cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Teknologi Hasil Perikanan
ISSN : 23374284     EISSN : 26847205     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
NILAI INDEKS RIGOR DAN KARAKTERISTIK KIMIA IKAN LELE (Clarias sp.) BERDASARKAN CARA KEMATIAN: Rigor Index Value and Chemical Characteristics of Catfish (Clarias sp) Based on Mortality Suryawinata, Aldo; Noor Asikin, Andi; Zuraida, Ita; Sulistiawati, Septiana; Diachanty, Seftylia
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Catfish (Clarias sp.) is a type of fish that is widely cultivated and sold in the market alive. The method of fish death can affect the characteristics of fish because it plays a major role in the process of starting and ending the rigor mortis phase which contributes to the quality and durability of fish. This study aims to determine the effect of method of death on rigor index values ​​and chemical characteristics of catfish (Clarias sp.) and organoleptic values ​​of catfish (Clarias sp. This study used 2 treatments, namely P1 (fish killed immediately) and P2 (fish left alone). without water for 12 hours), each treatment was repeated 2 times. The test parameters were rigor index, pH, Total Volatile Base (TVB), moisture content and organoleptic values ​​observed in each pre, rigor, and post rigor   phase. analyzed using the T test to determine the effect of treatment on the test parameters. The results showed that differences in how to kill fish affected the value of rigor index, Total Volatile Base (TVB), and pH. P2 showed an increase in the value of rigor index, Total Volatile Base (TVB) , and the pH is greater than P1. Kata kunci:  Clarias sp., rigor index, pre rigor , post rigor    Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak di budidayakan dan dijual di pasar dalam keadaan hidup. Cara kematian ikan dapat mempengaruhi karakteristik ikan karena berperan besar pada proses bermula dan berakhirnya fase rigor mortis yang berkontribusi pada mutu dan daya awet ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara kematian  terhadap nilai indeks rigor, karakteristik kimia pada ikan lele (Clarias sp.) dan nilai organoleptik ikan lele (Clarias sp). Penelitian ini menggunakan 2 perlakuan yaitu P1 (ikan langsung dimatikan) dan P2 (ikan dibiarkan tanpa air selama 12 jam dan dimatikan), setiap perlakuan dilakuan pengulangan  2 kali. Parameter uji terdiri dari indeks rigor, pH, Total Volatile Base (TVB), kadar air dan nilai organoleptik yang diamati pada setiap fase pre, rigor, dan post rigor  . Data hasil pengamatan di analisis menggunakan uji T untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter uji. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan cara kematian ikan berpengaruh terhadap nilai indeks rigor, Total Volatile Base (TVB), dan pH. P2 menunjukan peningkatan nilai Indeks rigor, Total Volatile Base (TVB), dan pH lebih besar dari P1. Kata kunci:  Clarias sp., indeks rigor, pre rigor , post rigor 
PENGARUH KARAGENAN PADA SIFAT MEKANIK DAN GUGUS FUNGSI FORMULASI EDIBLE FILM PATI JAGUNG: Effect of Carrageenan on Mechanical Properties and Functional Groups of Corn Starch Edible Film Formulation Notonegoro, Hartoyo; Syaputra, Denny; Djamaludin, Heder
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edible film is packaging that can replace plastic and is a thin layer to cover food. Edible Film making ingredients such as hydrocolloids, lipids, or other mixtures include carrageenan which is extracted from seaweed. The quality of edible film is influenced by the base material used. Different carrageenan compositions have the potential to influence the mechanical properties and functional groups of edible films. This research aims to determine the effect of different concentrations of carrageenan in Edible Film on the mechanical properties and identification of functional groups. The concentration of carrageenan used is 2; 2.5; and 3 grams. Testing of mechanical properties includes tensile strength, elongation at