cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Teknologi Hasil Perikanan
ISSN : 23374284     EISSN : 26847205     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Pengujian TPC, Kadar Air dan pH pada Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis) Asap Cair Yang Disimpan Pada Suhu Ruang Upet, Emanuel; Salindeho, Netty; Reo, Albert R; Montolalu, Lita; Kaparang, Josefa T; Makapedua, Daisy M; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.2.2021.31144

Abstract

Mackarel Tuna fish (Euthynnus affinis) is a leading commodity as a source of food for people in North Sulawesi. The purpose of this study was to process mackarel tuna (Euthynnus affinis) using liquid smoke stored at room temperature and then tested the product quality, namely) water content, total plate count (TPC), and pH value. The results of the research the resulting moisture content ranged from 35.7 to 58.3%, according to the Indonesian National Standard (SNI) 2725: 2013 that the maximum water content of smoked fish with the maximum heat smoking method was 60%, the total plate count (TPC) was around The average total plate number of smoked fish produced is 0.52 x 10-4 to 2.83 x 10-5 cabbage / g, this value shows in accordance with SNI 2725: 2013 that the total plate number of smoked fish with the maximum heat smoking method is 5 x 104 kol / g, while the average pH value is 5.64, this value shows the pH of smoked fish is below neutral pH, so it can be concluded that the smoked fish contains acid. It is concluded that this research has fully met the requirements for public consumption so that it can be produced as a fishery product.
Pengaruh Ekstrak Kulit Manggis terhadap Mutu Ikan Cakalang Asap Gusu, Jahara; Onibala, Hens; Pongoh, Jenki; Taher, Nurmeilita; Dotulong, Verly; Mentang, Feny; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.29587

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak kulit buah manggis yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet dan melihat pengaruh tingkat kesukaan konsumen terhadap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L.) asap yang direndam dalam ekstrak kulit buah manggis. Data hasil pengamatan uji organoleptik yang tertinggi terdapat pada Aroma dengan nilai 8,1 pengeringan 8 hari dengan perendaman 15 menit (A2B1) dalam penyimpanan 0 hari dan data hasil uji organoleptik yang terendah terdapat pada Rasa dengan nilai 2,5 pengeringan 4 hari dengan perendaman 30 menit dalam penyimpanan hari ke-10. Hasil penelitian TVB-N menunjukkan bahwa larutan kulit buah manggis dengan penyimpanan 0 hari sampai hari ke-10 sudah diatas Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) sehingga sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
PENERIMAAN KONSUMEN TERHADAP KALDU BUBUK DARI KEPALA UDANG WINDU (Penaeus manodon) DENGAN BERBAGAI JENIS BAHAN PENGISI Arsyad, Ridwan; Asikin, Andi Noor; Zuraida, Ita
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.34146

