cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik" : 107 Documents clear
Gambaran magnesium serum pada pekerja bangunan Mudeng, Gloria N.L.; Paruntu, Michaela E.; Assa, Youla A.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14630

Abstract

Abstract: Magnesium is one of the makroelemen body needs in large quantities and the fourth most electrolyte in the body. Vigorous activity could lead to change magnesium levels. The aim of this study was to determine the serum magnesium levels in construction workers. The study was conducted in a descriptive cross sectional arrangement with thirty respondents who were eligible to the inclusion criteria. Samples were taken using a total sampling methods. The results showed 29 respondents (96,67%) with a normal serum magnesium levels of 1,6-2,6 mg/dL and 1 repondent (3,33%) with low serum magnesium levels. Conclusion: Most of the serum magnesium levels in construction workers are in normal limits.Keywords: serum magnesium levels, construction workers, vigorous activity. Abstrak : Magnesium merupakan salah satu makroelemen yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar dan merupakan elektrolit keempat terbanyak dalam tubuh. Aktivitas fisik berat dapat merubah kadar magnesium dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar magnesium serum pada pekerja bangunan. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan potong lintang dengan sampel berjumlah 30 orang sesuai dengan kriteria inklusi. Metode pemilihan sampel menggunakan cara total sampling. Hasil penelitian dengan nilai rujukan normal 1,6-2,6 mg/dL didapat 29 orang (96,67%) dengan kadar normal dan 1 orang (3,33%) dengan kadar magnesium serum rendah. Simpulan: Sebagian besar kadar magnesium serum pada pekerja bangunan ada dalam batas normal. Kata kunci: kadar magnesium serum, pekerja bangunan, aktivitas fisik berat.
Gambaran protein urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tangkin, Cecillia P.; Mongan, Arthur E.; Wowor, Mayer F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14683

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis that can affect almost any organ, especially lungs. Anti-tuberculosis drugs, such as rifampicin and streptomicin, are nephrotoxic or destructive to kidney cells. One of the markers of kidney function deficiency is increase protein excretion in urine or proteinuria. Proteinuria is one of the markers of decreased kidney function. This study was aimed to obtain the description of protein urine on pulmonary tuberculosis patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an observational descriptive study on pulmonary tuberculosis patients conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Samples were obtained by using random urine specimen that met the predefined criteria. Most of the tesults of protein urinalysis of 30 patients were negative for protein. Some of the patients with positive results (proteinuria) had risk factors for comorbid disease that can intervened the protein urinalysis result. Conclusion: Protein urinalysis of 30 patients showed negative results in either in-patient or out-patient of pulmonary tuberculosis patients.Keywords: pulmonary tuberculosis, urinalysis, proteinuria. Abstrak: Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Obat anti-tuberkulosis (OAT), seperti rifampisin dan streptomisin, dapat bersifat nefrotoksik atau destruktif terhadap sel-sel pada ginjal. Salah satu penanda adanya perburukan fungsi ginjal adalah ditemukan peningkatan ekskresi protein pada urin atau disebut proteniuria. Proteinuria merupakan penanda adanya perburukan fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran protein urin pada pasien tuberkulosis dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional pada pasien tuberkulosis paru dewasa yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel penelitian ialah sampel urin sewaktu dari semua pasien tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan urinalisis protein urin pada 30 pasien tuberkulosis paru, sebagian besar sampel menunjukkan hasil protein urin negatif. Beberapa pasien dengan hasil protein urin positif atau proteinuria memiliki faktor resiko penyakit penyerta yang dapat mengintervensi hasil urinalisis protein. Simpulan: dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil urinalisis protein pada 30 pasien tuberkulosis paru menunjukkan hasil protein urin negatif baik pada pasien rawat inap maupun rawat jalan. Kata kunci: tuberkulosis paru, urinalisis, proteinuria.
Perubahan kadar LDL dan HDL pada kelinci New Zealand White yang diberi ekstrak beras hitam (Oryza sativa L.) Runtu, Jessica G.; Kawengian, Shirley E.S.; Mayulu, Nelly; Bolang, Alexander S.L.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14444

