cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis mewadahi kajian-kajian ilmiah dalam bidang bio-ekologi pesisir dan laut, hidro-oesanografi dan morfologi pesisir, toksikologi dan farmasitika, kajian substansi kimiawi biota dan perkembangan bioteknologi kelautan lainnya, di lingkup pesisir dan laut di daerah tropis. Kajian ilmiah dimaksud bisa berupa hasil penelitian maupun critical review. Jurnal ini terbit 3 (tiga) kali dalam satu tahun (Februari, Juni, September). Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT
Arjuna Subject : -
Articles 329 Documents
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTI BAKTERI DARI JAMUR SIMBION DARI TERIPANG (Holothuroidea sp.) YANG DIAMBIL DI PERAIRAN KELURAHAN MOLAS KECAMATAN BUNAKEN PROVINSI SULAWESI UTARA Epsan J. Mamangkey; Fitje Losung; Robert. A. Bara; Ping Astony Angmalisang; Natalie D.C. Rumampuk; Reiny Tumbol
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54991

Abstract

Sea cucumbers are one of the marine biotas which consist of high nutritional and protein content. One bioactive compound in sea cucumbers is triterpenoid with antifungal and anti -bacterial properties. This study aimed to obtain fungal symbionts derived from marine cucumbers from Molas Waters, North Sulawesi continued by extraction and testing their antibacterial property towards bacterial strains Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The antibacterial activity test was carried out by using the Kirby-Bauer disc diffusion method. In the results, we found 3 species of sea cucumbers from Molas Waters, e. g. Holothuria atra, Bohadschia argus and Holothuria scabra. From these species, three isolates of fungal symbionts were isolated and tested for their antibacterial property. These three extracts array antibacterial activity against E. coli and S.aureus. The most potent antibacterial activity was found in the extract of fungal symbiont from H. atra with an average of 29.3 mm against E.coli and 28.0 mm against S.aureus. Keywords: Sea cucumber, antibacterial activity test, Escherichia coli ABSTRAK Teripang adalah salah satu biota yang memiliki kandungan gizi dan protein yang juga cukup tinggi dalam tubuh teripang Salah satu senyawa yang terkandung dalam teripang yaitu senyawa triterpenoid yang memiliki aktivitas sebagai anti jamur dan anti bakteri. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan isolat jamur dan ekstrak jamur yang bersimbiosis dengan teripang dan menguji aktivitas antibakteri terhadap strain Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan metode difusi agar (disc diffusion Kirby-Bauer). Hasil penelitian didapatkan dari 3 jenis teripang dari Pantai Molas yaitu Holothuria atra, Bohadschia argus dan Holothuria scabra. Dari ketiga spesies teripang ini telah diisolasi tiga isolat jamur simbion untuk diuji aktivitas antibakterinya. Ketiga ekstrak jamur simbion asal teripang ini memiliki aktivitas antibakteri terhadap strain bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri yang paling kuat dari terdapat pada ekstrak jamur simbion asal Holothuria atra dengan rata-rata 29,3 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 28,0 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Kata kunci : Teripang laut, Uji aktivitas antibakteri, Escherichia coli
UKURAN CANGKANG, PERKEMBANGAN GONAD, DAN ‘SURVIVAL’ ABALON Haliotis varia, DI PESISIR TIMUR LIKUPANG Agustein I. Gaghansa; Medy Ompi; Joice R.T.S.L Rimper; Ping Astony Angmalisang; Erly Y. Kaligis; Juliaan Ch. Watung
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54992

