cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida dan Multigravida dalam Menghadapi Persalinan di Indonesia Falentine Arikalang; Frank M. M. Wagey; Hermie M. M. Tendean
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.48483

Abstract

Abstract: Research in Indonesia shows that pregnant women who experience high levels of anxiety can increase the risk of premature birth and even miscarriage resulting in increased mortality and morbidity rates in pregnant women. This study aimed to describe the level of anxiety of primigravidas and multigravidas facing childbirth in Indonesia. This was a literature review study using Google Scholar with specified criteria. The results obtained 12 literatures. Most primigravidas experienced anxiety with different levels of anxiety. Among primigravidas, 17% had no anxiety, 21.05% mild anxiety, 32.8% moderate anxiety, and 29.15% severe anxiety. Moreover, among multigravidas, 53.58% had no anxiety, 18.85% mild anxiety, 10.77% moderate anxiety, 10.38% severe anxiety, and 6.15% very serious anxiety. In conclusion, the majority of pregnant women facing childbirth in Indonesia experience various levels of anxiety. Primigravidas experience moderate anxiety, followed by severe anxiety and mild anxiety. Meanwhile, most multigravidas do not experience anxiety. Keywords: anxiety level, pregnant women, primigravida, multigravida   Abstrak: Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami kecemasan tingkat tinggi dapat meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur bahkan keguguran yang berdampak pada penigkatan angka mortalitas dan morbiditas pada ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu hamil primigravida dan multigravida dalam menghadapi persalinan di Indonesia. Jenis penelitian alah suatu literature review. Pencarian data menggunakan database Google scholar dengan kriteria yang ditentukan. Hasil penelitian mendapatkan 12 literatur. Sebagian besar ibu hamil primigravida mengalami kecemasan dengan tingkat kecemasan berbeda, yaitu sebanyak(17% tidak cemas, 21,05% cemas ringan, 32,8% cemas sedang dan 29,15% cemas berat. Pada ibu hamil multigravida sebanyak 53,58% tidak cemas, 18,85% cemas ringan, 10,77% cemas sedang, 10,38% cemas berat, dan 6,15% cemas berat sekali. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas ibu hamil dalam menghadapi persalinan di Indonesia mengalami kecemasan dengan tingkat bervariasi. Ibu hamil primigravida paling banyak mengalami kecemasan sedang, diikuti kecemasan berat dan ringan. Ibu hamil multigravida sebagian besar tidak mengalami kecemasan. Kata kunci: tingkat kecemasan; ibu hamil; primigravida; multigravida
Rehabilitasi Medik pada Nyeri Bahu Hemiplegia Pasca Stroke Joshua Manurung; Christopher Lampah; Joudy Gessal
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.45280

