cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
JURNAL ENGGANO
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 26155958     EISSN : 25275186     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Enggano is published twice a year, in April and September, and contains a mixture of academic articles and reviews on all aspects of marine science and fisheries.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
ASOSIASI KERANG LOKAN (Geloina erosa) PADA EKOSISTEM MANGROVE DI TANJUNG UNGGAT KECAMATAN BUKIT BESTARI KOTA TANJUNGPINANG Yuni Sinta Pratiwi; Try Febrianto; ika Anggraeni; Ita Karlina; Mario Putra Suhana; Aditya Hikmat Nugraha
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.1.11-24

Abstract

Kerang Lokan (Geloina erosa) merupakan salah satu biota yang hidup pada ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove di Tanjung Unggat telah mengalami pengurangan luasan diakibatkan aktivitas manusia seperti pemukiman, transportasi kapal, aktivitas bongkar muat, aktivitas galangan kapal dan reklamasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2020 pada ekosistem mangrove di Tanjung Unggat Kecamatan Bukit Bestari Kota Tanjungpinang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi Kerang Lokan (Geloina erosa) pada ekosistem mangrove. Penentuan titik sampling diambil dengan metode purposive sampling sedangkan pengambilan data vegetasi mangrove digunakan transek garis sepanjang 50 m dengan transek 10x10m (Pohon), 5x5m (Anakan) serta pengambilan sampel Kerang Lokan diambil dengan menggunakan plot 5x5m didalam area mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan mangrove di Tanjung Unggat tergolong jarang dan terdapat 8 jenis mangrove (Avicennia lanata, Rhizophora apiculata, Sonnetaria alba, Rhizophora stylosa,  Rhizophora mucronata, Bruguiera parviflora, Xylocarpus granatum dan Avicennia alba). Kerang Lokan berasosiasi pada mangrove dan jenis substrat di lokasi penelitian. Kata Kunci : Asosiasi, Geloina erosa, Mangrove, Tanjung Unggat 
IKAN KARANG FAMILI CHAETODONTIDAE DI KEPULAUAN AYAU, KABUPATEN RAJA AMPAT, PAPUA BARAT Bonifacius Arbanto; Aditano Yani Retawimbi; Ana Faricha; Gina Puspita Setia Rifani
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.195-204

