cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Peranan geologi tata lingkungan dalam penataan ruang Kota Padang pasca Gempa Bumi 30 September 2009 Andiani Andiani; Alwin Darmawan; Indra Badri; Arief Kurniawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5173.155 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.24

Abstract

SARIGempa bumi Padang-Pariaman yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 berkekuatan 7,6 SR telah mengakibatkan korban jiwa dan harta benda di Kota Padang dan sekitarnya. Pasca kejadian gempa bumi, Kota Padang memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang diawali dengan penyusunan kembali rencana tata ruang wilayah tersebut. Penyusunan kembali rencana tata ruang wilayah kota Padang pasca gempa bumi merupakan tahap yang sangat menentukan karena tata ruang akan menentukan apakah wilayah ini menjadi semakin rentan atau semakin kuat ketahanannya di masa datang dalam menghadapi bencana yang sama. Meningkatnya ketahanan wilayah ini dapat tercapai bila unsur-unsur geologi lingkungan berupa kendala geologi dan sumber daya geologi diintegrasikan dalam rencana tata ruang wilayah. Analisis geologi lingkungan ditujukan untuk dapat memberikan informasi lingkungan geologi yang sesuai dengan penggunaan lahan untuk memperkecil dampak negatif yang diakibatkan oleh suatu pengembangan wilayah. Metoda yang digunakan untuk menunjang pemetaan geologi lingkungan yaitu berdasarkan pada analisis aspek geologi lingkungan seperti faktor kondisi fisik topografi, geologi, keairan, kebencanaan/ proses geodinamika dan unsur lainnya yang terkait, seperti penggunaan lahan dan rencana tata ruang wilayah. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan tiga zona keleluasaan untuk pembangunan Kota Padang, yakni leluasa, cukup leluasa, dan agak leluasa. Hasil analisis ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi terhadap tata ruang yang ada. Evaluasi terhadap tata ruang menunjukkan kawasan yang saat ini merupakan kawasan budi daya berada pada zona agak leluasa - leluasa, adapun kawasan lindung berada pada zona agak leluasa - cukup leluasa. Dengan demikian pengembangan kegiatan perdagangan, jasa dan industri di dalam kawasan budi daya harus mempertimbangkan masalah tanah lunak, sedangkan pengembangan kegiatan perdagangan, jasa, industri dan pemukiman di dalam kawasan lindung harus mempertimbangkan faktor keselamatan, dalam hal ini harus disesuaikan dengan aspek bencana geologi yang ada pada kawasan tersebut.Kata kunci: gempa bumi, tata ruang, geologi lingkungan ABSTRACTPadang-Pariaman earthquake that occurred on September 30 th, 2009 measuring the magnitude of 7.6 in Richter Scale had resulted in loss of life and property in the city of Padang and the surrounding areas. Post-earthquake events, Padang entered the stage of rehabilitation and reconstruction that began with the rearrangement of spatial planning of the area. Rearrangement of the spatial planning of the city of Padang after the earthquake is a crucial stage because the layout will determine whether the vulnerability of the region is becoming less or even more resistant against the same disaster in the future. The increase of resistance of this region can be achieved if the elements of environmental geology in the form of geological constraints and geological resources are integrated in regional planning. Analysis of the environmental geology is intended to provide information of geological environment in accordance with the land use to minimize the negative impacts caused by regional development. Based on analysis results there are three zones of discretion for the development of Padang city namely spacious, fairly spacious, and rather spacious. This analysis result can be used as the basis to evaluate the existing spatial planning. Based on the evaluation of the spatial planning shows that the current area is a cultivation zone that lies in rather spacious to spacious zone, whereas the protected zone lies in rather spacious to fairly spacious zone. There by, the development of trade, services and industry in the area of cultivation should consider the problem of soft ground, while the development of trade, services, industry and residential agricultural region should not be considered the factor of safety, in this case, they must adapt to aspects of the geological hazards in the region.Keywords: earthquake, planning of the area, environmental geology
SLOPE STABILITY EVALUATION OF VOLCANIC SOIL AT LIWA-BUKIT KEMUNING WEST TRAFFIC ROAD, WEST LAMPUNG Prahara Iqbal; Asep Mulyono; Arifan Jaya Syahbana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.57 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.116

