cover
Contact Name
Yahya Wijaya
Contact Email
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Phone
+62274563929
Journal Mail Official
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin no 5-25 Yogyakarta 55225
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
ISSN : 25027743     EISSN : 25027751     DOI : https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614
GEMA TEOLOGIKA receives articles and book reviews from various sub disciplines Theology, particularly contextual theology Divinity Studies in the context of socio cultural religious life Religious Studies Philosophy of Religion Received articles will be reviewed through the blind review process. The submitted article must be the writers original work and is not published in another journal or publisher in any language. Writers whose articles are accepted and have account in google scholar profile will be requested to participate as peer reviewers.
Articles 175 Documents
Kasih Kristus dan Filantropi Kristen pada Kegiatan Sega Mubeng di Pastoran Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta Rofi'ah, Zulfatur; Abdullah Muslich Rizal Maulana
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1104

Abstract

AbstractThis descriptive qualitative research aimed to determine the activities of sega mubeng at the Saint Anthony of Padua Catholic Church Presbytery, Kotabaru, Yogyakarta, as a form of Christ’s love and Christian philanthropy. Accordingly, this research collected data through interviews, field observations, and documentation. This study concluded that the goodness taught to the love of Christ in the form of loving and caring for one another by distributing rice boxes was realized in sega mubeng. In addition, sega mubeng also stands as the practice of Christian philanthropy in the form of Charity, referring to unconditional love through welfare for the recipients of rice boxes. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan sega mubeng di Pastoran Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta sebagai bentuk kasih Kristus dan filantropi Kristen. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya kebaikan-kebaikan yang diajarkan pada kasih Kristus berupa saling mengasihi dan menyayangi dengan cara membagikan nasi bungkus yang terealisasikan dalam kegiatan ini, terutama motif daripada perasaan para relawan ketika membagikan nasi bungkus kepada kelompok sasaran. Selain itu, kegiatan sega mubeng merupakan bentuk filantropi Kristen yang berupa charity yaitu cinta tak bersyarat dengan cara menyejahterakan kelompok sasaran dengan memberikan nasi bungkus kepada mereka.
Christian Mindfulness: Sebuah Spiritualitas Holistik Keseharian dalam Tradisi Buddha dan Kristen Haryono, Stefanus Christian
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1112

Abstract

AbstractThis article discusses the encounter of mindfulness in the modern world which are rooted in the Buddhist tradition and the Christian tradition, which is known as contemplation. The encounter of two religious’ traditions, Buddhism and Christianity, forms the basis for exploring the spiritual formation of Christian mindfulness as a holistic spirituality of daily life. Christian mindfulness becomes an interdisciplinary spirituality in the modern world and interspirituality in a plural world. AbstrakArtikel ini mendiskusikan perjumpaan mindfulness di dunia modern yang berakar pada tradisi Buddha dan tradisi Kristen, yang dikenal dengan kontemplasi. Perjumpaan dua tradisi religius, tradisi Buddha dan tradisi Kristen menjadi dasar penggalian formasi spiritual Christian mindfulness sebagai sebuah spiritualitas holistik keseharian. Christian mindfulness menjadi spiritualitas interdisipliner di dunia modern dan interspiritualitas di dunia plural.
“Akulah, Ibu Sang Raja!”: Posttraumatic Growth Penyintas Berdaya Hauw, Andreas
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1125

