cover
Contact Name
Yahya Wijaya
Contact Email
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Phone
+62274563929
Journal Mail Official
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin no 5-25 Yogyakarta 55225
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
ISSN : 25027743     EISSN : 25027751     DOI : https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614
GEMA TEOLOGIKA receives articles and book reviews from various sub disciplines Theology, particularly contextual theology Divinity Studies in the context of socio cultural religious life Religious Studies Philosophy of Religion Received articles will be reviewed through the blind review process. The submitted article must be the writers original work and is not published in another journal or publisher in any language. Writers whose articles are accepted and have account in google scholar profile will be requested to participate as peer reviewers.
Articles 175 Documents
Kesepuluh Orang Kusta (Lukas 17:11-19) dari Perspektif Penyintas Hiv di Maumere- Flores Servinus Haryanto Nahak; Gabriel Galus; Yohanes Nepa; Krispianus Wedho; Fransiskus Sempo
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1056

Abstract

AbstractThis paper aims to analyze the text of Luke 17:11-19 about the ten lepers from the perspective of People Living with HIV/AIDS (PLWHA) in Maumere. The author conducts this research by using qualitative method. The data is taken from depth interviews and participatory observation at Flores Plus Support-Maumere Peer Support Group (KDS). By using a reader-oriented approach, this paper analyzed the experiences of PLWHA and their perspectives on the account of the ten lepers. Thefindings showed that for HIV survivors in Maumere, peer groups play an important role in raising their hopes in the midst of high rate of stigma and discrimination. In the eyes of PLWHA, the role of KDS can be juxtaposed with the “group” of the ten lepers in Luke’s story. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menganalisis teks Lukas 17:11-19 tentang kesepuluh orang kusta dari perspektif Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Maumere. Untuk membahas masalah ini penulis melakukan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatoris di Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Flores Plus Support-Maumere. Dengan menggunakan pendekatan reader oriented artikel ini menganalisis pengalaman para ODHA dan sudut pandang mereka tentang kisahkesepuluh orang kusta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, bagi para ODHA di Maumere, kelompok sebaya memainkan peran penting untuk membangkitkan harapan mereka di tengah tingginya stigma dan diskriminasi. Dalam kacamata para ODHA, peran KDS dapat dibandingkan dengan “paguyuban” sepuluh orang kusta dalam kisah Lukas.
Memikirkan Liturgi Pengharapan Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1057

Abstract

AbstractThe year of 2023 is a year full of challenges. The pandemic of Covid-19 is almost gone yet the Russian aggression against Ukraine just started its second year and this has been involving more countries and causing significant global setback. Ecological problem has been aggravated by series of recent natural calamities. And Indonesia itself has entered a political year. Amid this crisis, which sources of hope remain? Are there liturgical celebrations that would generate hope and empowerment? This article will focus on a hope-generating liturgy. This paper uses Michelle Baker-Wright’s theory that develops the liturgy of hope as a public work. Through a literature study with a critical analysis method, the author explores the meaning of hope from Moltmann and Suharyo. This research will present a meaning of liturgy of hope, its theological dimensions, and the elements of liturgy of hope that must be considered. A Christian liturgy is itself a celebration of hope rooted in an Easter faith.  AbstrakTahun 2023 merupakan tahun penuh tantangan. Setelah pandemi covid-19 hampir surut, peperangan antara Rusia dan Ukraina malah memasuki tahun kedua, dan peperangan ini telah melibatkan banyak negara serta mengakibatkan begitu banyak krisis dan kemunduran global. Sementara itu masalah ekologi telah diperparah oleh serangkaian bencana alam baru-baru ini. Dan Indonesia sendiri sudah memasuki tahun politik. Di tengah situasi krisis ini adakah sumber pengharapan yang masih tinggal? Adakah perayaan-perayaan liturgi yang menumbuhkan pengharapan dan pemberdayaan? Artikel ini ingin menyampaikan sebuah pemikiran mengenai perayaan liturgi yang menumbuhkan pengharapan. Tulisan ini menggunakan teori Michelle Baker-Wright yang mengembangkan liturgi pengharapan sebagai karya publik. Melalui studi kepustakaan dengan metode analisa kritis, penulis menggali makna pengharapan dari Moltmann dan Suharyo. Dari penelitian ini penulis menyampaikan makna liturgi pengharapan, dimensi-dimensi teologisnya dan unsur-unsur liturgi pengharapan yang mesti diperhatikan. Suatu liturgi kristiani semestinya merupakan suatu perayaan pengharapan yang berakar pada iman akan misteri Paskah.
Resensi Buku: Changing Hearts and Minds: Queer Identities in Religions and Cultures Danangg Kurniawan
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1067

