomia. Metode penelitian: Penelitian ini bersifat Deskriptif retrospektif. Hasil: Kasus bayi makrosomia di BLU Prof. Dr. R. D. Kandou periode 1 Januari – 31 Desember 2012 didapatkan 204 kasus dari 4347 persalinan. Seksio sesarea dilakukan pada pasien dengan luaran bayi makrosomia pada tahun 2012 sebanyak 132 kasus (64.7%). Kejadian bayi makrosomia terbanyak pada usia ibu 30-34 Tahun dengan jumlah 56 pasien (27.5%). Pasien terbanyak dengan pendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 141 pasien (69.1%).Sebanyak 124 pasien (60.8%) melakukan lebih dari 4 kali pemeriksaan antenatal. Kelahiran bayi makrosomia dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 120 bayi (64.7%). Bayi makrosomia di dominasi dengan berat badan lahir 4000-4250 gram yaitu sebanyak 131 bayi (64.22%). Kata kunci: Distribusi makrosomia, jenis persalinan, faktor resiko

Page 31 of 108 | Total Record : 1074