Abstract

AbstractThe argument of this paper is that Bathsheba, in the stories of 2 Samuel 11-12 and 1 Kings 1:1-2:25, when read in narrative criticism emerge as an empowered survivor of sexual violence. The prophet Nathan, who became Bathsheba’s confidant, contributed to Bathsheba regaining her honor that was lost due to David’s rape. From a trauma studies perspective, Bathsheba experienced posttraumatic growth (PTG), which is the ability to overcome post-traumatic syndrome disorder (PTSD). This paper is useful in illustrating the narrative’s strategic tactics to get out of a helpless situation. The courageous attitude in expressing bitter experiences, good relationships with the environment, appreciation of life, the opening of new opportunities, and connection with God are factors of Bathsheba’s PTG. AbstrakArgumentasi tulisan ini adalah Batsyeba dalam kisah 2 Samuel 11-12 dan 1 Raja-raja 1:1-2:25, yang dibaca dalam kritik narasi (narrative criticism), akan tampil sebagai penyintas kekerasan seksual yang berdaya. NabiNatan, yang menjadi lingkungan terdekat Batsyeba, berkontribusi bagi Batsyeba untuk mendapatkan kembali kehormatan yang pernah hilang darinya karena rudapaksa Daud. Dalam kacamata studi trauma, Batsyeba mengalami posttraumatic growth (PTG), yaitu kemampuan mengatasi posttraumatic syndrome disorder (PTSD). Tulisan ini bermanfaat dalam menggambarkan taktik strategis narasi untuk keluar dari situasi tak berdaya. Sikap berani dalam mengungkapkan pengalaman pahit, relasi baik dengan lingkungan, penghargaan terhadap hidup, terbukanya kesempatan baru dan hubungan dengan Allah menjadi faktor PTG Batsyeba.
Ruang Nir-Kata bagi Luka yang Terpendam: Suara Laki-Laki Penyintas Kekerasan Seksual sebagai Sumber Berteologi Trauma Sariri, Meilina Simon; Rahyuni Daud Pori; Kevin Daniel Simorangkir
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1128

Abstract

AbstractThis paper offers a wordless space as a term for the wounded space for male survivors of sexual violence. Wordless space is offered as a perspective on trauma theology from the perspective of male survivors ofsexual violence. This perspective departs from the data on sexual violence against men, which is quite high but still lacks attention from various parties. The assumption that men are the perpetrators of sexual violence, social constructions of masculinity and certain theological thinking have resulted in male survivors of sexual violence suppressing the voice of their wounds and limiting the space for the voice of their wounds. The thoughts of Annie Rogers, Cathy Caruth, and Shelly Rambo, in relation to trauma, are used to look at the traumatic experiences of male survivors of sexual violence as well as the basis for wordless space as a perspective in trauma theology. AbstrakTulisan ini menawarkan ruang nir-kata sebagai sebutan bagi ruang luka bagi laki-laki penyintas kekerasan seksual. Ruang nir-kata ditawarkan sebagai perspektif berteologi trauma dari sudut pandang laki-laki penyintas kekerasan seksual. Perspektif ini berangkat dari data kekerasan seksual pada laki-laki berada pada angka yang cukup tinggi namun masih kurang mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Anggapan tentang laki-laki adalah pelaku kekerasan seksual, konstruksi sosial tentang maskulinitas, dan pemikiran teologi tertentu telah mengakibatkan laki-laki penyintas kekerasan seksual memendam suara luka mereka dan membatasi ruang bagi suara luka tersebut. Pemikiran dari Annie Rogers, Cathy Caruth, dan Shelly Rambo, dalam kaitannya dengan trauma, dipakai untuk melihat pengalaman traumatis laki-laki penyintas kekerasan seksual sekaligus landasan bagi ruang nir-kata sebagai perspektif dalam berteologi trauma.
Si Vis Pacem, Para Bellum?: Perspektif Pacifisme Kristen Widjaja, Paulus Sugeng
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1170