Abstract

Abalone is one of the invertebrates that live in coastal areas, where this area is a transitional area that has dynamic environmental conditions, which can affect the activities of biota that live on it. This study aims to determine the shell size, gonad maturity, and the survival of abalone, Haliotis varia, in the intertidal and subtidal zones. Five abalones were placed in a basket with a size of 25 X 20 X 10 cm with an opening cavity of 1 cm in diameter. This basket was placed on a concrete permanent in the intertidal and zubtidal zones. The results show that a pattern of increasing shell length of abalone in the intertidal zone from September- November with the average sizes of 0.14 cm/month occurred. The pattern of increasing shell length from September – November for abalone placed in the subtidal zone with the average shell length of 0.24 cm/month was obtained. Statistical test using 2-Way Analysis of Variance, by first testing the normality of the data, where time and location as the main factors were applied. The results show that shell size was not significantly affected by time (P>0.05) and location (P>0.05). The pattern of increasing gonad development for abalone placed in both intertidal and subtidal zones from September to October was obtained. A relative better survival abalone in the subtidal zone than in the intertidal zone occurred. Factors affecting shell size, gonad development, and survival abalone in the intertidal and subtidal are discussed. Key Words: Abalon, ukuran cangkang, gonad, survival, subtidal, dan intertidal. ABSTRAK Abalon adalah salah satu biota invertebrata yang hidup di wilayah pesisir, di mana daerah ini adalah sebagai daerah peralihan yang memiliki kondisi lingkungan yang dinamis, yang dapat mempengaruhi aktivitas biota yang hidup di daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran cangkang, tingkat kematangan gonad, dan tingkat kehidupan abalone, Haliotis varia, di zona intertidal dan subtidal. Lima individu abalone diletakkan pada keranjang dengan ukuran 25 X 20 X 10 cm dengan ruang rongga bukaan berdiameter 1cm. Keranjang ini diletakkan pada permanen beton di zona intertidal dan zubtidal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu adanya pola pertambahan panjang cangkang abalon di zona intertidal dari bulan September- November dengan rata-rata pertambahan dalam penelitian ini adalah 0.14 cm/bulan. Pola pertambahan panjang cangkang nampak pula terjadi bagi abalon yang ditempatkan di zona subtidal dengan rata-rata pertambahan dalam penelitian ini adalah 0.24 cm/bulan. Uji statistik menggunakan Analisa Varians 2 Arah, dengan terlebih dahulu menguji kernormalan data, di mana waktu dan lokasi adalah sebagai faktor utama, diperoleh hasil bahwa ukuran cangkang tidak dipengaruhi oleh waktu (P>0.05), dan lokasi (P>0.05). Pola pertambahan tingkat kematangan gonad nampak bagi abalon yang ditempatkan di kedua zona baik intertidal dan subtidal dari bulan September sampai bulan Oktober. Tingkat kematangan gonad mengalami penurunan dari bulan Oktober sampai November, di mana penurunan tingkat kematangan gonad diindikasikan dengan pemijahan abalon dalam periode Oktober – November. Pola penurunan tingkat kehidupan abalon di zona intertidal dari 100% di bulan September, 60% di bulan Oktober, dan 40% di bulan November, dan di zona subtidal dari 100% di bulan September, 60% di bulan Oktober, dan 47% di bulan November. Abalon yang ditempatkan di zona subtidal nampak memilik tingkat kehidupan relativ lebih baik dibandingkan dengan abalon yang ditempatkan di zona intertidal dalam penelitian ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran cangkang, tingkat kematangan gonad, dan tingkat kehidupan abalone di intertidal dan subtidal adalah menjadi fokus diskusi. Kata Kunci: Abalon, ukuran cangkang, gonad, survival, subtidal, dan intertidal.
AKUISISI DATA SURVEI PARAMETER TINGGI POHON DAN LUASAN VEGETASI MANGROVE MENGGUNAKAN WAHANA UDARA NIR-AWAK (DRONE) Noviantika Rumengan; Ping Astony Angmalisang; Antonius P. Rumengan; Royke M. Rampengan; Hermanto W.K. Manengkey; Nurdin Jusuf
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54993