Abstract

Tiger prawn head naturally has a taste as it contains amino acids which give the food a savory taste. Accordingly, it is possible and necessary to process tiger prawn head into a broth that can be used as a natural food additive in processed products. Broth is made by boiling prawn heads with water to produce a liquid broth. In fact, liquid broth tends to spoil quickly, so it is necessary to change its form to powder (dried broth). This study aims to determine level of consumer preference for powdered broth from tiger prawn head with various types of fillers. Treatments given were a combination of fillers, including control (wheat flour), T1 (combination of wheat flour and tapioca), T2 (combination of wheat flour and cornstarch), T3 (combination of wheat flour and rice flour), and T4 (combination of wheat flour and glutinous rice). Hedonic test used 30 untrained panelists, while data were processed using Randomized Complete Block Design followed by Duncan's test with 95% confidence level. Results of this study showed that addition of fillers could affect panelists’ preference. Moreover, resulting powdered shrimp broth had a fine-grained texture (TI to T4), coarse or easily lumpy (control group), light creamy color (T1 to T4) to brownish yellow (control and comparison groups). Based on consumer acceptance, combination of wheat flour and tapioca (T1) was the best treatment with value of appearance of 8.30 (strongly like), color of 8.23 (strongly like), aroma of 8.33 (strongly like), and taste of 8.30 (strongly like). Kepala udang windu secara alami memiliki cita rasa karena mengandung asam amino yang memberikan rasa gurih pada makanan, sehingga perlu dilakukan pengolahan menjadi kaldu sebagai bahan tambahan pangan alami yang dapat ditambahkan pada produk olahan. Kaldu diperoleh dengan cara direbus menggunakan air sehingga dihasilkan kaldu cair. Kaldu cair akan cepat mengalami kerusakan, sehingga perlu merubah bentuknya menjadi bubuk (kering). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap kaldu bubuk dari kepala udang windu dengan berbagai jenis bahan pengisi. Perlakuan yang digunakan adalah kombinasi bahan pengisi, yaitu kontrol (tepung terigu), T1 (kombinasi tepung terigu dan tapioka), T2 (kombinasi tepung terigu dan maizena), T3 (kombinasi tepung terigu dan tepung beras), serta T4 (kombinasi tepung terigu dan beras ketan). Pengujian hedonik menggunakan 30 orang panelis tak terlatih dan data diolah menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengisi dapat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis. Kaldu udang bubuk yang dihasilkan mempunyai tekstur berbulir halus pada TI sampai T4, berbulir kasar atau mudah sekali menggumpal pada kontrol, berwarna krem terang pada T1 sampai T4 hingga kuning kecoklatan pada kontrol dan pembanding. Kombinasi tepung terigu dan tapioka (T1) merupakan perlakuan terbaik berdasarkan penerimaan konsumen dengan nilai kenampakan 8,30 (sangat suka), warna 8,23 (sangat suka), aroma 8,33 (sangat suka), dan rasa 8,30 (sangat suka). 
Daun Mangrove Sonneratia alba sebagai Teh Fungsional Mandang, Maria Sherina Sharon; Sahambangun, Dara Enjelia; Masinambou, Charles Dotulong; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.30867

Abstract

The purpose of this review is to explore the antioxidant capacity of Sonneratia alba mangrove leaves to be developed into functional tea. The data collection was done by collecting literature through various types of databases (big data) including Google Scholar, Microsoft Academic, DOAJ, BASE, and DIMENSION. Articles were limited to research and review papers published between 2016 to 2020 . The following keywords were used: mangrove, Sonneratia alba, functional tea, phytochemicals, IC 50 DPPH, and yields. The results obtained from a literature study revealed that the extended extraction time with boiling water on the mangrove material can increase the yield. Also, literature searches indicated that the extraction of S. alba young leaves for 40, 50 and 60 minutes with boiling water resulted in phenolic, flavonoid, terpenoid, steroid, tannin and alkaloid phytochemical compounds. The existence of these compounds denoted the presence of antioxidant properties in the extracts. Furthermore, previous studies signified a higher phenol content and IC50 DPPH in S. alba leaves. The data from collected articles suggested that young leaves of S. alba mangrove could be developed as functional tea, rich in antioxidants and resistance in high temperature.Tujuan penulisan artikel ini adalah menggali potensi antioksidan daun mangrove Sonneratia alba untuk dikembangkan menjadi teh fungsional. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran literatur melalui berbagai jenis database (big data) diantaranya yaitu Google Scholar, Microsoft Academic, DOAJ, BASE, Crossref, dan DIMENSION. Penelusuran dipersempit pada artikel ilmiah dan hasil review jurnal yang terbit antara tahun 2016–2020. Kata kunci yang digunakan untuk pencarian adalah mangrove, Sonneratia alba, teh fungsional, fitokimia, IC50 DPPH, dan rendemen. Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa semakin lama proses ekstraksi dengan air mendidih pada bahan sediaan dapat meningkatkan rendemen. Selanjutnya, daun muda mangrove S. alba yang diekstraksi 40, 50 dan 60 menit dengan air mendidih memiliki kandungan senyawa fitokimia jenis fenolik, flavonoid, terpenoid, steroid, tanin dan alkaloid. Keberadaan senyawa-senyawa tersebut membuktikan adanya potensi antioksidan pada suatu ekstrak. Bahkan, penelitian-penelitian sebelumnya juga membuktikan bahwa daun S. alba memiliki nilai total fenol dan IC50 DPPH yang tinggi. Data-data hasil penelusuran literatur tersebut secara umum memperlihatkan bahwa daun muda mangrove S. alba bisa dikembangkan menjadi teh fungsional kaya antioksidan dan tahan suhu tinggi.Key words: S. alba leaves, antioxidants, functional tea
Aktivitas Antikanker Serviks Rumput Laut Gracilaria sp. Luringunusa, Ekklesia; Sanger, Grace; Harikedua, Silvana Dinaintang; Mentang, Feny
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.31692

