cover
Contact Name
Yahya Wijaya
Contact Email
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Phone
+62274563929
Journal Mail Official
gemateologika@staff.ukdw.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wahidin no 5-25 Yogyakarta 55225
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
ISSN : 25027743     EISSN : 25027751     DOI : https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614
GEMA TEOLOGIKA receives articles and book reviews from various sub disciplines Theology, particularly contextual theology Divinity Studies in the context of socio cultural religious life Religious Studies Philosophy of Religion Received articles will be reviewed through the blind review process. The submitted article must be the writers original work and is not published in another journal or publisher in any language. Writers whose articles are accepted and have account in google scholar profile will be requested to participate as peer reviewers.
Articles 175 Documents
Iman di Era Digital: Praktik Konseling Pastoral Berbasis Teknologi Digital Simatupang, Andreas Fredriko; Suprabowo, Gunawan Yuli Agung
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1276

Abstract

AbstractThis article aims to identify the benefits and challenges in the integration of digital technology into pastoral counseling in the digital age. This study uses descriptive method with literature study to describe the phenomena that occur in depth and complex. The results show that digital technology can provide spiritual and emotional support through various media such as telephone, video calls, short messages, emails, and other digital platforms, which offer greater flexibility and accessibility. However, there are also shortcomings such as a lack of mastery of digital technology among companions, data privacy and security issues, formal legitimacy from church authorities, as well as a potential reduction in the depth of interpersonal relationships. This research is expected to provide valuable insights for churches in improving the quality of their pastoral care and serve as a basis for the development of better ethical guidelines in pastoral counseling practices based on digital technology. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat dan tantangan dalam integrasi teknologi digital ke dalam konseling pastoral di era digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan studi literatur untuk menggambarkan fenomena yang terjadi secara mendalam dan kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital dapat memberikan dukungan spiritual dan emosional melalui berbagai media seperti telepon,video call, pesan singkat, email, dan platform digital lainnya, yang menawarkan fleksibilitas dan aksesibilitas yang lebih besar. Namun, terdapat juga kekurangan seperti kurangnya penguasaan teknologi digital di kalangan konselor, isu privasi dan keamanan data, legitimasi formal dari otoritas gereja, serta potensi pengurangan kedalaman hubungan interpersonal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi gereja-gereja dalam meningkatkan kualitas pelayanan pastoral mereka dan menjadi dasar bagi pengembangan pedoman etika yang lebih baik dalam praktik konseling pastoral berbasis teknologi digital.
Rethinking the Deep Ecology: A Response to Climate Change Discourse from the Perspective of Pope Francis’ Laudato Si Tan, Petrus
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1335

Abstract

AbstrakPerubahan iklim merupakan salah satu tantangan global terbesar di zaman kita, yang membawa sejumlah implikasi signifikan bagi manusia dan lingkungan. Namun, sementara perubahan iklim bersifat global,efek negatifnya yang paling parah dirasakan oleh orang-orang miskin di negara-negara miskin yang bergantung pada sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan untuk menanggapi isu perubahan iklim dengan mendalamikembali konsep deep ecology yang dikembangkan filsuf Norwegia, Arne Naess, dari perspektif ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang meliputi review literatur dan analisis kritis. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim adalah masalah kompleks yang berakar pada paradigma teknoratis dan antroposentrisme modern. Paradigma teknokratis memainkan peran penting dalam praktik konsumerisme dan sistem ekonomi neoliberal yang mengabaikan kebutuhan orang miskin dan menghancurkan lingkungan. Berbeda dari pemikiran Arne Naess, Laudato Si menawarkan perspektif baru deep ecology dengan beberapa prinsip pokok yang khas, yaitu nilai sakramental ciptaan, ketergantungan antarciptaan, global common good, solidaritas, dan egalitarianisme ekologis. AbstractClimate change is one of the greatest global challenges of our time, with significant implications for human’s life and the environment. However, while climate change is a global issue, its negative effects are most widely felt by the poor in developing countries that depend on natural resources. This research aims to elaborate on the issue of climate change by rethinking the deep ecology, a term coined by Norwegian philosopher, Arne Naess, from Pope Francis’ perspective in his encyclical, Laudato Si. This study uses a qualitative approach, namely a literature review and critical analysis. The research indicates that climate change is a complex issue rooted in the modern technocratic and anthropocentric view of the relationship between humans and the environment. This technocratic paradigm plays an important role in consumerist practices and a neoliberal economic system that abandons the poor and damages the environment. In Laudato Si, Pope Francis offers a new perspective of deep ecology with several main principles, including the sacramental and intrinsic value of creatures, the interdependence and interconnectedness between humans and nature, the global common good, solidarity, and ecological egalitarianism.
Resensi Buku: Matthew, Disability, and Stress: Examining Impaired Charaters in The Context of Empire Subowo, Adhika Tri
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1429

