cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 3 (2015): November" : 25 Documents clear
Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Sudirga, Komang; Santosa, Hendra; Kustiyanti, Dyah
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.148 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.218

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian dari “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi dan Makna”. Karena penelitian pada tahun pertama ini menyangkut pada 22 Naskah dan sangat sulit untuk ditemukan naskah-naskahnya, maka dalam penulisan artikel ini hanya akan menampilkan jejak-jejak karawitan yang tersurat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha saja, sehingga bahasan artikel ini lebih fokus dan dapat dikembangkan menjadi bahasan untuk tulisan yang lain dengan mengambil bahasan pada karya kesusastraan lainnya. Dengan demikian diharapkan pembahasan bentuk, fungsi, dan makna istilah karawitan pada tahun 1028 -1035 di Jawa Timur penguraiannya dapat lebih jelas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini, pada tahap heuristik ditemukan dua buah Kekawin Arjuna Wiwaha yaitu koleksi Perpustakaan Nasional dan Koleksi Gedong Kertya. Kritik dilakukan secara internal melalui penerjemahan, yang dilanjutkan dengan interpretasi terhadap terjemahan dari dua naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, dan terakhir adalah historiografi yaitu penulisan mengenai jejak karawitan dalam kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, fungsi dan makna. Perubahan bentuk atau perwujudan dan juga penyebutan nama dari instrumen karawitan yang tersurat dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada yang berubah dan ada pula yang tetap, seperti Mredangga yang sekarang dikenal dengan Istilah bedug. Perubahan nama juga terjadi dari berebet menjadi Cengceng. Hal ini bisa saja dikarenakan penyebutan nama instrumen didasarkan pada bunyi yang dihasilkannya seperti bedug karena bunyinya dug dug dug, dan cengceng karena karena ketika dibunyikan, bunyinya ceng ceng ceng. Ada istilah karawitan yang saat ini tidak ditemukan di belahan Nusantara seperti kata wina sejenis kecapi dan rawanahasta sejenis rebab. Wina kalau memang sejenis kecapi kemungkinan bentuknya lain dengan kecapi mungkin saja berkembang di belahan nusantara yang lain karena kecapi hanya berkembang di Sunda. Sama halnya dengan Rawanahasta yang diartikan sejenis rebab maka instrumen ini berkembang di belahan nusantara yang lain.This writing is a part of research entitled “Tracing Karawitan in Old Java Script: The Study of Form, Function and Meaning”. The first year research is that of 22 scripts and they are very difficult to find, hence in the writing of this article will merely put forward the traces of karawitan written in Kakawin Arjuna Wiwaha. Therefore, the discussion of this article is more focus and can be developed as a reference to another writing about different literature. Thereby, it hopes that the commentary about form, function and meaning of the term karawitan in 1028 -1035 in East Java can be clearer.This research uses historical method that is through heuristic, criticism, interpretation and historiography. Specifically for this article, in the stage of heuristic it was found two Kekawin Arjuna Wiwaha that are collection of National Library and Gedong Kertya. Criticism was done internally through translation then interpreting the translation of two Kekawin Arujna Wiwaha scripts. Finally, the historiography is writing about karawitan trace in kakawin Arjuna Wiwaha: Study about Form, Function and Meaning. Changes of form or materialization and mentioning the name of karawitan instrument written in kakawin Arjuna Wiwaha are present, but there is also the unchanged ones, such as Mredangga nowadays known as bedug. The changes of name also occur from berebet to cengceng. This can be happened because mentioning the instrument name is usually based on the sound produced such as bedug which sounds dug dug dug and cengceng produces the sounds ceng ceng ceng. There is karawitan term that can’t be found in Indonesian archipelago nowadays such as wina, a sort of kecapi, and rawanahasta, a sort of rebab. If Wina was a sort of kecapi, the form was probably different with kecapi. It was probably developing in another part of Indonesian archipelago because kecapi was only developing in Sunda. The same as Rawanahasta which is interpreted as a sort of rebab, therefore this instrument was developing in another part of Indonesian archipelago.
Representasi Nilai-Nilai Budaya Bali Dalam Film Eat Pray Love Dewi, Alit Kumala; Wibawa, Arya Pageh
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.215 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.209

