cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
POLA KEKERASAN PADA KORBAN KEJAHATAN SEKSUAL YANG MENINGGAL DAN DI PERIKSA DI RSUP PROF. DR. R . D. KANDOU MANADO Pongoh, Angelique; Mallo, Johannis; Siwu, James
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3298

Abstract

Abstracts: Violence act or behavior is a condition in which individual does or attack another or environment. The violence with sexual harassment includes: flirt, rouge whistling, comment connoting sex, porn humor, pinch, poke, pat or touch on certain body parts, certain movements or sexual signals, dating invitation with threats, and sexual solicitation to sexual rape. In the examination of dead victims of sexual crimes it is often found that the violence occured on the victim's body. This research aims to help doctors and medical staff to be able to know the pattern of violence on the dead victims caused by sexual crimes and to perform the Visum Et Repertum on each victim properly, and also to help the investigators to establish the severity of the punishment on the perpetrators of sexual crimes in Manado. The research design is a cross sectional description taking secondary data from medical records at BLU SMF Prof.Dr. R. D Kandou hosptal, Manado. The pattern of violence found in this research shows that in fact the area of body that often happens crimes causing by sexual violence is at the head and neck parts (42.1%) and extremities (38.1%). Keyword: Sexual harassment, victim, violence   Abstrak: Tindakan kekerasan atau perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau menyerang orang lain atau lingkungan. Adapun kekerasan dengan pelecehan seksual, meliputi: main mata, siulan nakal, komentar yang berkonotasi seks, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual sampai perkosaan. Dalam pemeriksaan korban mati dengan kejahatan seksual sering didapati kekerasan – kekerasan yang terjadi di tubuh korban. Penelitian ini bertujuan untuk membantu para dokter dan tenaga medis agar dapat mengetahui pola kekerasan pada korban mati karena kejahatan seksual dan agar setiap dokter dapat melaksanakan Visum Et Repertum pada setiap korban dengan baik dan benar, serta dapat membantu para penyidik untuk menegakkan berat ringannya hukuman pada pelaku kejahatan seksual di Manado.Desain penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional mengambil data sekunder dari rekam medis di SMF BLU RSUD Prof.Dr. R. D Kandou Manado. Pola kekerasan yang didapati pada penelitian ini menunjukan bahwa ternyata daerah pada tubuh yang sering terjadi kekerasan karena kejahatan seksual ialah pada daerah kepala dan leher (42,1%), dan ekstrimitas (38,1%).Kata Kunci: Pelecehan seksual, korban, kekerasan
GAMBARAN PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI TENTANG GLAUKOMA Theja, Andri; Sumual, Vera; Tongku, Yamin
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10970

Abstract

Abstract: This study aimed to determine the knowledge about glaucoma of students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado. This was a descriptive survey study by using questionnaire. This study was conducted at the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi from October 2015 until December 2015. There were 81 respondents. Respondents were obtained by stratified random sampling in each batch, and in each batch we used simple random sampling. The results showed that the knowledge categories of students about glaucoma were as follows: moderate category in 57 respondents (70.4%), good category in 2 respondents (2.4%), and poor category in 22 respondents (27.2%). Conclusion: In this study, most of the students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado had moderate category of knowledge about glaucoma. Keywords: glaucoma, student knowledge Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi tentang glaukoma. Jenis penelitian yang dilakukan ialah survei deskriptif, dengan membagikan kuesioner pengetahuan kepada responden. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi sejak bulan Oktober sampai Desember 2015 dengan responden sebanyak 81 orang. Responden diperoleh berdasarkan teknik stratified random sampling pada masing-masing angkatan, kemudian untuk pengambilan sampel di tiap angkatan digunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian memperlihatkan kategori pengetahuan mahasiswa sebagai berikut: pengetahuan kategori sedang sebanyak 57 responden (70,4%), kategori baik sebanyak 2 responden (2,4%) dan kategori kurang sebanyak 22 responden (27,2%). Simpulan: Dalam penelitian ini, sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi mempunyai pengetahuan mengenai glaukoma dengan kategori sedang.Kata kunci: glaukoma, pengetahuan mahasiswa
Profil Penderita Endometriosis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada Tahun 2011-2015 Pangemanan, Grandy; Loho, Maria; Wagey, Freddy W.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14761

