cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Perubahan status gizi pada anak dengan leukemia limfoblastik akut selama pengobatan Wolley, Nikmatiah G.A.; Gunawan, Stefanus .; Warouw, Sarah M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11693

Abstract

Abstract: Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common malignancy diagnosed in children. Study of malnutrition prevalence in children with cancer is determined by nutritional status in the early diagnosis. This is important because it can affect patient’s progress before the treatment begins. This study aimed to determine the nutritional status alteration in children with ALL during treatment. This was a descriptive analytical study with a cohort-restrospective design in ALL patients during treatment at Pediatric Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during period January 2006 to August 2013. Data were obtained from medical records of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 31 respondents suffered from ALL at the age of 1 to 11 years old; males were more frquent than females. There were 17 respondents at standard risk while 14 respondents were at high risk. The results result of paired t-test showed that t-value < table value. Conclusion: There was a significant increase of nutritional status in children with acute lymphoblastic leukemia during treatment Keywords: acute lymphoblastic leukemia, standard risk, high risk, nutritional status Abstrak: Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) merupakan keganasan yang paling sering didiagnosis pada anak-anak. Studi prevalensi malnutrisi pada anak-anak dengan kanker ditentukan oleh status gizi pada awal diagnosis. Hal ini penting karena dapat berpengaruh pada perkembangan pasien sebelum pengobatan dimulai. Penelitina ini bertujuan untuk mengetahui perubahan status gizi pada anak dengan LLA selama pengobatan. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan metode studi kohort-retrospektif terhadap pasien LLA selama pengobatan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode Januari 2006 – Agustus 2013. Sumber data didapatkan dari rekam medik di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Didapatkan 31 sampel yang menderita LLA pada usia 1-11 tahun, laki-laki lebih banyak menderita LLA. Terdapat 17 sampel dengan risiko standar dan 14 sampel dengan risiko tinggi. Hasil analisis t-berpasangan menunjukan nilai t-hitung<nilai tabel. Simpulan: Terdapat peningkatan status gizi secara bermakna pada anak dengan leukemia limfoblastik akut selama pengobatan.Kata kunci: leukemia limfoblastik akut, risiko standar, risiko tinggi, status gizi
PERBANDINGAN GLUKOSURI PADA REMAJA OBES DENGAN YANG TIDAK OBES Lindo, Carrolina J. B.; Rompis, Johnny; Pateda, Vivekenanda
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6826

Abstract

Abstract:Glucosuria is the condition when glucose excreted into the urine. Supposedly urine does not contain glucose, because renal filtration will absorb glucose back into the blood circulation. One of the factors that could cause glucosuri is obesity. When plasma glucose level in obese adolescents still in normal range, it would not lead to the secretion of glucose in urine. Otherwise, if the plasma glucose levels are higher than normal, kidneys cannot be longer resist the renal threshold value for glucose (180 g/day) and there will be a partial excretion of glucose in urine.This study aimed to look the glucose urine level in children, obese and non-obese, at St. Rafael junior high school students Manado. This study was held on September to December 2014. This was a descriptive study with cross-sectional design. Samples were 100 teenagers that met the inclusion criteria who had nutritional status of obese and normal weight, and were willing to become respondents. The results showed that glucose in the urine of 100 samples wich divided into 50 samples of obese and 50 samples of non-obese were negative in both groups. Conclusion: There was no correlation between obesity and glucosuria in obese teenagers since their urine glucose levels did not reach the kidney treshold.Keywords: glucosuria , obesity , normal weight.Abstrak: Glukosuria adalah ekskresi glukosa ke dalam urin. Seharusnya dalamurin tidak mengandung glukosa, karena ginjal akan menyerap glukosa hasil filtrasi kembali ke dalam sirkulasi darah. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan glukosuri adalah obesitas. Padaremajadengan obesitas apabilakadar gula plasma masih dalam keadaan normal maka tidak akan menyebabkan terjadinya sekresi glukosa dalam urin. Sebaliknya, bila obesitas dengan kadar glukosa plasma lebih dari normal sehingga ginjal tidak bisa lagi menahan nilai ambang batas ginjal untuk glukosa (180 g/hari) maka akan terjadi eksresi sebagian glukosa melalui urin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah glukosa dalam urin pada anak remaja obes dan tidak obes pada siswa-siswi SLTP St.Rafael Manado. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Desember 2014. Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 100 orang sesuai dengan kriteria inklusi yaitu remaja, memiliki status gizi obesitas dan berat badan normal, dan bersedia menjadi responden. Hasil pemeriksaan glukosa dalam urin pada 100 sampel yang terbagi dalam 50 sampel obes dan 50 sampel tidak obes adalah negatif. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan glukosuria pada remaja obes yang belum mencapai ambang batas ginjal.Kata kunci: glukosuri, obesitas, berat badan normal.
GAMBARAN PENYAKIT PERLEMAKAN HATI NON-ALKOHOLIK PADA PASIEN HIPERTENSI YANG MEMPUNYAI SGPT MENINGKAT Rengkung, Nathania P.; Waleleng, Bradley J.; Palar, Stella
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7657

