cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Identifikasi keluaran air tanah lepas pantai (KALP) di pesisir aluvial Pantai Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat Hendra Bakti; Rachmat Fadjar Lubis; Robert Delinom; Wilda Naily
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2563.784 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i2.41

Abstract

ABSTRAKPenelitian keluaran air tanah di lepas pantai (KALP) merupakan suatu penelitian baru yang saat ini sedang terus dikembangkan. Selain sebagai salah satu pengontrol tingkat salinitas lingkungan biota terumbu, KALP dapat menjadi potensi sumber pencemar dan alternatif penyediaan air bersih di wilayah pesisir dan pantai. Upaya identifikasi telah dilakukan di daerah pesisir aluvial Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Identifikasi KALP dilakukan berdasarkan analisis salinitas, pengukuran hidrogeokimia meliputi sifat kimia fisik air dan unsur penjejak 222Rn pada lokasi terpilih di lintasan laut dan air tanah di daratan. Indikasi kehadiran KALP dijumpai dalam bentuk mata air bawah laut dan rembesan yang dicirikan dengan kandungan salinitas yang rendah dan adanya kandungan 222Rn tinggi. Identifikasi KALP berdasarkan gabungan hasil interpretasi dari metode-metode diatas menunjukkan keluaran air tanah di lepas pantai ini merupakan kendali dari kondisi geologi dan kecepatan aliran air tanah.Kata kunci: keluaran air tanah di lepas pantai, hidrogeokimia, 222Radon, Pulau Lombok UtaraABSTRACTResearch on submarine groundwater discharge (SGD) is a new research which is currently being developed in Indonesia. Apart from being one of salinity level controllers for coral environment, SGD may become an alternative water supply potential and also as a pollutant sources in coastal areas. An attempt of SGD identification had been carried out on the alluvial coast of North Lombok, West Nusa Tenggara Province. Identification of SGD was based on salinity analysis and hydrochemical measurement that includes physical chemistry of water property and radon trace elements known as 222Rn at selected locations at sea track and groundwater on land. Indication of the presence of SGD was found in the form of under seawater springs and seepages which are characterized by low salinity content and the presence of high 222Rn content. Identification of SGD which was based on combined interpretation results of the above methods shows that the output of the groundwater in offshore area is a control of geological conditions and the speed of groundwater flow.Keywords: submarine groundwater discharge, hydrogeochemical, Radon (222Rn), North Lombok island 
Peningkatan aktivitas gempa bumi di Indonesia tahun 1973 - 2009 Lina Handayani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1591.385 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.7

Abstract

SARIEvaluasi data gempa bumi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1973 hingga tahun 2009 dilakukan denganmenggunakan data dari katalog bebas milik Pusat Informasi Gempa Bumi Nasional (NEIC)-USGS. Secara keseluruhan, data kegempaan dalam kurun waktu 36 tahun tersebut tidak memperlihatkan adanyapola waktu atau lokasi yang teratur. Namun adanya peningkatan jumlah kejadian gempa bumi tampak sangat jelas. Jumlah gempa bumi pertahun sejak tahun 2004 kurang lebih dua kali lebih banyak dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja belum ada teori yang dapat menerangkan fenomena peningkatan kejadian gempa bumi ini.Kata kunci: Data gempa bumi, peningkatan jumlah kejadianABSTRACTEvaluation of earthquakes occurred Indonesia since 1973 – 2009 has been done using earthquake data from the open catalog of United States Geological Survey – National Earthquake Information Center. Overall, the 36 years data do not show any particular pattern in time or location. However, the increase in events number since 2004 is apparent. There are twice as many earthquakes each year since 2004 as to each year before 2004. Unfortunately, there is no accepted explanation or theory to date that can explain the phenomena.Keywords: Earthquakes data, increase in events
Pertumbuhan Retakan Pada Peningkatan Aktivitas Gunung Egon, Nusa Tenggara Timur Periode Desember 2015 – Januari 2016 Estu Kriswati; Novia Antika Anggraeni; Sucahyo Adi; Devy K. Syahbana; Ilham Mardikayanta; Herman Yosef Mboro
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1187.404 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.94