Abstract

Kanker serviks merupakan penyakit kanker urutan ketiga terbesar didunia. Beberapa dekade terakhir, metode pengobatan kanker yang sudah digunakan dalam dunia pengobatan yakni tindakan operasi, radiasi, dan kemoterapi. Sebanyak sepertiga penderita kanker diperkirakan dapat disembuhkan dengan tindakan bedah dan radiasi, namunnya bagi dua pertiga lainnya terutama pada penyakit kanker yang telah menyerang ke organ lain, diperlukan modalitas terapi yang bersifat sistemik yaitu kemoterapi. Tujuan penulisan artikel ilmiah ini untuk menemukan senyawa antikanker baru, yang sangat penting untuk pengobatan kanker dari rumput laut, karena rumput laut adalah salah satu produk laut sumber terbesar metabolit kimia aktif.  Penelusuran literature menggunakan kata kunci, Gracilaria sp, kanker serviks, HPV, obat antikanker serviks. Metode pengumpulan literature mengunakan elelectronic data base: PubMed, Web of Science, Science Direct, and Google Scholar. Hasil yang diperoleh: Dapat disimpulkan bahwa Gracilaria sp. yang mempunyai aktifitas sitotoksik melawan sel Hela sebesar IC50 13,8 – 71,4% (µg/ml), sehingga dapat dijadikan sumber obat antikanker serviks. Rumput laut Gracilaria sp. yang tumbuh melimpah di Indonesia dapat digunakan didalam pengobatan untuk menurunkan tingkat kasus dan kematian akibat kanker. 
Analisis Kimia dan Uji Organoletik Selai Rumput Laut Euchema Spinosum Damopolii, Niki Sirwanto; Kaseger, Bertie; Damongilala, Lena; Onibala, Hens; Pandey, Engel; Makapedua, Daisy; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.29920

Abstract

Eucheuma spinosum as a quality processed product that has added value. Jam is an ingredient with a gel or semi-gel consistency that is made from the pulp of the fruit. The gel or semi-gel consistency in jam is obtained from the interaction of pectin compounds derived from fruit or pectin added from outside, sucrose and acid sugars. This study aims to analyze the chemistry, including water content test, ash content test, and crude fiber test and organoleptic test for seaweed Eucheuma spinosum jam. In chemical analysis tests and organoleptic tests of Eucheuma spinosum seaweed jam, the water content in Euchema spinosum seaweed jam obtained the lowest results (A2B3), which was 29.75% while the largest (A2B2) was 34.50%, the ash content In Euchema spinosum seaweed jam got the greatest result from treatment (A1B3) by 1%, the crude fiber content in Euchema spinosum seaweed jam got the greatest result in treatment (A2B2 and A2B3) which was 0.015% and the lowest (A1B2) which was equal to 0 , 05%, the Organoleptic Test for the highest appearance test was found in A1B1 with a mean value of 8.69, A2B2 taste with a mean value of 8.44, A1B3 aroma with a mean value of 8.00 and treatment of 150 gr sugar - 0 ml, and A1B1 texture with a value Average 8.56. Eucheuma spinosum sebagai suatu produk olahan yang bermutu dan memiliki nilai tambah. Selai adalah bahan dengan konsistensi gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Konsistensi gel atau semi gel pada selai diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kimia yang diantaranya  uji kadar air, uji kadar abu, dan uji serat kasar dan uji organoleptik selai rumput laut eucheuma spinosum. Dalam pegujian analisis kimia dan uji organoleptik selai rumput laut eucheuma spinosum di dapatkan hasil kadar air pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil terendah (A2B3) yaitu sebesar 29,75% sedangkan yang terbesar (A2B2) yaitu sebesar 34,50%, Kadar abu pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil terbesar dari perlakuan (A1B3) sebesar 1%, Kadar serat kasar pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil paling besar pada perlakuan  (A2B2 dan A2B3)  yaitu sebesar 0,015% dan terendah (A1B2) yaitu sebesar 0,05%, Uji Organoleptik untuk uji kenampakan tertinggi terdapat pada A1B1 dengan nilai rerata sebesar 8,69 , rasa A2B2 dengan nilai rerata 8,44 , aroma A1B3 dengan nilai rerata 8.00 dan perlakuan 150 gr gula – 0 ml, dan tekstur A1B1 dengan nilai rerata 8.56.  
Mutu Mikrobiologis dan Organoleptik Penyedap Rasa Alami Hasil Samping Ikan Cakalang selama Penyimpanan Maria Sherina Sharon Mandang; Feny Mentang; Henny Adeleida Dien; Joyce C.V. Palenewen; Roike Iwan Montolalu; Engel Victor Pandey
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.10.3.2022.34480