Abstract

The image of an unmanned vehicle (Drone) is an image/photo obtained from an aerial survey using an unmanned aerial vehicle above the earth's surface at a low altitude and the resolution of the photo obtained is very detailed. The use of drones is a mapping solution for a high level of detail because drone images include high resolution images that can provide more detailed information about the mangrove ecosystem, including the height of mangrove trees and their area. The purpose of this study was to compare the area and height of mangrove trees using a drone with in- situ measurements. The method used is measuring tree height using in- situ data and drone data. Remote sensing survey research using drones can be concluded as a solution to acquire mangrove biophysical parameters. Especially the height and area of mangrove trees, measuring the height of mangroves using drones also needs to be studied more deeply in further research. Based on the results of the analysis carried out at this stage by comparing tree height data in DSM from aerial photographs and tree height data in the field, the difference is in the range of 0.21m to 1.95m, with an average of 0.78 meters. And the area is a fairly significant area with the data obtained. Keywords: Survey, drone, mapping, mangrove. ABSTRAK Citra wahana nir-awak (Drone) merupakan citra/foto yang diperoleh dari survei udara menggunakan pesawat nir-awak yang mengudara di atas permukaan bumi pada ketinggian yang rendah dan resolusi foto yang diperoleh sangat detail. Penggunaan drone menjadi solusi pemetaan untuk tingkat detail tinggi karena citra drone termasuk citra resolusi tinggi yang dapat memberikan informasi lebih detail mengenai ekosistem mangrove termasuk tinggi pohon mangrove dan luasannya. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan luasan dan tinggi pohon mangrove menggunakan wahana nir-awak (drone) dengan pengukuran in-situ. Metode yang digunakan pengukuran tinggi pohon menggunakan data in-situ dan data drone. Penelitian survei penginderaan jauh dengan menggunakan nir-awak (drone) dapat disimpulkan sebagai solusi untuk mengakuisisi parameter biofisik mangrove. Terutama tinggi dan luasan pohon mangrove, mengukur ketinggian mangrove menggunakan drone juga perlu dilakukan kajian lebih mendalam pada penelitian selanjutnya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap ini dengan membandingkan data tinggi pohon pada DSM dari foto udara dan data tinggi pohon di lapangan memiliki selisih dengan kisaran 0.21m sampai dengan 1.95m, dengan rata- rata sebesar 0.78 meter. Dan luasannya merupakan luasan cukup siknifikan dengan data yang diperoleh. Kata kunci : Survey, drone, pemetaan, hutan bakau.
ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA MANGROVE DI KELURAHAN LIRANG KECAMATAN LEMBEH UTARA KOTA BITUNG Reynaldo Mangore; Antonius P. Rumengan; Ping A. Angmalisang; Natalie D. C. Rumampuk; Rignolda Djamaluddin; Ari Berty Rondonuwu
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54994

Abstract

This research was conducted in Lirang Village, North Lembeh District, Bitung City by using quadrant and sampling methods. The study was conducted in 5 quadrants, namely the bottom (quadrant 1), the middle (quadrant 2), the top (quadrant 3), the left (quadrant 4) and the right (quadrant 5). Based on the calculation results, the highest species density and relative density were found in quadrant 3 with values of 0.09 and 87.10, respectively, with the species R. Mucronata. Likewise, in the same quadrant, the highest species frequency value was 1.00 with R. Mucronata and S. Alba species, while the relative frequency value was 75.00 with R. Mucronata. The highest species closure value was 15.09, which was owned by R. mucronata in quadrant 1, while the relative species closure value of 89.44 was owned by the same species in quadrant 3. The highest important value index of 251.53 was owned by R. mucronata is in quadrant 3. Keywords: Mangrove community structure, mangrove biomass, Lirang village ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lirang Kecamatan Lembeh Utara Kota Bitung dengan menggunakan metode kuadran dan sampling. Penelitian dilakukan sebanyak 5 kuadran yaitu di bagian bawah (kuadran 1), bagian tengah (kuadran 2), bagian atas (kuadran 3), bagian kiri (kuadran 4) dan bagian kanan (kuadran 5). Berdasarkan hasil perhitungan nilai kerapatan jenis dan kerapatan relatif jenis tertinggi terdapat pada kuadran 3 dengan nilai 0,09 dan 87,10 secara berturut-turut dengan jenis R. mucronata. Demikian pula pada kuadran yang sama nilai frekuensi jenis tertinggi adalah 1.00didapatijenis R. Mucronata dan S. Alba, sedangkan nilai frekuensi relatif adalah 75,00 dengan jenis R. Mucronata. Nilai penutupan jenis tertinggi adalah sebesar 15,09 dimiliki oleh R. mucronata terdapat pada kuadran 1, sedangkan nilai penutupan relatif jenis sebesar 89,44 dimiliki oleh jenis yang sama terdapat pada kuadran 3. Indeks nilai penting tertinggi sebesar 251,53 dimiliki oleh jenis R. mucronata terdapat pada kuadran 3. Kata kunci: Struktur Komunitas Mangrove, Biomassa Mangrove, Kelurahan Lirang
KOMUNITAS DAN KEANEKARAGAMAN ASCIDIA DI PESISIR MINANGA, MALALAYANG SATU, KOTA MANADO Christian Palit; Deiske A. Sumilat; Antonius P. Rumengan Rumengan; Farnis B. Boneka; Chatrien A. L. Sinjal; Jans Lalita
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54995