Abstract

ABSTRAKPeningkatan aktivitas Gunung Egon terjadi pada pertengahan Desember 2015. Tingkat aktivitas dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada 15 Desember 2015 dan kemudian dinaikkan menjadi level III (Siaga) pada 13 Januari 2016 sejalan dengan peningkatan aktivitas kegempaan yang makin intensif. Pemantauan kegempaan merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas gunungapi dan untuk memprediksi letusan gunungapi. Pembahasan aktivitas vulkanik Gunung Egon ditujukan untuk memahami peningkatan aktivitas yang terjadi pada Desember 2015 – Januari 2016 berdasarkan analisis data kegempaan. Hal ini didukung oleh hasil pengamatan visual serta pengukuran kandungan gas di udara di sekitar gunung. Gempagempa vulkanik yang terekam pada seismometer Gunung Egon periode Desember 2015 - Januari 2016 meningkat dari segi jumlah dan mempunyai sumber yang dangkal di bawah puncak gunung. Peningkatan energi gempa vulkanik yang ditimbulkannya cukup signifikan. Analisis statistik terhadap gempa pada Gunung Egon yang memperlihatkan nilai-b cukup rendah, dan merupakan hasil dominansi jumlah gempa tektonik. Peningkatan nilai-b pada periode 2015 - 2016 dibandingkan periode 2014 - 2015 diartikan sebagai peningkatan retakan/rekahan di sekitar Gunung Egon. Kemungkinan adanya peningkatan retakan yang terjadi di Gunung Egon didukung oleh adanya peningkatan tinggi asap hembusan solfatara dan adanya peningkatan kandungan gas SO2 pada Januari 2016 yang melebihi ambang batas.Kata kunci: aktivitas gunungapi, gempa vulkanik, nilai-b, peningkatan retakanABSTRACTIncreasing the activity of Egon Volcano occured in mid-December 2015. The level of activity of the volcano raised from Level I to Level II on December 15, 2015 and raised Egon to level III on January 13, 2016 due to the intensif increase on the seismic activity. The seismic method is commonly applied for volcanic monitoring, volcanic eruption prediction, and determining the activity level of active volcanoes. Discussion of the volcanic activity of Egon Volcano aims to understand the increasing activity from December 2015 to January 2016 based on seismic data, supported by visual observation and gas content measurement in the air around Egon. Volcanic earthquakes at Egon Volcano in the period of December 2015 - January 2016 increased significantly in number, with hypocentres distributed in the shallow depth beneath the Egon summit. This means there was also a significant increase in volcanic earthquake energy. Statistic analysis of the earthquakes shows the b-value is quite low, indicating the dominancy of tectonic earthquakes. The increase in b-value during the period of 2015-2016 compared to the period of 2014 - 2015 is defined as the increasing of cracks/fissures in the vicinity of the volcano. The possibility of the increasing in cracks occurred at Egon Volcano was supported by the increase in the height of solfatara emission and the increase in SO2 gas content on January 2016, which was higher than the surrounding.Keywords: volcanic activity, volcanic earthquakes, b-value, increase of cracks
Analisis penyebaran Particulate Matter 10 (PM10) pascaerupsi Gunung Kelud 13 Februari 2014 Kadarsah Kadarsah; Eko Heriyanto; Radyan Putra Pradana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2414.385 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.64

