cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Hubungan usia waktu menikah dengan kejadian kekerasan pada anak di Kota Manado Bulan Oktober 2014 – Oktober 2016 Sumayku, Gian P.S.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14681

Abstract

Abstract: Child abuse is all forms of painful treatment physical or emotional, sexual abuse, trafficking, neglect, commercial exploitation including sexual exploitation of children resulting in injury/loss of actual or potential harm to the child's health, child survival, child development or dignity children, conducted in the context of a relationship of responsibility, trust, or power. Early marriage can be defined as an inner and outer bond between a man and a woman as husband and wife at a young age/adolescent. This study was aimed to determine the relationship between marriage age and child abuse in Manado. This was a retrospective study with a cross-sectional design using secondary data from several sources in Manado from October 2014 to October 2016. The results showed that many cases of child abuse occured with parents at susceptible age of 21-25 years in 8 cases (47.1%), followed by age 31-35 years in 4 cases (23.5%), susceptible age of 26-30 years and >35 years, each in 2 cases (11.8%), and the least at the marriage age of 15-20 years in 1 case (5.88%). Conclusion: Parents/step parents that married at the age of 21-25 years had the higher percentage of child abuse compared to those that maried at the ages of 15-20 years and over 25 years.Keywords: marriage age, child abuse Abstrak: Kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk/tindakan perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, trafiking, penelantaran, eksploitasi komersial termasuk eksploitasi seksual komersial anak yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Perkawinan usia muda dapat didefenisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri pada usia yang masih muda/remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia waktu menikah dengan kekerasan pada anak di Kota Manado. Jenis penelitian ialah retrospektif dengan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari RS Bhayangkara, Polresta Manado, dan BKKBN Manado. Hasil penelitian ini menunjukan kasus kekerasan pada anak banyak terjadi pada usia 21-25 tahun yang berjumlah 8 kasus (47,1%), diikuti usia 31-35 tahun yang berjumlah 4 kasus (23,5%), usia 26-30 tahun dan >35 tahun masing-masing berjumlah 2 kasus (11,8%), dan yang paling sedikit pada usia waktu menikah 15-20 tahun berjumlah 1 kasus se (5,88%). Simpulan: Orang tua kandung/tiri dengan usia waktu menikah 21-25 tahun yang paling banyak melakukan kekerasan pada anak dibandingkan usia waktu menikah dini 15-20 tahun atau usia di atas 25 tahun. Kata kunci: usia menikah, kekerasan pada anak
HUBUNGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2009-2013 Maramis, Pingkan Putri; Kaunang, Erling David; Rompis, Johnny
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5050

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) is a congenital disorder that is common, with the incidence of 30% of all congenital abnormalities. The incidence of congenital heart disease in developed countries and developing countries ranges from 6-10 cases per 1000 live births, with an average of 8 per 1,000 live births. Nutritional status of a person is basically the person's state of health as a reflection of food consumption and use by the body. Many factors influence the nutritional status of infants and children with congenital heart disease. Nutritional status of patients with CHD is influenced nutrient inputs, energy requirements, dietary components. Objective: Knowing the relationship between congenital heart disease with nutritional status in children.  Methods:  This study is a retrospective analytic approach. The subjects were all children with congenital heart disease who are hospitalized in the Section of Child Health, Prof. Dr.  R. D. Kandou Manado in 2009-2013. The data taken in the form of data gender of the child, the child's age, weight and height as well as nutritional status. Data analysis was performed by Chi-Square test. Result: The number of respondents were 53 children, 34 boys and 19 girls. Types of congenital heart disease is the most common type of Atrial Septal Defect. Most people with experience malnutrition (54.7%), followed by poor nutrition (37.8%) and good nutrition (7.5%). With Chi-Square test of the hypothesis, obtained p-value = 0.045 which suggests a link between congenital heart disease with nutritional status in children. Conclusion: Based on the results of congenital heart disease associated with poor nutritional status in children or less. Keyword: congenital heart disease, nutritional status.   Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan bawaan yang sering dijumpai, dengan angka kejadian 30% dari seluruh kelainan bawaan.1 Insiden PJB dinegara maju maupun negara berkembang berkisar 6 – 10 kasus per 1000 kelahiran hidup, dengan rata-rata 8 per 1000 kelahiran hidup. Status gizi seseorang pada dasarnya merupakan keadaan kesehatan orang tersebut sebagai refleksi dari konsumsi pangan serta penggunaannya oleh tubuh.1 Banyak faktor ikut mempengaruhi status gizi pada bayi dan anak dengan PJB.2 Status gizi penderita PJB dipengaruhi masukan nutrien, kebutuhan energi, komponen diet.1 Tujuan: Mengetahui adanya hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan status gizi pada anak. Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan retrospektif. Subjek penelitian adalah semua anak dengan penyakit jantung bawaan yang dirawat inap di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2009-2013. Data yang diambil berupa data jenis kelamin anak, umur anak, berat badan dan tinggi badan anak serta status gizi. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil: Jumlah responden sebanyak 53 anak, 34 anak laki-laki dan 19 anak perempuan. Jenis PJB yang paling banyak diderita adalah jenis Atrial Septal Defect. Kebanyakan penderita mengalami gizi kurang (54.7%), diikuti dengan gizi buruk (37.8%) dan gizi baik (7.5%). Dengan uji hipotesis Chi-Square, didapatkan p-value = 0.045 yang menunjukkan adanya hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan status gizi pada anak. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan penyakit jantung bawaan berhubungan dengan status gizi buruk atau kurang pada anak. Kata Kunci: penyakit jantung bawaan, status gizi.
Fraktur geriatrik Kepel, Felicia R.; Lengkong, Andreissanto C.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.2.2020.30179