break, thickness, solubility and functional groups using FTIR. The results showed strong tensile strength, elongation at break and solubility with the best treatment at a carrageenan concentration of 3 g. Tensile strength and elongation at break were obtained from the 3 g carrageenan treatment of 5.16 MPa and 11.11%. The best thickness and solubility values ​​were obtained from the 3 g carrageenan treatment of 0.21 mm and 38.44%. The selected carrageenan was the 3 g carrageenan concentration treatment because it produced the best mechanical properties. Identification of functional groups in the 3 g Edible Film treatment showed the presence of O-H, C-H and C-O groups owned by the mixture of the two carrageenan and corn starch materials. Kata kunci:  carrageenan, FTIR, hydrocolloid, solubility, plastic   Edible film adalah kemasan yang dapat menggantikan plastik dan merupakan lapisan tipis sebagai penutup makanan. Bahan pembuatan edible film seperti hidrokoloid, lipid, atau campuran lain termasuk karagenan yang diekstrak dari rumput laut. Kualitas edible film dipengaruhi oleh bahan dasar yang digunakan. Komposisi karagenan yang berbeda berpotensi berpengaruh terhadap sifat mekanik dan gugus fungsi edible film. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi karagenan yang berbeda pada edible film terhadap  karakteristik sifat mekanis serta identifikasi gugus fungsinya. Konsentrasi karagenan yang digunakan, yaitu 2; 2,5; dan 3 g. Pengujian sifat mekanis meliputi kekuatan tarik, perpanjangan putus, ketebalan, kelarutan serta gugus fungsi dengan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan nilai kuat tarik, pemanjangan putus dan kelarutan dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi karagenan 3 g. Kuat tarik dan pemanjangan putus diperoleh dari perlakuan karagenan 3 g sebesar 5,16 MPa dan 11,11%. Nilai ketebalan dan kelarutan terbaik diperoleh pada perlakuan 3 g karagenan sebesar 0,21 mm dan 38,44%. Karagenan terpilih adalah perlakuan konsentrasi 3 g karagenan karena menghasilkan sifat mekanik terbaik. Identifikasi gugus fungsional pada edible film perlakuan 3 g menunjukkan adanya gugus O-H, C-H dan C-O yang dipunyai oleh campuran kedua bahan karagenan dan pati jagung. Kata kunci:  FTIR, hidrokoloid, karagenan, kelarutan, plastik
CEMARAN LOGAM BERAT (Cd, Pb, Hg, Sn), KAPANG DAN BAKTERI (Salmonella, Staphylococcus aureus, Escherichia coli) PADA STIK IKAN LAYANG : Heavy Metal (Cd, Pb, Hg, Sn), Fungal and Bacterial Contaminants (Salmonella, Staphylococcus aureus, Escherichia coli) In Fish Sticks Aristawati, Anita Treisya; Finarti; Dewanto, Didit Kustantio; Mohamad Syahril
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Layang fish (Decapterus sp), which contains high nutritional value, is very good for preventing stunting. Fish sticks are a snack that many people like. Testing for metal and biological contamination is very important to ensure the safety and quality of sticks. Food contaminated with heavy metals or bacteria can cause poisoning and disease. The aim of this research is to determine heavy metal contamination (Cd, Pb, Hg, Sn) and bacteria (Mould, Salmonella, Staphylococcus aureus, and Escherichia coli) in Layang fish sticks. The ingredients used are Layang fish meat, tapioca flour, wheat flour, eggs, garlic and salt. Testing for metal contamination of Layang fish sticks using the ICP-MS method. Making sticks with the addition of fish is a food processing innovation with the aim of increasing nutritional value. The formulation used in this research was flying fish meat at 0% (D1), 10% (D2), 20% (D3), 30% (D4), and 40% (D5) of the amount of tapioca flour used three times. test. The research results showed that the heavy metals mercury, tin and cadmium were not found, but the heavy metal lead was found with values ​​of 0.09 to 0.14. This value does not exceed the threshold of SNI 0.2 - 2 mg/kg and BPOM 2022, namely 0.3 mg/kg. Likewise, in microbiological tests, Layang fish sticks are safe from mold, Salmonella bacteria, Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Kata kunci:    heavy metal, bacteria, laying fish, fish stick   Ikan layang (Decapterus sp) yang mengandung nilai gizi tinggi, sangat baik untuk mencegah stunting. Stik ikan merupakan cemilan yang banyak disukai. Pengujian cemaran logam dan biologi sangat penting untuk menjamin keamanan dan mutu stik. Makanan yang tercemar logam berat atau bakteri dapat menyebabkan keracunan dan penyakit. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui cemaran logam berat (Cd, Pb, Hg, Sn) dan bakteri (Kapang, Salmonella,Staphylococcus aureus, dan  Escherichia coli) pada stik ikan layang. Bahan yang digunakan adalah daging ikan layang, tepung tapioka, tepung terigu, telur, bawang putih, dan garam. Pengujian cemaran logam stik ikan layang menggunakan metode ICP-MS. Pembuatan stik dengan penambahan ikan merupakan inovasi pengolahan pangan dengan tujuan meningkatkan nilai gizi. Formulasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu daging ikan layang sebesar 0% (D1), 10% (D2), 20% (D3), 30% (D4), dan 40% (D5) dari jumlah tepung tapioka yang digunakan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan logam berat merkuri, timah, dan kadmium, namun ditemukan logam berat timbal dengan nilai 0.09 sampai 0.14. Nilai ini tidak melebihi ambang batas dari SNI 0.2 - 2 mg/kg dan BPOM tahun 2022 yaitu 0,3 mg/kg. Demikian pula dalam uji mikrobiologi, stik ikan layang aman dari Kapang, bakteri Salmonella, Staphylococcus aureus, dan  Escherichia coli. Kata kunci:    logam berat, bakteri, ikan laying, stik ikan
Tingkat Penerimaan Nori (Gracilaria sp.) dengan Kombinasi Gelatin Tulang Ikan: Sensory Acceptance of Nori (Gracilaria sp.) Combine with Fish Bone Gelatin Kalaka, Sri Rahayu; Naiu, Asri Silvana; Yusuf, Nikmawatisusanti
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.13.2.2025.64097

Abstract

Nori is a food product made from Gracilaria sp. which is increasingly in demand as a functional food source, but its sensory quality is greatly influenced by the binder used, one of which is gelatin. This study aims to analyze the effect of different combinations of fish bone gelatin on the hedonic acceptance level of nori made from Gracilaria sp. The main ingredient used is Gracilaria sp. seaweed combined with varying concentrations of fish bone gelatin (1%, 3% and 5%). The hedonic test was conducted by semi-trained panelists using a scale of 1–9 for appearance, taste, aroma, and texture parameters. The research data were analyzed using Kruskall wallis and Duncan's advanced test to see significantly different treatments. The results showed that the appearance of nori was relatively similar in all treatments with an average score of 7.00–7.04, as well as taste having a score of 7.36–7.68, while aroma and texture tended to be preferred in the 1% gelatin combination with values ​​of 7.24 for aroma and 7.64 for texture, respectively. Differences in gelatin concentration significantly affected sensory balance, with the use of high-density gelatin enhancing flavor by suppressing aftertaste, but decreasing aroma (6.60) and texture (6.84). Conversely, the use of low-density gelatin maintained the distinctive seaweed aroma and produced a crunchy texture preferred by panelists Kata kunci:  gelatin, gracilaria sp., nori, sensory   Nori merupakan produk pangan berbahan dasar Gracilaria sp. yang semakin diminati sebagai sumber pangan fungsional, namun kualitas sensori sangat dipengaruhi oleh bahan pengikat yang digunakan, salah satunya gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi gelatin tulang ikan yang berbeda terhadap tingkat penerimaan hedonik nori berbahan dasar Gracilaria sp.. Bahan utama yang digunakan adalah rumput laut Gracilaria sp. yang dikombinasikan dengan variasi konsentrasi gelatin tulang ikan (1%, 3% dan 5%). Uji hedonik dilakukan oleh panelis agak terlatih menggunakan skala 1–9 terhadap parameter kenampakan, rasa, aroma, dan tekstur. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Kruskall wallis dan uji lanjut Duncan untuk melihat perlakuan yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenampakan nori relatif sama pada semua perlakuan dengan skor rata-rata 7,00–7,04, begitupun dengan rasa memiliki skor 7,36 -7,68, sedangkan aroma dan tekstur cenderung lebih disukai pada kombinasi gelatin 1% dengan nilai masing-masing 7,24 untuk aroma dan 7,64 untuk tekstur. Perbedaan konsentrasi gelatin berpengaruh nyata terhadap keseimbangan sensori, dimana penggunaan gelatin tinggi meningkatkan cita rasa dengan menekan aftertaste, namun menurunkan skor aroma (6,60) dan tekstur (6,84). Sebaliknya, penggunaan gelatin rendah mempertahankan aroma khas rumput laut serta menghasilkan tekstur renyah yang lebih disukai panelis. Kata kunci:  gelatin, gracilaria sp., nori, sensori
Pengaruh Waktu Penyimpanan terhadap Mutu Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L.) Asap yang Diberi Pigmen Fikoeritrin dari Alga Halymenia durvillei: Effect of the addition of phycoerythrin pigment from the algae Halymenia durvillei on the quality of smoked skipjack (Katsuwonus pelamis L.) at cold temperatures Gerung, Marselino Stevano; Mantiri, Desy Maria Helena; Taher, Nurmeilita; Salindeho, Netty; Kemer, Kurniati; Sumilat, Deiske Adeliene; Kadang, Nurfadillah
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.13.2.2025.65464

Abstract

Smoked skipjack tuna (cakalang fufu) is a traditional fishery product from North Sulawesi with strong cultural and economic value. Typically, its natural color ranges from reddish to brownish. However, to enhance visual appeal, some producers add synthetic dyes, including Rhodamine-B, which poses potential health risks to consumers. This study aims to evaluate the potential of phycoerythrin pigment derived from the red alga Halymenia durvillei as a safe and functional natural colorant for smoked skipjack tuna, assessed through physicochemical, microbiological, and organoleptic characteristics during cold storage. The research employed a completely randomized design (CRD) with four treatment factors: phycoerythrin concentration, soaking duration, smoking temperature, and smoking duration. Parameters analyzed included moisture content, pH, Total Plate Count (TPC), and organoleptic attributes. Analyses were conducted on day 0 and day 7 of cold storage in vacuum packs. Results showed that moisture content decreased during storage. pH values also declined but did not differ significantly among treatments. TPC tended to increase over storage time but remained far below the maximum allowable microbial limits. Organoleptic evaluation indicated that phycoerythrin addition significantly improved product appearance without reducing acceptance of aroma, taste, or texture. The best overall sensory performance was observed in treatments incorporating phycoerythrin pigment. This study demonstrates that phycoerythrin has strong potential as a safe and effective natural colorant for smoked skipjack tuna, enhancing visual quality while maintaining product stability during storage.Kata kunci: moisture content, pH, phycoerythrin, smoked skipjack tuna, Total Plate Count (TPC)Cakalang asap (cakalang fufu) merupakan produk perikanan tradisional khas Sulawesi Utara yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi. Pada umumnya warna yang dihasilkan dari produk cafu merah kecoklatan, untuk meningkatkan minat pembeli para pelaku usaha menggunakan pewarna sintetis. Salah satu pewarna sintetis yang digunakan yaitu Rhodamin-B. Namun, praktik penambahan pewarna sintetis seperti Rhodamin-B untuk memperkuat warna produk berpotensi membahayakan kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pigmen fikoeritrin dari alga merah Halymenia durvillei sebagai pewarna alami fungsional pada cakalang asap ditinjau dari karakteristik fisikokimia, mikrobiologis, dan organoleptik selama penyimpanan dingin. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu konsentrasi pigmen fikoeritrin, lama perendaman, suhu pengasapan, dan lama pengasapan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, derajat keasaman (pH), Angka Lempeng Total (ALT), serta uji organoleptik. Pengujian dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-7 penyimpanan suhu dingin dalam kemasan vakum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air mengalami penurunan selama penyimpanan. Nilai pH mengalami penurunan namun tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. ALT menunjukkan kecenderungan meningkat selama penyimpanan, tetapi masih berada jauh di bawah batas maksimum cemaran mikroba yang ditetapkan. Uji organoleptik menunjukkan bahwa penambahan pigmen fikoeritrin meningkatkan kenampakan produk secara signifikan tanpa menurunkan tingkat penerimaan terhadap aroma, rasa, dan tekstur. Kombinasi penambahan pigmen fikoeritrin terhadap cakalang asap menunjukkan hasil terbaik berdasarkan penilaian sensori baik. Penelitian ini, penambahan pigmen fikoeritrin berpotensi digunakan sebagai pewarna alami yang aman dan efektif pada cakalang asap serta mampu meningkatkan mutu visual dan mempertahankan stabilitas kualitas selama penyimpanan.Kata kunci: angka lempeng total (ALT), cakalang asap, derajat kesamaan (pH), fikoeritrin, kadar air
Karakteristik Kolagen Kulit dan Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp.) dari Perairan Teluk Tomini Kota Gorontalo: Characteristics of Skin and Bone Collagen in Tuna (Thunnus Sp.) from the Waters of Tomini Bay Gorontalo City Djafar, Herviani; Sulistijowati, Rieny; Djailani, Fernandy M.
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.14.1.2026.64487

Abstract

Tuna (Thunnus sp.) is one of the leading fish commodities in Indonesia, especially in Gorontalo City, which is generally processed into loin, fillet, steak, canned products, and fresh products. Tuna can be used as a collagen producer. The purpose of this study was to extract and characterize collagen from tuna skin and bones. The results showed that the type of raw material affected the yield, water content, and FTIR of collagen. The yield in this study was 0.5% skin and 0.96% bone. Of the many wet materials processed, the dry collagen produced was small due to the acid concentration and also the materials used. The water content in skin collagen was higher than in bone, namely 13.32% skin and 6.96% bone. The physical characteristics of the collagen produced are FTIR analysis showing the presence of typical peaks of amide groups (A, I, II, III) which indicate the presence of collagen protein in skin collagen and in bone collagen the sample shows typical peaks of amide groups (A, I, II, III) which indicate the presence of collagen protein. Kata kunci:  FTIR, tuna, water content, collagen, tomini bay   Ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan merupakan salah satu komoditas ikan unggulan di Indonesia, khususnya di Kota Gorontalo yang umumnya diolah dalam bentuk loin, filet, steak, produk dalam kaleng dan produk segar. Ikan tuna dapat dimanfaatkan sebagai penghasil kolagen. Tujuan penelitian ini adalah ekstrasi dan karakteristik kolagen dari kulit dan tulang ikan tuna. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis bahan baku berpengaruh terhadap rendemen, kadar air, dan FTIR kolagen. Rendemen pada penelitian ini yaitu kulit 0,5% dan tulang 0,96%. Dari banyak bahan basah yang diproses, kolagen kering yang dihasilkan sedikit disebabkan karena konsentrasi asam dan juga bahan yang digunakan. Kadar air pada kolagen kulit lebih tinggi dibandingkan tulang yaitu kulit 13,32% dan tulang 6,96%. Karakteristik fisik kolagen yang dihasilkan adalah analisis FTIR menunjukkan adanya puncak khas gugus amida (A, I, II, III) yang menandakan keberadaan protein kolagen pada kolagen kulit dan pada kolagen tulang sampel menunjukkan puncak khas gugus amida (A, I, II, III) yang menandakan keberadaan protein kolagen. Kata kunci:  FTIR, ikan tuna, kadar air, kolagen, teluk tomini
