cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Gambaran Neuritis Optik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2015-2017 Kondengis, Holy V. A.; Tumewu, Sigmund I. E.; Manoppo, Rillya D. P.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.26926

Abstract

Abstract: Optic neuritis is a condition where inflammation occurs in the optic nerve. This disease is accompanied by sudden vision decrease that can be temporary or even permanent if not treated well. This study was aimed to obtain the profile of optic neuritis at Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from year 2015 to 2017. This was a retrospective and descriptive study using patients’ medical records from year 2015 to 2017. There were 24 optic neuritis patients involved in this study; males were predominant as many as 13 patients (54%). Optic neuritis were more common at age interval of 26-45 years as many as 11 patients (46%). Based on occupation, housewifery had the highest percentage (25%). Most cases of optic neuritis could not be classified in this study as many as 14 patients (58%). In conclusion, optic neuritis was more common in males, age interval 26-45 years. Based on its type, most optic neuritis cases could not be classified.Keywords: optic neuritis Abstrak: Neuritis optik merupakan kondisi dimana terjadi inflamasi pada saraf optik. Penyakit ini disertai dengan penurunan penglihatan secara tiba-tiba yang dapat bersifat sementara atau bahkan sampai permanen jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran neuritis optik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pada tahun 2015 - 2017. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 24 pasien neuritis optik pada tahun 2015-2017 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak ditemukan pada laki-laki sebanyak 13 pasien (54%) sedangkan untuk usia ditemukan pada interval usia 26-45 tahun sebanyak 11 pasien (46%). Berdaasarkan pekerjaan, neuritis optik terbanyak didapatkan pada ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 6 pasien (25%). Untuk jenis neuritis optik umumnya didapatkan yang tidak diklasifikasi jenisnya sebanyak 14 pasien (58%). Simpulan penelitian ini ialah neuritis optik lebih banyak didapatkan pada laki-laki, dengan rentang usia 26-45 tahun, jenis neuritis optik yang tidak diklasifikasi, dan lebih didominasi jenis pekerjaan IRT.Kata kunci: neuritis optik
Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado Simarmata, Inrike Y.S.; Mantik, Max F.J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18569

Abstract

Abstract: Undernutrition problem is still widespread in developing countries, including Indonesia. On the other hand, overnutrition which is the nutritional problem in developed country, is beginning to flourish in the developing countries. The nutrinitonal imbalances might be caused by inappropriate amount of sleep due to inhibition of appetite regulation and changes in hormone production. Some of the nutrients that affect sleep pattern are macronutrients and micronutrients such as vitamin B, calcium, magnesium, and iron. This study was aimed to find out the correlation between nutritional status and sleep disorder. This was an observational analytical survey study with a cross sectional design. This study was conducted at elementary schools at Tikala, Manado using purposive sampling method. Weight and height of the respondents were measured to obtain the nutritional status. Parents were asked to fill the SDSC questionnaire to obtain the sleep disorder status. Of 249 (100%) respondents, 1 respondent (0.4%) categorized as malnutrition; 44 respondents (17,7%) categorized as undernutrition; 129 respondents (52.8%) categorized as normal; 34 respondents (13.7%) categorized as overweight; and 41 respondents (16.5%) categorized as obese. There were 156 respondents (62.7%) had sleep disorder meanwhile 93 respondents (37.3%) had no sleep disorder. The Pearson correlation test showed no significant correlation between nutritional status and sleep disorder (P>0,05). Conclusion: There was no signicant correlation between nutritional status and sleep disorder.Keywords: sleep disturbance, SDSC questionnaire, nutritional status Abstrak: Masalah gizi kurang masih tersebar luas di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia namun masalah gizi lebih yang merupakan masalah gizi di negara maju mulai terlihat juga di negara-negara berkembang. Ketidakseimbangan gizi dapat disebabkan tidak sesuainya jumlah tidur dikarenakan dihambatnya regulasi nafsu makan dan perubahan produksi hormon. Beberapa nutrisi yang dikaitkan memengaruhi tidur ialah makronutrien dan mikronutrien seperti vitamin B, kalsium, magnesium, dan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur. Jenis penelitian survei analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan di Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado menggunakan purposive sampling. Dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui status gizi dan pengisian kuesioner SDSC oleh orang tua untuk mengetahui status gangguan tidur. Dari 249 (100%) responden, 1 anak (0,4%) masuk dalam kategori gizi buruk, 44 anak (17,7%) masuk kategori gizi kurang, 129 anak (51,8%) masuk dalam kategori gizi normal, 34 anak (13,7%) masuk kategori overweight, dan 41 anak (16,5%) masuk kategori obesitas. Sebanyak 156 anak (62,7%) mengalami gangguan tidur sedangkan 93 anak (37,3%) tanpa gangguan tidur. Uji korelasi Pearson tidak mendapatkan hubungan bermakna antara status gizi dan gangguan tidur (P >0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan gangguan tidur.Kata kunci: status gizi, gangguan tidur, kuesioner SDCS
Hubungan antara Waktu Tindakan Intubasi dengan Outcome Pasien Stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado: Kajian terhadap Glasgow Coma Scale, Ventilator Associated Pneumonia, Length of Stay, dan Angka Kematian Poluan, Timothy M.; Lalenoh, Diana C. H.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.22126

