cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Pseudoaneurisma Arteri Brakialis Pasca Kateterisasi Laporan Kasus Polii, Natalia Ch.; Pangemanan, Janry A.; Panda, Agnes L.; Posangi, Ira
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23109

Abstract

Abstract: Post-catheterization PSA occurs at the site of arterial puncture followed by incomplete hemostasis. We reported a 63-year-old male visited the emergency department of Prof Dr. R. D. Kandou Hospital with chief complaints of swelling and severe pain on the right arm, occured 6 days prior to the ER visit. His right arm looked darker and felt colder than the counterpart, felt numb, and was hard to move due to pain. Three months ago, the patient had a history of percutaneous transluminal coronary angiography through brachial artery access. Examination of the right upper extremity revealed hematoma at brachial artery puncture site, edema at 1/3 distal of the brachial region, cold acral areas, strong right brachial artery pulses, yet small radial ones. Vascular Doppler examination showed a superficial hematoma above the brachial artery and a PSA pouch of 1.23 x 1.67 cm with a small neck (<0.5 cm). Colour Doppler displayed a “yin and yang” flow at pouch, while pulsed-wave Doppler showed a “to and fro” wave through the neck. Patient was diagnosed as iatrogenic brachial artery pseudoaneurysm and managed with ultrasound-guided compression technique followed by continuous compression with elastic bandage. This technique was selected due to the PSA size less than 3 cm yet symptomatic, small neck size (<1 cm), and no size progression. Patient discharged after the PSA pouch and neck shrinked. On 6 months follow-up, neither neck nor pseudoaneurysm pouch were found.Keywords: pseudoaneurysm, ultrasound-guided compression Abstrak: PSA pasca kateterisasi terjadi pada arteri yang dipungsi tetapi tidak terjadi hemostasis sempurna. Kami melaporkan seorang laki-laki berusia 63 tahun datang di Instalasi Rawat Darurat Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dengan keluhan utama bengkak dan nyeri hebat pada lengan kanan sejak 6 hari SMRS dan memberat pada satu hari terakhir. Tangan kanan tampak lebih gelap dibandingkan tangan kiri, teraba dingin, terasa kebas dan sulit digerakkan karena nyeri. Tiga bulan sebelumnya pasien dilakukan tindakan intervensi koroner perkutan. Pada pemeriksaan ekstremitas atas kanan tampak hematoma di daerah pungksi, edema setinggi 1/3 distal regio brachialis sampai ujung jari, akral teraba dingin, pulsasi arteri brakialis teraba kuat tetapi arteri radialis teraba kecil. Pemeriksaan Doppler vascular mendapatkan gambaran hematoma superfisial dari arteri brakialis dan tampak kantong PSA berukuran 1,23x1,67 cm dengan neck berukuran kecil (<0,5 cm) Pada colour Doppler didapatkan aliran pada kantong pseudoaneurisma seperti gambaran yin dan yang. Pada pulsed-wave Doppler di saluran PSA (neck) didapatkan gelombang “to and fro”. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pasien ini didiagnosis dengan PSA arteri brakialis iatrogenik (pasca kateterisasi). Penanganan dengan ultrasound-guided compression dan dilanjutkan dengan kompresi kontinu dengan bebat elastik. Pemilihan teknik kompresi ini berdasarkan pada ukuran kantong <3 cm namun bergejala, ukuran neck kecil <1cm serta tidak didapatkan pembesaran progresif. Pasien dipulangkan setelah kantong maupun neck PSA tampak mengecil, dan 6 bulan setelahnya tidak lagi terlihat neck maupun kantong PSA.Kata kunci: pseudoaneurisma, ultrasound-guided compression
Gambaran Waktu Tunggu Operasi Hip Replacement pada Pasien Manula dengan Patah Tulang Pinggul Periode November 2017-Desember 2018 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Thadius, Tio G. L.; Lengkong, Andreissanto C.; Wagiu, Angelica M. J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27136

