cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PROFIL KEMATIAN MATERNAL DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2012 – 31 DESEMBER 2013 Mattarungan, Steven
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3715

Abstract

Abstract: Maternal death is a death that occurs in women during pregnancy or within 42 days after the end of pregnancy , irrespective of time and location of pregnancy , caused by anything related to pregnancy , or aggravated by the pregnancy or its management, but not the death that caused by accident or coincidence . This study aims to separately determine the picture of maternal mortality in the RSU Prof. BLU . R. D. Kandou Manado years 2012-2013 and the factors that influence it . The method used in this study is a retrospective descriptive cross-sectional approach . This study found 21 cases of maternal deaths in 2012 and 17 cases in 2013 . Highest cause of maternal deaths in 2012 was sepsis followed by hemorrhage , eclampsia / pre- eclampsia , and by other causes . While maternal deaths in 2013 due to most other causes , followed by eclampsia / pre - eclampsia , sepsis and hemorrhage . It is concluded that maternal mortality is influenced by age , education level , occupation , number of parity , marital status , number of antenatal care , referral status , and cause of death . Keywords : Maternal death, mother identitiy, antenatal care, referral status, cause of death   Abstrak :Kematian maternal adalah kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan,  atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut, atau penanganannya, akan tetapi bukan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan. Penelitian ini bertujuan utnuk mengetahui gambaran kematian maternal di BLU RSU Prof. R. D. Kandou Manado tahun 2012-2013 dan faktor faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Pada penelitian ini ditemukan 21 kasus kematian maternal pada tahun 2012 dan 17 kasus pada tahun 2013. Penyebab kematian maternal terbanyak pada tahun 2012 adalah sepsis diikuti oleh perdarahan, eklampsia / pre eklampsi, dan oleh sebab yang lain. Sedangkan kematian maternal pada tahun 2013 terbanyak disebabkan oleh penyebab yang lain-lain, diikuti oleh eklampsi / pre-eklampsi, sepsis dan perdarahan. Dapat disimpulkan bahwa kematian maternal dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah paritas, status pernikahan, jumlah pemeriksaan antenatal, status rujukan, dan penyebab kematian. Kata kunci: Kematian maternal, identitas ibu, pemeriksaan antenatal, status rujukan, penyebab kematian.
Profil fraktur diafisis femur periode Januari 2013 – Desember 2014 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Wattie, Ezra A. W.; Monoarfa, Alwin; Limpeleh, Hilman P.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11289