Abstract

Abstract: Stroke patients with decreased consciousness, airway disorders, hypoxia, apnea or therapeutic initiation of hyperventilation must be intubated. The delay in intubation time in stroke patients with a deteriorating general condition is very dangerous because it is related to higher mortality within the first 24 to 48 hours and will affect the length of stay (LOS). One of the indications for intubation in stroke patients is the decrease in consciousness, namely the Glasgow Coma Scale (GCS) score <9. Albeit, intubation and mechanical ventilation can cause a person 6 to 21 times more likely to develop pneumonia, commonly referred to as ventilator associated pneumonia (VAP). This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado and was aimed to obtain the correlation between time of intubation and stroke patient’s outcome based on GCS, VAP, LOS, and mortality. The results showed that there was no relationship between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and improvement of GCS (0%); between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and the occurence of VAP (P=0.698); and between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and LOS (r=0.265; P=0.054); as well as between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and mortality in the first two days after intubation (P=0.313).Keywords: stroke, time of intubation, outcome. Abstrak: Pasien stroke dengan penurunan kesadaran, gangguan jalan napas, hipoksia, apnea atau inisiasi terapetik hiperventilasi harus diintubasi. Penundaan waktu tindakan intubasi pada pasien stroke dengan keadaan umum yang memburuk sangat berisiko karena berkaitan dengan mortalitas dalam waktu 24-48 jam pertama dan akan memengaruhi length of stay (LOS). Indikasi dilakukannya intubasi terhadap pasien stroke salah satunya ialah penurunan kesadaran yang dinilai dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) <9. Intubasi dan ventilasi mekanik dapat menyebabkan seseorang 6 sampai 21 kali lipat cenderung terkena pneumonia (ventilator associated pneumonia/VAP). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara waktu tindakan intubasi dengan outcome pasien stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan menggunakan kajian terhadap GCS, VAP, LOS, dan angka kematian. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara waktu tindakan intubasi <48 jam atau ≥48 jam setelah serangan stroke dengan perbaikan GCS (0%); dengan kejadian VAP (P=0,698); dengan LOS (r=0,265; P=0,054); dan dengan angka kematian pada 2 hari pertama setelah diintubasi (P=0,313).Kata kunci: stroke, waktu tindakan intubasi, outcome
Gambaran Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Klinik Perioperatif Terintegrasi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Datu, Muliana E.; Kumaat, Lucky T.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26783