Abstract

Ascidian is one of the biota components that make up coral reefs, which has many biological, ecological and pharmaceutical benefits. This makes Ascidian a very attractive target due to its high and unique diversity among marine invertebrates. The purpose of this study is to provide information about the Ascidia community and diversity in the Minanga Coast, Malalayang Satu, Manado City. This research was conducted for 3 (three) months from April to June 2022 with the location of data collection is Minanga Divers Coast. Data were collected using the visual census method at a depth of 7 and 14 m with a transect length of 50 m and a width of 5 m. Data analysis was carried out to obtain the value of species composition and density and ecological index. The results obtained: 1). Ascidia found were 14 species consisting of 12 species at a depth of 7 m and 10 species at a depth of 14 m. 2). The highest species composition and density values were Ascidia P. aurata, and then D. molle 3). The Ascidia diversity index at the study site was was 2.00 at a depth of 7 m and 1.84 at a depth of 14 m. Keyword : Ascidian, species composition, density, diversity. ABSTRAK Ascidia merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai banyak manfaat baik biologi, ekologi dan farmasitika. Sehingga menjadikan Ascidia target yang sangat menarik karena keanekaragamannya yang tinggi dan unik di antara avertebrata laut. Tujuan penelitian ini yaitu memberikan informasi mengenai komunitas Ascidia di Pesisir Minanga, Malalayang Satu, Kota Manado. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan April – Juni 2022 dengan lokasi pengambilan data yaitu Pesisir Minanga Divers. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode sensus visual pada kedalaman 7 dan 14 m dengan panjang transek 50 m dan lebar 5m. Analisis data dilakukan untuk mendapatkan nilai komposisi jenis dan kepadatan, indeks ekologi dan pola sebaran. Hasil yang didapatkan : 1). Ascidia yang ditemukan berjumlah 14 spesies yang terdiri dari 12 spesies pada kedalaman 7 m dan 10 spesies pada kedalaman 14 m, 2). Nilai komposisi jenis dan kepadatan tertinggi yaitu Ascidia P. aurata pada D. molle da 3). Indekskeanekaragaman Ascidia pada lokasi penelitian yaitu dengan nilai 2,00 pada kedalaman 7 m dan 1,84 padakedalaman 14 m. Kata Kunci : Ascidia. komposisi spesies, kepadatan, keanekaragaman.
UJI AKTIVITAS ANTI UV DARI EKSTRAK LAMUN DI PERAIRAN SEKITAR DESA BAHOWO TELUK MANADO KECAMATAN BUNAKEN Monalisa L. R. Tumonggor; Veibe Warouw; Fitje Losung; Inneke F. M. Rumengan; Natalie D.C. Rumampuk; Meiske Salaki
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54996