Abstract

Abstract: Non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a clinical pathologic condition that is signed by increasing of transaminase enzyme serum level and hepatic steatosis without any history of alcohol consuming. Essential hypertension is associated with the metabolic syndrome, insulin resistance and the development of fatty liver. This study aimed to obtain the description of NAFLD in hypertensive patients that had elevation of SGPT. This was a prospective study conducted in Renal Hypertension Clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from November 2014 until January 2015. The results showed that there were 31 hypertensive patients; 21 cases were diagnosed with NAFLD. Females were more frequent than males and the age group 51-60 years was the most frequent (38.1%). Mild fatty liver was found in 17 cases, moderate in 3 cases, and severe in 1 case. Conclusion: In this study, non alcoholic fatty liver disease in hypertensive patients affected females more than males in the age group of 51-60 years old. Mild fatty liver was the most common USG result among the patients.Keywords: non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), essential hypertension, USGAbstrak: Penyakit perlemakan hati non-alkoholik merupakan klinikopatologik yang ditandai oleh kenaikan kadar enzim transaminase serum dan steatosis hepatik tanpa adanya riwayat konsumsi alkohol. Hipertensi esensial diketahui terkait dengan sindrom metabolik, yang ditandai adanya resistensi insulin, dan perkembangan perlemakan hati (steatosis hati). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran NAFLD pada pasien hipertensi dengan SGPT meningkat. Penelitian ini menggunakan metode prospektif dan dilakukan terhadap pasien hipertensi di Poliklinik Ginjal Hipertensi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari bulan November 2014 - Januari 2015. Pada penelitian ini didapatkan 31 pasien hipertensi; 21 kasus pasien yang didiagnosis NAFLD. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 21 kasus NAFLD didapatkan pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki, dengan usia terbanyak 51-60 tahun (38,1%). Derajat perlemakan hati ringan ditemukan pada 17 kasus; derajat sedang 3 kasus; dan derajat berat 1 kasus. Simpulan: Penyakit perlemakan hati non-alkoholik pada pasien hipertensi banyak diderita oleh perempuan dengan kelompok umur 51-60 tahun. Derajat perlemakan hati ringan sebagai gambaran USG tersering pada pasien hipertensi.Kata kunci: non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), hipertensi esensial, USG
Angka kejadian afasia pada stroke di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015 Purnomo, Andrew M.; Sengkey, Lidwina S.; Damopolii, Christina A.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14346