Abstract

Abstract: Cardiovascular disease, especially coronary heart disease (CHD), is the leading cause of death annually. Low HDL and high LDL levels are related to the increased risk of CHD. Polyphenol such as anthocyanin in black rice could reduce the cardiovascular risks due to its antioxidant that has anti-platelet and anti-inflammatory activities. This study was aimed to determine the changes in LDL and HDL levels in rabbits fed with black rice extract (Oryza sativa L.). This was a true experimental study with a pretest posttest control group design. Samples were male New Zealand White rabbits, weighing 0.8-2.5 kg divided into four groups. Group A was fed with standard diet; group B was fed with high-fat diet; group C was fed with high-fat diet and black rice extract; and group D was fed with high-fat diet and atorvastatin. Data were presented descriptively. The results showed that the mean LDL level of group C increased by 6.5 mg/dl but one sample showed a decrease of 2 mg/dl. The mean level of HDL of group C decreased 0.50 mg/dl. This reduction was not as many as the other groups but one sample showed an increase of 5 mg/dl. Conclusion: Not all rabbits fed with black rice extract showed decreased LDL level and increased HDL level.Keywords: LDL, HDL, black rice extract Abstrak: Penyakit kardiovaskuler terutama penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian tertinggi pertahunnya. Kadar HDL rendah serta kadar LDL tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko PJK. Polifenol seperti antosianin yang terdapat dalam beras hitam dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular karena antioksidannya dengan aktivitas anti-platelet dan anti-inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kadar LDL dan HDL pada kelinci yang diberi ekstrak beras hitam (Oryza sativa L.). Jenis penelitian ialah true experimental dengan desain pre test post test control grup. Sampel ialah kelinci New Zealand White jantan, berat badan 0,8- 2,5 kg. Kelompok A diberi pakan standar; kelompok B diberi diet tinggi lemak; kelompok C diberi diet tinggi lemak dan ekstrak beras hitam; dan kelompok D diberi diet tinggi lemak dan atorvastatin. Data disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan pada kelompok C, rerata kadar LDL meningkat 6,5 mg/dl tetapi satu sampel mengalami penurunan sebesar 2 mg/dl. Rerata kadar HDL pada kelompok C menurun 0,50 mg/dl; penurunan ini tidak sebesar pada kelompok lainnya tetapi satu sampel mengalami peningkatan sebesar 5 mg/dl. Simpulan: Kelinci yang diberi ekstrak beras hitam tidak semua mengalami penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL. Kata kunci: LDL, HDL, Ekstrak beras hitam
Gambaran kadar protein dalam urin pada pekerja bangunan Jumaydha, Lulu N.; Assa, Youla A.; Mewo, Yanti M.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14621

Abstract

Abstract: Protein in urine or proteinuria is a condition which can happen in people with renal dysfunction, but there is also a physiological condition called transient proteinuria. Transient proteinuria or physiology proteinuria happens temporarily after people doing vigorous physical activity. This proteinuria occurs due to the change of renal blood stream which cause disruption of glomerulus and tubulus function. This situation is not dangerous because it is only occur temporarily and reversible. A construction worker is categorized in vigorous physical activity. One of their main job is to lift heavy weight. The purpose of the present study was to find out the array of proteinuria levels in construction workers. This study was conducted in a cross-sectional descriptive arrangement from the period of August-December 2016 at Medical Faculty of Sam Ratulangi University. The samples were taken using total sampling methods with 30 subjects. Research results showed that one subject (3.33%) showed high protein level in urine and 29 subject (96.67%) showed normal protein level in urine. Conclusion: It can be concluded that most of urine protein levels in construction workers are normal.Keywords: proteinuria, construction workers, vigorous physical activity Abstrak: Protein dalam urin atau yang bisa disebut dengan proteinuria merupakan suatu keadaan yang biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami gangguan ginjal, tetapi ada tipe dari proteinuria yang merupakan keadaan fisiologis yang disebut dengan transien proteinuria. Transien proteinuria atau proteinuria yang bersifat sementara bisa terjadi setelah seseorang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas berat. Proteinuria tipe ini dapat terjadi karena perubahan aliran darah pada ginjal yang menyebabkan terganggunya fungsi dari glomerulus dan tubulus ginjal. Keadaan ini tidak berbahaya karena hanya bersifat sementara dan reversibel. Pekerja bangunan merupakan pekerjaan yang termasuk dalam aktivitas fisik dengan intensitas berat. Salah satu contoh pekerjaannya yaitu mengangkat beban yang berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar protein dalam urin pada pekerja buruh bangunan. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional yang bersifat dekriptif yang dilakukan pada periode bulan Agustus-Desember 2016 di lokasi pembangunan gedung kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat satu orang (3,33%) dengan kadar protein yang tinggi dan 29 orang (96,67%) dengan kadar protein normal. Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa gambaran kadar protein dalam urin pada pekerja bangunan sebagian besar normal. Kata kunci: proteinuria, pekerja bangunan, aktivitas fisik berat
Efek pemberian metilprednisolon oral terhadap gambaran histopatologik hati tikus wistar (Rattus norvegicus) Rifaldi, Muhammad; Lintong, Poppy M.; Durry, Meilany F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14657