Abstract

Abstract: The incidence of femoral diaphysis fracture has increased recently. The most common cause of this fracture is motor vehicle accident. Femoral diaphysis fracture can be accompanied by multiple fractures (fractures of other bones) which depends on the cause. This study aimed to determine the distribution of the femoral diaphysis fracture cases by age, gender, anatomical location of the fracture, type of fracture (open and closed), and the management (adults and children). This was a descriptive retrospective study. Samples were all patients with femoral diaphysis fractures treated in the period of January 2013 to December 2014. Data of the patients were obtained from the medical records of Surgery Department based on the variables. The age was categoried of: children (0-11), teenagers (12-17), young adults (18-44), older adults (45-64), and elderly (65+). The anatomical location of the fracture consisted of 1/3 proximal, 1/3 medial, and 1/3 distal. The management of adult patients were ORIF (plate and screw), ORIF (screw and wiring), and ORIF (Kuntscher nail). The management of children was Hamilton-Russell traction, Bryan traction, and distal skeletal traction. The results showed that there were 45 patients in the 2-year period consisting of 29 (64.5%) patients in 2013 and 16 (35.5%) patients in 2014. The gender which dominated these cases was male with 26 patients (57.8%). Females were only 10 patients (22.2%). There were 9 patients (20.0%) without ae and sex categories. Among males, the fracture occurred in children (2 patients, 4.4%), adolescents (8 patients, 21.7%),  young adults (10 patients, 22.2%), older adults (5 patients, 11.1%), and the elderly (1 patient, 2.2%) The incidence in women increased in older adults (5 patients, 11.1%). According to the anatomic location of the fracture, the highest incidence was in the 1/3 medial of the femoral diaphysis (30 patients, 66.6%). The most common type of fracture based on the exposure to the external environment is closed fractures (27 patients, 60%). The distribution of the cases based on the operative management of adult patients did not provide any meaningful information because there had been a lot of patients (31 patients, 68.8% of the existing data) that did not include the type of operative management. The case distribution based on the treatment of children showed no traction. Conclusion: There was an increase of the femoral diaphysis cases which was more significant in males than in females with the growing incidence in young adult males. While in women, there was a slight increase in the incidence in older adults. Keywords: femoral diaphysis fracture  Abstrak: Angka kejadian meningkat pada fraktur diafisis femur dengan penyebab tersering kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur diafisis femur bisa disertai dengan fraktur multipel (fraktur pada tulang-tulang yang lain) tergantung dengan penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi kasus fraktur diafisis femur berdasarkan umur, jenis kelamin, lokasi anatomis fraktur, jenis fraktur (terbuka dan tertutup), dan penatalaksanaan (dewasa dan anak-anak). Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Sampel ialah semua pasien fraktur diafisis femur yang dirawat pada periode Januari 2013 – Desember 2014. Data pasien diambil dari PPDS Ilmu Bedah berdasarkan variabel-variabel yang akan diteliti. Umur yaitu berdasarkan kategori anak-anak (0-11), remaja (12-17), dewasa muda (18-44), dewasa tua (45-64), dan lanjut usia (65+). Lokasi anatomis fraktur yaitu terdiri dari 1/3 proximal, 1/3 medial, dan 1/3 distal. Penatalaksanaan pada pasien dewasa yaitu ORIF (plate & screw), ORIF (screw & wiring), dan ORIF (Kuntscher nail). Tatalaksana pada anak-anak yaitu traksi Hamilton-Russel, traksi Bryant, dan traksi skeletal distal. Hasil penbelitian memperlihatkan terdapat 45 Pasien dalam periode 2 tahun: 29 (64,5%) pasien pada tahun 2013 dan 16 (35,5%) pasien pada tahun 2014. Jenis kelamin yang mendominasi kasus ialah laki-laki yaitu 26 pasien (57,8% dari keseluruhan data). Pada perempuan diperoleh 10 pasien (22,2% dari keseluruhan data). Terdapat 9 pasien (20,0%) yang tidak tercantum umur dan jenis kelamin. Pada laki-laki, fraktur ditemukan pada: anak-anak (2 pasien, 4,4%), remaja (8 pasien, 21,7%), dewasa muda (10 pasien, 22,2%), dewasa tua (5 pasien, 11,1%),  dan usia lanjut (1 pasien, 2.2%). Angka kejadian pada perempuan meningkat pada kategori usia dewasa tua (5 pasien, 11,1%). Pada distribusi pasien menurut lokasi anatomis fraktur, insiden tertinggi pada lokasi 1/3 medial diafisis femur (30 pasien, 66.6%). Jenis fraktur tersering berdasarkan ada atau tidaknya paparan lingkungan eksternal ialah fraktur tertutup (27 pasien, 60%). Distribusi kasus berdasarkan tatalaksana operatif pada pasien dewasa tidak memberikan info yang bermakna oleh karena terdapat banyak pasien (31 pasien, 68,8%) yang tidak mencantumkan jenis tatalaksana operatif. Pada distribusi kasus berdasarkan tatalaksana pada anak-anak tidak ditemukan pasien yang menjalani traksi. Simpulan: Terdapat peningkatan kasus fraktur diafisis femur yang bermakna pada laki-laki dibanding perempuan dengan insiden meningkat pada laki-laki dewasa muda. Pada perempuan, terjadi sedikit peningkatan insiden pada usia dewasa tua. Kata kunci: fraktur diafisis femur
KARAKTERISTIK PERSALINAN KEMBAR DI RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2012 – 2013 Lumempow, Irmi; Kaeng, Juneke J.; Rarung, Max R.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6762