Abstract

Resensi Buku: Yang Tak Berhingga Menurut Yohanes Duns Scotus Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1133

Abstract

Konseling Pastoral dan Seni Berkomunikasi Jozef Mepibozef Nelsun Hehanussa
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1135

Abstract

AbstractPastoral counseling is an important part of church life. Pastoral counseling does not solely focus on overcoming problems and finding ways to overcome these problems, but also on the relationship between the counselor and the counselee. There are three contexts that need to be considered in the relationship, namely community life, spiritual relationships or friendships and pastoral conversations. Good communication skills are needed to build and maintain these relationships. Good communication is necessary because pastoral counseling should aim at liberating service. In a modern perspective, counseling ministry is not enough to simply read a passage of the Bible and people start talking to each other. Counseling ministry also needs other approaches that support it, such as medical, psychological, and other approaches. This paper aims to provide an understanding of the importance of communication in pastoral counseling. Communication techniques that support pastoral counseling will be put forward to provide the practical side of this paper. The method used is a qualitative method based on literature study. AbstrakKonseling pastoral adalah bagian penting dalam kehidupan gereja. Konseling pastoral tidak semata-mata fokus pada upaya mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut, tetapi juga pada relasi antara konselor dengan konseli. Ada tiga konteks yang perlu diperhatikan dalam relasi tersebut, yaitu kehidupan komunitas, relasi atau persahabatan spiritual dan percakapan pastoral. Kemampuan berkomunikasi yang baik diperlukan untuk membangun dan menjaga relasi tersebut. Komunikasi yang baik diperlukan karena konseling pastoral harus bertujuan pada pelayanan yang membebaskan. Dalam perspektif modern, pelayanan konseling tidak cukup hanya dengan membaca bagian Alkitab dan orang mulai berbicara satu dengan yang lain. Pelayanan konseling juga membutuhkan pendekatan-pendekatan lain yang mendukungnya, seperti pendekatan medis, psikologi, dan yang lainnya. Tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman tentang pentingnya komunikasi dalam konseling pastoral. Teknik berkomunikasi yang mendukung konseling pastoral akan dikemukakan untuk memberikan sisi praktis dari tulisan ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan berbasis pada studi pustaka. 
Tamar dan Yusuf: Perbedaan Sikap Terhadap Kasus Pelecehan Seksual Perempuan dan Laki-laki Asnath Niwa Natar
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1137

Abstract

AbstractAnyone can experience sexual harassment, both men and women, although most victims are women and most perpetrators are men. However, sometimes, the attitude of humans and God towards male victims is different from that of female victims. There are two stories of sexual abuse in the Bible where the victims are man and woman, namely the story of Tamar, whom Amnon abused, and Joseph, whom Potiphar’s wife abused. Although these stories have similarities, there is a difference in how God treated these two victims of sexual abuse. By using qualitative research methods in the form of literature studies, I analyze why there are differences in attitudes towards them. This article uses critical feminist interpretation through a hermeneutic of suspicion or investigation to see the influence of power relations in patriarchal and kyriarchy culture in this story and togive a voice to victims of sexual harassment, especially women, so that they receive gender justice treatment, not only from humans but also from God. AbstrakSiapa pun bisa mengalami pelecehan seksual, baik laki-laki maupun perempuan, walau kebanyakan korban adalah perempuan dan kebanyakan pelaku adalah laki-laki. Namun kadang sikap manusia dan Allah terhadap korban laki-laki berbeda dengan korban perempuan. Ada dua kisah pelecehan seksual dalam Alkitab yang korbannya adalah laki-laki dan perempuan, yaitu kisah Tamar yang dilecehkan oleh Amnon dan kisah Yusuf yang dilecehkan istri Potifar. Meskipun kisah-kisah ini memiliki kesamaan, namun terdapat perbedaan sikap Allah terhadap kedua korbanpelecehan seksual tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi literatur, saya menganalisa mengapa terdapat perbedaan sikap terhadap mereka. Tulisan ini menggunakan tafsir feminis kritis melalui hermeneutik kecurigaan atau investigasi, untuk melihat pengaruh relasi kuasa dalam budaya patriarkhi dan kyriarkhi dalam kisah ini serta memberi suara pada korban-korban pelecehan seksual secara khusus perempuan sehingga mendapatkan perlakuan yang adil gender, tidak saja dari sesama manusia tetapi juga dari Allah. 
Resensi Buku: Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam Emanuel Gerrit Singgih
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1138

Abstract

Sebuah Tinjauan Pastoral-Psikologis terhadap Anak Perempuan Penenun Ulos di Kabupaten Tapanuli Sinaga, Lamria
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1039