Abstract

Abstract: Drug-induced liver injury (DILI) is an adverse drug reaction which vary in its clinical manifestations, ranging from an asymptomatic increase in liver enzymes to fulminant hepatic failure. Several drugs can cause DILI, one of which is corticosteroid. Methylprednisolone (MT) is a kind of corticosteroid drug which is considered to be a safe drug and it is not believed to cause DILI and often used for the treatment of severe hepatitis. However, there are some reports of DILI in patients treated with high-dose MT. The objectives of this study was to determine the effect of oral administration of MT on liver’s histological changes of witar rats. This study was using 15 rats which were divided into 3 groups; 1 negative control group (group A) and 2 treatment groups (group B and group C). Group B was given a low-dose oral MT, 2 mg/day, while group C was given oral high-dose MT, 4 mg/day for 14 consecutive days. The results showed steatohepatitis features in both low-dose and high-dose MT administration groups. Histopathological features of both treatment groups are similar. Qualitatively, high-dose MT group showed worse histopathological features than the low-dose MT group. Conclusion: Administration of MT by 2mg/day and 4mg/day may induced steatohepatitis in wistar rat’s liver.Keywords: methylprednisolone, liver histopathological features Abstrak: Drug-induced liver injury (DILI) atau cedera hati akibat obat merupakan reaksi efek samping obat dengan manifestasi klinis yang beragam, mulai dari peningkatan enzim-enzim hati yang bersifat asimptomatik sampai dengan timbulnya gagal hati fulminan. Banyak obat-obatan yang dapat menyebabkan DILI, salah satunya adalah golongan kortikosteroid. Metilprednisolon (MT) adalah obat golongan kortikosteroid yang dianggap sebagai obat yang aman dan tidak diyakini dapat menyebabkan DILI, bahkan sering digunakan untuk terapi pasien hepatitis berat. Akan tetapi, beberapa klinisi melaporkan kasus DILI pada pasien-pasien yang diterapi dengan MT dosis tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian MT oral terhadap perubahan histologik hati tikus wistar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratorik menggunakan 15 ekor tikus yang dibagi dalam 3 kelompok; 1 kelompok kontrol negatif (kelompok A) dan 2 kelompok perlakuan (kelompok B dan kelompok C). Kelompok B diberikan MT oral dosis rendah sebanyak 2 mg/hari sedangkan kelompok C diberikan MT oral dosis tinggi sebanyak 4 mg/hari setiap hari selama 14 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang sama secara mikroskopik pada kedua kelompok perlakuan yaitu terjadinya steatohepatitis. Tetapi secara kualitatif, kelompok tikus yang mendapatkan MT dosis tinggi memberikan gambaran histopatologik yang lebih jelek dibandingkan kelompok yang diberi dosis rendah. Simpulan: Pemberian metilprednisolon dosis 2mg/hari dan dosis 4 mg/hari dapat mencetuskan terjadinya steatohepatitis pada hati tikus wistar. Kata kunci: metilprednisolon, gambaran histopatologik hati
Hubungan pengetahuan gizi ibu dengan kecukupan asupan energi anak usia 1-3 tahun di Desa Mopusi Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara Watania, Tasya; Mayulu, Nelly; Kawengian, Shirley E.S.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14036