Abstract

Kepulauan Ayau adalah salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang masih belum banyak dieksplorasi terkait data penelitian ilmiah khususnya data ikan karang.Ikan karang yang berhubungan erat dengan terumbu karang adalah famili Chaetodontidae.Hal ini dikarenakan Chaetodontidae termasuk ikan corallivorous atau pemakan polip karang.Sehingga keberadaannya sangat berkaitan dengan kesehatan terumbu karang.Masih sedikitnya informasi mengenai kelimpahan ikan Chaetodontidae di ekosistem terumbu karang Kepulauan Ayau melatarbelakangi penelitian ini.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis, distribusi, dan kelimpahan Chaetodontidae di Kepulauan Ayau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018. Terdapat 4 lokasi penelitian yaitu Pulau Abidon, Channel 1 dan 2 Kepulauan Ayau dan Pulau Dorehkar. Metode pengamatan ikan Chaetodontidae dilakukan denganMetode Sensus Visual dengan panjang transek 70 m, lebar pengamatan 2,5 m ke kiri dan 2,5 m ke kanan. Famili Chaetodontidae yang ditemukan sebanyak 26 jenis dari 3 genera (Chaetodon, Forcipiger dan Heniochus). Kelimpahan ikan Chaetodontidae di Pulau Abidon sebesar 41 ind/350m2, Channel 1 Kepulauan Ayau sebesar27 ind/350m2, Channel 2 Kepulauan Ayau sebesar; 57 ind/350m2 dan Pulau Dorehkar sebesar; 79 ind/350m2. Keanekaragaman jenisikan Chaetodontidae yang termasuk dalam ketegori tinggi (H>20) ditemukan di Pulau Dorehkar.Kelimpahan ikan Chaetodontidae tertinggi ditemukan di Pulau Dorehkar, Terdapat 2 jenis ikan Famili Chaetodontidae yang terdistribusi secara merata diseluruh stasiun pengamatan yaitu jenis Chaetodon lunulatus dan Chaetodon ulietensis.THE CORAL FISHES OF CHAETODONTIDAE FAMILY IN AYAU ISLANDS, RAJA AMPAT REGENCY, WEST PAPUA. Ayau Island is one of outer small island of Indonesia that have not been much explored to research data, especially coral fish. Coral fish that is closely related to coral reefs is Chaetodontidae. Chaetodontidae is polip eater that its closely related to the health of coral reefs. The lack of information regarding abundance of Chaetodontidae in the Ayau Island is the background of this study. The purpose of this study was to determine species, distribution, and abundance of Chaetodontidae. The study was conducted in December 2018. There were 4 research sites, Abidon Island, Channel 1 and 2 Ayau Island and Dorehkar Island. The method of observing Chaetodontidae fish was Visual Census method with a 70 m-transect, width 2.5 m to left and 2.5 m to the right. The Chaetodontidae family was found in 26 species from 3 genera (Chaetodon, Forcipiger and Heniochus). Abundance of Chaetodontidae on Abidon Island was; 41 ind/350m2, Channel 1 Ayau Island was 27 ind/350m2, Channel 2 Ayau Island was 57 ind/350m2 and Dorehkar Island 79 ind/350m2. Diversity of Chaetodontidae fish species that were included in the high category (H> 20) found on Dorehkar Island. The highest abundance of Chaetodontidae fish was found on Dorehkar Island. Chaetodon lunulatus and Chaetodon ulietensis were species of the Chaetodontidae family that was evenly distributed throughout the observation station.
ANALISIS KEKRITISAN LAHAN MANGROVE KALIMANTAN SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM RANGKA PENGELOLAAN KONSERVASI LAHAN BASAH PESISIR Baharuddin Baharuddin; Dafiuddin Salim
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.495-509

Abstract

Perkembangan pembangunan yang pesat di wilayah pesisir akan mempengaruhi perubahan kondisi lahan secara spasial yang secara langsung juga akan berdampak pada kemutakhiran data spasial tematik yang ada. Kawasan pesisir Kalimantan Selatan telah mengalami degradasi ekosistem pesisir khususnya ekosistem mangrove. Hal ini disebabkan banyaknya kegiatan yang dilakukan di daerah ini misalnya pembangunan pelabuhan baik umum maupun khusus, konversi lahan mangrove menjadi budidaya, perkebunan, pertanian, industri, pemukiman dan lain-lain. Penelitian ini dilakukan untuk untuk mengetahui tingkat kerapatan mangrove, mengetahui potensi tekanan dan kerusakan mangrove, dan menganalisis tingkat kekritisan lahan mangrove Provinsi Kalimantan Selatan, sehingga dapat memberikan rekomendasi pengelolaannya. Berdasarkan hasil analisis metode penginderaan jarak jauh dan sistem informasi geografis di peroleh tingkat kekritisan mangrove di Provinsi Kalimantan Selatan kategori rusak seluas 8.329,47 ha (12,43%) dan tidak rusak 58.688,10 (87,57%). Secara proporsional, wilayah pesisir yang mengalami kategori rusak adalah Kabupaten Banjar (42%), Barito Kuala (39,23%), Tanah Laut (33,85%), Tanah Bumbu (21,49%) dan Kotabaru (8,64%). Peran pelibatan masyarakat sangat penting mulai perencanaan, perlindungan, pengelolaan dan pemanfaatannya.The rapid development development in coastal areas will affect changes in land conditions spatially which will also directly affect the updating of existing thematic spatial data. The coastal area of South Kalimantan has experienced degradation of the coastal ecosystem, especially the mangrove ecosystem. This is due to the large number of activities carried out in this area, for example the construction of both public and special ports, conversion of mangrove land to cultivation, plantations, agriculture, industry, settlements and others. This research was conducted to determine the level of mangrove density, to determine the potential for pressure and damage to mangroves, and to analyze the criticality level of mangrove land in South Kalimantan Province, so that it can provide recommendations for its management. Based on the results of the analysis of remote sensing methods and geographic information systems, the mangrove criticality level in South Kalimantan Province was categorized as damaged covering 8,329.47 ha (12.43%) and not damaged 58,688.10 (87.57%). Proportionally, the coastal areas that are categorized as damaged are Banjar Regency (42%), Barito Kuala (39.23%), Tanah Laut (33.85%), Tanah Bumbu (21.49%) and Kotabaru (8.64%). The role of community involvement is very important starting from planning, protection, management and utilization.
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG WISATA DI PANTAI BUNGA KABUPATEN BATUBARA PROVINSI SUMATERA UTARA Insaniah Rahimah; fitri ariani; Rosmasita Rosmasita; Emma Suri Yanti; Fani Fani
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.392-403