Abstract

Abstract: Satisfaction is closely related with expected service and reality of the service available at the hospital. Satisfaction will be achieved if the performance is in line with the expectation of the patient. This study was aimed to obtain an overview of patient satisfaction towards the service provided by the Integrated Perioperative Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive study using questionnaire. Respondents were patients/families who received services at the clinic. The results showed a total of 100 respondents involved in this study, consisting of 30 females (30%) and 70 males (70%). Most respondents aged early to late adulthood numbering as many as 46 respondents (46%). The majority of respondents numbering 44 respondents (44%) had high school education level. Based on the analysis, high calculation results were obtained categorized as very good or very satisfied. In conclusion, the level of patient satisfaction towards the service provided by the Integrated Perioperative Clinic of Prof. R. D. Kandou Central Hospital based on the quality of service scale measuring direct evidence (tangibles), reliability, comprehension (responsiveness), assurance, and empathy was very high. It means that patients are very satisfied with the services provided by the clinic.Keywords: patient satisfaction, quality of service, perioperative clinic Abstrak: Kepuasan sangat berkaitan dengan pelayanan yang diharapkan dan kenyataan pelayanan yang telah diberikan di rumah sakit. Kepuasan akan terpenuhi bila pelayanan yang diberikan dirasakan telah sesuai dengan harapan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan klinik perioperatif terintegrasi di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan menggunakan kuesio-ner. Responden penelitian ialah pasien yang mendapatkan pelayanan di klinik perioperatif. Hasil penelitian mendapatkan total 100 responden yang terdiri dari 30 orang perempuan (30%) dan 70 orang laki-laki (70%). Responden berusia dewasa awal dan dewasa akhir yang terbanyak yaitu 46 orang (46%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA sebanyak 44 orang (44%). Hasil analisis mendapatkan hasil perhitungan yang tinggi dan masuk dalam kategori sangat baik atau sangat puas. Simpulan penelitian ini ialah tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan klinik perioperatif terintegrasi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado berdasarkan skala kualitas pelayanan yaitu bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliability), daya tangkap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy) sangat tinggi yang berarti pasien merasa sangat puas atas pelayanan yang diberikan oleh klinik perioperatif terintegrasi.Kata kunci: kepuasan pasien, kualitas pelayanan, klinik perioperatif
Pola Luka pada Korban Meninggal akibat Kekerasan Tumpul yang Diautopsi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari-Desember 2014 Enma, Zari; Kristanto, Erwin; Siwu, James F.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.19582

Abstract

Abstract: This study was aimed to determine the injury patterns of victims died due to blunt violence and were autopsied at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January – December 2014. This was a descriptive and retrospective study using medical record data of Forensic and Medicolegal Department, Medical Faculty of Sam Ratulangi University/Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period from January 2014 to December 2014. The results showed that during that period there were 13 deaths due to blunt violence that met the criteria. There were twelve male and and one female victims. Further studies with longer periods of time involving other hospitals around Manado are needed.Keywords: patterns of wound, blunt trauma, dead victim Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola luka pada korban meninggal akibat kekerasan tumpul yang diautopsi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014. Jenis penelitian ialah deskriptif dan retrospektif dengan menggunakan data rekam medik Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Medikolegal FK Unsrat- RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado selama periode Januari 2014 sampai dengan Desember 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode tersebut terdapat 13 korban yang meninggal akibat kekerasan tumpul yang memenuhi kriteria. Terdapat 12 korban berjenis kelamin laki-laki dan satu korban berjenis kelamin perempuan. Disarankan penelitian lebih lanjut dengan periode pendlitian yang lebih panjang dengan melibatkan rumah sakit lainnya di sekitar Manado.Kata kunci: pola luka, trauma tumpul, korban mati
Gambaran Anemia pada Subjek Penyakit Ginjal Kronik Stadium 4 dan 5 di Poliklinik Ginjal-Hipertensi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Tamsil, Yordhan; Moeis, Emma Sy.; Wantania, Frans
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27097