Abstract

Abstract: Hip fracture often occurs over the age of 60 years and is more common in women due to postmenopausal osteoporosis. Timing of surgery is thought to play an important role regarding survival. Moreover, international clinical practice guidelines recommend surgical treatment of acute hip fracture within 24 to 48 hours after admission. Some researchers argue that early surgery can lead to an increased the risk of perioperative complications. This study was aimed to determine the incidence of hip fracture, the impact of timing of surgery on perioperative complications, and the mortality in elderly patients with hip fracture from November 2017 to December 2018 at Prof. Dr. R. .D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective and descriptive study using data of patient medical record. The results found 32 cases of hip fractures, and the highest incidence was in females. Most patients did not have any perioperative complications as many as 26 cases. Moreover, there was no patients who died due to the impact of timing of surgery. In conclusion, most hip fracture cases were female. There was a relationship between delayed time in surgery and perioperative complications, however, there was no relationship between delayed time in surgery and patient mortality.Keywords: hip fracture, delay time of surgery, complication, mortality Abstrak: Patah tulang pinggul sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada perempuan yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pascamenopause. Waktu tunggu operasi dianggap memiliki peran yang penting dalam kelangsungan hidup. Pedoman praktik klinis internasional merekomendasikan perawatan bedah patah tulang pinggul akut dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah cedera namun beberapa peneliti berpendapat bahwa operasi dini dapat menyebabkan peningkatan resiko komplikasi perioperatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian patah tulang pinggul serta dampak waktu tunggu operasi terhadap komplikasi perioperatif dan risiko kematian pada pasien manula dengan patah tulang pinggul periode November 2017-Desember 2018 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien. Hasil penelitian mendapatkan 32 kasus patah tulang pinggul, dengan angka kejadian terbanyak pada perempuan. Jumlah pasien dengan komplikasi sebanyak 6 kasus dan pasien tanpa komplikasi sebanyak 26 kasus. Tidak ditemukan adanya pasien yang meninggal oleh karena lama waktu tunggu operasi. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kejadian patah tulang pinggul terjadi pada perempuan, dan terdapat hubungan antara waktu tunggu operasi dengan peningkatan komplikasi perioperatif, namun tidak terdapat hubungan antara waktu tunggu operasi terhadap peningkatan angka mortalitas pasien.Kata kunci: patah tulang pinggul, waktu tunggu operasi
Survei Kesehatan Telinga Masyarakat di Desa Tinoor 2 Liang, Kevin; Mona, Moudi; Tumbel, R. E.C.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i1.18713

Abstract

Abstract: Ear health plays an important role in the quality of life. Unfortunately, ear health is often overlooked although its cleanliness has implication to hearing acuity. Disorders of ear include diseases of the outer ear, middle ear, and inner ear as well as hearing loss. This study was aimed to obtain the ear health status of villagers at Tinoor 2. This was a descriptive study. There were 40 villagers in this study consisted of 12 males and 28 females. The results showed that the ear health status of 6 male villagers (50%) and 12 female villagers (42.85%) was categorized as good. Based on age category, good ear health status was more common among adult age, and based on job, good ear health status was more common among college students and teachers. Conclusion: At Tinoor 2, good health status was more common among males, adult age, and those who were students or teachers/official servants.Keywords: ear health Abstrak: Kesehatan telinga merupakan salah satu tolak ukur kualitas hidup seseorang tetapi seringkali kurang mendapat perhatian padahal kebersihan telinga mempunyai implikasi terhadap ketajaman pendengaran. Gangguan kesehatan telinga meliputi telinga bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam, serta gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kesehatan telinga pada masyarakat Desa Tinoor 2. Jenis penelitian ialah desktriptif. Sebanyak 40 orang masyarakat Desa Tinoor 2 yang dilakukan pemeriksaan telinga, terdiri dari 12 laki-laki dan 28 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kesehatan telinga yang baik didapatkan pada 6 orang laki-laki (50%) dan 12 orang perempuan (42,85%). Berdasarkan kategori usia, status kesehatan telinga yang baik lebih sering pada usia dewasa sedangkan berdasarkan pekerjaan, lebih sering pada mahasiswa dan guru/PNS. Simpulan: Di Desa Tinoor 2, kesehatan telinga yang baik lebih sering didapatkan pada jenis kelamin laki-laki, dewasa, dan yang bekerja sebagai siswa atau guru/PNS.Kata kunci: kesehatan telinga
Gambaran Sebab Kematian pada Kasus Kematian Tidak Wajar yang Diautopsi di RS Bhayangkara Tingkat III Manado dan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2017-2018 Ango, Charissa P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.26928