Abstract

Slope stability modeling conducted on two cut slopes which has two different volcanic soil types at Liwa-Bukit Kemuning west traffic road, Lampung Barat. Numerical simulations is the method which used. This method describe changes in the value of the safety factor when it rains. Results of the analysis illustrates that the highest safety factor was obtained on the slopes of sandy soil. Modeling illustrates also the decreasing safety factor when it rains.
Pemodelan 2D perubahan tekanan air pori hubungannya dengan Likuifaksi: Studi kasus Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Arifan Jaya Syahbana; Khori Sugianti
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.13 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.56

Abstract

ABSTRAKYogyakarta merupakan daerah rawan gempa bumi. Tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa dengan skala 6,2 Mw yang mengakibatkan banyak berjatuhan korban dan kerugian material. Peristiwa ini juga menimbulkan bahaya sekunder yang lain, yaitu likuifaksi. Penelitian ini menyajikan validasi besaran tekanan angka pori yang dapat memicu likuifaksi dengan analisis 2 Dimensi. Pemodelan disimulasikan menggunakan perangkat lunak Liqit untuk mengetahui profil tanah yang berpotensi likuifaksi dan nilai PGAnya. Nilai PGA diaplikasikan pada program PLAXIS untuk mengetahui perkembangan tekanan air porinya. Hasil simulasi menunjukkan perkembangan tekanan air pori di lokasi penelitian ada yang merata dan terlokalisir. Selain itu pendekatan data SPT akan memberikan efek suatu jenis tanah akan lebih mudah mengalami likuifaksi daripada CPTu. Dengan asumsi lebih mudah mengalami likuifaksi maka sebuah profil yang mengalami likuifaksi akan menghasilkan tekanan air pori yang lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan CPTu pada nilai PGA yang sama. Simulasi dengan data SPT akan menghasilkan perbandingan tekanan air pori terhadap tegangan total tanah sekisar 61%, sementara pada data CPTu akan memberikan hasil sekitar 88%. Secara teoritis, semakin besar perbandingan, maka kemungkinan likuifaksi akan semakin besar.Kata kunci: likuifaksi, tekanan air pori, 2 dimensiABSTRACTYogyakarta is the area prone to earthquakes. 27th May 2006 earthquake strucked Yogyakarta with a 6.2 Mw scale which resulted in a lot of many casualties and material losses. This incident also raises the danger of liquefaction. This research presents the validation of pore water pressure quantity which can trigger liquefaction with 2 dimensional analysis. Simulated Modeling using the Liqit software to know the profile of the ground which has liquefaction potential and value of the PGA. PGA value then applied to PLAXIS program to determine the pore water pressure developments. The simulation results show the development of pore water pressure in research location are vary, some evenly and localized. In addition, the SPT data approaches will give the effect of a certain soil type will be more prone to liquefaction than CPTu’s one. Assuming more prone to liquefaction, profile will result in smaller pore water  pressure than compared with CPTu method on same PGA value. When SPT data used, it will produce the pore water pressure ratio against the soil total stress range on the number 61%, while in the CPTu data will give the results number ranging in 88%. Theoretically, the larger the comparison, the greater the possibility of liquefaction will occur.Keywords: liquefaction, pore water pressure, 2 dimensions 
Aplikasi Metode Inversi Damped Least-square untuk Pemodelan 1-D Data TEM Willy Hermawan; Hendra Grandis; Widodo Widodo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4113.643 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.82