Abstract

Resensi Buku: Menapaki Jalan Reformasi Kristianto, Paulus Eko
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1433

Abstract

Perikhoresis Trinitaris Pranoto, Minggus Minarto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1118

Abstract

AbstractThis study seeks to elucidate the doctrine of the Triune God as the constitutive and characteristic foundation of the Christian faith. It addresses the central question: why can the doctrine of the Triune God serve as a solid source for the constitutive basis of the Christian faith and provide practical direction for its distinctive expression? The thesis proposed in this paper is that the Triune God forms both the constitutive foundation and the defining characteristic of the Christian faith, which are intrinsically connected to praxis in all dimensions of life. The methodological approach involves a theological dialogue with the thought of Catherine Mowry LaCugna, Jürgen Moltmann, and John D. Zizioulas to explore the relational and communal nature of the Triune God. From this dialogue, the study draws implications for Christian praxis, demonstrating how Trinitarian theology offers a dynamic framework for understanding faith not merely as doctrine, but as lived communion with God and others.  AbstrakTujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan doktrin Allah Trinitas, terutama persekutuan Allah Trinitas yang dapat menjadi landasan konstitutif dan karakteristik iman Kristen. Penulis akan menjawab pertanyaan: “Mengapa doktrin tentang persekutuan Allah Trinitas dapat menyediakan sebuah sumber yang kokoh bagi landasan konstitusif iman Kristen dan memberi arah praksis bagi karakteristik iman Kristen?” Metode yang dipakai untuk mengeksplorasi kajian ini adalah mengkolaborasikan pemikiran-pemikiran teologi dari beberapa teolog Barat and Asia untuk menjelaskan topik mengenai Allah Trinitas dan kemudian menarik implikasi praksisnya. Pernyataan tesis dari tulisan ini adalah persekutuan Allah Trinitas memberikan landasan konstitutif dan karateristik iman Kristen yang relasinya terkait dengan implikasi praksisnya di setiap aspek kehidupan dan sebagai jembatan dialog dengan agama dan kepercayaan lainnya di konteks Asia
Gereja dan Demokrasi di Indonesia Berdasarkan Pemikiran A.A. Yewangoe dan Zakaria J. Ngelow Sinuraya, Alosius Des Afriando
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1358

Abstract

AbstractA.A. Yewangoe and Zakaria J. Ngelow can be identified as theo-democratic thinkers—theologians who integrate the values of the Christian faith with the principles of democracy within the socio-political context of Indonesia. This study aims to examine their theological reflections on the relationship between the Church and democracy in Indonesia, particularly in promoting the values of justice, equality, and respect for human dignity as grounded in Pancasila. Both theologians underscore the Church’s vital role in the process of democratization: Yewangoe highlights the prophetic vocation of the Church as an agent of social transformation, while Ngelow emphasizes the Church’s contribution to the consolidation of Indonesian democracy as a component of civil society. Employing a descriptive-analytical approach, this study critically analyzes the major works of both figures. The findings indicate that the theological perspectives of Yewangoe and Ngelow offer a relevant and contextual framework for understanding the relationship between the Church and democracy in Indonesia, providing a constructive theological basis for public engagement and nation-building. AbstrakA.A. Yewangoe dan Zakaria J. Ngelow dapat dikategorikan sebagai pemikir teo-demokrat yaitu teolog yang mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristen dengan prinsip-prinsip demokrasi dalam konteks sosial-politik Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran Yewangoe dan Ngelow mengenai hubungan gereja dan demokrasi di Indonesia, khususnya dalam mempromosikan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan penghormatan hak asasi  manusia berdasarkan Pancasila. Kedua tokoh ini menekankan pentingnya peran gereja dalam proses demokratisasi di Indonesia, dengan Yewangoe menggarisbawahi peran profetis gereja sebagai agen transformasi sosial, sementara Ngelow menekankan kontribusi gereja dalam pembangunan demokrasi Indonesia sebagaibagian dari masyarakat sipil. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptifanalitis, dengan fokus pada analisis karya-karya kedua tokoh tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Yewangoe dan Ngelow dapat menjadi referensi atau basis teologis yang relevan dalam menjelaskan hubungan gereja dan demokrasi di Indonesia.
Memaknai Lukas 10:25-37 Melalui Lensa Diakonia dan Pendampingan/Konseling Pastoral Sihotang, Eleven; Situmorang, Sari Asi
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1389

