cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Geologi lingkungan dan fenomena kars sebagai arahan pengembangan wilayah perkotaan Kupang, Nusa Tenggara Timur Alwin Darmawan; Heru A. Lastiadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.782 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.2

Abstract

SARIIbu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang tengah berbenah memperluas wilayah perkotaan. Suatu hal yang tidak mudah dilaksanakan karena hampir seluruh Kota Kupang dan daerah pengembangannya berdiri di atas batuan gamping (kars). Permasalahannya adalah kawasan kars memiliki fungsi hidrologi, proses geologi, keberadaan flora-fauna, dan nilai-nilai budaya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian geologi lingkungan untuk mengoptimalkan manfaat dan perlindungan kawasan kars. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan di kawasan kars. Kondisi bentang alam Kota Kupang berupa bentang alam yang mempunyai puncak hampir datar (punggungan menyerupai morfologi plato) memanjang utara-selatan. keberadaan punggungan plato tersebut diduga sebagai sumbu lipatan maupun jalur sesar. Selain itu wilayah Kota Kupang dan sekitarnya terdiri atas tiga mintakat, masing-masing adalah mintakat holokars, mintakat mesokars, dan mintakat non kars. Berdasarkan hasil analisis, ketiganya menjadi acuan dalam pengembangan wilayah perkotaan yang sedang dikembangkan.Kata kunci: Batuan gamping (kars), morfologi plato, holokars, mesokars, non karsABSTRACTKupang as the Capital city of East Nusa Tenggara Province, has been preparing to extend it is urban area. It is not an easy thing to do, because almost the whole area of Kupang and it developing urban area are built above limestone (karst) rocks. The problems are karst area possesses function of geological process, the existance of flora and fauna, and cultural value. That is why a research of environmental geology to optimize the advantage and karst conservation area. A descriptive research method is applied to know the adaption of land use in karst area. The landscape condition of Kupang city is a plateau like morphology stretches in North-south trend. This plateau probably as an axis of fold or a fault line. More over, the Kupang city area and the surrounding consists of three terain, they are holokarst terrain, mezokarst terrain, and non karstic terrain. Based on analysis result, three of them become a refference in developing urban areas.Keywords: Karst, morphological plateau, holokarst, mezokarst, non karstic terrain
KARAKTERISTIK TANAH DI KOTA KALABAHI BERDASARKAN NILAI KECEPATAN GELOMBANG SHEAR (Vs) Cecep Sulaeman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.021 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i1.89

Abstract

ABSTRAKKota Kalabahi terletak di Pulau Alor, Propinsi Nusatenggara Timur, merupakan salah satu daerah rawan gempabumi yangdikontrol oleh dua sumber gempabumi, yaitu lajur tunjaman lempeng Samudra Indo-Australia di sebelah selatan dan sesarnaik Busur Belakang Flores di sebelah utaranya. Pengukuran kecepatan gelombang S (Vs) dengan metode MASW di KotaKalabahi telah dilakukan untuk mengetahui kelas situs tanah dan nilai faktor amplifikasi goncangan gempabumi. PengukuranVs dilakukan pada 54 titik ukur memakai data loger OYO 24 kanal model McSeis 1109, dengan geophone OYOfrekuensi natural 4,5 Hz. Berdasarkan nilai Vs 30, tanah di Kota Kalabahi dapat dibagi menjadi tiga kelas situs: Kelas E(tanah lunak) dengan nilai Vs 30 antara 136 m/det hingga 182 m/det dengan faktor amplifikasi antara 2,76 hingga 3,54,Kelas D (tanah kaku) dengan nilai Vs 30 antara 183 m/det hingga 366 m/det dengan faktor amplifikasi antara 1,52 hingga2,75, dan Kelas C (tanah sangat padat dan batuan lunak) dengan nilai Vs 30 antara 370 m/det hingga 382 m/det denganfaktor amplifikasi antara 1,47 hingga 1,51. Berdasarkan sebaran nilaiVs 30, tanah di Kota Kalabahi didominasi oleh KelasD.Kata kunci : ampilifikasi, kecepatan gelombang S, kelas situs tanahABSTRACTKalabahi Town is located in Alor Island, East Nusatenggara Province. This area is prone to earthquakes due to the existance oftwo seismic sources, Indo-Australia Subduction zone and Flores Back Arc. Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) wasutilized to obtain the (Vs) which was used to classify the site class. A shear wave velocity measurements were carried out at 54sites in Kalabahi town using data loger OYO 24 channel model McSeis 1109, with geophone OYO and natural frequency of4.5 Hz. Based on Vs 30 values, soil in Kalabahi can be classified into three site classes. E Class (soft soil) with (Vs) between 136m/s to 182 m/s and amplification factor between 2.76 to 3.54, D Class (stiff soil) with Vs 30 between 183m/s to 366 m/s andamplification factor between 1.52 to 2.72, and C Class (Very dense soil and soft rock) with Vs 30 between 370 m/s to 382m/s and amplification factor between 1.47 to 1.51. According to the distribution of Vs 30 values, the soil in Kalabahi Town isdominated by D Class Site.Keywords : amplification, shear wave velocity, site class
Karakteristik erupsi dan potensi bahaya Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara Deden Wahyudin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.795 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.59

