cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
JURNAL ENGGANO
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 26155958     EISSN : 25275186     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Enggano is published twice a year, in April and September, and contains a mixture of academic articles and reviews on all aspects of marine science and fisheries.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
DISTRIBUSI UKURAN DAN HUBUNGAN PANJANG-BERAT IKAN BAWAL (POMFRET FISH) YANG TERTANGKAP PADA DRIFT GILLNET DI PERAIRAN PALOH, KALIMANTAN BARAT Ganang Dwi Prasetyo; Mochammad Riyanto; Ronny Irawan Wahju
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.334-349

Abstract

Perikanan bawal memiliki nilai ekonomis penting yang menjadi target utama nelayan Drift-Gillnet di Paloh, Kalimantan Barat. Salah Satu aspek dasar dalam pengelolaan sumberdaya ikan melalui aspek biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi ukuran, analisa hubungan panjang-berat dan faktor kondisi ikan bawal, serta menghitung laju tangkap drift-gillnet. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September dan Oktober tahun 2015 dengan mengikuti operasi penangkapan drift-gillnet. Hasil tangkapan bawal sebanyak 450 ekor yang terdiri dari 315 ekor (78%) Pampus chinesis, 30 ekor (6,67%) Pampus argenteus, dan 69 ekor (15,33%) Parastromateus niger, dengan diukur panjang total (mm) dan berat (gr) untuk dilakukan analisa lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan, Pampus chinensis tertangkap paling banyak pada bulan Oktober dengan ukuran didominasi diatas Length First Maturity (Lm). Pampus argenteus dan Parastromateus niger paling banyak tertangkap pada bulan September dimana didominiasi ukuran dibawah Lm pada Pampus argenteus dan diatas Lm pada Parastromateus niger. Pampus chinensis memiliki pola pertumbuhan allometric positive, serta Pampus argenteus dan Parastromateus niger adalah allometric negative. Nilai faktor kondisi relatif (Kn), menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada bulan Oktober dengan nilai diatas satu pada Pampus chinensis, sedangkan pada Pampus argenteus cenderung lebih stabil, dan Paratromateus niger mengalami penurunan pada bulan Oktober. Adapun nilai CPUE (rerata ekor ± SE /E (km x 12 jam) drift-gillnet, terhadap Pampus chinensis memiliki nilai tertinggi pada bulan Oktober sebesar 13,90 ± 4,42 (SE), sedangkan pada Pampus argenteus (0,80 ± 0,38 (SE) dan Parastromateus niger (2,83 ± 0,53 (SE) dimana tertinggi pada bulan September. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat dominansi ukuran, pola pertumbuhan, dan nilai laju tangkap Pampus chinensis dibanding Pampus argenteus dan Parastromateus niger yang diduga sedang dalam masa pemijahan (spawning season).Pomfret fishey is an economically important fish in Indonesia which the main target of drift-gillnet fisherman in Paloh, West Borneo. Biological aspect is one of to management of fish resources. This research aims to identify of size distribution, length-weight relationship and the condition factor analysis of pomfret fish, and calculate Catch per Unit Effort in two months of fish captured. Data collection was conducted in September and October 2015 with observed of Drift Gillnet operating activity. In total 450 Pomfret Fish, consisting of 315 (78%) Pampus chinesis, 30 (6,67%) Pampus argenteus and 69 (15,33%) Parastromateus niger, were measured by total length (mm) and weight (gr) for analyzed. The result show that Pampus chinensis most captured in October with a dominate above Length First Maturity (Lm). Pampus argenteus and Parastromateus niger were most captured in September, where below size Lm in Pampus argenteus and above size Lm in Parastromateus niger. Pampus chinensis has a positive allometric growth pattern, while Pampus argenteus and Parastromateus niger are negative allometrics growth pattern. The relatif condition factor (Kn), indicates an increase that occurred in October with a value above one in Pampus chinensis, while Pampus argenteus tends to be stable, and the Parastromateus niger has decreased in October. The CPUE value (mean fish ± SE / E (km x 12 hours) of drift-gillnet, against Pampus chinensis had the highest value in October, while in Pampus argenteus and Parastromateus niger the highest in September. This dominance size announces, growth pattern, and CPUE of Pampus chinensis compared to Pampus argenteus and Parastromateus niger, indicating is in the spawning season.
KONDISI PARAMETER FISIKA DAN KIMIA PERAIRAN TELUK BENOA, BALI Ni Made Ernawati; I Wayan Restu
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.1.25-36