Analisis Perbedaan Mutu Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Segar Menggunakan Perendaman Larutan Ekstrak Buah dan Daun Mangrove (Rhizophora mucronata) : Analysis of Quality Differences in Fresh Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) Treated with a Soaking Solution of Mangrove (Rhizophora mucronata) Fruit and Leaf Extracts Tahuru, Afidtriadi; Rita Marsuci Harmain, Rita; Mile, Lukman
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.14.1.2026.64591

Abstract

Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the leading non-fish commodities in Gorontalo Province. Alternative post-harvest treatments to maintain the quality of fresh vannamei shrimp can be obtained from the mangrove plant Rhizophora mucronata. The objectives of this study were to analyse the hedonic quality of fresh vannamei shrimp using extracts from the fruit and leaves of R. mucronata mangroves during the soaking period; analysing the hedonic, chemical, and microbiological quality of the best mangrove solution extract during the soaking period; and analysing the hedonic quality of the mangrove solution extract during storage at room temperature. The hedonic quality method was based on a fresh shrimp quality score sheet completed by 25 semi-trained panelists. Data processing used the non-parametric Kruskal-Wallis statistic. Chemical (pH) and microbiological (Total Plate Count (TPC)) quality testing used a non-factorial completely randomised design. The treatments consisted of 0 hours (F1), 3 hours (F2), 6 hours (F3) and 9 hours (F4) with 3 (three) replicates. Analysis of variance (ANOVA) was performed using Statistical Package For Social Science 16 (SPSS 16). The results of hedonic, chemical (pH) and microbiological (TPC) quality analyses, if significant, were followed by Duncan's test and processed descriptively and quantitatively. The results showed that mangrove leaf extract solution was more effective in maintaining the quality of vannamei shrimp for up to 6 hours of immersion. The pH value tends to fluctuate but remains within a safe range, and the number of microbes (Total Plate Count) is still below the safe limit of Indonesian National Standard 01-2728.1-2006 on the quality of fresh shrimp up to 6 hours of immersion. Based on the results of hedonic quality tests, the longer the storage time at room temperature, the greater the decline in the quality of fresh vannamei shrimp. Keywords:    quality, soaking, storage, Rhizophora mucronata, Vannamei shrimp Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) sebagai salah satu komoditas unggulan non ikan di Propinsi Gorontalo. Alternatif penanganan pascapanen untuk mempertahankan mutu udang vannamei segar dapat diperoleh dari tumbuhan mangrove Rhizophora mucronata Tujuan penelitian adalah menganalisis mutu hedonik udang vannamei segar menggunakan ekstrak larutan buah dan daun mangrove R.mucronata selama waktu perendaman; menganalisis mutu hedonik, kimia dan mikrobiologi ekstrak larutan mangrove terbaik selama waktu perendaman; dan menganalisis mutu hedonik ekstrak larutan mangrove selama waktu penyimpanan pada suhu ruang. Metode mutu hedonik berdasarkan scorsheet mutu udang segar sebanyak 25 panelis semi terlatih. Pengolahan data menggunakan statistik non parametrik Kruskal Wallis. Pengujian mutu kimia (pH) dan mikrobiologi (Total Plate Count (TPC)menggunakan Rancangan Acak Lengkap Non Faktorial. Perlakuan terdiri dari 0 jam (F1), 3 jam (F2), 6 jam (F3) dan 9 jam (F4) sebanyak 3 (tiga) kali ulangan. Analisis ragam (ANOVA) menggunakan Statistical Package For Social Science 16 (SPSS 16). Hasil analisis mutu hedonik, kimia (pH) dan mikrobiologi (TPC) jika signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan dan diolah secara deskriptif kuatitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak larutan daun mangrove lebih mampu mempertahankan mutu udang vannamei hingga 6 jam perendaman. Nilai pH cenderung berfluktuasi tetapi tetap dalam rentang aman, dan jumlah mikroba (Total Plate Count) masih di bawah batas aman Standard Nasional Indonesia 01-2728.1-2006 tentang mutu udang segar hingga jam ke-6 perendaman. Larutan ekstrak daun mangrove pada udang vannamei selama penyimpanan pada suhu ruang berdasarkan hasil uji mutu hedonik diperoleh bahwa semakin lama waktu penyimpanan pada suhu ruang terjadi penurunan mutu udang vannamei segar. Kata Kunci: Mutu; Perendaman; Penyimpanan, Rhizophora mucronata; Udang vannamei