Abstract

ABSTRAKErupsi Gunung Kelud terjadi pada 13 Februari 2014 diawali oleh letusan freatomagmatik awal yang diikuti oleh erupsi magmatik yang menghasilkan aliran piroklastik dan jatuhan piroklastik. Penelitian dan pengamatan kualitas udara di sekitar Gunung Kelud mutlak dilakukan untuk mengetahui dampaknya bagi lingkungan dan manusia. Oleh karena itu, pengamatan Particulate Matter 10 (PM10) dan parameter meteorologi telah dilakukan pada kecamatan terdampak erupsi di sekitar Gunung Kelud. Pengamatan berlangsung 16 - 21 Februari 2014 di Kecamatan Kepung, Wates, dan Nglegok. Selama observasi, tiap kecamatan memiliki kategori tersendiri untuk tiap hari. Kategori dibagi berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara Nasional (ISPU) dengan nilai ambang batas 150 μ/m3. Kecamatan Kepung memiliki dua kategori sedang (96,87 - 98, 49 μ/m3) dan empat tidak sehat (123,61 - 181,93 μ/m3). Kecamatan Wates memiliki dua kategori bahaya (> 300 μ/m3) , satu tidak sehat (146,70 μ/m3) dan sedang (89,77 μ/m3). Kecamatan Nglegok memiliki tiga kategori sedang (56,16 - 77,99 μ/m3), dua baik (43,66 - 46,41 μ/m3) dan satu tidak sehat (117,07 μ/m3). Perbedaan konsentrasi PM10 akibat perbedaan dominasi arah dan kecepatan angin dari Gunung kelud.Kata kunci: erupsi Gunung Kelud, indeks standar pencemaran udara nasional, ISPU, particulate matter10 (PM10)ABSTRACTThe eruption of Kelud Volcano in February 2014 was characterized by initial phreatomagmatic eruptions followed by magmatic erupstion which produced pyroclastic flows, and pyroclastic falls. Research and observation of air quality around Kelud Volcano must be conducted to determine the impact on the environment and humans. Therefore, observation of Particulate Matter 10 (PM10) and meteorological parameters has been carried out in three subdistricts affected by the eruption of Kelud Volcano. The observations took place 16 - 21 February 2014 in the subdistrict of Kepung, Wates, and Nglegok. During the observation, each subdistrict has its own category for every day. The Categories are divided according to the National Air Pollution Standards Index (ISPU) with a threshold value of 150 μ/m3. Subdistrict Kepung has two moderates (96.87 - 98.49 μ/m3) and four unhealthly  kategory (123.61 - 181.93 μ/m3). District Wates has two hazardous (> 300 μ/m3) ,one unhealtly (146.70 μ/m3) and moderate (89.77 μ/m3) category. District Nglegok has three moderate (56.16 - 77.99 μ/m3), two good (43.66 - 46.41 μ/m3) and one unhealtly (117.07 μ/m3) category. The PM10 concentration differences due to differences in the dominance of wind direction and speed from Kelud Volcano.Keyword: Eruption of Kelud Volcano, ISPU, National Air Pollution Standards Index, Particulate Matter 10 (PM10)
Semburan gas bercampur air di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Hanik Humaida; Akhmad Zaennudin; N. E. Sutaningsih
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.447 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.32

Abstract

SARISemburan gas di Desa Candi Pari yang terjadi pada 20 November 2011 berada sekitar 3,2 km sebelah barat titik pusat semburan lumpur Sidoarjo (LUSI). Semburan gas ini didominasi oleh gas hidrokarbon disertai oleh air yang keluar melalui sumur bor dengan kedalaman sekitar 35 m. Sumur bor ini dibuat tiga tahun yang lalu untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, kecuali untuk air minum karena mutunya tidak layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Berdasarkan analisis, komposisi kimia hidrokarbon dan isotop karbondari semburan gas LUSI tersebut merupakan gas hidrokarbon termogenik yang mempunyai kesamaan dengan semburan-semburan gas di sekitar LUSI. Gas hidrokarbon yang terdapat di dalam semburan Candi Pari berasal dari kedalaman antara 1.514 – 2.514 m yang mendorong air meteorik yang berada di lapisan atasnya.Kata kunci: Candi Pari, semburan gas hidrokarbon, Porong, LUSIABSTRACTThe gas outburst at Candi Pari village that occured on November 20, 2011 was a gas outburst about 3.2 km to the west of the main eruption point of LUSI. This outburst was followed by hydrocarbon gas dominated water that came out of shallow bore hole of 35 m deep. This bore hole was built three years agofor daily needs, but not as drinking water. Based on analysis, chemical composition of the hydrocarbon and isotop of the carbon the gases are thermogenic hydrocarbon. These gases are similar with bubbles and outburst gases from around LUSI. The hydrocarbon gases of Candi Pari were originating from a depth of 1,514 – 2,514 m that pushed out the meteoric water on the upper layer.Keywords: Candi Pari, outburst hydrocarbon gases, Porong, LUSI
Kelas Situs Tanah Kota Banda Aceh Berdasarkan Nilai Periode Dominan Mikrotremor Cecep Sulaeman; Akhmad Solikhin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 3 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3056.362 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i3.175