Abstract

Abstract: According to WHO 2019, stroke is the second leading cause of death worldwide and a significant cause of long-term disability. One of the complications that often occurs after a stroke is hemiplegic shoulder pain that affects the patient with decreased functional use of the arm, decreased quality of life, higher rates of depression, prolonged hospitalization, and impaired rehabilitation. This study aimed to discuss about rehabilitation efforts in post stroke patients with hemiplegic shoulder pain. This was a literature review study by searching three databases (Google Scholar, Pubmed, and Clinical Key) to determine medical rehabilitation for hemiplegic shoulder pain. The results obtained 13 literatures that matched the criteria. Hemiplegic shoulder pain in many ways, such as reducing the functional use of the arm, reducing quality of life, increasing levels of depression, prolonged hospitalization, is to the point of interfering with the recovery process, namely rehabilitation. In conclusion, medical rehabilitation for hemiplegic shoulder pain has shown quite successful efforts in treating or restoring the condition of patient with hemiplegic shoulder pain. It is possible to carry out more extensive research regarding the underlying causes, examinations to diagnose hemiplegic shoulder pain, and more effective rehabilitation in the future. Keywords: medical rehabilitation; hemiplegic shoulder pain; post stroke; quality of life   Abstrak: Menurut WHO 2019, stroke merupakan penyebab kematian kedua di dunia dan salah satu penyebab yang bermakna bagi disabilitas jangka panjang. Salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah kejadian stroke ialah nyeri bahu hemiplegia yang memengaruhi penderita dengan penurunan penggunaan fungsional lengan, penurunan kualitas hidup, tingkat depresi yang lebih tinggi, rawat inap yang berkepanjangan, gangguan rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rehabilitasi medik pada nyeri bahu hemiplegia pada pasien pasca stroke menggunakan metode literature review dengan penelusuran pada tiga database (Google Scholar, Pubmed, dan Clinical Key). Hasil penelitian mendapatkan 13 literatur yang sesuai dengan kriteria. Nyeri bahu hemiplegia dalam banyak hal, seperti penurunan penggunaan fungsional lengan, penurunan kualitas hidup, tingkat depresi yang bertambah, rawat inap yang berkepanjangan, sampai mengganggu proses pemulihan membutuhkan rehabilitasi. Simpulan penelitian ini ialah penanganan rehabilitasi medik pada pasien pasca stroke dengan nyeri bahu hemiplegia telah menunjukkan upaya yang cukup berhasil dalam mengobati atau memulihkan kondisi tersebut Tidak menutup kemungkinan dilakukan penelitian yang lebih luas mengenai penyebab yang mendasari, pemeriksaan untuk mendiagnosis keadaan nyeri bahu hemiplegia maupun rehabilitasi yang lebih efektif di masa mendatang. Kata kunci: penanganan rehabilitasi medik; nyeri bahu hemiplegia; pasca stroke; kuallitas hidup
Hubungan Fibronektin Serum dengan Tingkat Kesadaran Menurut Klasifikasi CT-Marshall pada Pasien Cedera Otak Sedang dan Berat akibat Trauma Diornald J. Mogi; Eko Prasetyo; Maximillian Ch. Oley; Ferdinan Tjungkagi; Yovanka N. Manuhutu
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.46563

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury (COT) is the main cause of brain damage in the young and productive age generations. Although there is no accurate biological markers for detecting brain damages so far, many studies about fibronectin have been reported as a promising biological marker. This study aimed to obtain the relationship between serum fibronectin and level of consciousness based on CT-Marshal in patients with moderate and severe COT. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Samples that met the study criteria were taken sequentially from the study hospital without differentiating exposure status (serum fibronectin levels) or outcome (CT-Marshall category). The regression test on the main variable serum fibronectin levels with awareness using the CT-Marshall category was carried out and showed significant relationship between serum fibronectin level and the patient's CT-Marshall category. The higher the serum fibronectin level, the higher the patient's CT-Marshall category which meant that a patient had a degree of severity and poor consciousness. In conclusion, there is a significant relationship between serum fibronectin level and level of consciousness based on the CT-Marshall category in traumatic brain injury patients. Keywords: traumatic brain injury; biological markers; fibronectin; level of consciousnes                                                                                                               Abstrak: Cedera otak akibat trauma (COT) merupakan penyebab utama kerusakan otak pada generasi muda dan usia produktif. Saat ini, belum terdapat penanda biologis yang akurat untuk mendeteksi kerusakan otak traumatik ataupun menilai prognosis terkait kerusakan otak traumatik namun perhatian terhadap penanda biologis telah meningkat akhir-akhir ini yaitu antara lain fibronektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fibronektin serum dengan tingkat kesadaran menurut klasifikasi CT-Marshall pada pasien COT sedang dan berat. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel yang memenuhi kriteria penelitian diambil berurutan dari rumah sakit tempat penelitian tanpa membedakan status paparan (kadar fibronektin serum) ataupun luaran (kategori CT-Marshall). Pengambilan data dilakukan hanya sekali untuk keseluruhan variabel selama masa pengumpulan data. Hasil uji regresi terhadap kadar fibronektin serum dengan kesadaran menggunakan kategori CT-Marshall mendapatkan adanya hubungan bermakna yaitu semakin tinggi kadar fibronektin serum, semakin tinggi pula kategori CT-Marshall pasien yang berarti pasien memiliki derajat keparahan dan kondisi kesadaran yang buruk. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar fibronektin serum terhadap kesadaran menggunakan kategori CT-Marshall pada pasien cedera otak traumatik. Kata kunci: cedera otak akibat trauma; penanda biologis; fibronektin; tingkat kesadaran
Trikoepitelioma Multipel Familial: Laporan Kasus Meilany Durry; Anggreiny Iwisara; Fera Mawu; Sthefanie Gaghana
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.44627

