cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Skenario matriks perbandingan berpasangan dalam analisis risiko aliran piroklastik Gunung Api Semeru, Jawa Timur Novie N. Afatia; Albertus Deliar; Riantini Virtriana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1294.026 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.46

Abstract

ABSTRAKPenduduk Indonesia yang bermukim di lingkungan gunung api disebabkan kawasan gunung api merupakan daerah subur untuk pertanian dan berpotensi bahan galian/tambang. Salah satunya adalah Gunung Semeru yang merupakan gunungapi tertinggi (3.676 m dpl.) di Pulau Jawa. Mahameru merupakan puncak tertinggi Gunung Semeru, dengan kawahnya yang disebut Jonggring Seloko yang terbuka ke arah tenggara. Pada saat terjadi erupsi salah satu produk yang dominannya adalah aliran piroklastik. Ancaman bahaya aliran piroklastik di gunung api berpotensi menimbulkan bencana berupa korban jiwa dan kerugian harta benda. Kerugian akibat bencana tersebut perlu dilakukan analisis risiko aliran piroklastik. Analisis ini dilakukan dengan melakukan pembobotan pada masing-masing kriterianya dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan dalam konteks Analytic Hierarchy Process. Analisis risiko ini memberikan beberapa macam alternatif skenario pada matriks perbandingan berpasangannya. Matriks perbandingan berpasangan digunakan untuk membandingkan antara berbagai kriteria yang akan diberi bobot, untuk menunjukkan seberapa penting satu kriteria terhadap kriteria yang lain. Pembobotan pada subkriteria dari masing-masing kriteria dengan menggunakan ranking, yaitu metoda Rank Sum. Kriteria yang dibandingkan adalah bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Subkriteria dibagi menjadi indikator dan klasifikasi. Indikator dari kriteria bahaya berupa aliran piroklastik, indikator dari kriteria kerentanan berupa tataguna lahan, dan indikator dari kriteria kapasitas berupa alat pemantauan, akses jalan serta lembaga kebencanaan. Hasil penelitian ini adalah adanya beberapa alternatif pilihan yang akan dihasilkan dari lima skenario yang telah disusun. Semua desa memiliki daerah yang mempunyai nilai risiko paling tinggi, kecuali Desa Sidomulyo dan Desa Taman Ayu. Desa Oro Oro Ombo memiliki daerah yang paling luas dengan nilai risiko tertinggi, yaitu sebesar 187.993,7756 m2.Kata kunci: analisis risiko, ranking, perbandingan berpasangan, aliran piroklastik, bencana, Gunung Semeru ABSTRACTThe Indonesia’s population prefer to live in volcanic areas because of their fertile soil which is good for agriculture and it is potential in mineral deposits/mining. One of them is Mt. Semeru (3.676 m asl), the highest volcano in Java Island. Mahameru is the highest peak of Mt. Semeru, its crater is called Jonggring Seloko which open southeastward. Pyroclastic flow is the dominant product erupted during eruption. Pyroclastic flows are potential threat to cause loss of life and property. Due to loss of life and property a risk analysis of pyroclastic flows is required. This analysis is carried out by weighing on each criterion using pairwise comparison method in the context of Analytic Hierarchy Process. This risk analysis provides several kinds of alternative scenarios on its pairwise matrix comparison. Pairwise comparison matrix is used to compare between various criteria which will be weighed, to show how important a criterion to others. Weighing on subcriteria of each criterion by using ranking, namely Rank Sum method. The compared criteria are hazards, vulnerabilities and capacities. Subcriteria is divided into indicator and classification. Indicator of hazard criteria is pyroclastic flow, indicator of vulnerability criteria is land use, and indicator of capacity criteria is in the form of monitoring instruments, access roads and disaster management agencies. The results of this study that there are several options that would be resulted from five scenarios that had been prepared. All villages have the highest risk value areas, except Sidomulyo and Taman Ayu villages. Oro-oro Ombo has the most extensive area with the highest risk namely 187,993.7756 m2.Keywords: risk analysis, ranking, pairwise comparison, pyroclastic flows, disaster, Mount Semeru
Klasifikasi kars untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya: Studi Kasus Kars Bukit Bulan Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi Oki Oktariadi; Edi Tarwedi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.873 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i1.12