Abstract

Film merupakan media terefektif dan terpopuler dalam pembelajaran budaya, baik lokal atau bahkan budaya asing.Film yang menjadi obyek penelitian adalah film “Eat Pray Love”, filmini menjadi kajian yang menarik untuk diteliti karena salah satu settingnya diadakan di Indonesia (Bali), konten dalam film tersebut juga menggambarkan kearifan budaya Bali. Rumusan masalah dalam penelitian adalah bagaimana Representasi Nilai-nilai Budaya Bali yang ditampilkan dalam film Eat Pray Love dan apa makna nilai-nilai budaya Bali yang terkandung dalam film Eat Pray Love Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan analisis interpretatif semiotika model Roland. Penelitian ini secara langsung mengumpulkan informasi yang didapat dari objek penelitian yakni film Eat Pray Love, menganalisa aspek-aspek yang melingkupi sistem religi, sistem sosial, bahasa, kesenian dsb, berupaya memperoleh gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif menyeluruh mencakup permasalahan yang diteliti. Sedangkan pendekatan keilmuan yang digunakan adalah sinematografi, bahasa tubuh, dan budaya untuk menganalisis hubungan antara unsur-unsur (visual, verbal maupun non verbal)meliputi, setting/atribut, kostum upacara dsbSehingga pada akhir penelitian dapat memberikan pemahaman bahwa nilai-nilai budaya Bali dapat direpresentasikan dalam sebuah film dan memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai pemaknaan dari nilai-nilai budaya Bali yang ditampilkan dalam film tersebutFilm is the most effective and popular media to learn about culture, whether local or foreign culture. The title of film that became an object of research is the "Eat Pray Love", the film becomes attractive to researched because one of the settings held in Indonesia (Bali), content in the film also represent the cultural wisdom of Bali. Question of the problem in this research is how the representation of values of Balinese culture featured in the movie Eat Pray Love, and what the meaning of Bali's cultural values contained in the film Eat Pray Love This study used a qualitative descriptive study, with analysis of interpretive semiotics Roland models. This research directly gathering information obtained from the research object the movie Eat Pray Love, analyzing such as the aspects surrounding the religious system, social system, language, arts, etc., seeks to obtain a description or definition of a general nature and relatively thorough includes problems studied. While the scientific approach used is cinematography, body language, and culture to analyze the relationship between the elements (visual, verbal and non-verbal) include, setting / attributes, ceremonial costumes, etc. So that at the end of the research can provide an understanding that the values of the Balinese culture can be represented in a film and give an understanding in the community about the meaning of the values of the Balinese culture featured in the film
Pelestarian Prasi Dengan Teknologi Digital Trinawindu, Ida Bagus Kt.; Artawan, Cok Alit; Cahyadi, I Wayan Agus Eka
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.966 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.171