Abstract

ABSTRAKPengukuran mikrotremor di Kota Banda Aceh telah dilakukan untuk mengetahui periode dominan dan nilai faktoramplifikasi guncangan gempa bumi. Pengukuran dilakukan pada 92 titik ukur memakai seismometer 3 komponenmodel Lennartz LE-3D berperiode natural 5 detik dan perekam digital model SARA SL-06 24 bit. Peta mikrotremorKota Banda Aceh terdiri atas periode dominan dan H/V amplifikasi. Periode dominan Kota Banda Aceh menunjukkanterdapat tiga kelas situs tanah yaitu : kelas situs C (tanah keras) dengan nilai periode dominan 0,2 detik < T ≤ 0,4detik, kelas D (tanah kaku) dengan nilai periode dominan antara 0,4 detik hingga 0,6 detik, dan kelas E (tanah lunak)dengan nilai periode dominan di atas 0,6 detik. Kelas situs D dan E menyebar hampir ke semua kecamatan sementarakelas situs C hanya terdapat di Kutaraja. Nilai H/V amplifikasi Kota Banda Aceh bervariasi antara 1,98 hingga 5,88.Kata kunci : periode dominan, ampilifikasi, kelas situs tanah.ABSTRACTMicrotremor measurement was conducted to obtain dominant period and site amplification factor of Banda AcehCity. The measurements were carried out in 92 sites in the city using 3-component-seismometer Lennartz LE-3D withnatural period 5 s and data logger model SARA SL-06 24 bit. The microtremor map of Banda Aceh City consists ofdominant period and H/V amplification factor maps. The dominant period of Banda Aceh City consisting of three siteclasses are C (hard soil) with dominant period 0.2 s < T ≤ 0.4 s, D (stiff soil) with dominant period between 0.4 sto 0.6 s, and E (soft soil) with dominant period greater than 0.6 s. Site class D and E areas stretch out almost in allsubdistricts, while C class is only in Kutaraja. The H/V amplification value of Banda Aceh city varies between 1.98and 5.88.Keywords : dominant period, amplification, site class.
Studi awal fenomena kematian ikan di Danau Ranau, Sumatra Selatan Akhmad Zaennudin; Ahmad Basuki; Agus Solikhin; Ugan B. Saing
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5109.329 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.23

Abstract

SARIFenomena kematian ikan di Danau Ranau sering terjadi baik dalam skala kecil maupun besar dalam kurun waktu puluhan tahun. Setiap fenomena ini terjadi diawali oleh perubahan warna air danau yang semula jernih menjadi keruh berwarna putih susu pada beberapa lokasi yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah danau. Berdasarkan penyelidikan perubahan warna air tersebut terjadi akibat munculnya gas-gas vulkanik ke permukaan kemudian bereaksi dengan air danau. Semakin lama perubahan warna tersebut semakin banyak ikan yang mati. Pada awal April 2011 terjadi dalam skala cukup besar yang mematikan ribuan ikan baik yang dipelihara di dalam jala apung maupun ikan liar yang hidup bebas di danau tersebut. Penyelidikan dengan metoda geokimia dan seismik dapat mendeteksi adanya hubungan aktivitas kegempaan dengan emisi gas sulfur atau gas magmatik lainnya yang muncul ke permukaan melewati zona sesar yang ada pada wilayah ini.Kata kunci: Fenomena, kematian ikan, Ranau, gas vulkanikABSTRACTThe death of the fish phenomena in Lake Ranau often occurred either in small or large scales within ten of decades. Each of these phenomena preceded by discoloration of the lake water which was clear becomes cloudy white at several locations, which then spread throughout the lake. Based on investigation, the discoloration of the lake water was caused by the appearance of volcanic gases onto the surface and than react with the lake water. The longer the change of the lake water color, the more fish die. In early April 2011 occurred in a larger scale thousands of fish that were kept in floating nets and wild fish in the lake died Geochemical and seismic investigation methods can detect the relationship between seismic activity and sulfuric gas emissions or other magmatic gases that come out onto the surface through fault zone found in the area.Keywords: phenomena, the death of the fish, Ranau, volcanic gases
Manajemen Data Kejadian Gerakan Tanah dalam Penyusunan Basis Data Spasial Longsor Indonesia (Studi Kasus: Kabupaten Garut) Management of Ground Movement Occurrence Data in Building Indonesian Landslide Spatial Database (Case Study: Garut Regency) Sukristiyanti Sukristiyanti; Hilda Lestiana; Andarta F. Khoir; Afnindar Fakhrurrozi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2149.689 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.169