Abstract

Abstract: Anemia is a complication of chronic kidney disease (CKD) that often occurs. Moreover, it can occur earlier than other complications of CKD in almost all patients with late stage kidney disease. This study was aimed to obtain the profile of anemia in subjects with stage 4 and 5 of chronic kidney disease. This was a retrospective and descriptive study using medical records of patients with CKD associated with anemia for two years. The results showed that of 428 CKD patients, 131 suffered from anemia (30.60%). The majority of patients were female (54.19%), age range 60-69 years (44.27%), non-dialysis stage 5 of CKD patients (74.04%), had sufficient iron status (79.38%). However, 15,26% of the 131 patients got blood transfusion therapy. In conclusion, the majority of CKD patients were stage 5 ND, female, age range of 60-69 years, had sufficient iron status, and were not treated with blood transfusion.Keywords: chronic kidney disease, anemia Abstrak: Anemia merupakan komplikasi penyakit ginjal kronik (PGK) yang sering terjadi, bahkan dapat terjadi lebih awal dibandingkan komplikasi PGK lainnya dan hampir pada semua pasien penyakit ginjal tahap akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran anemia pada subyek penyakit ginjal kronik stadium 4 dan 5 di Poliklinik Ginjal-Hipertensi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah metode deskriptif retroskpektif dengan mengunakan data rekam medik pasien PGK dengan anemia selama dua tahun. Hasil penelitian memperlihatkan dari 428 pasien PGK didapatkan 131 pasien dengan anemia pada PGK (30,60%). Mayoritas pasien ialah jenis kelamin perempuan (54,19%), usia 60-69 tahun (44,27%), dan PGK derajat 5 non-dialisis (74,04%), memiliki status besi cukup (79,38%). Terdapat 15,26% dari pasien yang mendapatkan terapi transfusi darah. Simpulan penelitian ini ialah pasien terbanyak dengan derajat 5 ND, jenis kelamin perempuan, rentang usia 60-69 tahun, dengan status besi cukup, dan tidak mendapat terapi transfusi darah.Kata kunci: penyakit ginjal kronik, anemia
Insidensi Kista Duktus Tiroglosus di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2014 - Desember 2016 Kinontoa, Meidina; Lumintang, Nico; Lengkong, Andreissanto C.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.18712

Abstract

Abstract: Thyroglossal duct cyst is the most common asymptomatic congenital mass found in the neck region. It is more commonly occurs in pediatric patients but not uncommon in adult patients. According to epidemiologic data, there is no difference in predilection among sexes. Diagnosis of thyroglossal duct cyst is ascertained by anamnesis, physical examination, and ancillary examination. Treatment of thyroglossal duct cyst is surgery. This study was aimed to establish the incidence of thyroglossal duct cysts at the Surgery Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January 2014 - December 2016 based on age, gender, surgical treatment, as well as the location of thyroglossal duct cysts. This was a descriptive retrospective study using all thyroglossal duct cyst medical records at the Surgery Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period of January 2014-December 2016. The results showed that the highest incidence of thyroglossal duct cyst was in 2014 (37%), and in the age group of 6-11 years old. Male patients were more common than females. Meanwhile, the most common locations of this cyst were suprahyoid and subhyoid (25%) and the most common surgical procedure used was modified Sistrunk (88%). Conclusion: Thyroglossal duct cyst was more common in age group of 6-11 years, males, suprahyoid and subhyoid locations, and treated with modified Sistrunk surgeryKeywords: thyroglossal duct cyst Abstrak: Kista duktus tiroglosus merupakan massa kongenital asimtomatik yang paling sering ditemukan di daerah leher. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak tetapi juga tidak jarang ditemukan pada orang dewasa. Secara epidemiologi tidak ada perbedaan predileksi jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Diagnosis kista duktus tiroglosus ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan dari kista duktus tiroglosus adalah tindakan pembedahan. Penelitian ini bertujuan unuk mengetahui insidensi kista duktus tiroglosus di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014-Desember 2016, berdasarkan tahun, usia, jenis kelamin, tindakan pembedahan, serta letak kista duktus tiroglosus. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan semua data rekam medik pasien kista duktus tiroglosus di Bagian Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014-Desember 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insidensi kista duktus tiroglosus selama periode Januari 2014-Desember 2016 tertinggi pada tahun 2014 (37%) dan pada kelompok usia 6-11 tahun (37%). Jumlah pasien laki-laki ditemukan lebih banyak daripada perempuan. Letak kista tersering ditemukan di suprahioid dan subhioid (25%) dan tindakan pembedahan yang tersering dilakukan ialah modifikasi Sistrunk (88%). Simpulan: Kista tiroglosus paling sering ditemukan pada kelompok usia 6-11 tahun, jenis kelamin laki-laki, dengan letak kista suprahiod dan subhiod, serta tindakan pembedahan modifikasi Sistrunk.Kata kunci: kista duktus tiroglosus
Gambaran Hasil Pemeriksaan Laringoskopi Fiber Optik pada Pasien Rawat Inap di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Periode 2014 -2017 Monintja, Yosua K. G.; Mengko, Steward K.; Pelealu, Olivia C. P.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.22452