Abstract

Lontar sudah ada dari sejak jaman nenek moyang masyarakat Hindu Bali, sebuah tradisi tua di Bali yang sudah melewati masa keemasan beratus-ratus tahun lamanya. Selain lontar yang disebutkan di atas, ada jenis lontar yang memuat berbagai cerita yang dituliskan dan digambarkan / divisualisasikan sarat dengan makna dan nilai estetika yang tinggi. Lontar yang ada di Bali biasanya berisi mantra-mantra suci untuk berbagai aktivitas masyarakat Hindu Bali. Didalam Lontar-Lontar tersebut tersurat dan terkandung berbagai macam ilmu pengetahuan tentang agama, filsafat, etika, arsitektur, astronomi, pengobatan dan lain sebagainya. Salah satu contoh adalah Lontar Prasi yang terdapat di Desa Tenganan Pegringsingan yang berada di Karangasem-Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang diarahkan pada kondisi asli subyek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Hermeunetik, yang merupakan jenis pengetahuan ilmiah bersifat interpretatif. Dengan adanya perkembangan teknologi seperti sekarang ini maka diharapkan warisan budaya yang telah ada dari sejak beratus-ratus tahun yang lampau ini dapat terekam dalam media digital yang nantinya dapat menjadi sebuah pustaka digital tentang Lontar Prasi dan mampu menjadi pelopor dalam melestarikan warisan budaya yang direkam ke dalam media digital dengan memanfaatkan teknologi komputer sehingga diharapkan agar warisan budaya ini dapat terselamatkan dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. Terciptanya produk baru dari seni prasi dalam bentuk yang berbeda yaitu dalam bentuk digital yang dapat diakses dengan mudah oleh generasi muda sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam prasi tersebut dapat dipahami dan dimaknai oleh pembacaLontar already exist since the days of the Balinese ancestors of Hindu society, an old tradition in Bali which already past the golden age for a hundreds of years ago. Besides the above-mentioned of lontar, there are types of of lontar that contains various stories described and illustrated/visualized with full of meaning and  high aesthetic values. Balinese lontar usually contains of sacred mantras for various Balinese Hindu community activities. Inside those various types of lontars there are an explicit meaning and contains of various kinds of knowledge such as religion, philosophy, ethics, architecture, astronomy, medicine and many others. One of the examples is Prasi palm lontar which is located in the village of Tenganan Pegringsingan in Karangasem regency, Bali. This research is a qualitative research, which is pointed on the original condition of the subject research. This research is conducted by using hermeneutic approach, which is interpretative scientific knowledge. With the technology development like today it is expected that the already existing cultures heritage which has existed since hundreds years ago could be recorded on a digital media which later can be a digital library of the Prasi lontar and able to be a pioneer in preserving the cultural heritage that were recorded onto digital media using computer technology it is expected that it can be preserved and enjoyed by our children and grandchildren in the future. The creation of a new products from the art of Prasi in different forms that is in a digital form which can be easily accessed by the younger generation so that the values contained in Prasi could be understood and interpreted by the reader.
Membaca Bahasa Rupa Ilustrasi Palelintangan Di Bale Kambang Taman Gili Klungkung Cahyadi, I Wayan Agus Eka; Artawan, Cok Alit
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.077 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.214

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa rupa, metode membaca serta mengetahui hubungan informasi teks dengan pesan gambar pada desain palelintangan yang terdapat di Bale Kambang Taman Gili Klungkung. Palelintangan merupakan pengetahuan astronomi tradisional Bali yang memuat informasi tentang ramalan watak dan nasib seseorang menurut hari kelahiran. Palelintangan di Bale Kambang disajikan dalam bentuk ilustrasi klasik wayang Kamasan yang ditampilkan pada langit-langit bangunan. Keberadaannya selain sebagai penghias bangunan juga merupakan suatu media komunikasi visual. Namun untuk membaca maupun memahami makna gambar-gambar yang ditampilkan dibutuhkan pengetahuan bahasa rupa dan metode yang sesuai. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, objek penelitian adalah desain palelintangan yang terdapat pada langit-langit bangunan Bale Kambang taman Gili Klungkung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi, wawancara dan studi pustaka. Tahapan analisis: pertama data yang berhasil dihimpun dikelompokkan dan diidentifikasi untuk memberikan penjelasan terhadap jenis-jenis gambar pada desain palelintangan. Kedua, dengan analisis deskriptif kualitatif untuk menjelaskan bahasa rupa dan metode membaca, kemudian informasi yang diperoleh dari membaca bahasa rupa diperbandingkan dengan informasi pada teks untuk mengetahui hubungan antara teks dengan gambar. This study aims to determinate the visual language, the method of reading and knowing the relationship of text and picture messaging information on the palelintangan design found in the Bale Kambang Taman Gili Klungkung. Palelintangan is a traditional Balinese knowledge of astronomy that contains information about the character and destiny of a forecast by the nativity. Palelintangan in Bale Kambang presented in the form of wayang Kamasan classic illustration is displayed on the ceiling of the building. In addition to its presence as an ornamental building but also as a visual communication media. But to read and understand the meaning of the pictures displayed must be understand the language and the appropriate method. This research is qualitative research, obyek is palelintangan design on the ceiling of the building Bale Kambang Taman Gili Klungkung. Data were collected by means of documentation, interviews, and literature. Step analysis: first classified data that have been collected and identified to provide clarification on the types of images on palelintangan design. Second, the descriptive qualitative analysis to explain the visual language and reading method, then the information obtained from reading the language of art comparable to information in the text to determine the relationship between text and image.
Desain Interior Micro Teaching Berbasis Ergonomi Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Suasmini, I Dewa Ayu Sri; Desi In Diana Sari, Ni Luh
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.537 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.201