Abstract

Abstract: Trichoepithelioma is a benign tumor of folliculosebaceous-apocrine germ cell origin. There are three clinical variants of trichoepithelioma, as follows: solitary, multiple, and desmoplastic. The clinical features of trichoepithelioma are skin-colored papules up to 0.5 cm in size. with predilection areas on the nose, upper lip, and cheeks. The specific variant of familial multiple trichoepithelioma is inherited in an autosomal-dominant type and usually occurs in childhood and puberty. We reported a 36-year-old woman with complaints of skin-colored papules on the face and neck. There were family members with the same complaint. Histopathological examination showed skin tissue with dermal tumor consisting of basaloid cells arranged in palisade form in the periphery, and several horn-cysts among the cells that indicated a trichoepithelioma. The patient was planned to be treated with topical imiquimod and electric surgery. In conclusion, based on anamnesis, physical examination, and histopathological result, the diagnosis of this case was familial multiple trichoepithelioma. Keywords: trichoepitelioma; cylindromatosis; skin appendageal tumor; histopathological examination   Abstrak: Trikoepitelioma merupakan suatu tumor asal sel germinal folliculosebaceous-apocrine. Terdapat tiga varian klinis trikoepitelioma yaitu soliter, multipel, dan desmoplastik. Gambaran klinis trikoepitelioma ialah papula sewarna dengan kulit ukuran sampai 0,5 cm dan lokasi predileksi yaitu hidung, bibir atas, dan pipi. Terdapat satu varian spesifik yaitu trikoepitelioma multipel familial yang diwariskan secara dominan autosomal dan biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan pubertas. Kami melaporkan seorang perempuan berusia 36 tahun dengan keluhan bintil-bintil sewarna kulit, multipel pada area wajah dan leher. Di dalam keluarga pasien terdapat anggota keluarga dengan keluhan yang sama. Hasil pemeriksaan histopatologik mendapatkan jaringan kulit dengan tumor pada dermis yang terdiri dari sel-sel basaloid, bagian tepi tersusun palisade, dan di antaranya tampak beberapa horn-cyst yang menunjukkan suatu trikoepitelioma. Pasien ini direncanakan diberikan terapi dengan imiquimod topical dan bedah listrik. Simpulan kasus ini ialah suatu trikoepitelioma multipel familial yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan histopatologik. Kata kunci: trikoepitelioma; cylindromatosis; skin appendageal tumor; pemeriksaan histopatologik
Identifikasi Nervus Laringeus Rekuren pada Tiroidektomi dan Ismolobektomi dengan Menentukan Vasa Nervorum pada Nervus Laringeus Rekuren Saat Pembedahan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2017-2018 Diornald J. Mogi; Nico Lumintang
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.44763