Abstract

Pantai Bunga merupakan pantai yang menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Batubara yang terdiri dari kawasan lingkungan alami yang cocok untuk pariwisata dan berpeluang dikembangkan sebagai ekowisata bahari. Peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun dapat mengurangi kenyamanan wisatawan di tempat-tempat wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kesesuaian dan daya dukung wisata menggunakan metode deskriptif dengan teknik accidental random sampling. Hasil penelitian menunjukkan indeks kesesuaian rekreasi pantai 98,5% dan berenang 94,14%, jumlah wisatawan yang dapat ditampung oleh kawasan wisata Pantai Bunga adalah 40 orang per hari untuk kategori rekreasi pantai, dan 43 orang perhari untuk kategori berenang. Jika pengunjung telah mencapai angka-angka ini, kenyamanan dan keberlanjutan pariwisata di Pantai Bunga akan terganggu.Bunga beach is one of the attractions in the Batubara Regency which has consist of natural environment area suitable for tourism and have opportunity to be developed as marine ecotourism. Increasing the number of visitors each year can reduce the comfort of tourists at the tourism attractions. The study aimed to examine suitability and carrying capacity. This research used a descriptive method with an accidental random sampling technique. The results showed the suitability index of beach recreation 98,5% and swimming 94,14%, the number of tourists that can be accommodated by Bunga Beach tourist area is 40 people per day for category recreation, and 43 people per day for category swimming. Therefore, if a visitor has been reached on these figures, the comfort and sustainability of tourism on Bunga Beach will be disrupted.
Penentuan Indeks Kesesuaian dan Model Aktivitas Ekowisata Mangrove di Pulau Jeflio Distrik Mayamuk Kabuapten Sorong Ilham Marasabessy; Niny Jeni Maepauw; Mohammad Iksan Badarudin
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.1.80-98

Abstract

Kebijakan pengelolaan, pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau kecil sepatutnya dilakukan secara optimal berdasarkan kesesuaian ruang, sehingga mampu memberikan dampak peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam. Penelitian bertujuan, mengetahui kesesuaian ruang pesisir Pulau Jeflio untuk pengembangan ekowisata mangrove secara berkelanjutan. Dilakukan selama bulan Agustus sampai September 2020, bertempat di Pulau Jeflio Kabupaten Sorong. Pengamatan mangrove dilakukan pada 4 stasiun yaitu 2 stasiun di bagian barat terhubung dengan perairan terbuka, masih dipengaruhi aktifitas masyarakat dan 2 stasiun lainnya di bagian timur sepanjang Selat Jeflio. Penentuan nilai kerapatan mangrove menggunakan hasil dari perhitungan NDVI. Anlisis kesesuaian dan model aktivitas ekowisata yang berpeluang diterapkan pada Pulau Jeflio menggunakan peta citra satelit landsat 8, peta SRTM dan satelit altimetri NASATOPEX/Poseidon, Jason-1/Envisat, selama bulan Agustus-September 2020. Indeks kesesuaian ekowisata mangrove di Pulau Jeflio pada 4 stasiun pengamatan berada pada kategori sesuai (S2). Presentase nilai tertinggi terdapat di stasiun 3 dan 4 sebesar (75%), stasiun 2 (73.75%)  dan terendah di stasiun 1 sebesar (70%). Model aktivitas ekowisata mangrove di Pulau Jeflio disesuaikan dengan letak geografis dan distribusi sumberdaya alam yaitu tracking mangrove dan boating.
PERAN CARA KARANTINA IKAN YANG BAIK (CKIB) DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT VIRUS PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PROVINSI LAMPUNG Sumino Sumino; Ishaaq Saputra; Herman Mude
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.258-272