Abstract

Abstract: Elderly have higher risk for fractures due to aging process which causes decreased bone density and quality. Inferior trunk fractures are the most common fractures in the elderly group, namely fractures of the hip, pelvis, lower vertebrae, and ankle. Geriatric fractures can be caused by high and low impact mechanisms. Low impact fractures most often occur due to osteoporosis associated with a mechanism of fall. Changes in musculoskeletal system are decreased muscle mass as well as bone density and quality that lead to osteoporosis. The diagnosis of fracture is based on history, physical examination, and supporting investigations. Treatment of geriatric fractures needs to be carried out by a team of doctors consisting of orthopedic doctors and geriatric doctors. Good communication and appropriate therapy plans need to be prepared thoroughly to achieve proper treatment in handling geriatric patients, therefore, the quality of life can be improved and disabilities can be prevented.Keywords: geriatric fracture Abstrak: Kelompok lanjut usia (lansia) memiliki risiko tinggi untuk terjadinya fraktur akibat proses penuaan yang menyebabkan penurunan kepadatan dan kualitas tulang. Fraktur trunkus inferior merupakan fraktur paling umum pada kelompok lansia yaitu fraktur pinggul, panggul, vertebra bagian bawah, dan pergelangan kaki. Fraktur geriatrik dapat disebabkan oleh mekanisme high impact maupun low impact. Fraktur low impact paling sering terjadi disebabkan oleh karena keadaan osteoporosis disertai dengan mekanisme jatuh. Perubahan yang dapat terjadi pada muskuloskeletal yaitu penurunan massa otot serta penurunan kepadatan dan kualitas tulang yang menyebabkan terjadinya osteoporosis. Diagnosis fraktur ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Penanganan fraktur pada lansia perlu dilakukan oleh tim dokter yang terdiri dari dokter ortopedik dan dokter geriatrik. Komunikasi yang baik dan rencana terapi yang tepat perlu dipersiapkan agar pasien lansia dapat ditangani dengan baik sehingga dapat memperbaiki quality of life dan mencegah disabilitas.Kata kunci: fraktur geriatrik
Perbedaan Skor INA-MOCA pada Pemain Catur dan Bukan Pemain Catur Pauran, Scivo V.; P.S, Junita Maja; Khosama, Herlyani
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.15459

