cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Profil perdarahan uterus abnormal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2014 Rifki, Muhammad; Loho, Maria; Wagey, Frank M.M
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.12108

Abstract

Abstract: Abnormal Uterine Bleeding (AUB) is the most common cause of abnormal vaginal bleeding among women in reproductive age. Approximately 30% of women come to health care center with complaints of AUB during their reproductive period. The causes of AUB include a broad spectrum of diseases. The main classification of AUB according to FIGO has 9 categories of causes that is the acronym as "PALM-COEIN". This was a descriptive retrospective study using data of medical records of patients with abnormal uterine bleeding. The results showed that of: 51 cases with AUB, most were at the age of 41-50 years (24 cases; 47.06%), with the youngest age was 14 years and the oldest age was 55 years. Most of the cases had normal body mass index, multiparity, and housewife. PALM-COEIN classification showed that most were leiomyoma (29 cases; 56.86%) and ovulatory dysfuntion (11 cases; 21.57%). Conclusion: Of the 51 patients with AUB at the Obstetrics and Gynecology Department of Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado from January 2013 to December 2014, most cases were aged 41-50 years, multiparity, normal BMI, leiomyoma, treatment with D & C, and the pathological tesult was hyperplasia Keywords: abnormal uterine bleeding (AUB) Abstrak: Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) merupakan penyebab tersering perdarahan abnormal per vaginam pada masa reproduksi wanita. Sekitar 30% wanita datang ke pusat pelayanan kesehatan dengan keluhan PUA selama masa reproduktif. Penyebab terjadinya PUA mencakup spektrum yang luas dari berbagai penyakit. Klasifikasi utama yang digunakan untuk PUA berdasarkan FIGO terdapat 9 kategori penyebab yaitu akronim dari “PALM-COEIN”. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif, dengan menggunakan data rekam medik pasien dengan PUA. Hasil penelitian memperlihatkan dari 51 kasus dengan PUA didapatkan paling sering pada usia 41-50 tahun sebanyak 24 kasus (47,06%), dengan usia termuda 14 tahun dan usia tertua 55 tahun. Kasus PUA terbanyak dengan Indeks Massa Tubuh normal, paritas multipara, dan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga. Klasifikasi penyebab dengan PALM-COEIN sebagian besar ialah jenis leiomioma sebanyak 29 kasus (56,86%) dan jenis ovulatory dysfuntion sebanyak 11 kasus (21,57%). Simpulan: Dari 51 kasus PUA di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. R. D. Kandou Manado kurun waktu Januari 2013 sampai Desember 2014 ditemukan terbanyak pada usia 41-50 tahun, multipara, IMT normal, jenis PUA leiomioma, pengobatan D & C, dengan hasil PA hiperplasia.Kata kunci: perdarahan uterus abnormal (PUA)
Profil endoskopi gastrointestinal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2016 – Agustus 2016 Kaminang, Giovanni A.; Waleleng, Bradley J.; Polii, Efata B.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14562

Abstract

Abstract: Gastrointestinal Endoscopy (GIE) is a technique in gastroenterology – hepatology to directly see condition of the gastrointestinal tract by using a tool called endoscope. For endoscopy in the upper gastrointestinal tract is called esophagogastroduodenoscopy (EGD). Besides Esophagogastroduodenoscopy there is also colonoscopy, is used to evaluate the condition of lower gastrointestinal tract, in the area of rectum, sigmoid colon, descending colon, transverse colon, ascending colon, cecum, and also ileum.This research is aimed to understanding profile of gastrointestinal endoscopy in patients in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period January 2016 – August 2016. This was a descriptive retrospective study using taking secondary data of patients from Medical Record Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that there 59 patients with endoscopy examination performed on them. The majority of patients were 30 males (51%), age group 50-59 years old (30%), with dyspepsia (epigastric pain) as indication (57%), EGD (80%), and chronic gastritis plus Helicobacter pylori infection as diagnosis after biopsy (38%).Keywords: endoscopy, indication, diagnosis Abstrak: Endoskopi gastrointestinal (EGI) merupakan salah satu teknik dalam ilmu gastroenterology-hepatologi untuk melihat secara langsung keadaan di dalam saluran cerna dengan menggunakan alat yang bernama endoskop. Pemeriksaan endoskopi pada saluran cerna bagian atas disebut esofagogastrodudenoskopi (EGD) sedangkan kolonoskopi digunakan untuk mengevaluasi serta memeriksa lumen pada saluran cerna bagian bawah, yaitu pada daerah rektum, kolon sigmoid, kolon desenden, kolon transversum, kolon asenden, sekum, serta ileum. Penelitian ini bertujuan unutk mengetahui profil EGI pada pasien di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou periode Januari 2016-Agustus 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien di Instalasi Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kando Manado. Dari hasil penelitian diperoleh pasien yang melakukan pemeriksaan endoskopi sebanyak 59 orang. Mayoritas pasien ialah pasien jenis kelamin laki-laki sebanyak 30 orang (51%), kelompok usia 50-59 tahun (30%), dengan indikasi dispepsia (nyeri epigastrium) (57%), tindakan endoskopi jenis EGD (80%), dan diagnosis dibiopsi gastritis kronik dengan infeksi Helicobacter pylori (38%). Kata kunci: endoskopi, indikasi, diagnosis
Profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2013 Isa, Dwi Y.F.; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E.J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.13042