Abstract

Abstract: Flexible fiber-optic laryngoscopy is one of the most common tool to identify abnormalities in larynx and its surrounding structures, biopsy, or to find abnormal tissues, such as polyps on the larynx. One of the advantages of this tool is the presence of a flexible camera that can be manipulated precisely so that it can show the whole vocal cord movement. In addition, the endoscope used in this procedure is made of thin and flexible fiber optic cable, therefore, the patient only experiences slight discomfort when the laryngoscope is inserted that does not require a long time. This study was aimed to describe the results of fiber-optic laryngoscopy (FOL) in hospitalized patients admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from 2014 to 2017. This was a descriptive retrospective study with a cross sectional design. Based on medical records, respondents were all inpatients who had the results of FOL examination at the Department of ENT-Head and Neck Surgery Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. From 11 samples, the most common pathological features were arytenoid edema (35.71%) and hyperemic (28.58%), with dysphonia (80%) as the most frequent indication for FOL. Conclusion: The most frequent indication of FOL was dysphonia and the most common pathological abnormalities found were edema and hyperemic of arytenoid.Keywords: fiber optic laryngoscopy (FOL) Abstrak: Flexible fiber-optic laryngoscopy ialah pemeriksaan yang paling umum untuk mengetahui kelainan laring dan sekitarnya, biopsi, atau melihat jaringan abnormal seperti polip pada bagian laring. Salah satu keuntungan dari alat ini ialah kamera fleksibel yang dapat dimanipulasi secara tepat sehingga dapat menunjukkan gerakan pita suara secara penuh. Selain itu, endoskopi yang digunakan dalam prosedur ini terbuat dari kabel fiber optik yang tipis dan fleksibel, pasien hanya mengalami sedikit tidak nyaman saat alat dimasukkan dan tidak memerlukan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan fiber-optic laryngoscopy (FOL) pada pasien rawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari tahun 2014 hingga 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Responden ialah seluruh pasien rawat inap yang memiliki hasil pemeriksaan FOL yang tercantum dalam rekam medik di KSM THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 11 sampel didapatkan gambaran patologik yang paling sering ialah aritenoid yang edema (35,71%) dan hiperemis (28,58%) dengan disfonia (80%) sebagai indikasi paling sering untuk pemeriksaan. Simpulan: Pada pemeriksaan FOL, indikasi tersering ialah disfonia dan gambaran patologik tersering didapatkan ialah edema dan hiperemis aritenoid.Kata kunci: laringoskopi fiber optic (FOL)
Perubahan Status Gizi pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut Selama Terapi Rompies, Ronal; Amelia, Shelvy P.; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.28290