Abstract

Abstract: Aging is progressive declining process of many body functions, including cognitive function. Cognitive function is a conscious mental activity such as thinking, memory, learning, as well as language, and can be evaluated by using INA-MoCA. Chess is a popular game that requires intelligence. Some researchers believe that there is a close relation between cognitive function and chess. This study was aimed to determine whether there was any difference between the cognitive function of chess players and non-chess player. This was an analytic study with a cross-sectional study. Primary data were obtained from INA-MoCA score of the chess players and non-chess players. The results showed that in non-elderly category, the average score of INA-MoCA indicated that chess players had higher cognitive functions than non-chess players (p=0.43). In elderly category, the average score of INA-MoCA indicated that the chess players had better cognitive function than the non-chess players by 2.77 (p=0.03). Conclusion: Either elderly or non-elderly, chess players had higher cognitive function than non-chess players.Keywords: cognitive function, elder, chess, INA-MoCA Abstrak: Menua adalah proses penurunan banyak fungsi tubuh yang progresif, termasuk penurunan kognitif. Fungsi kognitif adalah aktivitas mental secara sadar seperti berpikir, mengingat, belajar, dan bahasa. Salah satu evaluasi fungsi kognitif dengan menggunakan INA-MoCA. Permainan catur merupakan permainan yang populer dan memerlukan kecerdasan. Beberapa peneliti percaya bahwa ada hubungan yang erat antara fungsi kognitif dan permainan catur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan fungsi kognitif antara pemain catur dan bukan pemain catur. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Data primer ialah skor INA-MoCA pemain catur dan bukan pemain catur. Hasil penelitian pada kelompok bukan lansia, rerata skor INA-MoCA mengindikasikan pemain catur memiliki fungsi kognitif yang lebih tinggi daripada yang bukan pemain catur (p=0,43). Pada kelompok lansia, rerata skor INA-MoCA menunjukan pemain catur memiliki fungsi kognitif yang lebih baik daripada bukan pemain catur dengan selisih 2,77 (p=0,03). Simpulan: Fungsi kognitif pemain catur baik pada lansia maupun bukan lansia lebih baik daripada bukan pemain catur.Kata kunci: fungsi kognitif, lansia, pemain catur, INA-MoCA
HUBUNGAN PRODUK Ca x P DENGAN KADAR C-TERMINAL CROSS LINKING TELOPEPTIDE TYPE I COLLAGEN PADA SUBJEK PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA RUTIN Pratama, Agung; Moeis, Emma Sy.; Mandang, Veny
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i3.5744

Abstract

Abstrak: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan yang telah mencakup seluruh masyarakat dunia dan berdampak pada jutaan orang dari seluruh ras dan etnis yang terjadi ketika kondisi fungsi ginjal mengalami gangguan dan hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal yang umum dilakukan. Ketidakseimbangan elektrolit (kalsium dan fosfat) di dalam tubuh akan berlangsung terus menerus dan irreversible pada PGK. CTX adalah biomarker serum yang digunakan untuk mengukur tingkat regenerasi tulang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan produk Ca x P dengan kadar CTX pada subjek PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif/analitik dengan rancangan potong lintang. Data diolah dengan cara disusun dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil: Dari penelitian ini tampak bahwa seluruh responden memiliki kadar CTX lebih diatas normal yaitu sebanyak 20 orang (100 %). Pada frekuensi hemodialisa yang dilakukan antara 192 – 239 x dan 288 – 335 x paling banyak ditemukan masing-masing sebanyak 6 orang (30%) dan pada frekuensi hemodialisa yang dilakukan antara 240 – 287 x sebanyak 5 orang (25%) diikuti frekuensi HD > 336 x sebanyak 3 orang (15%) yang terdiri dari 1 laki-laki (5%) dan 2 perempuan (10%). Simpulan: Rata-rata nilai serum kalsium pada subjek penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin adalah 7,96 mg/dl. Rata-rata nilai serum fosfat pada subjek penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin adalah 7,26 mg/dl. Terdapat hubungan positif hasil produk CaP dengan kadar CTX, walaupun secara statistik tidak bermakna. Kata kunci: Kalsium serum, Fosfat serum, CTX, PGK, Hemodialisis     Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a health concern that covered everyone in the world and affected millions of people from various race and ethnics in which the kidney did not functioning properly thus hemodialysis is a kidney replacement therapy which often performed. There will always be electrolite imbalance (Calcium and phosphat) in the body and this is irreversible in CKD. CTX is a serum biomarker that has been used to measure bone regeneration rate. Objectives: This study aims to asses the relation between Ca x P product and CTX level on CKD subjects who undergo routine hemodialysis. Methods: This study is a descriptive/ analysis study using a cross link design. Data processing was done by using table and charts. Results: From this study we found that all of the respondent who have an above normal CTX level are 20 people (100%). Hemodialysis frequency that have been done is between 192-239 times and 288-335 times which is the most frequent among 6 people (30%) and on hemodialysis frequency that have been done between 240-287 times on 5 people (25) followed by HD frequency >336 times on 3 people (15%); 1 male (5%) and 2 female (10%). Conclusions: The value of mean calcium serum on subjects with CKD who undergo routine hemodialysis is 7,96 mg/dL. Value of mean phosphat serum on subjects with CKD who undergo routine hemodialysis is 7,26 mg/dL. We found that there is a positive relationship between CaP product and CTX level, although not significant statistically. Keywords: serum calcium, serum phosphat, CTX, CKD, hemodialysis
Gambaran kadar trombosit dan hematokrit pada pasien diabetes tipe 2 dengan kaki diabetik di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Ruscianto, Daniel; Rotty, Linda W. A.; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10937