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a chronic superficial fungal disease caused by Malasezzia furfur. Pityriasis versicolor can infect the face, neck, trunk, upper arms, underarms, and groin. Pityriasis versicolor is characterized by scaly patches of fine white or dark, irregular to regular shapes, and clear to diffuse limits. However, pityriasis versicolor is generally asymptomatic, therefore, commonly people do not realize that they are infected by that fungi. This study aimed to determine the profile of pityriasis versicolor at Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January to December 2013. This was a retrospective descriptive study based on the number of cases, sex, age, occupation, color of lesion, location of lesion, and type of treatment. The results showed that there were 36 cases of pityriasis versicolor, mostly were males (58.3%), age groups 15-24 years and 25-44 years (30.6%), and private workers (27.8 %). Most lesions were hypopigmentation (80.6%), located on the body area and the combination of the face, trunk, and extremities (38.9%). The most commonly prescribed treatment was topical antifungal therapy (77.8%). Keywords: pityriasis versicolor Abstrak: Pitiriasis versikolor merupakan penyakit jamur superfisial kronik yang disebabkan oleh Malasezzia furfur. Pitiriasis versikolor dapat menginfeksi wajah, leher, badan, lengan atas, ketiak, dan lipat paha. Pitiriasis versikolor ditandai dengan adanya bercak-bercak bersisik halus berwarna putih atau gelap, bentuk tidak teratur sampai teratur, dan batas jelas sampai difus. Umumnya gejala pitiriasis versikolor asimtomatik sehingga terkadang penderita tidak menyadari telah terinfeksi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari-Desember 2013. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, jenis kelamin, umur, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, dan jenis pengobatan. Hasil penelitian mendapatkan 36 kasus pitiriasis versikolor, terbanyak pada laki-laki (58,3%), kelompok usia 15-24 tahun dan 25-44 tahun (30,6%), dan pekerja swasta (27,8%). Lesi hipopigmentasi paling banyak ditemukan (80,6%) dengan lokasi lesi pada daerah badan dan kombinasi antara wajah, badan, ekstremitas (38,9%). Pengobatan yang paling sering diberikan ialah terapi antijamur topikal (77,8%).Kata kunci: pitiriasis versikolor
GAMBARAN ULTRASONOGRAFI HEPAR DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT BLU RSUP PROF.DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE MARET – JUNI 2014 Hadinata, Rahadiyan; Loho, Elvie; Timban, Joan F. J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6830