Analisis Proksimat dan Angka Lempeng Total pada Daging dan Tinta Cmi-Cumi (Loligo sp.) dI Pasar Bersehati Manado : Proximate Analysis and Total Plate Count of Squid (Loligo sp.) Meat and Ink at Bersehati Market in Manado City Taufik, Chesia; Dien, Henny Adeleida; Makapedua, Daisy Monica; Wonggo, Djuhria; Mentang, Feny; Reo, Albert Royke
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.14.1.2026.66196

Abstract

Squid (Loligo sp.) has meat that is rich in protein and ink that contains melanoprotein, which is a nutritionally valuable by-product but has not been optimally utilized. This study aimed to analyze the proximate composition (moisture content, ash content, total protein, and total fat) and Total Plate Count (TPC) of fresh squid meat and ink purchased from Bersehati Market, Manado. The study employed a descriptive quantitative method, with proximate and TPC analyses conducted in duplicate using the oven method for moisture content, gravimetric method for ash content, Kjeldahl method for total protein, Soxhlet extraction for total fat, and pour plate method for TPC. The results showed that squid meat had a moisture content of 90.30%, ash content of 1.19%, total protein of 20.05%, and total fat of 0.50%, while squid ink had a moisture content of 83.52%, ash content of 1.69%, total protein of 10.65%, and total fat of 1.66%. Squid meat showed higher moisture content and total protein, whereas squid ink showed higher ash content and total fat. The TPC of squid meat was 1.19 × 10¹ log CFU/mL, while squid ink showed a slightly lower value of 1.09 × 10¹ log CFU/mL, and both squid meat and ink were within the maximum permissible limits of microbial contamination according to the applicable standards. Kata kunci:  ink, loligo, meat, proximate, TPC Cumi-cumi Loligo sp. memiliki daging kaya protein dan tinta yang mengandung melanoprotein sebagai limbah bernilai gizi tinggi namun belum dimanfaatkan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan proksimat (kadar air, kadar abu, total protein, total lemak) serta Angka Lempeng Total (ALT) pada daging dan tinta cumi segar yang dibeli dari pasar Bersehati Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, pengujian proksimat dan ALT dilakukan dengan dua kali ulangan: kadar air (metode oven), kadar abu (gravimetri), total protein (Kjeldahl), total lemak (Soxhlet), ALT (pour plate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging cumi memiliki kadar air 90.30%, kadar abu 1.19%, total protein 20.05% dan total lemak 0.50%. Tinta cumi memiliki kadar air 83.52%, kadar abu 1.69%, total protein 10.65% dan total lemak 1.66%. Daging cumi memiliki kadar air dan total protein yang tinggi, dan tinta cumi memiliki kadar abu dan total lemak yang tinggi. ALT daging cumi 1.19x101 log CFU/mL, dan tinta cumi sedikit lebih rendah di 1.09x101 log CFU/mL, daging dan tinta cumi masih memenuhi batas maksimum cemaran mikroba sesuai standar yang berlaku. Kata kunci:  ALT, daging, loligo, proksimat, tinta  
Evaluasi Perlakuan Pemasakan bertekanan dan Kukusan pada Karajteristik Organoleptik, Perubahan Nilai Gizi, dan Logam Berat pada Ikan Tindarung Perairan Sulawesi Utara : Evaluation of Pressure Cooking and Steaming on the Sensory Characteristics, Changes in Nutritional Value, and Heavy Metal Content of Tindarung Fish in North Sulawesi Waters Pratiwi, Aprilia Eka; Rumengan, Inneke Fenny Melke; Sumilat, Deiske Adeline; Lintang, Rosita Anggreiny; Rengkung, Leonardus Ricky; Salindeho, Netty
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.14.1.2026.66297

Abstract