Abstract

Abstract: Nutritional adequacy or sufficiency of energy in infants is still a public health problem, especially in developing countries and poor countries. As a developing country, Indonesia still has macronutrient deficiencies such as stunting, wasting, and underweight. Maternal level of knowledge about nutrition influences the attitude and behavior in chosing the appropriate and qualified food. This study was aimed to determine the relationship between maternal knowledge and the adequacy of energy intake of toddlers at Mopusi village. This was a correlation study with a cross sectional design. Respondents of this study were mothers who had toddlers aged 1-3 years and lived at Mopusi vollage in September 2014 - December 2014. Data were analyzed by using SPSS. The results showed that there were 90 mothers as respondents. Based on maternal knowledge about nutrition, there were 41 respondents (45.6%) with poor knowledge. Based on adequate intake of energy toddlers, there were 75 toddlers (83%) with less energy intake. The relationship between maternal knowledge about nutrition and the adequacy of energy intake among toddlers showed the correlation coefficient r = 0.06 and p = 0.97. Conclusion: There was no significant correlation between maternal knowledge about nutrition and the adequacy of energy intake among toddlers at Mopusi village. Keywords: mother’s knowledge about nutritions, energy intake, toddlers Abstrak: Kecukupan gizi atau kecukupan energi pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama dinegara-negara berkembang dan negara miskin. Sebagai negara berkembang, Indonesia mempunyai masalah defisiensi makronutrien antara lain stunting, wasting dan underweight. Tingkat pengetahuan gizi seseorang ibu berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan kecukupan asupan energi batita di Desa Mopusi Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Induk. Jenis penelitian ialah korelasi dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah ibu yang memiliki batita usia 1-3 tahun dan berdomisili di Desa Mopusi pada bulan September 2014 – Desember 2014. Data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 41 responden (45,6%) berpengetahuan gizi kurang. Mengenai kecukupan asupan energi dari 90 sampel penelitian terdapat 75 batita (83%) dengan asupan energi kurang. Hubungan pengetahuan gizi ibu dengan kecukupan asupan energi batita mendapatkan koefisien korelasi r= 0,06 dan p= 0,97. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan gizi ibu dengan kecukupan asupan energi batita di Desa Mopusi.Kata kunci: pengetahuan gizi ibu, asupan energi, batita.
Hubungan lingkar pinggang dengan frekuensi napas pada guru SMP Kristen Eben Haezar 1, 2, dan SMA Kristen Eben Haezar Manado Mogi, Jessica G.; Wungouw, Herlina I.S.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14612

Abstract

Abstract: Waist circumference is a simple method of measuring abdominal fat, which encompasses visceral and subcutaneous fat. Excessive abdominal fat in people with large waist circumference can compress the chest wall and diaphragm mechanically causing an inability of the lungs to expand optimally, which results in shallow and rapid breathing pattern. Teachers are among the high-risk groups to experience an increase in the waist circumference due to the sedentary work pattern. This was an observational study with a cross-sectional design. This study was aimed to obtain the correlation between waist circumference and respiratory rate in teachers. The results showed that there were 84 teachers of Eben Haezar Christian Junior High School 1, 2, and Eben Haezar Christian Senior High School Manado as subjects. Measurements of waist circumference and respiratry rate were performed on all subjects. It was found that the mean waist circumference of female teachers was 89.04 cm meanwhile of male teachers was 92.31 cm. The mean respiratory rate was 21 breaths per minute. The Pearson Bivariate Correlation statistic test showed that there was a significant positive moderate correlation between waist circumference and respiratory rate (r = 0.493; p < 0.05).Keywords: waist circumference, respiratory rate, teachers Abstrak: Lingkar pinggang merupakan suatu metode sederhana yang digunakan untuk mengukur lemak di bagian abdomen, meliputi lemak viseral dan lemak subkutan. Lemak abdominal yang berlebihan menekan dinding dada dan diafragma sehingga paru-paru tidak dapat mengembang secara optimal, menyebabkan pernapasan yang cepat dan dangkal. Guru merupakan kelompok yang berisiko mengalami peningkatan ukuran lingkar pinggang dikarenakan pola pekerjaan yang sedenter. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara lingkar pinggang dan frekuensi napas pada guru-guru. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Terdapat 84 subjek terdiri dari guru-guru yang mengajar di SMP Kristen Eben Haezar 1, 2, dan SMA Kristen Eben Haezar Manado. Pengukuran lingkar pinggang dan frekuensi pernapasan dilakukan secara langsung. Hasil penelitian mendapatkan rerata lingkar pinggang pada guru wanita ialah 89,04 cm dan pada guru pria 92,31 cm, dengan rerata frekuensi napas 21 kali per menit. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Pearson bivariat menunjukkan bahwa ukuran lingkar pinggang memiliki korelasi positif yang bermakna dan cukup kuat dengan frekuensi napas (r = 0,493; p < 0,05). Kata kunci: lingkar pinggang, frekuensi napas, guru
Gambaran eritrosit urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Sinaga, Gracia S.; Rambert, Glady I.; Wowor, Mayer F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14648