Abstract

Abstract: Unnatural deaths are not caused by diseases but by others such as accidents, killings, and suicide. The death of someone which is suspected unnaturally, needs to be found out with certainty about the cause of death through an autopsy by a forensic doctor. This study was aimed to obtain the causes of unnatural death cases autopsied at RS Bhayangkara tingkat III Manado and Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2017-2018. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results showed 77 cases of unnatural deaths. As many as 45 cases were autopsied in 2017 and 32 cases in 2018. Most victims were male (68 cases), aged 17-25 years (late adolescence; 18 cases). The most common cause of death was sharp violence (45 cases). In conclusion, most autopsy cases of unnatural deaths were performed on males, aged 17-25 years (late adolescence), and sharp violence as the cause of death.Keywords: unnatural death, cause of death, autopsy Abstrak: Kematian tidak wajar adalah kematian yang tidak disebabkan oleh penyakit, seperti kecelakaan, pembunuhan dan bunuh diri. Kematian seseorang yang diduga tidak wajar, perlu dicari tahu secara pasti penyebab kematiannya melalui autopsi oleh dokter forensik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sebab kematian pada kasus kematian tidak wajar yang diautopsi di RS Bhayangkara Manado dan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2017-2018. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil Visum et Repertum. Hasil penelitian mendapatkan 77 kasus kematian tidak wajar yang diautopsi, yaitu pada tahun 2017 sebanyak 45 kasus dan pada tahun 2018 sebanyak 32 kasus. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (68 kasus vs 9 kasus). Usia terbanyak ialah 17-25 tahun (masa remaja akhir) sebanyak 18 kasus. Penyebab kematian terbanyak ialah kekerasan tajam sebanyak 45 kasus. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus kematian tidak wajar yang diautopsi dilakukan pada usia 17-25 tahun (masa remaja akhir), jenis kelamin laki-laki, dengan sebab kematian kekerasan tajam.Kata kunci: kematian tidak wajar, sebab kematian, autopsi
Gambaran Penyakit Jantung Bawaan di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013 - 2017 Manopo, Berry R.; Kaunang, Erling D.; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.22124