Abstract

Abstract: Endometriosis is a benign gynecological disorder that often affects woman of reproductive age are characterized by the presence of endometrial glands and stroma outside the normal location. The disease gets a lot of attention from researchers and experts; this is due to that endometriosis often occurs in woman but the mechanism in still unclear. This was a descriptive retrospective study using the medical records of cases in Obstetric and Gynecology Department at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado 2011 – 2015. The results showed that there were 33 cases of endometriosis during that period. The most frequent cares were ≥39 years old (39,3%), nulliparous (36,3%), complaint of abdominal pain (81,8%), and most types of endometriosis was ovarian endometrial cyst (78,8%). Treatment given was medical therapy and operation.Keywords: endometriosis Abstrak: Endometriosis merupakan kelainan ginekologik jinak yang sering diderita oleh perempuan usia reproduksi yang ditandai dengan adanya glandula dan stroma endometrium di luar letak normal. Penyakit ini makin mendapat perhatian dari para peneliti dikarenakan endometriosis makin sering terjadi pada wanita namun belum diketahui mekanisme yang jelas tentang terjadinya penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita endometriosis yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan menggunakan catatan rekam medik dengan subjek penelitian ialah semua kasus di bagian obstetric dan ginekologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2011-2015. Hasil penelitian memperlihatkan 33 kasus endometriosis dengan distribusi terbanyak menurut kelompok umur ≥ 39 (39,3%), nulipara (36,3%). Keluhan nyeri perut (81,8%). Jenis endometriosis terbanyak adalah ovarian endometrial cyst (78,8%). Penanganan yang diberikan berupa terapi medikamentosa dan operasi.Kata kunci: endometriosis
HUBUNGAN LAMA TERJADINYA DMT2 DENGAN HEMATOKRIT PADA PASIEN DMT2 DI POLIKLINIK ENDOKRIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Lumingkewas, Christianto A. Y; Rotty, Linda W. A; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5193

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyper glycemia due to impaired insulin secretion, impaired insulin activity, or both. Chronic hyperglycemia in diabetes is associated with chronic damage and dysfunction of various organs, especially the eyes, kidneys, nerves, heart, and blood vessels. Increased hematocrit can result in impaired blood flow velocity. It is associated with increased blood viscosity causes vasoconstriction of blood vessels due to thickening of the membrane. Research purpose: To determine the correlation between hematocrit and duration of Diabetes Mellitus Type 2 in the polyclinic of endocrinology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Msnado. Method: The type of this research is descriptive research with cross-analytic sectional study design. In this research intended to analyzing the correlation between hematocrit with long occurs DM type 2. Research results: By using purposive sampling method found 32 people as sample who had been diagnosed with Diabetes Mellitus Type 2. The test result statistic using Speatman Correlation duration of diabetes to hematocrit is obtained numerical coefficients -0.191 and p value of 0.294. Conclusion: From the results of this research indicate that there is no correlation or significant correlation (p>0.294) between hematocrit with long occurs Diabetes Mellitus Type 2. Keywords: Diabetes Mellitus Type 2, hematocrit.     Abstrak: Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi akibat gangguan sekresi insulin, gangguan aktivitas insulin, atau keduanya. Hiperglikemi kronis pada diabetes berhubungan dengan kerusakan kronis dan disfungsi berbagai organ terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah.Peningkatan hematokrit dapat mengakibatkan kecepatan aliran darah terganggu. Hal ini berkaitan dengan viskositas darah yang meningkat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi akibat penebalan membran pembuluh darah. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan antara hematokrit dan lama terjadinya diabetes melitus tipe-2 di poliklinik endokrin BLU RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Metode: Jenis Penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Analitik dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Dalam penelitian dimaksudkan untuk menganalisis hubungan antara Hematokrit dengan lama terjadinya DM Tipe-2. Hasil penelitian: Dengan menggunakan metode purrpossive sampling didapatkan 32 orang sebagai sampel yang telah didiagnosis Diabetes Melitus tipe 2. Hasil Uji Statistik Spearman Correlation lamanya diabetes terhadap hematokrit didapatkan angka koefisien sebesar -0,191 dan p value 0,294. Simpulan: Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat  korelasi atau hubungan yang bermakna (p>0,294) antara Hematokrit dengan Lama Terjadinya DM tipe 2. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe-2, hematokrit.
PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI PUSKESMAS KOTA MANADO TERHADAP PROFILAKSIS VITAMIN K Suoth, Sandy; Gunawan, Stevanus; Pateda, Vivekenanda
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8146