Abstract

Abstract: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis remains a major global health problem and ranks as the second leading cause of death from an infectious disease worldwide. Anti-tuberculosis drugs, such as streptomycin and rifampicin are nephrotoxic. If the kidney function decreased, especially the glomerulus there can be found blood cells in the urine. A small number of erythrocytes may be found in normal urine, about 0-2 cells per HPF (High Power Field). But more than three erythrocytes per HPF is generally considered hematuria. This study aims to describe about how the urine erythrocytes in adult pulmonary tuberculosis patients at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Research design used is descriptive observational research. Samples were urine samples of all pulmonary tuberculosis patients that suit to inclusion criteria. This study was conducted from October to November 2016. The results of chemical urinalysis of urine erythrocytes are negative in 20 patients and positive in 10 patients, while the results of microscopic urinalysis of urine erythrocytes are normal in 26 patients and hematuria in 4 patients. Conclusion: Hematuria mostly found in males, age 56-65 years old, default tuberculosis type, the first category of anti-tuberculosis drugs, the duration of therapy about 3-4 months, and in patients with comorbid disease.Keywords: pulmonary tuberculosis, urinalysis, hematuria Abstrak: Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia dan menduduki peringkat kedua penyebab kematian oleh penyakit infeksi di dunia. Obat anti-tuberkulosis seperti streptomisin dan rifampisin memiliki efek nefrotoksik. Apabila fungsi ginjal terutama glomerulus telah rusak maka dapat ditemukan adanya eritrosit dalam urin. Pada urin normal terdapat eritrosit sekitar 0-2 sel/LPB. Jika ditemukan 3 sel/LPB atau lebih, maka disebut hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran eritrosit urin pada pasien tuberkulosis paru dewasa di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional. Sampel penelitian adalah sampel urin sewaktu dari semua pasien tuberkulosis paru yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan sejak Oktober-November 2016. Dari hasil pemeriksaan eritrosit urin secara kimia didapatkan hasil negatif pada 20 pasien dan hasil positif pada 10 pasien, sedangkan pemeriksaan mikroskopis eritrosit urin ditemukan hasil normal pada 26 pasien dan hasil hematuria pada 4 pasien. Simpulan: Hematuria didapatkan lebih banyak pada pasien laki-laki, pada kelompok usia 56-65 tahun, pada jenis kasus putus obat, pada jenis pengobatan kategori 1, pada lama pengobatan 3-4 bulan, dan pada pasien dengan penyakit penyerta. Kata kunci: tuberkulosis paru, urinalisis, hematuria
Gambaran histologik otot jantung pada hewan coba postmortem Ubruangge, Tonci; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J.R.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.13731