Abstract

SARISalah satu kawasan lindung dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN adalah kawasan lindung geologi. Adapun salah satu kriterianya adalah keunikan bentang alam kars. Sementara itu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456.K/20/MEM/2000 tentang pedoman pengelolaan kawasan kars yang bersifat operasional, menyatakan bahwa kawasan kars kelas I merupakan kawasan lindung sumber daya alam yang penetapannya mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari kedua peraturan tersebut terdapat sinkronisasi yang dapat mengklasifikasikan kars ke dalam kawasan budi daya dan kawasan lindung geologi. Oleh karena itu diperlukan analisis penetapan kawasan kars agar pemanfaatannya optimal dan berwawasan lingkungan. Metode analisis menggunakan standar baku yang digunakan di Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, sementara proses analisis menggunakan sistem informasi geografis (SIG) dengan cara pembobotan dan overlay. Berdasarkan hasil overlay peta tematik komponen kars menghasilkan peta kelas kawasan kars, yaitu kawasan kars lindung geologi mempunyai jumlah (total) skor antara 79 hingga 141, dan kawasan kars budi daya mempunyai jumlah (total) skor antara 47 hingga 78. Kondisi di lapangan kawasan kars lindung geologi memiliki keunikan bentang alam kars, sehingga arah pemanfaatannya sesuai untuk kegiatan geowisata. Sementara pada kawasan kars budi daya dapat dilakukan kegiatan penambangan setelah dilakukan studi geologi lingkungan detail untuk menentukan zona pemanfaatan lahan secara optimal.Kata kunci: kars, kawasan budi daya, kawasan lindung geologiABSTRACTOne of the conservation areas mandated in Government Regulation number 26 of 2008 concerning Regional Planning (RTRWN) is the geological conservation area. One of the criteria is the uniqueness of the karst landscape. Meanwhile, the decree of the Minister of Energy and Mineral Resources number 1456.K/MEM/2000 about the management of operational guidelines of karst landscape. It stated that the first class karst area is classified as protected natural resources, of which its implementation follows the fullest extent of the law. There is a synchronization found in both regulations that classifies the karst area  into the cultivation area and geological conservation area. Therefore, an analysis for determining karst areas in order can be utilized optimally with friendly environment is required. The method of analysis used by the Center for Groundwater Resources and Environmental Geology is the standard one, whereas the analysis process is using Geographic Information System (GIS) by weighing and overlaying. Based on the overlaying result of thematic karst component map, a standard karst map is resulted, namely geological conservation for karst area which has a total score of 79 up to 141, and karst conservation area for cultivation which has a total score of 47 up to 78. Field condition shows that a geological coservation for karst area has a karst landscape uniqueness, so it is appropriate to be used as geotourism activity.Meanwhile, cultivation karst area can be used for mining activity as far as a detail environmental geologystudy to determine the optimal utilization zone in the area has been carried out.Keywords: karst, cultivation region, protected areas of geology
Studi Air Tanah di Pantai Bosnik, Distrik Biak Timur, Pulau Biak, Provinsi Papua Hendra Bakti; Dadan Dani Wardana; Wilda Naily; Adrin Tohari; Arief Rachmat
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3814.792 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.99