Abstract

Provinsi Lampung merupakan salah satu wilayah penghasil udang vaname terbesar di Indonesia. Produktivitas udang vaname di Lampung mengalami pasang surut, salah satunya dikarenakan serangan penyakit golongan virus seperti WSSV, IHHNV dan IMNV. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status penyebaran penyakit WSSV, IHHNV dan IMNV pada udang vaname dan mengevaluasi keefektifan penerapan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) dalam menekan penyebaran virus tersebut di Provinsi Lampung. Pada penelitian ini, dilakukan pengumpulan data pengujian pada tahun 2019 yang berasal dari sampel umum, kegiatan pemantauan Penyakit Ikan Karantina (PIK) dan kegiatan CKIB, kemudian dilakukan analisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Provinsi Lampung masih terdapat penyakit virus udang yaitu WSSV, IHHNV dan WSSV yang tersebar di sentra budidaya udang vaname. Dari sejumlah 624 total sampel pengujian, sebanyak 8.97% positif terinfeksi penyakit virus. WSSV memiliki tingkat infeksi terbesar yaitu 58.9%. Sedangkan untuk IMNV dan IHHNV masing-masing sebesar 33.9% dan 7.1%. Berdasarkan asal sampel pengujian dapat diketahui bahwa sampel yang diperoleh dari pembudidaya yang telah menerapkan CKIB menunjukkan hasil negatif untuk ketiga jenis virus target tersebut. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa dengan penerapan CKIB secara konsisten dapat mengurangi tingkat penyebaran penyakit virus pada budidaya udang vaname.ROLES OF GOOD QUARANTINE PRACTICES IN THE SPREAD OF VIRUS DISEASES OF VANNAMEI SHRIMP (Litopenaeus vannamei) IN PROVINCE OF LAMPUNG. Lampung is one of the largest whiteleg shrimp (L. vannamei) producers in Indonesia. Whiteleg shrimp productivity in Lampung has fluctuated, one of which is due to infectious by virus disease. This study evaluated the current status of WSSV, IHHNV and WSSV diseases in whiteleg shrimp cultivation and assesses the effectivity of CKIB implementation in preventing the outspread of the shrimp viral diseases in Lampung. In this study, data from general samples, diseases monitoring/surveillance and Good Quarantine Practices (GQP) activities in 2019 were collected and then analyzed descriptively. Here, were report the emergence of shrimp viral diseases, e.g. WSSV, IHHNV and WSSV, in whiteleg shrimp aquaculture in Lampung. Infected shrimp were found in 8.97% of 624 tested samples. WSSV has the highest infection rate (58.9%) and followed by IMNV and IHHNV (33.9% and 7.1%, respectively). The samples collected from whiteleg shrimp aquaculture centre that applied GQP showed negative viral disease infection. These results demonstrate that consistent application of GQP in whiteleg shrimp cultivation can prevent the spread of shrimp viral disease.
ANALISIS ASPEK OSEANOGRAFI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PERIKANAN PANTAI DI MUARA SUNGAI JENGGALU KOTA BENGKULU Nora Citra; Zamdial Zamdial; Ali Muqsit
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.587-602