Abstract

Seagrass is one of the fertile ecosystems and has enough potential to be exploited. Seagrasses always get exposure of ultra violet (UV) rays so that they produce secondary metabolites to maintain their lives from UV radiation that is harmful to seagrasses. The aims of this study was to identify seagrass samples, obtain the extracts and determine the anti-UV activity test on seagrass extracts. The results of this study obtained 4 types of seagrass from the waters around Bahowo Village, namely Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichi, and Cymodocea serrulata. These four types of seagrass have been extracted and tested for their anti- UV activity. Seagrass species Enhalus acoroides has anti-UV-A and UV-B activity, Syringodium isoetifolium has anti-UV-B activity, Cymodocea serrulata has anti-UV-C activity and Thalassia hemprichii has anti-UV-A and UV-C activity. Keywords : Seagrass, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Anti-UV ABSTRAK Lamun (seagrass) adalah salah satu ekosistem yang subur dan cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan. Lamun selalu mendapatkan paparan sinar ultra violet (UV) sehingga lamun memproduksi metabolit sekunder untuk mempertahankan hidupnya dari radiasi sinar UV yang berbahaya bagi lamun. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi sampel lamun, mendapatkan ekstrak dan menentukan uji aktivitas anti-UV pada ekstrak lamun. Hasil penelitian ini didapatkan 4 jenis lamun dari Perairan Sekitar Desa Bahowo yaitu Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichi, dan Cymodocea serrulata. Dari keempat jenis lamun ini telah diekstraksi dan diuji aktivitas anti-UVnya. Jenis lamun Enhalus acoroides memiliki aktivitas anti-UV- A dan UV-B, Syringodium isoetifolium memiliki aktivitas anti-UV-B, Cymodocea serrulata memiliki aktivitas anti- UV-C dan Thalassia hemprichii memiliki aktivitas anti-UV-A dan UV-C. Kata kunci: Lamun, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Anti-UV
VALUASI EKONOMI EKOSISTEM TERDAMPAK TUMPAHAN MINYAK DI KOTA BALIKPAPAN Rahmat Abbas; Syifa Saputra
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54997

Abstract

Oil spills into marine waters, directly and indirectly, cause pollution that impacts biodiversity and the social economy of the community. This study evaluated and determined the economic valuation of ecosystems affected by oil spills in Balikpapan City. The research method uses revealed preferences from previous similar cases and is based on survey results. The survey results showed that the affected ecosystems were spread over 12 urban villages in Balikpapan City, with ecosystem types including mangrove ecosystems, seagrass beds, coasts, and marine waters. In addition, it also results in socio- economic losses for the community, especially for fishers in the city of Balikpapan. The PT PERTAMINA RU V oil spill in Balikpapan Bay impacts biota deaths due to poisoning of marine biota ecosystems, causing economic losses to the community. Marine biota such as fish, shrimp, and shellfish are reduced, damaging marine biota ecosystems such as spawning and damage to habitat and function. The impact of the affected ecosystem also resulted in considerable losses in efforts to recover from the damage caused by the oil spill. Keywords: Balikpapan_city, economic_valuation, marine_ecosystem, oil_spill ABSTRAK Tumpahan minyak ke perairan laut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan pencemaran yang berdampak pada keragaman hayati dan ekonomi sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menentukan valuasi ekonomi ekosistem terdampak tumpahan minyak Teluk Balikpapan di Kota Balikpapan. Metode penelitian menggunakan revealed preference dari kasus sebelumnya yang serupa dan berdasarkan hasil survey. Hasil survey didapatkan jenis ekosistem yang terdampak yaitu tersebar di 12 kelurahan di Kota Balikpapan, dengan jenis ekosistem diantaranya ekosistem mangrove, padang lamun, pesisir, dan perairan laut. Selain itu juga mengakibatkan kerugian sosial ekonomi masyarakat, khususnya bagi nelayan di Kota Balikpapan. Tumpahan minyak PT PERTAMINA RU V di Teluk Balikpapan berdampak terhadap kematian akibat keracunan ekosistem biota laut, sehingga menyebabkan kerugian ekonomi masyarakat. Biota laut seperti ikan, udang, kerang berkurang, kerusakan ekosistem biota laut seperti pemijahan dan kerusakan habitat dan fungsi. Dampak ekosisstem terdampak juga mengakibatkan kerugian yang besar dalam upaya pemulihan akibat kerusakan oleh tumpahan minyak. Kata kunci: Ekosistem_Laut, Kota_Balikpapan, Tumpahan_minyak, valuasi_ekonomi
STATUS KESEHATAN PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA TANAKI KECAMATAN SIAU BARAT SELATAN KABUPATEN SITARO David B. Tamarariha; Calvyn F. A. Sondak; Veibe Warouw; Grevo S. Gerung; Billy Th Wagey; Anneke V. Lohoo
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54998