Abstract

ABSTRAKPenelitian telah dilaksanakan di Pantai Bosnik, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfort, Pulau Biak, Provinsi Papua. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakter air tanah wilayah pesisir sebagai informasi dasar bagi pengelolaan sumber daya air. Metode penelitian yang dipakai terdiri atas survei hidrogeologi permukaan, hidrokimia, dan survei geolistrik. Batuan di daerah penelitian didominasi batu gamping koral (Formasi Mokmer) dan sedikit endapan aluvium pantai. Keduanya bertindak sebagai akuifer yang dapat menyimpan dan meloloskan air dalam jumlah yang berarti. Air tanah yang terdapat pada batu gamping koral terkonsentrasi dalam porositas sekunder yang saling berhubungan. Tipe air tanah didominasi oleh tipe klorida (Na-Cl dan Mg-Cl). Sementara air tanah pada aluvium pantai dicirikan dengan tipe bikarbonat (Ca-HCO3). Mata airnya memiliki tipe karbonat (Ca-HCO3, Mg-HCO3) dan tipe Na-Cl. Batu gamping koral mempunyai tahanan jenis yang bervariasi dari 3 ohm-m – 5000 ohm-m. Tahanan jenis rendah berasosiasi dengan rongga hasil pelarutan yang terisi air payau atau pun air asin, sedangkan tahanan jenis kontras tinggi merupakan batu gamping kompak dan kering.Kata kunci: akuifer, batu gamping, porositas sekunder, air tanah, Pulau BiakABSTRACTA research has been conducted in Bosnik Coast, East Biak District, Biak Numfort, Biak Island, Papua Province. The study was conducted to determine the character of the groundwater in coastal areas as basic information for the management of water resources. The research method consists of the surface hydrogeologic survey, hydrochemical, and the geoelectric survey. The rocks in the studied area are dominated by coral limestone (Mokmer Formation) and a little alluvium coastal sediment. Both act as an aquifer that can store and release significant quantities of water. Groundwater is contained in coral limestone, concentrated in interconnected secondary porosity. The type of water dominated by the chloride type (Na-Cl and Mg-Cl). While groundwater in coastal alluvium is characterized by the bicarbonate type (Ca-HCO3). The springs have carbonate type (Ca-HCO3, Mg-HCO3) and Na-Cl type. The result of geolelectrical measurement indicated that the coral limestone had resistivity which varied from 3 ohm-m - 5000 ohm-m. The low resistivity associated with the voids or cavities filled with brackish water or salt water, while the high resistivity contrast is a compact and dry limestone.Keywords : aquifer, limestone, secondary porosity, groundwater, Biak Island
Perbandingan pemodelan respon spektra menggunakan analisis discreet point dengan standar perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung dan non gedung tahun 2010 (Studi kasus Kecamatan Cilacap Selatan, Kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah) Arifan Jaya Syahbana; Prahara Iqbal
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2750.694 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.69

Abstract

ABSTRAKPemodelan respon spektra berdasarkan metode Discreet Point dan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung Tahun 2010 telah dilakukan dengan mengambil lokasi di Kecamatan Cilacap Selatan, Kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Pengeboran teknik dilakukan di dua titik di Kota Cilacap, yaitu BH-02 dan BH-03 untuk mengetahui stratigrafi tanah dan karakteristik fisik tanah daerah penelitian. Studi mengenai respon spektra mutlak dilakukan terutama pada daerah dengan nilai ekonomi dan sosial yang tinggi. Hal ini guna mengantisipasi kegagalan struktur bangunan saat gempa bumi terjadi. Metode yang dilakukan pada studi ini adalah Discreet Point. Metode ini menganggap tanah akan menjadi beban pada suatu sistem pemodelan di tengah lapisan. Input yang dimasukkan adalah Gempa Bumi Chichi, Kobe, dan Kocaeli. Alasannya adalah adanya kesamaan mekanisme dengan gempa bumi yang melanda Kota Cilacap pada tahun 2011. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: input gempa bumi yang mempunyai karakteristik percepatan sama dapat menghasilkan respon spektra yang berbeda apabila durasi efektif gempa bumi berbeda, daerah Cilacap pada titik BH-02 dan BH-03 mengalami deamplifikasi apabila ditinjau menggunakan Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung (ditulis: SPKGUBG&NG) 2010, sedangkan penelitian ini menghasilkan deamplifikasi untuk lokasi BH-02 dan amplifikasi yang kecil pada lokasi BH-03. Hasilnya, lokasi BH-02 percepatan di batuan dasar dari 0,457g menjadi 0,33g sedangkan lokasi BH-03 dari 0,462g menjadi 0,51g.Kata kunci: Discreet Point, SPKGUBG&NG 2010, respon spektraABSTRACTComparison of response spectra based on modeling method of Discreet Point and Building and Non-Building Earthquake Resistance Planning Standards 2010 has been conducted in South Cilacap District, Cilacap City, Central Java Province. Drilling technique was carried out at two locations in Cilacap City, named BH-02 and BH-03, to know soil stratigraphy, sampling, and physical characteristics of the research areas. Study on response spectra is should be conducted absolutely mainly at the areas of high economic and social values. This study is is carried out to anticipate structural failures when earthquake occurs. The Mmethod applied in this study is Discreet Point. This method assumes that soils will become the load on a modeling system in the middle of the layer. Earthquake inputs applied in the simulation are Chichi, Kobe, and Kocaeli. The reason is that there is similarity in mechanism with the one that hit Cilacap City in 2011. Research results show that: earthquake inputs that have the same acceleration characteristics can result in different response spectra when effective duration of the earthquake is different, the Cilacap area at BH-02 and BH-03 experienced deamplification when viewed using SPKGUBG&NG 2010, while this study resulted in unamplification to the location of BH - 02 and a small amplification at location BH – 03. In this study, the acceleration at BH-02 the bedrock was unumplified from 0, 457g to become 0, 33g, while at location of BH-03 it underwent umplification from 0, 462g to 0, 51g. The result shows that at location of BH – 02 the acceleration in the bedrock which was 0,457g became 0,33g, whereas at location BH – 03 which was of 0,462g became 0,51g.Keywords: Discreet Point, SPKGUBG&NG 2010, response spectra
Segmentasi tektonik aktif pada Lempeng Mikro Sumatra Bagian Utara (Aceh) ditinjau dari sebaran episenter gempa bumi Lina Handayani; Haryadi Permana; Eddy Z. Gaffar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1275.8 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i2.37