Abstract

The public's preference for the use of flavoring is demanding, although until now the use of several synthetic flavorings (MSG) on the market is still controversial. Excessive use of MSG causes Chinese restaurant syndrome, so it is necessary to find an alternative natural flavoring by utilizing fishery products that contain lots of amino acids, such as glutamic acid which plays a role in strengthening the taste. The purpose of this study was to calculate the total plate number (TPC), moisture content and hedonic value (taste) of skipjack viscera that were vacuumed and non-vacuumed during storage. This study used a completely randomized design method with 3 factors and 2 replications. The result of testing the highest TPC value during storage on the 8th day in the non-vacuum packaging of skipjack viscera was 3.0x103cfu/g. The highest level of water content during storage on day 8 in the flavoring of skipjack tuna eggs in non-vacuum packaging was 11.5%. Hedonic test on appearance obtained the highest average value of 8.18 (fish eggs with vacuum and non-vacuum packaging). The aroma value obtained the highest average value of 7.90 (viscera with vacuum packaging). The value of taste obtained the highest average value of 8.72 (fish eggs with vacuum packaging). The results showed that natural flavoring products had good quality until the 8th day according to the Indonesian National Standard.Keyword:        Flavoring, Total Plate Count, Organoleptic, Moisture Content, Skipjack Tuna. Preferensi masyarakat terhadap penggunaan penyedap rasa sangat tinggi walaupun sampai saat ini penggunaan beberapa penyedap rasa sintetik (MSG) yang ada di pasaran masih bersifat kontroversi. Penggunaan berlebihan MSG menyebabkan Chinese restaurant syndrome, maka perlu dicari alternatif penyedap rasa alami dengan memanfaatkan hasil perikanan yang mengandung banyak asam amino, seperti asam glutamat yang berperan dalam menguatkan rasa. Tujuan penelitian ini menghitung angka lempeng total (ALT), kadar air dan nilai hedonik rasa alami dari jeroan ikan cakalang yang divakum dan non vakum selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 3 faktor dan 2 ulangan. Hasil pengujian nilai ALT tertinggi selama penyimpanan pada hari ke-8 dalam penyedap rasa jeroan ikan cakalang yang kemasan non vakum, yaitu 3,0x103 cfu/g. Tingkat kadar air tertinggi selama penyimpanan pada hari ke 8 dalam penyedap rasa telur ikan cakalang yang kemasan non vakum yaitu 11,5%. Uji hedonik terhadap kenampakan didapatkan nilai rata-rata tertinggi 8,18 (telur ikan dengan kemasan vakum dan non-vakum). Nilai aroma didapatkan nilai rata-rata tertinggi 7,90 (jeroan dengan kemasan vakum). Nilai rasa didapatkan nilai rata-rata tertinggi 8,72 (telur ikan dengan kemasan vakum). Hasil penelitian menunjukkan produk penyedap rasa alami mempunyai mutu yang baik hingga hari ke-8 sesuai dengan Standard Nasional Indonesia.Kata kunci:    Penyedap rasa, Angka Lempeng Total, Organoleptik, Kadar Air, Ikan Cakalang
Mutu Mikrobiologis dan Organoleptik Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Segar di Palka Kapal Ikan PPP Tumumpa Dara Enjelia Sahambangun; Henny Adeleida Dien; Nurmeilita Taher; Joyce C. V. Palenewen; Djuhria Wonggo; Daisy Monica Makapedua
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.10.3.2022.34497