Abstract

ABSTRAKData kejadian gerakan tanah adalah informasi yang penting dalam upaya mitigasi bencana gerakan tanah. Data bersumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, data tersebut masih tabular nonspasial, dengan beragam format. Makalah ini membahas mengenai manajemen data gerakan tanah dalam proses penyusunan basis data spasial untuk kejadian longsor di Kabupaten Garut. Basis data spasial tersebut merupakan bagian dari basis data longsor Indonesia. Metode yang dilakukan dalam manajemen data gerakan tanah meliputi pendekatan spasial dan filtering data. Pendekatan spasial digunakan untuk melakukan konversi data nonspasial menjadi spasial. Filtering data dilakukan untuk membuat sebuah format data baru berupa tabel normal yang dapat menampung semua data. Hasil yang diperoleh dari pendekatan spasial berkaitan dengan pemetaan data gerakan tanah di Kabupaten Garut adalah (1) sistem proyeksi geografis (LL/ Latitude-Longitude) sebagai sistem proyeksi yang dipilih, (2) kenampakan titik untuk memetakan lokasi kejadian gerakan tanah, dan (3) pendekatan wilayah lokasi kejadian untuk mengeplot data yang tidak memiliki informasi koordinat lintang-bujur. Hasil filtering data adalah satu tabel normal yang berisi empat belas kolom data gerakan tanah. Manajemen data telah memberikan solusi berupa strategi penyusunan basis data spasial yang dibangun dari data nonspasial.Kata kunci: basis data spasial, data nonspasial, data kejadian gerakan tanahABSTRACTGround movement occurrence data are important information in ground movement disaster mitigation. The sources of the data in Indonesia are Centre for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG) and Regional Disaster Management Agencies (BPBDs). However, the data are still tabular and in various formats. This paper discusses about the management of ground movement occurrence data in building landslide spatial database of Garut Regency. The database is part of landslide spatial database of Indonesia. Two methods were conducted i.e. spatial approach and data filtering. Spatial approach was needed in converting data from nonspatial to spatial. Data filtering was done to arrange a new form/normal table which can accommodate the whole landslide data. The results of spatial approach regarding to ground movement data mapping in Garut were (1) the geographic projection system (LL/ Latitude-Longitude) as the chosen system, (2) the feature of point to map ground movement occurrence data, and (3) the regional approach of the locations for plotting data that do not have the latitude-longitude coordinate information. The result of the data filtering was a normal table that contained fourteen columns of landslide data. Data management has given a solution in the form a strategic of spatial database building which is constructed from non spatial data.Keywords: landslide spatial database, nonspatial data, ground movement occurrence data
Kajian kondisi air tanah di Kecamatan Porong dan Tanggulangin tahun 2011-2013 Bethy C. Matahelumual
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1139.601 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i2.55