Abstract

ABSTRAKBeberapa tahun setelah kejadian gempa bumi Aceh 2004, telah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan khususnya di daerah Sumatra. Peningkatan aktivitas ini menimbulkan keingintahuan yang lebih dalam mengenai tektonik daerah ini. Peningkatan jumlah kejadian kegempaan memungkinkan kita untuk memperoleh informasi lebih lanjut sebagai bahan untuk mempelajari tektonik aktif di Sumatra. Penelitian ini meliputi analisis data gempa bumi besar (M>5) di daerah Sumatra bagian utara dengan membandingkan kejadian sebelum dan setelah gempa bumi Aceh. Data gempa bumi menunjukkan adanya pembagian empat daerah kegempaan yang dapat dikaitkan dengan aktivitas pada Cekungan Busur Muka Aceh dan Sesar Simeulue-Nias. Profil sebaran episenter juga menunjukkan kemungkinan kedalaman lajur aktif pada kedua fitur tersebut hingga 40-60 km. Pengelompokan daerah kegempaan dan evaluasi tektoniknya menunjukkan adanya segmentasi tektonik aktif pada Lempeng Mikro Sumatra Bagian Utara.Kata kunci: gempa bumi, seismik, Sumatra Utara, Cekungan Aceh, Busur MukaABSTRACTA few years after the 2004 Aceh earthquake, there has been an increase in seismic activity especially in the Sumatra region. This increase in activity raises a deeper curiosity about the tectonics of this area. The increase in number of seismic events allow us to obtain better data for further study of the active tectonics of Sumatra. This study includes data analysis of major earthquakes (M>5) in the northern Sumatra region by comparing the events prior and post major earthquake of Aceh in December 2004. Earthquake data indicate the existence of division of four regions that can be attributed to the seismic activity of the Aceh fore arc basin and Simeulue-Nias Fault. Epicenters distribution profile also suggests that the depth of the active zone on both features ranges on 40-60 km. Regional grouping of seismicity and evaluation of its tectonics indicate the existence of active tectonic plate segmentation on Micro Plate Tectonics of Northern Sumatra.Keywords: earthquake, seismic, North Sumatra, Aceh Basin, Fore-arc
Deformasi Gunung Guntur berdasarkan data GPS Cecep Sulaeman; Sri Hidayati; Agoes Loeqman; Yasa Suparman; Devy K. Shahbana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.257 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.3