Abstract

Abstract: In Indonesia, the infant mortality rate (IMR) is 41.4 per 1.000 live births. It is projected that the rate will be 18 per 1.000 live births in 2025. One of the efforts to decrease the IMR is prevention of the occurrence of cerebral hemorrhage in newborns. This hemorrhage is caused by coagulation disorders due to a deficiency of vitamin K. Vitamin K injection is essential for newborns to prevent this hemorrhage. This was a descriptive study with a cross-sectional design that was conducted by using questionnaires. Respondents were taken from 15 community health centers in Manado. The results showed that of the 102 birth aattendants: 60.8% had good knowledge; 69.6% thought that vitamin K prophylaxis should be administered to all newborn babies; 57.8% agreed that this prophylaxis should be administered after birth; 64.7% thought that vitamin K prophylaxis could prevent cerebral hemorrhage of the newborns; 78.4% agreed that vitamin K was available at the community health centers; 56.9% knew that vitamin K prophylaxis did not cause any harmful side effects; 87.3% gave vitamin K prophylaxis to the newborns; 85.3% administered vitamin K to the newbornss immediately after birth; and 89.2% provided community health centers with vitamin K. Conclusion: In this study, most of the birth attendants had good knowledge, administered vitamin K prophylaxis to the newborns, and provided the health community centers with vitamin K.Keywords: cerebral hemorrhage, vitamin K prophylaxis, birth attendantsAbstrak: Indonesia sebagai negara sedang berkembang mempunyai angka kematian bayi (AKB) 41,4 per 1.000 kelahiran hidup yang diproyeksikan menjadi 18 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2025. Salah satu upaya menurukan AKB ialah dengan mencegah terjadinya perdarahan otak pada bayi baru lahir. Perdarahan ini diakibatkan gangguan proses koagulasi oleh kekurangan vitamin K. Pemberian injeksi vitamin K sangat penting pada bayi baru lahir untuk mencegah perdarahan otak tersebut. Penelitian bersifat deskriptif dengan desain potong lintang dan menggunakan kuesioner yang dibagikan pada tenaga penolong persalinan di 15 puskesmas Kota Manado. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 102 tenaga penolong : 60,8% mempunyai tingkat pengetahuan tergolong baik; 69,6% berpendapat bahwa profilaksis vitamin K harus diberikan pada semua bayi baru lahir; 57,8% setuju profilaksis vitamin K bermanfaat untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir; 78,4% setuju ketersediaan vitamin K di Puskesmas/Pondok bersalin; 56,9% berpendapat bahwa tidak ada efek samping berbahaya untuk profilaksis vitamin K; 87,3% tenaga kesehatan memberikan profilaksis vitamin K; 85,3% tenaga kesehatan memberikan vitamin K segera setelah lahir; dan 89,2% tenaga kesehatan menyediakan vitamin K di puskesmas/pondok bersalin. Simpulan: Sebagian besar tenaga penolong persalinan pada 15 puskesmas di kota Manado mempunyai tingkat pengetahuan tergolong baik, memberikan profilaksis vitamin K, dan menyediakan vitamin K di puskesmas atau pondok bersalin.Kata kunci: perdarahan serebral, profilaksis vitamin K, tenaga penolong persalinan
Profil penyandang epilepsi di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Juli 2015 – Juni 2016 Hasibuan, Mughni H.; Mahama, Corry N.; Tumewah, Rizal
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14373

