Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology (JPU) is a peer-reviewed scientific journal that stands as a forum to facilitate communication, dissemination, and enhancement of ideas within scholars in the field of psychology and social sciences by showcasing high-quality works while acknowledging its relevance in the indigenous perspective. The journal is published in print (p-ISSN: 2088-4230) and electronic (e-ISSN: 2580-1228) formats. JPU is published bi-annually (every June and December) by Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara. We welcome submissions from scholars, including students, whose work shares relevance to our focus and scope. JPU adheres to the high standard of publication process by abiding to the double-blind peer review process to maintain fair and indiscriminatory submission process. Submissions are open at any time.
Articles
332 Documents
Aktivitas seksual dan perilaku seks pranikah pada mahasiswa
Natalia Tholense;
Wahyu Rahardjo
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu12
The purpose of this study is to examine the correlation between sexual assertiveness and premarital sexual behavior in female college students. Participants of this research is 100 female college students from Gunadarma University in Jakarta. The result shows that sexual assertiveness has negative signiicant correlation to premarital sexual behavior. This inding shows that women, especially female college students has to develop sexual assertiveness in order to keep away from premarital sexual behavior.
Kecemasan dan depresi pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis
Riselligia Caninsti
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu13
Penyakit gagal ginjal kronis dan terapi hemodialisis yang dilakukan 2-3 kali seminggu, membawa dampak pada kondisi psikologis pasien. Pasien merasa kecewa dan putus asa terhadap hidupnya sehingga mengalami kecemasan dan depresi, sering kali pasien baru dapat menerima kenyataan setelah yang bersangkutan berada di ambang kematian. Pada umumnya pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit hanya mendapatkan penanganan secara medis, sedangkan kondisi psikologis yang merupakan reaksi dari keluhan isik atau faktor lain yang merupakan akibat dari adanya keluhan isik yang dirasakan sering kalitidak diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikologis pasien, terutama yang terkait dengan kecemasan dan depresi melalui sebuah alat ukur yang dapat digunakan oleh Dokter, Perawat, Psikolog dan praktisi kesehatan lainnya di setting rumah sakit. Alat ukur yang digunakan adalah Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) yang telah dirancang untuk digunakan dalam setting rumah sakit dan hanya terdiri dari 14 item. Dengan diaplikasikannya alat ukur HADS kepada pasien, diharapkan dapat diketahui tingkat kecemasan dan depresi pasien, sehingga praktisi kesehatan mampu memberikan pendampingan yang tepat untuk mengatasi permasalahan psikologis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73.33 % subjek memiliki tingkat kecemasan yang tergolong normal, 23.33 % borderline abnormal, dan 3.33 % normal. Sementara itu pasien yang mengalami depresi dalam tingkat normal sebanyak 76.67 %, borderline abnormal 23.33 % dan tidak ada yang mengalami depresi dalam kategori abnormal.
Peran pendidikan Agama dan Kewarganegaraan di SMA dalam meningkatkan karakter tangguh, kompetitif, dan dinamis
Antonia P. J. Wulandari;
Astrini Astrini
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu14
Penelitian ini melihat peranan pendidikan agama dan kewarganegaraan yang didapat siswa selama di SMA dalam meningkatkan karakter terutama karakter tangguh, kompetitif, dan dinamis. Penelitian dilakukan pada mahasiswa yang baru masuk di Binus University sebanyak 100 orang, dengan melihat persepsi pelajaran Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan dalam meningkatkan karakter tangguh, kompetitif, dan dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki ketiga karakter tersebut namun intensitas yang ada tidak terlalu kuat dan tidak ada hubungan yang signiikan antara persepsi terhadap kedua mata pelajaran tersebut dengan karakternya. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik tetap memiliki karakter tangguh, kompetitif dan juga dinamis tidak berdasarkan apakah mereka mempersepsikan kedua mata pelajaran tersebut menyenangkan atau tidak menyenangkan. Karena pembentukan karakter khususnya karakter tangguh, kompetitif dan dinamis dapat saja berkembang dengan baik dikarenakan oleh situasi dan kondisi sekolah secara keseluruhan dan bukan secara khusus melalui mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Proses resiliensi jurnalis radio 68H pasca bom buku 15 Maret 2011
Gita W. L. Soerjoatmodjo
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu15
Pada tanggal 15 Maret 2011, sebuah bom yang direkatkan dalam sebuah buku diterima oleh Kantor Berita 68H kemudian meledak, menyebabkan cedera parah pada petugas kepolisian yang sedang bertugas. Meskipun demikian, para jurnalis terus bekerja dan menyuarakan dukungan mereka atas kebebasan berekspresi. Resiliensi yakni adaptasi yang berhasil dalam mengatasi tantangan, tampak pada bagaimana jurnalis 68H berhasil “melenting kembali.” Bagi jurnalis yang bekerja di Indonesia, yakni satu dari lima negara yang paling mematikan di tahun 2010 menurut Committee to Protect Journalists, resiliensi menjadi penting untuk dipelajari. Menggunakan wawancara semi-terstruktur dan perspektif ‘resiliensi sebagai proses’, penelitian ini menggambarkan bagaimana jurnalis 68H menjalankan proses tersebut, sumber daya yang mereka gunakan serta konsekuensi pada kemampuan mereka untuk mempertahankan resiliensi di masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan kelompok dan peningkatan kapasitas penting dalam tahap-tahap proses resiliensi mereka. Disimpulkan bahwa identitas kolektif dan kepemimpinan dalam mempresepsikan ‘kita’ versus ‘mereka’ dan dalam mempromosikan nilai-nilai yang penting bagi mereka juga dukungan sosial serta pengalaman keberhasilan bersama di masa lalu, merupakan sumber-sumber daya utama resiliensi. Hikmah ajar dari kekeliruan menimbang ancaman berkontribusi pada perubahan sikap dan peningkatan keamanan demi mempertahankan resiliensi di masa mendatang.