Abstract

Abstract: Some factors (as maternal characteristics), which play a role in multiple pregnancies, such as maternal age, parity, and heredity. As for the infant risk factors in multiple deliveries, such as gestational age, birth weight, and APGAR Score. This study provides a description of maternal characteristics and infant risk factors in multiple deliveries in the Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital during 2012 to 2013. The results are most of maternal characteristics who performed multiple deliveries in the Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital were between 30-34 years of age, second parity, 64% positive in heredity factor, and 73% performed vaginal delivery. The majority of infant risk factors were gestational age in deliveries averaged over 37-40 weeks, with birth weight under 2500 grams and APGAR Score 7-9.Keywords: multiple deliveries, maternal characteristics, infant risk factorAbstrak: Faktor-faktor sebagai karakteristik ibu, yang dapat memicu kehamilan kembar, antara lain faktor usia, jumlah paritas, dan faktor hereditas. Adapun faktor-faktor risiko bayi dalam persalinan kembar, antara lain usia kehamilan sang ibu, berat badan lahir bayi, serta APGAR Score bayi. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik ibu dan faktor risiko bayi, khususnya dalam persalinan kembar di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013. Hasil yang didapatkan adalah kelompok usia ibu terbanyak adalah 30 tahun – 34 tahun, jumlah paritas terbanyak adalah paritas 2, 64% faktor hereditas positif, serta 73% dilakukan persalinan pervaginam. Pada faktor risiko bayi, didapatkan yang terbanyak bayi kembar lahir pada usia kehamilan 37 minggu – 40 minggu, banyak bayi memiliki berat badan lahir di bawah 2500 gram, dan APGAR Score 7 – 9.Kata kunci: persalinan kembar, karakteristik ibu, faktor risiko bayi
Gambaran prevalensi malaria pada anak SD YAPIS 2 di Desa Maro Kecamatan Merauke Kabupaten Merauke Papua Daysema, Sharky D.; Warouw, Sarah M.; Rompis, Johnny
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10830

Abstract

Abstract: Malaria is an infectious disease caused by Plasmodia which invade erythrocytes and is diagnosed by the asexual forms in blood. WHO estimated 3,4 billion people were at risk of malaria and 207 million cases of malaria occurred globally in 2012 and 627.000 deaths. Papua Province is one of the provinces in Indonesia that has high malaria rate. This study aimed to determine the prevalence of malaria parasites in students of SD Yapis 2, Merauke, Papua. This was a descriptive observational study with a cross-sectional approach. Samples were obtained by using simple random sampling associated with active detection by using microscopic examination and the Rapid Diagnostic test. There were 100 children aged between 6-13 years old. The results showed that SD Yapis 2 was categorized as a prevalent medium area with a PR 15%. There were 15% children infected by P. falciparum species. Conclusion: SD Yapis 2 was categorized as a medium prevalent area with Plasmodium falciparum species.Keywords: malaria, plasmodium falciparum, microscopic examination, rapid diagnostic testsAbstrak: Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah. WHO memperkirakan 3,4 milliar orang beresiko terkena malaria dan 207 juta kasus terjadi pada tahun 2012 dan 627.000 kematian. Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka kasus malaria cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi parasit malaria pada anak SD Yapis 2, Merauke, Papua. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode simple random sampling serta dilakukan secara active detection dengan pemeriksaan mikroskopik dan penggunaan Rapid Diagnostic Tests. Sampel diperoleh sebanyak 100 anak usia 6-13 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa SD Yapis 2 termasuk medium prevalent area dengan PR 15%. Jenis Plasmodium yang ditemukan yaitu P. falciparum menginfeksi anak-anak sebesar 15%. Simpulan: SD Yapis 2 dapat di kategorikan daerah prevalensi sedang (medium prevalent area) dengan spesies malaria P. falciparum.Kata kunci: malaria, plasmodium falciparum, pemeriksaan mikroskopis, tes diagnosis cepat
Komorbiditas anak gangguan spektrum autisme Warouw, Seriven Y.; Elim, Christoffel; Munayang, Herdy; Ekawardani, Neni
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14497