Abstract

Abstract: There are two sets of nerves near the thyroid gland for voice control namely recurrent laryngeal nerve and external branch of the superior laryngeal nerve. There peripheral nerves rely on blood supply to maintain their structural and functional requirements, therefore, their vasa nervorum have to be identified in thyroidectomy and isthmolobectomy. This study aimed to obtain data on vasa nervorum whether it was visible or not in the recurrent laryngeal nerve during thyroidectomy and isthmolobectomy. This was a retrospective study using medical record data of observed vasa nervorum in all patients undergoing elective surgery for thyroidectomy and isthmolobectomy at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in 2017-2018. The results obtained 48 cases who underwent elective surgery for thyroidectomy and isthmolobectomy. There were 33 cases with excellent visualization of the vasa nervorum against the recurrent laryngeal nerve (+++), 15 cases were visible but not very clear (++), and three cases were vague and difficult to observe (+). In conclusion, in most thyroidectomy and isthmolobectomy surgeries at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital visualization of vasa nervorum on recurrent laryngeal nerve is excellent to prevent nerve injury. Visual identification and dissection of this nerve is a standard technique to prevent the nerve injury during thyroidectomy or isthmolobectomy and other open neck surgeries. Keywords: recurrent laryngeal nerve; superior laryngeal nerve; thyroidectomy; isthmolobectomy   Abstrak: Terdapat dua kelompok saraf di dekat kelenjar tiroid yang membantu mengendalikan suara, yaitu nervus laringeus rekuren dan cabang eksternal nervus laringeus superior. Saraf perifer ini bergantung pada pasokan darah untuk mempertahankan kebutuhan struktural dan fungsional; oleh karena itu, vasa nervorum perlu diidentifikasi pada operasi tiroidektomi dan ismolobektomi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang vasa nervorum yang teramati pada nervus laringeus rekuren selama operasi tiroidektomi dan ismolobektomi. Jenis penelitian ialah retrospektif menggunakan rekam medis mengenai kasus vasa nervorum yang diamati pada semua pasien yang menjalani operasi elektif untuk tiroidektomi dan isthmolobectomi di RSUP Prof. Dr. R. D.  Kandou Manado pada 2017-2018. Hasil penelitian mendapatkan 48 kasus yang menjalani operasi elektif untuk tiroidektomi dan ismolobectomi. Terdapat 33 kasus dengan visualisasi vasa nervorum terhadap nervus laringeus rekuren sangat baik (+++), 15 kasus terlihat tetapi tidak terlalu jelas (++), dan tiga kasus samar-samar dan sulit diobservasi (+). Simpulan penelitian ini ialah pada sebagian besar operasi tiroidektomi dan ismolobektomi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado telah dilakukan visualisasi vasa nervorum terhadap nervus laringeus rekuren yang jelas untuk menghindari cedera pada nervus laringeus rekuren. Identifikasi visual dan diseksi nervus laringeus rekuren sekarang merupakan teknik standar untuk menghindari cedera nervus tersebut selama tiroidektomi atau ismolobektomi dan operasi leher terbuka lainnya. Kata kunci: nervus laringeus rekuren; nervus laringeus superior; tiroidektomi; ismolobektomi
Treatment of Non-Union with Bone Loss in Femur Fracture Using Non-vascularized Fibular Graft: A Case Report Andriessanto Lengkong; Stefan Kambey; Rangga Rawung; Haryanto Sunarso; Albertus D. Noersasongko; Tommy Suharso; Ryan A. Senduk
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.44768

Abstract

Abstract: Fibula is a very versatile source of autogenous graft and has been used for decades in the field of limb reconstruction. Bony defects of the lower extremity are usually the result of high-energy trauma, tumor resection, or severe sepsis. Non-vascularized fibular graft (NVFG) is useful in the reconstruction of skeletal defects, especially in cases of scarred and avascular recipient sites, or in patients with combined bone and soft tissue defects. This study aimed to assess the effectiveness of NVFG in the management of non-union bone fracture. We reported a 16-years-old male with non-union femur fracture. Debridements were applied at the first time of admission to the hospital. Open reduction of fracture with internal femur fixation. Fibula bone was extracted as the donor of vascularized graft for the bone loss. After two years of follow-up, the patient acquired his motor functions back well, and was able to carry out daily activities as expected. In conclusion, taking together the repair and reconstruction of non-union bone in the lower extremity with NVFG and internal fixation is an effective and important option for treating non-union femoral fracture. NVFG osteosynthesis has encouraging results in such instances. It is technically less demanding, simple, and can be performed in almost all centers where image intensifier is available. Keywords: bone fracture; non-vascularized fibular graft; reconstructive microsurgery; femoral non-union
Penatalaksanaan Benda Asing Esofagus Ananda C. F. Maweikere; Steward K. Mengko; Olivia C. P. Pelealu
e-CliniC Vol. 11 No. 3 (2023): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v11i3.45224