Abstract

ABSTRAKMetode TEM (transient electromagnetic) merupakan metode alternatif yang dapat digunakan untuk mencari sumber air tanah selain metode geolistrik. Prinsip metode TEM adalah menginduksikan energi elektromagnetik ke dalam tanah dengan menggunakan transmitter loop dan receiver koil yang merekam respon bawah permukaan ketika transmitter dalam keadaan mati (tidak ada medan primer). Pemodelan data TEM pada umumnya masih menggunakan model 1-D. Penelitian ini akan membahas mengenai metode Inversi damped least-square untuk pemodelan inversi 1-D dari data TEM. Metode damped least-square membutuhkan parameter model awal untuk selanjutnya dilakukan inversi damped least-square menggunakan teknik SVD (Singular Value Decomposition). Metode ini diaplikasikan terhadap tiga data sintetik. Data sintetik I menunjukkan nilai resistivitas semakin kecil seiring bertambahnya kedalaman. Data sintetik II menunjukkan nilai resistivitas semakin besar seiring dengan bertambahnya kedalaman. Data sintetik III merupakan respon model yang mewakili daerah prospek airtanah, memperlihatkan lapisan konduktif diapit oleh lapisan resistif dan sebaliknya. Metode damped least-square juga diaplikasikan pada data lapangan daerah karst Kabupaten Tuban. Hasil pemodelan data sintetik memperlihatkan kesesuaian yang optimum antara data resistivitas semu observasi dan perhitungan. Sedangkan, hasil pemodelan data lapangan memerlihatkan kesesuaian model dengan kondisi geologi setempat.Kata kunci: metode damped least-square, singular value decomposition dan transient electromagnetic.ABSTRACTTransient electromagnetic (TEM) sounding method is an alternative method other than the geoelectrical method that can be used for groundwater exploration purposes. The principle TEM method is done by the induction of electromagnetic fields at the surface within a transmitter loop and record the subsurface response in the receiever coil when the absence of the primary field (transmitter off). TEM data are usually interpreted in term of 1-D model. The damped least-square method is presented in this paper. The damped least-square method needs an initial model parameter and employs the damped least-square solution with Singular Value Decomposition (SVD) technique. This methods have been applied to three synthetic data sets. The first synthetic data shows decreasing resistivities with depth. The second synthetic data shows increasing resistivities with depth. The third synthetic data are a response of groundwater prospect model, consisting of a conductor layer between two resistors and resistor layer between two conductors. Damped least-square methods was also applied to field data from karst area, Tuban. The results from synthetic data inversions presented good fit between the observed and the calculated apparent resistivity data. The results from field data show models subsurface resistivity consistent with the local geology.Keyword : damped least-square method, singular value decomposition and transient electromagnetic.        
Studi morfostruktur dan paleoseismik sesar Way Baka di daerah Bakauheni, Lampung Selatan Muhammad S. Sadewo; Dicky Muslim; Kamawan Kamawan; Asdani Soehaimi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6708.98 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i1.47

Abstract

ABSTRAKStudi morfostruktur dan paleoseismik sesar Way Baka merupakan upaya untuk mengetahui potensi bencana gempa bumi akibat sesar aktif di daerah Bakauheni dan sekitarnya. Keberadaan sesar di daerah ini telah ditelusuri melalui analisis citra satelit DEM SRTM (Digital Elevation Model Shuttle Radar Topography Mission) dan penelitian langsung di lapangan. Analisis kinematika struktur geologi menunjukkan bahwa sesar Way Baka merupakan sesar mendatar mengiri dengan arah jurus dan kemiringan U 185o T/ 74o dengan arah gaya utama U165oT. Morfostruktur sepanjang lajur sesar ini memiliki rasio lebar terhadap tinggi lembah dengan indeks Vf = 1,54 – 3,75 (rendah – tinggi) yang mencerminkan proses pengangkatan tinggi hingga sedang. Karakter morfostruktur lainnya adalah sinusitas muka pegunungan dengan indeks Smf = 1 - 1,5 (rendah). Kedua analisis morfostruktur ini menunjukkan telah terjadi deformasi tegak secara langsung yang berkaitan erat dengan tektonik aktif di sepanjang lajur sesar Way Baka. Studi paleoseismik di sepanjang lajur sesar Way Baka menunjukkan bahwa kegiatan tektonik telah berlangsung sejak ± 3 juta tahun yang lalu, atau pada periode tektonik Plio-Plistosen. Dengan demikian sesar Way Baka adalah sesar potensial aktif.Kata kunci: morfostruktur, paleoseismik, sesar aktifABSTRACTMorphostructure and paleoseismic study of Way Baka Fault is an attempt to determine the earthquake potential especially earthquake caused by active fault in Bakauheni and surrounding area. The presence of fault in this area has been traced through the analysis of satellite imagery SRTM DEM (Shuttle Radar Topography Mission Digital Elevation Model) and research in the field. Kinematic analysis of the geological structure indicates that the Way Baka fault is a sinistral strike-slip fault oriented in N 185o E trend with NE dipping of 74o of which N 165o E bearing is the mean stress. Morphostructure along this fault lane has Vf (valley floor and valley width ratio) value = 1.54 - 3.75 (low – high) which reflects a high to moderate uplift process. Another morphostructure character is Smf (mountain front sinuosity) with value index = 1 – 1.5 (low) both of morphostructure analysises show there has been a direct vertical deformation occured which was closely related with an active tectonic along Way Baka Fault. Paleoseismic study along this fault lane indicates that tectonic activity has been occurred after ± 3 million years ago (during Plio- Pleistocene terctonic period). Therefore Way Baka Fault can be classified as a potential active fault.Keywords: morphostructure, paleoseismic, active fault
Perbandingan antara erupsi Gunung Bromo Tahun 2010 – 2011 dan erupsi Kompleks Gunung Tengger Akhmad Zaennudin
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3810.805 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i1.14