Abstract

Abstract: Epilepsy is one of the most common neurological diseases that can be complicated due to behavioral, cognitive, and mental disorders. Approximately 50 million people currently live with epilepsy worldwide. Epilepsy is still a major public health problem, not only because of its health implications but also for its connotations in social, cultural, psychological, and economic life aspects. This study was aimed to obtain the profile of patients with epilepsy in the Neurology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from July 2015 to June 2016. This was a descriptive retrospective study. The results showed that the number of epileptic patients was higher in males than in females. Epipleptic patients were more common in young adult age group, high school graduated, had no ocuupation yet and were still students. Majority of patients had partial seizure type (focal) epilepsy. Most epileptic patients were treated with monotherapy antiepileptic drugs. Based on the seizures, most patients had uncontrolled seizure.Keywords: epilepsy, seizure. Abstrak: Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf yang paling umum dan dapat menjadi rumit dengan gangguan perilaku, kognitif , dan mental. Sekitar 50 juta orang saat ini hidup dengan epilepsi di seluruh dunia. Epilepsi masih masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena bukan hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga berdampak pada sosial, ekonomi, psikologis dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh profil penyandanfn epilepsi dalam 1 tahun di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2015-Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data penderita Epilepsi yang tercatat di rekam medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2015 hingga Juni 2016. Hasil penelitian menunjukkan penyandang epilepsi laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Terbanyak ditemukan pada golongan usia dewasa muda, lulusan SMA, belum bekerja dan masih berstatus sebagai pelajar. Penyandang epilepsi dengan jenis bangkitan parsial (fokal) paling banyak ditemukan dari pada yanng dengan jenis bangkitan umum. Pengobatan tersering yang dilakukan terhadap penyandang epilepsi ialah dengan monoterapi obat-obat anti epilepsi. Berdasarkan terkontrolnya kejang pada pasien epilepsi, lebih banyak kejang tidak terkontrol. Kata kunci: epilepsi, kejang.
PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF.DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2012 - DESEMBER 2012 Nelwan, Stella R.; Niode, Nurdjannah J.; Kapantow, Marlyn G.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3617

Abstract

Abstract: Condyloma acuminata, also known as genital warts, is a vegetation of certain types of Human Papilloma Virus(HPV), stalky with bumpy surface. This disease is a sexually transmitted disease, most HPV infections in anogenital area are acquired during sex. This was a descriptive retrospective study, where the data were collected from medical records and registers book of sexually transmitted disease (STD) in Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The result showed that in 2012, there were 27 new cases of condyloma acuminata, 2.46% of all new patients Most age group found was 25-44 years which was 13 patients (48.15%), with sex distribution mostly found in female patients which was 14 patients (51.85%). Most occupation found was private employees by 10 patients (37.04%). Most affected locations in female patients was vulva and vulva with vagina by 5 patients each of them (35.71%), where as in male patients was penis which was found in 4 patients. The result also showed that HIV was the most comorbid disease found in 3 patients (11.11%). Conclusion: In this study, most condyloma acuminata patients is in 25-44 age group, mostly found in female, most occupation was private employee, most location affected in female were vulva and vulva with vagina, while in male patients was penis, most therapy used was podophyllin. Most comorbid disease was HIV. Keywords: Condyloma acuminata, Human papilloma virus, female    Abstrak: Kondiloma akuminata (KA) adalah vegetasi oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu, bertangkai dengan permukaannya berjonjot. Penyakit ini tergolong infeksi menular seksual, kebanyakan infeksi HPV di daerah anogenital didapatkan melalui hubungan seksual. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif; data diambil dari rekam medik dan buku register infeksi menular seksual bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan pada tahun 2012 dari total kunjungan baru terdapat 27 kasus baru KA (2,46%). Kelompok umur terbanyak didapatkan adalah 25-44 tahun sebanyak 13 orang (48,15%) dengan jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 14 orang (51,85%) Pada pekerjaan terbanyak pada pekerja swasta sebanyak 10 orang (37,04%) Lokasi lesi pada perempuan tersering di vulva dan vulva ditambah vagina masing-masing sebanyak 5 orang (35,71%), sedangkan pada laki-laki tersering di penis yaitu sebanyak 4 orang. Hasil penelitian juga didapatkan penyakit penyerta terbanyak adalah HIV sebanyak 3 orang (11,11%) . Simpulan: Dalam Penelitian ini, pasien KA terbanyak pada kelompok umur 25-44 tahun paling banyak pada perempuan, jenis pekerjaan pegawai, lokasi lesi pada perempuan tersering pada vulva dan vulva ditambah vagina sedangkan pada laki-laki tersering di penis, pengobatan tersering podofilin. Penyakit penyerta ada lah HIV. Kata kunci: Kondiloma Akuminta, Human papilloma virus, Perempuan.
Perbandingan prevalensi pterygium pada nelayan di Tuminting dengan petani di Rurukan Tangdilintin, Yusuf S.; Rares, Laya M.; Tongku, Yamin
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11013