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia due to impaired insulin activity, or both. Uncontrolled DM will lead to chronic complication, such as microangiopathy, macroangiopathy. and neuropathy. Diabetic foot is one of the chronic complications. This complication is associated with abnormality of thrombocyte and hematocrit levels that influence the blood flow. This study aimed to find out the profile of thrombocyte and hematocrit levels in patients with type 2 DM with diabetic foot at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 25 patients type 2 DM with diabetic foot as samples consisted of:10 males (40%) and 15 females (60%). The mean of hematocrit level in males was 35.20% and in females was 28.40%. The mean of thrombocyte level was 391.4 x 103/mm3.Keywords: diabetic foot, thrombocyte, hematocritAbstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduannya. Hiperglikemi pada DM yang tidak terkontrol menyebabkan komplikasi kronis, seperti mikroangiopati,makroangiopati dan neuropati. Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis. komplikasi ini berkaitan dengan kelainan kadar trombosit dan hematokrit yang mempengaruhi peredaran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar trombosit dan hematokrit pada pasien diabetes tipe 2 dengan kaki diabetik di BLU RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Terdapat 25 pasien dengan DM tipe 2 yang memiliki komplikasi kaki diabetes yang menjadi sampel penelitian ini. Berdasarkan distribusi jenis kelamin perempuan sebanyak 15 pasien (60%) dan pada pasien laki-laki sebanyak 10 pasien (40%). Rata-rata kadar hematokrit pasien laki-laki adalah 35.20% dan perempuan adalah 28.40%. Rata rata kadar trombosit pasien adalah 391,4 x 103/mm3.Kata kunci: kaki diabetes, trombosit, hematokrit
Perbandingan antara ondansetron 4 mg iv dan deksametason 5 mg iv dalam mencegah mual-muntah pada pasien laparotomi dengan anestesia umum Yanhil, Sitti I.; Kambey, Barry I.; Tambajong, Harold F.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14559

Abstract

Abstract: Nausea and vomiting are the most frequent side effects which occur postoperatively as a result of general anesthesia. Postoperative nausea and vomiting may increase morbidity and extend the duration of patient to stay at the recovery room. Ondansetron drug that has the effect as 5-HT3 antagonist receptor and dexamethasone administration might be the drug of choice in preventing postoperative nausea and vomiting. This study was aimed to compare the effect of 4 mg ondansetron and 5 mg dexamethasone administration on the incidence of postoperative nausea and vomiting in laparotomy surgery with general anesthesia. This was a prospective analytical study with an experimental method. Samples were obtained by using consecutive random sampling. There were 32 patients aged 18 to 60 years old, ASA I-II clasification, divided into two treatment groups as follows: ondansetron group given at the end of operation and dexamethasone group given before the induction of anesthesia. The resultas showed that complaints of postoperative nausea and vomiting mostly occured at the 5 mg dexamethasone group (37.5%) rather than 4 mg ondansetron group (12.5%). The Mann-Whitney test showed that there were no significant difference between both groups (p>0.05). Conclusion: Administration of 4 mg ondansetron intravenously has the same effectivity as 5 mg dexamethasone intravenously in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting after laparotomy with general anesthesia. Keywords: nausea and vomiting, ondansetron, dexamethasone Abstrak: Mual-muntah merupakan efek samping yang paling sering didapatkan pasca operasi akibat pemberian anestesia umum. Mual-muntah pasca operasi dapat meningkatkan morbiditas dan memperpanjang masa rawat pasien dari ruang pulih. Pemberian obat ondansetron yang berefek 5-HT3 reseptor dan deksametason dapat menjadi obat pilihan dalam mencegah terjadinya mual muntah pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian ondanetron 4 mg dan deksametason 5 mg terhadap kejadian mual-muntah pasca operasi pada bedah laparotomi dengan anestesia umum. Jenis penelitian ialah analitik prospektif dengan metode eksperimental. Sampel didapatkan secara consecutive random sampling yang dilakukan pada 32 pasien dengan rentang usia 18-60 tahun, klasifikasi ASA I-II, yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan: kelompok ondansetron yang diberikan di akhir operasi dan kelompok deksametason sebelum induksi anestesia. Hasil penelitian mendapatkan keluhan mual muntah pascaoperasi lebih banyak terjadi pada kelompok deksametason 5 mg (37,5%) dibandingkan kelompok ondansetron 4 mg (12,5%). Uji Mann-Whitney mendapatkan tidak ada perbedaan bermakna antara keduanya (p >0,05). Simpulan: Pemberian ondansetron 4 mg intravena memiliki efektivitas yang sama dengan deksametson 5 mg iv dalam menurunkan kejadian mual-muntah pasca operasi laparotomi dengan anestesia umum.Kata kunci: mual muntah, ondansetron, deksametason
GAMBARAN LAMA KERJA ATRAKURIUM PADA PASIEN YANG MENJALANI ANESTESIA UMUM DI IBS RSUP PROF KANDOU MANADO NOVEMBER-DESEMBER 2013 Lamerkabel, Rosiana; Tambajong, Harold; Lalenoh, Diana
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.4694