Abstract

Abstract: Commonly, unnatural death is complicated and causes difficulties for to the investigating officers to reveal the modus operandi and the time of death. Estimation of postmortem interval is very important in the investigation, albeit, it is frequently put the investigators to a debate. This study aimed to obtain the histological changes of heart muscle at several time intervals postmortem. This was a descriptive observational study. A domestic pig weighed ±20kg was used as model. The pig was killled by conducting a blunt trauma at its occipital area. Heart muscle samples were taken at several time intervals as follows: 15 minutes, 30 minutes, 45 minutes, 60 minutes, 75 minutes, 90 minutes, 105 minutes, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 12 hours, and 24 hours postmortem. The histological changes were observed with an Olympus CX21 microscope and Optilab. The percentages of those changes were evaluated at 5 high-power fields (400x) for each sample. The results showed that less than 30% of myocytes had flattened and denser nuclei at 105 minutes postmortem and were associated with hydrophic degeneration at 2 hours postmortem. Those changes became widely spreaded and at 24 hours postmortem they could be identified in 60-80% of myocytes. Albeit, the striated pattern could still be identified until 24 hours postmortem. Conclusion: The histological changes of heart muscle postmortem namely morpholocical changes of the nuclei and hydrophic degeneration could be identified at 2 hours postmortem. At 24 hours postmortem those changes were distributed widely among the myocytes, however, the striated pattern could still be identified. Moreover, there were still focal areas with normal appearance. Keywords: histological changes, cardiac muscle, postmortem Abstrak: Kematian tidak wajar yang dialami seseorang dengan berbagai motif kejahatan dapat menyulitkan para penyidik dalam menggungkapkan modus operandi dan waktu kematian. Penentuan lama kematian k orban sangat dibutuhkan dan sering menjadi perdebatan di peradilan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perubahan histologik jaringan otot jantung hewan coba pada beberapa interval waktu postmortem. Jenis penelitian ialah deskriptif-observasional menggunakan hewan coba satu ekor babi lokal dengan berat badan ±20kg. Hewan coba dimatikan dengan pukulan benda tumpul pada area osipital. Sampel otot jantung diambil pada beberapa interval waktu: 15 menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit, 75 menit, 90 menit, 105 menit, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam postmortem. Perubahan histologik diamati dengan mikroskop Olympus CX21 dan Optilab. Persentase perubahan tersebut dievaluasi pada 5 lapang pandang pembesaran 400x. Hasil penelitian mendapatkan <30% miosit dengan inti yang memipih dan memadat pada 105 menit postmortem serta degenerasi hidropik 2 jam postmortem. Perubahan-perubahan tersebut makin meluas dan pada 24 jam postmortem telah tampak pada 60-80% miosit jantung tetapi corak seran lintang tetap dapat diidentifikasi. Simpulan: Perubahan histologik berupa perubahan morfologik inti disertai degenerasi hidropik mulai tampak pada 2 jam postmortem dan pada 24 jam postmortem perubahan tersebut telah terdistribusi luas. Walaupun demikian, pada 24 jam postmortem corak seran lintang masih dapat diidentifikasi. Juga terdapat area-area fokal dengan jaringan otot jantung yang masih tampak normal.Kata kunci: perubahan histologik, otot jantung, postmortem
GAMBARAN TINGKAT INTELIGENSI MAHASISWA TAHUN PERTAMA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Montolalu, Nadine L.H.S.; Opod, Hendri; Pali, Cicilia
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14603

Abstract

Abstract: Intelligence is one of the mental, mind, and human intellectual ability. Problem Based Learning (PBL) learning system used in medical faculty requires students to be able to correlate the various sciences, concepts and theories to solve health problems. Good intelligence capability was considered as one of the important things. This thesis aims was to describe the intelligence level of the first-year physician education courses students. The research was a descriptive research with cross sectional study approach. Respondents in this research were 101 people who fulfilled the inclusion criteria. Intelligence test?s tool used was Intelligenz Struktur Test (IST). The results of this research was obtained IQ level, 1 subject (1%) in very superior category, 15 subjects (15%) in superior category, 28 subjects (28%) in high-average category, 49 subjects (48%) in average category, 7 subjects (7%) in low-average category, and 1 subject (1%) in weak boundary category. Conclusion: Based on the results, can be concluded that intelligence level in most (48%) of the first-year physician education courses students at medical faculty of Sam Ratulangi University was in average category.Keywords: IQ, intelligence level, medical student Abstrak: Inteligensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual manusia. Sistem pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang digunakan di fakultas kedokteran menuntut mahasiswa agar mampu mengorelasikan berbagai ilmu, konsep dan teori untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan. Kemampuan inteligensi yang baik dipertimbangkan sebagai salah satu hal penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat inteligensi mahasiswa tahun pertama program studi pendidikan dokter. Penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang. Responden dalam penelitian ini berjumlah 101 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Alat tes inteligensi yang digunakan adalah Intelligenz Struktur Test (IST). Hasil yang didapatkan, tingkat kemampuan IQ dengan kategori sangat superior 1 subyek (1%), kategori superior 15 subyek (15%), kategori rata-rata tinggi 28 subyek (28%), kategori rata-rata 49 subyek (48%), kategori dibawah rata-rata 7 subyek (7%), dan sisanya 1 subyek (1%) pada kategori batas lemah. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat inteligensi mahasiswa program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi terbanyak (48%) berada pada kategori rata-rata. Kata kunci: IQ, tingkat inteligensi, mahasiswa kedokteran.

Page 1 of 11 | Total Record : 107