Abstract

Abstract: Aphasia is a general term used to define a set of language disorder that occurs after brain damage commonly in the left hemisphere. The most underlying etiology of aphasia is cerebrovascular disease, stroke. Aphasia is present in 21-38% of patients with acute stroke and its impact is associated with short-term and long-term morbidity, high mortality rates, and limitations of the patients socialization. So as to raise awareness of disability caused by stroke, especially aphasia, it is necessary to know the incidence of aphasia in stroke patients in the Medical Rehabilitation Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in 2015. This was retrospective descriptive study with a cross sectional design using data from medical records. Of the 455 stroke patients, 60 (13,2%) were aphasic. The youngest age of aphasic patients was 30 years old and the oldest one was 85 years old. The incidence of aphasia was more common in the age above 60 years (40%), non hemorrhagic stroke (60%), and in patients with right hemiparesis (78,3%). However, there were 6 (10%) aphasic patients with left hemiparesis. Conclusion: In the Medical Rehabilitation Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in 2015, the incidence of aphasia was 13.2%. There was an increasing incidence of aphasia in each decade over the age of 30 years. No significant differences between the genders and types of stroke. Aphasia was also f ound in patients with left hemiparesis which signified the involvement of the right hemisphere.Keywords: aphasia, stroke, medical rehabilitation Abstrak: Afasia adalah istilah umum yang digunakan untuk mendefinisikan sekumpulan gangguan berbahasa yang terjadi setelah adanya kerusakan otak, yang sering mengenai hemisfer sebelah kiri. Etiologi yang paling banyak mendasari afasia ialah penyakit serebrovaskular, yaitu stroke. Afasia terdapat pada 21-38% pasien stroke akut dan dampaknya dikaitkan dengan morbiditas jangka pendek dan jangka panjang, tingginya angka mortalitas, dan keterbatasan pasien dalam sosialisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian afasia pada stroke di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado tahun 2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan data dari rekam medik. Hasil penelitian memperlihatkan dari 455 pasien stroke, 60 (13,2%) diantaranya mengalami afasia. Usia paling muda pasien dengan afasia ialah 30 tahun dan usia paling tua ialah 85 tahun. Angka kejadian afasia lebih banyak terjadi pada usia di atas 60 tahun (40%), stroke non hemoragik (60%), dan pasien dengan hemiparesis dekstra (78,3%). Terdapat 6 (10%) pasien afasia dengan hemiparesis sinistra. Simpulan:Angka kejadian afasia pada tahun 2015 ialah 13,2%. Adanya peningkatan angka kejadian afasia pada tiap dekade usia di atas 30 tahun. Tidak ada perbedaan bermakna antara jenis kelamin dan jenis stroke. Pasien dengan hemiparesis sinistra juga mengalami afasia yang menandakan keterlibatan hemisfer dekstra. Kata kunci: afasia, stroke, rehabilitasi medik
PROFIL KANDIDOSIS INTERTRIGINOSA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Wowor, Samuel Rian; Pandaleke, Herry E. J.; Kapantow, Marlyn Grace
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3607

Abstract

Abstract: Intertriginous Candidosis is a superficial mycoses affecting skin folds caused by yeast of the genus Candida, mostly Candida albicans. The purpose of this study was to evaluate the profile of intertriginous candidosis in Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period from January – December 2012. This study was conducted retrospectively on medical records of new patients diagnosed with intertriginous candidosis in Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during the period from January – December 2012. The result of this study showed that there were 37 patients (3.37%) with intertriginous candidosis among 1096 new patients, significantly higher in female (64.86%) than in male patients, highest rate recorded was within 45-64 age group (45.95%), most skin fold affected was groin (16.22%), and the most commonly used therapy was a combination of topical antifungal and oral antihistamine (29.74%). Keywords: superficial mycoses, intertriginous candidosis, retrospective study    Abstrak: Kandidosis Intertriginosa merupakan mikosis superfisialis yang terkena pada daerah lipatan kulit yang disebabkan oleh jamur dari genus Candida umumnya Candida albicans. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil kandidosis intertriginosa di poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dari rekam medik pasien baru dengan diagnosis kandidosis intertriginosa di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 37 pasien (3,37%) kandidosis intertriginosa dari 1096 pasien baru, lebih banyak ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki, kelompok umur terbanyak pada 45-64 tahun, lokasi lipatan kulit paling banyak terkena pada lipat paha, dan terapi yang paling banyak digunakan adalah antifungi topikal dan antihistamin. Kata Kunci: mikosis superfisialis, kandidosis intertriginosa, penelitian retrospektif
HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DAN PERKEMBANGAN BAYI DI POLI BAYI & TUMBUH KEMBANG RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Thezar, Dennis; Masloman, Nurhayati; Mandei, Jose M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11001