Abstract

ABSTRAKGunung Dukono (1087 m dpl.) dengan kawah aktif Malupang-Warirang merupakan salah satu gunung api aktif dan sering meletus sampai saat ini, terletak di wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Gunung api ini merupakan yang paling muda dan masih aktif di antara gunung api lainnya yang sudah tidak aktif yang tumbuh dalam suatu zona depresi vulkanik. Dari data geologi yang tercermin dari batuan penyusun Kompleks Gunung Dukono-Warirang dan sejarah erupsi Gunung Dukono sejak 1550 sampai saat ini, karakteristik erupsi gunung api ini bersifat eksplosif dan efusif yang menghasilkan abu, lontaran batu pijar, aliran piroklastika, dan aliran lava. Dengan memperhatikan jenis, volume, dan pelamparan produk erupsi di masa lalu maupun sampai sekarang, erupsi Gunung Dukono dapat diklasifikasikan ke dalam erupsi eksplosif dan efusif bertipe Stromboli – Vulkano berskala kecil sampai menengah. Potensi bahaya primer erupsi Gunung Dukono terdiri atas aliran piroklastika (awan panas), jatuhan piroklastika (lontaran batu dan abu vulkanik), gas beracun, dan aliran lava. Sedangkan jenis bahaya sekunder adalah aliran lahar. Dari potensi bahaya erupsi Gunung Dukono teridentifikasi tiga kawasan rawan bencana gunung api, yaitu Kawasan Rawan Bencana III, II, dan I.Kata kunci: Dukono, karakteristik erupsi, potensi bahaya, Maluku UtaraABSTRACTMt. Dukono (1087 m asl) with the active crater Malupang-Warirang is an active volcano and often erupting up to now, located in North Halmahera Regency, North Maluku Province. This volcano is the youngest and still active in between the other dormant volcanoes which is located and appeared in a volcanic depression zone. From geological data which shown by the rock composition of Dukono-Malupang Warirang volcanic complex and historical eruption of Dukono volcano since 1550 up to present time, the eruption characteristic of Dukono volcano is explosive and effusive, produced ash, ejection of incandescent rocks, pyroclastic flows, and lava flows. Based on the type, volume, and distribution of the last eruption products of Dukono volcano, the eruption of the volcano is classified as explosive and effusive eruptions with Strombolian-Vulcanian types from small to medium in scale. The potential primary hazard of Dukono eruption consists of pyroclastic flows (nue ardantes), pyroclastic falls (ballistic rocks and volcanic ash), poisonous gas and lava flows. Whereas the secondary hazards are lahar flows. From the potential hazards of Dukono eruption can be identified there are three volcanic hazard zones namely Volcanic Hazard Zones III, II, and I.Keywords: Dukono, eruption characteristic, potensial hazards, North Maluku
Identifikasi potensi kerawanan tsunami di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur Imun Maemunah; Cecep Sulaeman; Rahayu Robiana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3452.869 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.27