Abstract

SARIErupsi semburan abu secara terus-menerus berlangsung di Gunung Bromo sejak akhir November 2010 sampai saat ini merupakan kejadian erupsi yang tidak seperti biasanya. Di dalam catatan sejarah yang dimulai tahun 1804 erupsi Gunung Bromo pada umumnya hanya berlangsung dalam beberapa hari saja, walaupun pernah terjadi erupsi selama empat bulan pada tahun 1995. Erupsi seperti yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan ciri erupsi dari Kompleks Gunung Tengger. Proses ini adalah erupsi freatomagmatik yang diakibatkan oleh kontak antara magma dengan air bawah permukaan atau formasi batuan yang banyak mengandung air menghasilkan abu dan material vulkanik halus lainnya, ketika terjadi erupsi.Kata kunci: erupsi, abu, BromoABSTRACTThere bursts of ash eruptions took place continuously in Mt. Bromo since late November 2010 until now, these eruptive events are not as usual. In historical record that began in 1804 the eruption of Mt. Bromo generally only lasts a few days, even though eruptions have occurred during four months in 1995. Eruption as it happened when it is actually a characteristic eruption of Mount Tengger Complex. This process is a phreatomagmatic eruptions caused by a contact between the magma below the surface with ground water or rock formations that contain lots of water to produce fine volcanic ash and other materials, when the eruption occurred.Keywords: eruption, ash, Bromo
Pendugaan Struktur Geologi Bawah Permukaan Daerah Terdampak Lumpur Sidoarjo (Lusi) Berdasarkan Analisis Data Geomagnet Imam Setiadi; Arif Darmawan; Marjiyono Marjiyono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 3 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2757.194 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i3.103

Abstract

ABSTRAKSemburan lumpur Sidoarjo (Lusi) sudah menjadi isu nasional yang berdampak pada berbagai aspek, yaitu teknis, politis, ekonomi, dan sosial. Penyebab terjadinya semburan lumpur tersebut hingga saat ini masih menjadi perdebatan, apakah oleh faktor alam yang dipicu oleh gempa Yogyakarta atau akibat kesalahan teknis proses pemboran. Dari aspek geologi, daerah Sidoarjo termasuk ke dalam Zona Kendeng yang banyak memunculkan bentukan gunung lumpur. Selain itu, daerah ini dilewati oleh sesar Watukosek yang diduga sebagai struktur keluarnya lumpur panas dari dalam bumi. Penelitian geofisika menggunakan metode geomagnet ini bertujuan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan berdasarkan parameter fisis kerentanan magnetik (magnetic susceptibility). Analisis data yang dilakukan di antaranya dengan penerapan reduksi medan magnet ke kutub (reduced to the pole), pseudogravity, dan pemodelan 2D bawah permukaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dari peta reduced to the pole dan peta pseudogravity telihat adanya patahan yang memanjang dengan arah relatif utara - selatan. Hasil pemodelan struktur bawah permukaan daerah terdampak lumpur Sidoarjo menghasilkan beberapa lapisan dan menunjukkan adannya patahan. Lapisan pertama adalah top soil, lapisan kedua lempung dengan perselingan batupasir, serta lapisan ketiga batu pasir dan serpih.Kata kunci: geomagnetik, reduksi ke kutub, model 2D bawah permukaan, Lumpur SidoarjoABSTRACTSidoarjo mud flow (Lusi) has become a national issue that affects almost all aspects i.e. technical, political, economic, and social. The cause of the mud flow is still debatable up to now, whether due to a natural factor which was triggered by the Yogya earthquake or was caused by technical errors in the drilling process. In terms of the geological aspect, Sidoarjo area is included in the Kendeng zone which raises many mud volcano formations. Besides, the area is passed by Watukosek fault structure which is presumed as the source of mud flow from the earth. The geophysical research using geomagnetic method aims to determine the subsurface geological structure based on physical parameters of magnetic susceptibility. Geophysical data analysis such as a reduction to the pole, pseudogravity, and 2D subsurface modeling were applied to the geomagnetic data. The results obtained from geophysical data analysis show that reduced to the pole and pseudogravity map indicate the presence of the fault that extends relative to north - south direction. The results of the subsurface structure modeling using geomagnetic method in Sidoarjo mud flow area produce some layers and show some faults. The first layer is top soil, the second is interfingering clay and sandstone, and the last is sandstone and shale.Keywords : geomagnetic, reduction to the pole, 2D subsurface model, Sidoarjo mudflow
Pengaruh tektonik dan longsor lahan terhadap perubahan bentuklahan di bagian selatan Danau Purba Borobudur Helmy Murwanto; Ananta Purwoarminta; Darwin A. Siregar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.548 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.70