Abstract

SARIPenelitian dengan metoda Global Positioning System (GPS) di Gunung Guntur secara berkala telah dilakukan sejak tahun 1996. Berdasarkan hasil penelitian Juni 1997 sampai dengan Juni 2009, secara umum arah pergeseran horisontal titik ukur GPS ke baratlaut dengan besar pergeseran antara 0,7 cm sampaidengan 7,7 cm. Estimasi sumber deformasi menunjukkan bahwa penyebab terjadinya deformasi adalah sesar normal dan sesar oblique mengiri. Berdasarkan nilai dilatasi dan perubahan statik stres, Gunung Guntur merupakan daerah dengan nilai dilatasi negatif dan perubahan statik stres negatif.Kata kunci: Deformasi, sesarABSTRACTGPS survey on Guntur volcano has been done since 1996 periodically. Based on position data in the period of June 1997 until June 2009, horizontal displacement generally to the northwest direction about 0.7 cm – 7.7 cm. The result of deformation source estimation showed that the source of deformation are normal fault and sinistral oblique fault. Based on dilatation value and static stress changes, the Guntur volcano is a region with negative dilatation value and decreasing static stress change.Keyword: Deformation, fault
EVALUASI KEBIJAKAN BAKU MUTU AIR LIMBAH (STUDI KASUS: LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL DI BANDUNG) Dyah Marganingrum; Lenny Marilyn Estiaty
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.156 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i1.90

Abstract

ABSTRAKBaku Mutu Air Limbah (BMAL) dibuat sebagai salah satu bentuk regulasi untuk mengendalikan tingkat pencemaran.Makalah ini bertujuan untuk mengkaji dan mengevaluasi peraturan BMAL, khususnya untuk industri tekstil di Bandungyang berada di kawasan DAS Citarum. Metode yang digunakan adalah pendekatan analitik regulasi terkait. Eksperimentasidegradasi limbah industri tekstil PT. X menggunakan bakteri Bacillus licheniformis juga dilakukan untuk memperkuatrekomendasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa parameter pada BMAL yang bernilai lebih tinggi daribaku mutu air (BMA) yang digunakan sebagai acuan untuk pengendalian kualitas air Sungai Citarum. Sementara analisisdata primer dan sekunder di beberapa titik Sungai Citarum telah menunjukkan kondisi tercemar, sehingga dapat dipastikanbahwa air limbah industri tekstil yang dibuang ke badan air Sungai Citarum maupun anak-anak sungainya akan selalumemberikan beban terhadap Sungai Citarum. Hasil eksperimen terhadap degradasi air limbah juga menunjukkan bahwanilai BOD dan COD mengalami penurunan, namun tidak signifikan memberikan perubahan warna sebelum dan setelahpengolahan. Hasil pengenceran untuk menyesuaikan nilai COD dengan BMAL hingga 150 mg/l juga tidak memberikanperbedaan warna yang signifikan. Oleh karena itu, BMAL perlu segera dievaluasi dan disesuaikan dengan daya dukung dandaya tampung Sungai Citarum agar tetap sesuai dengan peruntukannya.Kata kunci: Bacillus licheniformis, Citarum, regulasiABSTRACTWastewater quality standard (BMAL) is the regulation policy for controlling water pollution level. This paper aims to examineand to evaluate the wastewater quality standard rules (BMAL), especially for textile industries in Bandung located suroundingthe Citarum Watershed. The method used is the related regulation analytical approach. Experimentation of degradation of textileindustry wastewater from PT. X using bacteria Bacillus licheniformis was carried out to strengthen the recommendation. Theanalysis showed that there are some parameters on BMAL which have higher values than the water quality standard (BMA) usedas a reference for water quality control to Citarum River. The primary and secondary data analyses at some points of CitarumRiver show polluted conditions. Thus, it can be ascertained that the textile industry wastewater discharged into the water body ofCitarum River and its tributaries will always give load of contaminants. Results of experiments on the degradation of wastewateralso show that the BOD and COD values decreased, but not significantly give a colour change before and after the treatment. Resultdilution to adjust the value of COD with BMAL up to 150 mg/l also did not provide significant colour differences. Therefore,BMAL needs to be evaluated and adjusted to the carrying capacity of Citarum River in order to keep its function as intended.Keywords: Bacillus licheniformis, Citarum River, regulation
Analisis data gayaberat daerah Porong dalam studi kasus struktur dan deformasi geologi bawah permukaan Tatang Padmawijaja
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.5 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.60