Abstract

Abstract: Autism spectrum disorder is a developmental disruption. Its early condition is characterized by delay and deviance in the development of social, communication, and other skills. Someone who has been diagnosed with autism spectrum disorder is easily to encounter other health problems which occur simultaneously, the comorbidity. Comorbidities that usually occur in children with autism spectrum disorder are mental disorders and physical diseases. This study was aimed to identify the comorbidities of children with autism spectrum disorder at autism schools, exceptional schools and disabled children therapy sites in Manado and Tomohon. This was a quantitative study with a cross-sectional design. The results showed that there were 31 parents of children with autism spectrum disorder as respondents. There were 30 children (96.77%) that had comorbidities. Of the 30 children with comorbidities, 7 children had generalized anxiety disorder (22.6%), 9 children had specific phobias (29%), 6 children had bipolar disorders (25.8%), 7 children had ADHD (22.6%), 22 children had allergic diseases (71%), 23 children had gastrointestinal disorders (74.2%), and 4 children had epilepsy (12.9%). Conclusion: In this study, most children with autism spectrum disorder had comorbidities and gastrointestinal disorder was the most frequent comorbidity.Keywords: comorbidity, children, autism spectrum disorder. Abstrak: Gangguan spektrum autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang mana kondisi awalnya ditandai dengan keterlambatan dan penyimpangan dalam perkembangan sosial, komunikasi dan keterampilan lainnya. Orang yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme sangat rentan mengalami masalah kesehatan lain yang terjadi secara bersamaan atau dikenal dengan istilah komorbiditas. Komorbiditas yang sering muncul pada anak gangguan spektrum autisme berupa gangguan mental dan penyakit fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komorbiditas pada anak gangguan spektrum autisme di sekolah khusus autisme, sekolah luar biasa dan tempat terapi anak berkebutuhan khusus di Kota Manado dan Tomohon. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan desain potong lintang terhadap 31 responden yaitu orangtua yang mempunyai anak gangguan spektrum autisme. Dari 31 responden ini didapatkan 30 anak gangguan spektrum autisme (96,77%) mengalami komorbiditas. Dari 30 anak gangguan spektrum autisme yang mengalami komorbiditas didapatkan 7 anak mengalami gangguan cemas menyeluruh (22,6%), 9 anak mengalami fobia spesifik (29%), 6 anak mengalami gangguan obsesif kompulsif (19,4%), 5 anak mengalami gangguan depresif mayor (16,1%), 8 anak mengalami gangguan bipolar (25,8), 7 anak mengalami GPPH (22,6%), 22 anak mengalami alergi (71%), 23 anak mengalami gangguan gastrointestinal (74,2%), dan 4 anak mengalami epilepsi (12,9%). Simpulan: Hampir semua anak gangguan spektrum autisme mengalami komorbiditas dan gangguan gastrointestinal merupakan komorbiditas yang paling sering ditemukan. Kata kunci: komorbiditas, anak, gangguan spektrum autisme.
PENGARUH HIPOTENSI IBU TERHADAP APGAR SKOR BAYI YANG LAHIR SECARA SEKSIO SESAREA DENGAN ANESTESIA SPINAL DI RSU. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE APRIL-NOVEMBER 2013 Lahida, Nia J. M.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.4399