Abstract

SARIKarakteristik pantai di Kabupaten Jember dapat dibagi menjadi tiga tipe. Tipe 1 merupakan pantai berteluk yang sempit dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi daerah Payangan, Seruni, Watu Ulo, dan Tanjung Papuma. Tipe 2 merupakan pantai berbentuk lurus dan lebar dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi Pantai Puger dan Paseban. Tipe 3 merupakan pantai berelief curam dan terjal dengan litologi batuan dasar berumur Tersier meliputi daerah Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Teluk Pisang, dan Teluk Permisan. Secara umum, Tipe 1 merupakan daerah yang berisiko tinggiterhadap bahaya tsunami. Berdasarkan tingkat kerawanan terhadap bahaya tsunami, wilayah pantai di Kabupaten Jember dibagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan rawan tsunami tinggi, kawasan rawan tsunami menengah, dan kawasan rawan tsunami rendah. Kawasan rawan tsunami tinggi merupakan kawasan yangberpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan mencapai lebih dari 4 m dan jarak landaan maksimal sejauh 365 m dari garis pantai. Kawasan rawan tsunami menengah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan 1 hingga 3 m, dan jarak landaan mencapai 980 m dari garis pantai, sedangkan kawasan rawan tsunami rendah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan kurang dari 1 m, dan jarak landaan mencapai 2,7 km dari garis pantai.Kata kunci: karakteristik pantai, tsunami, kawasan rawan tsunami, tinggi genanganABSTRACTCharacteristics of the coastal areas in Jember is divided into three types. Type 1 is a narrow bay coast with fine to coarse sand lithology covering the area of Payangan, Seruni, Watu Ulo, and Tanjung Papuma. Type 2 is a wide and straight coast consists of fine to coarse sand lithology covering the area of Puger beach and Paseban. Type 3 is a steep coast consists of basement rock of Tertiary age covering the area of Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Pisang bay, and Permisan bay. In general, type 1 is a high risk zone against tsunami hazards. Based on the level of vulnerability to tsunami hazards, the coastal areas in Jember is divided into three zones, namely: high vulnerability zone, moderate vulnerability zone and low vulnerability zone against tsunami hazards. High vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of higher than 4 m and the maximum inundation of 365 m from the coast line. Moderate vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of about 1 – 3 meters, and the maximum inundation of 980 m at Payangan. Low vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of lesser than 1 m and the maximum inundation of 2.7 km from the coast line.Keywords: Coastal characteristic, tsunami, tsunami vulnerability, flow depth
Analisis Curah Hujan, Perubahan Tutupan Lahan dan Penyusunan Kurva IDF Untuk Analisis Peluang Banjir: Studi Kasus DAS Cerucuk, Pulau Belitung Ida Narulita; Dyah Marganingrum
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2008.778 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.171

Abstract

Saat ini DAS Cerucuk mengalami peningkatan curah hujan harian maksimum dan perubahan tutupan lahan yang siknifikan. Hal ini berpengaruh pada sumber daya air sehingga pengelolaan sumber daya air perlu ditata kembali. Makalah ini bertujuan melakukan analisis curah hujan dan perubahan tutupan-lahan serta pengembangan kurva frekuensi-durasi-intensitas hujan (IDF) untuk analisis potensi banjir di DAS Cerucuk, pulau Belitung. Data dasar yang digunakan adalah data hujan harian Stasiun Hujan Buluh Tumbang dan Stasiun Pilang, serta data citra satelit landsat tahun 1994, 2002 dan 2013. Analisis data curah hujan dilakukan dengan metode statistik, analisis tutupan lahan menggunakan pengolahan digital citra satelit, dan penyusunan kurva IDF menggunakan metode Mononobe. Hasil analisis untuk periode 1994 - 2013 menunjukkan telah terjadi kecenderungan peningkatan curah hujan harian maksimum di kedua stasiun serta perubahan tutupan lahan hutan dan pertanian lahan kering menjadi perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Perubahan ini cenderung meningkatkan jumlah air larian yang berpontensi peningkatan banjir. Perubahan lahan yang terjadi selama periode tersebut menyebabkan penambahan volume air limpasan sebesar 6.5 % yang dapat mengancam keberadaan infratruktur sumber daya air. Oleh karena itu, evaluasi kurva IDF adalah salah satu alat-bantu yang perlu dilakukan agar dampak negatif peningkatan volume limpasan dapat dikurangi. Hal ini cukup krusial mengingat Kota Tanjung Pandan sebagai Ibu Kota Kabupaten Belitung,yang berada di DAS Cerucuk, merupakan tujuan wisata dan mengalami perkembangan sangat pesat ke depan
Identifikasi prospek panas bumi berdasarkan Fault and Fracture Density (FFD): Studi kasus Gunung Patuha, Jawa Barat Cyrke A.N. Bujung; Alamta Singaribun; Dicky Muslim; Febri Hirnawan; Adjat Sudrajat
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4749.663 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i1.17