Abstract

Abstract: Ultrasonography of the liver is an accurate imaging modality for focal or diffuse liver disease, determine the primary tumor staging, detecting secondary deposits, investigation of calculus and jaundice, and as an aid in liver biopsy or interventional procedures. The purpose of this study was to describe the results of liver ultrasonography in the Department of Radiology of Prof. Dr RD Kandou Hospital Manado from March 1 to June 30, 2014. This study is a retrospective descriptive study by using secondary data from medical records contained in the department of radiology BLU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado from March to June 2014. Overall hepatic ultrasonography results found 77 picture, with a picture of the liver more in women (19.5 %). Conclusions: Abnormal liver ultrasound picture of the highest in the age group 36-45 years, 46-55 years, 56-65 years (23.4 %). Most liver ultrasound appearance is an appearance of fatty liver ultrasonography (37.7 %). We recommend that patients come with complaints such as chronic abdominal pain, and repeatedly confirmed the cause through the abdominal ultrasound examination, to help diagnose, exclude other abdominal disorders and prevent displacement cause abdominal pain.Keywords: liver ultrasonography, liver diseaseAbstrak: Ultrasonografi hepar merupakan modalitas pencitraan yang akurat untuk penyakit hati fokal atau difus, menentukan staging tumor primer, mendeteksi deposit sekunder, pemeriksaan penunjang untuk kalkulus dan jaundice, dan sebagai bantuan pada biopsi hati atau prosedur intervensional. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil Ultrasonografi hepar di Bagian Radiologi FK UNSRAT/SMF Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Maret – 30 Juni 2014. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa catatan medik yang terdapat di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Maret – Juni 2014. Keseluruhan hasil Ultrasonografi hepar ditemukan 77 gambaran, dengan gambaran hepar lebih banyak pada perempuan (19,5%). Simpulan: Gambaran USG hepar abnormal terbanyak pada kelompok umur 36 – 45 tahun, 46 – 55 tahun, 56 – 65 tahun (23,4%). Gambaran USG hepar terbanyak adalah gambaran USG Fatty Liver (37,7%). Sebaiknya pasien yang datang dengan keluhan seperti nyeri abdomen yang kronik, dan berulang dipastikan penyebabnya melalui pemeriksaan USG abdomen, Untuk membantu mendiagnosis, menyingkirkan kemungkinan kelainan abdomen lainnya dan mencegah memberatnya penyebab nyeri abdomen.Kata kunci: Ultrasonografi Hepar, Penyakit Hepar
HUBUNGAN EKSKRESI ALBUMINURIA DENGAN PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI DI BLU/RSUP Prof. dr. R.D. Kandou MANADO NOVEMBER - DESEMBER 2012 Biseph, Robert M.
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i3.3240

Abstract

Penyakit jantung hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang berlangsung kronis dan berhubungan dengan hipertrofi ventrikel kiri dan disfungsi endotel. Kejadian albuminuria pada penderita hipertensi berhubungan dengan kerusakan endotel glomerulus dan merupakan prediktor penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara ekskresi albuminuria dengan penyakit jantung hipertensi berdasarkan derajat penyakit menurut NYHA. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien penyakit jantung hipertensi (PJH) yang di rawat di BLU/RSUP Prof. dr. R.D.Kandou Manado yang berjumlah 20 pasien dengan derajat ringan dan 20 pasien dengan derajat berat. Pengukuran variabel berdasarkan catatan pada rekam medik pasien, anamnesis dan pengukuran albuminuria dengan menggunakan dipstick. Hasil: Uji chi-square menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara ekskresi albuminuria dengan penyakit jantung hipertensi (p=0,001) dengan nilai prediksi OR pada CI 95% (2,27-48,75) ialah 10,52. Tidak terdapat hubungan antara umur dengan ekskresi albuminuria (p=0,799), jenis kelamin dengan ekskresi albuminuria (p=0,121). Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini kejadian albuminuria berhubungan dengan penyakit jantung hipertensi dimana terjadi peningkatan resiko ekskresi albuminuria pada pasien PJH dengan derajat berat dibandingkan dengan pasien PJH dengan derajat ringan.Kata Kunci: Albuminuria, Penyakit Jantung Hipertensi
Right Ventricle Dysfunction in COVID-19 Patients Nikita P. Toding Labi; Agnes L. Panda; Edmond L. Jim
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37751