Abstract

Background: Around 10% of the world’s children have delayed development. Head circumference is used as one of the indicator to identify neurological impairment and to detect the cause of developmental delay. Yet, microcephaly or macrocephaly are not always indicated a delayed development on children. Objectives: To find out the overview of head circumference and child’s development in the Child Development Center of Kandou Public Hospital and to determine the relation between both of it. Methods: This study is an analytical cross-sectional study. Data were collected with head measurement and KPSP (Kuesioner praskrining perkembangan) to assess development in the Growth and Development Clinic of Kandou Public Hospital from November 2015 to January 2016. The data were analyzed using Fisher’s exact statistical test. Results: From 34 subjects who qualified the inclusion criteria: 50% of the subjects are male, most subjects were using the third month KPSP, there are 97.1% subjects with normal head circumference, 88.2% with normal development, and the study is not statistical significant with Fisher’s exact test (p = 0.882). Conclusions: There is no significant relation between head circumference and development. Most of the infants have normal head circumference and development.Keywords: Head circumference, development, KPSPLatar Belakang: Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan secara umum meliputi 10% anak-anak di seluruh dunia. Ukuran lingkar kepala adalah salah satu indikator yang umum diperiksa untuk mengidentifikasi kelainan neurologis dan menyingkirkan penyebab keterlambatan perkembangan. Namun, mikrosefali atau makrosefali belum tentu menandakan penyimpangan perkembangan pada anak. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran lingkar kepala dan perkembangan bayi di Poli Bayi & Tumbuh Kembang RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou serta hubungan antara keduanya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang. Data dikumpulkan dengan cara pengukuran lingkar kepala dan KPSP (Kuesioner praskrining perkembangan) untuk penilaian perkembangan di Poli Bayi & Tumbuh Kembang RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou dari November 2015 hingga Januari 2016. Analisa data menggunakan uji statistik Fisher’s exact. Hasil: Dari 34 subjek yang memenuhi kriteria inklusi: 50% berjenis kelamin laki-laki, terbanyak menggunakan KPSP 3 bulan, 97,1% dengan lingkar kepala normal, 88,2% dengan perkembangan normal, dan penelitian ini tidak signifikan secara statistik dengan uji Fisher’s exact (p = 0,882). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar kepala dan perkembangan. Sebagian besar bayi memiliki ukuran lingkar kepala dan perkembangan yang normal.Kata kunci: Lingkar kepala, perkembangan, KPSP
Gambaran USG pada Pasien Nodul Tiroid di Bagian/SMF Radiologi FK Unsrat RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Periode Juni 2016 - Mei 2017 Yonathan, . .; Tubagus, Vonny N.; Ali, Ramli H.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18256

Abstract

Abstract: Thyroid nodule is commonly found and can be caused by various types of disorders of the thyroid gland. In Indonesia, the statistics of thyroid disorders is still lacking. Ultrasonography (USG) is the standard modality in radiological diagnosis and evaluation of thyroid nodule. This study was aimed to determine the USG results of patients with thyroid nodules at Radiology Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a retrospective descriptive study. Data were obtained from neck USG request forms. There were 102 patients with radiological diagnosis of thyroid nodules out of 241 patients (42.3%) with neck USG, consisted of 79 females (77.5%) and 23 males (22.5%). The most common age groups were 40-49 years and 50-59 years, each of 28 patients (27.5%). Benign thyroid nodules were found in 88 patients (86.3%). The most common USG imaging was eggshell calcification found in 45 patients (44.1%). Conclusion: The majority of patients with thyroid nodules were females, age groups of 40-49 years and 50-59 years, had benign type nodules, and USG imaging as eggshell calcification.Keywords: thyroid nodules, ultrasonography Abstrak: Nodul tiroid merupakan kasus yang sering ditemukan dan dapat disebabkan oleh berbagai jenis gangguan pada kelenjar tiroid. Di Indonesia, data statistik nodul tiroid masih sangat kurang. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan modalitas radiologik standar dalam mendiagnosis dan mengevaluasi nodul tiroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran USG pada pasien dengan nodul tiroid di Bagian Radiologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik lembaran permintaan pemeriksaan USG leher. Hasil penelitian mendapatkan 102 dari 241 pasien yang dilakukan USG leher (42,3%) dengan diagnosis radiologik nodul tiroid. Terdapat 79 pasien perempuan (77,5%) dan 23 pasien laki-laki (22,5%). Kelompok usia tersering ialah 40-49 tahun dan 50-59 tahun, masing-masing 28 pasien (27,5%), Nodul tiroid paling banyak bersifat jinak (benigna) berjumlah 88 pasien (86,3%), dan gambaran USG nodul tiroid paling banyak ditemukan eggshell calcification pada 45 pasien (44,1%). Simpulan: Mayoritas pasien dengan diagnosis radiologik nodul tiroid berjenis kelamin perempuan, kelompok usia 40-49 tahun dan 50-59 tahun, nodul bersifat jenis dengan gambaran eggshell calcification.Kata kunci: nodul tiroid, ultrasonografi
PERBANDINGAN TEKANAN DARAH ANTARA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN PESISIR PANTAI Mandang, Queen; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6425