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan aspek oseanografi pembangunan pelabuhan perikanan pantai di Muara Sungai Jenggalu, Kota Bengkulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2017 sampai dengan Aprtil 2018. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei.  Data primer dikumpulkan dengan metode observasi dan pengukuran langsung di lokasi penelitian. Data hasil penelitian dianalisis  menggunakan metode skoring. Nilai parameter oseanografi yang diukur dan dianalisis yaitu kecepatan arus sungai, rata-rata yaitu 0,28 m/detik, kecepatan arus laut 0,33m/detik, pasang surut 0,44 meter, tinggi gelombang 1,29 meter dan kedalaman 25–500 cm. Berdasarkan nilai skoring semua parameter oseanografi, yaitu 82,2% yang berarti mendukung kelayakan untuk pembangunan pelabuhan perikanan pantai di Muara Sungai Jenggalu Kota Bengkulu.This study aims to analyze the feasibility of oceanography aspect of the Coastal Fishing Port development in the Jenggalu River Mouth, Bengkulu City. This research was conducted from December 2017 to Aprtil 2018. This research was conducted using a survey method. Primary data were collected by direct observation and measurement methods at the research location. The data of research result were analyzed using the scoring method. Oceanographic parameter values measured and analyzed were river flow velocity, average 0.28 m / sec, ocean current velocity 0.33 m / s, tides 0.44 m, wave height 1.29 m and depth 25–500 cm. Based on the scoring value of all oceanographic parameters, namely 82.2%, which means that it supports the feasibility of developing a coastal fishing port in the Jenggalu River Mouth, Bengkulu City.
EVALUASI PENGELOLAAN PERIKANAN TUNA BERDASARKAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI KABUPATEN PULAU MOROTAI Rommy M. Abdullah; Imran Taeran; Nebuchadnezzar Akbar
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.143-151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat keberlanjutan setiap domain atau aspek dalam EAFM dan menentukan tingkat keberlanjutan kegiatan perikanan tuna di Kabupaten Pulau Morotai. Metode pengambilan data dilakukan dengan metode survei dengan cara wawancara/kuesioner dan FGD (Focus Group Discussion). Penentuan jumlah sampel menggunakan purposive sampling. Dengan analisis pendekatan EAFM, nilai komposit rata-rata seluruh domain berkisar antara 60-80 yang mencerminkan status dan kinerja sumber daya perikanan tuna yellowfin di Kabupaten Pulau Morotai yang baik dalam tingkat keberlanjutannya dengan menerapkan prinsip-prinsip EAFM. Namun, masih ada sejumlah indikator di setiap domain yang memiliki skor rendah sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan manajemen.EVALUATION OF TUNA FISHERIES MANAGEMENT BASED ON ECOSYSTEM APPROACH IN MOROTAI ISLAND DISTRICTS. This study aims to determine the level of sustainability of each domain or aspect in the EAFM and determine the level of sustainability of tuna fishery activities in the Morotai Island Districts. Methods of data taking was carried out with survey method by means of interview/questionnaires and FGD (Focus Group Discussion). Determination of samples quantity used purposive sampling. By the EAFM approach analysis, the average composite value of the entire domain was range of 60-80 which reflects the status and performance of yellowfin tuna fisheries resources in Morotai Island Districts was good in its level of sustainability by applying EAFM principles. However, there were still a number of indicators in each domain that had a low score so efforts are needed to improve management.
SUMBER DAYA HIU DARI PERSPEKTIF SISTEM EKOLOGI SOSIAL (STUDI KASUS DI TANJUNG LUAR, LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT) Triyono Triyono; Selvia Oktaviyani; Nurul Dhewani Mirah Sjafrie
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.451-465