Abstract

AbstractThis article presents the dilemma of girls working as ulos weavers in North Tapanuli Regency. By using cultural, socio-economic, and pastoral psychology analysis, it is found that: ulos weaving is a gender-based work because it is specifically done by women; parents let their children work as ulos weavers to meet the family’s needs; forms of conformity in adolescence in Batak society are influenced by patrilineal culture. Based on these findings, a theological-psychological pastoral approach is offered which aims to free children from injustice and violence by building democratic relational relations within the family. Family counseling with the family system theory method is considered useful in helping dysfunctional families as a background of children working as weavers. The method used in this article is a qualitative research method based on working methods of literature and verbatim research as field data collection tools. AbstrakArtikel ini menyajikan fenomena dilematik anak perempuan bertenun ulos di Kabupaten Tapanuli Utara. Dengan menggunakan analisis budaya, sosial ekonomi, dan pastoral psikologi ditemukan bahwa: bertenun ulos adalah pekerjaan berbasis gender karena khusus dilakukan oleh kaum perempuan; orang tua yang membiarkan anak bertenun untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga; bentuk konformitas pada usia remaja dalam masyarakat Batak dipengaruhi oleh budaya patrilineal. Berdasarkan temuan tersebut maka ditawarkan respons berbasis pastoral teologis-psikologis yang bertujuan membebaskan anak dari ketidakadilan dan kekerasan, yaitu dengan membangun hubungan relasional demokratis di dalam keluarga. Konseling keluarga dengan metode Teori Sistem Keluarga dianggap mampu untuk menolong keluarga yangdifungsional sebagai latar belakang anak bekerja bertenun. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah metode penelitian kualitatif berdasarkan metode kerja studi pustaka dan verbatim sebagai alat pengumpul data lapangan.
Resensi Buku: Worship With Teenagers: Adolescent Spirituality and Congregational Practice Tambunan, Yohana Esti
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1090

Abstract

Wajah Allah yang Tersembunyi Disingkapkan: Etika Eskatologis Matius 25:31-46 sebagai Locus Allah yang Tersembunyi dalam Menyatakan Diri-Nya Siburian, Carel Hot Asi; Sitanggang, Asigor Parongna
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.91.1097

Abstract

AbstractMatthew 25:31-46 is a text that uniquely illustrates Jesus’ concept of the end times. The text shows that faith is not the important dimension in the end times, but attitude and deeds. The cursed and the righteous also do not know that what they “have” done is also for Jesus. This passage is not only present in the tension between faith and unknowing but also as a transformative solution for the people amid the reality of life. Through a narrative approach to Matthew 25:31-46, a construction of thinking will be built that finding the “hidden face of Jesus” is a difficult thing to do (especially for those who are “foreign”) if people do not know that Jesus revealed Himself as the lowly. In practice, the dimension of tension between faith and ignorance is very large in the search for the hidden face of Jesus which makes eschatological ethics precisely present at this time. The result of this study is that the text of Matthew 25:31-46 cannot be read as a justification for the help given to others, without maintaining the tension between faith and unknowing. AbstrakMatius 25:31-46 merupakan teks yang menggambarkan dengan unik konsep Yesus tentang akhir zaman. Teks memperlihatkan bahwa iman bukanlah dimensi penting pada akhir zaman, melainkan sikap dan perbuatan. Orang-orang terkutuk dan benar juga tidak tahu bahwa apa yang “telah” mereka lakukan ternyata juga untuk Yesus. Perikop ini tidak sekadar hadir dalam ketegangan antara iman dan ketidaktahuan, tetapi juga sebagai solusi transformatif umat di tengah realitas kehidupan. Melalui pendekatan naratif terhadap Matius 25:31-46, akan dibangun konstruksi berpikir bahwa menemukan “wajah Yesus yang tersembunyi” merupakan hal yang sulit dilakukan (terlebih kepada mereka yang “asing”) apabila orang tidak mengetahui bahwa Yesus mengungkapkan diri-Nya sebagai yang hina. Dalam praksisnya, dimensi ketegangan antara iman dan ketidaktahuan sangat besar dalam pencarian wajah Yesus yang tersembunyi yang membuat etika eskatologis justru hadir di saat ini. Hasil penelitian ini melihat bahwa teks Matius 25:31-46 tidak dapat dibaca sebagai pembenaran akan bantuan yang diberikan kepada sesama, tanpa mempertahankan ketegangan antara iman dan ketidaktahuan tersebut. 

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 1 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 1 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 5 No. 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 4 No. 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 1 No 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian More Issue