Abstract

Abstract: Esophageal foreign bodies are common cases in hospitals and if not treated immediately, may lead to serious complications. This study aimed to determine the various methods of esophageal foreign body management that can be performed. This was a literature review study. Data were searched from three databases, namely Clinical Key, PubMed and Google Scholar. The results obtained 11 literatures to be reviewed. In addition to esophagoscopy, there were several other management techniques, including medical management using proteolytic enzymes, glucagon, and nitroglycerin, and other operative management, namely procedures with a dual-channel endoscope, Foley catheter, and double fogarty balloon catheter according to the type and location of the foreign body obstruction. In conclusion, management of esophageal foreign bodies includes both medical and operative management according to the type and location of foreign body obstruction in the esophagus. However, esophagoscopy method is the gold standard for esophageal foreign body management. Keywords: esophageal foreign body; medical management; operative management; esophagoscopy   Abstrak: Benda asing esofagus merupakan kasus yang sering ditemukan di rumah sakit yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai metode penatalaksanaan benda asing esofagus yang dapat dilakukan. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Clinical Key, PubMed dan Google Scholar.  Hasil penelitian mendapatkan 11 literatur untuk dikaji. Selain esofagoskopi yang sering digunakan, terdapat beberapa teknik penatalaksanaan lain yaitu tatalaksana medis dengan menggunakan enzim proteolitik, glukagon, dan nitrogliserin serta tatalaksana operatif lain yaitu prosedur dengan dual-channel endoscope, Foley catheter dan double Fogarty balloon catheter yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi dari benda asing. Simpulan penelitian ini ialah penatalaksanaan benda asing esofagus dapat dilakukan dengan tatalaksana medis dan operatif sesuai dengan jenis dan lokasi obstruksi benda asing di esofagus. Metode esofagoskopi merupakan baku emas untuk kasus benda asing esofagus. Kata kunci: benda asing esofagus; tatalaksana medis; tatalaksana operatif; esofagoskopi
Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Kecemasan pada Remaja di SMP Katolik Santa Theresia Malalayang Rindiani B. E. Wewengkang; Bernabas H. R. Kairupan; Herdy Munayang
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45226

Abstract

Abstract: Anxiety is a common mental disorder that occurs not only among adults but also in children and adolescents. Physical activity is one of the factors that can influence mental health, reduce symptoms of anxiety, and increase fitness. For adolescents, physical activity is an integral part of them in school, social environment, and family life. This study aimed to analyze the relationship between physical activity and anxiety in adolescents at SMP Katolik Santa Theresia Malalayang (junior high school). This was an analytical and descriptive study with a cross-sectional design. Determination of samples used stratified random sampling technique. Data were analyzed with the chi-square test. The results showed that there were 77 students as respondents. The chi- square test resulted in a p-value of 0.64 (p>0.05). In conclusion, there is no significant relationship between physical activity and anxiety in adolescents at SMP Katolik Santa Theresia Malalayang. Keywords: physical activity; anxiety; mental disorders; adolescents   Abstrak: Kecemasan merupakan suatu gangguan mental yang umum terjadi baik pada kalangan dewasa maupun di kalangan anak dan remaja. Diketahui bahwa aktivitas fisik dapat memengaruhi kesehatan mental, mengurangi gejala kecemasan, dan meningkatkan kebugaran. Bagi anak usia remaja aktivitas fisik menjadi bagian yang tidak terpisahkan baik dalam kehidupan sekolah, sosial atau keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan kecemasan pada remaja di SMP Katolik Santa Theresia Malalayang. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penentuan sampel menggunakan teknik stratified random sampling dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 77 siswa sebagai responden penelitian. Hasil uji chi-square mendapatkan nilai p=0,64 (p>0,05) untuk hubungan antara aktivitas fisik dan kecemasan. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan kecemasan pada siswa di SMP Katolik Santa Theresia Malalayang. Kata kunci: aktivitas fisik; kecemasan; gangguan mental; remaja
Perhitungan Larva Aedes spp. Berdasarkan Hasil Rearing Ovitrap Berwarna Dalam Ruangan di Kelurahan Malalayang Satu Barat Kota Manado Stephen Stephen; Angle M. H. Sorisi; Josef S. B. Tuda
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45233