Abstract

Skipjack (Katsuwonus pelamis L) is a most popular product for the people of North Sulawesi. As a perishable foodstuff, fish requires special treatment to maintain their quality. Deterioration of quality in fish can cause diseases for those who consume. This research was conducted to analyze the quality of microbiological and organoleptic of skipjack tuna. The research method used is quantitative descriptive, with test parameters was total plate count (TPC), total Coliforms and Escherichia coli, Organoleptic (eyes, gills, flesh mucus, odor, texture) and pH. Samples were taken at two ship hatch. The test results of fresh skipjack tuna showed that the highest TPC value of fresh skipjack tuna was 2.8x103cfu/g on the 3rd take in ship hatch 2 and the lowest TPC value of 1.5x103cfu/g on the 1st take in ship hatch 2. The highest TPC value in the water sample used is 3.2x103 in the 1st pick-up in ship hatch 2, and the lowest TPC value is 2.6x103cfu/g at the second take-up in ship hatch 2. The results of the analysis of total Coliforms and E. coli showed positive results in ship hatch 1 and ship hatch 2. Based on the organoleptic analysis of fresh skipjack tuna in hatch 1 and hatch 2, it shows a value of 8–7 which means the fish is still fresh. The pH value of fresh skipjack tuna is 5.8–5.85 and the water samples used are 7.2–7.4 indicating that the fresh skipjack fish and the water used in hatches 1 and 2 are still in good condition (fresh).Keyword:        Escherichia coli, pH, Organoleptic, pH, Skipjack tuna, Total Plate Count. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) merupakan produk primadona bagi masyarakat Sulawesi Utara. Ikan memerlukan penanganan yang cepat, cermat dan tepat supaya kualitasnya tetap baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mutu mikrobiologis dan organoleptik dari ikan cakalang segar. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif, dengan parameter uji yakni angka lempeng total (ALT), total Koliform dan Escherichia coli, organoleptik (mata, insang, daging, lendir, bau dan tekstur) dan pH. Sampel ikan cakalang segar dan air diambil pada dua palka kapal ikan. Hasil pengujian ikan cakalang segar menunjukkan nilai ALT tertinggi ikan cakalang segar yaitu 2,8x103cfu/g pada pengambilan ketiga di palka 2 dan nilai ALT terendah yaitu 1,5x103cfu/g pada pengambilan pertama di palka 2. Nilai ALT tertinggi pada sampel air yaitu 3,2x103 cfu/g pada pengambilan pertama di palka 2, dan nilai ALT terendah yaitu 2,6x103cfu/g pada pengambilan kedua di palka 2. Hasil analisis total koliform dan Escherichia coli menunjukkan hasil positif di palka 1 dan palka 2. Hasil analisis organoleptik ikan cakalang segar di palka 1 dan palka 2 menunjukkan nilai 8–7 yang berarti ikan masih dalam keadaan segar. Nilai pH ikan cakalang segar yaitu 5,8–5,9 dan sampel air yang digunakan yaitu 7,2–7,4 menunjukkan bahwa ikan cakalang segar dan air yang digunakan di palka 1 dan palka 2 masih dalam keadaan baik (segar).Kata kunci:    Cakalang, Escherichia coli, Organoleptik, pH, Angka Lempeng Total.
Pengaruh Suhu Perebusan terhadap Karakteristik Fisikokimia Tepung Tulang Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Stefanus Lupu Kondolele; Andi Noor Asikin; Indrati Kusumaningrum; Seftylia Diachanty; Ita Zuraida
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.10.3.2022.34938