Abstract

Siau Island is a part of Sitaro Archipelago located in northern part of Sulawesi Island. This island is rich of marine biodiversity include mangrove, coral reef and seagrass bed. The purposes of this study were to identify seagrass species, cover area and its health status. This research was conducted from September to October 2021, in Tanaki Village waters, Siau Island. The research method that used in this study is the quadrant transect method which includes the calculation of seagrass cover within station and seagrass species percent cover that used to determining the health status and condition of seagrass beds. Seven seagrass species were found in Tanaki water namely Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila ovalis and Thalassodendron ciliatum. The health status of the seagrass beds in the study area was categorized "unhealthy" (42.24%) and the criteria for the seagrass cover was "moderate" (30-49.9%). The dominance of seagrass species in Tanaki Village water were T. hemprichii (19,89%) followed by C. rotundata (12.88%) respectively. Key Word: Seagrass Bed, Identification, Health, Species, Cover. ABSTRAK Kepulauan Siau, Kabupaten SITARO merupakan pulau kecil di sebelah utara Pulau Sulawesi yang memiliki ekosistem laut yang lengkap yaitu ekosistem mangrove, karang serta lamun. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) Jenis lamun yang ditemukan; (2) Penutupan jenis lamun di lokasi penelitian; (3) Status kesehatan padang lamun di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada Bulan September - Oktober 2021, di perairan Pantai Desa Tanaki. Metode penelitian yang digunakan yakni metode transek kuadran yang mencangkup perhitungan tutupan lamun disetiap stasiun dan perhitungan penutupan lamun per jenis sehingga nilai rata-rata yang didapatkan merupakan hasil akhir dalam penentuan status dan kondisi padang lamun. Jenis lamun yang ditemukan di perairan Tanaki teridentifikasi sebanyak 7 spesies yang terdiri (2 Family dan 7 Genus) yaitu Cymodocea rotundata, Thalassia hempricii, Enhalus acoroides, Siringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila ovalis dan Thalassodendron ciliatum. Status kesehatan padang lamun yang terdapat di lokasi penelitian termasuk dalam kategori “Kurang sehat” dengan penutupan lamun 42,24% dan kriteria kategori tutupan lamun yakni “Sedang” dengan pentutupan (30-49,9%). Dan dominansi jenis lamun di perairan Desa Tanaki adalah jenis T. hemprichii dan C. rotundata dengan persentase penutupan per jenis masing-masing 19,89% dan 12,88%. Kata Kunci : Padang Lamun, Identifikasi, Kesehatan, Jenis, Tutupan.
STRUKTUR KOMUNITAS DAN PERSENTASE TUTUPAN LAMUN DI DESA PINASUNGKULAN KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Vrenty Alvionita Aleksander; Joshian N.W. Schaduw; Veibe Warouw; Agung B. Windarto; Billy Th. Wagey; Suzanne L. Undap
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54999

Abstract

Indonesia is known as a maritime country that is rich in various marine biota, both flora and fauna, for example such as seagrass, in the world there are 60 species of seagrass and 12 species are found in Indonesia. This study aims to determine the community structure and percentage of seagrass cover in the waters of Pinasungkulan Village, Tombariri District, Minahasa Regency, this study used the seagrass watch method, observations were made at 2 station points (ST.1 and ST.2) using the equation formula from Cox, 1967. In the waters of Pinasungkulan Village there are 3 types of seagrass, namely Enhalus acoroides, Halodule pinifolia and Cymodocea rotundata. The percentage of seagrass cover in ST.1 was 22.54% and ST.2 was 28.22%, the average value obtained from these two stations was 25.38%. Overall, the community structure of ST.1 species Halodule pinifolia has the highest important value index of 143.46% and ST.2 species Cymodocea rotundata which has the highest important value index of 133.24%. Parameters in the waters of Pinasungkulan Village, Tombariri District, Minahasa Regency have a normal pH and a stable temperature with sand and silt as a substrate. Keywords: seagrass, percentage cover, community structure ABSTRAK Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kaya dengan berbagai biota laut baik flora maupun fauna contonya seperti lamun, di dunia terdapat 60 jenis lamun dan 12 jenisnya terdapat di Indonesia. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan persentase tutupan lamun di perairan Desa Pinasungkulan Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa, penelitian ini menggunakan metode seagrass watch, pengamatan dilakukan pada 2 titik stasiun (ST.1 dan ST.2) dengan menggunakan rumus persamaan dari Cox, 1967. Di perairan Desa Pinasungkulan terdapat 3 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Halodule pinifolia dan Cymodocea rotundata. Hasil tutupan persentase lamun pada ST.1 yaitu 22,54% dan ST.2 yaitu 28,22%, nilai rata-rata yang diperoleh dari kedua stasiun ini yaitu 25,38%. Secara keseluruhan struktur komunitas dari ST.1 jenis Halodule pinifolia memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu 143,46% dan ST.2 jenis Cymodocea rotundata yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu sebanyak 133,24%. Parameter di periran Desa Pinasungkulan Kecamatan Tombariri Kabupaten minahasa memiliki pH normal dan suhu yang stabil dengan substrat pasir dan pasir lumpuran. Kata kunci: lamun, Tutupan persentase, struktur komunitas
PENAPISAN BAKTERI SIMBION LAMUN Thalassia hemprichii PENGHASIL ENZIM HIDROLASE Rizky I. Moroki; Elvy L. Ginting; Stenly Wullur; , Sandra Tilaar; Veibe Warouw; Edwin L.A. Ngangi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.55000