Abstract

Pembelajaran micro teaching adalah kegiatan pelatihan mengajar untuk mendalami makna bahkan strategi penggunaannya pada setiap proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan micro teaching dilaksanakan di kelas khusus, disebut ruangan micro teaching. Demi tercapainya pembelajaran micro teaching yang baik, diperlukan ruangan yang nyaman dan ergonomis, untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang ruangan micro teaching. Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah tersedianya teori berupa pedoman tertulis dan dokumen desain berupa gambar kerja, sehingga dapat digunakan sebagai model untuk mewujudkan desain interior micro teaching yang ergonomis bagi Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan yang tidak pernah secara khusus mempelajari teori tentang desain interior dan ergonomi. Target khusus pada penelitian ini adalah tersedianya pedoman tertulis dan gambar kerja tentang desain interior micro teaching berbasis ergonomi. Pengumpulan data pada penelitian tahun pertama, dilakukan memakai metode kepustakaan, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan memakai metode deskriptif dan komparatif serta glass-box melalui adanya masukan, proses dan luaran agar diperoleh simpulan yang signifikan. Adapun rincian kegiatan tahun pertama terdiri atas pengumpulan teori desain interior, seni yang berhubungan dengan interior dan ergonomi, wawancara dengan dosen dan mahasiswa LPTK, mengukur antropometri pengguna interior microteaching, observasi pengukuran dan dokumentasi desain interior micro teaching yang sudah ada di Bali, penetapan masalah, analisis serta simpulan.The learning of microteacing is a teaching worksop to explore of meanings and using strategy in every learning processes. Microteacing was arranged particullarly class that is called as microteaching classroom. To achieves good microteaching requires cozy and ergonomic room or scenery. To this requirement, is needed to organize the research of microteaching room. Long terms goals of this research aims theory as a written guidance and a ready-use design document of work charts to apply as model to achieves ergonomy microteaching interior design for vocational collage or academy. The specific target to be achieved in this research are the availabilty of written manual and work-chart about egronomic based interior design of microteaching. In order to achieves the objectives of this research, datas and objects collected by means of literature method, interviewing, observation and documentaries study. Data analisis are ordered by descriptives and comparatives method and glass-box of input and output in order to achieve the significant conclussion. The first year details of activities are interior design theory, art that is related to interior and ergonomy, interview to expert lectures and the students of LPTK, measures anthropometry of interior microteaching user, the observation of measurements and records the documents of microteaching of interior design that are already available in Bali, problems determination, analyzing and conclusing.
Prototipe Gamelan Sistem Sepuluh Nada Dalam Satu Gembyang Santosa, Hendra; Saptono, -; Sudhana, I Ketut
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.058 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.219