Abstract

Abstrak: Obat pelumpuh otot adalah obat yang digunakan selama anestesi dan memfasilitasi intubasi. Pelumpuh otot non depolarisasi merupakan antagonis dari fase I blok pelumpuh otot depolarisasi, karena ia menduduki reseptor asetilkolin sehingga depolarisasi oleh suksinilkolin sebagian dicegah. Atrakurium adalah salah satu obat pelumpuh otot non depolarisasi yang mempunyai struktur benziliquinolin yang berasal dari tanaman Leontice Leontopeltalum, keunggulan adalah metabolisme terjadi di dalam darah, tidak bergantung di pada fungsi hati dan ginjal, tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran lama kerja dari obat pelumpuh obat non depolarisasi atrakurium.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif yang dilakukan pada ruang pasca bedah Instalansi Bedah Sentral RSUP.Prof. DR. R. D. Kandou Manado dengan subjek berjumlah 10 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Dapat disimpulkan bahwa rerata gambaran lama kerja adalah 35,6 menit. Kata kunci: pelumpuh otot non depolarisasi, atrakurium     Abstract: Muscle relaxant drugs are drugs used during anesthesia and facilitate intubation . Non- depolarizing muscle relaxants is an antagonist of the phase I block of depolarizing muscle relaxants , because it occupies the acetylcholine receptors so that depolarization by succinylcholine partially prevented . Atracurium is one of the non- depolarizing muscle relaxant drugs that have a structure that is derived from plants benziliquinolin LeonticeLeontopeltalum , excellence is metabolism occurs in the blood , does not depend on the function of the liver and kidney , had no effect on the accumulation of repeated administration . The purpose of this study is to describe the work of the old non- depolarizing paralytic drug drug atracurium . This study is a prospective descriptive study conducted on postoperative space Installation Central Surgical Hospital .Prof .DR . R. D. Kandou Manado with the subject of 10 people who have met the inclusion criteria . It can be concluded that the average length of employment was 35.6 overview minutes. Keywords: Muscle relaxants, Atracurium
PERBEDAAN TEKANAN DARAH PADA ANAK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DAN TINGGAL DI TEPI PANTAI Jufri, Alan J.; Umboh, Adrian; Masloman, Nurhayati
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7403