Abstract

Abstract: Spinal anesthesia is a regional anesthesia technique that is widely used in cesarean section surgery . The most common complication in spinal anesthesia is hypotension that occurs due to sympathetic block. It caused maternal hypotension and decreased uteroplacental perfusion and intervillous perfusion affecting the transfer of oxygen and nutrients to the fetus, causing fetal intrauterine stress which can lower baby’s Apgar score. Low Apgar scores can be found in women who experienced a decrease in systolic pressure reaches 90-100 mmHg for 15 minutes. The duration of hypotension has greater effect on apgar score than the severity of the hypotension. Objective: To analyze the effect of maternal hypotension to Apgar score of babies born with spinal anesthesia by cesarean section in RSU Prof. . R. D. Kandou Manado. Hypothesis: Hypotension has effect on Apgar score of new born babies with spinal anesthesia by cesarean section. Duration of hypotension has greater influence than the severity of the hypotension. Methods: Collecting data from medical records of patients who experienced maternal hypotension. The criteria of hypotension is  when there is a decrease of systolic hypotension ≤ 100 mmHg. Noting the decreased systole, duration of hypotension, and Apgar scores. Results: Out of 32 samples, most babies which is 23 cases of them ( 72 % ) has decreased Apgar scores which were categorized into mild asphyxia , and 16 of them experienced interval of hypotension in 10 minutes. The longer the hypotension that occurs decrease the Apgar scores. Conclusion: Hypotension have an effect to Apgar score of the new born babies with spinal anesthesia by cesarean section. The duration of hypotension has greater effect on apgar score than the severity of the hypotension. Keywords: spinal anesthesia, Apgar scores, hypotension.   Abstrak: Anestesia spinal merupakan salah satu teknik anestesia regional yang banyak digunakan dalam operasi seksio sesarea. Komplikasi yang tersering pada anestesia spinal adalah hipotensi yang terjadi karena blok simpatis. Hipotensi maternal menyebabkan hipoperfusi dari uteroplasental dan penurunan perfusi intervillous yang mempengaruhi transfer oksigen dan nutrisi janin sehingga menyebabkan stress janin intra uterin yang dapat mempengaruhi kondisi bayi lair dengan apgar skor yang rendah. Apgar skor rendah dapat ditemukan pada ibu yang mengalami penurunan tekanan sistolik yang mencapai 90 - 100 mmHg selama 15 menit. Faktor lamanya hipotensi lebih besar pengaruhnya daripada besarnya hipotensi. Tujuan: Menganalisis pengaruh kejadian hipotensi ibu terhadap apgar skor bayi yang lahir secara seksio sesarea dengan anestesia spinal di RSU Prof. R. D. Kandou Manado. Hipotesis: Hipotensi berpengaruh terhadap apgar skor bayi yang lahir secara seksio sesarea dengan anestesia spinal. Lamanya hipotensi lebih besar pengaruhnya daripada besarnya hipotensi. Metode: Mengumpulkan data dari rekam medik dari pasien yang mengalami hipotensi maternal. Dikatakan hipotensi bila terjadi penurunan sistol ≤100 mmHg. Mencatat tekanan darah, lama hipotensi dan apgar skor. Hasil: Dari 32 sampel yang ada, sebagian besar bayi yang lahir yaitu sebanyak 23 kasus (72%) mengalami penurunan apgar skor dan dikategorikan dalam asfiksia ringan sedang, dan 16 diantaranya mengalami interval lama hipotensi 10 menit. Semakin lama hipotensi yang terjadi semakin menurun apgar skor. Simpulan: Hipotensi berpegaruh terhadap apgar skor bayi yang lahir secara seksio sesarea dengan anestesia spinal. Faktor lamanya hipotensi besar pengaruhnya terhadap apgar skor.Kata Kunci: anestesia spinal, apgar skor, hipotensi.
TINGKAT DEPRESI PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI RUANG RAWAT ESTELLA RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Maulyda, Rizky; Elim, Christofel; Kandou, Lisbeth F. J.; Ekawardani, Neni
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7393