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) is a structural heart defect that results from abnormal embryological heart development, or persistence of some parts of the fetal circulation at birth. Congenital heart disease is divided into two categories, namely non-cyanotic congenital heart disease and cyanotic congenital heart disease. Congenital heart disease is caused by interactions between predisposing exogenous factors and endogenous factors. This study was aimed to obtain the profile of CHD in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period 2013 - 2017. This was a retrospective descriptive study using medical record data of patients suffering from CHD in NICU from 2013 to 2017. The results showed that there were 27 patients suffering from CHD consisting of 24 non-cyanotic CHD patients (88.89%) and 3 cyanotic CHD patients (11.11%), and the highest incidence was Atrial Septal Defect (ASD) as many as 17 babies (62.96%). Congenital heart disease was more common in males as many as 18 babies (66.67%). In this study, the clinical symptoms oftenly found was shortness of breath (48.15%) and the most common diagnosis was pneumonia (48.15%). Conclusion: The most common CHD was non-cyanotic CHD. The most commonly found defect was ASD. Clinical symptoms that often arised was shortness of breath, pneumonia was the most common comorbid diagnosis, and the dominant gender of CHD was male.Keywords: non-cyanotic CHD, cyanotic CHD, atrial septal defect Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan defek jantung struktural yang terjadi akibat perkembangan jantung embriologis yang abnormal, atau persistensi dari beberapa bagian dari sirkulasi fetus saat lahir. Penyakit ini dibagi menjadi dua kategori yaitu penyakit jantung bawaan non sianosis dan yang sianosis. Penyakit jantung bawaan disebabkan oleh interaksi antara predisposisi faktor eksogen dan faktor endogen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyakit jantung bawaan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien yang menyandang penyakit jantung bawaan di NICU periode 2013-2017. Hasil penelitian mendapatkan dari 27 pasien dengan PJB, ditemukan PJB non sianotik berjumlah 24 bayi (88,89%) dan PJB sianotik berjumlah 3 bayi (11,11%) dengan angka kejadian terbanyak pada atrial septal defek (ASD) berjumlah 17 bayi (62,96%). Penyakit jantung bawaan paling banyak terjadi pada bayi yang berjenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 18 bayi (66,67%). Gejala klinis yang sering muncul ialah sesak napas (48,15%) dan diagnosis penyerta terbanyak yaitu pnemonia (48,15%). Simpulan: Penyakit jantung bawaan non sianosis merupakan diagnosis terbanyak, jenis ASD, dengan gejala klinis yang sering muncul yaitu sesak napas. Pneumonia merupakan diagnosis penyerta terbanyak. PJB tersering pada jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: PJB sianotik, PJB, non sianotik, atrial septal defek
Hubungan antara Mencuci Wajah dengan Kejadian Akne Vulgaris pada Remaja Laki-laki di Manado Sole, Fifin R. T.; Suling, Pieter L.; Kairupan, Tara S.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.28310

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is a chronic skin condition involving inflammation of the pilosebaceous follicle. The highest prevalence of acne vulgaris is at the age of 16-17 years. Pathogenic factors contributing to the development of acne vulgaris include increased sebum production, pilosebaceous follicular blockage, and increased colonization of Propionibacterium acnes. Personal hygiene is suggested as an important factor that needs to be maintained in acne prevention. Males tend to lack of awareness to seek information and health services in dealing with acne problems. This study was aimed to evaluate the relationship between facial washing and the incidence of acne vulgaris in adolescent males in Manado. This was an analytical and observational study using a cross-sectional design. Subjects were male students of 3rd grade at SMA Negeri 9 Manado, aged 16-19 years old, and met the inclusion and exclusion criteria, with a total number of 95 students. Subjects who washed their faces 2-3 times a day were 38 students (40%) while those who washed their faces less than twice or more than thrice a day were 57 students (60%). Subjects with no or mild acne vulgaris were 39 students (41.1%), while those with moderate to severe acne vulgaris were 56 students (58.9%). The chi-square showed a p-value of 0.004 for the relationship between the frequency of facial washing and the incidence of acne vulgaris. In conclusion, there was a significant relationship between facial washing and the incidence of acne vulgaris in adolescent males in Manado.Keywords: facial washing, acne vulgaris Abstrak: Akne vulgaris merupakan peradangan kronis folikel pilosebasea dengan prevalensi tertinggi pada usia 16-17 tahun. Faktor yang memengaruhi terjadinya akne vulgaris antara lain peningkatan produksi sebum, penyumbatan folikel pilosebasea, dan peningkatan kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes. Kebersihan diri merupakan faktor penting yang perlu dijaga sebagai salah satu usaha untuk mencegah timbulnya akne. Laki-laki cenderung kurang memiliki kesadaran untuk mencari informasi dan pelayanan kesehatan dalam menangani masalah akne. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara mencuci wajah dengan kejadian akne vulgaris pada remaja laki-laki di Manado. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah siswa laki-laki kelas 3 di SMA Negeri 9 Manado, usia 16-19 tahun, dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah total 95 siswa. Subjek yang mencuci wajah 2-3 kali sehari sebanyak 38 siswa (40%) sedangkan yang mencuci wajah kurang dari 2 kali atau lebih dari 3 kali sehari sebanyak 57 siswa (60%). Subjek tanpa akne vulgaris atau akne derajat ringan sebanyak 39 siswa (41,1%) sedangkan yang dengan akne vulgaris derajat sedang sampai berat sebanyak 56 siswa (58,9%). Uji chi-square memperlihatkan nilai p=0.004 terhadap hubungan antara frekuensi mencuci wajah dengan kejadian akne vulgaris. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara mencuci wajah dengan kejadian akne vulgaris pada remaja laki-laki di Manado.Kata kunci: mencuci wajah, akne vulgaris
Hubungan Lama Berobat dan Keteraturan Berobat dengan Kadar HbA1c Pasien DM Tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Sumakul, Ridhel G.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23540