North Sulawesi is one of Indonesia’s major fisheries regions, where large pelagic tuna-like species are widely consumed and commonly marketed in minimally processed forms. However, fish quality can deteriorate rapidly when post-harvest handling and thermal processing are not properly controlled. This study evaluated the effects of steam cooking and pressure-based cooking (presto) on the sensory quality, proximate composition, selected minerals, and heavy-metal levels of tindarung fish muscle collected from the Bitung Fishing Port, North Sulawesi. Fresh fish were subjected to steam cooking (15–20 min at approximately 60–100 °C) or pressure-based cooking (15 min at approximately 115 °C) and compared with fresh, untreated samples. Sensory attributes (appearance, odor, taste, and texture) were assessed in accordance with Indonesian National Standards, while proximate composition, mineral content (Ca and P), and heavy metals (Cd and Hg) were determined using standardized laboratory methods. All treatments exhibited acceptable sensory quality, with scores exceeding 6. Steam-cooked fish showed lower moisture content (63.31%) and higher protein content (27.32%) than pressure-based cooked fish (65.41% moisture; 18.65% protein). In contrast, fat content was slightly higher in pressure-based cooked fish (8.48%) than in steam-cooked fish (7.66%). Cadmium concentrations were low (0.005–0.008 mg/kg), and calcium levels in muscle were below the detection limit (<1.19 mg/kg). Total mercury concentrations ranged from 0.55 to 0.76 mg/kg, indicating that product-safety assessment should consider regulatory limits applicable to large predatory fish species. Overall, steam cooking better preserved the nutritional profile of tindarung fish and is recommended as a practical processing method, accompanied by routine mercury monitoring to ensure consumer safety. Kata kunci:  tindarung fish, organoleptics, steam and pressure-based cooking, proximate composition, mineral and heavy metal level   Sulawesi Utara adalah salah satu wilayah penting perikanan tangkap di Indonesia, dengan bahan pelagis besar bertipe tuna (tuna‑like species) yang banyak dikonsumsi, termasuk ikan tindarung. Mutu ikan mudah menurun apabila penanganan pascapanen dan proses perlakuan termal tidak dilakukan secara tepat. Studi ini mengevaluasi pengaruh pendekatan proses pengukusan dan pemasakan bertekanan (pemasakan bertekanan) pada mutu sensori, komposisi proksimat, mineral terpilih, dan juga kadar logam berat pada daging ikan tindarung yang diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Bitung, Sulawesi Utara. Ikan segar diproses dengan proses pengukusan (15–20 menit; ~60–100 °C) atau pemasakan bertekanan (15 menit; ~115 °C), lalu dibandingkan dengan kontrol segar. Uji organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur) mengacu pada SNI, sedangkan analisis proksimat, mineral (Ca dan P), dan logam berat (Cd dan Hg) dilakukan menggunakan pendekatan uji laboratorium terstandar. Seluruh perlakuan memperlihatkan mutu organoleptik yang baik (skor >6). Ikan kukus memiliki kadar air 63,31%, abu 1,35%, lemak 7,66%, protein 27,32%, karbohidrat 0,37%, dan serat kasar 0,12%, sedangkan ikan pemasakan bertekanan memiliki kadar air 65,41%, abu 0,91%, lemak 8,48%, protein 18,65%, karbohidrat 6,55%, dan serat kasar 0,11%. Kadar Cd rendah (0,005–0,008 mg/kg), kalsium pada jaringan otot berada di bawah batas deteksi (<1,19 mg/kg), dan fosfor meningkat secara relatif sesudah pemasakan. Kadar Hg total berada pada rentang 0,55–0,76 mg/kg, dengan demikian interpretasi keamanan produk perlu mempertimbangkan kategori regulasi guna ikan predator besar dan juga kebutuhan pemantauan berkala. Pada umumnya, proses pengukusan memberikan profil gizi yang lebih menguntungkan dibandingkan pemasakan bertekanan dan direkomendasikan sebagai pendekatan perlakuan yang lebih optimal dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, khususnya merkuri. Kata kunci:  ikan tindarung, logam berat, kukus, organoleptik, pemasakan bertekanan, komposisi proksimat, kadar mineral