Abstract

Teluk Benoa merupakan tempat bermuaranya beberapa sungai dan terdapat berbagai kegiatan seperti kegiatan industri, perdagangan, dan pariwisata yang berpotensi menyebabkan terjadinya pencemaran di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi parameter fisika dan kimia perairan Teluk Benoa. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 2 kali pada 5 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa parameter yang melebihi baku mutu yaitu kekeruhan, TSS, fospat, dan nitrat.
PEMETAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN (FISHING GROUND) NELAYAN KOTA BENGKULU, PROVINSI BENGKULU Zamdial Zamdial; Ali Muqsit; Ully Wulandari
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.205-218

Abstract

Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan di Kota Bengkulu masih menggunakan armada dan alat tangkap sederhana. Teknologi sederhana berdampak pada daerah penangkapan ikan yang dapat dijangkau sebagai lokasi penangkapan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membuat peta lokasi daerah penangkapan ikan nelayan di Kota Bengkulu. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan di Pangkalan Ikan di Wilayah Pulau Baai, Pantai Malabero, Pondok Besi, dan Pantai Jakat-Pasar Bengkulu, Kota Bengkulu. Responden ditetapkan secara acak. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara terstruktur dan tidak terstruktur serta menggunakan kuesioner. Data sekunder untuk mendukung pembahasan hasil penelitian dikumpulkan dari berbagai referensi. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif, sedangkan analisis spasial menggunakan Aplikasi SIG. Penelitian ini juga memanfaatkan kecanggihan data digital SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) dengan aplikasi Global Mapper untuk mendapatkan data atribut batimetri Perairan Kota Bengkulu. Data atribut diimpor ke dalam aplikasi Surfer 12 sebagai dasar analisis spasial sebagai peta dasar. Peta daerah penangkapan ikan dibuat dengan analisis overlay. Daerah penangkapan ikan di Wilayah Pulau Baai lebih jauh dan luas dibandingkan dengan daerah penangkapan nelayan di daerah penangkapan ikan lainnya. Nelayan Wilayah Pulau Baai melakukan penangkapan ikan ke perairan Pulau Mentawai, Sumatera Barat, Provinsi Lampung, Provinsi Jawa Barat, Pulau Enggano dan Pulau Mega di Kabupaten Bengkulu Utara. Lokasi penangkapan nelayan Pantai Jakat-Pasar Bengkulu, Pondok Besi dan Pantai Malabero hanya berada di sekitar perairan pantai dan perairan Pulau Tikus, Kota Bengkulu.MAPPING OF FISHING GROUND OF FISHERMAN IN BENGKULU CITY, BENGKULU PROVINCE. Most of the fishing activities by fishermen in Bengkulu City still use simple fleets and fishing gears. The simple technology affects on fishing areas that can be reached as fishing locations. The purpose of this research was to analyze and make a map the location of fishing ground of fishermen in Bengkulu City. The study was conducted by survey method. Data was collected at the fishing base of the Pulau Baai Region, Malabero Beach, Pondok Besi, and Jakat Beach-Pasar Bengkulu, Bengkulu City. Respondents were randomly assigned. Primary data were collected by structured and unstructured interview methods and using questionnaires. Secondary data to support the discussion of research results was collected from various references. Data analysis was performed by descriptive method, while spatial analysis used GIS Application. This study also utilizes the sophistication of SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) digital data with the Global Mapper application to obtain bathymetry attribute data of Bengkulu City Waters. The attribute data was imported into the Surfer 12 application as a basis for spatial analysis as a basic map. Map of fishing ground was made by overlay analysis. The fishing ground of the Baai Island Region was further and wider than the fishing ground of fishermen in other fishing base. Fishermen of Baai Island Region catching fish to the waters of Mentawai Island, West Sumatra, Lampung Province, West Java Province, Enggano Island and Mega Island in North Bengkulu Regency. The fishing ground of Jakat Beach-Pasar Bengkulu, Pondok Besi and Malabero Beach fishermen were only around the coastal waters and Pulau Tikus waters, Bengkulu City.
STUDI IDENTIFIKASI KERUSAKAN WILAYAH PESISIR DI KABUPATEN BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU Zamdial Zamdial; Dede Hartono; Deddy Bakhtiar; Eko Nofridiansyah; Person Pesona Renta; Ali Muqsit; Ari Anggoro
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.510-528