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a health problem in Indonesia including Manado. Ovitrap is a dengue vector control method that is quite sensitive and proven to reduce vector density safely and economically. Color is one of the factors that plays an important role in the effectiveness of ovitrap, albeit, there are still few reported studies related to Aedes spp egg viability, especially by rearing ovitrap with different colors. This study aimed to determine the percentage of Aedes spp larvae found in each color of the indoor ovitrap rearing results. This was a descriptive study with a cross-sectional design using ovitraps at Malalayang Satu Barat Sub-district. The results showed the percentages of Aedes spp eggs hatched in the ovitraps, as follows: yellow ovitrap 94%, blue 92%, white 84%, black 82%, red 70%, and transparent 36%. The average number of eggs per ovitrap, as follows: black (17.00), white (12.56), red (10.78), yellow (10.60), blue (7.70), and transparent (3.11) with ovitrap index (OI) =74.72%. In conclusion, the criteria of egg density in Malalayang Satu Barat Sub-District is high. Black ovitrap has the highest number of eggs and the least is transparent ovitrap, however, yellow and blue ovitraps have the highest percentages of hatching eggs. Keywords: dengue hemorrhagic fever; Aedes spp. larva; ovitrap color; rearing; ovitrap index   Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk kota Manado. Ovitrap merupakan metode pengendalian vektor DBD yang cukup sensitif dan terbukti menurunkan kepadatan vektor secara aman dan ekonomis. Warna menjadi salah satu faktor penting keefektifan ovitrap, namun sedikit studi tentang viabilitas telur khususnya melakukan rearing ovitrap dengan warna berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah persentase larva Aedes spp. yang terdapat pada setiap warna hasil rearing ovitrap dalam ruangan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan ovitrap di Kelurahan Malalayang Satu Barat. Hasil penelitian mendapatkan persentase telur menetas pada ovitrap kuning sebesar 94%, biru 92%, putih 84%, hitam 82%, merah 70%, dan transparan 36%. Rerata jumlah telur per ovitrap hitam (17,00), putih (12,56), merah (10,78), kuning (10,60), biru (7,70), dan transparan (3,11) dengan ovitrap index (OI) =74,72%. Simpulan penelitian ini ialah kepadatan telur Kelurahan Malalayang Satu Barat tergolong kriteria tinggi. Ovitrap hitam memiliki telur terbanyak dan ovitrap transparan yang paling sedikit, namun ovitrap kuning dan biru memiliki persentase telur menetas yang paling tinggi. Kata kunci: demam berdarah dengue; larva Aedes spp.; warna ovitrap; rearing; ovitrap index
Gambaran Klinik dan Laboratorium Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Mumtaza A. Azmiyatie; Adrian Umboh; Valentine umboh
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45235

Abstract

Abstract: Acute post-streptococcal glomerulonephritis (APSGN) is the most common form of acute glomerulonephritis (AGN) that often occurs in children caused by group A β-hemolytic streptococcal infection. This disease is a common cause of child morbidity and mortality in low and middle-income countries. APSGN has a typical clinical features such as nephritic symptoms and the diagnosis is confirmed by laboratory tests. This study aimed to determine the clinical features and laboratory findings of acute post-streptococcal glomerulonephritis in children. This was a literature review study with journal searching using two databases, namely Google Scholar and Pubmed. The results obtained 14 research articles related to clinical features and laboratory findings in children with acute post-streptococcal glomerulonephritis. From the 14 research articles, it is concluded that the most frequent clinical features found in this study were edema, hypertension, hematuria, and oliguria, and the laboratory tests that were most frequently performed and found were an increase in ASTO or positive ASTO, microscopic hematuria, and a decrease in C3 levels. Keywords: group A β-hemolytic Streptococcus; acute post-streptococcal glomerulonephritis; antistreptolysin O; C3 complement; pediatric patients   Abstrak: Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) merupakan bentuk paling umum dari glomerulonefrtis akut (GNA) yang sering terjadi pada anak yang terinfeksi group A β-hemolytic streptococcus. Penyakit ini menjadi penyebab umum morbiditas dan mortalitas anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah. GNAPS memiliki gambaran klinik yang khas seperti gejala nefritik, dan diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinik dan laboratorium glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian jurnal dilakukan menggunakan dua database, yaitu Google Scholar dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan 14 artikel jurnal yang memiliki data mengenai gambaran klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium pada anak dengan GNAPS. Simpulan dari ke-14 artikel jurnal tersebut ialah gambaran manifestasi klinis yang paling sering ditemukan ialah edema, hipertensi, hematuria, dan oliguria. Pemeriksaan laboratorium yang paling banyak dilakukan dan ditemukan ialah peningkatan ASTO atau ASTO positif, ditemukannya hematuria mikroskopik, dan penurunan kadar C3 Kata kunci: group A β-hemolytic streptococcus; glomerulonefritis akut pasca streptokokus; antistreptolisin O; komplemen C3; pasien anak  

Page 94 of 108 | Total Record : 1074