Abstract

Konsep sepuluh nada dalam satu gembyang pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu gembyang penelitiannya terapan dilakukan.Tujuan Jangka panjang penelitian ini adalah membuat sebuah model gamelan dengan sistem sepuluh nada dalam satu Gembyang. Jika penelitian dapat diwujudkan, akan memberikan kosntribusi yang sangat signifikan dalam menunjang kreativitas seniman karawitan. Penelitian ini diperkirakan akan memakan waktu antara tiga tahun dengan masing-masing capaian setiap tahunnya berupa sebuah model instrumen gamelan. Penelitian terapan ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapangan untuk mencari nada dasar. Metode observasi kepustakaan untuk menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan interval nada. Metode observasi laboratorium yang menggunakan sofware Nuendo H2O serta Plug in RMIV untuk mencari sampler nada dan interval. Hasil yang didapat, kemudian direalisasikan dalam bentuk instrumen yang terbuat dari kayu, dan selanjutnya diujicobakan dalam bentuk praktik berkarawitan. Setelah dinilai cocok kemudian dibuatkan prototipe yang selanjutnya diujicoba baik melalui gending yang sudah ada, maupun gending baru. Pengukuran nada-nada secara matematis tidaklah tepat dipergunakan dalam pembuatan prototipe gamelan sistem sepuluh nada ini. Hal ini terjadi ketika apa yang ditemukan dalam penelitian gamelan Nawa Swara ternyata dari sisi rasa terasa ada yang tidak pas walaupun secara rasa dalam laras selendro sudah benar namun ternyata nada sisipannya yang menggunakan hitungan matematis terasa tidak enak didengar.The concept of ten tones in one gembyang been formulated by two people musicologist Indonesia RadenAnggaMahyarKusumadinata and R. HardjoSubroto. In the Balinese gamelan it is implied in the Prakempa manuscript. The real interesting musical concepts, have not been investigated and conducted in-depth assessment. In this context, the gamelan tuning system using nine tones in one gembyang applied research carried out. The long term goal of this research is to create a model of the system gamelan with ten tones in one Gembyang. If research can be realized, will give contributions significant in supporting the creativity of musical artists. This study is expected to take between three years with each achievement annually in the form of a gamelan instrument models. Applied research was conducted using the method of observation to find the basic tone. Observation methods literature to examine the results of previous studies related to tone intervals. Laboratory observation method which uses H2O Nuendo software and plug-in RMIV to find sampler tones and intervals. The results obtained, then realized in the form of instruments made of wood, and subsequently tested in the form music practice. Having considered suitable then created a prototype which further tested through gending existing or new gending. Measurement tones mathematically it is not appropriate used in the manufacture of the gamelan prototype this ten tone system. This happens when what was found in the study gamelan NawaSwara turns of the flavor was there that do not fit in the barrel flavor although selendro are correct but in fact the tone of additions that use mathematical calculation was not pleasant to hear.
Studi Struktur Dan Konstruksi Pada Kerajinan Mebel Bambu Di Desa Belega, Gianyar, Bali Tiaga, I Nyoman Adi; Noorwatha, I Kadek Dwi
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.836 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.210

Abstract

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk dapat mengeksplorasi berbagai jenis konstruksi bambu dan stuktur mebel bambu yang sedang berkembang, juga merumuskan karakter masing masing konstruksi yang ada pada kerajinan mebel bambu desa Belega Gianyar sebagai patokan dalam memahami keanekaragaman konstruksi mebel bambu yang berkarakter khas Bali. Selain masih kurangnya literatur tentang mebel bambu sebagai bahan pengajaran, juga disesuaikan dengan visi dan misi ISI Denpasar sebagai center of excellence dan bidang seni budaya, dipandang perlu untuk mengkaji hasil karya pengerajin mebel tradisional Bali di desa belega sebagai dasar pengembangan desain mebel yang mengangkat nilai lokal dan berwawasan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 4 sistem konstruksi utama yang diterapkan yaitu purus, purus tembus, kawang dan boleh; yang dalam konteks struktur telah mempertimbangkan unsur ergonomic, property mekanikal bambu, gaya yang ditopang mebel dan juga estetika. Pada sisi perkembangan, tampak tidak terjadi perkembangan setelah perkembangan gaya “boleh” pada tahun 1980an yang dipengaruhi faktor masih tingginya tingkat plagiasi antar pengerajin, kondisi ekonomi global yang berhubungan tren (selera pasar), kurangnya promosi secara massif yang berpengaruh langsung terhadap lemahnya nilai inovasi dan kreatifitas pengerajin mebel bambu. The goal of this research is to formulate the various types and characteristic of construction structures of bamboo furniture products of Belega village Gianyar. As a benchmark in understanding the diversity of bamboo furniture construction with Balinese character. In addition to the lack of literature on bamboo furniture as teaching materials, also adapted to the vision and mission of ISI as a center of excellence and the field of art and culture, it is necessary to examine the work of craftsmen of Belega’s traditional furniture as the basis for the development of furniture design which raised the value of the local and a global perspective. The results showed that there are four major construction system is applied, namely “purus” (porus-dowell), “purus tembus”, “kawang” and “boleh”; which in the context of the structure has to consider elements of ergonomic, mechanical properties of bamboo, sustained style furniture as well as aesthetics. On the side of development of construction system, there is no development occurred after the development of the style of "boleh" in the 1980s were influenced by the high level of plagiarism among craftsmen, global economic conditions related with trends, lack of promotion massively that directly influence the weakness of the value of innovation and creativity craftsmen bamboo furniture
Industrialisasi Musik Pop Bali: Ideologi, Kepentingan, Dan Praktiknya Ardini, Ni Wayan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.726 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.172

