cover
Contact Name
Yahya Wijaya
Contact Email
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Phone
+62274563929
Journal Mail Official
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin no 5-25 Yogyakarta 55225
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
ISSN : 25027743     EISSN : 25027751     DOI : https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614
GEMA TEOLOGIKA receives articles and book reviews from various sub disciplines Theology, particularly contextual theology Divinity Studies in the context of socio cultural religious life Religious Studies Philosophy of Religion Received articles will be reviewed through the blind review process. The submitted article must be the writers original work and is not published in another journal or publisher in any language. Writers whose articles are accepted and have account in google scholar profile will be requested to participate as peer reviewers.
Articles 175 Documents
Mengasihi Sesama sebagai Inspirasi Teologis Penguatan Moderasi Beragama Aritonang, Hanna Dewi; Simangunsong, Bestian; Sibarani, Robert; Saragih, Orde Koria
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1208

Abstract

AbstractThe purpose of this writing is to promote the commandment of loving others as the theological foundation underlying the praxis of religious moderation. The method used is library research, with a descriptive analysis approach to various reference sources. This research resulted in findings on the importance of living the commandment “love your neighbor as yourself” and making it a lifestyle or lifestyle (daily action). This study confirms that the implementation of religious moderation can begin with a correct theological understanding of moderation, because a correct understanding of the theological basis of religious moderation will encourage moderate behavior. Christianity teaches the law of love which emphasizes the balance of people’s relationships with God and others. Loving God is proven by loving other to the same standard as loving himself. This balance is the basic principle of religious moderation. The teaching of love is also emphasized in the golden rules of love with the principle of solidarity. AbstrakTujuan penulisan ini adalah untuk mengedepankan perintah mengasihi sesama sebagai landasan teologis yang melandasi praksis moderasi beragama. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan pendekatan analisis deskriptif terhadap berbagai sumber referensi. Penelitian ini menghasilkan temuan tentang pentingnya menjalankan perintah “mengasihhi sesama seperti diri sendiri” dan menjadikannya sebagai gaya hidup atau lifestyle (tindakan sehari-hari). Kajian ini menegaskan bahwa penerapan moderasi beragama dapat dimulai dari pemahaman teologis moderasi beragama dengan benar, sebab pemahaman yang benar terhadap landasan teologis moderasi beragama akan mendorong perilaku moderat. Agama Kristen mengajarkan hukum kasih yang menekankan pada keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Mencintai Tuhan dibuktikan dengan mencintai sesama sama seperti mencintai diri sendiri. Keseimbangan inilah yang menjadiprinsip dasar moderasi beragama. Ajaran cinta juga ditekankan pada hukum emas dengan prinsip solidaritas.
Ikhtiar Membangun Teologi Sosial Kon(multi)tekstual dengan Memanfaatkan Epistemologi Barat demi Kedalaman Bersama Eddy Kristiyanto, Antonius
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1209

Abstract

AbstractThe main object of this research is to efford to give foundation to the praxis of social theology here, now, and beyond (hic, nunc, et tunc). On regarding the state of question and content of epistemology and theology do not assume each other, so the focus of this research could be formulated as follow: How could epistemology give the positive roles in any discourse about in the extending dan profounding the social theologywhich characterized by some con(multi)textual? Either epistemology or theology constitute two the autonom clusters. Each of them has the special method. The historical method through this research, however, builds bridge  between philosophy in one hand and the theology in the other. This method is due to the principles for the convergence of sources. State of the art elaborates the reflections of Wolfhard Pannenberg and Johann Baptis Metz which would be confrontated with the concept of proflection. This research finally promotes two patters which are intercomplementary. AbstrakKajian ini bermaksud mengikhtiarkan pendasaran praksis teologi sosial di sini, sekarang, dan melampaui (hic, nunc, et tunc). Mengingat duduk perkara dan isi epistemologi dan teologi tidak saling mengasumsikan, maka fokus kajian ini dirumuskan begini: Bagaimana epistemologi dapat berperan positif dalam diskursus tentang pengembangan dan pendalaman teologi sosial yang bercorak kon(multi)tekstual? Baik epistemologi maupun teologi merupakan dua rumpun ilmu yang otonom. Mereka memiliki metodologi yang berbeda. Namun, metode historis dalam kajian ini menjembatani antara arus filosofis dengan teologis. Metode ini sesuai dengan asasnya, yakni konvergensi sumber. State of the art berangkat dari pengolahan atas refleksi, misalnya Wolfhart Pannenberg dan Johann Baptis Metz, yang akan dikonfrontasikan dengan konsep tentang profleksi. Akhirnya kajian ini menyodorkan dua pola yang saling melengkapi.
Bedah Kosmetik: Modifikasi Tubuh atau Modifikasi Kehidupan? Artarini, Magdalena Pura Adiputra
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1215