Abstract

SARIPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur permukaan daerah panas bumi berdasarkan densitas kelurusan, anomali magnetik, dan manifestasi panas bumi di permukaan. Struktur permukaan dianalisis melalui kerapatan lineament di permukaan dengan metode FFD. Lineament ini diasumsikan berasosiasi dengan fracture atau fault di daerah panas bumi yang umumnya tertutup oleh manifestasi permukaan sehingga sulit teridentifikasi. Fault dan fracture ini diasumsikan sebagai bidang lemah yang menjadi jalur pergerakan fluida termal sehingga dapat menjadi petunjuk bagi lokasi daerah permeabel atau reservoir. Berdasarkan metoda FFD yang dikompilasikan dengan data geomagnetik,diketahui bahwa daerah prospek panas bumi berada di daerah Cibuni, Kawah Putih-Kawah Ciwidey.Kata kunci: struktur, lineament, FFD, Panas bumiABSTRACTThis research aims to identify the surface structures of geothermal area based on lineament density, magnetic anomaly and surface manifestation. The surface structures were analyzed through the density of lineaments on the surface with FFD method. The lineaments are assumed associated with fractures or faults found in geothermal areas those are generally covered by surface manifestation which are difficult to be identified. These faults and fractures were assumed as weak plane that act as fluid thermal movement, thereby it can be used as guidance for the location of permeable area or a reservoir. Based on FFD method which was compiled with magnetic data, it is known that the prospect of geothermal area is located at Cibuni, Kawah Putih-Kawah Ciwidey.Keywords: structure, lineament, FFD, Geothermal
Analisis Karakteristik Akuifer dan Zonasi Kuantitas Air Tanah di Dataran Kars Wonosari dan Sekitarnya, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Taat Setiawan; Nofi M.Alfan Asgaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6559.956 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.106

Abstract

ABSTRAKDataran Kars Wonosari dan sekitarnya secara hidrogeologis memiliki sistem akuifer produktif yang ditandai dengan banyaknya sumur bor air tanah, baik untuk keperluan domestik maupun irigasi. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data uji pemompaan sumur bor untuk mengetahui jenis dan karakteristik akuifer, serta zonasi kuantitas air tanah secara spasial. Hasil analisis tersebut menunjukkan sistem akuifer di daerah penelitian termasuk ke dalam jenis semi tertekan dan secara lokal bersifat tertekan. Hasil perhitungan nilai transmisivitas akuifer menggunakan data uji pemompaan memiliki korelasi yang kuat (R2 = 0,918) dengan estimasi empiris data kapasitas jenis sumur bor. Berdasarkan atas nilai transmisivitas akuifer, kuantitas air tanah di daerah penelitian bervariasi secara spasial, dari potensi sedang untuk domestik dan sangat jelek untuk irigasi (1 - 8 m2/hari), hingga potensi sangat baik untuk domestik dan baik untuk irigasi (1.000 - 10.000 m2/hari).Kata kunci: transmisivitas, kapasitas jenis, kuantitas air tanah, WonosariABSTRACTWonosari karst plateau area hydrogeologically has productive aquifer system characterized by the number of groundwater wells for domestic and irrigation purposes. This research was conducted by analyzing pumping test data to determine the type and characteristics of aquifer and spatial zonation of the groundwater quantity. The analysis shows that the aquifer system of the studied area has semiconfined character and locally confined. The results of the aquifer transmissivity value calculation using pumping test data have a strong correlation (R2 = 0.918) with the empirical estimation of the specific capacity data. Based on the value of aquifer transmissivity, the groundwater quantity of the studied area varies spatially from medium potential for domestic and very poor for irrigation (1 - 8 m2/ day), up to very good potential for domestic and good for irrigation (1,000-10,000 m2/day).Keywords: transmissivity, specific capacity, groundwater quantity, Wonosari
Percepatan Tanah Sintetis Kota Yogyakarta Berdasarkan Deagregasi Bahaya Gempa Bambang Sunardi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 3 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1872.917 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i3.85