Abstract

Fish bone powder is a product derived from fish body parts that are still rarely used. In general, in making fish bone powder, it is boiled at a certain temperature. This study aims to determine the effect of boiling temperature on proximate and calcium levels in Spanish mackerel (Scomberomorus commerson) bone flour. The boiling temperature treatments used were: without boiling (P0), boiling at 60°C (P1), boiling at 80°C (P2), and boiling at 100°C (P3). This study used a completely randomized design with three replications for yield, proximate, calcium content, phosphorus content, color test and density of kamba. The results indicated that the different boiling temperatures had a significant effect (p<0.05) on the yield value, kamba density, protein content, fat content, calcium content and phosphorus content, but had no significant effect (p>0.05) on moisture content, ash content and whiteness.Keyword:     Spanish mackerel bone flour, boiling temperature, proximate, mineral. Tepung tulang ikan merupakan produk yang berasal dari bagian tubuh ikan yang masih jarang dimanfaatkan. Pada umumnya dalam pembuatan tepung tulang ikan melalui proses perebusan dengan suhu tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu perebusan terhadap karakteristik fisikokimia pada tepung tulang ikan tenggiri (Scomberomorus commerson). Perlakuan suhu perebusan yang digunakan adalah: tanpa perebusan (P0), perebusan pada suhu 60°C (P1), perebusan pada suhu 80°C (P2), serta perebusan pada suhu 100°C (P3). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga kali ulangan untuk uji rendemen, proksimat, kalsium, fosfor, uji warna dan densitas kamba. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu perebusan yang berbeda memberi pengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai rendemen, densitas kamba, kadar protein, kadar lemak, kadar kalsium dan kadar fosfor, namun tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap nilai kadar air, kadar abu dan derajat putih.Kata kunci:  Tepung tulang ikan tenggiri, suhu perebusan, proksimat, mineral.
Komposisi Proksimat dan Profil Mineral Tulang dan Sisik Ikan Papuyu (Anabas testudineus) Sukma Sukma; Andi Mismawati; Bagus Fajar Pamungkas; Seftylia Diachanty; Ita Zuraida
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.10.3.2022.36798

Abstract

Papuyu fish (Anabas testudineus) or also known as betok fish is a native Indonesian fish that is scattered in some area of freshwater such as in Kalimantan, Sumatra and Java. Information about the chemical characteristics of the bones and scales is currently limited. This study aims to determine the proximate composition and mineral profiles of the bones and scales of papuyu fish. The characteristics observed including the percentage of non edible portion, pH, proximate and minerals. Research data are presented in mean and standard deviation values as well as in table and histogram formats. Proximate analysis includes moisture content, ash, fat and protein, whereas analysis of mineral content including calcium, phosphorus, zinc, iron, potassium and sodium. The proportion of fish bone and scales are presented in percentage which have percentation of both bones of 1.67% and scale of 0.67%. The proximate values of papuyu fish bones in wet basis include the water content of 10.07%, ash content of 32.28%, fat 4.42% and protein content of 50.26%. The proximate values of papuyu fish scale in wet basis include the water content of 9.21%, ash content of 31.74%, fat of 3.49% and protein of 49.29%. The minerals profiles of the bone such as calcium, iron, potassium and sodium are higher than mineral from scale.Keyword:     Anabas testudineus, bone, scale, proximate, mineral profile. Ikan papuyu (Anabas testudineus) atau disebut juga ikan betok adalah jenis ikan asli Indonesia yang tersebar di beberapa perairan seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Informasi tentang karakteristik kimia tulang dan sisik ikan papuyu saat ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan profil mineral tulang dan sisik ikan papuyu. Karakteristik yang diamati meliputi persentasi non edible portion, keasaman (pH), proksimat dan mineral. Data hasil penelitian disajikan dalam nilai rata-rata dan standar deviasi serta dalam format tabel dan histogram. Analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, lemak dan protein, sedangkan analisis kandungan mineral meliputi kalsium, fosfor, seng, besi, kalium dan natrium. Nilai proporsi tulang ikan papuyu sebesar 1,67% dan sisik ikan papuyu sebesar 0,67%. Nilai proksimat tulang ikan dalam berat basah meliputi kadar air sebesar 10,07%, kadar abu 32,28%, lemak 4,42% dan kadar protein 50,26%. Nilai proksimat sisik ikan papuyu dalam berat basah meliputi kadar air 9,21%, kadar abu 31,74%, lemak 3,49% dan protein 49,29%. Kadar kalsium, besi, kalium dan natrium pada tulang ikan papayu lebih tinggi daripada bagian sisiknya.Kata kunci:       Anabas testudineus, tulang, sisik, proksimat, profil mineral.