Abstract

Kabupaten Bengkulu Utara merupakan satu dari 7 kabupaten/kota  di Provinsi Bengkulu yang terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera. Wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara berada pada garis pantai sepanjang ± 115,9 km. Perubahan iklim yang mendorong naiknya permukaan air laut, bencana alam dan aktivitas manusia memberi dampak kerusakan terhadap kondisi wilayah pesisir yang semakin cepat dan kritis. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi kerusakan wilayah pesisir berdasarkan analisis kerentanan di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Kegiatan penelitian yang meliputi observasi lapang,  wawancara, pengolahan dan analisis data, serta  verifikasi hasil penelitian, dilakukan selama 15 hari. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Kerusakan wilayah pesisir yang diukur dari indeks kerentanan, dihitung menggunakan Rumus IKP (Indeks Kerentanan Pantai). Sepanjang wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara, terdapat 22 lokasi yang sudah menunjukkan gejala kerusakan dan dan sudah mengalami kerusakan. Serangai merupakan lokasi dengan IKP tertinggi (wilayah merah), yaitu 67,1 dan 75,0. Ada 8 lokasi yang IKP rendah, 11 lokasi IKP sedang, dan  3 lokasi IKP tinggi. Secara umum, kondisi wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara sudah mengalami kerusakan. Penyebab kerusakan adalah degradasi hutan pantai, abrasi dan longsor, pertambangan-Galian C, alih fungsi hutan pantai, pemukiman, kerusakan muara sungai, pendulang emas tradisional, galian tanah untuk industri batu bata, pertambakan, sedimentasi/akresi, intrusi air laut, dan alur pelabuhan.North Bengkulu Regency is one of 7 regencies / cities in Bengkulu Province which is located on the West Coast of Sumatra Island. The coastal area of North Bengkulu Regency is located on the coastline along ± 115.9 km. Climate change, which has led to rising sea levels, natural disasters and human activities, has had an increasingly rapid and critical impact on coastal conditions. The research objective was to identify damage of coastal areas based on a vulnerability analysis in North Bengkulu Regency, Bengkulu Province. This research was conducted using a survey method. Research activities which include field observations, interviews, data processing and analysis, and verification of research results, were carried out for 15 days. Data analysis was carried out descriptively. Damage of coastal areas measured from the vulnerability index is calculated using the CVI formula (Coastal Vulnerability Index). Along the coastal area of North Bengkulu Regency, there are 22 locations that have shown signs of damage and have already suffered damage. Serangai is the location with the highest CVI (red area), namely 67.1 and 75.0. There are 8 locations with low CVI, 11 locations with medium CVI, and 3 location with high CVI. In general, the condition of the coastal area of North Bengkulu Regency has been damaged. The causes of damage are degradation of coastal forests, abrasion and landslides, mining-C excavation, conversion of coastal forests, settlements, damage to river estuaries, traditional gold panning, excavation for the brick industry, aquaculture, sedimentation / accretion, sea water intrusion, and channels port.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN KEMBUNG PEREMPUAN (Rastrelliger brachysoma) DITINJAU BERDASARKAN ANLISIS HUBUNGAN PANJANG DAN BERAT Teguh Heriyanto; Rosmasita Rosmasita; Irwan Limbong; Fitri Ariani; Tengku Muhammad Ghazali; Sofie Amanda Simanjuntak; Noverianty Hotmaida Naibaho
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.404-415