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is caused due to insulin target cells fail or are unable to respond to insulin normally (insulin resistance). Acute or chronic complications can occur in DM patients. Complications of DM can be prevented by optimal control of glycemia, in this case, the concentration of blood glucose and HbA1c. Regularity in medication consumption is important to prevent the occurence of diabetic complications. This study was aimed to determine the relationship of the duration and the regularity of diabetes treatment with HbA1c levels in T2DM patients at Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design, using paients’ medical record data. There were 60 samples obtained by using purposive sampling technique. The results of Chi-Square test showed that there was no corelation between duration of treatment and HbA1c level (P=0.111) and there was no corelation between the regularity of treatment and HbA1c level (P=0.224). Conclusion: There was no relationship between the duration and regularity of treatment with HbA1c levels of T2DM patients in the Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: T2DM, duration of treatment, regularity of treatment, HbA1c Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) disebabkan karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal (resistensi insulin). Komplikasi yang terjadi pada pasien DM dapat bersifat akut maupun kronis. Komplikasi DMT2 dapat dicegah dengan kontrol glikemia yang optimal yaitu terkendalinya konsentrasi glukosa dalam darah dan HbA1c. Keteraturan minum obat pada pasien DM merupakan hal penting dalam mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama berobat diabetes dan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c pasien DMT2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang, menggunakan data rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 pasien. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan lama berobat DMT2 dengan kadar HbA1c (P=0,111). Juga tidak terdapat hubungan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c (P=0,224). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama berobat dan keteraturan kunjungan berobat dengan kadar HbA1c pasien DM tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado.Kata kunci: DMT2, lama berobat, keteraturan berobat, HbA1c
Perbedaan Kadar HDL dan Trigliserida antara Penderita Ulkus Diabetik dan Tanpa Ulkus Diabetik pada Pasien DM Tipe 2 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kirojan, Debora; Pandelaki, Karel; Wongkar, Maarthen C.P.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18581