Abstract

Abstract: Blood pressure in children varies because there are many factors that influence. One is geographic factors. Based on data from the Health Research in 2007 found that the prevalence of hypertension is highest in coastal areas while the lowest prevalence of hypertension in the coastal area. Altitude and different sodium intake on mountain and coastal areas are assumed to affect the blood pressure. This study aimed to determine the difference in blood pressure between children who live in the mountains and in the coast. We used descriptive analytic method with cross sectional design, with 107 samples according to criteria of children aged 6-12 years with no family history of obesity and hypertension. Data were obtained by using questionnaire, measurement of weight and height (BMI) and blood pressure measurement using a sphygmomanometer and cuff child. The results showed 15.5% of children with high-normal systolic pressure and 17.4% of children with high diastolic pressure in the mountains. In coastal areas, found 28% of children with normal systolic pressure-high, 13% of children of normal-high diastolic pressure, and 5% of children of high diastolic pressure. These data were analyzed using Mann Whitney test, showing the results were not statistically significantly systolic (p = 0.815) diastolic (p = 0.221) so that H0 and H1 is rejected. Conclusion: There was no difference in blood pressure among children aged 6-12 years who live in the mountains and the coast.Keywords: child's blood pressure, mountains, coastal.Abstrak: Tekanan darah pada anak bervariasi karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya adalah faktor geografis. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 didapatkan prevalensi hipertensi tertinggi di wilayah pantai sedangkan prevalensi hipertensi terendah di wilayah pantai. Ketinggian lokasi dan asupan natrium yang berbeda pada daerah pegunungan dan pesisir pantai diasumsikan berpengaruh terhadap tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah antara anak yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Metode penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang, dengan 107 sampel sesuai kriteria anak umur 6-12 tahun tanpa obesitas dan riwayat keluarga hipertensi. Data diperoleh melalui kuesioner, pengukuran berat badan dan tinggi badan (IMT) dan pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer dan manset anak. Hasil penelitian menunjukkan 15,5% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi dan 17,4% anak dengan tekanan diastolik tinggi pada daerah pegunungan. Pada daerah pesisir pantai ditemukan 28% anak dengan tekanan sistolik normal-tinggi, 13% anak tekanan diastolik normal-tinggi, dan 5% anak tekanan diastolik tinggi. Data ini dianalisis menggunakan uji mann whitney, menunjukkan hasil secara statistik tidak bermakna sistolik (p=0,815) diastolik (p=0,221) sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Simpulan: Tidak ada perbedaan tekanan darah antara anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai.Kata kunci: tekanan darah anak, pegunungan, pantai.
SURVEI KESEHATAN TELINGA MASYARAKAT PESISIR PANTAI BAHU Gosal, Rian; Palandeng, Ora I.; Pelealu, Olivia
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8775