Resiliensi taruna STP dari keluarga pelaku utama perikanan
Sri W. Rahmawati;
Mira Rizki Wijayani
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu16
Kehidupan kampus berasrama pada sekolah kedinasan dengan tuntutan sosial serta akademik, mengharuskan peserta didik (disebut juga dengan taruna) memiliki mental yang tangguh. Risiko kehidupan kampus tersebut menciptakan sebuah kondisi yang menekan. Ada beberapa cara untuk mengatasi persoalan menekan tersebut, diantaranya adalah: menghadapi permasalahan yang terjadi; beradaptasi dengan kenyataan; dan mengatasi tantangan dengan cepat. Mereka yang berhasil mengatasi permasalahan, bahkan bangkit menjadi individu yang lebih kuat, akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Individu-individu ini dikatakan sebagai individu yang resilien. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat dinamika resiliensi taruna Sekolah Tinggi Perikanan (STP) yang berasal dari keluarga/pelaku utama perikanan. Subjek penelitian terdiri dari empat taruna yang berasal dari dua jenis kelamin; memiliki latar belakang asal daerah yang berbeda; serta berasal dari keluarga pumakan (pelaku utama perikanan). Hasil analisis dari penelitian, secara kualitatif dapat terlihat variasi tingkat resiliensi subjek dalam menghadapi persoalan. Variasi terjadi pada faktor-faktor resilensi. Namun pada aspek optimisme dan eikasi diri, keseluruhan subjek menunjukkan hasil yang positif. Selain itu, faktor protektif juga memiliki pengaruh yang berarti. Faktor protektif tersebut yaitu dukungan sumber daya dan karakteristik positif dari individu; komunitas sosial serta dukungan keluarga. Keseluruhannya memperkuat cara coping yang adaptif terhadap persoalan yang terjadi.
Gambaran resiliensi remaja penderita luka bakar di panti asuhan
Nesya Ayu Pertiwi;
Vinaya Vinaya;
Yusuf Hadi Yudha
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu17
Peristiwa kebakaran yang menyebabkan luka bakar kerap menimbulkan pengaruh negatif secara psikologis terhadap diri penderitanya. Selain kerusakan isik yang dialaminya, peristiwa tersebut dapat pula mengakibatkan hilangnya anggota keluarga yang dicintai, yang mengharuskan penderitanya tinggal di Panti Asuhan, karena sudah tidak memiliki keluarga dan tempat tinggal, lagi dan juga harus berhadapan dengan kondisi-kondisi sulit dan menekan dalam kehidupannya. Penderita luka bakar yang mampu mengembangkan kemampuan resiliensinya dengan baik dapat menyesuaikan diri, bangkit, bahkan berhasil menjadi individu yang lebih baik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kemampuan resiliensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada remaja penderita luka bakar yang tinggal di Panti Asuhan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi yang dilakukan pada satu subjek yang rentang usianya termasuk dalam usia remaja yang memiliki luka bakar dan harus tinggal di panti asuhan. Hasil penelitian ini menjabarkan deskripsi kemampuan resiliensi pada remaja penderita luka bakar yang tinggal di panti asuhan, dengan berbagai faktor risiko dan protektifnya.
Akibat setitik kejahatan, rusak kebaikan sebelanga
Subhan El Hafiz
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu18
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana individu melakukan penilaian moral pada situasi dilema jika bobot dari aspek yang diterima dan ditolak seimbang. Penelitian ini dilakukan melalui dua studi, Tujuan dari studi pertama adalah untuk mengidentiikasi perilaku jahat dan perilaku baik beserta alasannya, sedangkan studi kedua bertujuan untuk melihat penilaian moral pada dilema jika hasil studi pertama disilang, yaitu perilaku baik dengan alasan jahat dan perilaku jahat dengan alasan baik. Metode yang digunakan pada studi pertama adalah survei kepada 32 partisipan dan studi kedua adalah eksperimen kepada 53 partisipan yang berbeda. Hasil studi pertama menghasilkan delapan perilaku jahat dan enam perilaku baik yang paling banyak disebut bersama 12 alasan paling umum dari masing-masing kelompok tindakan. Pada studi kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa dilema yang dibentuk dari perilaku dan alasan yang bertolak belakang akan dinilai jahat oleh individu. Hasil ini menunjukkan bahwa kebaikan yang disatukan dengan kejahatan dalam sebuah dilema akan tetap dinilai jahat bagaimanapun urutannya. Berdasarkan penelitian ini, sebuah penilaian moral akan menilai dilema sebagai jahat jika bobot antara dua kutub seimbang.