Abstract

ABSTRAKSemburan Lumpur Sidoarjo telah mengakibatkan dampak lingkungan terhadap wilayah di luar kolam penampungan lumpur, yaitu di bagian baratnya berupa amblesan tanah, tembusan gas dan semburan air bercampur lumpur di Siring Barat dan Desa Besuki. Data gayaberat dan deformasi permukaan menunjukkan bahwa zona anomali gayaberat rendah dengan deformasi permukaan sebagai dinamika struktur geologi dangkal. Zona anomali gayaberat rendah menunjukkan penurunan rapat massa yang menggambarkan sebagai struktur geologi dangkal bawah permukaan dengan indikasi amblesan tanah, tembusan gas, dan semburan air bercampur lumpur. Struktur geologi dangkal dari kelurusan anomali gayaberat residual ditafsirkan sebagai sesar dan rekahan yang digunakan sebagai media dimana terjadi tembusan gas berarah selatan barat daya – utara timur laut. Tembusan gas maupun amblesan di daerah Siring Barat dan Tanggulangin merupakan deformasi bawah permukaan sebagai penurunan rapat massa dari pengukuran gayaberat secara priodik.Kata kunci: gayaberat, struktur geologi, deformasi bawah permukaanABSTRACTSidoarjo mudflow has environmental impacts beyond the mud pool, is in the western part appears of the land subsidence, gas and water effluent, and mudflow in Siring western and eastern Besuki village appear mudflow. Analysis of gravity data dan surface deformation indicate that the zone of low gravity anomaly with a surface slope deformation as the dynamics of shallow geological structure. Zone of low gravity anomaly as a decrease in density that show the deformation of shallow subsurface geology with land subsidence, gas and water effluent, and mudflow in West Siring western and eastern parts of the Besuki village pond mud. Analysis of regional and detailed gravity data obtained lineament anomaly as regional geological structure in the western part of the pool of mud. Shallow geological structure indicated by the residual gravity anomaly lineament lineament is a fault and stocky as a medium in which the effluent gas occurred southwest of the southern direction - north northeast. Land subsidence and effluent gas and water, and mud flow in the area West Siring and subsurface deformation Tanggulangin is indicated by a decrease in density of periodic gravity measurements.Keywords: gravity, structural geology, subsurface deformation
Identifikasi tingkat risiko bencana letusan Gunung Api Gamalama di Kota Ternate Firmansyah Firmansyah
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2412.73 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.28