Abstract

AbstractNowadays, cosmetic surgery has become a trend that absorbs a lot of public attention and still hot to discuss. These phenomenon leads to fundamental questions about the motivation behind someone undergoing cosmetic surgery and how individuals perceive their bodies. By gathering secondary data from various literature related to cosmetic surgery, it was found that the phenomenon is strongly influenced by several factors such as socio-cultural, psychological and economic aspect. These factors explain how individuals internalize widespread beauty norms, seeing cosmetic surgery as a goal to improve the quality of life, until the body is seen asa commodity that can be traded. This of course, affect how they view their bodies. However, cosmetic surgery also faces issues related to health risks, body image, life satisfaction, ethical dilemmas and moral issues. Therefore, theology needs to be present to provide consideration for those interested in or planning to undergo cosmetic surgery, by discussing the uniqueness of creation in the likeness and image of God, the body as the abode of the Spirit and the moral responsibility of the body. While there’s no definitive answer as to whether cosmetic surgery is permissible or not, theology serves as a means to reassess the motivations, impacts for those considering cosmetic surgery and to offer thoughtful considerations on the matter. AbstrakHingga kini trend bedah kosmetik banyak menyerap atensi publik dan hangat diperbincangkan. Membawa pada pertanyaan mengenai apa motivasi dibalik seseorang melakukan bedah kosmetik dan bagaimana ia memandang tubuhnya. Dengan mengumpulkan data-data sekunder melalui berbagai literatur terkait topik bedah kosmetik didapatkan temuan bahwa fenomena bedah kosmetik kuat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sosial-budaya, psikologi dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut menjelaskan mulai dari bagaimana seseorang menginternalisasi norma kecantikan yang beredar secara masif, melihat bedah kosmetik sebagai tujuan meningkatkan kualitas hidup, hingga tubuh dilihat sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan; tentu ini berpengaruh pada bagaimana mereka memandang tubuhnya. Resikonya bedah kosmetik menghadapi persoalan di publik terkait dengan resiko kesehatan, citra tubuh, kepuasan hidup, permasalah etis serta moral. Oleh sebab itu teologi perlu hadir untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi mereka yang tertarik atau ingin melakukan beda kosmetik melalui pembicaraan tentang keunikan ciptaan terkait gambar-rupa Allah, tubuh sebagai kediaman Roh dan tanggung jawab moral pada Tubuh. Meski tidak ada jawaban yang tegas akan boleh atau tidaknya bedah kosmetik dilakukan, namun teologi hadir sebagai sarana menilik kembali motivasi, dampak, dari seseorang yang ingin melakukan bedah kosmetik dan memberikan pertimbangan terhadapnya.
Resensi Buku: Selfies: Searching for the Image of God in a Digital Age Waruwu, Amonita
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1277

Abstract

Resensi Buku: Jalan Melingkar: Menafsir Politik, Etika, dan Agama Bersama Paul Ricoeur (1913-2005) Kristianto, Paulus Eko
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1283

Abstract

Yesus Kristus sebagai Arketipe Gereja: Menuju Gereja yang Terbuka Terhadap LGBT Ressa, Yosia Polando
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1103

Abstract

AbstractThis paper challenges the church’s exclusion of LGBT individuals, who have been deemed sinners and thus unworthy of participating in ecclesiastical communion. This stance highlights a lack of understanding within the church regarding LGBT people, stemming from an absence of meaningful dialogue or engagement. The paper seeks to explore LGBT issues through Carl Gustav Jung’s psychological concepts of archetypes and individuation. The findings suggest that Jesus Christ, embodying solidarity and compassion, serves as an archetype for a church that embraces LGBT individuals. Jesus’ interactions and acceptance of those considered “other” provide a foundation for the church to welcome the LGBT community into its fold. AbstrakMakalah ini menyoroti penolakan gereja terhadap LGBT karena mereka terlanjur dicap sebagai pendosa sehingga tidak layak masuk dalam persekutuan gerejawi. Ini menunjukkan adanya kesalah-pahaman gereja mengenai LGBT karena tidak terjadi perjumpaan dan dialog yang baik. Makalah ini mencoba memahami persoalan LGBT dari pendekatan psikologi Carl Gustav Jung tentang arketipe dan individuasi. Hasil penelitian menawarkan imajinasi Yesus Kristus, sosok yang solider dan penuh kasih, sebagai arketipe gereja yang menerima kaum LGBT. Perjumpaan dan penerimaan Yesus terhadap “yang lain” menjadi dasar bagi gereja untuk membuka diri bagi kehadiran komunitas LGBT di dalam kehidupan bergereja.
Riba Usaha Koperasi: Studi Interdisipliner terhadap Legalitas Riba dalam Ulangan 23:20 dari Perspektif Preferential Option for the Poor Ndruru, Terifosa
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1175