Abstract

AbstractWar after war has been fought on earth for centuries, without a single one succeeding in bringing true peace. However, there are still many people and state leaders, including church leaders, who believe in the truth of the proposition “Si vis pacem, para bellum”. This article shows that the proposition is problematic since it originates from the national security paradigm. This article emphasizes the need to understand peace positively and actively, as a comprehensive idea related to relations and interconnectedness between humans and between humans and the non-human natural environment. In this light, Christian pacifism calls for the church and Christians to abandon all forms of violence, including war, as they are not in accordance with Christian ethics. It seeks peace that is based on symbiocentric paradigm, which considers not primarily the security of oneself and one’s group exclusively, but the sustainable well-being of all life. Christian Pacifism also calls on everyone to abandon the safety net of moral certainty, for Christian Pacifism is not primarily a technical or methodological issue related to war; about which methods can be more effective in resolving conflicts. Christian pacifism is a matter of faith and repentance. Equipped with this belief, churches and Christians can embody the Pancadharma of Peace which contains the Christian virtues of hope, vulnerability, humility, patience, and empathy. AbstrakPerang demi perang telah terjadi di bumi selama berabad-abad lamanya, tanpa satu pun berhasil membawa perdamaian sejati. Namun demikian, masih banyak orang dan pemimpin negara, termasuk pemimpin gereja, yang meyakini kebenaran dalil “Si vis pacem, para bellum”. Tulisan ini menunjukkan bahwa dalil tersebut bermasalah karena bersumber dari paradigma national security. Tulisan ini menekankan perlunya  memahami perdamaian secara positif dan aktif, sebagai sebuah gagasan komprehensif terkait relasi antarmanusia dan antara manusia dan alam lingkungan non-manusia. Dalam terang itu, pacifisme Kristen memanggil gereja dan orang-orang Kristen untuk meninggalkan segala macam bentuk kekerasan, termasuk perang, karena tidak sesuai dengan etika Kristen. Pacifisme Kristen mencari upaya perdamaian yang dilandaskan pada paradigma symbiocentric yang memperhitungkan bukan terutama keamanan diri sendiri dan kelompok sendiri secara eksklusif, tetapi kesejahteraan seluruh kehidupan yang berkelanjutan. Pacifisme Kristen juga mengajak semua orang meninggalkan jaring pengaman kepastian moral, karena pacifisme Kristen bukan terutama masalah teknis atau metodologis terkait perang; tentang metode mana yang lebih efektif dalam penyelesaian konflik. Pacifisme Kristen adalah persoalan iman dan pertobatan. Berbekal keyakinan inilah gereja dan orang-orang Kristen bisa menghidupi dan membudayakan Pancadharma Perdamaian yang berisi kebajikan-kebajikan Kristiani, yaitu: pengharapan, kerentanan, kerendahan-hati, kesabaran, dan empati. 
Resensi Buku: Incarnate Earth: Deep Incarnation and the Face of Christ Sendjaja, Hendri Mulyana
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1192

Abstract

Conversations about Christ or Christology are increasingly alive with the times. Many Christian theologians rethink what kind of Christology and how it can relate to and be creative for the changing context of the times. One of them is Matthew Eaton, who, through his book Incarnate Earth: Deep Incarnation and the Face of Christ, promotes a new, non-anthropocentric model of Christology, which seeks to connect with the context of the lives of the inhabitants of the Earth in facing various challenges in environmental crises.
Women in The Modern Era: Understanding Church as The Bride Hidayat, Debra
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1136