Abstract

Abstract: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) has become a global pandemic. Related to its pathomechanisms and complications, COVID-19 is identified as a complex multi-organ disease. Cardiac involvement is reported in COVID-19 patients. One of the cardiovascular complications of COVID-19 is right ventricular dysfunction. This study aimed to provide an overview of right ventricular dysfunction in COVID-19 patients and its association with the patient's clinical outcomes. This was a literature review study conducted by searching and reviewing literatures on online databases as follows: PubMed, ScienceDirect, and ProQuest. There were 14 literatures obtained in this study with a total of 1,435 patients. All articles were observational studies conducted in January-April 2020 across various countries. Samples of patients with right ventricular dysfunction ranged from 3.6 to 41.7% of the total population of each study. Most studies defined right ventricle dysfunction as TAPSE<16-17 mm. Several echocardiography parameters and their threshold values were as follows: RV S' <9,5-10 cm/s; RVFAC <35%; right ventricular free wall strain (RVFWS); and right ventricular global longitudinal strain (RVGLS) according to ASE guidelines. In conclusion, right ventricular dysfunction has a high prevalence and is associated with poor outcomes of COVID-19 patients. Transthoracic echocardiography examination might become a risk stratification modality in hospitalized COVID-19 patients.Keywords: right ventricular dysfunction; coronavirus disease 2019; transthoracic echocardiography Abstrak: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global. Terkait dengan patomekanisme dan komplikasinya, COVID-19 dinyatakan sebagai penyakit multi-organ kompleks. Telah dilaporkan adanya keterlibatan jantung pada COVID-19. Salah satu komplikasi kardiovaskular dari COVID-19 ialah disfungsi ventrikel kanan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran disfungsi ventrikel kanan pada pasien COVID-19 dan hubungannya terhadap luaran klinis pasien. Jenis penelitian ialah literature review. Melalui penelusuran pada tiga database (PubMed, ScienceDirect, ProQuest), didapatkan 14 literatur dengan total 1.435 pasien. Semua artikel merupakan studi observasional yang dilakukan pada Januari-April 2020 dan tersebar di berbagai negara. Sampel pasien dengan disfungsi ventrikel kanan tercatat berkisar antara 3,6-41,7% dari total populasi tiap studi. Sebagian besar studi menetapkan definisi disfungsi ventrikel kanan dengan nilai TAPSE<16-17 mm. Beberapa parameter ekokardiografi lain beserta nilai ambang yang digunakan yaitu: RV S' <9,5-10 cm/s; RVFAC <35%; serta right ventricular free wall strain (RVFWS) dan right ventricular global longitudinal strain (RVGLS) berdasarkan panduan ASE. Simpulan penelitian ini ialah disfungsi ventrikel kanan pada COVID-19 memiliki prevalensi tinggi dan berhubungan dengan luaran pasien yang buruk. Pemeriksaan ekokardiografi transtorakal dapat menjadi modalitas stratifikasi risiko pada pasien COVID-19 yang dirawat inap.Kata kunci: disfungsi ventrikel kanan; coronavirus disease 2019; ekokardiografi transtorakal
Peluang Pelaksanaan dan Tantangan Pengembangan Hospital without Walls pada Pelayanan Kebidanan dan Kandungan di RSUD Noongan Mewengkang, Mario L.; Ratag, Gustaaf A. E.; Posangi, Jimmy
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.36903

Abstract

Abstract: Hospitals as the health referral facilities play an important role in decreasing the maternal mortality rate (MMR) since they also belong to the personal health service as a whole including mother child health care. This study was aimed to analyze the implementation opportunities and challenges of developing ‘hospital without walls’ program in obstetrics and gynaecology services at RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Noongan. This was a qualitative study. Informants in this study were taken from three places, as follows: the hospital, namely the Director of the Hospital and obstetrician-gynaecologist doctors; puskesmas (primary health center), namely the heads of puskesmas; and the community. Data were collected through in-depth interviews and direct observation. The results indicated that ‘hospital without walls’ in obstetrics and gynaecology services at RSUD Noongan had the opportunity to be implemented because this program had been partly applied by the hospital and it had a good impact on the hospital, health center, and the community as well as PONED-PONEK collaboration. The challenges of imple-menting this program at RSUD Noongan were the existence of cold cases caused by gatekeeper failure, lack of health facilities and human resources at the puskesmas, and insubstantial collaboration between PONED-PONEK. In conclusion, ‘hospital without walls’ program in obste-trics and gynaecology services can be implemented at RSUD Noongan with awareness to the possible challenges in its development.Keywords: opportunity and challenge; hospital without walls; obstetrics and gynecology services Abstrak: Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan paripurna berperan penting dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) termasuk pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang pelaksanaan dan tantangan pengembangan program hospital without walls pada pelayanan kebidanan dan kandungan di RSUD Noongan. Jenis penelitian ialah kualitatif. Informan penelitian diambil dari tiga tempat yaitu: RSUD Noongan (Direktur Rumah Sakit dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi); puskesmas (kepala puskesmas); dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hospital without walls pada pelayanan kebi-danan dan kandungan di RSUD Noongan berpeluang untuk dilaksanakan karena sebagian pro-gram ini telah diterapkan oleh rumah sakit dan juga berdampak baik bagi rumah sakit, puskesmas dan masyarakat, serta kolaborasi PONED-PONEK. Tantangan pelaksanaan program ini di RSUD Noongan yaitu adanya cold case yang merupakan kegagalan gatekeeper, fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia (SDM) yang masih kurang di puskesmas, serta kolaborasi PONED-PONEK belum optimal. Simpulan penelitian ini ialah program hospital without walls pada pelayanan kebidanan dan kandungan berpeluang untuk dilaksanakan di RSUD Noongan dengan memperhatikan tantangan pengembangan.Kata kunci: peluang dan tantangan; hospital without walls; pelayanan kebidanan dan kandungan
Domestic Violence in COVID-19 Pandemic Era from January to September 2021 in Manado Phoebe C. A. Pangalila; James F. Siwu; Nola T. S. Mallo
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37372