Abstract

AbstractFor a long time, the practice of charging interest on loans has been a means for capitalists to amass wealth, often at the expense of debtors who suffer economic injustice in an interest-driven economy. This is evident in the independent cooperative initiatives by some church members in Tangerang. Consequently, it is essential to examine the issue of interest from the viewpoints of economists, sociologists, and theologians. This research demonstrates that wholesale lending practices fail to enhance the economic conditions of low-income individuals. To address this, the study employs an interdisciplinary qualitative approach to explore the phenomenon as an economic, social, and theological issue. The goal of this research is to propose a solution for enhancing economic well-being without interest, drawing on Pedro Arrupe’s theory of preferential options for the poor. This theory stresses the importance of responsibility and solidarity with the impoverished by offering loans with low interest, as guided by Deuteronomy 23:20. AbstrakPinjaman uang dengan bunga telah lama digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kekayaan pemilik modal, dan debitur telah menjadi korban ketidakadilan ekonomi atas sistem ekonomi riba karena keuntungan hanya di pihak kreditur, seperti yang dilakukan melalui usaha koperasi mandiri yang dilakukan oleh beberapa warga gereja di Tangerang. Itulah sebabnya persoalan riba perlu dikaji menurut pandangan para ekonom, sosiolog, dan teolog. Penelitian ini menegaskan bahwa praktik riba yang memberatkan tidak mampu membangun ekonomi orang miskin. Oleh karena itu, studi ini menggunakan metode kualitatif interdipliner yang menjelaskan fenomena riba sebagai masalah ekonomi, sosial, dan teologis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi tanpa riba yang memberatkan berdasarkan teori Pedro Arrupe tentang preferential option for the poor, yang menekankan tanggung jawab dan solidaritas kepada orang miskin melalui pemberian pinjaman tanpa riba atau dengan riba ringan berdasarkan Ulangan 23:20.
“Dalumatehu Sémbanua”, Sebuah Upaya Berteologi Masyarakat Sangihe dalam Merespon Eksploitasi Lingkungan Tampilang, Risno; Nayoan, Gifliyani
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1198

Abstract

AbtractThe aim of this research is to explore and assess the traditional ritual of “Dalumatehu Sémbanua” and compare it with the prophetic traditions found in the Old Testament. The study employed a descriptive qualitative approach, utilizing literature reviews and in-depth interviews for data collection. The findings illustrate how “Dalumatehu Sémbanua” demonstrates the cultural and spiritual responses of the Sangihe community in defending their land as a collective “home” for all living beings and as a representation of God’s body. Prayers directed to Almighty God, Gengghonalangi, through liturgical expressions, reflect the community’s plea to be liberated from all transgressions, particularly ecological sins perpetrated by both local and international mining companies. The “Dalumatehu Sémbanua” ritual not only highlights the communal identity of the Sangihe people, who possess a unique cultural heritage, but also reveals the ecotheological concept within the ritual that views Sangihe Island’s nature as a shared habitat for the earth’s community, including both human and nonhuman inhabitants. Anyexploitation of the island is seen as an act that harms God’s body. Through the “Dalumatehu Sémbanua” ritual, as a form of prophetic liturgical response, the human community is reminded and urged to change their mindset and actions towards the understanding that nature is an integral and inseparable part of the earth’s community, with God at its core. AbstrakTujuan dari studi ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis ritual adat “Dalumatehu Sémbanua” dan mendialogkannya dengan tradisi kenabian (profetik) dalam teks Perjanjian Lama. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis kajian pustaka dan interview mendalam sebagai dua cara dalam pengumpulan data. Hasil kajian memperlihatkan bagaimana “Dalumatehu Sémbanua” mencerminkan sebuah bentuk respons kultural sekaligus spiritual masyarakat Sangihe dalam memperjuangkan tanah mereka sebagai “rumah” bersama dari semua ciptaan dan tanah itu sebagai cerminan tubuh Tuhan. Doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Gengghonalangi yang diungkapkan secara liturgis merefleksikan rintihan umat agar dosa ekologis yang dilakukan manusia termasuk oleh korporasi tambang asing maupun lokal dapat segera berakhir. Ritual adat “Dalumatehu Sémbanua” mencerminkan tidak hanya jati diri orang Sangihe yang memiliki warisan nilai budaya yang khas dan unik, melainkan dalam ritual adat tersebut tercermin gagasan ekoteologi yang menempatkan alamkepulauan Sangihe itu sebagai “rumah” bersama atau ruang hidup bersama bagi komunitas bumi yakni manusia, burung, ikan, tumbuh-tumbuhan dan seluruh ciptaan yang berdiam di dalamnya. Eksploitasi terhadap lingkungan alam kepulauan dapat dimaknai sebagai perbuatan melukai tubuh Tuhan. Dengan ritual “Dalumatehu Sémbanua” sebagai wujud respons liturgi profetik, manusia diingatkan untuk mengubah pola pikirnya serta tindakannya bahwa alam adalah bagian integral dan tak terpisahkan dari kehidupan komunitas bumi dan Tuhan sebagai pusatnya.
Makan Menurut Injil Markus dan Fenomena Food Waste serta Kelaparan di Indonesia Milala, Raharja Sembiring; Sitanggang, Asigor Parongna
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1234