Abstract

The research aims to determine the ability of the seagrass symbiont bacteria Thalassia hemprichii to produce protease and amylase. The symbiont bacteria T. hemprichii had been cultured in the laboratory. Five isolate bacteria namely 3M.2, E2.2, E3.2, 6.2 and 5.2 were analyzed in this research. Bacterial enzyme activity was screened by growing the bacterium using the paper disc on skim milk agar and starch agar media for 2 x 24 hours. Enzyme activity was indicated by the formation of a clear zone around the bacterial colonies. The proteolytic (IP) and amylolytic indexes (IA) were calculated by dividing the diameter of clear zone with the bacterium colonies. The results showed that the bacterial isolate 3M.2, E2.2 and 6.2 could produce proteases in 24 hours incubation with IP of 1,67, 1,20 and 1,33, respectively. While isolate 5.2 could produce protease after being incubated for 48 hours with an IP of 1,03. During the 48 hours incubation time, there were decrease in the IP of bacterial isolates of 3M.2, E2.2 and 6.2. Furthermore, 3M.2 bacterial isolate was able to produce amylase in 24 hours of incubation with an IA of 1,27. Meanwhile, bacterial isolate E2.2 could produce amylase after being incubated for 48 hours with an IA of 1,17. Keywords: Seagrass T. hemprichii, hydrolase enzymes, amylase, protease ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan bakteri simbion lamun Thalassia hemprichii dalam menghasilkan enzim protease dan amilase. Sampel bakteri yang diuji merupakan bakteri yang telah dikultur di Laboratorium, berjumlah 5 isolat yakni 3M.2, E2.2, E3.2, 6.2 dan 5.2. Pengujian aktivitas enzim bakteri dilakukan dengan menumbuhkan bakteri pada media skim milk agar dan media amilum selama 2 x 24 jam dengan menggunakan metode kertas cakram. Aktivitas enzim ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar koloni bakteri yang tumbuh, dan selanjutnya dihitung indeks proteolitik dan amilolitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri 3M.2, E2.2 dan 6.2 dapat menghasilkan protease selama waktu inkubasi 24 jam dengan IP sebesar 1,67 dan 1,20 dan 1,33 secara berurutan. Sedangkan isolat 5.2 dapat menghasilkan protease setelah diinkubasi selama 48 jam dengan IP sebesar 1,03. Pada waktu inkubasi 48 jam, terjadi penurunan IP dari isolat bakteri 3M.2, E2.2 dan 6.2. Isolat bakteri 3M.2 mampu menghasilkan amilase pada waktu inkubasi 24 jam dengan IA sebesar 1,27, sedangkan isolat bakteri E2,2 dapat menghasilkan amilase setelah diinkubasi selama 48 jam dengan IA sebesar 1,17. Kata Kunci : Lamun T. hemprichii, enzim hidrolase, amilase, proteas

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 3 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 2 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 12 No. 1 (2024): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 3 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 2 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 9 No. 1 (2021): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 3 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 2 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 8 No. 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 1 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS More Issue