Abstract

Abstract: Domestic violence has been reported globally in various countries, including Indonesia. The COVID-19 pandemic has intensified this issue, regardless the decrease shown in the number of cases reported. This study aimed to obtain the incidence rate of domestic violence, its influencing factors, and forms of domestic violence during the COVID-19 pandemic in Manado from January to September 2021. This was a retrospective and descriptive study with a cross-sectional design. Secondary data were domestic violence cases reported in Manado Women Empowerment and Child Protection Service. The results showed 11 reported cases. Mapanget and Wanea were districts that received the most reports. Victims were dominated by females who were wives, children, or niece of the perpetrators, aged under 18 years old, mostly under 5 years old. Household neglect was the most form of domestic violence. In conclusion, domestic violence cases reported in Manado from January to September 2021 were dominated by female victims and children of the perpetrators. The COVID-19 pandemic and patriarchal culture were suspected as indirect triggers in terms of household neglect as the most common form of domestic violence.Keywords: COVID-19 pandemics; domestic violence Abstrak: Kekerasan domestik (KDRT) telah dilaporkan secara global di beragam negara, termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 turut memperhebat kasus ini walaupun jumlah laporan kasus justru menurun. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran angka kejadian KDRT, faktor yang memengaruhinya, serta bentuk KDRT di Kota Manado pada saat pandemi Covid-19 periode Januari–September 2021. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder, yakni laporan kasus KDRT yang dikumpulkan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Manado. Hasil penelitian mendapatkan 11 kasus terlapor, dengan Mapanget dan Wanea sebagai kecamatan yang menerima laporan terbanyak. Korban didominasi oleh perempuan yang merupakan istri, anak, serta keponakan pelaku yang berusia di bawah 18 tahun, terbanyak ialah anak berusia kurang dari 5 tahun. Bentuk kekerasan terbanyak dialami ialah penelantaran rumah tangga. Simpulan penelitian ini ialah kasus KDRT terlapor di Kota Manado pada Januari-September 2021 didominasi oleh korban berstatus anak pelaku berusia kurang dari 5 tahun dan berjenis kelamin perempuan.  Pandemi Covid-19 dan budaya patriarki disinyalir menjadi pemicu tidak langsung dilihat dari penelantaran rumah tangga sebagai bentuk KDRT terbanyak.Kata kunci: pandemi Covid-19; kekerasan dalam rumah tangga
Occupational Accidents among Fishermen in Manado, North Sulawesi Fitri M. Suhartoyo; Oksfriani J. Sumampouw; Novie H. Rampengan
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37311