Abstract

Musik pop Bali mengalami industrialisasi sejak dasa warsa 1990-an ketika perkembangan teknologi, system ekonomi, dan budaya music baru mendorong secara massif kelahiran studio-studio rekam, musisi-musisi, dan produk-produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk industrialisasi musik pop Bali di wilayah Provinsi Bali; ideologi dan kepentingan yang bekerja di dalamnya; dan praktik pergulatan maknanya secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, sepanjangduasetengahdasawarsaini, industrialisasi musik pop Bali berlangsung dalam bentuk produksi, distribusi, dan konsumsinya di wilayah Provinsi Bali akibat adanya jalinan kekuasaan budaya, kekuasaan kapital, dan kekuasaan media. Secara musikalitas, musik pop Bali cenderung semakin tidak Bali dalam tangga nada, lirik/syair, gaya penyajian, dan alat musik.Beragam genre dan nuansa musik pop Bali diproduksi padahal sebenarnya bersifat standar. Di dalamnya, kapitalisme secara halus berhasil mengendalikan ideologi-ideologi lainnya, yakni popisme, politik budaya lokal, dan kulturalisme. Tercipta kesadaran palsu bahwa musik pop Bali merupakan kebutuhan masyarakat dan demi pelestarian kebudayaan Bali. Banyaknya pihak yang terlibat memunculkan pergulatan antarpihak tersebut, yakni artikulasi yang berbeda-beda atas makna-makna yang ada untuk kepentingannya masing-masing.Balinese pop music has got industrialized at the decade of 1970’s since the technological progress, economic system, and new musical culture massively drove to the born of related recording studios, musicians, and products. This study is to comprehend the form of industrialization of Balinese pop music in Bali Province; the ideologies and interests that work behind; and the practice of meaning struggles among all parties engaged economically, socially, culturally, and politically. Data collecting covers techniques of interview, observation, and document studies. The result of study shows that for more than the Balinese pop music industrialization have been occurring in the forms of production, distribution, and consumption in all areas of Bali Province because of the system of cultural power, capital power, and media power. In the musicality aspects, the Balines pop music tends to lose their balineses in their tone scales, lyrics, performance styles, and instruments. For the sake of market, various musical genre and nuance are created although, in fact, they are standard. In the industrialization, capitalism ideology can smoothly control other ideologies, such as popism, politics of local culture, and culturalism. A false consciousness, that Balinese pop music is the need of the society and for the conservation of the Balinese culture, is constructed. So many parties involved in it, so that there are struggles among them, i.e. different articulations towards meaning for the interests they have.
Eksistensi Ilustrasi Kaos Bertema Bali Di Kota Denpasar Narulita, Eldiana Tri; Sarjani, Ni Ketut Pande
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.834 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.215