Abstract

ABSTRAKYogyakarta merupakan kota dengan tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Tingkat kerawanan gempa serta populasi penduduk yang tinggi menjadikan Yogyakarta sebagai kota dengan tingkat risiko yang tinggi terhadap gempa. Salah satu usaha untuk mengurangi risiko gempa adalah membuat peraturan tentang perencanaan bangunan tahan gempa. Salah satu komponen dalam peraturan kegempaan tersebut adalah tersedianya data percepatan tanah serta respons spektra. Oleh karena itu, penelitian tentang percepatan tanah yang sesuai untuk Kota Yogyakarta sangat penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan percepatan tanah sintetis dan respons spektra di permukaan yang sesuai untuk Kota Yogyakarta. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan data gempa, identifikasi, pemodelan dan karakterisasi sumber gempa, pengelolaan unsur ketidakpastian, analisis bahaya gempa probabilistik dan deagregasi, proses spectral matching, penentuan percepatan tanah sintetis dan respons spektra di permukaan untuk Kota Yogyakarta. Hasil penelitian merekomendasikan percepatan tanah sintetis dan respons spektra di permukaan Kota Yogyakarta mengacu pada data gempa Kern County, 1952 dan Imperial Valley, 1979 setelah diskalakan dan dilakukan proses spectral matching dipakai sebagai dasar desain percepatan tanah dan respons spektra akibat sumber gempa subduksi dan shallow crustal di kota ini.Kata kunci: deagregasi bahaya gempa, percepatan tanah sintetis, respons spektra, spectral matchingABSTRACTYogyakarta is a city with a high level of seismic hazard. The level of seismic hazard and high population makes Yogyakarta as a region with a high level of earthquake risk. One attempt to reduce the earthquake risk is to make regulation about planning of earthquake resistant building. One component in the earthquake regulation is the availability of ground acceleration and response spectra data. Therefore, research about suitable ground acceleration for Yogyakarta City is very important. The goals of this research is to determine suitable synthetic ground acceleration and surface response spectra for Yogyakarta City. Stages of the research involve the collection and processing of seismic data, identification, modeling and characterization of seismic sources, uncertainty management, probabilistic seismic hazard analysis and deaggregation, spectral matching process, synthetic ground acceleration and surface response spectra determination for Yogyakarta City. Results of the research recommend synthetic ground acceleration and response spectra at the surface for Yogyakarta City from Kern County, 1952 and Imperial Valley 1979 earthquake data after scaling and spectral matching process as ground acceleration and response spectra design due to subduction and shallow crustal earthquake source for this city.Keywords: seismic hazard deaggregation, synthetic ground acceleration, response spectra, spectral matching
Pemanfaatan metode TLS (Terrestrial Laser Scanning) untuk pemantauan deformasi gunung api. Studi kasus: kerucut sinder Gunung Galunggung, Jawa Barat Yudovan Vidyan; Hasanuddin C. Abidin; Irwan Gumilar; Nia Haerani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4119.245 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i1.50

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berfokus pada konsep dasar, prosedur, dan pemantauan deformasi kerucut sinder (cinder cone) Gunung Galunggung dengan menggunakan metode Terrestrial Laser Scanning (TLS). Pemantauan deformasi dengan menggunakan titik kontrol yang selama ini biasa digunakan tidak merepresentasikan zona deformasi secara keseluruhan. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi TLS. Saat ini pemantauan deformasi gunung api dengan menggunakan TLS belum banyak dilakukan. Permasalahan dalam penerapan metode TLS untuk pemantauan deformasi gunung api pun belum banyak diketahui. Oleh sebab itu tulisan ini mencoba mengkaji masalah tersebut. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, dan membandingkan model tiga dimensi (3D) untuk menginterpretasikan deformasi kerucut sinder dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2012 dan September 2012. Model 3D dari kedua kala kemudian dibandingkan untuk memperoleh kisaran nilai vektor deformasi vertikal serta volume permukaan kerucut sinder. Hasil akhir yang diperoleh berupa model deformasi 3D kala kedua terhadap kala pertama. Dari hasil penelitian ini didapat estimasi volume kala pertama sebesar 21.635,19 m3 dan kala kedua sebesar 21.513,15 m3 serta rentang deformasi dominan sebesar 6-10 cm. Hasil pemodelan morfologi 3D dari pengukuran TLS dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi kerucut sinder Gunung Galunggung. Hasil pemodelan pada kedua kala menunjukkan adanya nilai deformasi namun dengan nilai yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan oleh permukaan objek yang tidak konsisten akibat gangguan dari vegetasi, proses pemfilteran secara manual serta belum adanya koreksi terhadap sumber kesalahan.Kata kunci: Terrestrial laser scanning, deformasi, gunung api, kerucut sinder ABSTRACTThis research is focused on basic concept and procedures of deformation monitoring of Galunggung volcano cinder cone using Terrestrial Laser Scanning (TLS) method. Deformation monitoring which has been applied using point  control approach cannot fully interpret the deformation zone. This can be overcome by the use of TLS technology. There are only a few researches about volcano deformation using TLS till these days, and consequently, the problems that may probably arise in this monitoring are still unknown. This research try tries to asses this these problems. Methodology used in this research consist of literature study, survey planning, acquiring data, TLS data processing, and comparison of 3D model to interpret cinder cone deformation from two epoch of observations that have been conducted on in April 2012 and September 2012. Three-dimensional model of these two observations are compared to obtain the deformation vector values and cinder cone surface volume. The final results obtained from this research are the volume estimation of the first and the second observations, and also the deformation range, which are 21,635.19 m3, 21,513.15 m3, and 6-10 cm, respectively. The result of 3D morphology modeling using TLS can be applied for mapping and monitoring the cinder cone deformation of Galunggung Volcano. The modeling result showed that there are deformation between two epoch but with relatively high values of displacement. This high values due to object surface inconsistency because of caused by vegetation disturbance, manual filtering process and also the absence of no correction of error sources.Keywords: Terrestrial laser scanning, deformation, volcano, cinder cone
Mengetahui struktur patahan penyebab gempa di Pulau Yapen dan sekitarnya dengan metode gayaberat daerah Papua Saultan Panjaitan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2896.066 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i1.73