Abstract

Abstract: Blood pressure is the force that is necessary for blood to flow in blood vessels and circulation to all parts of the human body. The air pressure in the mountains is lower than at the beach, this causes increased erythrocyte production, which results in increased viscocity and resistance. This study aimed to determine the difference in blood pressure among children who live in the mountains and at the seaside. This was an observational survey with a cross sectional design. Samples taken to represent the two major populations were elementary students Wulurmaatus Modoinding, South Minahasa (mountain area) and elementary students Inpres 12/79 Wangurer, Madidir Bitung (beach area). In the target population sampling is done by simple random sampling and at affordable population sampling conducted consecutive sampling. Found as many as 28 boys in the mountains and 24 boys on the beach with an average TDS respectively 90.3 mmHg and 94.1 mmHg (ρ = 0.126) and the average TDD respectively 62, 1 mmHg and 64.7 mmHg (ρ = 0.146). And as many as 25 girls in the mountains and 28 girls on the beach with an average TDS respectively 88.7 mmHg and 93.5 mmHg (ρ = 0.065) and the average TDD found respectively 63.7 mmHg and 66 mmHg (ρ = 0.139). From the results obtained it can be concluded that there was no difference in blood pressure (systolic and diastolic) in children who live in the mountains and at the seaside.Keywords: blood pressure, children, mountains, beach frontAbstrak: Tekanan darah merupakan kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh manusia. Tekanan udara di pegunungan lebih rendah di bandingkan di tepi pantai; hal ini meningkatkan produksi eritrosit, yang mengakibatkan peningkatan viskositas serta resistensi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah pada anak yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai. Penelitian ini bersifat survei observasional dengan rancangan potong lintang. Sampel diambil mewakili ke dua populasi, yaitu siswa SD Inpres Wulurmaatus Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (pegunungan) dan siswa SD Inpres 12/79 Wangurer, Kecamatan Madidir Kota Bitung (tepi pantai). Pada populasi target pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dan pada populasi terjangkau pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Ditemukan sebanyak 28 anak laki-laki di pegunungan dan 24 anak laki-laki di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 90,3 mmHg dan 94,1 mmHg (ρ=0,126) serta rata-rata TDD masing-masing 62,1 mmHg dan 64,7 mmHg (ρ=0,146). Sebanyak 25 anak perempuan di pegunungan dan 28 anak perempuan di tepi pantai dengan rata-rata TDS masing-masing 88,7 mmHg dan 93,5 mmHg (ρ=0,065) serta rata-rata TDD ditemukan masing-masing 63,7 mmHg dan 66 mmHg (ρ= 0,139). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan tekanan darah (sistolik dan diastolik) pada anak yang yang tinggal di pegunungan dan di tepi pantai.Kata kunci: tekanan darah, anak, pegunungan, tepi pantai
Gambaran persalinan letak sungsang di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Putra, Bonatua A.; Suparman, Eddy; Tendean, Hermie M.M.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.12798

Abstract

Abstract: Breech presentation is lengthwise position of fetus in the womb with its head is in the fundus. Causes of breech presentation are unknown, however, there are some risk factors, among others: uterine abnormality, gemelli, easily movable fetus (in multiparous, hidramnion, premature), and head fixation on the pelvic brim is not good enough or no fixation at all (in narrow pelvis, hydrocephalus, or anencephaly cases). This study aimed to obtain the profile of breech delivery. This was a descriptive retrospective study using medical records at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period January-December 2014. The results showed that of the total 3347 labors, there were 152 cases of breech delivery (2.2%). The highest percentages were as follows: multiparous mothers (64.5%); maternal age >35 years (28.9%); 37-40 weeks of gestation (78.3%); complete breech (66.4%); and perabdominal labor (78.3%). Birth weights were mostly in the range of 2500-3500 grams (65.1%) with Apgar scores 4-6 (61.2%). Keywords: breech delivery. Abstrak: Letak sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah. Penyebab terjadinya letak sungsang tidak diketahui, tetapi terdapat beberapa faktor risiko antara lain: kelainan uterus, gemeli, janin mudah bergerak (pada multipara, hidramnion, prematur), dan fiksasi kepala pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak ada (pada panggul sempit, hidrosefalus, anensefali). Penelitian ni bertujuan untuk mendapatkan gambaran persalinan letak sungsang. Jenis penelitian ialah retrospektif deskriptif melalui rekam medik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2014. Hasil penelitian mendapatkan 152 kasus persalinan letak sungsang yaitu sebesar 2,2% dari total 3347 persalinan. Persentase tertinggi ditemukan pada ibu multipara (64,5%); usia ibu >35 tahun (28,9%); usia kehamilan 37-40 minggu (78,3%); complete breech (66,4%); persalinan perabdominal (78,3%). Berat badan lahir bayi letak sungsang terbanyak pada rentang 2500-3500 g (65,1%) dengan nilai apgar terbanyak pada nilai 4-6 (61,2%). Kata kunci: persalinan letak sungsang

Page 60 of 108 | Total Record : 1074