Abstract

Kaos bertema Bali mempunyai desain dengan motif-motif ilustrasi yang bertema budaya lokal Bali. Bagaimana eksistensi minat pembeli terhadap ilustrasi kaos bertema Bali di kota Denpasar? Apa makna ilustrasi budaya lokal yang terdapat pada elemen visual kaos bertema Bali? menjadi fokus masalah dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui eksistensi minat pembeli terhadap ilustrasi kaos bertema Bali di kota Denpasar dan untuk mengetahui apa makna ilustrasi budaya lokal yang terdapat pada elemen visual kaos bertema Bali.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sesuai dengan pendekatan kualitatif maka secara spesifikasi analisisnya ditunjang dengan analisis semiotika. Hasil penelitian yang telah diperoleh bahwa di toko oleh-oleh Krisna Nusa Indah, didapati bahwa kaos dengan ilustrasi yang bergambar karikatur/kartun dan ada teks “Bali” lebih laris. Selain itu kaos dengan ilustrasi barong juga banyak dipilih. Namun bagi konsumen terutama untuk pilihan kaos VVIP anak-anak, ilustrasi karakter kartun yang sedang tren seperti minion, angry bird, shaun the sheep, bernard bear, lebih diminati. Sedangkan hasil penelitian di toko oleh-oleh Erlangga 2, kaos dengan teks humor yang mengadaptasi kaos dari Joger lebih banyak dipilih konsumen. Hasil penelitian di Kumala production, kaos yang paling banyak dipesan adalah kaos dengan tema obyek wisata seperti Tanah lot, Besakih Kintamani. Adapun analisa tanda dan makna yang terdapat elemen visual kaos bertema Bali dilakukan melalui pendekatan semiotika diperoleh hasil bahwa dalam sample ilustrasi kaos bertema Bali terdapat tanda dan makna berupa ikon, indeks, simbol, kode kebudayaan dan kode narasi Bali- theme T-Shirt has a design motifs illustration that reflect Bali local culture. How the existence of buyer interest towards illustration themed shirts Bali in Denpasar? What is the meaning of the illustrations contained in the local culture visual elements themed shirts Bali? become the focus of the problem in this research. The purpose of this research was to determine the existence of buyers of the shirt illustration themed Bali in Denpasar and to find out what the local culture illustrations contained on the visual elements of the Bali-themed T-shirts. This research used a qualitative descriptive method. In accordance with the qualitative approach is supported by the analysis specification semiotic analysis. The result of research have been obtained that in Krisna Nusa Indah a souvenir shop, it was found that the T-Shirt with a caricature illustrations / cartoons and there is the text "Bali" is more in demand. In addition barong shirt also more selected. But for consumers, especially for selection of t-shirts VVIP children, illustration cartoon characters that are trends like minion, angry bird, shaun the sheep and bernard bear, more desirable. And the research results in a Erlangga 2 souvenir shop, T-shirts with text adapted humor shirts from Joger more preferably consumers. Then results in Kumala production, most ordered shirt is a shirt with the tourism site theme such as Tanah Lot, Besakih Kintamani. The analysis of signs and meanings contained visual elements of the Bali-themed T-shirts made through semiotic approach showed that in a sample illustration themed shirts Bali there are signs and meanings in the form of icons, indexes, symbols, cultural codes and codes of narrative.
Genggong Dalam Karawitan Bali: Sebuah Kajian Etnomusikologi Indra Sadguna, I Gde Made; Sutirtha, I Wayan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.829 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.202

Abstract

Hingga saat ini kajian tentang Genggong masih sangat terbatas dan eksistensi Genggong di masyarakat semakin langka dan termarjinalkan akibat pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, penelitian tentang Genggong secara lebih mendalam sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan tekstual Etnomusikologi. Untuk menjawab permasalahan, digunakan teori organologi dan estetika sebagai pisau bedahnya. Dari observasi serta wawancara yang dilakukan, dapat dijelaskan proses pembuatan Genggong sebagai berikut. Genggong merupakan satu-satunya instrumen dalam karawitan Bali yang terbuat dari pugpug. Untuk membuat sebuah Genggong terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu, membuat bakalan, proses ngerot,dan nyetel suara. Selain itu dijelaskan juga mengenai dekorasi serta cara perawatan instrumen Genggong. Agar seorang musisi mampu memainkan Genggong terdapat beberapa hal yang harus dipahami. Hal-hal tersebut adalah sikap duduk yang baik, teknik membunyikan Genggong yang meliputi teknik mentil, serta cara untuk mencari nada. Perubahan Genggong dari alat musik individu menjadi sebuah ensamble disebabkan karena perubahan konteks musiknya. Dahulu Genggong hanya digunakan sebagai alat musik pribadi, berkembang menjadi sebuah barungan untuk mengiringi sebuah pertunjukan.Until now, studies on Genggong are still very limited. The existence of Genggong is becoming very rare in Bali which is caused by the effect of globalization. Therefore, deep research on Genggong is urgently required. This research is an Ethnomusicology qualitative textual approach. The organology and aesthteics theory are used to solve the problems. Collecting data is done by means of literature studies, interviews, and observation participation. From observations and interviews that have been conducted, the process of making a Genggong are as follows. Genggong is the only musical instrument in Bali made of pugpug. To create a Genggong there are several steps that must be passed, which are, making the bakalan, ngerot process, and tuning the sound. In addition, I also describe the decor as well as how to treat a Genggong. In order for a musician capable of playing Genggong there are some things that must be understood. These things are: a good sitting position, Genggong techniques such as mentil and finding a proper sound. The change of Genggong from an individual instrument into a musical ensemble is caused by the change of the musical context. Genggong formerly was only used as a means of personal music, evolved into a musical ensamble to accompany a performance.

Page 1 of 3 | Total Record : 25