Abstract

Abstract: The number of people with diabetes mellitus (DM) is increasing every year, as well as the risk of its chronic complications inter alia diabetic ulcer. Peripheral artery disease caused by atherosclerosis is one of the major risk factors for developing diabetic ulcer, and low HDL is associated with atherosclerosis. High triglyceride increases the risk for neuropathy, a diabetic ulcer risk factor. This study was aimed to analyze the difference in HDL and triglyceride levels among type 2 DM (T2DM) patients with and without diabetic ulcers. This was a descriptive comparative study with a case control design. Data were secondarily obtained from patients in the period of January 1st to September 30th 2017. Purposive technique sampling was applied to attain 30 T2DM patients with ulcers and 30 T2DM patients without ulcers. Data were analyzed by using independent t-test and P <0.05 was determined as statistically significant level. The results showed that the mean HDL level in T2DM patients with diabetic ulcers was 20.47 mg/dl, lower than of T2DM patients without diabetic ulcers with a mean HDL level of 32.33 mg/dl (P=0.000). The mean triglyceride level in T2DM patients with diabetic ulcers was 150.43 mg/dl, higher than of T2DM patients without diabetic ulcers with a mean triglyceride level of 121.16 mg/dl (P= 0.141). Conclusion: There was a statistically significant difference in the mean level of HDL between T2DM patients with and without ulcers. There was no statistically significant difference in the mean level of triglyceride between T2DM patients with and without diabetic ulcers.Keywords: diabetic ulcer, HDL, triglyceride, type 2 DM. Abstrak: Jumlah penderita penyakit diabetes melitus (DM) setiap tahun meningkat, diikuti peningkatan risiko terjadinya komplikasi kronik, salah satunya ialah ulkus diabetik. Penyakit arteri perifer yang disebabkan oleh proses aterosklerosis merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ulkus diabetik, dan kadar HDL dianggap berhubungan dengan proses aterosklerosis. Kadar trigliserida yang tinggi meningkatkan risiko kejadian neuropati yang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ulkus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar HDL dan trigliserida pada pasien DM tipe 2 (DMT2) dengan dan tanpa ulkus. Jenis penelitian ialah deskriptif komparatif dengan desain kasus kontrol (case control) menggunakan data pasien yang berobat mulai 1 Januari sampai 30 September 2017. Digunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sampel sebanyak 30 pasien DMT2 dengan ulkus diabetik dan 30 pasien DMT2 tanpa ulkus diabetik sebagai pembanding. Analisis penelitian ini menggunakn uji t-tidak berpasangan, dan dinyatakan bermakna jika P < 0,005. Hasil penelitian mendapatkan rerata kadar HDL pada pasien DMT2 dengan ulkus diabetik ialah 20,47 mg/dl, lebih rendah dibandingkan pasien tanpa ulkus dengan rerata 32,33 mg/dl (P=0,000). Rerata kadar trigliserida pada pasien DMT2 dengan ulkus diabetik ialah 150,43 mg/dl, lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa ulkus dengan rerata 121,16 mg/dl (P=0,141). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna rerata kadar HDL antara penderita DMT2 dengan dan tanpa ulkus diabetik. Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar trigliserida antara penderita DMT2 dengan dan tanpa ulkus diabetik.Kata kunci: ulkus diabetik, DM Tipe 2, HDL, trigliserida
Seorang Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan “Silent Angina” Wowor, Ribka E.; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.23189

Abstract

Abstract: Coronary artery disease (CAD) is the leading cause of death for men and women in the United States. Prevalence of CAD in Indonesia in 2013 based on doctor’s diagnosis was 0.5%. Clinical manifestations of CAD may vary from asymptomatic (silent angina) to sudden cardiac death. Episodes of this asymptomatic myocardial ischemia were approximately 25-50% in CAD. Diagnostic criteria of CAD are clinical manifestation, laboratory examination, ECG, and cardiac catheterization. Management of CAD patients consists of lifestyle modification, pharmacological therapy, and myocardial revascularization. We reported a male aged 50 years with reccurent epigastric pain. Echocardiography resulted in mild MR cc annulus dilatation with ischemia as the differential diagnosis. The angiography revealed 80% stenosis in the proximal RCA and distal RCA as well as 70% stenosis in mid LAD. A percutaneous coronary intervention (PCI) was performed on this patient with BMS stent in mid RCA, DES stent in proximal RCA, and POBA in mid LAD. The patients was treated with Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, and Nitrokaf retard. The general condition of the patient was good without any complaint. Modification of changeable risk factors had been done. The five-year survival rate of this patient was 70% with dubia prognosis.Keywords: coronary artery disease, silent angina Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika Serikat. Manifestasi klinis PJK dapat bervariasi mulai dari tanpa gejala (silent angina) hingga kematian mendadak. Angka kejadian silent angina berkisar 25%-50% dari keseluruhan PJK. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain EKG, ekokardiografi, enzim jantung, CT kardiak, treadmill test, hingga pemeriksaan invasif seperti kateterisasi jantung. Penatalaksanaan PJK meliputi penangangan non farmakologik dan farmakologik. Penanganan non farmakologik berupa modifikasi gaya hidup, sedangkan terapi farmakologik berupa obat-obatan sampai pada revaskularisasi jantung. Kami melaporkan seorang penderita PJK laki-laki berusia 50 tahun dengan keluhan utama nyeri ulu hati hilang timbul. Hasil ekokardiografi menyimpulkan MR mild cc dilatasi anulus dd iskemik. Pemeriksaan angiografi mendapatkan stenosis 80% di proksimal RCA, dan distal RCA, stenosis 70% di mid LAD. Pada penderita ini dilakukan intervensi koroner perkutan dan dilakukan pemasangan stent BMS pada mid RCA, stent DES pada proksimal RCA, POBA pada mid LAD. Pengobatan yang diberikan ialah Thrombo aspilets, clopidogrel, simvastatin, lisinopril, dan Nitrokaf retard. Keadaan umum penderita baik, keluhan menghilang dan telah dilakukan upaya modifikasi terhadap faktor risiko yang bisa diubah. Five-year survival rate penderita ini 70% dengan prognosis dubia.Kata kunci: penyakit jantung koroner, silent angina
Tingkat Kebisingan pada Angkutan Umum Jalur Teling-Pusat Kota Manado Liono, Marlisha C. B.; Pelealu, Olivia C. P.; Mengko, Steward K.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.26929