Abstract

Abstract: Based on Riset Kesehatan Dasar 2013, North Sulawesi is one of 10 provinces in Indonesia that have the highest pterygium prevalence. Previous findings at different areas showed that pterygium is more common at areas with high altitude than at areas with low altitude. Topography of North Sulawesi with mountains and hills might be related to the high prevalence of pterygium at this province. This study was aimed to obtain the difference in pterygium prevalence at area with high altitude compared to area with low altitude at North Sulawesi. This study used a cross sectional quantitative design and was conducted at Tuminting (mean altitude about 0 km above sea level) and at Rurukan (mean altitude about 1km above sea level). There were 51 respondents at each location. Eye examination was performed and data about sun exposure were collected among fishermen at Tuminting and farmers at Rurukan. The results showed that the pterygium prevalence at Rurukan was 56.9% and at Tuminting was 41.2%. Conclusion: There was a difference in pterygium prevalence between people at high altitude area from people at low altitude area at North Sulawesi.Keywords: pterygium, altitude Abstrak: Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 Provinsi Sulawesi Utara termasuk dalam 10 provinsi dengan prevalensi pterygium tertinggi di Indonesia. Temuan sebelumnya di daerah yang lain menemukan prevalensi pterygium lebih tinggi di daerah dengan ketinggian dari permukaan laut yang tinggi dibandingkan daerah dengan ketinggian dari permukaan laut yang rendah. Topografi provinsi Sulawesi Utara yang sebagian besar terdiri dari pegunungan dan bukit-bukit mungkin berhubungan dengan tingginya prevalensi pterygium di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbedaan prevalensi pterygium pada daerah dengan ketinggian yang tinggi dengan daerah dengan ketinggian yang rendah di Sulawesi Utara. Desain penelitian ialah potong lintang kuantitatif yang dilakukan di Tuminting (ketinggian rata-rata sekitar 0 km di atas permukaan laut) dan di Rurukan (ketinggian rata-rata sekitar 1 km di atas permukaan laut). Terdapat 51 responden pada tiap-tiap lokasi penelitian dan dilakukan pemeriksaan mata serta pengumpulan data mengenai paparan terhadap matahari dari responden nelayan di Tuminting dan responden petani di Rurukan. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi pterygium di Rurukan 56,9% dan di Tuminting 41,2%. Simpulan: Terdapat perbedaan prevalensi pterygium di daerah dengan ketinggian dari permukaan laut yang tinggi (Rurukan) dibandingkan daerah dengan ketinggian dari permukaan laut yang rendah (Tuminting) di Sulawesi Utara. Kata kunci: pterygium, ketinggian daerah
Gambaran Kasus Kematian dengan Asfiksia di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado Periode 2013 - 2017 Kurniany, Nikita E.; Mallo, Johannis F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18460