Abstract

Abstract: The International Labor Organization (ILO) noted that at global level more than 2.78 million people die per year due to occupational accidents or work-related diseases. In addition, there are approximately 374 million injuries and illnesses resulting from non-fatal occupational accidents each year. The Food and Agriculture Organization (FAO) in "The State of World Fisheries and Aquaculture" reported, as many as 24,000 fishermen per year died at sea during fishing activities. This study aimed to identify the prevalence of occupational accidents among fishermen in Manado City, North Sulawesi. This was a quantitative and analytical survey study using the cross-sectional design. This study was conducted at the Coastal Fishing Port Manado City, North Sulawesi and respondents were 264 fishermen. The instrument used in this study was a questionnaire that had been tested for validity and reliability. The results showed the prevalence of occupational accident was 70.8%. The description of the respondents’ occupational accidents showed that the most common experienced accident was injury as many as 47.7%, and the most injured body part was the hand as many as 37.1%. In conclusion, the prevalence of occupational accident among fishermen in Manado, North Sulawesi is still high.Keywords: work accident; fishermen Abstrak: International Labour Organization (ILO) mencatat, di tingkat global lebih dari 2,78 juta orang meninggal per tahun akibat kecelakaan kerja atau penyakit terkait pekerjaan. Selain itu, ada sekitar 374 juta cedera dan penyakit akibat kecelakaan kerja non-fatal setiap tahun. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam "The State of World Fisheries and Aquaculture" melaporkan, sebanyak 24.000 nelayan per tahun meninggal dunia di laut pada saat kegiatan penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi kecelakaan kerja pada nelayan di Kota Manado Sulawesi Utara. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan rancangan penelitian survei analitik, menggunakan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kota Manado Sulawesi Utara. Responden penelitian berjumlah 264 nelayan. Instrumen penelitian berupa angket yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian mendapatkan bahwa prevalensi kecelakaan kerja sebesar 70,8%. Gambaran kecelakaan kerja responden menunjukkan bahwa jenis kecelakaan yang dialami paling banyak ialah mengalami luka sebesar 47,7%, dan bagian tubuh yang mengalami cedera paling banyak ialah pada bagian tangan sebesar 37,1%. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi kecelakaan kerja pada nelayan di Kota Manado, Sulawesi Utara masih tinggi.Kata kunci: kecelakaan kerja; nelayan
Benefit of Six-minute Walk Test to the Quality of Life and Functional Capacity in Chronic Coronary Syndrome Patients Poniton P. A. R. Simamora; Starry H. Rampengan; Agnes L. Panda
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37750

Abstract

Abstract: Patients with chronic coronary syndrome (CSS) have lower quality of life (QoL) due to the high frequency of angina and limits in carrying out activities, which is reflected in their low functional capacity. The six-minute walk test (6-MWT) is used to assess the patient's QoL and functional capabilities. This study aimed to determine the benefit of the 6-MWT on QoL and functional capacity in CCS. This was a literature review study using four databases, namely PubMed, ClinicalKey, Google Scholar, and Science Direct. The results obtained five studies discussing the utility of 6-MWT for risk stratification, three studies discussing the utility of 6-MWT in assessing functional capacity, and four studies discussing the utility of 6-MWT in assessing the QoL in CCS patients. The low functional capacity of CCS patients contributed to decreased QoL. In conclusion, the 6-MWT is a simple walking test that is easy to perform, valid, responsive and can be tolerated by CCS patients, and it can be used for risk stratification, functional capacity assessment, and QoL assessment.Keywords: six-minute walk test, chronic coronary syndrome, quality of life, functional capacity Abstrak: Pasien sindrom koroner kronis (SKK) memiliki kualitas hidup yang lebih rendah karena tingginya frekuensi angina dan keterbatasan melakukan aktivitas yang tergambar dalam kapasitas fungsional yang rendah. Kualitas hidup pasien dan kapasitas fungsional dapat dievaluasi menggunakan tes latihan uji jalan enam menit (UJ6M). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegunaan UJ6M terhadap kualitas hidup dan kapasitas fungsional pada pasien SKK. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Penelusuran data menggunakan PubMed, ClinicalKey, Google Scholar, and Science Direct. Hasil penelitian mendapatkan lima artikel membahas tentang kegunaan UJ6M untuk stratifikasi risiko, tiga artikel membahas tentang kegunaan UJ6M dalam menilai kapasitas fungsional, dan empat artikel membahas tentang kegunaan UJ6M dalam menilai kualitas hidup pasien SKK. Didapatkan bahwa kapasitas fungsional pasien SKK yang rendah memiliki kontribusi terhadap kualitas hidup yang menurun. Simpulan penelitian ini ialah uji jalan enam menit merupakan tes berjalan sederhana yang mudah dilakukan, valid, responsif serta dapat ditoleransi oleh pasien SKK yang berperan dalam stratifikasi risiko, penilaian kapasitas fungsional, dan kualitas hidup.Kata kunci: uji jalan enam menit; sindrom koroner kronis; kualitas hidup; kapasitas fungsional

Page 84 of 108 | Total Record : 1074