Abstract

AbstrakDi era modern, gereja menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah pandangan terhadap wanita dan peran mereka. Ideologi feminis sangat memengaruhi peran wanita di zaman modern. Meskipun berakar dalam liberalisme, feminisme mencakup banyak aspek, seperti penahbisan wanita, kesetaraan dalam pernikahan, hak aborsi, bahasa netral untuk jenis kelamin dalam Alkitab, dan pencarian untuk ketuhanan yang feminin. Feminis Kristen sering kali merujuk pada ajaran agama dan ideologi di luar bukti-bukti Alkitab dan teks-teks Kristen lainnya. Wanita, khususnya istri, melambangkan citra pengantin, yaitu gereja di hadapan Kristus. Penelitian ini, menggunakan metode kualitatif dari Systematic Literature Review dan penelitian eksploratif, menelusuri naratif Alkitabiah tentang wanita seperti jatuhnya Hawa dan mengeksplorasi bagaimana feminisme telah memengaruhi pandangan gereja terhadap peran wanita sebagai istri yang dapat menghasilkan perpecahan pernikahan yang menghambat kesatuan di antara suami istri. Penelitian menemukan bahwa sementara feminisme cenderung mendorong istri untuk memiliki otonomi mereka sendiri, mereka melewatkan pesan yang terdapat pada Kejadian 3:15 yang dapat memecah kesatuan suami istri. Pemahaman terhadap peran wanita akan memberikan wawasan dan berkontribusi pada identitas dan posisi yang benar dari jemaat sebagai pengantin di hadapan Allah. AbstractIn the modern era, the church faces various challenges, one of which is the view of women and their roles. Feminist ideology has greatly influenced the role of women in modern times. Although rooted in liberalism, feminism covers many aspects, such as women’s ordination, equality in marriage, abortion rights, gender-neutral language in theBible, and the search for a feminine deity. Christian feminists often refer to religious teachings and ideologies beyond the evidence of the Bible and other Christian texts. Women, especially wives, symbolize the image of the bride, the church before Christ. This research, using the qualitative method of Systematic Literature Review and exploratory research, traces the Biblical narrative of women such as the fall of Eve and explores how feminism has influenced the church’s view of women’s role as wives which can result in marital divisions that hinder unity between husband and wife. The research found that while feminism tends to encourage wives to have their own autonomy, they miss the message found in Genesis 3:15 which can fracture the unity of husband and wife. Understanding the role of women will provide insight and contribute to the correct identity and position of the church as a bride before God.
Memaknai Perkembangan Seni dan Arsitektur Gereja: Kontribusi Pemikiran Murray A. Rae terhadap Arsitektur GBKP Sinuraya, Alosius Des Afriando; Soleiman, Yusak
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1177

Abstract

AbstractThe general development of church architecture shows changes in the architectural function of church buildings over time, which not only includes the physical and aesthetic aspects of the building, but also has an important role in representing community identity and Christian religiosity in church architecture. This research emphasizes the need for a holistic approach in designing church architecture. Church architects are expected to consider not only financial or budget aspects, but  also theology, culture and the surrounding environment in constructing church buildings. This aims to ensure that all aspects of the church’s architectural function can produce a contextual design. Murray A. Rae’s contributions to the theology of church architecture highlight theimportance of deep dialogue between theological identity, local culture, and contemporary context. Rae’s thoughts provide important relevance for the development of church architecture in Indonesia, especially in the context of today’s GBKP architecture. The result of this approach is not only creating aesthetic church architecture, but also an ecletic one that integrates elements of theology, local culture, and contemporary times. AbstrakPerkembangan umum arsitektur gereja menunjukkan adanya perubahan fungsi arsitektur gedung gereja seiring waktu, yang tidak hanya mencakup aspek fisik dan estetika bangunan, tetapi juga memiliki peran penting dalam  merepresentasikan identitas komunitas dan religiositas Kristen dalam arsitektur gereja. Penelitian ini menekankan perlunya pendekatan holistik dalam merancang arsitektur gereja. Para arsitek gereja diharapkan mempertimbangkan tidak hanya aspek dana atau anggaran, tetapi juga teologi, kultur, dan lingkungan sekitar dalam pembangunan gedung gereja. Hal ini bertujuan agar semua aspek fungsi arsitektur gereja dapat menghasilkan desain yang kontekstual. Kontribusi Murray A. Rae dalam teologi arsitektur gereja menyoroti pentingnya dialog mendalam antara identitas teologi, budaya lokal, dan konteks kekinian. Pemikiran Rae memberikan relevansi penting bagi perkembangan arsitektur gereja di Indonesia, terutama dalam konteks arsitektur GBKP. Hasil dari pendekatan ini bukan hanya menciptakan arsitektur gereja yang estetis, tetapi juga ekletik yang mengintegrasikan elemen-elemen teologi, budaya lokal, dan kekinian.
Paus Fransiskus dan Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja Katolik Monteiro, Yohanes Hans; Widyawati, Fransiska
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1193