Abstract

Abstract: Nutritional status of children with acute lymphoblastic leukemia (ALL) can be altered by either chemotherapy or the leukemia itself. This study was aimed to evaluate the nutritional status alteration of ALL survivors who were treated at Estella Pediatric Cancer Care Manado. This was a cohort retrospective study involving survivors of ALL treated at Estella Pediatric Cancer Care Manado from January 2006 to December 2013. Data were collected from medical records, including body weight and height upon admission, end of induction, and at the beginning of maintenance as well as at the end of treatment. Nutritional status was assesed according to WHO 2006 and CDC 2000 growth charts. Data were analyzed using sign tests. The results showed that there were 31 ALL survivors consisted of 18 males and 13 females. Seventeen children were categorized as standard risk and 14 as high risk. A significant nutritional alteration was accrued during treatment, mainly in the induction phase (p<0.05). These consisted of 1 child who had declined nutritional status, 15 children had no change of nutritional status, and 15 children had increased nutritional status. In conclusion, there is a significant alteration of nutritional status during ALL chemotherapy.Keywords: treatment of ALL, nutritional status Abstrak: Status gizi pada anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) dapat mengalami perubahan oleh karena kemoterapi atau penyakit leukemia itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan status gizi pada survivor LLA yang telah mendapat terapi di Pusat Kanker Anak Estella Manado. Jenis penelitian ialah kohort-retrospektif pada survivor LLA yang telah mendapatkan terapi di Pusat Kanker Anak Estella Manado dari bulan Januari 2006 sampai Desember 2013. Data dikumpulkan dari rekam medis, termasuk berat badan dan tinggi badan saat masuk rumah sakit, akhir fase induksi, saat awal pada fase maintenance, dan pada akhir dari terapi. Status gizi dinilai berdasarkan kurva WHO 2006 dan CDC 2000. Data kemudian dianalisis menggunakan test sign. Hasil penelitian mendapatkan 31 anak survivor LLA, terdiri dari 18 laki-laki dan 13 perempuan. Terdapat 17 anak yang masuk dalam kategori risiko standar dan 14 anak masuk dalam kategori risiko tinggi. Perubahan status gizi secara bermakna terjadi selama terapi, terutama pada fase induksi (p<0,05), yaitu pada akhir terapi didapatkan 1 anak dengan penurunan status gizi, 15 anak tanpa perubahan status gizi, dan 15 anak dengan peningkatan status gizi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perubahan yang bermakna pada status gizi selama pemberian kemoterapi LLA.Kata kunci: terapi pada LLA, status gizi
Perbandingan Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus Berdasarkan Formula Cockroft-Gault dengan Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus Berdasarkan Formula Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration pada Subyek Penyakit Ginjal Kronik Non-Dialisis Periode Januari – Desember 2017 Kaitang, Fricilia Y.; Moeis, Emma S.; Wongkar, Maarthen C. P.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23541

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is one of the health problems worldwide. Evaluation of kidney function could be done by measuring and calculating glomerular filtration rate (GFR). The direct measurement of GFR using exogenous or endogenous substance is difficult to be performed and inconvenience, therefore, the estimation of GFR (eGRF) is more preferable. The eGRF is used for assessing the grades of kidney diseases and their underlying mechanisms. Meanwhile, determination of eGRF is based on the formula of Cockroft-Gault (eGRFCG) and the formula of Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (eGRFCKD-EPI).. This study was aimed to evaluate the difference between the eGRFCG and eGRFCKD-EPI among non-dialysis CKD patients. The results showed that there was a confirmity of 79.2% between the two formulas. The gamma test obtained an r of 0.873 (P<0.01) for the two formulas. Conclusion: There was a confirmity of 79.2% between the eGFR formula of Cockroft-Gault and the eGFR formula of Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration among non-dialysis CKD patients.Keywords: CKD, eGFR CG, eGFR CKDEPI Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Penilaian fungsi ginjal dapat dilakukan dengan cara pengukuran dan perhitungan laju filtrasi glomerulus (LFG). Pengukuran LFG secara langsung dengan substansi eksogen atau endogen pada pelaksanaannya sulit dan tidak praktis sehingga saat ini digunakan perhitungan estimasi LFG (eLFG). Estimasi LFG digunakan untuk menilai stadium gangguan ginjal dan perjalanan penyakit ginjal. Penentuan estimasi LFG berdasarkan rumus formula eLFG Cockroft-Gault (eLFGCG) dan formula eLFG dari Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (eLFGCKD-EPI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan eLFG berdasarkan eLFG CG dengan eLFG CKDEPI pada PGK non-diaisis (PGK ND). Hasil penelitian mendapatkan adanya kesesuaian dari kedua formula eLFG sebesar 79,2 %. Hasil uji Gamma mendapatkan hasil kesesuaian eLFG Cockroft-Gault dengan eLFG CKDEPI dengan r= 0,873 (P<0,01). Simpulan: Terdapat kesesuaian sebesar 79,2% dari hasil pemeriksan eLFG berdasarkan formula eLFG Cockroft-Gault dengan formula eLFG CKDEPI pada penderita PGK non dialisis.Kata kunci: PGK, eLFG CG, eLFG CKDEPI

Page 56 of 108 | Total Record : 1074