Abstract

ABSTRAKBerbagai penelitian menyatakan bahwa Candi Borobudur dikelilingi oleh danau dan telah berubah menjadi dataran. Selama ini diketahui bahwa penyebab pendangkalan danau adalah aktivitas Gunung Merapi. Namun pada bagian selatan Danau Borobudur yang dibatasi oleh Pegunungan Menoreh, tidak ditemukan material Gunung Merapi tetapi ditemukan material batuan Old Andesite Formations (OAF) dari Pegunungan Menoreh. Data aktivitas tektonik terekam baik pada lembah-lembah sungai di bagian selatan dataran Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan bentuklahan di sisi selatan Danau Purba Borobudur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengukuran dan pengamatan lapangan yang didukung dengan data citra satelit, topografi, stratigrafi, dan analisis 14C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sisi selatan dataran bekas Danau Borobudur tepatnya di lembah Sungai Sileng banyak ditemukan singkapan batuan OAF dan endapan lempung hitam yang terpotong dan terangkat akibat aktivitas sesar. Berdasarkan pengamatan stratigrafi diketahui bahwa endapan lempung hitam tertutup oleh material hasil longsoran Pegunungan Menoreh. Hasil pengujian radiokarbon 14C menunjukkan bahwa endapan danau berumur 22,140 BP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pada sisi selatan Danau Purba Borobudur pendangkalannya disebabkan oleh aktivitas tektonik yang mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran memicu terjadinya longsor lahan.Kata kunci: tektonik, longsor, perubahan bentuk lahan, Danau Purba Borobudur, Pegunungan MenorehABSTRACTMany studies suggest the Borobudur Temple surrounded lakes and shallowed by materials from volcanic activities. In the southern part of Borobudur Lake didn’t find volcano material but founded Old Andesite Formations (OAF) material, thats come from Menoreh Mountain. Tectonic activities and avalanche material found on the Sileng river at southern of Borobudur plains. Purpose of this study are identify and analyze causes of landform changes in the  southern part of Borobudur Ancient Lake. The methods used are field measurements and observations, support by satellite imagery data, topography, stratigraphy, and radiocarbon 14C analysis. The results are in the southern part of Borobudur lake, found OAF materials and blackclay outcrops were cut and lifted by tectonics activities. Based on stratigraphy observations, known that blackclay deposits covered by the avalanche material results of Menoreh Mountains. Radiocarbon 14C test showed that lacustrine ages is 22,140 BP. The conclusion are in the southern part of Borobudur Ancient Lake, shallowed by tectonics activities than triggered by landslides.Keywords: tectonics, landslides, landform changes, Borobudur Ancient Lake, Menoreh Mountains
Model intensitas gempa bumi di Maluku Utara Cecep Sulaeman; Athanasius Cipta
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1271.046 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i2.38