Abstract

Abstract: Noise is all unwanted sounds that can cause discomfort feeling or hearing disturb-ance if be exposed for long enough. Moreover, it can disturb the surrounding environment due to the generated noise. In Manado, many public transportation have audio system to play high volume music, therefore, causing noise. This study was aimed to determine the level of noise in public transportation of Teling to Manado downtown track. This was a descriptive and observational study with a cross sectional design. Samples were 100 vehicles of Teling to Manado downtown track. Noise measurement was performed by using a sound level meter. Data were analyzed by using Microsoft Office Excel. The results obtained 56 vehicles with audio systems and 44 vehicles without audio systems. Among 56 vehicles with audio systems, there were 47 vehicles that had noise levels above the noise threshold value which was 86.05-114.15 dB with exposure time about 8-16 hours. Meanwhile, among 44 vehicles without audio system, there were only 2 vehicles that had noise levels above threshold value which was 88.05-91.8 dB with exposure time about 10-12 hours. In conclusion, there were 49% of public vehicles had noise level above the threshold value.Keywords: noise; public transportation Abstrak: Kebisingan adalah semua bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau gangguan pendengaran jika terpapar lama. Selain itu kebisingan dapat juga mengganggu lingkungan sekitar. Di Kota Manado, banyak angkutan umum yang menggunakan sistem audio untuk memutar musik dengan volume yang tinggi sehingga menimbulkan kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan pada angkutan umum jalur Teling-Pusat Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional deskrip-tif dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 100 kendaraan pada jalur Teling-Pusat Kota Manado. Pengukuran kebisingan dilakukan menggunakan alat Sound Level Meter. Data diolah dengan Microsoft Office Excel. Hasil penelitian mendapatkan 56 kendaraan yang menggunakan sistem audio dan 44 kendaraan tidak menggunakan sistem audio. Pada 56 kendaraan yang menggunakan sistem audio terdapat 47 kendaraan dengan tingkat kebisingan di atas nilai ambang batas kebisingan yaitu 86,05-114,15 dB dengan waktu terpapar selama 8-16 jam sedangkan pada 44 kendaraan yang tidak menggunakan sistem audio terdapat 2 kendaraan yang memiliki tingkat kebisingan di atas nilai ambang batas kebisingan yaitu 88,05-91,8 dB dengan waktu terpapar selama 10-12 jam. Simpulan penelitian ini ialah terdapat 49% kendaraan umum memiliki kebisingan di atas nilai ambang batas.Kata kunci: kebisingan, angkutan umum

Page 54 of 108 | Total Record : 1074