Abstract

Ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) termasuk ikan bernilai ekonomis penting di Kabupaten Tapanuli Tengah, sehingga menjadi salah satu target tangkapan nelayan. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui indikasi terjadinya tekanan eksploitasi dan overfishing dalam pemanfaatan sumberdaya ikan kembung perempuan. Metode yang diterapkan pada penelitian ini adalah metode observasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif, korelasi dan regresi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kelas interval minimum dan maksimum ukuran panjang dan berat ikan, koefisian korelasi, koefisien determinasi, nilai slope dan status pertumbuhan dari hubungan panjang dan beratikan secara berturut-turut yaitu, November 2019 (15,00 – 18,99 cm, 40,00 – 84,64 gram, r = 0,53, R = 0,28, b = 1,3378, allometrik negatif),Desember 2019 (16,00 – 21,99 cm, 40,00 – 118,87 gram, r = 0,94, R = 0,88, b = 3,1975, allometrik positif),Januari 2020 (16,00 – 19,00 cm, 51,41–96,05 gram, r = 0,81, R = 0,66, b = 2,259, allometrik negatif). Sumberdaya ikan kembung perempuan pada November 2020 diduga telah mengalami tekanan eksploitasi dan terindikasi overfishing. Pada Desember 2019 diduga tidak mengalami tekanan ekslpoitasi dan tidak terindikasi terjadi overfishing. Pada Januari 2020 diduga mulai kembali mengalami tekanan eksploitasi dan terindikasi mulai mengarah kepada overfishing. Pemanfaatan sumberdaya ikan kembung perempuan memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaannya oleh segenap stakeholder terkait agar keberadaan ikan kembung perempuan tetap lestari.Short mackerel (Rastrelliger brachysoma) is an important economic value fish in Central Tapanuli Regency, so it is one of the most catch targets by fishermen. This research aims to find indications of exploitation and overfishing pressure of utilization on short mackerel resources. The method of research is observation method. The data are  analyzed by descriptive statistics, correlation and regression. the results of show that the minimum and maximum interval classes of length and weight of fishes, correlation coefficient, coefficient of determination, slope value and growth status are, respectively November 2019 (15.00-18.99 cm, 40.00-84.64 grams, r = 0.53, R = 0.28, b = 1.3378, negative allometric), December 2019 (16.00-21.99 cm, 40.00-118.87 grams, r = 0.94, R = 0.88, b = 3.1975, positive allometric), January 2020 (16.00-19.00 cm, 51.4-96.05 grams, r = 0.81 , R = 0.66, b = 2.259, negative allometric). Short mackerel resources in November 2020 are thought to have run into exploitation pressure and indicated overfishing. In December 2019 is suspected that they didn’t run into exploitation pressure and overfishing. In January 2020 is suspected that the exploitation pressure has begun to return and indicated lead to overfishing. Utilization of short mackerel resources requires particular attention in the management by every relevant stakeholder so the existence of short mackerel remains sustainable.
IDENTIFIKASI MOLEKULER SIRIP IKAN HIU MENGGUNAKAN GEN MITOKONDRIA CYTOCHROME C OXYDASE SUBUNIT I (COI) YANG DIDARATKAN DI PESISIR KABUPATEN BANGKA SELATAN Okto Supratman; Siti Aisyah; Thania Thania; Okto Supratman; Ahmad Fahrul Syarif; Anggraeni Anggraeni
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.1.99-109