Abstract

AbstractThis article examines the act of eating as a routine occurrence. The evolution of society has altered the significance of food as an indicator of social status and prestige. This change in perception affects issues like food waste, hunger, malnutrition, and stunting. By analyzing the eating narratives in the Gospel of Mark through editorial criticism, we find that eating is connected to the principles of inclusivity and the readiness to share within the community of God’s followers. The article presents eating as an opportunity to extend and share God’s gracewith all individuals. This concept can offer fresh perspectives for faith communities in developing an ethical approach to food and supporting those in need. AbstrakArtikel ini mendiskusikan makan sebagai fenomena keseharian. Progresivitas zaman berimbas pada pemaknaan makan sebagai penanda kelas sosial dan prestige. Konsekuensi pergeseran makna ini berdampak pada food waste, kelaparan, gizi buruk, dan stunting. Penelusuran teks-teks makan dalam Injil Markus dengan menggunakan kritik redaksi menibakan kita pada kesimpulan bawa makan berelasi dengan nilai-nilai inklusivitas dan kesediaan berbagi dalam komunitas umat Allah. Artikel ini menawarkan makan sebagai ruang welcoming dan berbagi rahmat Allah pada semua orang. Gagasan ini dapat menjadi insight baru bagi komunitas orang percaya dalam membentuk sikap etis terhadap makanan dan saudara yang kekurangan.
Confirmation Bias Analysis of Religious Intolerance Trends: A Study of the Views of Lecturers at Religious-Based Universities in Yogyakarta Setyowati, Endah; Sigalingging , Hendra
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1240

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Bias Konfirmasi dalam menentukan sikap dan perilaku intoleransi beragama menurut dosen universitas agama di Yogyakarta. Konsep Bias Konfirmasi merupakan salah satu pendekatan kontribusi Neuroscience yang dapat digunakan untuk memahami fenomena sosial seperti sikap dan perilaku intoleransi dalam konteks masyarakat dengan keberagaman agama. Melalui survei yang dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada informan, penelitian ini memberikan gambaran mengenai pandangan para informan dalam menciptakan sikap intoleransi beragama. Sikap penerimaan terhadap keberadaan agama yang berbeda menghilangkan bias konfirmasi terhadap berita konflik yang menggunakan identitas agama. Namun pada situasi tekanan kelompok, bias konfirmasi berkaitan dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalam ingatan berpotensi menimbulkan sikap atau perilaku intoleran. AbstractThis study aims to analyze the role of Confirmation Bias in determining the attitude and behavior of religious intolerance according to the lecturers of religiously affiliated universities in Yogyakarta. The concept of Confirmation Bias is one of the approaches contributed by Neuroscience that can be used to understand social phenomena such as intolerant attitudes and behavior in the context of societies with religious diversity. Through a survey followed by in-depth interviews, this research provides an overview of the informants’ views on creating attitudes of religious intolerance. An attitude of acceptance towards the existence of different religions eliminates confirmation bias towards conflict news that uses religious identities. However, in situations of group pressure, confirmation bias is related to something that has never been in memory which has the potential to give rise to intolerant attitudes or behavior.

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 1 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 1 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 5 No. 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 4 No. 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 1 No 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian More Issue