Abstract

ABSTRAKNilai percepatan tanah di Maluku Utara diperoleh berdasarkan metoda Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) dengan menggunakan perangkat lunak Earthquake Risk Model (EQRM) yang dikembangkan oleh Geoscience Australia. Nilai percepatan tanah selanjutnya dikonversi menjadi intensitas gempa bumi menggunakan persamaan Atkinson dan Kaka. Model sumber gempa bumi yang digunakan sebagai masukan dalam analisis ini adalah zona subduksi Filipina, Thrust Maluku Barat, Thrust Maluku Timur, Sesar mendatar Sorong, Sesar mendatar Sula, dan sesar-sesar yang terdapat di Pulau Morotai, Halmahera, Obi, dan Taliabu. Hasil analisis menunjukkan nilai percepatan tanah di wilayah Maluku Utara berkisar antara 0,07 hingga 1,1 g. Nilai tersebut setara dengan intensitas gempa bumi V MMI hingga IX MMI. Berdasarkan nilai kesetaraan tersebut intensitas gempa bumi di Maluku Utara dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, daerah dengan intensitas < VII MMI, VII – VIII MMI, dan intensitas > VIII MMI.Kata kunci: intensitas, percepatan puncak, model sumber gempa bumi, PSHAABSTRACTPeak ground acceleration value in North Maluku was obtained based on Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) method by using a Software for Earthquake Risk Model (EQRM) which is developed by Geoscience Australia. Further ground acceleration value is converted into earthquake intensity by using Atkinson and Kaka Equation. The earthquake sources model which is used as an input in this analysis are Philippines Subduction, West Maluku thrust, East Maluku thrust, Sorong strike slip Fault, Sula strike slip Fault and faults which are located in Morotai, Halmahera, Obi, and Taliabu Islands. Analysis result shows that the Peak ground acceleration values in the North Maluku region range between 0.07 g and 1.1 g. This value is equal with earthquake intensity of MMI V up to MMI IX scale. Based on this equality value, the intensity of earthquake in North Maluku can be divided into three groups, namely region with intensity of < VII of MMI scale, VII –VIII of MMI scale, and the intensity of > VIII of MMI scale.Keywords: intensity, peak ground acceleration, earthquake source, PSHA
Pergeseran koseismik dari Gempa Bumi Jawa Barat 2009 Irwan Meilano; Hasanuddin Z. Abidin; Heri Andreas; Dina Anggraeni; Irwan Gumilar; Teriyuki Kato
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.483 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.4

Abstract

SARIUntuk mengetahui besar dan pola pergeseran koseismik Gempa Bumi Jawa Barat 2009, telah dilakukan pengamatan GPS (Global Positioning System) pada 4 – 7 September 2009. Hasil pengolahan data menunjukkan terdapat pergeseran koseismik maksimum sebesar 2,1 cm terdeteksi di sekitar Garut Selatan. Secara umum pola pergeseran tersebut menunjukkan arah baratdaya (SW) untuk stasiun GPS yang terletak di timurlaut (NE) dari sumber gempa bumi. Sedangkan untuk stasiun GPS yang terletak pada arah baratlaut (NW) dari sumber gempa bumi di sekitar Kota Cianjur, tidak menunjukkan pola pergeseran yang signifikan. Data pergeseran di permukaan tersebut digunakan untuk menentukan geometri sumber gempa menggunakan pemodelan dislokasi elastis. Sumber gempa memiliki arah jurus N600E kemiringan 500, dengan mekanisme sesar naik. Arah sudut jurus ini hampir tegak lurus dengan arah kompresif maksimum akibat tunjaman Lempeng Australia sehingga disimpulkan bahwa gempa bumi ini bukan gempa bumi interplate tetapi gempa bumi intraslab.Kata kunci: Pergeseran koseismik, Gempa Bumi Jawa Barat 2009, intraslabABSTRACTOn September 4-7 2009, GPS observation was carried out to determine the amount and pattern of coseismic displacement of the 2009 West Java earthquake. GPS data analysis show that 2.1 cm coseismic displacement was detected around South of Garut. In general, coseismic displacement pattern show South- West direction of displacement for GPS station located at North-East. While no significant coseismic displacement was detected for GPS station located North-West of epicenter. Surface displacement data was used to determine earthquake source’s geometry by using elastic dislocation modeling technique. The strike of the earthquake was 600, dip 500 and the mechanism was reverse fault. The inferred strike was perpendicular to the direction of maximum compression of Australian Plate subduction so it can be concluded that the earthquake did not occur in the interplate but in the intraslab.Keywords: Coseismic displacement, 2009 West-Java earthquake, intraslab

Page 7 of 22 | Total Record : 218