Abstract

Abstract: Ear is the part of human’s organs that gives important contribution in hearing and balance process. Ear absorbs 20% of information in daily life. The result of National Health Survey in 7 provinces in 1993-1996 showed that there was a high prevalence (16.8%) of morbidity on ear disturbance. Indonesia is an archipelago country since 70% of its area is sea. This study aimed to obtain the ear health profile of people that live along the Bahu beach. This was a descriptive observasional study with a cross sectional design. Samples were 31 people. Data were obtained from external meatus acusticus examination by ear-nose-throat specialists. The results showed that the most frequent was cerumen in 7 people in right and left ears. Perforation of tympanic membrane of right and left ears were found in 2 people. Conclusion: The ear health status of most people living along Bahu beach was good. However, perforation of tympanic membranes were still found in a small number.Keywords: ear health, ear examinationAbstrak: Telinga adalah organ tubuh yang berperan penting pada proses pendengaran dan keseimbangan. Telinga merupakan salah satu indra yang menyerap sebesar 20% informasi dari kehidupan sehari-hari. Hasil Survei Nasional Kesehatan di 7 provinsi tahun 1993-1996, prevalensi morbiditas telinga yang paling tinggi yaitu gangguan pendengaran sebesar 16,8%. Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan yang hampir 70% wilayahnya terdiri dari laut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data survei mengenai gambaran kesehatan telinga pada masyarakat pesisir pantai Bahu. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 31 orang. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan meatus austikus eksternus oleh dokter spesialis THT-KL. Hasil. penelitian memperlihatkan yang terbanyak ialah serumen pada 7 orang di telinga kanan dan telinga kiri. Pada pemeriksaan membran timpani ditemukan perforasi telinga kanan dan kiri sebanyak 2 orang. Simpulan: Status kesehatan telinga sebagian besar masyarakat pesisir pantai Bahu sudah baik. Walaupun demikian, perforasi membran timpani masih ditemukan pada sebagian kecil masyarakat.Kata kunci: kesehatan telinga, pemeriksaan telinga
Gambaran kadar asam urat pada pasien sindrom koroner akut di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2015 Syahfitri, Annisa; Joseph, Victor; Rampengan, Starry H.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14462

Abstract

Abstract: Acute coronary syndrome (ACS) is the term for symptoms due to disorder of blood flow inside the coronary arteries. ACS consists of unstable angina pectoris (UAP), non–ST-segment elevation myocardial infarction (NSTEMI), and ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI). One predisposition factor of ACS that is still debated is uric acid. Its role in cardiovascular diseases is assumed due to endothelial disruption caused by elevated serum uric acid. This study was aimed to obtain the profile of uric acid serum in ACS patients at Prof. Dr. R. D. Kandou hospital Manado from January to December 2015. This was a retrospective study with a descriptive observational method using medical record of Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that there were 97 patients with ACS, including 43 (44.33%) patients with NSTEMI, 43 (44.33%) patients with UAP, and 11 (11.34%) patients with STEMI. Males were more common than females. Most patient were aged 55-65 years old. Elevated serum uric acid was found in 52% of patients, generally in males and NSTEMI cases. More than half of the patients had history of elevated serum uric acid. The most risk factor in the cases were hypertension and smoking.Keywords: description, uric acid, acute coronary syndrome Abstrak: Sindrom koroner akut (SKA) merupakan sekelompok gejala akibat gangguan aliran darah pada arteri koroner. SKA terdiri dari unstable angina pectoris (UAP), infark miokard tanpa elevasi ST (NSTEMI), dan infark miokard dengan elevasi ST (STEMI). Salah satu faktor predisposisi SKA yang hingga kini masih diperdebatkan ialah asam urat. Diduga peran asam urat terhadap penyakit kardiovaskular terletak pada gangguan endotel pembuluh darah yang ditimbulkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar asam urat pada pasien SKA di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode Januari-Desember 2015. Jenis penelitian ialah retrospektif dengan metode observasional-deskriptif yang dilaksanakan di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 97 pasien SKA dengan data lengkap, diantaranya 43 kasus (44,33%) NSTEMI, 43 kasus (44,33%) UAP, dan 11 kasus (11,34%) STEMI. Pasien terbanyak terdapat pada laki-laki dan kelompok usia 55-65 tahun. Peningkatan kadar asam urat dijumpai pada 52% pasien, umumnya pada laki-laki dan kasus NSTEMI. Umumnya pasien juga memiliki riwayat asam urat. Faktor risiko terbanyak yang dimiliki ialah hipertensi dan merokok. Kata kunci: deskripsi, asam urat, sindrom koroner akut

Page 58 of 108 | Total Record : 1074