Abstract

ABSTRAKSemburan lumpur panas di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, telah berlangsung sejak akhir Mei 2006 hingga saat ini dan telah menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, terutama aspek sosial yang menimpa masyarakat di daerah Porong dan sekitarnya. Lokasi tempat mereka bermukim telah berubah menjadi lautan lumpur. Semburan lumpur Lapindo telah berlangsung selama tujuh tahun, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, bahkan hasil pengambilan gambar udara, Senin, 1 April 2013 sore, semburan lumpur bercampur asap putih masih terus keluar dari titik semburan dan meluber ke kolam penampungan. Pada tahun 2011, 2012, dan 2013 dilakukan pengambilan percontohair sumur gali lokasi yang sama di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Metoda yang digunakan adalah analisis kualitas air di laboratorium dengan mengacu pada Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater dan Standard Nasional Indonesia. Kualitas percontoh air mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Standar Kualitas Air Minum dan sistem Storage and Retrieval (STORET) tentang Klasifikasi Mutu Air Tanah. Percontoh air sumur gali yang diambil dari Kecamatan Porong adalah sembilan belas, dan di Kecamatan Tanggulangin adalah dua puluh lima. Hasil analisis kualitas air sumur gali Kecamatan Porong sangat buruk dengan nilai STORET -116 (tahun 2011), -68 (tahun 2012), dan -76 (tahun 2013), bahkan kualitas air sumur gali di Kecamatan Tanggulangin lebih buruk dengan nilai STORET -126 tahun 2011, -110 tahun 2012 dan -104 tahun 2013.Kata kunci: kualitas, air, porong, tanggulangin, STORETABSTRACTHot mud blast in Siring Countryside, Sub District of Porong, Sidoarjo Regency, East Java, have taken place since end of May 2006 till in this time and have generated various negative impact to environment, especially social aspectwhich befall society in Porong area and its surroundings. Their location has turned into mud ocean. Lapindo mud blast has taken place during seven year, but up to now not yet shown to be desisted, even result of on air picture intake,Monday, 1 April 2013 evening, mud blast mixed white smoke still come out from blast spot and spread to collecting pond. Water samples collection of dug well have been taken from Porong and Tanggulangin Sub District in 2011,2012 and 2013. Methodology used is water analysis quality in laboratory based on Standard Methods Examination for Water and Wastewater, and Standar Nasional Indonesia. Quality of water based on Decree of Minister for PublicHealth RI Number 907/MENKES/SK/VII/2002 about Quality Standard of Drinking Water and Storage Retrieval  and system (STORET) about Classification of Ground Water Quality. Dug well water sample taken from Porong Sun District is nineteen, and in Tanggulangin Sub District is twenty five. Analysis result of dug well water quality in Porong Sub District is very bad with STORET value - 116 ( in 2011), - 68 ( in 2012), and - 76 ( in 2013), even the water quality of dug well in Tanggulangin Sub District is worse with STORET value - 126 in 2011, - 110 in 2012 and - 104 in 2013.Keywords: quality, water, porong, tanggulangin, STORET
Kendali Struktur Geologi Terhadap Keterdapatan Air Tanah Kars di Pulau Sumba Bagian Barat Taat Setiawan; Nofi M.Alfan Asgaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7278.611 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.78

Abstract

Penelitian ini merupakan identifikasi awal terhadap air tanah kars Pulau Sumba bagian barat berdasarkan analisis sistem sesar dan rekahan serta analisis keterdapatan dan besaran debit mata air kars. Hasil penelitian menemukan 23 mata air kars dengan debit maksimum ±1300 l/det. Keterdapatan mata air kars terutama dikontrol oleh struktur geologi baik berupa sesar, sistem rekahan, maupun kontak batuan yang berbeda. Berdasarkan atas analisis pola kelurusan morfologi terlihat bahwa air tanah pada Satuan Perbukitan Kars memiliki pola aliran baratlaut-tenggara hingga utara-selatan, kemudian terluahkan pada Satuan Plato Kars karena kontrol rekahan dan sesar normal yang berarah relatif barat-timur. Berdasarkan karakter keterdapatan mata air, diduga sesar tersebut bertindak sebagai penghubung antara unit hidrostratigrafi pada Satuan Perbukitan Kars dengan Satuan Dataran Kars. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem hidrogeologi kars utama di daerah penelitian merupakan integrasi antara air tanah yang berasal dari Satuan Perbukitan Kars dengan air tanah yang dilepaskan pada Satuan Plato Kars di daerah Waekabubak dan sekitarnya.  Kata kunci : air tanah,  kelurusan,  mata air kars, sesar, Sumba BaratABSTRACT This study was preliminary identification of karstic groundwater in the western part of Sumba Island based on fault and fracture system analysis as well as the karst springs occurrence and magnitude analysis. The study found 23 karst springs with the maximum discharge ± 1300 l/sec. Karst springs occurrence was controlled by the geological structure in the form of fault, fracture system, and lithological boundaries. Based on lineament pattern analysis shown that groundwater in Karst Hills have flow patterns of northwest-southeast to north-south, then discharged on Plato Karst that was controlled by fracture and normal faults system relatively east-west trending. Based on the character of karst springs occurrence, the fault was supposed as a conductor between the hydrostratigraphy unit of Karst Hills and Plato Karst. It shown that the main karst hydrogeological system in the study area is the integration between groundwater from Karst Hills and discharging on Plato Karst of Waekabubak and the surrounding area.Keyword : groundwate,  lineament,  karst spring, fault, West Sumba   

Page 4 of 22 | Total Record : 218