Abstract

Abstract: Depression is a mental disorder characterized by sadness, loss of interest or pleasure, feelings of guilt, sleep disturbed or appetite, feelings of fatigue, and lack of concentration. Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) becomes the most frequent cancer suffered by children. The diagnosis of cancer results in sense of fear and despair among the patients as well as their families, especially the mothers. Levels of depression among mothers of children with cancer were higher than mothers of children with other chronic diseases or healthy children. This study aimed to determine the level of depression that occured among mothers of children with ALL in Estella RSUP Prof. Dr R. D. Kandou Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 30 respondents who met the inclusion criteria, filled the demographic data questionnaires and the Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). The results showed that there were 56.7% mild depression, 26.7% moderate depression, and 10.0% severe depression meanwhile 6.7% have no depression. Conclusion: There was depression among mothers of children with ALL and the highest level of depression was mild depression.Keywords: depression, mother, children, ALL, HDRSAbstrak: Depresi adalah gangguan mental yang ditandai dengan kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, perasaan kelelahan, dan kurang konsentrasi. Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) menjadi kanker terbanyak yang diderita oleh anak-anak. Diagnosis kanker membuat perasaan takut dan putus asa, baik oleh anak dan juga keluarga mereka terutama ibu. Tingkat depresi pada ibu dengan anak kanker lebih tinggi dibandingkan anak-anak dengan penyakit kronis lain dan anak-anak yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat depresi yang terjadi pada ibu yang memiliki anak LLA di Ruang Rawat Estella RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Responden berjumlah 30 orang ibu yang memenuhi kriteria inklusi kemudian melakukan pengisian kuesioner data demografik dan Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Hasil penelitian menunjukkan 56,7% mengalami depresi ringan, 26,7% depresi sedang, dan 10,0% depresi berat, sedangkan 6,7% tidak mengalami depresi. Simpulan: Terdapat depresi pada ibu yang memiliki anak LLA dengan tingkat depresi terbanyak ialah depresi ringan.Kata kunci: depresi, ibu, anak, LLA, HDRS
Gambaran skor MMSE dan MoCA-INA pada pasien cedera kepala ringan dan sedang yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Athika, Nurindah; PS, Junita Maja; Mawuntu, Arthur H.P.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12482

Abstract

Abstract: Traumatic Brain Injury (TBI) is the most common case in hospital. TBI can caused cognitive impairment. This study aimed to obtain the description of cognitive function in patients with mild and moderate TBI that were admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a prospective descriptive study by conducting direct examination to the patients diagnosed with mild or moderate TBI by using MMSE and Ina MoCA instruments. Thee results showed that there of 50 subjects there were 74% with mild TBI and 26% with moderate TBI. MMSE showed 96% normal while Ina MoCA showed 76% normal. Cognitive function impairment was more visible on Ina MoCA examination. Conclusion: Ina MoCA was better than MMSE examination in description of cognitive function impairment.Keywords: head injury, cognitive function Abstrak: Cedera kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di Rumah Sakit. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran skor MMSE dan MoCA-Ina pada pasien cedera kepala ringan dan sedang yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini ialah deskriptif prospektif dengan melakukan pemeriksaan langsung pada pasien yang didiagnosis cedera kepala ringan atau sedang menggunakan instrumen MMSE dan MoCA-Ina. Hasil penelitian mendapatkan subjek sebanyak 50 orang dengan persentase cedera kepala ringan sebanyak 74% dan cedera kepala sedang 26%. Pada MMSE didapatkan 96% normal sedangkan pada MoCA-Ina didapatkan 76% normal. Penurunan fungsi kognitif lebih terlihat pada pemeriksaan MoCA-Ina. Simpulan: MoCA-Ina lebih dapat menggambarkan gangguan fungsi kognitif daripada pemeriksaan MMSE. Kata kunci: cedera kepala, fungsi kognitif
1 GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI TIGA YAYASAN MANULA DI KECAMATAN KAWANGKOAN Ramadian, Daniar Aprilia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3288