Abstract

Sumber daya hiu menghadapi potensi ancaman keberlanjutan. Kegiatan usaha perikanan hiu memiliki kompleksitas permasalahan yang tinggi baik dari sistem sosial maupun sumber daya hiu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan sumber daya hiu di Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengambilan data dilakukan pada bulan November 2019, melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan beberapa informan kunci dan observasi langsung.  Pendekatan SES digunakan untuk melihat pemanfaatan hiu di lokasi penelitian. Hasil penelitian tercatat 14 jenis hiu didaratkan di Tanjung luar yang berasal dari dalam maupun luar perairan Pulau Lombok. Pengguna Sumber Daya (PSD) terdiri atas pelaku primer, pelaku sekunder, pelaku tersier dan pelaku lainnya. PSD juga berperan sebagai Penyedia Infrastruktur (PI). Di tingkat nasional, regulasi yang membatasi perdagangan hiu telah ada, namun penegakan peraturan masih harus terus ditingkatkan.Shark resources face potential threats to sustainability. Shark fisheries business activities have a high complexity of problems both from the social system and shark resources. The purpose of this study was to determine the use of shark resources in Tanjung Luar, East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. Data were collected in November 2019, through in-depth interviews with several key informants and direct observation. The SES approach is used to look at the use of sharks in the research location. The results of the study recorded 14 species of sharks landed in Tanjung Luar that originate from inside and outside the waters of Lombok Island. Resource Users (PSD) consist of primary actors, secondary actors, tertiary actors and other actors. PSD also acts as an Infrastructure Provider (PI). At the national level, regulations restricting the shark trade exist, but enforcement remains to be seen.
KAJIAN FENOMENA MASCARENE HIGH TERHADAP KEJADIAN GELOMBANG TINGGI DI PERAIRAN SELATAN JAWA SELAMA PERIODE MONSUN TIMURAN Maulydia Andis Andini
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.1.147-164

Abstract

Indonesia merupakan benua maritim yang memiliki panjang garis pantai lebih dari 100.000 km. Pada daerah sepanjang pesisir pantainya berpeluang mengalami ancaman bencana alam seperti gelombang tinggi dan tsunami. Gelombang tinggi yang disertai tiupan angin kencang adalah suatu ancaman paling dominan yang terjadi di selatan Indonesia khususnya di perairan selatan Jawa. Adanya fenomena Mascarene High atau yang didefinisikan sebagai daerah bertekanan tinggi di wilayah Pulau Mascarene sedangkan di wilayah lain bertekanan cukup rendah merupakan pembangkit angin kencang yang terjadi. Pada periode monsun timuran (Juni, Juli, dan Agustus) tahun 2016 – 2018 terjadi puncaknya fenomena tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui mekanisme perambatan gelombang serta mengetahui perubahan gelombang di wilayah perairan selatan Jawa yang disebabkan oleh Mascarene High. Penelitian ini menggunakan data berupa data reanalisis dengan parameter kelautan yang terdiri dari data rata-rata harian tinggi gelombang signifikan (SWH), tinggi swell signifikan serta anomali tinggi muka laut (SLA) dari CMEMS dan parameter cuaca yang terdiri dari rata-rata harian data angin permukaan serta mean sea level pressure (MSLP) dari ECMWF. Model penelitian yang digunakan yakni secara kualitatif dengan melakukan pendekatan analisis spasial dan analisis deret waktu untuk melihat visualisasi sebaran parameter kelautan dan cuaca pada saat terjadinya fenomena Mascarene High. Hasil penelitian menunjukkan anomali posisi spasial Mascarene High yang berpindah ke bagian timur Samudera Hindia. Hal tersebut menimbulkan adanya perpindahan angin permukaan berkecepatan tinggi yang persisten dan membangkitkan gelombang tinggi yang menjalar dan mengarah ke selatan Indonesia. Perubahan gelombang di wilayah perairan selatan Jawa mengalami kenaikan tinggi muka laut signifikan melebihi normalnya hingga dua kali lipat menjadi 3 – 5 meter. Waktu proses penjalaran, puncak kejadian, hingga proses punahnya gelombang tinggi masing-masing terjadi selama 1 – 2 hari.