Abstract

SARIPulau Ternate yang dibentuk oleh Gunung Gamalama terletak di atas jalur penunjaman (subduction zone) yang miring ke timur dengan sudut yang kecil. Kondisi ini menyebabkan wilayah Kota Ternate memiliki risiko bencana letusan gunung api. Oleh karena itu, diperlukan upaya penelitian guna mengurangi risiko bencana letusan gunung api. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah perhitungan nilai faktor dengan model standarisasi Davidson serta metode superimpose. Selain itu untuk memperoleh nilai perbandingan antara beberapa faktor yang ditinjau dari segi pentingnya faktor tersebut terhadap faktor lainnya dalam menentukan bobot terhadap risiko bencana letusan gunung api digunakan pembobotan dengan menggunakan metode proses hierarki analitik (Analytical Hierarchy Process). Tulisan ini merupakan perbaikan dari tulisan sebelumnya yang terbit pada Buletin Geologi Tata Lingkungan edisi Vol. 20 No. 3, Desember 2010 dengan menambahkan beberapa indikator, yaitu indikator-indikator dalam faktor bahaya dan faktor ketahanan. Hasilnya berbeda secara signifikan.Kata kunci: Kota Ternate, gunung api, Gamalama, risiko bencanaABSTRACTTernate island formed by Gamalama volcano which is located above a low angle subduction zone which is dipping eastward. This condition causes Ternate is affected by volcanic eruption. Therefore, a research is needed to reduce the risk of volcanic eruption. Various methods of analyses to calculating the value factor with Davidson’s standard model as well as superimpose methods are used. Moreover, to obtain comparison value between several factors in terms of the importance of these factors on other factors, in determining the weight of volcanic eruption risk, analytical hierarchy process method is used (Analytical Hierarchy Process). This paper improve the previous one which is published in Bulletin of Environmental Geology Vol. 20 No 3 December 2010, by adding some indicators, those are indicators of hazard factor and capacity factor. The results a differ significantly.Keywords: Ternate City, volcano, Gamalama, disaster risk
KAJIAN UPAYA PENGURANGAN RISIKO DAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP ANCAMAN BENCANA TANAH LONGSOR (Desa Ndito Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur ) Zakarias Dedu Ghele Raja; Hendarmawan Hendarmawan; Sunardi Sunardi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2355.664 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.176

Abstract

ABSTRAKPotensi bencana alam yang tinggi di Indonesia pada dasarnya merupakan refleksi dari kondisi geografis yang sangat khas karena terletak pada pertemuan tiga lempengan tektonik dunia. Bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, tsunami dan banjir dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Bencana tanah longsor merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi ketika musim penghujan dan sebagai bencana ikutan ketika bencana gempa bumi terjadi. Dengan kondisi tersebut, maka upaya pengurangan risiko bencana, yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat bencana, perlu untuk dilakukan. Salah satu tujuan upaya pengurangan risiko bencana yang sangat penting yakni peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Desa Ndito merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko bencana tanah longsor tinggi. Meskipun demikian, dampak risiko dapat diminimalisir karena tingkat kesiapsiagaan, yang dinilai berdasarkan indikator tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan kesiapsiagaan melalui penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, sudah cukup tinggi walaupun upaya pengurangan risiko bencana di daerah ini dinilai belum maksimal. Tingginya tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan,meskipun latar belakang pendidikan mayoritas penduduk hanya tingkat sekolah dasar, disebabkan oleh pengalaman menghadapi bencana tanah longsor yang terjadi akibat gempa di tahun 1992 dan ketika curah hujan tinggi di tahun 2012. Tingkat pengetahuan inilah yang membentuk baiknya sikap dan tindakan partisipasi masyarakat. Di lain sisi, tindakan kesiapan masyarakat dinilai belum baik karena rendahnya rata-rata pendapatan. Kata Kunci      :           Tanah Longsor, Upaya Pengurangan Resiko Bencana, Kesiapsiagaan, Sikap, Pengetahuan dan Tindakan. ABSTRACT High natural disaster potential in Indonesia is basically a reflection of its unique geographical condition as the intersection of three tectonic plates in the world. Natural disasters such as landslides, earthquakes, tsunamis and floods can occur suddenly or within a slow process. Landslide is one of the disasters that most often occurs during the rainy season also as a side effect when earthquake happens. The effort to mimimize the impact caused by the disaster is highly needed in such condition. One of the objectives is to improve community preparedness in facing disaster threats. Ndito is one of the areas with high landslide risk. However, the risk can be decreased by the high level of preparedness, measured by the level of community knowledge, attitudes, and actions with studies using qualitative and quantitative methods, although disaster risk reduction efforts in this area is considered not maximum. The high level of community knowledge about the disaster, despite having the majority of population’seducational background as low as primary school level, is due to their experience of having faced landslides caused by an earthquake in 1992 and heavy rainfall in 2012. The level of knowledge have shaped their good attitudes and community participationactions. On the other hand, community readiness measures is considered not good due to low average income.Key Words :     Landslides, Disaster Risk Reduction Efforts, Preparedness, Attitudes, Knowledge and Action.

Page 5 of 22 | Total Record : 218