Abstract

AbstractBackground: An increasing number of elderly people raises various social, economic, and health problems. Health problems are often occur in the elderly is impaired cognitive function. The rapid examination and practical, high value is the examination of the Mini Mental State Examination (MMSE) and Trail Making Test (TMT). These checks are done by giving series of commands at someone and assess their accuracy.Objective: To knowing overview of cognitive function in the elderly at three elderly people foundation in district Kawangkoan by sex, age, and education.Methods: The descriptive research with cross-sectional method, was conducted in November 2012 held at the Elderly Foundation Centre Kawangkoan Minahasa, Maupusan Foundation, and Pakakamangen Foundation in District Kawangkoan.Results: From the research gained 61 people who met the inclusion criteria consisted of 4 men and 57 women. Based on age, and education level showed decline in cognitive function is most at 75-90 years old and last education level is Elementary School.Conclusion: The results of the MMSE and TMT in the elderly at three elderly people foundation in district Kawangkoan mostly with normal results on the MMSE and TMT abnormal.Keywords: Elderly, cognitive function, MMSE, TMT-A & B.AbstrakLatar belakang: Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi, dan kesehatan. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada usia lanjut ialah gangguan fungsi kognitif. Pemeriksaan yang cepat dan praktis namun nilainya tinggi adalah pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) dan Trail Making Test (TMT). Pemeriksaan ini dilakukan dengan memberi serangkaian perintah pada seseorang dan menilai ketepatannya.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia di tiga yayasan manula di kecamatan kawangkoan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan pendidikan.Metode: Penelitian deskriptif dengan metode potong lintang, dilaksanakan pada bulan November 2012 bertempat di Yayasan Manula Pusat Kawangkoan Minahasa, Yayasan Maupusan, dan Yayasan Pakakamangen di Kecamatan Kawangkoan.Hasil: Dari penelitian diperoleh 61 orang yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 4 laki-laki dan 57 perempuan. Berdasarkan usia, dan tingkat pendidikan menunjukkan penurunan fungsi kognitif terbanyak adalah pada usia 75-90 tahun dan tingkat pendidikan terakhir SD.Kesimpulan: Hasil pemeriksaan MMSE dan TMT pada lansia di tiga yayasan manula di kecamatan Kawangkoan sebagian besar dengan hasil normal pada MMSE dan abnormal pada TMT.Kata kunci: Lansia, fungsi kognitif, MMSE, TMT-A & B.
ANGKA KEJADIAN APENDISITIS DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE OKTOBER 2012 – SEPTEMBER 2015 Thomas, Gloria A.; Lahunduitan, Ishak; Tangkilisan, Adrian
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10960

Abstract

Abstract: Appendicitis is an inflammation of vermiform appendix. Acute inflammation of the appendix needs to be treated immediately to prevent fatal complications. The incidence among females and males is slightly comparable, however, the incidence is higher among males than females in the age range between 20-30 years. The fundamental clinical decision in the diagnosis of a patient with suspected appendicitis is whether to do an operation or not. The meaningful evaluation of acute appendicitis balances early operative intervention to prevent operative risks. This study aimed to obtain the incidence of appendicitis at Prof. Dr. R.D Kandou Hosiptal Manado from October 2012 to September 2015. This was a  retrospective descriptive study using data of the Department of Medical Record Prof. Dr. R.D Kandou Manado Hospital. The results showed that there were 650 patients. Most patients had acute appendicitis as many as 412 patients (63%) meanwhile chronic appendicitis was found in 38 patients (6%). Of 650 patients, 200 patients had complications; 193 patients (30%) with perforated appendicitis and 7 patients (1%) with appendicular mass. The most frequent age group to develop appendicitis was 20-29 years. The number of male patients was higher than the females. Keywords: appendicitis, incidence  Abstrak: Apendisitis adalah adanya peradangan pada apendiks vermiformis. Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Insidens pada perempuan dan laki-laki umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun insidens pada laki-laki lebih tinggi. Keputusan klinis mendasar dalam mendiagnosis pasien dengan dugaan apendisitis ialah apakah perlu dilakukannya operasi atau tidak.  Evaluasi yang baik dari kasus apendisitis akut dapat mengurangi intervensi untuk operasi awal, dengan harapan dapat mengurangi risiko operasi yang tidak diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian apendisitis di RSUP Prof. Dr. R. D, Kandou Manado periode Oktober 2012 – September 2015. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Oktober 2012 – September 2015 terdapat 650 pasien. Jumlah pasien terbanyak ialah apendisitis akut yaitu 412 pasien (63%) sedangkan apendisitis kronik sebanyak 38 pasien (6%). Dari 650 pasien, yang mengalami komplikasi sebanyak 200 pasien yang terdiri dari 193 pasien (30%) dengan komplikasi apendisitis perforasi dan 7 pasien (1%) dengan periapendikuler infiltrat. Kelompok umur tersering yang menderita apendisitis ialah 20-29 tahun. Jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Kata kunci: apendisitis, angka kejadian  

Page 59 of 108 | Total Record : 1074