Validitas konstruk Inventori Adaptasi Inovasi Kirton dalam Bahasa Indonesia
Gracia Tobing;
Veronika Efata Angelina;
Dea Franceline;
Morina Yuandary Anwar;
Christiany Suwartono;
Magdalena Halim
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu19
Semua orang adalah pemecah masalah, karena ia selalu berhadapan dengan berbagai masalah di kehidupannya yang harus diselesaikan. Masing-masing orang memiliki cara penyelesaian masalah yang berbeda meskipun dihadapkan pada masalah yang serupa karena ia memiliki gaya berpikir yang berbeda-beda. Gaya berpikir ini dapat diamati dari caranya melihat dan menyelesaikan masalahnya. Cara ia menyelesaikan masalah bisa jadi merupakan indikator paling baik untuk menunjukkan kreativitas seseorang. Kirton memandang kreativitas sebagai cara seseorang dalam menunjukkan kreativitasnya. Hal ini disebut Kirton sebagai creativity style yang diukur dengan alat ukur Kirton’s Adaption-Innovation (KAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi KAI ke dalam Bahasa Indonesia. Kami menggunakan metode convenience sampling. Kami melakukan validasi konstruk dengan menggunakan faktor analisis konirmatori, khususnya tipe measurement model. Pengujian psikometri dilakukan untuk memastikan reliabilitas dan validitas KAI versi Bahasa Indonesia. Hasil pengujian Inter-Item Correlation, Correlation With Another Tests serta Factor Analysis menunjukkan bahwa KAI versi Bahasa Indonesia ini cukup reliabel namun membutuhkan revisi pada beberapa itemnya untuk meningkatkan validitasnya.
Pengaruh perspektif waktu (time perspective) terhadap kualitas relasi sosial
Evanytha Evanytha
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu20
Salah satu pengalaman subyektif terpenting bagi manusia adalah waktu. Para eksistensialis menyatakan bahwa manusia adalah makhluk (being) yang ada dalam hubungannya dengan waktu dan tempat tertentu, serta makna tertentu. Waktu merupakan elemen dari eksistensi manusia, yang mendasari dan mengatur perilaku sosial individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perspektif waktu (time perspective) terhadap kualitas relasi sosial. Partisipan penelitian ini adalah 96 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan skala Zimbardo Time Perspective Inventory dan Positive Relations with Others. Perspektif waktu meliputi lima dimensi, yaitu Past-Positive, Past-Negative, Present-Hedonistic, Present-Fatalistic dan Future. Analisis data menggunakan multiple regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima dimensi perspektif waktu secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas relasi sosial. Secara parsial, dimensi Past- Positive dan Future berpengaruh signifi kan terhadap kualitas relasi sosial.
Self efficacy dan kecemasan pegawai negeri sipil menghadapi pensiun
Christian Christian;
Clara Moningka
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jpu21
Pensiun merupakan salah satu momok yang menakutkan bagi para individu dewasa madya, apalagi bila individu tersebut sedang berada di puncak karirnya. Ketakutan akan pensiun tersebut menimbulkan kecemasan. Mengatasi kecemasan dapat berbeda tergantung pada kemampuan untuk mengatasi kecemasan tersebut (Cheung & Sun dalam Pajares, 2006) dan ditingkatkan melalui kemampuan dan kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan yang kuat yang disebut self efficacy. (Bandura dalam Baron & Byrne, 2004). Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan kecemasan menghadapi pensiun pada pengawai negeri sipil. Adapun sampel dari penelitian ini adalah 87 orang yang akan menjelang pensiun hingga akhir tahun 2013 pada kementrian X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan dua buah skala sebagai alat ukur, yaitu skala Self Effi cacy dan skala Kecemasan menghadapi pensiun yang diadaptasi dan dikembangkan oleh peneliti dengan menggunakan skala Likert berdasarkan komponen self effi cacy (Bandura, 1986) dan bentuk kecemasan menghadapi pensiun (Bucklew, 1980). Dari hasil analisa diperoleh diperoleh hubungan yang negatif antara self effi cacy dengan kecemasan menghadapi pensiun pada pegawai negeri sipil dengan nilai r = -.409 (p = .01). Artinya adalah semakin tinggi self effi cacy maka semakin rendah tingkat kecemasan pegawai negeri sipil yang akan menghadapi pensiun, dan sebaliknya semakin rendah self effi cacy maka semakin tinggi tingkat kecemasan pegawai negeri sipil yang akan menghadapi pensiun.