Abstract

AbstractThis study explores the integration of diakonia and pastoral care/counseling in the interpretation of Luke 10:25–37. The research employs Reader-Response Criticism (RRC) as its methodological framework, involving twenty-five students from Sekolah Tinggi Diakones HKBP Balige as participants. The aim of the study is to demonstrate that diakonia and pastoral counseling constitute two interrelated dimensions of practical theology. The findings reveal that the relationship between diakonia and pastoral care/counseling is exemplified in the Samaritan’s compassionate response expressed through concrete actions toward those in need. More specifically, the study underscores that both diakonia and pastoral care/counseling are realized through tangible acts of service rather than mere verbal expressions. An additional finding highlights the processual nature of care, in which the one being helped (the counselee) gradually attains independence and empowerment. Ultimately, such integration fosters a pastoral praxis that moves individuals from dependence to self-reliance, embodying the transformative essence of diakonia and pastoral care within the Christian community.  AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetengahkan integrasi diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dalam membaca Lukas 10:25-37. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Reader Respons Critism (RRC) dengan melibatkan dua puluh lima orang mahasiswa Sekolah Tinggi Diakones HKBP. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bahwa diakonia dan konseling pastoral adalah dua bidang ilmu teologi praktika yang integral. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara diakonia dengan pendampingan/konseling pastoral dilihat ketika orang Samaria menolong dengan beralaskan belas kasih dan melalui tindakan nyata terhadap orang yang membutuhkan. Lebih jelasnya hendak ditekankan bahwa diakonia dan pendampingan/konseling pastoral diwujudnyatakan dengan bertindak secara langsung bukan hanya lewat kata-kata. Hal menarik lainnya yang memperlihatkan keterkaitan diakonia dan pendampingan/konseling pastoralyaitu adanya tahapan dalam tindakan pemedulian yang dilakukan. Dalam arti, konseli atau orang yang ditolong akan sampai kepada tahap memandirikan dan memberdayakan. Dengan demikian, tidak akan bergantung kepada konselor atau pelaku diakonia.
Missiology in The Psalm 96: Hebrew Poetry and God’s Sovereign Kingdom Nari, Frazier
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1404