Abstract

AbstractThe position and leadership of women in the Catholic Church has been a long debate. The church is considered patriarchal because it still marginalizes women in ordination which allows women to become leaders in this institution. This article critically examines how the Church, especially Pope Francis, provides a place for women’s leadership in the Catholic Church. This research employs literature study or library research as its method. This study found that in the 10 years of his leadership, Pope Francis has provided open space for women in various aspects of Church leadership. He placed women in positions previously only given to men and clergy. However, in the aspect of ordination, Pope Francis still continues and upholds the old tradition of special ordination only for men. Regarding this, there are camps that are pro and there are those who are against. For those who are against it, Pope Francis and the Catholic Church are still considered to be gender biased in aspects of leadership.  AbstrakPosisi dan kepemimpinan perempuan di dalam Gereja Katolik telah menjadi perdebatan yang panjang. Gereja dianggap patriarkat karena masih memarginalkan perempuan dalam tahbisan yang memungkinkan perempuan menjadi pemimpin di dalam institusi ini. Artikel ini secara kritis mengkaji bagaimana posisi Gereja Katolik, khususnya Paus Fransiskus dalam memandang kepemimpinan dan tahbisan perempuan di dalam Gereja Katolik. Metode penelitian yang dipakai adalah studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa dalam 10 tahun kepemimpinannya Paus Fransiskus telah memberi ruang bagi perempuan dalam aneka aspek kepemimpinan Gereja. Ia menempatkan perempuan pada posisi yang sebelumnya hanya diberikan kepada laki-laki dan klerus. Namun, dalam aspek tahbisan, Paus Fransiskus masih melanjutkan dan menjunjung tradisi lama penahbisan khusus hanya bagi laki-laki. Terhadap hal ini, ada kubu yang pro dan ada yang kontra. Bagi yang kontra, Paus Fransiskus dan Gereja Katolik dianggap masih bias gender dalam aspek kepemimpinan.
Berteologi, Berkristologi, dan Berpneumatologi dengan Religiositas Orang Halmahera Mojau, Julianus
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1194

Abstract

AbstractThis article is the result of research concerning the effort to dialogically bring about an encounter about the fundamental content of Christian faith in the Lord God, Jesus Christ, and the Holy Spirit as inherited by HalmaheraChristians from delegates of the Utrechtsche Zendingsvereeniging (UZV) with belief in Giki/Gikiri, Gòmánga, Jou, Ngomasa as the content of Halmahera religiosity before Islam and Christian. This effort uses the theological method of translation, anthropology, and praxis from Stephen B. Bevans by considering the soteriological meaning of the psycholinguistic meaning of the word diai in the vocabulary of three Halmahera subethnic groups (Galela, Tobelo, Loloda). Dialogical encounter is an effort to develop doing theology, Christology, and pneumatology with the religiosity of the Halmahera people which results in a new understanding of the character of the content of the Halmahera Christian faith about the Lord God in the form of diai theology, Jesus Christ in the form diai Christology, and the Holy Spirit in the form diai pneumatology which are more sensitive to structural injustice, both economic and political as well as gender and cultural-religious. AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian tentang bagaimana upaya memperjumpakan secara dialogis isi iman Kristen fundamental kepada Tuhan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagaimana diwarisi oleh orang-orang Kristen Halmahera dari para utusan Utrechtsche Zendingsvereeniging (UZV) dengan kepercayaan kepada Giki/Gikiri, Gòmánga, Jou, Ngomasa sebagai isi religiositas orang Halmahera sebelum Islam dan Kristen. Usaha ini  menggunakan metode berteologi terjemahan, antropologis, dan praksis dari Stephen B. Bevans dengan mempertimbangkan makna soteriologis dari makna psikolinguistik kata diai dalam kosakata tiga subetnis Halmahera (Galela, Tobelo, Loloda). Perjumpaan dialogis merupakan usaha mengembangkan berteologi, berkristologi, dan berpneumatologi dengan religiositas orang Halmahera yang menghasilkan pemahaman baru isi iman Kristen khas ke-Halmahera-an tentang Tuhan Allah dalam bentuk teologi diai, Yesus Kristus dalam bentuk kristologi diai, dan Roh Kudus dalam pneumatologi diai yang lebih peka terhadap ketidakadilan struktural, baikdalam bentuk ketidakadilan ekonomi dan politik maupun gender dan budaya-agama.

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 1 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 1 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 5 No. 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 4 No. 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 1 No 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian More Issue