Abstract

Usaha perikanan hiu yang menjanjikan di negara Indonesia ini menjadikan nilai produksi hiu terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut catatan FAO, Indonesia berada diposisi teratas yang banyak memproduksi hiu setiap tahunnya. Tingginya aktivitas penangkapan hiu berpengaruh besar terhadap populasi yang memengaruhi keseimbangan ekosistem laut, khususnyadi perairan Kepulauan Bangka Belitung. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi sirip ikan hiu secara molekuler dengan menggunakan gen mitokondria cytochrome c oxydase subunit I (COI) yang didaratkan di pesisir Kabupaten Bangka Selatan. Metode penelitian terdiri dari tiga tahap: pengumpulan sampel sirip ikan hiu, identifikasi molekuler (mtDNA gen Cytochrome Oxidase Subunit 1/COI), analisis filogenetik dan status konservasi ikan hiu. Hasil pencocokan karakter nukleotida gen COI dilakukan dengan menggunakan program BLAST yang terintegrasi pada laman GenBank dan menunjukkan bahwa kode sampel MSPUBB_HC_01 memiliki tingkat kemiripan 100% dengan spesies Chiloscyllium punctatum, MSPUBB_HK_02 dan MSPUBB_HS_03 masing-masing memiliki tingkat kemiripan 99.80% dan 99.69% dengan spesies Carcharhinus sealei.Jika ditinjau dari data IUCN Red List, spesies Chiloscyllium punctatumdan Carcharhinus sealeimasuk dalam kategori Near threatened(Hampir Terancam).
ANALISIS SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) DI PANTAI KUALO KOTA BENGKULU Yar Johan; Person Pesona Renta; Ali Muqsit; Dewi Purnama; Leni Maryani; Pinsi Hiriman; Fahri Rizky; Anggini Fuji Astuti; Trisela Yunisti
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.273-289

Abstract

Sampah laut (marine debris) adalah bahan sisa-sisa produk yang ditinggalkan atau dibuang ke laut oleh manusia baik dengan sengaja maupun tidak sengaja ditinggalkan di dalam lingkungan laut. Penelitian Sampah laut (marine debris) di Pantai Kualo Kota Bengkulu diharapkan dapat memberikan informasi dan data kepada mahasiswa, peneliti, pemerintah dan masyarakat umum sebagai informasi ilmiah awal tentang jenis dan bobot serta laju pertambahan sampah laut (marine debris) yang tersebar di Pantai Kualo Kota Bengkulu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui observasi untuk mendapatkan komposisi sampah laut, laju pertambahan sampah laut (marine debris) dengan 3 kriteria yaitu adanya muara sungai, aktifitas masyarakat dan tumpukan sampah. Sampah laut (marine debris) di Pantai Kualo Kota Bengkulu terdapat 2 jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik, sampah organik didominasi oleh kayu, dan sampah anorganik didominasi oleh plastik.ANALYSIS OF MARINE DEBRISH IN KUALO BEACH, BENGKULU CITY. Marine debris is material from the remnants of the product left or thrown into the sea by human either intentionally or unintentionally dumped of in the marine environment. The research of marine debris in Kualo Beach Bengkulu city was expected to provide information and data to the students, researcher, goverment and general public as initial scientific information about types, weight, and the rate of increasing in marine debris that were scattered. The data collection was carried out by using purposive sampling technique through observation to get composition of marine debris, the rate of increasing in marine debris had three criterias namely existence of a river mouth, community activities, and pile of debris. Marine debris in Kualo Beach Bengkulu City had two types namely organic and inorganic debris. Organic debris was dominated by wood while inorganic debris was dominated by plastic.
PEMETAAN DAN MONITORING DISTRIBUSI BAGAN TANCAP MENGGUNAKAN APLIKASI GOOGLE EARTH DI PERAIRAN TAPANULI TENGAH-SIBOLGA SUMATERA UTARA Rosmasita Rosmasita; Hensamuel Situmeang; Teguh Herianto; Irwan Limbong; Fanji Suteja
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.603-612