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji dimensi misiologis dalam Mazmur 96 dengan menempatkannya dalam konteks keberagaman agama dan kepercayaan kepada Allah, baik pada zaman kuno Israel maupun dalam realitas masakini. Mazmur ini merepresentasikan kedaulatan Allah sebagai realitas universal yang melampaui batas etnis dan geografis, serta mengundang semua bangsa untuk mengakui dan menyembah-Nya. Permasalahan utama yang dianalisis adalah kurangnya perhatian terhadap kitab Mazmur sebagai teks yang memuat pesan misiologis, meskipun Mazmur 96 secara eksplisit menyerukan pujian kepada Allah dari seluruh bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana Mazmur 96 sebagai nyanyian liturgis dapat dipahami sebagai bentuk misi dalam konteks keberagaman iman? Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan teologis dalam kajian biblika untuk menelusuri konteks religius Mazmur 96 dalam tradisi Israel dan untuk menginterpretasikan makna misiologisnya dalam kerangka Missio Dei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazmur 96 tidak hanya berfungsi sebagai doa liturgis, tetapi juga sebagai proklamasi misi yang bersifat inklusif dan universal. Puji-pujian dan penyembahandalam Mazmur ini bukan hanya bentuk ibadah internal, tetapi juga ekspresi seni yang membawa daya tarik misiologis bagi bangsa-bangsa lain. Dengan demikian, kitab Mazmur dapat dipahami sebagai bagian integral dari narasi Misi Allah bagi seluruh dunia. AbstractThis study examines the missiological dimensions of Psalm 96 by situating it within the context of religious pluralism and belief in God, both in ancient Israel and in contemporary settings. The psalm articulates God’s sovereignty as a universal reality that transcends ethnic and geographical boundaries, inviting all nations torecognize and worship Him. The central issue addressed is the limited scholarly attention given to the Book of Psalms as a text bearing missiological significance, despite Psalm 96’s explicit call for all the earth to praise God. This raises the guiding question: how can Psalm 96, as a liturgical hymn, be understood as a form of mission within the context of religious diversity? Employing historical and theological approaches in biblical studies, this research explores the religious context of Psalm 96 within Israel’s tradition and interprets its missiological meaning within the framework of Missio Dei. The findings demonstrate that Psalm 96 functions not only as a liturgical prayerbut also as a proclamation of mission that is both inclusive and universal. The acts of praise and worship expressed in this psalm are thus not merely inward devotional practices, but also artistic and theological expressions carrying a missional invitation to other nations. Consequently, the Book of Psalms can be understood as an integral component of the biblical narrative of God’s mission to the whole world.
Menuju Masa Depan yang Lebih Baik: Membangun Teologi Solidaritas dalam Komunitas Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung di Daerah Relokasi Siosar Kabupaten Karo Sitanggang, Pintor Marihot; Sianipar, Efran Mangatas; Hutahaean, Benny Octavianus; Purba, Catrine Anna Coornova
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1407

Abstract

AbstractThe problem in this research refers to a theological and sociological study that aims to build and cultivate the values of solidarity among the Sinabung refugees in Siosar, based on faith and religious teachings. Thisresearch is a Christian perspective that builds a theology of solidarity among the refugee community of Mount Sinabung eruption. This article aims to discover and provide a theological message about the sense of togetherness among refugees to support each other and overcome posteruption challenges and create a solid theological and spiritual foundation to lead the refugee community towards a better life recovery. The research uses a literature study in the light of qualitative data, by paying attention to several sources of field research that have been conducted previously. The results of this study indicate that solidarity is a calling of the church to contextualize the theology of solidarity specifically among fellow refugees of Mount Sinabung eruption. The sense of solidarity is built in an attitude of mutual help, support and support among fellow refugees until they can survive and build a better future. AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini mengacu pada sebuah kajian teologis dan sosiologis yang bertujuan untuk membangun dan menumbuhkan nilai-nilai solidaritas di antara para pengungsi Sinabung di Siosar, dengan berlandaskan pada iman dan ajaran agama. Penelitian ini merupakan suatu perspektif kekristenan yang membangun teologi rasa solidaritas di tengah-tengah komunitas pengungsi erupsi gunung Sinabung. Artikel ini bertujuan untuk menemukan sekaligus memberikan pesan teologis tentang rasa kebersamaan antar pengungsi untuk saling mendukung dan mengatasi tantangan pasca-erupsi dan menciptakan landasan teologis serta spiritual yang kokoh untuk membawa komunitas pengungsi menuju pemulihan kehidupan yang lebih baik. Penelitian menggunakan studi kepustakaan dalam terang data-data kualitatif, dengan memperhatikan beberapa sumber penelitian lapangan yang sudah dilakukan terlebih dahulu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa solidaritas menjadi panggilan gereja untuk mengkontekstualisasikan teologi solidaritas secara khusus di antara sesama pengungsi erupsi gunung Sinabung. Rasa solidaritas yang terbangun dalam sikap yang saling membantu, menopang dan mendukung di antara sesama pengungsi sampai mereka dapat bertahan dan membangun masadepan yang lebih baik.
Resensi Buku: Intersectional Theology: An Introductory Guide Koli, Endang Damaris
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.102.1466

Abstract


Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 1 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 1 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 1 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 2 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 6 No. 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 5 No. 2 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 5 No 1 (2020): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 2 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 4 No. 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 4 No 1 (2019): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 1 No 2 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 1 No. 1 (2016): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian More Issue