Abstract

Abstract: Asphyxia was a condition cause by lack of oxygen and excess of carbon dioxide in the blood. There are three types of asphyxia: mechanical, non-mechanical, and pathologic asphyxia. This study was aimed to obtain the general description of death cases due to asphyxia in Manado North Sulawesi in the period 2013-2017. This was a descriptive retrospective study using the medical record of cases at Forensic and Medicolegal Department of Prof. Dr. R. D. Kandou. The results of visum et repertum showed that there were 26 death cases due to asphyxia. Most cases were in 2016 (10 cases, 38.5%). The most common cases were in age group of 17-25 years old (7 cases, 27%). Males (17 cases, 65%) were more frequent than females. Death due to mechanical asphyxia caused by drowning was the most common cases (11 cases; 42.3%). The most common sign of asphyxia was cyanosis (21 cases). Conclusion: Majority of the death cases due to asphyxia were males, age group 17-25 years, with mechanical asphyxia caused by drowning and cyanosis as the asphyxia sign.Keywords: asphyxia, mechanical asphyxia, non-mechanical asphyxia, pathology asphyxia, forensic Abstrak: Asfiksia adalah suatu kondisi yang disebabkan karena berkurangnya oksigen dan berlebihnya karbon dioksida dalam darah. Asfiksia terdiri dari tiga jenis klasifikasi yaitu asfiksia mekanik, non-mekanik, dan patologik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang kasus kematian dengan asfiksia di Manado Sulawesi Utara periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 26 kasus kematian dengan asfiksia. Kasus terbanyak pada tahun 2016 yaitu 10 kasus (38,5%). Kelompok usia terbanyak ialah 17-25 tahun sebanyak 7 kasus (27%). Jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan yaitu 17 kasus (65%). Kematian akibat asfiksia mekanik dengan jenis tenggelam merupakan kasus terbanyak yaitu 11 kasus (42,3%). Tanda asfiksia yang sering ditemukan ialah sianosis (21 kasus). Simpulan: Sebagian besar kasus kematian akibat asfiksia berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 17-25 tahun, dengan jenis asfiksia mekanik akibat tenggelam, dan sianosis sebagai tanda asfiksia.Kata kunci : asfiksia, asfiksia mekanik, asfiksia non-mekanik, asfiksia patologi, forensik
GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA ANAK DENGAN TERAPI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA RSUP PROF DR RD KANDOU Adam, Kartini W.; Umboh, Adrian; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6515

Abstract

Abstract: Leukemia is a neoplastic disease which is characterized with differentiation and proliferation of hematopoietic cells. Chemotherapy is one of the main therapy for cancer until the remission. Metabolites of chemotherapy may damage the kidney cells, ureter, and bladder which is marked with a decrease of kidney functions. This study aimed to obtain the kidney functions of pediatric patients with acute lymphoblastic leukemia (ALL) who got chemotherapy. This was a retrospective-cohort study by collecting the medical records of pediatric patients with ALL in Pediatric Cancer Center Estella of Hospital of Prof. DR. R.D Kandou period January 2010-August 2014, and then analyzed their Glomerulus Filtration Rate (GFR) using Mann-Whitney test on the induction phase and unpaired T-test on the consolidation phase. There were 42 cases in this study. The result showed no significant difference (P > 0.05) between the LFG induction and consolidation phase. Conclusion: There was not a significant different betwen renal function of children aged 2-12 years of high risk groups and of standard risk groups who got chemotherapy in induction phase and consolidation phase.Keywords: glomerulus filtration rate, acute lymphoblastic leukemia, chemotherapyAbstrak: Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel hematopoietik. Kemoterapi merupakan pengobatan utama kanker sampai ke tahap remisi. Metabolit obat kemoterapi dapat merusak sel-sel ginjal, ureter, dan kandung kemih ditandai dengan penurunan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ginjal pada anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) yang menjalani kemoterapi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif, dengan cara mengumpulkan rekan medik pasien anak dengan LLA di Pusat Kanker Anak Estella RSUP Prof. DR. R.D Kandou periode Januari 2010-Agustus 2014, lalu menganalisis LFG dengan menggunakan Uji Mann-whitney pada fase induksi dan Uji T tidak berpasangan pada fase konsolidasi. Terdapat 42 kasus dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat perbedaan bermakna (P > 0,05) antara LFG fase induksi dan konsolidasi. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara fungsi ginjal anak usia 2-12 tahun pada kelompok high risk (risiko tinggi) dan kelompok standard risk (risiko standar) setelah menjalani kemoterapi fase induksi dan fase konsolidasi.Kata kunci: laju filtrasi glomerulus, leukemia limfoblastik akut, kemoterapi

Page 61 of 108 | Total Record : 1074