Abstract

ABSTRAKPenelitian geofisika yang dilakukan dengan menggunakan metode gayaberat dapat mengetahui struktur patahan sebagai pemicu terjadinya gempabumi di Pulau Yapen. Anomali tinggi 220 mgal di utara dengan arah barat-timur membentuk tinggian sebagai sesar naik. Cekungan batuan sedimen dengan kedalaman sekitar 7.000 m terbentuk pada anomali Bouguer - 90 mgal. Batuan dasar ultramafik yang mempunyai rapat massa 2,9 gr/cm³ membentuk patahan hingga ke batuan dasar yang mengakibatkan gempa bumi di Pulau Yapen dan sekitarnya. Diduga penyebab lain gempa bumi di daerah ini adalah zona subduksi di utara lepas pantai Papua antara pertemuan lempeng Pasifik dan Lempeng Australia-India yang mengaktifkan sesar-sesar di sekitar Pulau Yapen. Gempa bumi berkekuatan 7,1 – 7,9 Skala Richter di Pulau Yapen dan sekitarnya dan berpusat di 2°17’ LS dan 136°59’ BT dengan kedalaman 10 km diakibatkan oleh sesar naik Aoara. Sesar geser Randowaya, sesar geser Jodi, dan sesar naik di Serui juga berpotensi menimbulkan gempa. Gempa kecil dan gempa kuat diatas 7 Skala Richter telah terjadi empat kali di daerah ini yang mencerminkan struktur sesar aktif cukup banyak. Tidak tertutup kemungkinan bahwa gempa kuat di atas 8 Skala Richter sewaktu-waktu dapat terjadi.Tsunami berpotensi terjadi kembali apabila episentrum bersumber pada Jalur Subduksi Irian. Akan tetapi tsunami tersebut hanya berdampak di daerah Pulau Yapen Timur hingga Pulau Kurudu, sedangkan di Serui hingga kearah barat kurang karena gelombang pasang terhambat oleh Pulau Supiori dan Pulau Biak.Kata Kunci: gempa, anomali gaya berat, zona subduksi, sesarABSTRACTA geophysical research carried out by using the gravity method can determine a fault strutur as a trigger of earthquakes in Yapen. High anomaly at 220 mgal in the north direction east-west formeda heigh as a thrust fault. Sdimentary a basin with depths of about 7000 m a Bouguer anomaly formed of -90 mgal.An Ultramafic bedrock having the density of 2.9 g / cm³ formed a fault to the basementresulted in earthquakes in Yapen Island and surrounding areas. Another suspected cause of earthquakes in this area is the north subduction zone off the coast of Papua between the meetingpoint of the Pacific Plate and the Australia-India Plate activating faults around Yapen. An earthquake of 7.1 to 7.9 Reighter Scale in 1979 in Yapen and surrounding areal havinglatitudeof 2 ° 17 ‘ S and longtitude of 136 ° 59’ E in a depth of 10 km was caused the thrust fault of Aoara. Randowaya strike slip fault, Jodi fault, and thrustfault in Serui also have a potentiall to cause earthquakes. Small earthquakes and strong earthquakes of above 7 Richter Scale have happened four times in this area reflecting the structure of the active faults are quite a lot. So it this is possible that a strong earthquake above 8 Richter Scale can occur any time. Tsunamis are potentiall to happen again if the epicentre source is from Irian Subduction Zone. However, the tsunami only impacs areas in East Yapen and Kurudu Islands, while in Serui towards the west it is less because the tide is hampered by Supiori and the Biak is lands.Keywords: earthquake, gravity anomaly, subduction zone, fault.

Page 3 of 22 | Total Record : 218