Abstract

Bagan tancap merupakan alat penangkapan ikan yang banyak di temukan di perairan Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Informasi sebaran bagan tancap di perairan Tapanuli Tengah dan Sibolga sangat diperlukan sebagai dasar untuk memonitoring keberlanjutan dan keberadaan alat tangkap ini. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (Google Earth) untuk memetakan dan memonitoring jumlah bagan tancap di perairan Tapanuli Tengah dan Sibolga. Metode yang digunakan adalah metode digitasi hasil citra pada Google Earth. Berdasarkan hasil digitasi, menunjukkan bahwa pada tahun 2005, sebanyak 137 unit Bagan Tancap berdistribusi di perairan kecamatan Tapian Nauli, Kolang, Sibolga Utara, Sarudik dan Pandan.  Tahun 2010 terdapat 443 unit dengan penambahan jumlah distribusi Bagan Tancap di perairan kecamatan Sarudik. Tahun 2015 terdapat 475 unit dan tahun 2019 terdapat 696 unit yang terdistribusi hingga di perairan kecamatan Barus, Sosorgadong dan Sorkam Barat. Hasil monitoring menunjukkan bahwa alat tangkap bagan tancap di perairan Tapanuli Tengah- Sibolga mengalami pertambahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 ke 2010 dapat dilihat terjadi penambahan jumlah unit alat tangkap bagan tancap yaitu 306 unit. Rentang satu dekade yaitu dari tahun 2005 ke 2015 terjadi penambahan sekitar 338 unit. Penambahan drastis terjadi dari tahun 2005 ke 2019 yaitu 559 unit, sedangkan penambahan yang paling sedikit dari tahun 2010 ke 2015 yaitu 32 unit. Pada tahun 2010 ke 2019 terjadi penambahan sekitar 253 unit dan dari tahun 2015 ke 2019 terjadi penambahan dengan jumlah 221 unit.Bamboo Platform Lift Net is fishing gear that is commonly found in the waters of Tapanuli Tengah and Sibolga. They are information on the distribution needed as a basis for monitoring the sustainability and existence of this fishing gear. The purpose of this study is to utilize remote sensing technology (Google Earth) to mapping and monitoring the number of Bamboo Platform Lift Net in the waters of Tapanuli Tengah and Sibolga. The method used is the digitization method of image Google Earth. The result based on the digitization, it showed that in 2005, 137 units of Bamboo Platform Lift Net were distributed in the waters of Tapian Nauli, Kolang, North Sibolga, Sarudik, and Pandan districts. In 2010 there were 443 units with an additional number of distribution of Bamboo Platform Lift Net in the waters of the Sarudik district. In 2015 there were 475 units and in 2019 there were 696 units distributed up to the waters of Barus, Sosorgadong, and West Sorkam. The monitoring results showed that the Bamboo Platform Lift Net has increased annually. From 2005 to 2010 it could be seen that there was an increase in the number of fishing gear units, which were 306 units. The range a decade 2005 to 2015, there was an addition of about 338 units. Drastic additions occurred from 2005 to 2019, namely 559 units, while the least additions from 2010 to 2015 were 32 units. From 2010 to 2019 there was an increase of about 253 units and from 2015 to 2019 there was an increase with 221 units.
INVENTARISASI EKHINODERMATA DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PERAIRAN SELAT LEMBEH Doni Nurdiansah; Supono Supono
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.152-163

Abstract

Perairan Selat Lembeh (Sulawesi Utara) merupakan salah satu perairan di Indonesia yang memiliki ekosistem yang unik dan dikenal secara internasional terutama untuk wisata selam. Kombinasi habitat lamun di beberapa titik ekosistem terumbu karang dan rataan substrat yang merupakan campuran pasir, lumpur dan patahan karang memungkinkan banyak biota laut yang tinggal dan mencari makanan di perairan ini, termasuk kelompok ekhinodermata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi ekhinodermata di ekosistem terumbu karang berdasarkan tingkat kedalaman.Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober 2013 dengan menggunakan metode transek sabuk (belt transect). Selama pengamatan tercatat 443 individu yang tergolong dalam 19 jenis ekhinodermata. Jumlah jenis terdiri dari 7 jenis kelompok bintang laut (Asteroidea), 4 jenis kelompok bulu babi (Echinoidea), 5 jenis kelompok bintang mengular (Ophiuroidea), 2 jenis kelompok timun laut (Holothuroidea) dan 1 jenis kelompok lili laut (Crinoidea). Tingkat keanekaragaman (H’= 1,83), kekayaan jenis (D= 2,53) dan kemerataan (J=0,95) di perairan ini tergolong tinggi dibandingkan perairan lain di Sulawesi Utara. Tingkat kedalaman yang memiliki jumlah jenis ekhinodermata paling tinggi adalah kedalaman 6 m hingga 9 m.INVENTORY OF ECHINODERM IN CORAL REEF ECOSYSTEM LEMBEH STRAIT WATERS. Lembeh Strait waters (North Sulawesi) is one of areas in Indonesia demonstrates marine ecosystem and is globally known, particularly for diving tourism. Combination of seagrass beds, coral reefs, and bottom substrates consisting of black sand, mud and rubbles provides habitat and feeding ground for wide range of marine biota, including echinoderm. The present study aims to identify echinoderm distribution in related to water depth. Data collection was conducted from March to October 2013 applying belt transect method. A total of 443 individual of echinoderms belong to 19 species were recorded. Of these, seven species were Asteroidea, four species Echinoidea, five species were Ophiuroidea, two species were Holothuroidea, and one species were Crinoidea. Diversity (H’=1.83), richness (D=2.53) and Evennes Index (J=0.95) were relatively high in comparison to other areas in North Sulawesi. According to this study, the highest species richness was found from six to nine metres.
PENGARUH PEREKONOMIAN MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN ANAK DI KELURAHAN HAJORAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH Juliana Pebrina Siburian; Siti Rahmadani; Insaniah Rahimah
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.466-472

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan kearah yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh perekonomian nelayan terhadap tingkat pendidikan yang dimiliki anak dikelurahan Hajoran kabupaten Tapanuli Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling yaitu keluarga nelayan yang memiliki anak sudah menyelesaikan sekolah, baik tamatan SD/MI, SMP/MTS, SMA/Sederajat atau Perguruan Tinggi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif presentase (DP) dan Analisis regresi berganda yang diolah menggunakan model SPSS versi 20. Hasil yang diperoleh yaitu: (1) Besarnya pengaruh variabel kondisi sosial terhadap tingkat pendidikan anak adalah 10,75% dengan  sebesar 2,381 dan signifikan  0,021 yang artinya kondisi sosial berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pendidikan anak di kelurahan Hajoran; (2) Besarnya pengaruh variabel kondisi ekonomi terhadap tingkat pendidikan anak adalah 8,35% dengan t hitung sebesar 2,066 dan signifikansi 0,044 yang artinya kondisi ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pendidikan anak (3) kondisi sosial ekonomi berpengaruh secara bersama-sama terhadap tingkat pendidikan anak sebesar 19,9% yang artinya kondisi sosial ekonomi keluarga mampu mempengaruhi tingkat pendidikan anak dan sisanya 80,1% adalah variabel lain.Education is a life process in which to develop in live and better of life. This study aims to verify if there is an influence of the fishermen's economy on the level of education of children in the village of Hajoran, at district of Central Tapanuli. This research is a quantitative descriptive study, the sampling technique used in this study uses the method of purposeful sampling, which is a family of fishermen who have children who finished school, graduated from elementary school / MI, Junior high school / MTS, Senior high school / equal or college. The data analysis technique used is the descriptive percentage (DP) and the multiple regression analysis, processed using the SPSS version 20 model. The results obtained are: (1) The magnitude of the influence of social conditions variables at the level schooling of children is 10.75% with t-count 2.338 and significant 0.021, which means that social conditions significantly influence the level of education of children in the village of Hajoran; (2) The magnitude of the influence of the variables economic conditions on the education level of children is 8.35%, with a t-count of 2.066 and a significance of 0.044, which means that economic conditions significantly influence the level of children's education (3) socioeconomic conditions jointly influence the level of education. children in 19.9%, which means that the socioeconomic condition of the family is capable of influencing the educational level of the children and the remaining 80.1% is another variable.